Anda di halaman 1dari 35

Kelompok 5

KELOMPOK 5
 Indah Kurniati Ramli
Ade Alfiah
Mukti Mukhtar
Muh. Al Azhar Afiah Syamsuri Gia Purnama
Anis Ammar Mihdar Edwin Pomada
Ammi Shaumy F.D. Luthfi Thufail A
Azizah Haq Nirwana Mustafa
Sesilia Hongdyanto
Widarsi
Priska Fistia
Nurul Adha Ardamansa A M Ghiffari Muharram M
SKENARIO

Seorang ibu rumah tangga berumur 20 tahun
datang ke Dokter Praktek Swasta dengan
keluhan berbatas tegas di pergelangan tangan,
muncul 4 hari yang lalu. Bercak tersebut agak
hangat pada perabaan, terasa gatal dan tidak
ada nyeri pada penekanan. Kelainan ini
sifatnya kambuhan terutama setelah mencuci.
Lokasi kelainannya bisa disela-sela jari tangan
atau disela jari kaki
KEYWORD

 Ibu rumah tangga umur 20 tahun
 Bercak Kemerahan berbatas tegas di pergelangan
tangan
 Muncul 4 hari yang lalu
 Terasa hangat pada perabaan, gatal, tidak ada nyeri
pada penekanan
 Sifatnya kambuhan, terutama setelah mencuci
 Di sela-sela jari tangan atau jari kaki
PERTANYAAN

1. Definisi Dermatitis dan Klasifikasinya?
2. Histologi dan Fisiologi Organ yang Terkait?
3. Tipe Reaksi Hypersensitivitas?
4. Penyakit yang mendekati Kasus?
5. Patomekanisme?
6. Mengapa bercak merah?
7. Bagaimana Pemeriksaan Penunjangnya?
Histologi Kulit

Histologi Dasar Junquiera. Anthony L. Mescher. Edisi 12


FISIOLOGI KULIT
• PROTEKSI: Keratin, lipid,
sebum, melanin, sel Langerhans,
fagosit.
• ABSORBSI: material larut-lipid,
material toksin, obat.
• EKSKRESI: Sebasea, keringat.
• PERSEPSI: Saraf sensorik
• TERMOREGULASI
• PEMBENTUKAN VITAMIN D:
Bantuan UV

Tortora, G.J. and Derrickson, B. 2012. Principles of Anatomy and


Physiology. 13th ed. USA: John Wiley & Sons, Inc.
Hipersensitivitas

Terbagi atas 4 tipe :

Tipe I (anaphylatic reaction)

Tipe II (cytotoxic reaction)

Tipe III (immuno reaction)

Tipe IV (delayed hipersensitivity)


Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.
Kumar et all. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Tipe I

Reaksi Cepat
 Reaksi alergi dikenal sebagai reaksi yang segera
timbul sesudah alergen masuk kedalam tubuh.
Diproses &
masuk ditangkap dipresentasikan
 Alergen tubuh fagosit keTh2

 Sel yang akhir melepas sitokin yang merangsang sel


B untuk membentuk IgE.

Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.


Kumar et all. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Dampak Tipe I

Setelah tubuh terpajan dengan alergen maka biasanya
dampak yang timbul adalah asma bronchial, rinitis
alergi, urtikaria (kaligata), dan dermatitis atopi.

Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.


Kumar et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Tipe II

Sitotoksik

 Reaksi ini terjadi karena dibentuk antibody jenis IgG


atau IgM terhadap antigen yang merupkan bagian dari
sel pejamu. Ikatan antibody dan antigen yang
merupakan bagian sel pejamu dapat mengaktifkan
komplemen dan menimbulkan lisis.

Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.


Kumar et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Tipe II

Contoh reaksi tipe 2 antara lain adalah distruksi sel


darah merah akibat reaksi transfusi, penyakit anemia
hemolitik, reaksi obat dan kerusakan jaringan pada
penyakit autoimun
Mekanisme Tipe II

 Fagositosis sel melalui proses apsonik adherence
atau immune adherence
 Reaksi sitotoksis ekstraseluler oleh NK cell (natural
killer cell) yang mempunyai reseptor untuk Fc
 Lisis sel karena bekerjanya seluruh sistem
komplemen

Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.


Kumar et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Tipe III

 Disebut juga IMUNOCOMPLEX
 Reaksi hipersensitivtas yang dipicu oleh
terbentuknya kompleks antigen-antibodi
 Terkait dengan pengaktifan komplemen
 Antibodi yang bisa digunakan sejenis IgM dan IgG
sedangkan komplemen yang diaktifkan kemudian
melepas faktor kemotatik makrofag
 Antigen reaksi tipe 3: infeksi kuman patogen yang
persisten, bahan yang terhirup, atau jaringan sendiri
(autoimun)
Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.
Kumar et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Penyebab Tipe III

 Infeksi Persisten
Pada infeksi ini terdapat antigen mikroba, dimana tempat
kompleks mengendap adalah organ yang diinfektif dan
ginjal
 Autoimunitas
Pada reaksi ini terdapat antigen sendiri, dimana tempat
kompleks mengendap adalah ginjal, sendi, dan pembuluh
darah.
 Ekstrinsik
Pada reaksi ini, antigen yang berpengaruh adalah antigen
lingkungan. Dimana tempat kompleks yang mengendap
adalah paru-paru

Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.


Kumar et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Tipe IV

DELAYED HYPERSENSITIVITY
 Reaksi tipe 4 disebut juga reaksi tipe lambat atau reaksi
tuberculin yang timbul 24 jam setelah tubuh terpajan
dengan antigen
 Reaksi terjadi karena sel T yang sudah disensitisasi
tersebut, sel T dengan reseptor spesifik pada
permukaannya akan dirangsang oleh antigen yang sesuai
dan mengeluarkan zat disebut limfokin.
 Limfosit mampu membesar disebut limfoblas dan
merusak sel target yang memiliki reseptor di permukaan,
sehingga ada kerusakan jaringan

Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004.


Kumar et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Tipe IV ( delayed hypersensitivity )

Terjadinya reaksi ini disebabkan oleh infeksi mikroorganisme


yang bersifat intraseluler atau suatu antigen tertentu .

Bakteri : Mycobacterium Tubercolosis


Mycobacterium Lepra
Brucella Abortus
Jamur : Candida Albicans
Histoplasma Capsulatum
Parasit : Leishmania sp.
Virus : Herpes Simplex
Measles
Kontak Antigen : Poison Ivy
Hair dyes

Imunologi Dasar Ed. 6. Jakarta: Balai penerbit FKUI. 2004.


Kumar et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC. 2007.
Mengapa bercak merah?
Bercak dan Kalor

Antigen Epidermis Sel
langerhans

melepas Th-1
sitokin
mengaktifkan makrofag
& inflamasi
Differential Diagnosis

 Dermatitis Atopi

 Dermatitis Kontak Iritan

 Dermatitis Kontak Alergi

 Dermatitis Seboroik

 Urtikaria

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Dermatitis Atopi

 Sinonim: Eksema Konstitutional, Eksema Fleksural,
Neurodermatitis Diseminata, Prurigo Besnier.

 Definisi: Keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai


gatal yang berhubungan denga atopi.

 Epidemiologi :
- Infantil (2 bulan – 2 tahun)
- Anak (3 – 11 tahun)
- Dewasa (12 – 30 tahun)

 Etiologi : Belum diketahui


Dermatitis Atopi

 Gejala : Gatal  menggaruk  kemerahan, papul,
likenifikasi, dan lesi ekzematosa

 Patogenesis:
Alergen APC Lim. T MHC II Sel. T
aktif melalui TCR Sel T berdiferensiasi Th2
mensekresi IL-4 Sel B Sel plasma Produksi
IgE IgE + Sel Mast Alergen + IgE Degranulasi
Sel Mast Histamin Reaksi
Dermatitis Atopi

 Diagnosis: cukup praktis, dengan anamnesis dan
melihat gambaran klinis

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Dermatitis Kontak

Definisi : Dermatitis yang disebabkan oleh baham
(substansi yang menempel pada kulit)

Jenis :
- Dermatitis Kontak Iritan
- Dermatitis Kontak Alergi

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Kontak Iritan

 Epidemiologi : Dapat
diderita oleh semua orang
dari berbagai golongan
umur, ras, dan jenis
kelamin

 Etiologi : Pelarut,
deterjen, minyak pelumas,
asam, alkali, serbuk kayu

 Gejala : Kulit terasa pedih


/ panas, ertiema, vesikula,
bula, kulit kering, skuama,
likenifikasi
Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Kontak Iritan

 Patogenesis : Bahan iritan  kimiawi/fisik 
kerusakan lapisan tanduk, denaturasi keratin,
menghilangkan lemak lap. Tanduk  Kerusakan
lapisan epidermis

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Kontak Alergi

 Epidemiologi : Penderita lebih
sedikit dari DKI karena hanya
mengenai orang yang
kulitnya sangat peka

 Etiologi : Peneyebabnya
adalah Alergen berupa bahan
kimia dengan BM 500-1000
Da.

 Gejala : Umumnya merasa


gatal, bercak eritema berbatas
jelas, papulovesikel,bula

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Kontak Alergi

 Patogenesis : Hipersensitivitas tipe IV
Kontak dengan Alergen  Antigen ditangkap oleh
APC  presntase ke sel T  proliferasi  diferensiasi
 Efektor menyebar ke seluruh kulit tubuh  Alergi

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Dermatitis Seboroik

 Definisi : Kelainan kulit didasari oleh faktor
konstitusi danbertempat predileksi di tempat-tempat
seboroik

 Epidemiologi : Lebih sering dijumpai pada pria dari


pada wanita

 Etiologi :Belum diketahui pasti

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Dermatitis Seboroik

 Gejala : Eritema dan Skuama Kekuningan. Kulit
berminyak, bercak - bercak, krusta
 Diagnosis : Pemeriksaan fisik melalu gejala

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Urtikaria

 Definisi : Reaksi pembuluh darah berupa erupsi berbatas tegas
dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan,
terasa gatal. Urtikaria merupakan reaksi Anafilaksis (Tipe I)

 Epidemiologi : sering dijumpai pd semua umur. org dwasa lbh


banyak mengalami urtikaria dibandingkan dgn usia muda.

 Etiologi : Peneyebabnya adalah Obat, makanan,


gigitan/sengatan serangga, bahkan fotosensitizer, inhalan,
kontaktan, trauma fisik, infeksi, dan infestasi parasit, psikis,
genetik, dan penyakit sistemik

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Urtikaria

 Patogenesis : terjadi vasodilatasi disertai permeabilitas
kapiler yng mengkat, terjadi transudasi cairan
mengakibatkan pengumpulan cairan setempat (udema)
 Gejala : Gejala Klinis gatal, rasa terbakar, atau tertusuk.

Ikatan Dokter Indonesia. Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas Layanan Primer. Jakarta: IDI. 2014
Differential Diagnosis

Hanya untuk orang dgn Lebih banyak pada pria


Hipersensitivitas tinggi Dibandingkan wanita
Pemeriksaan Penunjang

1). Uji Tempel atau Patch Test (In Vivo)
Mendeteksi hipersensitivitas terhadap zat yang bersentuhan dengan
kulit
2). Provocative Use Test
Mengkonfirmasi reaksi uji tempel yang mendekati positif terhadap
bahan-bahan dari zat.
3). Uji Photopatch
Mengkonfirmasi fotoalergi kontak terhadap zat.
4). Tes In Vitro
Diagnosis DKA, yaitu dengan transformasi limfosit atau inhibisi
makrofag

James WD, Berger TG, Elston DM. Andrew’s Diseases of the Skin Clinical Dermatology. 10th ed.
Morris A. ABC of Allergology: Contact Dermatitis. Current Allergy and Clinical Immunology.
Terima Kasih