Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

ADENOMIOSIS

ANIS NUR ‘AZIZAH


170104020

STASE MATERNITAS PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA

PURWOKERTO

2017
LAPORAN PENDAHULUAN

ADENOMIOSIS

A. Pengertian
Adenomiosis adalah penetrasi dan bertumbuhnya jaringan endometrium (jaringan
yang melapisi dinding dalam rahim) ke dalam myometrium (lapisan otot rahim), sering
disebut pula dengan endometriosis internal (Winkjosastro, 2008). Jadi penyakit ini sejenis
dengan endometriosis. Adenomiosis biasanya bersamaan dengan endometriosis
eksternal.Dan jaringan endometrium yang salah tempat ini, seperti endometrium yang
normal, dan bersamaan dengan siklus menstruasi, jadi cenderung mengalami pendarahan
pada saat menstruasi. Darah yang terkumpul di dalam jaringan otot rahim ini akan
menyebabkan pembengkakan rahim menjadi lebih besar. Pembengkakan (adenomyosis)
ini dapat merata atau terfokus di satu tempat. Jika pembengkakan ini terfokus di satu
tempat maka disebut sebagai adenomyoma, yang mana menyerupai tumor rahim lainnya
(Masjoer, 2009).
B. Penyebab dan faktor predisposisi
Penyebab dari adenomiosis tidak dimengerti dengan baik. Beberapa peneliti percaya
bahwa operasi-operasi sebelumnya pada kandungan (termasuk kelahiran caesar) dapat
menyebabkan sel-sel endometrial (lapisan kandungan) menyebar dan tumbuh pada lokasi
yang abnormal (lapisan otot dari dinding kandungan). Kemungkinan lain adalah bahwa
adenomiosis timbul dari jaringan-jaringan dari dinding kandungan sendiri yang mungkin
telah mengendap disana selama perkembangan dari kandungan. Adenomiosis adalah lebih
umum terjadi setelah kelahiran anak (Winkjosastro, 2008).
C. Manifestasi Klinik
Bisa saja seseorang memiliki adenomiosis dia tidak merasakan gejala apapun. Gejala –
gejala adenomiosis adalah (Manuaba, 2009):
1. Triad gejala yakni pembesaran rahim, nyeri pelvis dan menstruasi yag banyak dan
abnormal.
2. Nyeri, yang dirasakan terutama selama menstruasi disebut dysmenorrhea dapat
berupa kram yang hebat atau seperti disayat pisau. Nyeri dapat juga dirasakan pada
saat tidak sedang menstruasi.
3. Pembesaran rahim dapat merata dengan tonjolan-tonjolan rahim yang besar atau
dapat pula seperti “tumor” yang terlokalisir.
4. Pendarahan pada saat menstruasi dapat banyak sekali dan berhari-hari, mungkin
dengan bekuan-bekuan darah. Pendarahan yang hebat ini dapat menyebabkan
anemia (berkurangnya kadar Hemoglobin dalam sel darah merah). Selain itu diluar
saat menstruasi bisa ada pendarahan abnormal (pendarahan sedikit-sedikit, bercak-
bercak).
a. Gambaran mikroskopik
Gambaran mikroskopik yang khas pada adenomiosis adalah terdapatnya
pulau-pulau jaringan endometrium di tengah-tengah otot uterus. Pulau-pulau ini
dapat menunjukan perubahan siklik. Akan tetapi umumnya reaksi terhadap
hormon-hormon ovarium tidak begitu sempurna seperti endometrium.
Jaringan otot di sekitar pulau-pulau tersebut mengalami hiperplasia dan
hipertrofi. Tidak terdapat kapsul seperti pada mioma uteri.
b. Gambaran klinik
Gejala klinis yang sering ditemui pada adenomiosis adalah menoragia,
Dismenorea sekunder dan Uterus yang makin membesar. Kadang-kadang
terdapat disamping menoragia, dispareunia, dan rasa berat di perut bagian bawah
terutama di masa pra haid.
D. Patofisiologi
Penyakit ini disebabkan oleh timbulnya endometrium (selaput lendir rahim) di tempat
yang tidak semestinya. Akibatnya jaringan tempat tumbuhnya selaput lendir yag
abnormal ini rusak, meradang dan menimbulkan rangsang nyeri. Jadi, penyakit sejenis
dengan endometriosis. Adenomiosis ini dapat ada bersamaan dengan endometriosis
eksternal. Dan jaringan endometrium yang salah tempat ini, seperti endometrium yang
normal, akan mengikuti siklus menstruasi, jadi cenderung mengalami pendarahan pada
saat menstruasi. Darah yang terkumpul didalam jaringan otot rahim ini akan
menyebabkan pembengkakan; rahim menjadi lebih besar. Pembengkakan
(adenomisosis) ini dapat merata atau terfokus di satu tempat. Jika pembengkakan ini
terfokus di satu tempat maka disebut adenomioma, yang mana menyerupai tumor rahim
lainnya. Adenomiosis dapat berupa bercak-bercak di selaput lendir rongga perut
(peritoneum), benjolan (nodul), maupun cairan yang terkumpul dalam bentuk kista
indung telur. Adeomiosis sering kali menimbulkan nyeri yang lebih hebat dan gangguan
infertilitas yang lebih berat selama wanita tersebut masih mendapatkan haid, maka pada
saat yang bersamaan jaringan endometrium abnormal juga mengalami reaksi peluruhan
yang menimbulkan pendarahan (Moore, 2007).
Pathway Keperawatan

Cesar / Kuretase

Sel-sel endometrial menyebar
Kedinding rahim (otot rahim)

Tumbuh di dinding rahim

Adenomiosis

Gejala/Tanda

Nyeri Pelvis / Dismenorhea Pendarahan pd saat menstruasi /


diluar menstruasi

Resiko Tinggi Kekurangan Resiko


Infeksi
Cairan

Kurang Pengetahuan

Cemas
E. Penatalaksanaan
1. Non-bedah
Non-bedah untuk perawatan adenomiosis adalah dosis gonadotrophin-releasing
hormon. pada pasien anemia, perawatan ini membantu mereka untuk
mengembalikan tingkat hemoglobin menggunakan besi suplemen. Pada beberapa
perempuan, hormon yang menyebabkan kegelisahan, melemahnya tulang dan
meningkatkan kolesterol "buruk" LDL dan menurunkan kolesterol "baik" HDL.
Jadi jenis perawatan ini hanya direkomendasikan untuk beberapa bulan.
Sayangnya, gejala adenomyosis sering kembali setelah 6 bulan setelah
menghentikan pengobatan (Manuaba, 2009).
2. Bedah
Perawatan bedah dianggap oleh beberapa dokter sebagai perawatan yang paling
efektif untuk adenomyosis dengan gejala yang parah. Yaitu dengan pengangkatan
rahim (hysterectomy). Dokter merekomendasikan laporan komprehensif mengenai
kelebihan dan kekurangan dari prosedur ini dalam setiap kasus (Manuaba, 2009)..
Adenomyosis yang pada umumnya adalah perempuan di antara 30 dan 40
tahun.Hal ini lebih umum di kalangan wanita yang memiliki minimal satu
kehamilan (hanya 6% dari kasus-kasus adenomyosis terjadi pada wanita yang
tidak hamil) yang tinggi dengan persentase perempuan adenomyosis (sekitar 80%)
juga disorders lainnya dalam sistem reproduksi sebagai myoma, ovarian cysts atau
endometriosis.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Histerosalpingogram: suatu pemeriksaan rontgen darah panggul setelah suatu
kontras dimasukkan kedalam dinding rahim.
2. Pemeriksaan MRI: mendeteksi adanya adenomiosis dan seberapa luas
adenomiosis dan juga dapat membedakannya dari fibroid. Pemeriksaan MRI
panggul ini harus dikerjakan dengan media kontras Gadolinium yang disuntikkan
ke pembuluh darah.
3. USG transvaginal: USG yang alatnya dimasukkan kedalam vaginna (Mansjoer,
2009)
G. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit
2. Resiko tinggi kekurangan cairan tubuh berhubungan dengan pendarahan
pervaginam yang berlebihan
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan tubuh karena
anemia
4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis
dan kebutuhan pengobatan
H. Perencanaan Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses penyakit.
NOC: Pain Level, pain control, comfort level (Morhead et al., 2008)
NIC: Pain management, Analgesic administration (Doetherman dan Gloria, 2008)
a. Kaji nyeri dengan format PQRST.
b. kontrol lingkungan yang dapat berkontribusi terhadap nyeri seperti suhu, suara,
dan cahaya.
c. Ajarkan pasien teknik non farmakologis seperti nafas dalam.
d. Kolaborasikan pemberian farmakologik untuk mengurangi nyeri.
2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
pervaginam,perdarahan uterus yang berlebihan / abnormal
NOC: Fluid balance, Hydration, Nutritional Status : Food and Fluid Intake (Morhead
et al., 2008)
NIC: Fluid Management (Doetherman dan Gloria, 2008)
a. Kaji tanda-tanda vital
b. Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran cairan
c. Catat perdarahan baru setelah berhentinya perdarahan awal
d. Catat respon fisiologis individual pasien terhadap perdarahan, misalperubahan
mental, kelemahan, gelisah, pucat, berkeringat, peningkatansuhu
e. Berikan cairan baik roral maupun parenteral sesuai program
f. Monitor jumlah tetesan infus
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan tubuh karena
anemia
NOC : Immune Status, Knowledge : Infection control, Risk control (Morhead et al.,
2008)
NIC: Infection Protection (proteksi terhadap infeksi) (Doetherman dan Gloria, 2008)
a. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
b. Monitor hitung granulosit, WBC
c. Monitor kerentanan terhadap infeksi
d. Dorong masukkan nutrisi yang cukup
e. Dorong istirahat
f. Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
g. Laporkan kecurigaan infeksi
4. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan
kebutuhan pengobatan
NOC: Anxiety control, Coping, Impulse control (Morhead et al., 2008)
NIC: Anxiety Reduction (Doetherman dan Gloria, 2008)
a. Gunakan pendekatan yang menenangkan
b. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
c. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
d. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis
e. Dengarkan dengan penuh perhatian
f. Identifikasi tingkat kecemasan
g. Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
h. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi
i. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi
DAFTAR PUSTAKA

Doetherman, J.M dan Gloria N.B. 2008. Nursing Intervensions Classification (NIC). Edisi 5.
USA: Mosby Elsevier.
Mansjoer, A. 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi ke 3. Jakarta : FK UI press.
Manuaba, IBG. 2009. Penuntun Kepaniteraan Klinik Obstetric dan Ginekologi. Jakarta :
EGC
Moore, G. 2007. Essensial obstetri dan Ginekologi. Edisi 2. Jakarta : Hipokrates

Morhead, S. et al. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). Edisi 5. USA: Mosby
Elsevier.
Winkjosastro, H. 2008. Ilmu Kandungan. PT. bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.