Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Prinsip polaritas (polarity) Sigmund Freud (Corsini:1984), bahwa kehidupan manusia
sepanjang hari dihadapkan untuk memilih sesuatu dan menolak lawannya, agaknya berlaku
dalam kehidupan organisasi. Para pimpinan, menejer atau administrator dari setiap institusi atau
lembaga, baik level atas, menengah maupun bawah, akan selalu dihadapkan untuk mengambil
keputusan atau menetapkan pilihan atas polaritas ini; ya atau tidak, terima atau tolak, deal or not-
deal istilah Tantowi Yahya dalam salah satu acara di TV swasta.
Oleh sebab itu, pengambilan keputusan adalah pekerjaan utama setiap pemimpin. Tidak
ada satupun pemimpin yang bebas dari pengambilan keputusan ini, mulai dari level tertinggi
sampai level terendah, bersifat profit maupun non-profit, baik milik publik maupun privat,
berbentuk formal atau non-formal. Pokoknya, setiap pemimpin, di level manapun dan dalam
lembaga apapun, akan selalu berurusan dengan yang namanya pengambilan keputusan
(selanjutnya disingkat PK), mulai dari keputusan yang bersifat sederhana sampai kompleks.
Anehnya, meskipun merupakan pekerjaan setiap hari para pemimpin, PK bukanlah
berarti pekerjaan yang sederhana. Secepat seorang pemimpin mengambil keputusan, secepat itu
pula telah ditunggu polarisasi lain; Apakah keputusan itu menuai hasil positif atau negatif,
untung atau rugi, diterima atau ditolak, bermanfaat atau tidak, efisien atau boros, efektif atau
ngambang. Polaritas ini justru akan menentukan kualitas seorang pemimpin. Bila keputusan yang
diambil pemimpin membawa danpak positif, efektif, efisien, diterima atau menguntungkan,
maka pemimpin itu akan dianggap berhasil, bahkan bisa didemo atau diberhentikan.
Bila dulu, pemimpin mengambil keputusan secera heuristik atau tanpa menganalisis
secara cermat data atau informasi. Sekarang, dengan semakin kompleknya organisasi, PK harus
berdasarkan analisis yang cermat. Ini menempatkan PK adalah pekerjaan penting dari setiap
pemimpin untuk mewujudkan tujuan dari organisasi atau lembaga yang dipimpinnya. PK adalah
pekerjaan pikiran yang sama pentingnya dengan tindakan.
Agar keputusan yang diambil tidak merugikan dan menimbulkan resistensi
(penolakan), para pemimpin harus mengambil keputusan cermat dan tepat mencapai tujuan
organisasi, serta memuaskan. Hanya saja, untuk mengambil keputusan yang tepat dan

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 1


memuaskan semua orang bukanlah pekerjaan mudah, dan riskan sekali untuk salah. Pemimpin
harus memutuskan masa depan dengan informasi seadanya, dan informasi itu diperoleh dari
kondisi sekarang ini. Karena itu, seringkali muncul kondisi yang paradoks. Pemimpin menurut
Salusu (2003) harus memilih antara dua hal; hampir benar atau yang mungkin salah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian The Allais Paradox?
2. Apa pengertian Ellsbergs Paradox
3. Apa pengertian Intrasitivitas?
4. Apa pengertian Preference Reversals?

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 2


BAB II

PEMBAHASAN

A. The Allais Paradox

Menurut prinsip cancellation, pilihan antara dua alternatif harus bergantung hanya pada
bagaimana dua alternatif berbeda tidak pada setiap faktor yang sama untuk kedua alternatif.
Setiap faktor yang sama untuk kedua alternatif tidak akan mempengaruhi pilihan yang dibuat
orang yang rasional. Misalnya, jika Anda memilih antara dua mobil, dan mereka berdua
mendapatkan jarak tempuh yang sama, maka faktor jarak tempuh yang seharusnya tidak
mempengaruhi mobil yang dipilih.

Kelihatannya prinsip ini tampak sangat masuk akal, jika dua mobil mendapatkan jarak
tempuh yang sama, mengapa pilihan anda diantara kedua mobil tersebut dipengaruhi oleh apakah
jarak tempuh tinggi atau rendah? Pengambil keputusan rasional seharusnya hanya memutuskan
diantara alternatif - alternatif atas dasar alternatif – alternatif yang berbeda.

Pada tahun 1953, ahli ekonomi Prancis Maurice Allais menerbitkan sebuah tulisan yang
menantang prinsip cancellation. Pada tulisannya tersebut, Allais menguraikan apa yang sekarang
dikenal sebagai Allais Paradox, yaitu paradox yang menunjukkan
bagaimanaprinsip cancellation kadang-kadang dilanggar.

Allais Paradox dapat diilustrasikan seperti berikut:

Alternatif A : $ 1.000.

Alternatif B : peluang 10 % mendapatkan $ 2.500.000, peluang 89% mendapatkan $ 1.000.000


dan peluang 1% mendapatkan $ 0.

Kiranya saya menawarkan anda sebuah pilihan diantara dua alternatif, A dan B. Jika
anda memilih A, anda akan menerima $ 1.000.000 pasti. Di sisi lain jika anda memilih B, anda
memiliki 10 persen kesempatan untuk mendapatkan $ 2.500.000, 89 persen kesempatan untuk
mendapatkan $ 1.000.000, dan 1 persen kesempatan untuk mendapatkan tidak sama sekali. Pada
kasus ini kebanyakan orang memilih alternatif yang memberikan hasil yang pasti yaitu alternatif
A, meskipun alternatif B memiliki nila harapan lebih besar dari $ 1.000.000.

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 3


Contoh diatas bertentangan dengan prinsip cancellation, yang menyatakan bahwa
pilihan diantara dua alternatif tergantung hanya pada apa yang membedakan kedua alternatif,
tidak berdasar faktor – faktor lain yang umum bagi kedua alternatif tersebut.

B. Ellsbergs’s Paradox

Pelanggaran terhadap prinsip cancellation juga dikemukakan oleh Daniel Ellsberg


(1961). Paradoks Ellsberg adalah sebuah paradoks dalam teori keputusan di mana orang-orang
melanggar dalil utilitas subjektif yang diharapkan. Hal ini umumnya dianggap sebagai bukti
keengganan untuk ambiguitas. Paradoks itu dipopulerkan oleh Daniel Ellsberg, meskipun versi
itu dicatat sebelumnya oleh John Maynard Keynes.

Ide dasarnya adalah bahwa orang-orang sangat suka mengambil risiko dalam situasi di
mana mereka mengetahui peluang spesifik daripada skenario risiko alternatif di mana
kemungkinannya benar-benar ambigu - mereka akan selalu memilih probabilitas yang diketahui
untuk menang atas probabilitas yang tidak diketahui untuk menang bahkan jika Probabilitas yang
diketahui rendah dan probabilitas yang tidak diketahui bisa menjadi jaminan kemenangan.
Artinya, diberi pilihan risiko untuk diambil (seperti taruhan), orang lebih memilih sesuai yang
mereka tahu daripada mengasumsikan risiko di mana peluang sulit atau tidak mungkin untuk
dihitung.

Ellsberg sebenarnya mengajukan dua eksperimen pemikiran terpisah, pilihan yang


diajukan yang bertentangan dengan utilitas harapan subjektif. Masalah 2 warna melibatkan
taruhan pada dua guci, keduanya mengandung bola dengan dua warna berbeda.

Paradox Ellsberg mengungkapkan contoh sebagai berikut, kiranya sebuah guci berisi 90
bola, 30 diantaranya berwarna merah, dan sisanya 60 bola berwarna hitam dan kuning dalam
proporsi yang tidak diketahui. Satu bola diambil dari guci, dan warna bola tersebut akan
menentukan hasil anda sesuai dengan tabel A.

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 4


Alternatif 30 Bola 60 Bola
Merah Hitam Kuning
Alternatif A (bola merah) $ 100 $0 $0
Alternatif B (bola hitam) $0 $ 100 $0
Tabel A

Pada warna apa anda akan bertaruh, merah ataukan hitam ? kebanyakan orang akan
memilih warna merah (alternatif A) untuk menghidari ketidakpastian jumlah campuran antara
bola hitam dan kuning. Sedangkan jika anda dihadapkan pada alternatif seperti Tabel B, maka
bagaimanakah taruhan anda? Pada situasi yang kedua ini kebanyakan orang akan bertaruh pada
alternatif B, untuk menghindari ketidakpastian yang berhubungan dengan rasio dari bola hitam
dan kuning. Dengan kata lain, kebanyakan orang akan memilih alternatif A untuk kasus yang
pertama dan alternatif B untuk kasus yang kedua.

Alternatif 30 Bola 60 Bola

Merah Hitam Kuning

Alternatif A (bola merah atau $ 100 $0 $ 100


kuning)

Alternatif B (bola hitam atau $ 0 $ 100 $ 100


kuning)

Tabel B

Pada dua kasus di atas keduanya sudah setara dalam segala hal, kecuali bahwa bola
kuning pada kasus pertama tidak bernilai uang, dan pada kasus kedua bernilai $ 100. Jadi, karena
bola kuning selalu bernilai sama dalam kasus pertama dan kedua, maka bola kuning tidak
mempengaruhi pilihan yang dibuat untuk kedua kasus tersebut. Hal ini sama seperti jarak yang
sama tidak mempengaruhi pilihan terhadap dua mobil (pada contoh prinsip cancellation),
bertentangan dengan teori utilitas yang diharapkan, bagaimanapun orang sering memilih
perbedaan dalam dua permasalahan.

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 5


C. Intransitivitas

Prinsip lainnya dalam pengambilan keputusan rasional adalah Prinsip Intransitivitas,


yang menyatakan bahwa seorang pembuat keputusan yang lebih memilih hasil A dari hasil B,
dan memilih hasil B dari hasil C, dan juga memilih hasil A dibanding hasil C. Kiranya anda
memiliki pilihan diantara tiga pelamar kerja, dan anda memiliki informasi tentang intelegensi
dan pengalaman kerja setiap pelamar. Keputusan yang akan dibuat mengikuti aturan sebagai
berikut, jika perbedaan IQ diantara dua pelamar lebih dari 10 poin, maka pelamar dengan IQ
tertinggi yang dipilih, tapi jika perbedaan IQ diantara dua pelamar sama atau kurang dari 10
poin, maka pilih pelamar dengan pengalaman kerja yang lebih lama.

Pelamar IQ Pengalaman (tahun)

A 120 1

B 110 2

C 100 3

Jika kita membandingkan antara pelamar A dan B, kita sebaiknya memilih pelamar B,
karena A dan B tidak berbeda jauh dalam IQ, perbedaannya tidak melebihi dari 10 poin, dan B
memiliki pengalaman kerja yang lebih lama dibandingkan pelamar A. Sama halnya jika kita
membandingkan pelamar B dan C, kita sebaiknya memilih C karena B dan C tidak berbeda jauh
dalam IQ, perbedaannya tidak melebihi dari 10 poin, dan C memiliki pengalaman kerja yang
lebih lama dibandingkan pelamar B, namun jika kita membandingkan C dan A, kita sebaiknya
memilih A karena IQ pelamar A lebih besar 20 poin dibanding C. Jadi pelamar B lebih dipilih
daripada pelamar A, pelamar C lebih dipilih daripada pelamar B, dan pelamar A lebih dipilih
daripada pelamar C. Intransitivitas ini muncul karena aturan pemgambilan keputusan
mendasarkan pada dua dimensi yang berbeda yaitu intelegensi dan pengalaman kerja, yang
memperhatikan langkah-langkah kecil dan berbanding terbalik.

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 6


D. Preference Reversals

Satu dari penelitian pertama yang menguraikan tentang Preference Reversals


dikemukakan oleh Sarah Lichtenstein dan Paul Slovic (1971). Lichtenstein dan Slovic
berpendapat bahwa pilihan diantara sepasang dalam perjudian mungkin melibatkan proses
psikologi yang berbeda dari penawaran untuk masing-masing bagian (seperti contoh, mengatur
nilai dollar pada nilai mereka). Secara spesifik hipotesis mereka menyatakan, pilihan akan
ditentukan terutama oleh probabilitas perjudian, sedangkan tawaran akan dipengaruhi terutama
oleh jumlah yang akan menang atau kalah.

Mereka menguji hipotesis ini dalam tiga eksperimen. Dalam setiap pengujian, mereka
pertama kali menyajikan subjek eksperimen dengan beberapa pasang taruhan. Setiap pasang
taruhan memiliki nilai yang diharapkan yang mirip, tetapi satu taruhan selalu memiliki
probabilitas yang tinggi untuk menang dan di sisi lain selalu memilki hasil yang tinggi untuk
sebuah kemenangan. Setelah ditunjukkan subjek yang mereka lebih suka dalam setiap pasangan,
mereka membuat tawaran untuk setiap perjudian dianggap terpisah. Tawaran itu ditimbulkan
dengan memberitahu subjek bahwa mereka memiliki tiket untuk bermain dalam perjudian dan
menanyakan mereka nama sejumlah dolla minimum yang akan mereka sediakan untuk menjual
tiketnya.

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 7


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
The Allais Paradox merupakan prinsip yang bertentangan dengan
prinsip cancellation, yang menyatakan bahwa pilihan diantara dua alternatif tergantung hanya
pada apa yang membedakan kedua alternatif, tidak berdasar faktor – faktor lain yang umum bagi
kedua alternatif tersebut.
Pelanggaran terhadap prinsip cancellation juga dikemukakan oleh Daniel Ellsberg
(1961). Paradoks Ellsberg adalah sebuah paradoks dalam teori keputusan di mana orang-orang
melanggar dalil utilitas subjektif yang diharapkan. Hal ini umumnya dianggap sebagai bukti
keengganan untuk ambiguitas.
Prinsip lainnya dalam pengambilan keputusan rasional adalah Prinsip Intransitivitas,
yang menyatakan bahwa seorang pembuat keputusan yang lebih memilih hasil A dari hasil B,
dan memilih hasil B dari hasil C, dan juga memilih hasil A dibanding hasil C.

B. Daftar Pustaka
http://jibonkrocksite.blogspot.co.id/2014/03/paradoks-di-dalam-rasionalitas.html. Diakses
tanggal 7 Oktober 2017
http://walidrahmanto.blogspot.co.id/2012/01/mengambil-keputusan-dalam-kondisi.html.
Diakses tanggal 7 Oktober 2017
https://en.wikipedia.org/wiki/Ellsberg_paradox. Diakses tanggal 8 Oktober 2017

Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 8


Akuntansi Keperilakuan-Paradoks Rasionalitas 9

Anda mungkin juga menyukai