Anda di halaman 1dari 9

ACARA V

PERMEABILITAS TANAH

I. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu menghitung dan menentukan tingkat permeabilitas tanah
2. Mahasiswa mampu menganalisis faktor yang mempengaruhi tingkat
permeailitas tanah
3. Mahasiswa mampu menganalisis pengaruh dari tingkat permeabilitas
terhadap erosi

II. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Corong
b. Beaker glass 250 ml
c. Gelas ukur 25 ml
d. Kaki tiga
e. Pipet
f. Kain kassa
2. Bahan
a. Contoh tanah (1 ring)
b. Aquades 100 ml

III. DASAR TEORI


Tanah merupakan material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral-
mineral padat tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan
organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zatcair dan
gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel padat tersebut (Das,
1995).
Menurut Bowles, tanah adalah campuran partikel-partikel yang terdiri
dari salah satu atau seluruh jenis berikut :
1. Berangkal (boulders), merupakan potongan batu yang besar, biasanya lebih
besar dari 250 mm sampai 300 mm. Untuk kisaran antara 150 mm sampai
250 mm, fragmen batuan ini disebut kerakal (cobbles).
2. Kerikil (gravel), partikel batuan yang berukuran 5 mm sampai 150 mm.
3. Pasir (sand), partikel batuan yang berukuran 0,074 mm sampai 5 mm,
berkisar dari kasar (3-5 mm) sampai halus (kurang dari 1 mm).
4. Lanau (silt), partikel batuan berukuran dari 0,002 mm sampai 0,074 mm.
Lanau dan lempung dalam jumlah besar ditemukan dalam deposit yang
disedimentasikan ke dalam danau atau di dekat garis pantai pada muara
sungai.
5. Lempung (clay), partikel mineral yang berukuran lebih kecil dari 0,002 mm.
Partikel-partikel ini merupakan sumber utama dari kohesi pada tanah yang
kohesif (Hardiyatmo,H.C., 1992).
Salah satu sifat tanah yang penting adalah kemampuan tanah untuk
melalukan air yang mengalir melalui ruang pori yang disebabkan oleh gaya
gravitasi dan kapilaritas tanah. Di dalam tanah, air jarang dalam keadaan diam,
arah dan kecepatan pergerakannya mempunyai arti yang fundamental untuk
berbagai proses yang terjadi di biosfer (Baver, Gardner and Gardner, 1972).
Permeabilitas tanah adalah kemampuan tanah untuk meloloskan atau
melewatkan air. Permeabilitas tanah juga merupakan suatu kesatuan yang
meliputi infiltrasi tanah dan bermanfaat sebagai permudahan dalam pengolahan
tanah.Tanah dengan permeabilitas tinggi dapat menaikkan laju infiltrasi
sehingga menurunkan laju air larian (Rohmat, 2009).
Menurut Hukum Darcy (Soedarmo dan Djojoprawiro, 1984) volume air
yang mengalir melalui satu satuan irisan melintang suatu luasan persatuan
waktu (Q) adalah sebanding dengan permeabilitas (k) dan berkebalikan dengan
panjang kolom tanah (L).
Secara sederhana, Persamaan Darcy untuk satu dimensi adalah:
k×A×h
Q=
𝐿
Sehingga untuk mengetahui besarnya permeabilitas tanah, rumusnya
adalah sebagai berikut:
Q×L
k=
𝐴×h×t
di mana:
k = koefisien permeabilitas (cm/jam)
Q = debit air (cm3/jam)
A = luas permukaan tanah (cm2)
L = tebal tanah (cm)
h= tebal/kedalaman tanah (cm)
t = waktu yang dibutunhkan untuk meloloskan air (jam)
Banyak faktor yang mempengaruhi permeabilitas tanah, terutama
tekstur, struktur, stabilitas agregat, porositas, distribusi ukuran pori,
kekontinyuan pori, dan kandungan bahan organik (Hillel, 1971). Permeabilitas
tanah meningkat bila (a) agregasi butir-butir tanah menjadi remah, (b) adanya
saluran bekas lubang akar tanaman yang terdekomposisi, (c) adanya bahan
organik, dan (d) porositas tanah yang tinggi (Mohr dan Van Bahren, 1954),
struktur tanah, distribusi ukuran pori, dan pori total berhubungan dengan aliran
air. Pergerakan air dalam keadaan jenuh berkorelasi negatif dengan pasir halus
dan debu, tetapi berkorelasi positif dengan pasir kasar, stabilitas agregrat, dan
kandungan bahan kation dalam komplek jerapan (Lal, 1975 dalam Lal and
Greenland, 1979).
Faktor lain yang mempengaruhi permeabilitas tanah adalah interaksi
antar ruang pori dan cairannya, mikroorganisme, kualitas air, dan pertukaran
kation (Hillel, 1980). Umumnya pergerakan air dalam tanah tidak konstan
karena adanya variasi proses-proses kimia, fisika, dan biologi tanah. Perubahan
dapat terjadi dalam komposisi kompleks pertukaran ion, juga konsentrasi bahan
terlarut yang memasuki tanah tersebut berbeda dengan konsentrasi larutan
tanah. Hal ini didukung oleh pernyataan Hillel (1971) yang menyatakan bahwa
permeabilitas dipengaruhi oleh ukuran dan bentuk ruang pori yang dilalui air
dan viskositas cairan tanah, di mana permeabilitas yang mempunyai porositas
tinggi dengan jumlah pori besar sedikit akan lebih rendah daripada tanah-tanah
yang mempunyai porositas rendah dengan jumlah pori yang besar. Berbagai
sifat-sifat tanah tersebut pengaruhnya tidak sama, diduga sifat fisik mempunyai
pengaruh yang paling menentukan terhadap permeabilitas. Secara umum
permeabilitas tanah dipengaruhi oleh tekstur, struktur, porositas total, dan
distribusi ukuran pori, kemantapan agregrat serta peristiwa yang terjadi selama
proses aliran.
Permeabilitas tanah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
kapasitas infiltrasi tanah, makin tinggi Permeabilitas tanah makin tinggi pula
kapasitas infiltrasi yang akan terjadi. Penetapan Permeabilitas tanah baik
vertikal maupun horisontal sangat penting peranannya dalam pengelolaan tanah
dan air. Baver (1959) mengemukakan bahwa tanah dengan permeabilitas lambat
lebih mudah tererosi daripada tanah dengan permeabilitas cepat. Namun
sebaliknya permeabillitas tanah yang terlalu besar akan menurunkan
produktivitas lahan pertanian akibat proses pencucian unsur hara tanah. Oleh
karena itu perlu adanya pengaturan jumlah, waktu aliran, dan kualitas air sejauh
mungkin melalui pengelolaan tanah yang baik.
Permeabilitas tanah juga merupakan salah satu sifat lapisan tanah yang
sangat berpengaruh terhadap kepekaan tanah terhadap erosi. Tanah yang
bersifat permeable relatif kurang peka terhadap erosi dibandingkan dengan
tanah yang permeabilitasnya rendah. Berdasarkan kecepatannya Uhland dan
O’neal (Sitorus et al., 1983) mengklasifikasikan permeabilitas tanah ke dalam
beberapa ketegori seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Klasifikasi Permeabilitas Tanah menurut Uhland dan O’neal, 1951
Kelas Permeabilitas
(cm/jam)
Sangat lambat <0,125
Lambat 0,125 – 0,500
Agak lambat 0,500 – 2,000
Sedang 2,000 – 6,250
Agak cepat 6,250 – 12,500
Cepat 12,500 – 25,500
Sangat cepat >25.500
(Sumber: Sitorus et al. 1983)

IV. LANGKAH KERJA


1. Ambil contoh tanah yang telah direndam semalaman dalam 2 cm air, peras
sedikit pada bagian bawah ring yang telah diberi kain kassa
2. Siapkan kaki tiga dan coronhg di atasnya, lalu letakkan ring di atas corong
3. Siapkan aquades 100 ml lalu tetesi tanah dengan aquades menggunakan
pipet secara memutar dan tunggu hingga menetes ke beaker glass 250 ml
yang diletakkan di bawah kaki tiga
4. hitung waktu dari awal tetesan hingga tetesan terakhir (tidak menetes)
5. Air tetesan tersebut kemudian tuangkan ke gelas ukur 25 ml
6. Hitung dengan rumus permeailitas yang telah ditentukan
V. HASIL
Tabel 5.1. Hasil praktikum
Volume air Tebal tanah/ Luas permukaan Tinggi muka Waktu untuk
yang lolos tinggi ring tanah/ permukaan air saat meloloskan
(Q) (L) ring direndam air
(A) (h) (t)
96 cm3 5,5 cm 19,625 cm2 2 cm 48,017 menit

Perhitungan permeabilitas

Jadi, permeabilitasnya adalah 16,8 cm/jam dan tingkat permeabilitasnya


termasuk dalam kategori cepat.

VI. PEMBAHASAN
Praktikum ini dilakukan dengan mengambil contoh tanah di Desa
Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu. Lokasi ini penggunaan lahannya
yaitu hutan berupa hutan pinus. Pengambilan contoh tanah ini dilakukan
dengan 2 cara, yaitu dengan cara pengambilan tanah agregat utuh yaitu
dengan menggunakan ring dan pengambilan conhtoh tanah bebas yaitu
dengan mengambil contoh tanah langsung. Selanjutnya, contoh tanah ini akan
diukur tingkat permeabilitasnya di laboratorium.
Pengukuran tingkat permeabilitas tanah dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui seberapa besar kemampuan tanah untuk meloloskan air
dalam luasan permukaan tertentu dengan waktu tertentu yang dibutuhkan.
Pengukuran ini dilakukan dengan cara merendam dulu contoh tanah dalam
ring dengan 2 cm air dengan tujuan untuk menjenunhkan air dalam tanan yang
telah dikering anginkan. Selanjutnya, melakukan penetesan air secara konstan
dengan pipet secara memutar seperti halnya terjadi hujan, dengan demikian air
yang telah jenuh dan ditambah lagi maka air yang jenuh tersebut akan
diloloskan dan menetes ke beaker glass di bawah kaki tiga yang diumpakan
seperti bagian bawah tanah. Waktu yang dibutuhkah untuk meloloskan air
dihitung dengan stopwatch pada awal contoh tanah ini meneteskan air hingga
berhenti atu tidak menetes lagi airnya. Air yang diteteskan dalam contoh tanah
1 ring itu sebanyak 100 ml. Tetapi, tidak semua air tersebut dapat diloloskan,
tergantung beberapa factor seperti tekstur tanah, kandungan bahan organik, dll
Contoh tanah utuh dari daerah penelitian ini memiliki nilai tingkat
permeabilitas 16,8 cm/jam. Dalam klasifikai tingkat permeabilitas menurut
Uhland dan O’neal, 1951 termasuk dalam kategori cepat yaitu dalam
rentangan 12,500 cm/jam - 25,500 cm/jam.volume air yang dapat diloloskan
oleh contoh tanah ini adalah 96 cm3 dari jumlah air yang diteteskan
seluruhnya 100 ml. Jadi, sisanya masih terikat di tanah oleh kandungan bahan
organik. Sedangkan waktu yang dibutunkan untuk meloloskan air adalah
48,017 menit. Perhitungan rumus tingkat permeabilitas tanah (k) dilakukan
dengan mengalikan volume air yang diloloskan dengan tebal tanah, kemudian
dibagi dengan luas permukaan tanah dikali dengan tinggi muka air tanah saat
direndam dan waktu yang dibutuhkan untuk meloloskan air. Sehingga
didapatkan angka tingkat permeabilitas tanah.
Faktor yang mempengaruhi cepatnya tingkat permeabilitas tanah ini
disebabkan karena tekstur tanahnya didominasi oleh fraksi pasir, dimana
fraksi pasir merupakan penyusun pori makro yang juga disebut pori drainase.
Fraksi ini lebih mudah meloloskan air daripada pori mikro yang terdiri dari
fraksi pengikat air seperti lempung. Selain itu, karena contoh tanah ini diambil
pada daerah hutan, dimana banyak pohon besar (pohon pinus), maka terdapat
banyak perakaran dan aktivitas organik seperti cacing dll yang sangat
berperan dalam pembentukan saluran untuk pergerakan air dan udara. Saluran
yang terbentuk umumnya berbentuk pipa yang kontinu dengan panjang yang
dapat mencapai satu meter (Brady dan Weil, 2008). Faktor lainnya adalah
susunan pori yang terisi udara dan airnya atau disebut tingkat porositasnya
rendah. Aliran air yang masuk ke dalam tanah sangat dipengaruhi oleh jumlah
rongga atau lebih sering disebut pori-pori yang ada di dalam tanah. Semakin
banyak pori yang ada, maka jalan masuknya air ke dalam tanah akan semakin
banyak.
Tingkat permeabilitas contoh tanah ini berhungan degan tingkat
infiltrasi tanah. Dimana apabila tingkat permeabilitas cepat, artinya air yang
diloloskan ke bawah tanah semakin besar dan infiltrasinya tinggi. Apabila
infiltrasi tinggi, maka air yang dialirkan ke permukaan (Runh of) tanah
tersebut rendah. Apabila aliran permukaannya tinggi dan tingkat
permeabilitasnya lambat, maka tanah akan lebih peka terhadap erosi daripada
tanah yang permeabilitasnya cepat (Permeable). Jadi, contoh tanah di Desa
Songgokerto ini tingkat permeabilitasnya cepat dan kurang peka teradap erosi.

VII. KESIMPULAN
1. Tingkat permeabilitas di Desa Songgokerto, Kec. Batu, Kota Batu ini
dapat diuji di laboratorium dan dihitung dengan menggunakan rumus (k)
yang hasilnya adalah 16,8 cm/jam. Menurut klasifikasi tingkat
permeabilitas menurut Uhland dan O’neal, 1951 termasuk dalam kategori
cepat yaitu dalam rentangan 12,500 cm/jam - 25,500 cm/jam
2. Faktor yang mempengaruhi cepatnya tingkat permeabilitas di Desa
Songgokerto, Kec. Batu, Kota Batu ini adalah Tekstur tanahnya
didominasi fraksi pasir dengan pori makro atau pori drainase, porositasnya
rendah, dan adanya aktivitas organik dan banyak perakaran karena di
daerah hutan. Sehingga banyak pori yang terbentuk sebagai lubang untuk
meloloskan air
3. Tingkat permeabilitas yang cepat ini menyebabkan air yang mampu
terloloskan ke bawah tanah tinggi dan infiltrasinya tinggi. Sehingga, air
yang teralirkan ke permukaan tanah rendah. Jadi, kepekaan tanah
ternhadap erosinya rendah

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Das, Braja M. 1995. Mekanika Tanah 1. Jakarta: Erlangga
Hardiyatmo, H. C. 1992. Mekanika Tanah I. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama
Abidin, Luqmanul. 2012. Permeabilitas Tanah Lahan Pertanian, Semak, dan
Hutan Sekunder Pada Tanah Latosol Darmaga. Departemen Ilmu
Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian
Bogor. Bogor
Baver, L.D. 1959. Soil Physics 3rd . New York: Ed. Jhon Willey and Sons, Inc
Baver, L.D., E.H. Gardner & W.R. Gardner. 1972. Soil Physics 4th. New
York: Ad. Jhon Willey
Hillel, D. 1971. Soil and Water. New York: Physical Principle Academic
Press
Hillel, D. 1980. Fundamental of Soil Physic. New York: Academic Press
Sitorus, S.R.P., O. Haridjaja, danh K.R. Brata. 1983. Penuntun Praktikum
Fisika Tanah. Departemen Tanah, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor
Soedarmo, D.H. dan P. Djojoprawiro. 1984. Fisika Tanah Dasar. Jurusan
Konservasi Tanah dan Air, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor
Rukmana, Rahmat. 2009. Bertanam Buncis. Yogyakarta: Kanisius