Anda di halaman 1dari 14

Telaah Eksegetis atas Hymne Yesus dalam Yohanes 1:1-18

Victor Christianto1

Abstrak

Artikel ini merupakan suatu telaah eksegetis ringkas atas Hymne Yesus dalam Yohanes 1:1-
18. Hymne Yesus menarik untuk dikaji karena merupakan titik tolak yang memberikan
latar belakang kosmologis dan teologis terhadap seluruh struktur Injil Yohanes. Di sini
penulis Injil Yohanes memberikan penekanan Kristologis terhadap misi Yesus. Meskipun
Hymne Yesus sudah banyak digali di banyak literatur, namun interpretasi atas Hymne
Yesus tersebut dalam konteks kosmologi tampaknya belum mendapat banyak perhatian.
Karena itu dalam paper ini penulis akan menggali kemungkinan mengembangkan suatu
kosmologi bertolak dari Hymne Yesus tersebut.

Kata-kata Kunci

Hymne Yesus, Kristologi, eksegesis, Injil Yohanes, prolegomena, kosmologi, Logos

Pendahuluan

Dalam kalimat-kalimat pembuka keempat Injil, masing-masing penulis Injil


memberikan petunjuk akan minat khusus yang mewarnai penuturan mereka akan hidup
dan karya Yesus.2 Pembukaan Injil Markus adalah yang paling singkat, hanya menuturkan
baptisan Yesus untuk menegaskan bahwa Ia adalah Anak Allah. Pembukaan Matius berisi
silsilah Yesus untuk menegaskan bahwa Ia adalah keturunan Abraham dan Daud, sekaligus
memberikan legitimasi bahwa Ia adalah Raja Mesianik yang dinantikan. Pembukaan Lukas
menceritakan kelahiran Yohanes Pembaptis dan Yesus dalam konteks pemerintahan
Romawi masa itu. Di antara keempatnya, Yohanes memberikan pembukaan yang paling
dramatis yaitu dengan memberikan penekanan Kristologis terhadap misi Yesus. Menurut
R. Alan Culpeper3, deskripsi Yesus sebagai Logos dalam Prolegomena Injil Yohanes
memberikan dampak yang abadi terhadap teologi Kristen.
Hymne Yesus4 dalam Yohanes 1:1-18 merupakan salah satu perikop yang sangat
terkenal dan telah banyak dibahas dalam berbagai literatur. Namun demikian interpretasi

1
Administrator www.Sci4God.com, email: victorchristianto@gmail.com. Alamat paper dan buku:
http://independent.academia.edu/VChristianto
2 Richard Van Egmond. An exegetical study of the Prologue of John.
3 R. Alan Culpepper. The Gospel and Letters of John. Nashville: Abingdon, 1998
4 Sebagaimana dijelaskan dalam Ridderbos, masih terdapat ketidaksepakatan di antara para ahli

tentang asal-usul Hymne Yesus tersebut. Sebagian menyatakan bahwa Hymne ini berasal dari suatu puisi dari

1
atas Hymne Yesus tersebut dalam konteks kosmologi tampaknya belum mendapat banyak
perhatian. Motivasi penulis untuk meneliti Hymne Yesus ini adalah untuk menggali apakah
mungkin mengembangkan kosmologi bertolak dari Hymne Yesus tersebut.

Karena itu dalam makalah ini penulis bermaksud melakukan analisis eksegetis atas
Yohanes 1:1-18 untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Adakah gagasan
kosmologi dalam Injil ini? Seandainya ada, dalam pengertian apakah kosmos menurut Injil
Yohanes? Bagaimanakah peran dan karakter kosmos? Sejauh manakah pengaruh gagasan
filsafat keagamaan Gnostikisme atas terminologi-terminologi dan “bahasa” kosmologis Injil
Yohanes?

Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk menolong pembaca agar memahami apakah
Hymne Yesus dalam Injil Yohanes dapat memberikan petunjuk untuk mengembangkan
suatu model kosmologi. Buku panduan eksegesis yang digunakan penulis adalah Gordon
Fee.5

Lingkup Pembahasan

Dalam makalah ini penulis hanya akan meneliti 18 ayat pertama dalam Injil
Yohanes.

Analisis Historis

1. Penulis

Injil keempat tidak menyebutkan secara jelas siapakah penulisnya. Seperti Ketiga
Injil Sinoptik, secara formal Injil ini ditulis secara anonim. Namun demikian menurut
tradisi gereja kuno, Injil Yohanes bersama-sama dengan surat-surat I-II Yohanes ditulis
oleh Rasul Yohanes, salah satu dari kedua belas rasul Yesus Kristus dan merupakan murid
yang paling dekat dengan Yesus.

Gereja Purba, semerntara Bultmann menduga bahwa hymne ini berasal dari dunia Gnostik. Namun demikian
Ridderbos menjelaskan bahwa karya penebusan yang ditegaskan dalam Hymne Yesus jauh berbeda dan tidak
dapat dikaitkan dengan ajaran Gnostik. Ridderbos, Herman. Injil Yohanes: suatu Tafsiran Theologis. Surabaya:
Penerbit Momentum, 2012. Lihat juga Richard Van Egmond. An exegetical study of the Prologue of John.
5 Fee, Gordon D. New Testament Exegesis: A Handbook for Students and Pastors. Philadelphia: The
Westminster Press, 1983.

2
Tulisan-tulisan Rasul Yohanes merupakan tulisan yang diakui oleh bapa-bapa gereja
abad-abad pertama, terutama oleh Irenaeus, Tertullianus dan Justynus Martir. Meskipun
ada beberapa dokumen lainnya, penulis pertama yang mengutip dari Injil Keempat dengan
menyebutnya sebagai karya Rasul Yohanes adalah Theophilus dari Antiokhia (181 M).
Bagaimanapun, sebelum tahun tersebut, beberapa penulis seperti Tatian (murid dari Justin
Martyr), Claudius Apollinaris, dan Athenagoras juga menyebut Injil Keempat sebagai
dokumen yang otoritatif.6

Salah satu peneliti yang menegaskan dugaan bahwa Rasul Yohaneslah penulis Injil
Keempat adalah Brooke Foss Westcott (1825-1901). Westcott mengemukakan argumen
yang telah menjadi klasik bahwa penulis Injil Keempat adalah seorang Yahudi, berasal dari
Palestina, seorang saksi mata, seorang rasul, dan ia adalah St. Yohanes.7

Tetapi banyak ahli modern meragukan keotentikan Injil Yohanes sebagai Injil yang
ditulis oleh saksi mata dari perbuatan Yesus. Karena itu kebanyakan ahli cenderung
menganggap bahwa Injil Yohanes tersebut kurang bernilai historis dibandingkan dengan
ketiga Injil Sinoptik. Meskipun demikian, beberapa penelitian misalnya oleh C.H. Dodd
justru menunjukkan bahwa Injil Yohanes memiliki sumber-sumber yang berasal dari
tradisi gereja yang lebih kuno, sehingga tidak lebih rendah nilai historisnya dibandingkan
ketiga Injil Sinoptik.8

2. Penerima

Tidak ada penerima yang secara jelas disebutkan dalam Injil Keempat. Diduga, jika
Yohanes anak Zebedeus yang menulis Injil Keempat tersebut ketika ia tinggal di daerah
Efesus, maka kemungkinan ia menulisnya untuk para pembaca di sekitar wilayah kerajaan
tersebut.9

3. Waktu Penulisan

Selama 150 tahun terakhir, banyak usulan tentang tanggal penulisan Injil Keempat
ini telah diajukan, mulai dari sekitar 70M hingga seperempat bagian terakhir dari abad
kedua M. Namun tidak ada argumen yang sangat meyakinkan, sehingga para ahli menduga
bahwa tahun berapapun di antara 55 dan 95 M semuanya mungkin.10

4. Tujuan Penulisan

6 D.A. Carson & Douglas J. Moo, An Introduction to the New Testament, Second Edition. (Grand Rapids:
Zondervan. AER Edition, 2009), p. 229.
7
John Painter, "Johannine Literature: The Gospel and Letters of John," in David E. Aune (ed.) The
Blackwell Companion to the New Testament (Chichester, West Sussex: Wiley-Blackwell, 2010), pp. 345.
8 C. H. Dodd, Historical Tradition in the Fourth Gospel (Cambridge: Cambridge University Press, 1963)

as cited in D.A. Carson, "Historical Tradition in the Fourth Gospel: After Dodd, What?" R.T. France & David
Wenham, eds., Gospel Perspectives, Vol. 2: Studies of History and Tradition in the Four Gospels. Sheffield: JSOT
Press, 1981. pp.83-145.
9 D.A. Carson & Douglas J. Moo, An Introduction to the New Testament, Second Edition. (Grand Rapids:

Zondervan. AER Edition, 2009), p. 267.


10 Ibid, 264.

3
Diskusi sepanjang abad keduapuluh mengenai tujuan penulisan Injil Keempat ini
secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 kelompok:11

 Banyak usulan di sepanjang abad ke-20 yang berupaya menunjukkan bahwa


tujuan Injil Keempat dapat ditemukan dengan membandingkannya dengan
ketiga Injil Sinoptik. Ada yang mengatakan bahwa Yohanes menulis sebuah
Injil spiritual, atau dia menulis untuk melengkapi apa yang masih belum ada
dalam ketiga Injil Sinoptik, atau bahkan untuk menggantikan atau
mengoreksinya. Teori-teori ini menolak untuk membiarkan Yohanes menjadi
Yohanes, dan karenanya akhir-akhir ini pendekatan ini ditinggalkan.

 Banyak proposal modern yang berawal dari upaya rekonstruksi komunitas


Yohanin yang diduga meminta ditulisnya Injil Keempat tersebut. Meeks
misalnya berargumen bahwa komunitas Yohanin itu adalah sektarian dan
terkucil dari sinagoge-sinagoge yang berkuasa. Namun hipotesis ini memiliki
kelemahan: dugaan bahwa komunitas Yohanin itu terkucil dan sektarian
mengabaikan fakta adanya visi besar dalam Yohanes 17, dan juga paralel-
paralel antara pembukaan Yohanes dengan Hymne lainnya seperti Kol. 1:15-
20 dan Flp. 2:5-11.

 Beberapa pernyataan tentang tujuan penulisan Injil Yohanes bertumpu pada


tema tunggal atau bahkan perangkat sastra.

 Akhirnya, beberapa komentator mengadopsi pendekatan sintetik atau aditif.


Apa yang tampak sebagai usulan-usulan terbaik digabungkan menjadi satu,
sehingga tujuan penulisan Injil Yohanes adalah menginjili kaum Yahudi,
menginjili kaum Helenis, memperkuat gereja, mengatekisasi para petobat
baru, dan menyediakan bahan-bahan untuk menginjili kaum Yahudi dsb.

Analisis Kultural

Bangsa Yahudi merupakan suatu bangsa yang percaya dan menaruh harapan
kepada Hukum Taurat, sebagai hukum yang bisa menyelamatkan mereka. Bangsa Yahudi
berpikir bahwa dengan melakukan hukum Taurat mereka bisa diselamatkan. Jadi orang
Yahudi beranggapan bahwa mereka bisa diselamatkan dengan melaksanakan hukum
Taurat sepenuhnya.

Di samping itu, ada juga keyakinan tradisional misalnya dari Targum Onkelos
tentang Memra12 YHWH yang berkuasa dan berperan dalam penciptaan alam semesta, dan

11 Ibid, 268.
12 Targum ialah PL yang diterjemahkan ke dalam bahasa Aram. Di dalam Targum orang PL (Yahudi),
digunakan kata ‘memra’ untuk menerjemahkan kata firman, yang dapat dikenakan untuk diri Allah. Memra
adalah sebutan biasa untuk nama khusus Allah, YHWH (adonai). Dan istilah memra dalam bahasa Aram sama
dengan pengertian Firman Allah (lihat Targum Kel. 19:17; Targum Ul. 9:3; Targum Yes. 48:13). ‘Kata’ atau
‘firman’ dapat selalu menjadikan atau mengerjakan sesuatu; jadi bukan hanya mengatakan sesuatu, tetapi

4
beberapa ahli menduga bahwa gagasan tentang Memra YHWH itulah yang kemudian
diadopsi oleh penulis Injil Keempat ini untuk memperkenalkan konsep Logos yang menjadi
manusia. Jadi gagasan tentang Logos itu meskipun di permukaan tampaknya dipinjam dari
filsafat Helenis, kemungkinan berakar pada tradisi Yudaisme itu sendiri. Kajian yang agak
lengkap tentang hubungan antara Prolog Yohanes dan konsep Memra telah dilakukan oleh
Boyarin.13

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa rasul Yohanes menggunakan kata logos,
dengan cara mengutipnya dari PL. Asumsi bahwa Yohanes mengambil PL sebagai
referensinya muncul karena Yohanes sering mengutip PL dalam tulisannya. Hal ini telah
diamati oleh beberapa ahli seperti Delbert Burkett , C.K. Beale , dan F.W. Hengstenberg .
Selain itu, kata “Firman” juga sering kita temukan dalam PL. Dalam PL kata Firman Allah
terlibat dalam proses penciptaan segala sesuatu (misalnya dalam Maz. 33:6), pewahyuan
(Yer. 1:4; dan Yes. 9:7), dan keselamatan (Maz. 107:20; dan Yes. 55:11).14

Analisis Konteks Sastra

1. Konteks Dekat

Perikop Yoh. 1:1-18 dilanjutkan dengan kesaksian Yohanes Pembaptis bahwa dia
bukanlah Mesias yang akan datang, melainkan ada Seseorang yang lebih besar dari dia
yang akan datang. Selanjutnya ayat 29 berisi kesaksian Yohanes Pembaptis tentang Yesus
sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Tema bahwa Yesus adalah Firman
Allah yang turun ke dunia untuk menghapus dosa dunia itu diulangi di beberapa bagian,
misalnya dalam Yoh. 3:16.

2. Konteks Jauh

Pasal 1 dilanjutkan dengan Pasal 2 yang berisi dua peristiwa yaitu: a. mukjizat yang
pertama oleh Yesus dengan cara mengubah air menjadi anggur, dan b. Yesus mengusir para
pedagang di pelataran Bait Suci. Kedua peristiwa ini tampaknya menegaskan misi Yesus
yakni memberitakan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah yang turun dari surga untuk
membereskan semua kekacauan dalam peribadatan di masa itu. Dalam konteks yang lebih
luas, Injil Yohanes menggambarkan konflik yang terbentuk antara Yesus dan para
pemimpin Yahudi selama pelayanan Yesus. Tidak seperti dalam Injil Sinoptik, tidak ada

‘kekuatan’ atau ‘kuasa’ Allah untuk menciptakan. Jadi, firman dalam Yudaisme tradisi Targumik menunjukkan
suatu ‘aktivitas mencipta’, bukan hanya perkataan. Barrett, kadang-kadang memperkirakan bahwa memra
adalah sebuah hipotasis ilahi yang mampu memperlengkapi sebuah persamaan yang benar pada pemikiran
Yohanes dari suatu pribadi inkarnasi logos dalam Yesus. Lihat Marta Sembiring, Konsep Logos menurut Injil
Yohanes 1:1-18 suatu penelitian Naratif. Jumat, 23 April 2010. URL: http://sababalatblog.blogspot.com
13 Boyarin, Daniel. The Gospel of the Memra: The Jewish Binitarianism and the Prologue to John. The
Harvard Theological Review, Vol. 94 no. 3 (2001) pp. 243-284.
14Marta Sembiring, Konsep Logos menurut Injil Yohanes 1:1-18 suatu penelitian Naratif. Jumat, 23
April 2010. URL: http://sababalatblog.blogspot.com

5
konflik mengenai murid-murid Yesus yang tidak membasuh tangan dll. Konflik yang terjadi
dalam Injil Yohanes digambarkan dipicu oleh penyembuhan yang dilakukan Yesus pada
hari Sabat dan juga bahwa Yesus tidak membela diri-Nya tentang pelanggaran tersebut,
tetapi malah membuat klaim diri-Nya sebagai Anak Allah yang hidup; hal ini bagi orang
Yahudi berarti hujat yang sangat serius. ("Bapa-Ku terus bekerja hingga sekarang, dan Aku
pun juga bekerja." – Yoh. 5:17).15

Eksegesis Yohanes 1:1-18

Prolog: Bagian Prolegomena (1:1-18) memberikan pembukaan yang kuat dan


dramatis terhadap Injil ini. Yohanes meneguhkan inkarnasi Logos menjadi Yesus dari
Nazaret, sebagai seseorang yang menyatakan hati dan pikiran Tuhan. Melalui hal ini
Yohanes membuat jelas tujuan Allah yang penuh kasih.16 Prolog tersebut juga
menampilkan suatu paradoks dari dunia, yang diciptakan oleh Tuhan, tapi berkonflik
dengan Tuhan yang datang untuk menyelamatkan dunia. Dilema ini ditampilkan dalam
bentuk struktur simbolik yang dominan dalam Injil Keempat yakni pertentangan antara
kegelapan dunia dalam konflik dengan terang dari Logos yang ilahi.
Ayat 1: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman
itu adalah Allah (TB).

Puisi ini dimulai dengan kalimat yang tidak dapat tidak mengingatkan pembaca
pada kalimat pertama dalam Kitab Kejadian. Melalui rujukan terhadap Kejadian 1:1 penulis
Injil Yohanes menarik pembacanya ke periode sebelum penciptaan, yaitu pada keberadaan
yang kekal dari Logos atau Firman Allah.Yohanes menggunakan tradisi penafsiran yang
memandang tindakan Allah yang berfirman (Kejadian 1) menjadi Firman Tuhan yang
hidup. Menurut tradisi Yahudi, Firman Allah itu juga dikenal sebagai Memra. Dan
tampaknya penulis Injil Yohanes memperkenalkan Firman Allah yang dipersonifikasikan
menjadi manusia.

Kata-kata penting: λογος disebutkan 3 kali dalam ayat 1. Penggunaan istilah Logos
dalam ayat 1 terus memicu perdebatan sejak dahulu. Suatu survei terhadap berbagai
komentar menunjukkan istilah tersebut berakar pada Perjanjian Lama, dan sedikit
hubungannya dengan istilah logos yang digunakan oleh Heraclitus.17 Namun demikian

1515 John Painter, "Johannine Literature: The Gospel and Letters of John," in David E. Aune (ed.) The
Blackwell Companion to the New Testament (Chichester, West Sussex: Wiley-Blackwell, 2010), p. 351.
16 Ibid., p. 354.
17 Sekitar tahun 500 BC seorang filsuf yang bernama Heraclitus menjadi filsuf pertama yang

mengembangkan kata Firman. Ide dasar Heraclitus adalah bahwa segala sesuatu ada di dalam keadaan
berubah-ubah. Namun perubahan itu bukanlah suatu kebetulan, semua perubahan itu terkemudikan dan
diatur, mengikuti pola yang terus-menerus sepanjang waktu. Dan yang mengendalikan pola tersebut adalah
logos, firman dan nalar atau pikiran Allah. Bagi Heraclitus, logos adalah dasar keteraturan yang menyebabkan
alam semesta ini tetap ada, dan hanya logos itulah yang tidak berubah. Bagi Heraclitus, logos selalu ada dan
segala sesuatu terjadi melalui logos ini. Menurutnya di dunia ada suatu ‘akal’ atau ‘pikiran’ yang bekerja

6
antara Hikmat dan Logos tidak sepenuhnya bisa disamakan, karena Hikmat diciptakan oleh
Allah, sementara Logos menunjuk pada eksistensi yang kekal sebelum alam semesta
diciptakan. Mungkin yang dimaksud penulis Injil Yohanes adalah bahwa sebagaimana
perkataan seseorang menyatakan hati dan pikirannya, maka Kristus sebagai Sabda Allah
juga menyatakan hati dan pikiran Allah.

Ayat 2: Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah (TB).

Kalimat ini menegaskan kembali ayat 1, bahwa Logos itu sudah ada sebelum alam
semesta diciptakan, dan eksistensinya kekal. Kata-kata penting: αρχη (permulaan). Ini
menegaskan bahwa Kristus tidak diciptakan, dan memiliki pra-eksistensi bersama-sama
dengan Bapa sendiri. Dia abadi dan senantiasa berada dalam persekutuan kasih dengan
Bapa.
Ayat 3: Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi
dari segala yang telah dijadikan. (TB).

Kata-kata penting: εγενετο (terjadi). Ayat ini menegaskan peran penting Kristus
Sang Firman itu dalam proses penciptaan. Ia hadir dan ikut berperan aktif untuk
menjadikan segala sesuatu ada. Tampaknya ayat ini melengkapi penuturan Kejadian 1,
kalau dalam Kejadian 1 dikisahkan bahwa Allah adalah Roh yang melayang-layang, maka
dalam ayat 4 ini dikisahkan bahwa Firman Allah itu turut berperan aktif. Ayat ini
menggambarkan peran sentral Kristus di tengah-tengah alam semesta, Ia adalah pusat dari
alam semesta, seperti ditegaskan dalam Hymne yang lain dalam Kol. 1:15-18.

Ayat 4: Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Kata-kata penting: ζωη (hidup). Ayat ini menegaskan bahwa dalam Kristus ada
hidup yang benar dan sejati. Dan hidup yang ditawarkan oleh Kristus adalah hidup dalam
kebenaran dan persekutuan dengan Allah Bapa, dan siapa saja yang memiliki hidup yang
ditawarkan oleh Kristus maka ia memperoleh terang karena Kristus itulah Terang itu
sendiri.

Ayat 5: Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

Kata-kata penting: φωζ (terang). Yohanes hendak menegaskan setidaknya 3 hal: a.


terang itu senantiasa bercahaya karena berasal dari Allah sendiri, b. terang itu tidak dapat
bercampur dengan kegelapan, dan c. sekuat apapun kegelapan itu, ia tidak dapat
mengalahkan terang. Konflik antara terang dan gelap dalam Yohanes menurut dugaan
sebagian ahli biblika dipinjam dari terminologi dalam beberapa Naskah Laut Mati (DSS =

secara ilahi, yaitu logos ilahi atau akal Allah sendiri yang mutlak dalam ekspresi diri-Nya, namun tidak
berpribadi. Logos adalah ‘ekspresi’ dari Yang Maha Tinggi, di mana ia memperkenalkan dirinya sendiri dalam
dunia dengan ‘percikan kecil’ dan ‘terbatas’ dalam apa yang disebut ‘prinsip spermatikos logos’ pada tiap-tiap
manusia. Prinsip logos seperti inilah yang membuat keteraturan dunia, sehingga tidak kacau. Baginya Firman
adalah akal ilahi, atau rencana ilahi yang mengatur semesta alam. Lihat: Marta Sembiring, Konsep Logos
menurut Injil Yohanes 1:1-18 suatu penelitian Naratif. Jumat, 23 April 2010. URL:
http://sababalatblog.blogspot.com

7
Dead Sea Scrolls), namun akhir-akhir ini ada bantahan terhadap dugaan tersebut, karena
dalam DSS konflik antara terang dan gelap itu bersifat abadi dan belum jelas siapa
pemenangnya, sementara dalam Yohanes jelas ditegaskan bahwa sampai kapanpun
kegelapan tidak akan menang. Dengan kata lain, Yohanes lebih optimis dibandingkan
penulis DSS. Perlu dicatat juga, bahwa konflik abadi antara terang dan gelap juga dikenal
dalam beberapa tradisi atau ritual suku-suku di dunia, misalnya sampai sekarang orang
Bali masih mempercayai adanya konflik antara kebaikan dan kejahatan, hanya saja ada
perbedaan yang dalam yaitu dalam kepercayaan tradisional Bali, selalu diupayakan untuk
menjaga keseimbangan antara gelap dan terang, antara baik dan jahat. Jadi sekali lagi
Prolog Yohanes jauh lebih optimistik dibandingkan dengan tradisi kuno di Bali.

Ayat 6: Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;

Kata-kata penting: apostello (diutus). Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Yohanes
Pembaptis hanyalah utusan Allah untuk memperkenalkan Yesus kepada umat Israel.
Diduga ayat 6-9 merupakan sisipan terhadap Hymne Yesus yang bermula dari ayat 1.

Ayat 7: ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia
semua orang menjadi percaya

Kata-kata penting: marturia (saksi). Menegaskan ayat 6, Yohanes datang untuk


memberikan kesaksian tentang Sang Terang yang sejati itu, yaitu Yesus.

Ayat 8: Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

Kata-kata penting: martureo (memberikan kesaksian). Ayat ini mempertegas dua


ayat sebelumnya, bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah Mesias itu sendiri, tapi ia harus
memberikan kesaksian tentang Yesus.

Ayat 9: Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang sedang datang ke dalam
dunia.

Kata-kata penting: photizo (menerangi). Ayat ini mengulangi ayat 5 tentang Kristus
yang datang sebagai Terang dari Allah. Tidak dapat tidak Ia akan bersinar menerangi
kegelapan di dunia.

Ayat 10: Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak
mengenal-Nya.

Kata-kata penting: κοσμοσ (dunia). Yang dimaksud dengan "dunia" di sini adalah
masyarakat secara keseluruhan yang terorganisir dan terlepas dari Allah, Firman dan
pemerintahan-Nya. Dunia ini tidak akan pernah mengakui Kristus tetapi akan bersikap
acuh tak acuh dan memusuhi Kristus dan Injil-Nya hingga kesudahan zaman. Bagi Yohanes,
dunia adalah lawan terbesar dari Juruselamat dalam sejarah keselamatan.
Ayat 11: Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu
tidak menerima-Nya.

8
Kata-kata penting: ιδια (milik sendiri). Dua kali kata idia digunakan dalam ayat ini,
menegaskan bahwa Kristus datang kepada dunia yang diciptakan-Nya sendiri, dank arena
itu adalah milik-Nya. Namun dunia tidak mau menerima-Nya. Itulah paradoks terbesar dari
inkarnasi Firman Allah ke dalam dunia, yaitu justru milik-Nya sendiri tidak bersedia
menerima tuan-Nya, bahkan termasuk orang-orang Yahudi yang merupakan bangsa pilihan
Allah.

Ayat 12: Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-
anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.

Kata-kata penting: lambano (menerima). Dalam ayat ini, penulis Injil Yohanes
sepertinya menyatakan bahwa sekalipun secara umum dunia tidak mau menerima
kedatangan Kristus, ada sebagian orang yang mau menerima Kristus sebagai Anak Allah
yang hidup, mereka itulah yang akan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah.

Ayat 13: orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula
secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Kata-kata penting: gennao (melahirkan). Jadi orang-orang yang menerima Kristus


sebagai Anak Allah yang hidup, sesungguhnya dilahirkan kembali oleh Allah yang hidup,
jadi mereka tidak lagi dilihat sebagai anak-anak dunia yang lahir dari daging dan darah
melainkan dilahirkan oleh roh. Lihat percakapan Yesus dengan perempuan Samaria.
Ayat 14: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat
kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa,
penuh kasih karunia dan kebenaran.

Kata-kata penting: λογος, σαρξ (firman, daging). Di sinilah kontras terbesar antara
konsep Logos dalam Heraclitus maupun Filo dengan Injil Yohanes. Firman itu telah
berinkarnasi menjadi daging dan tinggal di antara manusia, jadi Logos bukan sekadar
konsep abstrak tentang keteraturan alam semesta yang impersonal. Inilah paradoks
terbesar dalam Kristologi, yaitu bahwa Logos itu sekaligus Allah (1:1) dan sekaligus juga
daging/manusia (1:14).

Ayat 15: Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang
kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah
mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."

Kata-kata penting: protos (yang terdahulu). Dalam ayat ini, Yohanes Pembaptis
memberikan kesaksian tentang Yesus sebagai Dia yang akan datang dan telah ada sejak
dahulu kala. Jelas bahwa Yohanes Pembaptis menyadari betul tentang asal-usul Yesus yang
dari surga.

Ayat 16: Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih
karunia;

9
Kata-kata penting: pleroma (kepenuhan). Kepenuhan Kristus yang dimaksud adalah
persekutuan dengan Bapa serta hidup kekal yang dimiliki bersama Bapa, itulah yang Yesus
hendak bagikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.

Ayat 17: sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan
kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

Kata-kata penting: charis (anugerah). Di sini Yohanes membuat kontras bahwa


hukum datang oleh Musa, tapi Yesus menawarkan anugerah yaitu karunia Allah berupa
pembenaran dan pengampunan dosa kepada siapa saja yang percaya kepada Yesus. Frase
charitos kai aletheias tampaknya memiliki parallel dengan frase Yahudi yaitu chesed dan
emet (steadfast love and truth). Kedua kata itu juga merupakan dua sifat Allah yang sangat
menonjol dalam diri dan karya Yesus.

Ayat 18: Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada
di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Kata-kata penting: monogenes (Anak Tunggal). Ayat ini menegaskan bahwa Yesuslah
yang menyatakan Bapa kepada manusia di dunia, karena Dia adalah Anak Tunggal Bapa.
Kata monogenes menyiratkan anak dari jenis yang sama, yang menegaskan kesamaan
sebagai Tritunggal.

Evaluasi

Berdasarkan eksegesis di atas, ada beberapa gagasan kosmologi yang dapat ditarik
dari Hymne Yesus, misalnya: a. Logos yang berperan penting dalam penciptaan kosmos,
dan hal ini agak berbeda dengan penuturan Kejadian 1, b. Logos itu menjadi terang dunia, c.
adanya pertentangan antara terang dan gelap, d. Dunia cenderung menolak kehadiran
Terang yang turun dari Sorga. Konflik abadi antara terang dan gelap tersebut juga
diungkapkan oleh Edward Klink III, yang menyatakan bahwa Yohanes memulai Injilnya
dengan kalimat "pada mulanya" untuk menempatkan keseluruhan narasi Yohanin dalam
suatu peristiwa kosmologis yang berakar pada permulaan kehidupan.18

Kata kosmos digunakan secara intensif dalam Injil Yohanes, yakni sebanyak 78 kali,
102 kali dalam seluruh literatur Yohanin, dan 185 kali di seluruh Perjanjian Baru. Jika
dibandingkan dengan 14 kali penggunaan kata kosmos dalam Injil Sinoptik, maka akan
tampak penggunaan yang jauh lebih banyak dalam Injil Yohanes. The Theological
Dictionary of the New Testament mencatat 46 kali penggunaan kosmos dalam Corpus
Paulinum, sehingga boleh dikatakan Paulus menaruh perhatian yang sama dengan Yohanes

18Edward W. Klink III, "Light of the World: Cosmology and the Johannine Literature," In Jonathan T.
Pennington and Sean M. McDonough, Cosmology and New Testament Theology (London: T&T Clark
International, 2008), 74.

10
terhadap kata kosmos ini. Kata kosmos ini diduga berasal dari: a. agama Yahudi, atau b.
tradisi Helenistik.19

Dalam konteks Helenistik, kata kosmos berakar pada kecantikan dan ornamentasi,
karena itu kosmos berkaitan dengan kosmetik. Dari pemahaman tentang kecantikan yang
teratur itu diduga lalu berkembang menjadi gagasan tentang keteraturan dalam alam
semesta.20 Dalam hubungan ini, ada beberapa konotasi yang mungkin, di antaranya adalah:
a. keteraturan yang inheren dalam sistem kosmik (sebelum Pithagoras), b. totalitas dari
segala hal yang tercakup bersama-sama dalam keteraturan kosmik (setelah Pithagoras), c.
alam semesta (Plato), d. konsep Helenistik tentang kosmos sebagai alam semesta, dunia
dan masyarakat kemudian mempengaruhi pemikiran Yudaisme Palestina, misalnya dalam
pemikiran Philo. Jika konsep Helenistik tentang kosmos mempengaruhi pemikiran Yahudi
dengan cara tersebut, maka mungkin juga konsep tersebut berpengaruh dalam pemikiran
penulis Injil Yohanes.21

Namun demikian, diduga oleh para ahli bahwa Yohanes sendiri tidak menggunakan
kata kosmos tersebut secara konsisten dalam Injilnya. Kysar misalnya mencatat adanya
pergeseran makna yang signifikan, kadang-kadang kosmos menunjuk secara netral atau
positif kepada seluruh ciptaan (Yoh. 1:10, 3:16), dan Yesus datang ke dunia bukan untuk
menghukumnya tapi untuk menyelamatkannya (3:17). Fakta ini membantah semua
penafsiran dosetis yang menyatakan bahwa dunia cenderung jahat semata-mata.

Namun demikian, memang ada penggunaan kata kosmos dalam Yohanes yang
berkonotasi negatif dalam konteks dualisme Yohanin. Dualisme antara atas/bawah
memimpin kita untuk berpikir bahwa secara kosmik ada dualisme vertikal. Dalam
hubungan ini, Grohar mengusulkan pengertian alternatif terhadap kata kosmos, yaitu
masyarakat yang gelap dan berkonflik dengan Sang Pencipta, karena seluruh masyarakat
terpisah dari Tuhan akibat dosa.22

Klink III memberikan perspektif yang agak berbeda tentang pengertian kosmos
dalam Injil Yohanes. Menurutnya, kosmos tidak perlu terbatas pada alam semesta fisis, tapi
juga dapat merujuk pada entitas personal, atau pada masyarakat secara keseluruhan.
Singkatnya pemahaman akan kosmos ini bersifat relasional, dan inilah yang sering
membingungkan para ahli.23

Firman (Word) berhubungan dengan dunia (World) dalam tiga relasi yang berbeda:
1. Ciptaan, 2. Masyarakat, 3. Anak-anak Allah. Firman adalah Pencipta dari segala sesuatu,
sumber dari semua sumber, awal dari segala awal. Ciptaan itu sendiri membawa cap dari
Sang Firman. Sang Anak adalah asal mula kehidupan, dan hidup yang Ia berikan adalah
19 Buhro, Bradley. Cosmos and Microcosm in the Fourth Gospel: A world order overcome by a new

paradigm. Bourbonnais, Illinois: 2000.


20 Seumas Macdonald. What role does the world play in the narrative of the Fourth Gospel? URL:

http://www.jeltzz.com/Essays/KosmosJohn.rtf
21 Ibid., 2.
22 Ibid., 3-4.
23 Edward W. Klink III, "Light of the World: Cosmology and the Johannine Literature," In Jonathan T.

Pennington and Sean M. McDonough, Cosmology and New Testament Theology (London: T&T Clark
International, 2008), 75.

11
terang bagi manusia. Tapi Terang itu tidak bersifat stagnan, melainkan selalu bergerak,
datang dan menerangi dunia yang gelap.24

Peran kosmos: tampaknya kosmos berperan sebagai panggung di mana drama ilahi
ditampilkan. Tentunya, dalam konteks kosmologi, maka panggung itu adalah seluruh
sejarah alam semesta itu sendiri.25 Konsep tentang dunia (kosmos) sebagai panggung
berkaitan erat dengan ide datang dan mengutus. Yesus diidentifikasikan sebagai Dia yang
Diutus, Diutus oleh Bapa, dan Datang ke dalam dunia. Jadi dunia sebagai panggung bersifat
pasif, yang aktif mengutus dan datang ke dunia adalah Allah sendiri.

Keterbatasan tempat tidak memungkinkan diskusi yang mendalam tentang dugaan


pengaruh Gnostikisme terhadap bahasa kosmologis Injil Yohanes. Namun demikian secara
ringkas dapatlah dikemukakan di sini bahwa terdapat perbedaan antara Platonisme dan
Stoia dibandingkan dengan Gnostikisme. Platonisme dan Stoia mengajarkan konsep bahwa
pikiran mengatasi materi, sementara Gnostikisme mengajarkan adanya dualisme radikal
antara roh dan materi dan bahwa pengetahuan (gnosis) adalah medium untuk mencapai
keselamatan. (Barrett 1952).26

Kedekatan antara Injil Yohanes dengan kosakata Gnostik memang memotivasi


banyak peneliti untuk mengajukan teori bahwa "penulis Injil Keempat adalah seorang
petobat dari sekte baptisan Gnostik." (Bultmann dalam Yamauchi 1973, 30).27 Namun, kini
teori tersebut kurang dapat diterima tanpa adanya dokumen sejarah yang kuat. Salah satu
bantahan terhadap teori tersebut adalah fakta bahwa dokumen-dokumen Gnostik tidak
dapat diberi tanggal penulisan lebih awal daripada Injil Keempat. Bahkan seperti
dinyatakan oleh Ridderbos,28 dokumen yang digunakan oleh Bultmann bertanggal
beberapa abad setelah masa penulisan Injil Yohanes, dan tidak ada bukti bahwa dokumen
Gnostik itu berasal dari era yang lebih awal. Sehingga teori itu menjadi lemah.

Kesimpulan

Tinjauan eksegetis ini masih jauh dari lengkap, namun demikian ada beberapa hal
yang dapat disimpulkan. Studi-studi terhadap Hymne Yesus tampaknya membuka
kemungkinan untuk mengembangkan model kosmologi teoretis yang bertolak dari
beberapa pemahaman:

1. Peran Sang Logos (Firman Allah) yang sentral dalam proses penciptaan alam
semesta, hal ini dapat dikaitkan dengan Hymne lainnya dalam Kol. 1:15-17.

24 Ibid., 85.
25 Seumas Macdonald. What role does the world play in the narrative of the Fourth Gospel? URL:
http:// jeltzz.com/Essays/KosmosJohn.rtf
26 Zeltmacher, The Gospel of John and Gnosticism, URL: http://zeltmacher.eu/wp-

content/uploads/2014/04/The_Gospel_of_John_and_Gnosticism.pdf
27 Ibid.
28 Herman Ridderbos. Injil Yohanes: suatu Tafsiran Theologis. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2012),

33-35. Diterjemahkan dari Ridderbos, Het Evangelie naar Johannes. Kampen: J.H. Kok, 1987.

12
2. Sang Firman yang datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia.

3. Sang Firman sekaligus adalah Terang bagi manusia, meskipun memang ada
konflik antara terang dan gelap dalam dunia.

4. Kegelapan itu tidak dapat mengalahkan Terang.

Sebagai penerapan dari tinjauan eksegetis ini penulis menyarankan beberapa hal,
antara lain: (a) Pertama, perlu dilakukan studi yang lebih mendalam tentang kemungkinan-
kemungkinan teoretis yang tersedia untuk mengembangkan konsep kosmologi
berdasarkan Hymne Yesus. Sebagai contoh, Tollefsen telah menganalisis Kosmologi
Kristosentris dari St. Maximus the Ceonfessor.29 (b) Kedua, perlu dilakukan studi yang
mendalam untuk membandingkan kosmologi yang bertolak dari Kejadian 1 dan Hymne
Yesus, serta bagaimana keduanya dapat dimengerti secara komplementer (saling
melengkapi).

Versi 1.1: 14 September 2015.

VC

Daftar Pustaka

Aune, David E. (ed.) The Blackwell Companion to the New Testament. Chichester, West
Sussex: Wiley-Blackwell, 2010. pp. 344-372.

Boyarin, Daniel. The Gospel of the Memra: The Jewish Binitarianism and the Prologue to
John. The Harvard Theological Review, Vol. 94 no. 3 (2001) pp. 243-284.

Buhro, Bradley. Cosmos and Microcosm in the Fourth Gospel: A world order overcome by a
new paradigm. Bourbonnais, Illinois: 2000. URL:
http://www.samplertosower.com/wp-content/uploads/2009/10/KOSMOS.PDF

Carson, D.A. & Douglas J. Moo. An Introduction to the New Testament, Second Edition. Grand
Rapids: Zondervan. AER Edition, 2009.

Carson, D.A. "Historical Tradition in the Fourth Gospel: A Response to J.S. King," JSNT 23
(1985) 73-81.

Culpepper, R. Alan. The Gospel and Letters of John. Nashville: Abingdon, 1998.

29Tollefsen, Torstein Theodor. The Christocentric Cosmology of St. Maximus the Confessor. Oxford:
Oxford University Press, 2008.

13
Dodd, C. H. Historical Tradition in the Fourth Gospel. Cambridge: Cambridge University
Press, 1963 as cited in D.A. Carson, "Historical Tradition in the Fourth Gospel: After
Dodd, What?" R.T. France & David Wenham, eds., Gospel Perspectives, Vol. 2: Studies
of History and Tradition in the Four Gospels. Sheffield: JSOT Press, 1981. pp.83-145.

Fee, Gordon D. New Testament Exegesis: A Handbook for Students and Pastors. Philadelphia:
The Westminster Press, 1983.

Klink III, Edward W. "Light of the World: Cosmology and the Johannine Literature," In
Jonathan T. Pennington and Sean M. McDonough, Cosmology and New Testament
Theology. London: T&T Clark International, 2008.

Macdonald, Seumas. What role does the world play in the narrative of the Fourth Gospel?
URL: http:// jeltzz.com/Essays/KosmosJohn.rtf

Ridderbos, Herman. Injil Yohanes: suatu Tafsiran Theologis. Surabaya: Penerbit Momentum,
2012. Diterjemahkan dari Ridderbos, Het Evangelie naar Johannes. Kampen: J.H.
Kok, 1987.

Sembiring, Marta. Konsep Logos menurut Injil Yohanes 1:1-18 suatu penelitian Naratif.
Jumat, 23 April 2010. URL: http://sababalatblog.blogspot.com

Tollefsen, Torstein Theodor. The Christocentric Cosmology of St. Maximus the Confessor.
Oxford: Oxford University Press, 2008.

Van Egmond, Richard. An exegetical study of the Prologue of John. URL:


http://www.scribd.com/doc/43467252/Exegetical-Paper-Prologue-of-John-s-
Gospel

Zeltmacher, The Gospel of John and Gnosticism, URL: http://zeltmacher.eu/wp-


content/uploads/2014/04/The_Gospel_of_John_and_Gnosticism.pdf

14