Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hernia merupakan ancaman potensial atau aktual pada individu yang

dapat menyebabkan gangguan biologis maupun psikologis sehingga dapat

menimbulkan respon berupa nyeri (Herdman, 2013). Hernia lebih banyak

terjadi pada laki-laki dari pada perempuan. Hal ini disebabkan pada laki-laki

ketika perkembangan testis turun dari rongga perut. Bila saluran testis tidak

menutup dengan baik, maka akan terbentuk rongga yang menjadi jalan

lewatnya hernia (Oswari, 2011). Penanganan pada hernia biasanya melalui

pembedahan diantaranya yang pertama hernioplasti yaitu upaya pencegahan

hernia muncul kembali dengan cara menata kembali struktur jaringan dengan

operasi. Masalah yang ditimbulkan post operasi ini salah satunya adalah

nyeri. Nyeri merupakan salah satu keluhan tersering pada pasien setelah

mengalami suatu tindakan pembedahan, pembedahan sendiri yakni

merupakan suatu peristiwa yang bersifat bifasik terhadap tubuh manusia yang

berimplikasi pada pengelolahan nyeri pasca pembedahan (Anggraeni, 2012).

Nyeri pasca pembedahan sering dialami oleh pasien post operasi Hernia,

Nyeri timbul setelah pasien sadar dari pengaruh Anastesi, Nyeri ini terjadi

lebih dari satu hari pasca pembedahan (Andarmoyo, 2013). Apabila nyeri

pada pasien post operasi tidak segera ditangani akan mengakibatkan proses

rehabilitasi pasien akan tertunda, hospitalisasi pasien menjadi lebih lama,

tingkat komplikasi yang tinggi dan membutuhkan lebih banyak biaya karena

pasien hanya memfokuskan seluruh perhatiannya pada nyeri yang dirasakan,

1
2

sehingga nyeri post operasi perlu diamati dan diberi tindakan yang tepat.

(Smeltzer & Bare, 2008).

Angka kejadian hernia di Amerika kurang lebih 700.000 tiap tahunnya

dan 90% terjadi pada laki-laki (WHO, 2014). Hernia tidak hanya terjadi pada

orang dewasa tetapi dapat juga pada anak-anak. Insiden hernia dilaporkan 1-

5% dari 291.145 orang. Hernia terjadi pada anak-anak usia lebih dari 6 tahun.

Kurang lebih 5% dari semua wanita mengalami hernia selama hidupnya. Di

Indonesia penyakit hernia menempati urutan ke delapan dengan jumlah

291.145 kasus (Andarini, 2015). Sedangkan data di Jawa Timur tahun 2013

jumlah penderita hernia adalah 150.225 penderita (Agustina, 2014).

Berdasarkan data yang didapatkan dari RSUD Jombang Pada tahun 2016

Jumlah pasca pembedahan pada kasus hernia sebanyak 174 penderita,

menurut data yang diperoleh dari rekam medik terdapat 93 pasien dari 174

pasien (53,4%) pasca pembedahan mengalami nyeri.

Implus nyeri dapat diatur dan dihambat oleh mekanisme pertahanan di

sepanjang sistem syaraf pusat, dan dalam proses pembedahan akan dilakukan

insisi bedah yang akan mengakibatkan terputusnya jaringan syaraf, kemudian

rangsangan serat besar dapat langsung merangsang korteks serebri. Hasil

persepsi ini dikembalikan ke dalam medulla spinalis melalui serat eferen dan

reaksinya mempengaruhi aktifitas sel T. Rangsangan pada serat kecil akan

menghambat aktifitas substansia gelatinosa dan membuka pintu mekanisme,

sehingga merangsang aktifitas sel sel yang selanjutnya akan menghantarkan

rasa Nyeri, kondisi ini jika tidak kunjung diatasi maka akan menyebabkan

penurunan rentang perhatian, frekuensi denyut jantung meningkat,


3

peningkatan tekanan darah, pucat, kelemahan, dan dapat membatasi

mobilisasi pasien (Andarmoyo, 2013).

Melihat data diatas maka peran perawat diperlukan guna membantu

masalah yang dihadapi pasien. Tindakan preventif sebagai upaya mencegah

terjadinya hernia dan menghilangkan resiko terhadap kejadian hernia, upaya

pencegahan dapat dilakukan dengan diit tinggi serat, defekasi yang teratur

dan banyak minum air putih. Tindakan kuratif pada pasien yang mengalami

post operasi hernia dengan masalah nyeri adalah dengan memberikan

tindakan farmakologi dan non farmakologi. Tindakan farmakologi yaitu

melakukan tindakan kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik.

Sedangkan tindakan non farmakologi yaitu dengan teknik relaksasi dan

distraksi, pencegahan infeksi, dan observasi tanda- tanda vital untuk

mengetahui terjadinya perdarahan di dalam, syok, hipertermia atau gangguan

pernapasan (Tzanakis, 2010). Namun berdasarkan beberapa penelitian

menyebutkan bahwa dalam tindakan mengurangi nyeri, sebagian besar

perawat menggunakan tindakan kolaborasi pemberian analgesik (Sandika et

al, 2015). Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan oleh Cartney (2014)

menyatakan bahwa penggunaan analgesik saja tidak cukup sehingga perawat

harus melakukan tindakan mandiri untuk membantu mengurangi nyeri pada

pasien post operasi, seperti teknik relaksasi distraksi. Kemudian hal penting

yang perlu diidentifikasi dalam mencegah infeksi setelah pembedahan

mencakup kondisi luka atau balutan, perdarahan, warna insisi dan jahitan,

tanda – tanda infeksi, tipe eksudat dan jumlah serta sumber - sumber lain

yang dapat menyebabkan risiko infeksi. Teknik aseptik yang tepat harus
4

diperhatikan pada saat mengganti balutan. Tindakan promotif dengan

memberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan dialami setelah

dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam dan gerakan

kaki) untuk digunakan dalam periode post operatif (Sugeng Jitowiyono &

Weni Kristiyanasari, 2010). Tindakan Rehabilitatif perawat berperan

memulihkan kondisi pasien dan menganjurkan pasien untuk kontrol kembali

bila ada keluhan (Nurarif, 2015).

Dari Latar Belakang di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan

studi kasus dengan judul: asuhan keperawatan post operasi hernia inguinalis

dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.

1.2 Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini dibatasi pada asuhan keperawatan pasien

post operasi hernia inguinalis dengan masalah nyeri sedang (skala 4-6) mulai

pada hari nol, pasien post operasi hernia inguinalis hari ke 0-2 , jenis kelamin

laki-laki, usia 40-65 tahun.

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan pasien post operasi hernia inguinalis

dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.

1.4 Tujuan Penelitan

1.4.1 Tujuan Umum

Melakukan asuhan keperawatan pasien post operasi hernia inguinalis

dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.


5

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian asuhan keperawatan pasien post operasi hernia

inguinalis dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.

2. Menetapkan diagnosis asuahan keperawatan pasien post operasi hernia

inguinalis dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.

3. Meyusun perencanaan asuhan keperawatan pasien post operasi hernia

inguinalis dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.

4. Melaksanakan tindakan keperawatan asuhan keperawatan pasien post

operasi hernia inguinalis dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar

RSUD Jombang.

5. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pasien post operasi hernia

inguinalis dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.

1.5 Manfaat

Terkait dengan tujuan, maka tugas akhir ini di harapkan dapat memberi

manfaat:

1.5.1 Manfaat Teoritis

Hasil studi kasus ini merupakan pengembangan bagi ilmu

pengetahuan khususnya dalam hal asuhan keperawatan pasien post operasi

hernia inguinalis dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar RSUD

Jombang.

1.5.2 Secara Praktis

1) Bagi Perawat

Hasil studi kasus ini dapat menjadi masukkan untuk diaplikasikan


6

dirumah sakit dalam melakukan asuhan keperawatan pasien post

operasi hernia inguinalis dengan masalah nyeri di Paviliun Mawar

RSUD Jombang.

2) Bagi Tempat Penelitian

Sebagai tambahan informasi keperawatan dan masukan dalam

pembuatan kebijakan-kebijakan baru dalam menerapkan asuhan

keperawatan pasien post operasi hernia inguinalis dengan masalah

nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.

3) Bagi Pasien

Sebagai tambahan pengetahuan pada pasien untuk mengurangi nyeri

setelah dilakukan post operasi hernia yang dialaminya dengan

mengajarkan tehnik distraksi dan relaksasi dalam menerapkan asuhan

keperawatan pasien post operasi hernia inguinalis dengan masalah

nyeri di Paviliun Mawar RSUD Jombang.