Anda di halaman 1dari 3

Rencana Studi

Saya merupakan lulusan pesantren dari salah satu pondok pesantren di Yogyakarta. Selepas saya
menamatkan pendidikan Madrasah Aliyah Keagamaan, saya melanjutkan studi Tafsir dan Hadis
pada Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga sembari mengabdi di almamater pesantren saya.
Selama kuliah saya juga diperbantukan di Madrasah Diniyyah dan Madrasah Aliyah, tentunya
materi yang saya ajarkan adalah al-Qur'an dan keilmuan-keilmuan Islam lainnya. Selepas
menyelesaikan studi S1, saya hijrah ke Ibu Kota dan bekerja pada sebuah LSM (Yayasan Muslim
Asia) yang bergerak di bidang sosial keagamaan sebagai Koordinator Divisi Madrasah Penghafal
al-Qur'an dan Bencana Alam. Karena kurang puas hanya bekerja di manajerial, saya tertarik
dengan tawaran sekolah Islam berasrama di Kalimantan Selatan yang baru saja akan dibuka. Dan
saya di sana mengajar selama kurang lebih dua tahun plus pelatihan dan magang di MAN Insan
Cendekia Serpong.

Saat ini saya kembali ke Pesantren saya, karena ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Saya
berpikir kesempatan di Yogyakarta lebih besar. Sesuai dengan latar belakang S1, saya sangat
tertarik untuk terus mengembangkan keilmuan saya di bidang Ilmu al-Qur'an dan Tafsir.
Memahami al-Qur'an sebagai sumber ajaran agama sangatlah penting. Pemahaman terhadap al-
Qur'an secara benar dan bijak sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah harmoni berbangsa
dan bertanahair. Mengenalkan agama sejak dini dan menanamkan nilai-nilai al-Qur'an kepada
mereka akan dapat membangun karakter bangsa yang kuat, tangguh dan penuh dengan rasa
syukur.

Selama saya belajar di Banjarmasin, yang dikenal sebagai kota religius sekalipun, saya melihat
masih banyak putra-putri di sana yang belum mengenal ajaran agama dengan benar. Bahkan,
masih banyak dari mereka yang belum bisa baca tulis al-Qur'an. Membaca al-Qur'an secara benar
dan fasih itu sebuah prosentase yang lain. Di samping itu, saya juga mengamati masjid-masjid di
daerah saya sepi dari pengajian al-Qur'an yang dulu ramai oleh anak-anak setiap ba'da Ashar
sampai Isya.

Fokus penelitian saya nantinya akan mengkaji mengenai tafsir bayani. Tafsir Bayani merupakan
upaya menafsirkan al-Qur'an yang menekankan kepada aspek-aspek kejelasan bahasa dan
stilistikanya, yakni dengan metode induksi. Problematika penafsiran al-Qur'an saat ini terletak
pada pemaknaan yang seringkali subjektif, tendensius dan ideologis. Metode aliran ini termasuk
ke dalam aliran penafsiran objektivis. Dengan menggunakan model penafsiran seperti ini, para
mufassir mencoba untuk mengembalikan makna al-Qur'an kepada al-Qur'an sendiri. Jika sudah
didapatkan makna yang tepat, selanjutnya dari pemaknaan tersebut tinggal diselaraskan dengan
kondisi sosial-keagamaan (adabi ijtima'i) yang ada. Dengan penafsiran ini, pemaksaan-pemaksaan
terhadap penafsiran dapat dihindari dan permasalahan-permasalahan sosial-keagamaan yang
sering kali muncul dapat dijawab secara tegas.

Saya akan mengkomparasikan mufassir yang terkemuka di Indonesia yang menggunakan metode
tersebut dengan mufassir timur tengah yang semasa. Dari situ, penelitian saya akan mensoroti
pendekatan penafsiran, outputnya dan sumbangsih terhadap masyarakat. Beberapa tokoh tafsir
dan referensi induk sudah saya persiapkan guna menunjang penelitian ini. Saya akan berusaha
untuk menyelesaikan studi saya tepat waktu dengan tanpa mengurangi kualitas penelitian.

Saya memilih Universitas Qarawiyyin di Marroko, karena universitas tersebut termasuk


universitas di negeri Islam yang tertua. Di samping itu, Marroko juga memiliki kesamaan tradisi
keagamaan dengan Indonesia, hanya saja di sana memegang mazhab Maliki secara resmi,
sedangkan Indonesia lebih cenderung ke Mazhab Syafii. Hal ini tentu akan memberikan
keuntungan studi banding bagi pembelajaran al-Qur'an yang nantinya bisa diterapkan di
Indonesia. Belajar Islam langsung kepada para Ulama dan para Ahli al-Qur'an di negeri yang
berbahasa al-Qur'an tentu memberikan pengalaman yang berbeda, dan lembaga-lembaganya
merupakan kiblat-kiblat keilmuan Islam.

Belajar di negeri timur tengah, di samping merupakan obsesi saya, juga dapat memberikan
pengalaman yang berbeda. Saya pikir usai menyelesaikan studi S1 di Indonesia, sudah saatnya
saya secara proporsional melanjutkan ke studi S2 di luar negeri, terutama di negeri-negeri timur
tengah. Dengan belajar di Universitas ini, saya yakin, sepulang dari studi, dapat memberikan
sumbangsih kepada masyarakat di bidang saya, setidaknya dalam lingkup daerah tempat saya
tinggal.

Essai Peranku Bagi Indonesia


Peranku bagi Indonesia? Ketika hendak menulis esai ini tentu itu yang menjadi pertanyaan
mendalam saya pada diri saya. Saya berpikir, mereka-reka, menggali prilaku saya selama ini, apa
sumbangsih saya terhadap negeri ini. Apakah cukup sebuah doa yang saya panjatkan dalam
khutbah-khutbah yang ditunjukan kebaikan bangsa dan para pemimpinnya sudah cukup sebagai
peran atau sumbangsih kepada negeri ini? Saya merasa malu, sementara banyak di luar sana dalam
usia yang masih belia atau sebaya saya telah melakukan banyak hal untuk negeri ini: menciptakan
karya-karya yang membanggakan, tulisan yang mencerahkan atau aksi yang membawa
perubahan.
Barangkali sebuah jawaban retorika dari saya mampu untuk menjawab pertanyaan di atas. Ya,
memang saya tidak memberikan peran positif yang membangun negeri ini, tetapi saya tidak turut
merusak negeri ini. Saya belajar dengan baik tahap demi tahap, saya tidak merusak tatanan sosial
dan moral, saya berusaha mandiri, dan saya tidak pernah tersangkut perkara pidana di negeri ini.
Prinsip saya sederhana: jika kita tidak mampu menambal lubang-lubang di langit, minimal kita
tidak ikut-ikutan melubanginya. Itu yang saya tangkap dari para guru-guru saya.

Alhamdulillah, saya lahir dan tumbuh di keluarga dan lingkungan yang agamis dan menekankan
pentingnya pendidikan agama. Saya mengaji dari ustad ke ustad, dari kyai ke kyai yang
dipercayakan oleh orang tua saya sampai saya benar-benar merantau dan menggali ilmu agama
di Pesantren. Orang tua saya menekankan bahwa pendidikan agama adalah yang utama sebelum
mempelajari ilmu-ilmu lain, sebagai pegangan hidup di dunia dan akhirat. Sebuah petuah klasik
memang, tetapi setidaknya itu yang tertanam dalam jiwa saya. Saya bangga belajar di pesantren
karena saya dididik langsung oleh para ulama yang memiliki ruh keikhlasan, tawadhu',
kelembutan dan kesederhanaan.

Essai Sukses Terbesar dalam Hidupku