Anda di halaman 1dari 6

KEBIJAKAN PELAYANAN GIZI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BAUBAU

DISUSUN OLEH

INSTALASI GIZI RSUD KOTA BAUBAU


2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
atas segala berkat dan anugerah yang telah diberikan kepada penyusun, sehingga
Pedoman Kebijakan Pelayanan Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bauabau
dapat selesai disusun. Semoga buku panduan ini dapat menjadi panduan kerja bagi
semua pihak yang terkait dengan asuhan gizi.
Tak lupa penyusun menyampaikan ucapan terimah kasih yang sedalam-
dalamnya atas semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan panduan/
Pedoman Kebijakan Pelayanan Gizi Rumah Sakit. Segala Saran dan masukan
yang sifatnya membangun dan demi untuk menyempurnakan panduan ini sangat
kami harapkan.

Baubau, Agustus 2016

Penyusun
KEBIJAKAN PELAYANAN GIZI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BAUBAU

KEBIJAKAN UMUM

1. Pelayanan di unit harus selalu berorientasi kepada mutu dan keselamatan


pasien.
2. Semua petugas unit wajib memiliki izin sesuai derigan ketentuan yang
berlaku.
3. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan
dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
4. Setiap petugas harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar
prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, dan menghormati hak
pasien.
5. Pelayanan gizi dilaksanakan sesuai ketentuan yang ada dalam
PMRS (Pedoman Pemberian Makanan Rumah Sakit).
6. Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan.
7. Untuk mempertahankan. dan meningkatkan kompetensi, setiap petugas
wajib mengikuti pelatihan.
8. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat
rutin bulanan minimal satu bulan sekali.

KEBIJAKAN KHUSUS

A. Asuhan Gizi Rawat Inap

1. Skrining Gizi
Skrining gizi dilakukan dalam 1x24 jam untuk semua pasien rawat inap
baru. Pelaksana skrining awal gizi adalah perawat. Apabila hasil skrining
awal menunjukkan pasien perlu mendapat skrining lanjut, maka dilakukan
skrining lanjut oleh ahli gizi.

2. Assesmen Gizi
Assesmen gizi dilakukan oleh ahli gizi pada pasien yang berisiko
malnutrisi berdasarkan hasil skrining.

3. Implementasi Intervensi Gizi


Implementasi intervensi gizi yang wajib diberikan pada pasien antara
lain:
3.1. Pemberian makanan dan zat-zat gizi
Dokter menetapkan preskripsi diet awal pasien pada
formulir permintaan diet ataupun pada catatan medik pasien.
Ahli gizi bersama tim menetapkan jenis diet berdasarkan
diagnosis gizi dan merekomendasikan perubahan diet pada dokter
apabila diperlukan.

3.2. Konsultasi gizi


Ahli gizi memberikan konsultasi gizi kepada pasien rawat
inap yang memerlukan konsultasi gizi berdasarkan hasil skrining
lanjut atau rekomendasi dokter.

B. Asuhan Gizi Rawat Jalan


1. Pelayanan gizi rawat jalan meliputi kegiatan konseling individual di unit
rawat jalan terpadu maupun pelayanan penyuluhan berkelompok.
2. Mekanisme pelaksanaan asuhan gizi rawat jalan sesuai dengan yang
tercantum dalam pedoman pelayanan gizi.

C. Penyelenggaraan Makanan
1. Penyelenggaraan makanan di Instalasi Gizi RSUD KOTA BAUBAU
dilakukan dengan sistem swakelola
2. Penyelenggaraan makanan harus mengacu pada prinsip keamanan yang
terkait dengan tenaga dan peralatan untuk menjamin keselamatan pasien.
3. Petugas di Instalasi Gizi wajib memakai alas kaki khusus dan APD
sesuai kegiatan yang dilakukan, antara lain:
3.1. Pemorsian makanan : masker, tutup kepala, sarung tangan
3.2. Distribusi makanan : masker, tutup kepala
3.3. membersihkan alat makan : masker, tutup kepala, sarung tangan,
apron kedap air
4. Pengadaan Makanan
Mekanisme pengadaan makanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
di RSUD.
5. Pemesanan Makanan pada Pihak Ketiga
Pemesanan makanan pada pihak ketiga dilakukan dengan ketentuan
sebagai berikut:
5.1. Makan pagi dipesan oleh petugas shift sore hari sebelumnya pukul
20.00 WITA, maksimal pemesanan/perubahan diet pukul 04.30
WITA;
5.2. Makan siang dipesan oleh petugas shift pagi pukul 08.00 WITA,
maksimal pemesanan/perubahan diet jam 09.30 WITA;
5.3. Makan sore dipesan oleh petugas shift sore pukul 13.00
WITA, maksimal pemesanan/perubahan diet pukul 14.30 WITA.
5.4. Pihak ketiga bersedia menyiapkan cadangan porsi sebanyak
10%-20% dari jumlah porsi yang dipesan sesuai tren peningkatan
jumlah pasien.
6. Distribusi Makanan
6.1. Kegiatan distribusi makanan ke pasien dilaksanakan sesuai
ketentuan yang ada dalam SPO distribusi makanan pasien.
6.2. Distribusi makanan dilakukan oleh penyaji ke ruang perawatan
dengan jadwal sebagai berikut :
6.2.1. Makan pagi : pukul 07.00 WITA
6.2.2. Makan siang : pukul 12.00 WITA
6.2.3. Makan sore : pukul 17.00 WITA
6.3. Pelayanan makan terhadap pasien baru yang datang setelah
jam distribusi makan, dilayani dengan ketentuan sebagai berikut:
6.3.1. Makan pagi maksimal pukul 08.00 WITA
6.3.2. Makan siang maksimal pukul 12.30 WITA
6.3.3. Makan sore maksimal pukul 18.00 WITA
Pasien baru yang datang 1 jam setelah waktu distribusi dilayani
pada waktu makan berikutnya, kecuali pasien dengan kondisi
khusus seperti hipoglikemi, dehidrasi, atau kegawatan.
7. Ahli gizi harus melakukan quality control terhadap setiap makanan
yang diterima dari pihak ketiga yang meliputi uji organoleptik
makanan, kontaminasi makanan, ketepatan waktu kedatangan dan akan
didistribusikan ke pasien untuk menjamin ketepatan diet.
8. Untuk menjamin kontinuitas mutu makanan dari pihak ketiga, ahli gizi
berhak rnelakukan kunjungan secara periodik (sidak) ke tempat
pengolahan makanan.

D. Kesehatan dan Keselamatan Kerja

1. Pemerikasaan kesehatan rutin tenaga penjamah makanan dilakukan


setiap 6 bulan sekali.
2. Setiap petugas penjamah wajib mematuhi SPO Hygiene penjamah
makanan untuk menjamin keamanan makanan.
3. Setiap karyawan Instalasi Gizi dan Jasa Boga sebagai pengguna
peralatan diwajibkan menggunakan peralatan sesuai dengan SPO yang
ditetapkan.
4. Setiap karyawan Instalasi Gizi dan jasa boga harus
mengetahui cara penanggulangan bahaya kebakaran.

E. Kebersihan Lingkungan

1. Kebersihan lingkungan meliputi pembuangan sampah yaitu sampah


medis dan non medis, pembersihan lantai, langi-Iangit, dinding, kaca,
ruang pantry, ruang pencucian alat makan, gudang basah, gudang kering
dan ruang administrasi.
2. Pencucian peralatan makanan harus memenuhi SPO pencucian alat
makan. Sisa makanan padat tidak boleh dibuang dalam bak
pencucian dan saluran wastafel
3. Pembersihan lantai dilakukan 3x sehari menggunakan desinfektan
khusus. Peralatan dan kain pel yang digunakan hanya dikhususkan
untuk lnstalasi Gizi.
4. Bongkar besar (scroben) ruangan pantry, gudang basah, gudang
kering dilakukan setiap satu bulan sekali.
Direktur
RSUD Kota Baubau,

dr. H. HASMUDIN, Sp. B


NIP. 19650510 199703 1 00