Anda di halaman 1dari 2

Nomor : 987/1A/PP.

PERSI/II/2018 1 Februari 2018


Perihal : Perekaman di Lingkungan RS

Kepada Yth,
Ketua PERSI Daerah
Di Tempat

Dengan hormat,

Perkembangan Informasi Teknologi saat ini bila salah dalam penerapannya dapat berimplikasi merugikan
individu maupun lembaga di pelayananan kesehatan. Memperhatikan isu yang terjadi saat ini di rumah
sakit anggota PERSI akibat dari penggunaan informasi teknologi maka PERSI Pusat perlu menyampaikan
himbauan sebagai berikut :

1. Setiap Rumah Sakit dapat membuat dan memasang tanda pengaturan perekaman dilingkungan rumah
sakit;
a. Tanda pengaturan perekaman didasarkan pada prinsip pelayanan berfokus pada pasien,,
perlindungan privasi dan rahasia kedokteran;
b. Pembuatan dan penempatan tanda pengarturan perekaman disesuaikan dengan pembagian area
lingkungan rumah sakit, yaitu :
 Pada area privat, pesan disampaikan secara tegas larangan perekaman. Contohnya: “Dilarang
Memotret dan Merekam di area ini”.
 Pada area semi publik, pesan disampaikan pesan laranganperekaman dengan pengecualian
dapat izin. Contohnya : Dilarang memotret dan merekam di area ini tanpa ijin petugas rumah
sakit”.
 Pada area public, pesan bersifat himbauan dan edukasi terhadap penghormatan privasi orang
lain. Contohnya : “Hormatilah privasi orang lain dengan tidak memotret dan merekam di area
ini tanpa ijin dari petugas rumah sakit.
c. Tanda pengaturan perekaman dapat terdiri dari tulisan, symbol atau gambar yang menarik,
informative dan edukatif;
d. Pada bagian bawah tanda pengaturan perekaman dibutuhkan dasar hokum yang relevan,
diantaranya :
 Undang-Undang Rumah Sakit Nomor 44 Tahun 2009, Pasal 29, Pasal 32 huruf i, Pasal 38
ayat (1) dan Pasal 44 ayat (1)
 Peaturan Menteri Kesehatan Nomor 36 Tahun 2012, Pasal 4
 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 69 Tahun 2014, Pasal 28 huruf a dan c.
 Dan dasar hukum lain yang relevan atau terkait.
2. Rumah Sakit melakukan edukasi dan sosialisasi kepada pasien terkait rahasia kedokteran,
perlindungan privasi dan pengaturan perekaman di lingkungan rumah sakit.

3. Rumah Sakit juga melakukan edukasi dan pengaturan penggunaan telepon seluler dan gawai bagi
tenaga kesehatan dan petugas rumah sakit;
a. Tidak boleh menggunakan telepon seluler atau gawai tanpa ijin pasien/keluarga ketika sedang
memberikan pelayanan.
b. Tidak melakukan swafoto (selfie) dihadapan pasien atau di area privat rumah sakit.
c. Tidak melakukan perekaman menggunakan telepon seluler atau gawai yang tidak terkait dengan
pelayanan pasien, pendidikan dan penelitian rumah sakit.
d. Tidak mengunggah konten media social berupa tulisan, foto dan video yang mengandung unsur
sara, tidak sesuai etika dan melanggar etika dan hokum.

Demikian agar Pengurus PERSI Daerah dapat menyampaikan/meneruskan edaran ini kepada rumah sakit
anggotanya. Atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Pengurus Pusat,
PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT
SELURUH INDONESIA

dr. Kuntjoro Adi Purjanto, M.Kes


Ketua Umum

Tembusan :
1. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kemenkes RI
2. Ketua Asosiasi Rumah Sakit