Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR

PERBANDINGAN COST COAL GETTING PC1250 VS HD785 DENGAN PC 400


VS 30 TON PT. SATRIA BAHANA SARANA
KONTRAKTOR PT.BUKIT ASAM .TBK TANJUNG ENIM

Diajukan untuk Penelitian Tugas Akhir Mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan


Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Oleh
Yoga Amarta
03021381419153

UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2018
IDENTITAS DAN PENGESAH USULAN PENELITIAN
TUGAS AKHIR MAHASISWA

1. Judul :
Perbandingan Cost Coal Getting PC1250 VS HD785 Dengan PC 400 VS 30 TON
Di PT. SATRIA BAHANA SARANA KONTRAKTOR TANJUNG ENIM
2. Pengusul :
a. Nama : Yoga amarta
b. Jenis kelamin : Laki-Laki
c. NIM : 03021381419153
d. Semester : VIII (Delapan)
e. Fakultas/ Jurusan : Teknik/ Teknik Pertambangan
f. Alamat e-mail : yoga27041993@gmail.com
g. Contact Person : +6282278755818
3. Lokasi Penelitian : PT. SATRIA BAHANA SARANA
4. Waktu Penelitian : 26 February – 26 April 2018

Indralaya, januari 2018


Pembimbing proposal, Pengusul,

Prof. Dr. Ir. H. M. Taufik Toha, DEA Yoga amarta


Nip. 1570141408530005 Nim. 03021381419153

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan
Universitas Sriwijaya,

Hj.RR. Harminuke Eko Handayani


Nip. 196902091997032001
A. JUDUL
Perbandingan Cost Coal Getting PC1250 VS HD785 Dengan PC 400 VS
30 TON Di PIT 1 Timur PT. SATRIA BAHANA SARANA, Tanjung Enim,
Sumatera Selatan

B. BIDANG ILMU
Teknik Pertambangan

C. LATAR BELAKANG
Salah satu Perusahaan yang bergerak di bidang Pertambangan adalah PT.
Satria Bahana Sarana. PT. Satria Bahana Sarana adalah perusahaan mining
contractor yang dikontrak oleh PT. Bukit Asam (Persero), Tbk dengan
menggunakan metode penambangan terbuka (open pit) dengan izin usaha
penambangan seluas 4500 Ha yang beroperasi pada bulan Maret 2015 dengan
wilayah operasi yaitu di Banko Barat.
Sistem penambangan yang diterapkan oleh PT. Satria Bahana Sarana adalah
sistem tambang terbuka (surface mining) dengan metode open pit yang melibatkan
banyak alat berat dengan berbagai fungsi, ukuran, dan tipe. Metode ini dilakukan
dengan cara menggali permukaan tanah yang dilakukan secara berjenjang dengan
menggunakan sistem penambangan konvensional dengan alat muat dan alat angkut.
Untuk menunjang kegiatan operasi penambangan maka perlu koordinasi yang
baik dari pembongkaran, pemuatan, pengangkutan, pengolahan, dan penyimpanan
sementara batubara sehingga antara produksi batubara dan permintaan yang
semakin meningkat dapat berjalan selaras. Jadi, salah satu penentu keberhasilan
untuk mencapai target produksi adalah seberapa besar peralatan mekanis dapat
dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin agar hasil yang diperoleh maksimal.

D. TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui kemampuan dan penggunaan alat mekanis agar dapat
digunakan secara efisien sehingga dapat mencapai target yang diinginkan.

E. PERMASALAHAN
Mengetahui kemampuan alat mekanis yang digunakan pada operasi
penambangan dengan memperhatikan faaktor yang berpengaruh terhadap
kemampuan peralatan, yaitu sifat material, waktu edar alat, kapasitas produksi serta
kesediaan waktu kerja. Mengkombinasikan penggunaan alat muat dan angkut, yaitu
untuk mencapai keserasian kerja alat yang sangat ditentukan oleh pemilihan alat
yang akan digunakan Penggunaan alat meknis ditentukan dengan membandingkan
penggunaan alat mekanis yang terbaik dalam mencapai target yang diinginkan,
sehingga mengetahui efesiensi dan produktifitas yang optimal . Setelah diketahui
kita dapat meningkatkan produktifitas peralatan yang digunakan. ( Excavator Back
Hoe sebagai alat muat dan Dump Truck sebagai alat angkut ).
F. RUMUSAN MASALAH

Biaya penambangan adalah suatu dasar permasalahan yang menjadi fokus


terhadap keuntungan yang akan di hasilkan pada suatu perusahaan. Identifikasi
masalah yang dapat diamati, yaitu:
1. Pengeluaran biaya yang digunakan untuk operasional penambangan pada alat
angkut mencakup penggunaan bahan bakar, spare part, and maintenance.
2. Pengaruh persen kemiringan jalan tambang terhadap cost bahan bakar yang
digunakan.
3. Penggunaan spare part alat angkut terhadap kondisi jalan .
4. Diperlukan analisis biaya operasional alat angkut dari loading point menuju
dumping point.

F. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Undang-Undang Mineral dan Batubara No. 4 Tahun 2009,
Pertambangan adalah kegiatan pengusahaan mineral dan batubara yang didalamnya
terdiri atas tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan,
konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan
penjualan, serta pascatambang. Pertambangan batubara adalah penambangan
endapan karbon yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan
batuan aspal. Penambangan adalah bagian kegiatan usaha pertambangan untuk
memproduksi mineral dan/atau batubara dan mineral ikutannya.
3.1.1. Penggalian Batubara
Coal getting merupakan kegiatan penggalian batubara yang sudah tersingkap
setelah tanah penutupnya dibuang. Kegiatan coal getting dilakukan dengan
kombinasi alat gali muat berupa excavator dan alat angkut berupa dumptruck.
Sebelum dilakukan coal getting, terlebih dahulu dilakukan kegiatan coal cleaning.
Maksud dari kegiatan coal cleaning ini adalah untuk membersihkan pengotor yang
berasal dari permukaan batubara (coal face) yang berupa material sisa tanah
penutup yang masih tertinggal sedikit, serta pengotor lain yang berupa agen
pengendapan (air permukaan, air hujan, longsoran). Kegiatan coal cleaning
biasanya menggunakan excavator dengan kapasitas bucket yang kecil. Setelah coal
cleaning, alat gali muat tidak langsung melakukan proses penggalian pada lapisan
batubara, namun akan dilakukan kegiatan pembongkaran/pemberaian dari lapisan
batubara untuk memudahkan alat gali muat melakukan pekerjaannya. Kegiatan
pembongkaran dapat dilakukan dengan ripping dan blasting. Ripping atau
menggaru adalah metoda untuk memecah batubara dari kondisi insitu menjadi
kondisi loose dengan menggunakan dozer yang dilengkapi oleh ripper (Tenriajeng,
2003).
Apabila tingkat kekerasan batuan dilokasi penambangan telah melampaui alat
penggaruan (riping) maka dapat dilakukan peledakan (blasting) untuk melakukan
pemberaian material. Bieniaswski (1973) mengklasifikasi kekerasan suatu batuan
berdasarkan nilai kuat tekannya yang dimulai dari tingkat kekerasan yang sangat
lunak sampai tingkat kekerasan yang sangat keras (Tabel 3.1).
Tabel 3.1. Klasifikasi Kuat Tekan Batuan (Bieniaswski, 1973)

Klasifikasi Kuat Tekan (Mpa)


Sangat Keras 250-700
Keras 100-250
Keras Sedang 50-100
Lunak 25-50
Sangat Lunak 1-25

3.1.2. Pemuatan (Loading) dan Pengangkutan (Hauling)


Menurut Partanto (dalam Ensiklopedia Pertambangan Edisi 3, 2000),
pemuatan adalah kegiatan untuk mengambil dan memuat material ke dalam alat
angkut, atau ke suatu tempat penimbunan material (stockyard), ke dalam suatu
penampungan atau pengatur aliran material (hopper, bin, feeder, dan sebagainya),.
Proses pemuatan material hasil galian dilakukan oleh alat muat (loading
equipment) seperti powershovel, backhoe, dragline, yang dimuatkan pada alat
angkut (hauling equipment). Ukuran dan tipe alat muat yang dipakai harus sesuai
dengan kondisi lapangan dan keadaan alat angkutnya (Indonesianto, 2005).
Hauling merupakan pekerjaan pengangkutan material hasil galian. Untuk
material lapisan tanah penutup (overburden) diangkut ke waste dump, sedangkan
untuk batubara diangkut menuju stockpile dengan menggunakan alat angkut
(hauling equipment) (Indonesianto, Y, 2005). Pengangkutan dapat dilakukan
dengan menggunakan dump truck, motor scrapper ataupun wheel loader serta
bulldozer apabila jarak angkut kurang dari 100 meter (Tenriajeng, 2003).
3.1.3. Dumping
Menurut Indonesianto, Y. (2005), dumping merupakan kegiatan penimbunan
material yang dipengaruhi oleh kondisi tempat penimbunan, mudah atau tidaknya
manuver alat angkut tersebut selama melakukan penimbunan. Untuk material
overburden ditimbun di lokasi penimbunan (waste dump), sedangkan untuk
batubara ditimbun di stockpile.

3.1. Peralatan Pemindahan Tanah Mekanis


Dalam kegiatan pemindahan tanah mekanis terutama pada kegiatan
penambangan terdapat beberapa jenis alat utama yang umum dipakai antara lain
alat pemuatan (excavator), alat angkut (dumptruck), dan alat pendukung seperti
bulldozer, grader, compactor dan bucket wheel excavator (Nabar, 2008).
3.2.1. Excavator
Excavator pada umumnya dioperasikan dengan memanfaatkan tenaga
hidrolik sehingga disebut juga hydraulic excavator. Penugasan dari excavator
terbagi menjadi dua yakni backhoe dan power shovel (Peurifoy, R.L, 2006).
Konfigurasi backhoe utamanya digunakan untuk penggalian yang mengarah
ke bawah dari permukaan tanah. Dengan kemampuan ini backhoe dapat melakukan
penggalian paritan dan dasar pit. Dalam konfigurasi ini, backhoe memiliki ukuran
boom lebih panjang, cycle time yang lebih pendek dikarenakan pergerakan swing
lebih cepat, namun dengan ukuran kapasitas bucket kecil (Tenriajeng, 2003).
Dalam konfigurasi lainnya yaitu power shovel utamanya digunakan untuk
penggalian material keras dengan mengarah ke atas dan pemuatan material pada
alat angkut. Dalam konfigurasi ini, power shovel memiliki boom yang lebih pendek,
cycle time lebih lama namun kapasitas bucket yang lebih besar (Tenriajeng, 2003).
Pergerakan penggalian dari kedua konfigurasi hydraulic excavator (Gambar 3.1)
hanya dibedakan dari arah menggalinya yaitu untuk backhoe mengarah ke bawah
sedangkan untuk power shovel mengarah ke atas.

(a) (b)

Gambar 3.1. Pergerakan penggalian dari konfigurasi, (a) backhoe dan (b) power
shovel (PC2000-8 specification,www.komatsu.com.au)

3.2.2. Dump truck


Alat angkut yang umum digunakan yaitu dump truck (Gambar 3.2) karena
lebih fleksibel, artinya dapat dipakai untuk mengangkut bermacam-macam material
dengan berat muatan yang berubah-ubah. Dump truck digunakan untuk
memindahkan material pada jarak menengah sampai jarak jauh, yaitu 500 meter
atau lebih (Tenriajeng, 2003).
Produktivitas dari truck tergantung dari kapasitas muatan dan jumlah putaran
yang dapat dilakukan dalam satu jam berkaitan dengan cycle time. Cycle time dari
truck memiliki empat komponen yaitu waktu muat, waktu angkut, waktu tumpah,
dan waktu kembali (Peurifoy, 2006). Berdasarkan bentuk kerangka, jenis alat ini
dapat dibedakan menjadi.
1. Rigid Dump Truck.
Dump truck jenis ini memiliki rangka bagian kabin yang bersatu dengan
bagian vessel-nya, sehingga pergerakannya kurang fleksibel. Jenis truck ini cocok
untuk digunakan pada pengangkutan berbagai jenis material (Gambar 3.2 a).
2. Articulated Dump Truck
Dump truck jenis ini memiliki rangka bagian kabin terpisah dari kerangka
bagian belakang atau vessel, sehingga dalam pengoperasiannya menjadi lebih
fleksibel (Gambar 3.2 b). Articulated dump truck dirancang untuk kegiatan yang
memerlukan tahanan gulir yang tinggi (high rolling resistance) dan di lokasi dimana
rigid frame truck sulit bekerja (Peurifoy, 2006).

(a) (b)

Gambar 3.2. Perbedaan jenis dump truck, (a) Rigid dump truck dan (b) Articulated
dump truck (HD785-7 & HM400-2 specification,
www.komatsu.com.au).

3.2.3. Bulldozer
Bulldozer merupakan salah satu alat berat yang mempunyai roda rantai dan
mesin penggerak utama traktor yang dilengkapi dengan blade di depan dan ripper
di belakang (Gambar 3.3).
Dalam proyek pemindahan tanah, bulldozer umumnya digunakan pada
pekerjaan sebagai berikut (Tenriajeng, 2003).
1. Pembersihan lahan (land clearing) dari kayu-kayu, pohon, maupun bebatuan.
2. Pembukaan jalan kerja (pioneering) di pebukitan maupun daerah bebatuan.
3. Memindahkan tanah dengan jarak kurang dari 100 meter.
4. Menarik scraper.
5. Menghamparkan tanah isian/ tanah pucuk.
6. Pemeliharaan jalan kerja.
7. Menimbun kembali trencher.
8. Merapikan bentuk timbunan.

Gambar 3.3. Bulldozer (D375A-6 specification, www.komatsu.com.au)

3.2.4. Grader
Grader adalah alat yang biasa digunakan sebagai penunjang aktivitas
penambangan yang dilengkapi dengan blade (Gambar 3.4). Alat ini digunakan
untuk pekerjaan pemeliharaan karena hasil galian tanah dari blade-nya yang sedikit
sehingga cocok untuk pekerjaan pemerataan jalan (Tenriajeng, 2003 ). Alat ini
termasuk dalam alat penunjang kegiatan penambangan. Alat ini berpengaruh
terhadap keadaan jalan angkut sehingga akan mempengaruhi produktivitas dari alat
angkut.

Gambar 3.4. Grader (Tenriajeng, 2003)


3.2.5. Compactor
Compactor digunakan untuk memadatkan tanah atau material sedemikian
hingga tercapai tingkat kepadatan yang diinginkan (Tenriajeng, 2003). Jenis
rodanya bisa terbuat dari besi seluruhnya atau ditambahkan pemberat berupa air
atau pasir, bisa terbuat dari karet (berupa roda ban) dengan bentuk sheep foot, ada
juga yang ditarik dengan alat alat penarik seperti bulldozer, atau bisa menggunakan
mesin penarik sendiri (Gambar 3.5). Compactor tergolong dalam alat penunjang
kegiatan penambangan, biasanya alat ini bekerja berpasangan dengan grader dalam
hal melakukan pembukaan ataupun kegiatan perawatan jalan. Pada dasarnya tipe
dan jenis compactor adalah sebagai berikut.
1. Smooth steel rollers (penggilas besi dengan permukaan halus). Jenis ini
dibedakan lagi menjadi beberapa macam, jika ditinjau dari cara pengaturan
rodanya, maka terdapat three whell rollers dan tandem rollers.
2. Pneumatic tired rollers (penggilas roda ban angin).
3. Sheep foot type rollers.
4. Vibratory plate compactor (alat pemadat-getaran).
5. Vibratory rollers (penggilas getar).

Gambar 3.5. Compactor (Tenriajeng, 2003)


3.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Alat Pemindahan Tanah
Mekanis
Dalam menentukan produksi dari peralatan mekanis maka perlu diketahui
faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan produksi dari peralatan tersebut.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi produksi dari peralatan mekanis
antara lain sifat fisik material, faktor pengisian bucket, pola penggalian dan
pemuatan, waktu edar (cycle time), efisiensi kerja, dan keserasian kerja alat (match
factor) (Indonesianto, 2005).

3.3.1. Sifat Fisik Material


Dalam kegiatan pemindahan material perlu diketahui karakteristik dan sifat
fisik material, sehingga dalam pengerjaannya dapat diketahui kemampuan kerja alat
yang sesuai terhadap material yang ada (Tenriajeng, 2003). Sifat fisik material yang
perlu diperhatikan dalam pengerjaannya yaitu.
1. Faktor Pengembangan Material (Swell Factor)
Faktor pengembangan material (Swell Factor) merupakan faktor perubahan
volume material dimana berat material tetap sama (Subhan, 2014). Volume material
dibagi menjadi tiga bentuk berdasarkan keadaannya yaitu Bank Cubic Meter
(BCM) adalah volume material pada kondisi aslinya, Loose Cubic Meter (LCM)
adalah volume material yang sudah mengalami penggalian dan Compacted Cubic
Meter (CCM) adalah volume material yang sudah mengalami penggalian kemudian
dilakukan pemadatan kembali.
Swell Factor dihasilkan dari perbedaan densitas akibat penggalian atau
pemadatan material dari densitas aslinya( Tenriajeng, 2003). Secara teoritis nilai
Swell Factor (SF) dapat dihitung dengan rumus berikut:

𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑙𝑜𝑜𝑠𝑒 (𝑡𝑜𝑛/𝑚3 )


𝑆𝐹 = .............................................................................. (3.1)
𝑑𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑏𝑎𝑛𝑘 (𝑡𝑜𝑛/𝑚3 )

(Sumber : Tenriajeng, A.T, 2003)

2. Berat Material
Berat material akan mempengaruhi kemampuan kerja alat yang melakukan
pekerjaan mendorong, mengangkat, dan mengangkut material (Tenriajeng, 2003).
Menurut Ilahi (2014), berat material yang dibawa alat angkut akan
mempengaruhi kecepatan kendaraan dengan HP yang dimiliki, membatasi
kemampuan grade dan rolling resistance, serta membatasi volume material yang
diangkut.
3.3.2. Faktor Pengisian Bucket
Menurut Ilahi (2014), faktor pengisian bucket adalah persentase volume nyata
yang dapat dimuat bucket excavator untuk diisikan ke dalam vessel dump truck
dibandingkan kapasitas teoritisnya. Faktor pengisian bucket dipengaruhi oleh hal-
hal berikut.
1. Bentuk Material
Material yang berbongkah akan membentuk rongga-rongga udara yang
mengisi ruang dalam bucket, sehingga faktor pengisian bucket akan menjadi kecil
(Tenriajeng, 2003).
2. Kohesivitas Material
Kohesivitas material adalah kemampuan saling mengikat antar material itu
sendiri. Material dengan kohesivitas yang tinggi akan lebih mudah menghasilkan
kapasitas munjung pada saat pengisian dibandingkan material dengan kohesivitas
rendah (Tenriajeng, 2003).

3.3.3. Pola Penggalian dan Pemuatan


Menurut Indonesianto (2005), pola penggalian dan pemuatan akan
berpengaruh terhadap produksi peralatan mekanis. Ini dikarenakan pola pemuatan
akan mempengaruhi besar sudut swing alat gali muat dari front penggalian terhadap
posisi alat angkut dan ada tidaknya waktu tunggu alat muat terhadap waktu spotting
alat angkut. Pemilihan pola penggalian dan pemuatan dipilih berdasarkan pada
kondisi lapangan danperalatan mekanis yang digunakan. Dilihat dari posisi alat gali
muat, pola pemuatan dibedakan menjadi dua yaitu.
1. Top Loading
Top loading merupakan pola pemuatan dimana kedudukan alat gali muat
berada lebih tinggi dari alat angkut (Indonesianto, 2005). Alat gali muat berada di
atas tumpukan material atau berada di atas jenjang (Gambar 3.6 a). Cara ini
biasanya dipakai pada alat muat backhoe, selain daripada itu operator lebih leluasa
untuk melihat bak dari alat angkut dan menempatkan material.
2. Bottom loading
Bottom loading merupakan pola pemuatan dimana kedudukan alat gali muat
berada pada satu level yang sama dengan alat angkut terletak (Gambar 3.6 b). Cara
ini dipakai pada alat muat Power Shovel sehingga produktifitas dari alat gali muat
dapat dioptimalkan.

(a) (b)

Gambar 3.6. Pola pemuatan (a) Top Loading; dan (b) Bottom Loading.

Sedangkan berdasarkan penempatan posisi alat angkut, pola pemuatan dibagi


menjadi.
1. Single back up
Single back up merupakan pola pemuatan dimana alat angkut memposisikan
untuk dimuati pada satu tempat sedangkan alat angkut lainnya menunggu alat
angkut pertama dimuati hingga penuh (Gambar 3.7) kemudian setelah alat angkut
pertama penuh maka alat angkut terssebut berangkat kemudian alat angkut kedua
memposisikan diri pada tempat yang sama untuk dimuati dan seterusnya
(Indonesianto, 2005).
2. Double back up
Double back up merupakan pola pemuatan dimana alat angkut memposisikan
untuk dimuati pada dua tempat (Gambar 3.7), alat gali muat mengisi alat angkut
pertama hingga penuh, selanjutnya mengisi alat angkut kedua yang telah berada sisi
lain alat gali muat. Sementara mengisi alat angkut kedua, alat angkut ketiga akan
memposisikan diri pada posisi yang sama dengan alat angkut pertama dan
seterusnya (Indonesianto, 2005) . Pada kondisi di lapangan pola pemuatan ini jarang
dilakukan karena memerlukan kondisi front memadai untuk alat angkut melakukan
manuver.

Gambar 3.7. Single Back Up dan Double Back Up (Indonesianto, 2005)

3.3.4. Waktu Edar (Cycle Time)


Waktu edar adalah waktu yang dibutuhkan alat mekanis untuk melakukan
satu siklus kegiatan. Waktu edar alat gali muat yaitu waktu yang dibutuhkan alat
gali muat dalam melakukan pemuatan material ke dalam alat angkut dalam satu
siklus yang terdiri dari waktu menggali, waktu mengayun isi, waktu menumpahkan
material, dan waktu mengayun kosong. Sedangkan waktu edar alat angkut yaitu
waktu yang dibutuhkan alat angkut untuk proses pengangkutan material yang
meliputi waktu pengisian, waktu perjalanan isi, waktu penumpahan, waktu
perjalanan kosong, dan waktu manuver (Zailani, 2014).
Dalam perhitungan produktivitas, waktu edar alat gali muat dan alat angkut
dapat digunakan rumus berikut.
1. Waktu edar alat gali muat
Dalam Specifications & Application Handbook Edition 30 (2009), waktu edar
alat gali muat diperoleh dari persamaan berikut:

CT Loading = Texcavate+ Tswing loaded+ Tdumping+ Tswing empty ................................ (3.2)

(Sumber :Specifications & Application Handbook Edition 30, 2009)

Keterangan :
CT Loading = waktu edar alat gali muat (detik)
Texcavate = waktu menggali material (detik)
Tswing loaded = waktu putar dengan bucket terisi/swing loaded (detik)
Tdumping = waktu menumpahkan muatan (detik)
Tswing empty = waktu putar dengan bucket kosong/swing empty (detik)
2. Waktu edar alat angkut
Dalam Specifications & Application Handbook Edition 30 (2009), waktu
edar alat angkut (dumptruck) dirumuskan sebagai berikut.

CT dumptruck = Ta1 + Ta2 + Ta3 + Ta4+ Ta5+ Ta6 .............................................................. (3.3)

(Sumber : Specifications & Application Handbook Edition 30, 2009)

Keterangan :
CT dumptruck = Waktu edar alat angkut (detik)
Ta1 = Waktu mengambil posisi untuk dimuati (detik)
Ta2 = Waktu diisi muatan (loading) (detik)
Ta3 = Waktu mengangkut muatan (detik)
Ta4 = Waktu mengambil posisi untuk penumpahan (detik)
Ta5 = Waktu pengosongan muatan (detik)
Ta6 = Waktu kembali kosong (detik)

3.3.5. Efisiensi Kerja


Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap pelaksanaan suatu pekerjaan atau
merupakan perbandingan antara waktu yang dipakai untuk bekerja dengan waktu
yang tersedia (Ilahi, 2014). Efisiensi kerja dipengaruhi oleh faktor efisiensi waktu,
efisiensi alat, kinerja operator, dan ketersediaan alat (Tenriajeng, 2003). Sedangkan
menurut Hartman (2002), terdapat 3 komponen waktu efisiensi kerja yaitu:
1. Waktu Kerja
Waktu kerja merupakan w aktu yang digunakan alat untuk beroperasi,
dimulai dari awal hingga akhir. Pada waktu kerja terdapat beberapa variabel yaitu
waktu efektif dan waktu delay. Waktu efektif merupakan waktu yang benar-benar
digunakan peralatan untuk beroperasi. Sedangkan waktu delay merupakan waktu
hambatan seperti waktu pengisian bahan bakar, pemeriksaan mesin, pemindahan
alat, menunggu perbaikan jalan, dan kondisi cuaca (Hartman, 2002).
2. Waktu Standby
Waktu standby merupakan waktu dari peralatan mekanis yang tidak dapat
digunakan, namun alat tidak rusak dan dapat beroperasi (Hartman, 2002).
3. Waktu Repair
Waktu repair merupakan waktu perbaikan peralatan mekanis pada saat jam
operasi penambangan be rlangsung, termasuk waktu perawatan dan waktu
menunggu suku cadang alat (Hartman, 2002).
Menurut Hartman (2002), efisiensi kerja dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan :
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐸𝑓𝑒𝑘𝑡𝑖𝑓
𝐸𝑓𝑓 = 𝑥 100%............................................................... (3.4)
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑇𝑒𝑟𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎

(Sumber :Hartman, 2002)


3.3.6. Cuaca
Kondisi cuaca akan sangat berpengaruh pada lokasi penambangan, sehingga
harus diperkirakan kondisi cuaca dalam satu tahunnya (Indonesianto, 2005).
Kondisi cuaca dalam kegiatan penambangan dilihat pada curah hujan daerah
penambangan. Pada cuaca hujan akan membuat lapisan tanah menjadi lengket dan
jalan menjadi licin, sehingga alat – alat tidak dapat bekerja dengan baik bahkan jika
hujan lebat peralatan mekanis tidak dapat digunakan. Sebaliknya pada musim panas
akan membuat lapangan berdebu, hal ini akan membuat pandangan para operator
terhambat. Perencanaan perhitungan curah hujan untuk bulan berikutnya sangat
penting karena akan berpengaruh pada produksi yang akan dicapai pada bulan
tersebut.

3.3.7. Keadaan Jalan Angkut


Keadaan jalan akan sangat mempengaruhi kemampuan produksi alat angkut.
Keadaan jalan angkut dilihat dari kondisinya apakah rata, bergelombang, kasar,
halus, lunak atau keras karena keadaan ini akan mempengaruhi besarnya rolling
resistance (RR) yang dihasilkan oleh permukaan jalan angkut terhadap ban dari alat
angkut. Selain itu, keadaan jalan angkut dilihat juga dari geometrinya yaitu bentuk
dan ukuran jalan yang sesuai dengan tipe alat angkut yang digunakan dan kondisi
medan yang ada sehingga menjamin keselamatan dan keamanan operasi
pengangkutan (Indonesianto, 2005).
Beberapa geometri jalan yang penting diperhatikan untuk menunjang
aktivitas produksi adalah sebagai berikut:
1. Lebar Jalan Angkut
Lebar jalan angkut disesuaikan dengan ukuran alat angkut terbesar yang
digunakan dalam kegiatan penambangan.
2. Kemiringan Jalan
Kemiringan jalan angkut merupakan salah satu faktor yang perlu dikaji
terhadap kondisi jalan tambang karena kemiringan jalan angkut mempengaruhi
kemampuan alat angkut, baik saat pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan
(Indonesianto, 2005). Kemiringan jalan angkut dinyatakan dalam persen (%).
Kemiringan 1 %, diartikan bahwa jalan angkut tersebut naik atau turun 1 meter atau
1 ft pada setiap 100 meter atau 100 ft jarak mendatar.
3.3.8. Faktor Keserasian Kerja (Match Factor)
Menurut Zailani (2014), match factor merupakan faktor yang menunjukan
tingkat keserasian kerja alat gali muat dan alat angkut dalam kombinasi kerja
dimana dapat diketahui kebutuhan peralatan mekanis untuk satu fleet. Untuk
melihat keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut dapat digunakan
persamaan berikut:

𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑖𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑥 𝑛𝐻 𝑥 𝐿𝑡
MF = .................................................................... (3.5)
𝑛𝐿 𝑥 𝐶𝑡𝐻

(Sumber: Indonesianto, 2005)

Keterangan:

MF = Match Factor

nH = Jumlah truk
nL = Jumlah alat muat

CtH = Waktu edar alat angkut (detik)

Lt = Waktu edar alat gali muat (detik)

Hasil perhitungan match factor akan diperoleh :


1. MF < 1, berarti alat gali-muat akan sering menganggur/berhenti atau bekerja
kurang dari 100% sedangkan alat angkut bekerja 100%, sehingga terdapat waktu
tunggu bagi alat gali-muat.
Waktu tunggu alat muat dapat dihitung dengan persamaan:
𝑛𝐿 𝑥 𝐶𝑡𝐻
Wtm = − 𝐿𝑡 ................................................................................ (3.6)
𝑛𝐻

2. MF = 1, berarti alat gali-muat dan alat angkut bekerja 100%, sehingga tidak
terjadi waktu tunggu dari kedua jenis alat tersebut.
3. MF > 1, berarti alat gali-muat bekerja 100% sedangkan alat angkut akan sering
menganggur/berhenti ataubekerja kurang dari 100%, sehingga terdapat waktu
tunggu bagi alat angkut.
𝑛𝐻 𝑥 𝐿𝑡
Wta = − 𝐶𝑡𝐻 ................................................................................. (3.7)
𝑛𝐿
3.3.9. Kepemilikan Alat
Salah satu permasalahan dalam manajemen peralatan konstruksi yaitu
kepemilikan alat. Terdapat tiga alternatif dalam kepemilikan alat, yaitu:
1. Membeli alat konstruksi; umumnya dilakukan untuk pemakaian yang rutin
sehingga dengan membeli, biaya penggunaan alat per jamnya lebih rendah.
2. Menyewa peralatan konstruksi; umumnya dilakukan untuk pekerjaan relative
singkat.
3. Menyewa peralatan konstruksi dan merencanakan akan membelinya kelak.
Dalam hal kepemilikan alat maka harus dianalisa kemampuan alat dan
kemungkinan biaya yang akan dikeluarkan untuk mempekerjakan suatu
peralatan sehingga diketahui apakah efisien atau tidak untuk mempekerjakan
peralatan tersebut. Tinggi rendahnya biaya ini akan dipengaruhi beberapa faktor,
yaitu kondisi medan kerja, tipe pekerjaan, harga lokal bahan bakar dan pelumas,
tingkat bunga, pajak dan asuransi, serta biaya lainnya (Tenriajeng, 2003).
3.3. Taksiran Produktivitas Alat Pemindahan Tanah Mekanis.
Pemilihan kombinasi peralatan yang efektif khususnya untuk kegiatan
penggalian dan pengangkutan memerlukan perkiraan produktivitas dari setiap
macam kombinasi shovel/truck yang memungkinkan (Thompson, 2005).
Kemampuan produksi (produktivitas) dari alat digunakan untuk menilai
kemampuan kerja alat dan melakukan perencanaan target produksi dan kebutuhan
jumlah alat.
Perhitungan taksiran produktivitas alat dilakukan berbeda-beda tergantung
dari fungsi dan kegunaan alat tersebut. Namun pada dasarnya perhitungan
produktivitas memiliki rumus yang sama, yaitu:
Produksi / waktu = Produksi / trip x Trip / waktu x Faktor Koreksi ............... (3.8)
(Sumber :Tenriajeng, A.T, 2003)
3.4.1. Taksiran Produktivitas Excavator
Taksiran produktivitas alat gali muat khususnya excavator dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan berikut.

𝐾𝑏 𝑥 𝐵𝑓 𝑥 3600 𝑥 𝐹𝐾 3
TP = (m /jam) .............................................................. (3.9)
𝐶𝑇
(Sumber :Tenriajeng, A.T, 2003)

Keterangan:

TP = Taksiran produktivitas alat muat (bcm/jam untuk tanah atau ton/jam untuk
batubara sesuai density batubara)

Kb = Kapasitas bucket (m3)

Bf = Bucket factor

FK = Faktor koreksi

= Efisiensi kerja alat x Swell factor

CT = Waktu edar alat muat/excavator(detik)

3.4.2. Taksiran Produktivitas Dump Truck


Taksiran produktivitas dump truck dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut:

𝐶 𝑥 3600 𝑥 𝐹𝐾 3
TP = (m /jam) ........................................................................ (3.10)
𝐶𝑇
𝐶 = 𝑛 𝑥 𝐾𝑏 𝑥 𝐵𝑓

(Sumber :Tenriajeng, A.T, 2003)

Keterangan:

TP = Taksiran produktivitas dump truck, bcm/jam atau ton/jam

n = Frekuensi pengisian truck

Kb = Kapasitas bucket alat muat (m3)

Bf = Bucket factor (faktor koreksi pengisian bucket)

FK = Faktor Koreksi

= Swell factor x Efisiensi kerja alat

Ct = Waktu edar dump truck (detik)

G. PEMBATASAN MASALAH