Anda di halaman 1dari 8

1

RUMAH TAMBI ,POSO


Kabupaten Poso adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi
Tengah, Indonesia. Berdasarkan garis lintang dan garis bujur wilayah
Kabupaten Poso terletak pada koordinat 1o06' 44,892" - 2o12' 53,172" LS
dan 120o 05' 96" - 120o 52' 4,8" BT. Berdasarkan letak astronomisnya,
panjang wilayah Kabupaten Poso dari ujung barat sampai ujung timur
diperkirakan jaraknya kurang lebih 86,2 Km. Lebarnya dari Utara ke
Selatan dengan jarak kurang lebih 130 Km.
SEJARAH
Suku Besoa, adalah salah satu suku yang bermukim di kecamatan Lore Tengah kabupaten Poso
di provinsi Sulawesi Tengah. Suku Besoa mendiami 8 desa yang tersebar di desa Doda, Bariri,
Lempe, Hanggira, Katu, Torire, Rompo dan Talabosa.

Suku Besoa berbicara dalam bahasa Besoa. Suku Besoa memiliki beberapa ragam sub-suku
dan dialek bahasa yang tersebar di beberapa kecamatan di kabupaten Poso. Bahasa Besoa
walaupun berbeda dengan bahasa suku-suku lain di wilayah ini, seperti suku Napu, tapi masih
bisa berkomunikasi dengan suku Napu, dan dengan mudah saling mengerti apa yang dimaksud
dalam pembicaraan masing-masing. Tapi apabila berkomunikasi dengan suku-suku lain yang
jauh berbeda bahasanya, maka suku Besoa akan menggunakan bahasa Melayu Sulawesi
Tengah (bahasa yang mirip dengan bahasa Melayu Manado).
Masyarakat suku Besoa pada umumnya adalah penganut agama Kristen Protestan. Menurut
penuturan beberapa pemuka masyarakat Besoa, sejak tahun 1929. Pada tahun 1909, P.Ten
Kate, seorang zending ditempatkan di Napu (Kruyt), 1975 :184. Kristen pertama dibabtis di
Watutau (Napu) dan Doda (Besoa), dan tahun 1913, seorang pemuda menjadi orang Kristen
Pertama di Baptis di Napu (Aditjondro, 1979).

ASAS, NILAI, DAN FILOSOFI RUMAH

A. BUDAYA

Tradisi yang paling sering dijumpai tradisi Katiana , yaitu upacara selamatan
kandungan pada masa hamil yang pertama seorang ibu. Upacara Katiana ini biasanya
dilakukan apabila kandungan itu sudah berumur 6 atau 7 bulan, saat kandungan dalam
perut sang ibu sudah mulai membesar. Maksud penyelenggaraan upacara Katiana ini
adalah untuk memohon keselamatan ibu, rumah tangga, dan khususnya keselamatan
bayi di dalam kandungan. Dengan upacara ini, bayi di dalam kandungan diharapkan
dapat tumbuh subur, sempurna, dan tidak banyak mengganggu kesehatan sang ibu.
Secara psikologis, upacara ini memberikan pegangan bagi sang ibu dan seluruh sanak
kerabat agar tetap tabah dan kuat menghadapi hal-hal yang cukup kritis dalam kurun
waktu 9 bulan masa kehamilan.
B. NILAI ADAT

Terdapat 2 Filosofi yang terkenalserta dihubungkan dengan sejarahnya ialah Sintuwu


Maroso Tuwu Malinuwu,Tuwu Siwangi merupakan kata-kata yang biasa dipakai oleh
orang tua zaman dahulu.Sintuwu Maroso mengandung makna jika kita harus bersatu
maka kita kuat,mampu melakukan kegiatan seberat apapun.Tuwu Malinuwu
mengandung makna hidup yang berkembang biak dengan baik dan Malinuwu
diibartkan dengan orang yang berternak, ternaknya tumbuh dengan baik dan tidak
terkena penyakit.
Tuwu Siwangi dimaknai dengan adanya kesatuan keutuhan,kebersamaan, yang artinya
kita dapat bersama-sama meengapai kehidupan yang lebih baik. Dalam Malinuwu
mengandung makna dalam menjalani hidup tidak ada keributan dan perselisihan.
Sehingga untuk memaknai filosofi ini tidak dapat diterjemahkan satu per satu tapi saling
berkaitan satu dengan lain.

C. NILAI RELIGIUS

KONSEP RUMAH ADAT


Berupa rumah panggung dengan tiang pendek berukuran < 1 meter yang menyangga tegaknya rumah.
Memiliki atap berbentuk prisma dengan sudut sempit di bagian atasnya. Atap ini selain berfungsi
sebagai peneduh juga berfungsi sebagai dinding rumah. Pada bagian tangga, pintu dan dinding terdapat
ornamen-ornamen berupa pahatan motif khas suku Kaili seperti ukiran pebaula (kepala kerbau) sebagai
simbol kekayaan dan ukiran bati (ukiran berbentuk kepala kerbau, ayam dan babi) sebagai simbol
kesejahteraan dan kesuburan.
INTERIOR DAN EKSTERIOR RUMAH
A. INTERIOR

a. Lantai
Lantai rumah terdiri dari susunan balok kayu.

Lantai pada Rumah Tambi

b. Pintu & Jendela


Pintu dan jendela pada rumah tambi hanya terdapat satu, pintu depan
yang berfusngi sebagai akses masuk dan keluar, sedangkan jendela hanya
berfungsi sebagai pencahayaan karena rumah ini terletak di daerah pegunungan.

Pintu dan Jendela


B. EKSTERIOR

a. Atap
Atap rumah ini seperti jamur berbentuk prisma yang terbuat dari material
daun rumbia atau ijuk, dengan penahan bambu. Keunikan dari rumah ini adalah
atapnya yang meanjang ke bawah dan berfungsi sekaligus sebagai dinding luar.

Atap pada Rumah Tambi

b. Lisplang
Lisplang pada rumah ini berfungsi sebagai estetika juga sebagai penutup atap.

gambar 1.9 Lisplang

c. Hiasan dan Ornamen


Hiasan dan ornamen yang terdapat pada rumah Tambi dan Lumbung padi
hanya berfungsi sebagai penunjang estetika. Berikut adalah hiasan dan ornamen
yang terdapat pada rumah Tambi dan Lumbung padi.
Hiasan dan Ornamen pada Rumah Tambi:

Hiasan berbentuk gagang parang

Bubungan Kepala Kerbau

Hiasan dan Ornamen pada Lumbung padi Rumah Tambi:

Ukiran Kepala Kerbau


Patung dari Kayu

STRUKTUR RUMAH ADAT


a. Tangga
Tangga merupakan sebuah akses utama dan berfungsi sebagai akses
masuk dan keluar pada rumah ini. Tangga rumah biasanya terbuat dari kayu bulat
yang di ukir menyerupai sebuah tangga. Rumah Tambi yang digunakan oleh
kepala adat memiliki jumlah anak tangga yang genap. Sementara, rumah untuk
penduduk biasa memiliki jumlah anak tangganya yang ganjil.

Tangga pada Rumah Tambi


b. Tiang
Tiang-tiang yang berfungsi sebagai penopang pada rumah Tambi terbuat dari
kayu bonati.

Tiang pada Rumah Tambi

c. Gelegar
Badan dan atap pada rumah tambi ditopang tiga atau lima susun balok kayu
bulat yang berfungsi sebagai gelagar dan diletakkan di atas tiang-tiang batu
cadas lonjong yang ditanam di dalam tanah.

Gelegar

d. Kuda-kuda
Kuda-kuda yang terdapat pada rumah Tambi menggunakan bahan Kayu
dan bambu.