Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permukaan bumi secara keseluruhan merupakan permukaan yang
melengkung yang tidak mungkin dapat dibentang menjadi bidang datar tanpa
mengalami perubahan. Peta merupakan presentasi dari permukaan bumi secara
umum pada suatu bidang datar dalam ukuran yang lebih kecil.
Peta sangat bermanfaat dalam menunjang kegiatan pembangunan yaitu
sebagai sarana yang mendasar, antara lain dalam : proses perencanaan,
pengambilan keputusan terhadap mungkin tidaknya suatu kegiatan dilakukan,
pemantauan proses pelaksanaan kegiatan pembangunan. Karena peta merupakan
alat komunikasi yang berisikan pendapat mengenai segala sesuatu yang ada di
permukaan bumi secara grafis, serta peta mempunyai sifat keruangan (spasial),
artinya segala sesuatu yang menyangkut objek di permukaan bumi digambarkan
secara grafis dengan posisi tertentu. Posisi tersebut berlaku umum (terikat pada
oreatasi tertentu), sehingga keberadaannya di muka bumi dapat direkonstruksikan
kembali. Peta juga dapat sebagai alasan praktis, dengan bentuk dan ukuran yang
relatif kecil (kertas, disket, harddisk) kita dapat menerawang ke dunia nyata dan
membayangkan apa yang ada di suatu lokasi tertentu tanpa harus berada di lokasi
tersebut. Dan peta mempunyai sifat yang up-to-date, artinya isi yang mencakup
pada suatu peta setiap kurun waktu tertentu harus diperbaharui sesuai dengan
keadaan fisik ada di dunia nyata.

1.2 Maksud Dan Tujuan


Maksud dan tujuan dari praktek lapangan di Kecamatan Bandung khususnya
di daerah Ciburial kampus II Universitas Islam Bandung (UNISBA) ini adalah untuk
mengaplikasikan seluruh materi yang telah didapatkan selama mahasiswa
melakukan praktikum perpetaan di laboratorium ke lapangan, dan diharapkan dari
kegiatan praktek lapangan ini berguna bagi perluasan wawasan khususnya di dalam
menentukan luas suatu wilayah serta pengetahuan tentang perpetaan yang telah

23
didapatkan diperkuliahan khususnya dalam mata kuliah perpetaan, sehingga dengan
demikian saya sebagai mahasiswa bidang studi pertambangan harus mengetahui
lebih dini untuk membuka wawasan yang tidak hanya cukup didapat dari bangku
kuliah saja.

1.3 Waktu Dan Tempat


Kegiatan praktek perpetaan ini dilakukan pada tangggal tanggal 25
Desember 2004 hari minggu di kampus II UNISBA (Universitas Islam Bandung)
Ciburial. Pengukuran dilakukan dengan mengukur luas kampus II Ciburial dengan
batas-batas yang jelas. Dalam pengukuran luas lapangan perpetaan dimulai dengan
pengambilan titik poligon pertama di gerbang masuk Kampus II Universitas Islam
Bandung dengan arahnya searah jarum jam. Pengukuran dilaksanakan dengan cara
mengelilingi kampus II tersebut dengan mengambil detail sebanyak 5 kali tetapi ada
yang kami ambil detailnya hanya 2 saja. Pengambilan titik poligon dimulai dari jam
06.30 – 16.00, sehingga kami mendapatkan titik poligon sebanyak 20 titik.

23
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Lokasi Dan Kesampaian Daerah


Lokasi kegiatan praktikum perpetaan ini terletak di Kotamadya Bandung
khususnya di daerah Ciburial (kampus II Universitas Islam Bandung) yang secara
geografis daerah praktek lapangan terletak pada koordinat 060 51’ 43’ LS dan 1070
38’ 50’ BT. Lokasi kegiatan praktek perpetaan di Ciburial dapat ditempuh oleh
kendaraan roda dua maupun roda empat dengan kondisi jalan yang cukup baik,
namun agak sempit. Bila kita berangkat dari Kampus I Universitas Islam Bandung
Jalan Taman sari No.1 maka perjalanan ditempuh lebih kurang 1 jam melewati rute
dago, bila kita memakai kendaraan umum maka kita dapat memakai angkutan kota
jurusan Ciroyom – Ciburial dengan arah menuju Ciburial.

2.2 Daerah Umum Daerah Pengukuran


Daerah ini memiliki luas ± 590 Ha berdasarkan SK. Mentri Pertanian No.
575/KPTS/UM/8/1980 tanggal 6 Agustus 1980. hal ini meliputi daerah atau kawasan
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dan termasuk Kampus II Unisba Ciburial.
Taman ini berada disebelah kiri dan kanan yang dikelilingi perbukitan dan
juga terdapat sungai kecil dibagian selatannya. Menurut badan meteorologi dan
geofisika kawasan ini memiliki curah hujan 1952 mm/tahun dengan temperatur ±
23,1º C yang kelembaban udara sekitar udara sekitar 78 % dan penguapan 357
mm/tahun.

2.2.1 Topografi Dan Morfologi


Kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Utara kota Bandung.
Diperkirakan ketinggian lokasi pengukuran sekitar 560 Mdpl sampai 882,5 Mdpl dan
980 Mdpl. Daerah ini terletak diantara Sungai Cikapundung di arah Barat laut dan
arah Tenggara terdapat sungai kecil. Keadaan Vegetasi yang menempati Kawasan
taman ini dipenuhi oleh formasi Cikidang yang merupakan hasil dari Aktivitas
Vulkanik Muda, Lava Basalt, Tufa, Vulkanik Konglomerat Dan Breksi Vulkanik

23
dengan kemiringan antara 70–150 dengan arah utara-selatan. Berikut adalah
susunan litologinya
Tabel 2.1 Litology Daerah Pengukuran

Depth (m) Rocks


0,0 – 2,4 Organic Material, Brownish Black, Odorous
2,4 – 3,6 Organic Clay, Darkgrey, Odorous
3,6 – 10,8 Gravely Sand, Clayey, Dark Greybrown
10,8 – 13,0 Sand, Grey-Brown, Fine To Coarse
13,0 – 16,0 Gravely Sand, Clayey, Light- Brown Soft Sticky
16,0 – 20,0 Sand, Grey-Brown, Fine To Coarse
20,0 – 28,0 Gravely Sand, Clayey, Light-Brown
28,0 – 30,2 Gravely Sand, Clayey, Light-Brown
30,2 – 31,0 Organic Clay, Black
31,0 – 35,0 Tuffaceous Clay, Light Yellow-Brown, Stift

2.2.2 Vegetasi
Vegetasi yang terdapat di sekitar daerah pengukuran lapangan ditumbuhi
oleh banyak pohon-pohon besar, ilalang liar dan juga ditumbuhi oleh tanaman kebu
n milik penduduk sekitar.

BAB III
LANDASAN TEORI

3.1 Prosedur Pengukuran

23
3.1.1 Peletakan Alat
Pertama – tama yang dilakukan adalah menentukan posisi yang tepat untuk
melakukan pengukuran , urutan pengaturan serta cara pemakaian alat :
1. Pasanglah statif dengan dasar atas tetap diatas piket dan atur sedatar
mungkin.
2. Keraskan sekrup-sekrup kaki pesawat.
3. Letakan alat T.O diatasnya lalu sekrup pengencang alat.
4. Tancapkan alat T.O diatasnya lalu keraskan sekrup pengencang alat.
5. Pasang unting-unting pada sekrup pengencang alat.
6. Bila ujung unting-unting pada sekrup belum tepat diatas paku, aturlah sampai
unting-unting tepat diatas paku.
7. Gelembung nivo supaya berada ditengah-tenagah.
8. Setekah itu alat ukur T.O siap untuk melakukan pengamatan / pengukuran.
9. Teropong diarahkan ketitik yang di bidik dengan terlebih dahulu sekrup-
sekrup pengencang di buka.
10. Benang diagframa diatur supaya benang yang dibidik tampak jelas begitu
juga lensa untuk pembacaan sudut horizontal dan vertikal.
11. Setelah itu maka pengukuran dapat dimulai.

3.1.2 Pengukuran
Setelah semua prosedur dilaksanakan, baru pengukuran bisa dilakukan.
Pertama-tama, tentukan letak rambu ukur pada tempat yang agak terbuka agar
rambu ukur tidak terhalang dengan sesuatu. Kemudian teropong menuju rambu ukur
tadi, letakan rambu ukur tidak terhalang dengan sesuatu. Kemudian teropong
menuju rambu ukur tadi, letakan benang tengah tepat pada garis tengah rambu ukur.
Sebelumnya, untuk pengukuran detail, tinggi alat yang digunakan harus terlebih
dahulu diukur karena hal ini perlu untuk menentukan letak benang tengah berada
pada ukuran berapa, sesuai dengan tinggi alat . akan tetapi jika hanya untuk
mengukur sudut horizontalnya saja tidak perlu diukur tinggi alat , tetapi letakan garis
tengah vertikal tepat ditengah – tengah rambu ukur.

23
3.1.3 Cara Membaca Bulatan Nonius Mendatar.
Dalam hal ini pembacaan bulatan nonius mendatar dengan mempergunakan
bayangan pembagian nonius yang terlihat pada bagian tiang alat tersebut. Bulatan
nonius mendatar nampak pada ruang nonius tersebut tidak terdapat garis indeks
nonius. Akan tetapi karena pembagian-pembagian nonius dimetral letaknya dalam
bayangan, maka garis-garis tersebut bertemu satu sama lain, kemudian akan
bersambung dan membentuk satu garis dan akan kelihat tegak.Cara pembacaannya
1. Cari angka yang berselisih 180 o, antara angka yang terbalik dengan yang tidak
terbalik.
2. Angka yang di baca adalah angka yang normal (tidak terbalik) dari kiri menuju
kanan.
3. Nilai satu stip adalah satu derajat

3.1.4 Cara Membaca Bulatan Nonius Vertikal


Tipa kali membaca lingkaran tegak, label lingkaran tegak harus disetel
dengan sekrup no.7, pembacaan dilakukan dengan sekrup no 11, lingkaran ini
dibagi-bagi dalam bagian sebesar 20 menit.
Dua titik lingkaran yang diameteral yang terlukis pada sesuatu lukisan,
bagian bawah dengan lukisan tegak dan tidak terbalik tetapi lukisan – lukisan bagian
atas terbalik. Jika bilangan dari kiri ke kanan mendaki berarti tanda (+), jika menurun
berarti tanda minis (-). Pada pembacaan ini tidak terdapat teromol. Sehingga tidak
bisa membaca sampai ukuran satuan menit , hanya sampai perpuluhan menit yang
nantinya terus di buat menit. Cara pembacaanya:
1. Angka normal ( tidak terbalik)
2. Cari angka yang sama antara yang tidak terbalik dengan yang terbalik dan
hitung jarak.
3. Posisinya disebelah kiri atas.
4. Harga satu strip adalah 10 menit.
3.1.5 Pembacaan Sudut Horizontal / Mendatar
Setelah peneropongan dilakukan dan garis tengah berada tepat ditengah-
tengah rambu ukur, maka langsung dikunci dengan pengunci sudut horizontal.

23
Kemudian baca nonius horizontal dan nonius vertikalnya. Cara pembacaan sudut
horizontal / vertikal adalah sebagai berikut :
1. Kunci magnet dibuka, dan biarkan piring slaka pembacaan diam / tidak bergerak
lagi.
2. Benang silang tegak bidikan ditengah-tengah rambu ukur atau pada paku yang
ada di patok.
3. Setelah itu baca besaranya sudut horizontal.

3.1.6 Pembacaan Sudut Miring


Adapun cara pembacaan sudut miring dalam suatu pengukuran adalah
sebagai alat ukur.
1. Benang saling datar paskan / stel kedudukannya pada rambu ukur setinggi alat
ukur.
2. Baca besarnya sudut miring pada lingkaran tegak.

3.1.7 Pembacaan Rambu Ukur


Dalam suatu pengukuran pembacaan rambu ukur adalah salah satu input
pertama yang didapatkan, adapun cara-caranya sebagai berikut :
1. Jarak optis didapat dengan cara (pembacaan benang atas-pembacaan benang
bawah)
2. Untuk menghindari kesalahan pembacaan, cek (pembacaan benang atas +
pembacaan benang bawah) = 2 x tinggi benang tengah.

3.2 Pengolahan Data


Sebelum memulai pengukuran, disini perlu penjelasan tentang apa yang
dimaksud dengan jarak miring, jarak datar dan beda tinggi. Perhitungan jarak datar,
beda tinggi dan jarak miring sangat dipengaruhi dengan pengambilan data dari sudut
horizontal dan sudut vertikal
Perhitungan jarak adalah merupakan suatu fungsi dari perkalian sudut
vertikal yang dihasilkan dari suatu pengamatan. Jadi, karena mengetahui ketelitian
dari sudut vertikal dirasakan sangat sulit dan dalam perhitungan ini halnya dapat

23
dihitung ketelitian atau koreksi dari sudut horizontal, maka dalam pembacaan sudut
vertikal harus teliti.

3.2.4 Jarak Miring


Jarak miring merupakan selisih antara benang bawah dengan benang atas
dikali seratus dan kali sinus sudut vertikal.

Jarak Miring = (BB-BA) x 100 sin 

BB = Benang Bawah
BA = Benang Atas
 = Pembacaan Sudut zenit

3.2.5 Jarak Datar


Jarak datar merupakan jarak garis mendatar antara alat ukur dengan rambu
ukur, dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

Jarak Datar = Jarak Miring x Sin 

3.2.6 Beda Tinggi


Yang dimaksud dengan beda tinggi disini adalah perbedaan tinggi antara
permukaan dengan titik referensi yang diambil sebagai patokan, dapat ditentukan
dengan rumus sebagai berikut :

Beda Tinggi = Jarak Miring x Cos 

3.2.4 Pengisian Tabel


Tabel pengamatan adalah merupakan suatu tabel yang memperuntukkan
untuk observasi langsung pada pengambilan data. Untuk lebih mempermudah

23
dalam pembacaannya, perlu diperhatikan cara penempatantan pengisian tabel
tersebut.

3.3 Peralatan Pengukuran


Pengukuran-pengukuran dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan
bayangan keadaan lapangan, Dengan menentukan titik-titik diatas permukaan bumi
terhadap satu sama lain. Untuk mendapatkan hubungan antara titik-titik tersebut
baik hubungan yang mendatar maupun hubungan yang vertikal, diperlukan sudut
-sudut yang harus diukur. Untuk hubungan mendatar diperlukan sudut yang vertikal
dan sudut vertikal diukur pada skala lingkaran yang tegak lurus.

3.3.1 Theodolit
Theodolit (To) adalah Theodolit-Theodolit boussale yang dibuat oleh Wild.
Pada alat tersebut terdapat jarum magnet yang terbuat dari pelekat baja yang
berbentuk empat persegi panjang dengan lebar 2 cm, melekat pada sisi pesawat.
Dengan menjepit jarum tersebut pinggir sisi bousale sehingga tidak dapat bergerak
dan alat dapat berfungsi sebagai theodolit.
Alat ukur theodolit ini digunakan untuk menentukan titik-titik ketinggian yang
akan menentukan letak garis kontur. Alat ini sangat fleksibel dibandingkan dengan
5
alat-alat ukur lain. 8Pada alat ukur ini morfologi daerah tidak terlalu menjadi kendala,
disebabkan pada alat ini ada perhitungan beda tinggi dengan data yang diambil
langsung pada saat
10 pengukuran.
11
12
7 9

15
13

14 6
2

16
1

23

Gambar Theodolit
Gambar 3.1

Keterangan Gambar :
1. Skrup penyetel
2. Waterpas kontak
1. Skrup pengencang
2. Skrup penggerak halus
3. Skrup pengencang teropong
4. Skrup penyetel halus
5. Skrup penyetel lingkaran tengah
6. Waterpas tabung
7. Teropong okuler
8. Teropong diafragma
9. Okuler pembaca nonius lingkaran tegak
10. Okuler pembaca nonius lingkaran datar
11. Skrup pengatur sinar
12. Kaca penerang
13. Ronsel pengukur nonius pembacaan menit

23
14. Magnit

3.3.1.1 Alat-alat dan Fungsinya


Theodolit terdiri dari beberapa bagian (gambar Theodolit) yaitu:
1. Skrup penyetel nemo datar, nemo bagian tengah (penyeimbang)
2. Waterpas fungsinya untuk mengetahui bahwa Theodolit dalam keadaan
datar (seimbang)
3. Penyetel Teropong vertikal fungsinya menyetel teropong dalam keadaan
vertikal
4. Pengunci Theodolit fungsinya sebagai pengunci gerakan memutar Theodolit.
5. Penyetel Nominus vertikal fungisnya menyetel nominus agar sapat
disesuaikan
6. Penyetel Teropong horizontal fungsinya menyetel teropong dalam keadaan
horizontal
7. Skrup penyetel nemo atas, nemo bagian atas (penyeimbang)
8. Nemo atas, fungsinya untuk menyeimbankan Theodolit dalam keadaan
miring
9. Penyetel lensa teropong, fungsinya untuk penyetel lensa agar dapat melihat
benda dengan jelas
10. Teropong, fungsinya untuk melihat benda
11. Nominus vertikal, fungsinya untuk pembacaan nominus vertikal
12. Nominus Horizontal, fungsinya untuk pembacaan data nominus horizontal
13. Tempat msuknya cahaya dalam pembacaan nominus
14. Nemo tengah
15. Ban fungsinya untuk membantu pembacaan nominus horizontal dan sebagai
penyetel nominus horixontal
16. Penyeimbang magnet bumi.

3.3.1.2 Cara Pembacaan Theodolit

23
o Cara pembacaan pembacaan Nominus mendatar dan vertikal, seperti :
1. Cari posisi untuk penempatan To
2. Letakkan alat didaerah yang datar
3. Cari posisi rambu ukur untuk pengukuran
4. Pasang statip
5. Pasang To
6. Pasang unting-unting diatas kaki statip
o Cara pembacaan Alat, seperti :
1. Setelah alat dipasang lakukan penyetelan tethadap nivo atur supaya
ditengah
2. Lakukan pembukaan magnet dan pasang kembali
3. Lakukan pengencangan alat
4. Bidik rambu ukur melalui teropong
5. Setelah itu lakukan pengencangan teropong
6. Baca sudut horizontal / vertical
-
Cari angka yang berselisih 1800
-
Pembacaan dilakukan dari kiri kekanan atau dari angka yang normal
ke angka yang terbalik
-
Lakukan pembacaan sudut dalam 0 (derajat)
o Cara pembacaan sudut vertical, seperti :
1. Cari angka yang sama sejajar antara yang normal dan tidak
2. Lakukan pembacaan sudut
3. Selisih 1 garis bernilai 10 menit

3.3.2 Statif (kaki segi tiga)


Statif ini digunakan sebagai penumpu dari alat To pada saat pengukuran
dilakukan. Statif ini biasanya terbuat dari kayu atau alumunium yang dapat disetel
sesuai dengan ketinggian yang diinginkan. Bagian bawah (pada kaki), terdapat
daerah yang agak lancip, dimaksudkan untuk dapat menancapkan alat supaya
kokoh dan tidak bergerak, hal ini sangat penting karena apabila statif bergerak
sedikit saja , maka sudut yang dihasilkan akan berubah.

23
Penempatan statif ditempatkan di daerah yang agak datar, supaya lebih
mempermudah dalam menset nivo horizontal. Atau jika memegang daerahnya
berbukit (tidak datar), usahakan ketiga kaki statif ini membuat keadaan sedemikian
rupa sehingga theodolit dirasakan datar, dan nivo horizontal diset supaya berada di
tengah-tengah, dengan demikian walaupun titik pengamatan terletak pada daerah
yang tidak rata, tetapi pengukuran tetap dapat dilanjutkan.

Gambar 3.2
Statif

Keterangan Gambar :
1. Dudukan untuk meletakan theodolit
2. Untuk menggerakkan kaki atau tongkat
3 Untuk menggantungkan unting-unting
4 Untuk mengatur ketinggian statif
3.3.3 Rambu ukur

23
Rambu ukur ini merupakan suatu batang yang di dalamnya terdapat satuan
ukuran, biasanya dalan satuan centimeter. Rambu ukur sangat diperlukan dalam
pengukuran, sebab theodolit nantinya akan menembak tepat ditengah-tengah rambu
ukur ini.
Bahan yang digunakan untuk rambu ukur ini sangat bervariasi, tetapi yang
paling umum digunakan adalah kayu dan alumunium, penulisan angka-angkanya
menggunakan warna merah yang berbeda-beda, hal ini dimaksudkan agar mudah
dalam pembacaannya.

Gambar 3.3
Peneropongan Rambu Ukur

3.3.4 Unting-unting
Unting-unting digunakan untuk menunjukan titik-titik pengamatan secara
akurat dengan menggunakan alat bantunya seperti patok. Unting-unting ditempatkan
tepat dibawah theodolit.
Dari ujung unting-unting tersebut tepat menunjukkan patok, hal ini sangat
penting, karena jika unting –unting tersebut tidak dapat mengenai patok, maka akan

23
menyebabkan sudut horizontal yang dihasilkan tidak benar, dan memiliki sudut yang
sangat besar, dan ini baik dalam suatu pengukuran.

Gambar 3.4
Unting-unting

3.3.5 Tujuan pengukuran polygon


Menetapkan koordinat dari titik-titik sudut yang diukur yaitu :
o Panjang sisi – sisi polygon
o Besar sudut-sudut titik-titik polygon

3.3.6 Kegunaan pengukuran polygon :


o Untuk memebuat kerangka dasar peta dari pada pemetaan
o Pengukuran titik-titik tetap pada daerah tertentu
o Pengukuran-pengukuran rencana lubang bukaan pada daerah pertambangan,
jalan raya,jalan kereta api dll.

3.3.7 Bentuk pengukuran polygon :


Bentuk pengukuan polygon ada 2 macam :
1. bentuk poligom tertutup
2. bentuk polygon terbuka
1. pada pengukuran polygon tertutup titik awal akan menjadi titik akhir.

23
Cara pengukuran :
o pesawat didirikan di tititk P1,P2,P3,P4,P5 dan seterusnya disebut
sebagai titik polygon
o diukur sudut-sudutnya seperti α1,α2,α3 dan seterusnya digunakan
sebagai sudut-sudut polygon.
o Diukur jarak-jaraknya P1-P2,P2-P3,P3-P4 dan seterusnya dan disebut
sebagai sisi-sisi polygon.
Ada dua macam polygon tertutup yaitu :
a. Polygon tertutup tak terikat
b. Polygon tertutup terikat

P3

a3
P4
P2 a4

a2

a5
P1 a1 P5

a6
P6

a8
P8
a7

P7

Gambar 3.5
Polygon tertutup

A. Polygon tertutup tak terikat


Pada polygon tertutup tak terikat setiap titik di peta tidak mencerminkan
posisi titik yang sebenarnya di bumi.
Pengecekan sudut dapat dikontrol, yaitu :∑α =(n – 2) x 180°
Pengecekan beda tinggi bisa dikontrol, yaitu :∑∆ t = (t akhir – t awal) = 0

23
B. Polygon terutup terikat
Pada polygon tertutup terikat, setiap titik dapat dihitung koordinatnya dan
letak titik mencerminkan posisi titik di bumi.
Pengecekan sudut bisa dikontrol yaitu :∑α =(n – 2) x 180°
Pengecekan koordinat bisa dikontrol yaitu : ∑∆X = (X akhir – Xawal) = 0
∑∆Y = (Y akhir – Y awal) = 0
Pengecekan beda tinggi bisa dikontrol yaitu : ∑∆t = (t akhir – t awal) = 0

2. Pengukuran poligon terbuka


Pada polygon terbuka titik awal tidak sama dengan titik akhir.
Ada 3 macam polygon terbuka yaitu :
a. Polygon terbuka tak terikat/bebas :
B1 P5
A

P1

BB B4

B
P2
Gambar 3.6
Pengukuran polygon terbuka tak terikat

Pada polygon terbuka tak terikat setiap titik di peta tidak mencerminkan posisi
titik yang sebenarnya di bumi. Oleh karena itu tidak memerlukan perhitungan-
perhitungan dalam pemetaannya, tapi cukup diukur jarak-jaraknya dan besar
sudut-sudutnya.

b. Pengukuran polygon terbuka terikat


1. Salah satu titiknya harus diketahui koordinatnya
2. Salah satu sisinya harus diketahui azimuthnya.

23
Untuk memperoleh azimuth sisi polygon yangakan diukur di lapangan diperlukan
dua titik tetap yang telah diketahui koordinatnya atau bisa dengan bantuan
pengukuran matahari.
B1 C
A

P1

BB B2

B
P2
Gambar 3.7
Pengukuran polygon terbuka terikat

Untuk memperoleh azimuth BA (αBA) adalah : tg αBA = (XA – XB) : (YA – YB)
Pada polygon terbuka terikat dapat diketahui :
o kesalahan koordinat
o kesalahan beda tinggi
Pengecekan koordinat yaitu : ∑∆X = (XB – XA)
Pengecekan beda tinggi yaitu : ∑ t = (tB – tA)

c. Polygon terbuka terikat sempurna


Tujuan dari polygon terbuka terikat sempurna ini agar hasil yang dicapai dalam
pengukuran ini mencapai ketelitian yang cukup tinggi.
Syarat dari pengukuran ini ialah :
1. Ada azimuth awal dan azimuth akhir
2. Minimal ada 4 buah titik tetap
3. Kesalahan sudut bissa dikontrol
4. Kesalahan koordinat bisa dikontrol
5. Kesalahan beda tinggi bisa dikontrol
Untuk mengetahui/mengontrol kesalahan sudut dapat dilakukan sebagai berikut :
Sudut : ∑β = αakhir – αawal + ( n – 1) x 180°

23
Beda tinggi = (∑t +) + (∑t -) = takhir – tawal
Beda absis = (∑d.x sinα +) + (∑d x sinα -) = Xakhir – Xawal
Beda ordinat = (∑d x cosα +) + (∑d x cosα -) = Yakhir - Yawal
Keterangan : t = beda tinggi antar titik
takhir, tawal = ketingian dari permukaan laut
α = azimuth
β = sudut datar, n = jumlah titik ukur
B1
A

P1
D

BB B2

B
P2

Bc

C
Gambar 3.8
Polygon terbuka terikat sempurna

3.3.8 Pengukuran Situasi


Dalam teknik pertambangan untuk merencanakan daerah yang akan di
tambang, diperlukan pemetaan topografi yang lebih detail dengan skala yang besar,
misal skala 1 : 500, 1:1000, 1: 2500 dan seterusnya, tergantung kepada tingkat
ketelitian yang dikehendaki. Dan untuk selanjutnya rencana diatas peta itu dapat
diletakan kembali/stake out di lapangan sesuai dengan rencana.
Pekerjaan pengukuran ini dilakukan dengan mempergunakan alat ukur T.O
dengan mempergunakan jarum magnet. Dalam hal ini perlu diperhatikan keadaan
lapangan, apakah daerah itu mengandung besi atau tidak. Apabila mengandung besi
maka cara pengukurannya harus dilakukan dengan cara mengukur sudut. Pada

23
pekerjaan pengukuran situasi ini, awal pengukuran harus diikatkan pada salah satu
titik polygon dan demikian juga pada akhir pengukuran.
Perlu di ingat bahwa pengukuran polygon dilakukan dengan cara mengukur
sudut, dengan alat ukur theodolit (tanpa magnet), dengan ketelitian sudutnya cukup
halus dan ketinggiannya biasanya mempergunakan alat ukur waterpas. Karena
pengukuran situasi dengan mempergunakan magnet maka alat ukur tidak perlu
berdiri pada setiap titik ukur tapi dapat meloncat satu titik ukur/spring station.
P1

P2
B1
b B2

c
P0
B0 b

d S2

B3 P3

B4

P4

Gambar 3.8

23
Pengukuran polygon dan situasi

Data lapangan yang perlu dicatat :


1. jarak optis (do)
2. sudut datar
3. sudut miring
4. sket lapangan
5. tanggal pengukuran
Titik Po dan P1 telah diketahui harga koordinatnya serta harga ketinggiannya
dari permukaan laut. Untuk mencari azimuth dari titik Po ke titik P1 dapat dilakukan
sebagai berikut : TG αPO –P1 = ( X P1 – Xpo) : (YP1 – Ypo)
sekarang azimuth dari Po – P1 diketahui perhatikan jalannya ukuran polygon.
Kalau perhitungan azimuth mengambil sudut dalam, maka sudut dalam itu ada di
sebelah kanan dari jalur ukuran.
Untuk mencari azimuth dari P1 –P2 (αP1 – P2) = α P1 – Po –β1
Untuk azimuth sisi-sisi lain-lainnya dapat dilakukan seperti itu.
Mencari jarak datar: do x cos ² αn = do x sin² αz
Mencari beda tinggi: t = ½ x do x sin2αn =do x sinα n x cosα n = do x sinα z x cosα z
Mencari koordinat : XP2 = XP1 + dt x sinα P1-P2
YP2 = YP1 + dt x cosα P1-P2

Keterangan :
β = sudut horizontal
α n = sudut miring nadir ; α z = sudut miring zenith
α n = - 7° = αz = 97°

23
BAB IV
DATA LAPANGAN

4.1 Data Pengukuran


Hasil dari pengukuran yang dilakukan di lapangan khususnya daerah Ciburial
kecamatan Cimenyan kotamadya Bandung, merupakan data yang berupa data
mentah yang nantinya akan diolah kembali untuk mendapatkan suatu luas dari
daerah yang diukur. Disini data yang ingin diperoleh meliputi :
a. Benang tengah
b. Benang atas
c. Benang bawah
d. Azimuth atau sudut
e. Sudut miring
Dari pengukuran ini harus dilakukan dengan seteliti mungkin, kami
melakukan pengukuran dengan titik polygon sebanyak 18 titik polygon, dimana dari
masing-masing titik polygon kami juga mengukur detail masing-masing titik yang
jumlah dari detail bermacam-macam, paling sedikit 6 detail. Dimana fungsi dari detail
ini sendiri adalah untuk menggambarkan keseluruhan dari wilayah yang kita ukur.
Semakin banyak detail, maka semakin akurat daerah yang kita ukur. Data lapangan
ini tercantum pada tabel 4.1.

4.2 Sketsa
Sketsa yang diambil yaitu tempat-tempat yang merupakan tempat acuan,
seperti titik polygon yang diambil beserta detailnya. Sketsa ini dapat mempermudah

23
pembuatan peta lintasan beserta topografinya, karena didalamnya juga memuat
letak gedung dan vegetasi-vegetasi serta morfologi yang terdapat dalam peta
lintasan tersebut. Selain itu pula sketsa ini memuat lintasan jalan yang tidak terlihat
misalnya jalan setapak dan jalan raya. Sketsa terlampir.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Dari data hasil pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat
pengukur Theodolit yaitu pengukuran titik beda ketinggian, dan dari perhitungan-
perhitungan yang menggunakan perhitungan jarak, perhitungan sudut ukuran,
perhitungan koordinat titik polygon, perhitungan koreksi beda tinggi dan perhitungan
dengan menggunakan beda tinggi terkoreksi didapat bahwa, tempat yang berlokasi
di Kampus II Universitas Islam Bandung, yang terletak dikawasan Taman Hutan
Raya Ir. H. Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kotamadya Bandung,
Propinsi Jawa Barat, mempunyai luas daerah adalah 3,0725 x 10-3 Ha.
Merupakan daerah pegunungan dan diperkirakan ketinggian lokasi
pengukuran sekitar 560 Mdpl sampai 882,5 Mdpl dan 980 Mdpl, serta Keadaan
Vegetasi yang menempati Kawasan taman ini dipenuhi oleh formasi Cikidang yang
merupakan hasil dari Aktivitas Vulkanik Muda, Lava Basalt, Tufa, Vulkanik
Konglomerat dan Breksi Vulkanik dengan kemiringan antara 70–150 dengan arah
utara-selatan. Berikut adalah susunan litologinya :
Tabel 5.1 Litology Daerah Pengukuran

Depth (m) Rocks


0,0 – 2,4 Organic Material, Brownish Black, Odorous
2,4 – 3,6 Organic Clay, Darkgrey, Odorous
3,6 – 10,8 Gravely Sand, Clayey, Dark Greybrown
10,8 – 13,0 Sand, Grey-Brown, Fine To Coarse
13,0 – 16,0 Gravely Sand, Clayey, Light- Brown Soft Sticky
16,0 – 20,0 Sand, Grey-Brown, Fine To Coarse

23
20,0 – 28,0 Gravely Sand, Clayey, Light-Brown
28,0 – 30,2 Gravely Sand, Clayey, Light-Brown
30,2 – 31,0 Organic Clay, Black
31,0 – 35,0 Tuffaceous Clay, Light Yellow-Brown, Stift
6.2 Saran
Dengan menimbang luas daerah beserta tempat yang berlokasi di daerah
pegunungan yang mempunyai ketinggian sekitar 560 Mdpl sampai 882,5 Mdpl dan
980 Mdpl diatas permukaan air laut, dan mempunyai litologi yang memungkinkan
dilakukan cocok tanam, lahan pertanian dewasa ini sangat dibutuhkan menimbang
Negara Indonesia sangat membutuhkan pangan dan sandang.

23
DAFTAR PUSTAKA

Staf Instruktur Laboratorium Eksplorasi, Penuntun Praktikum Perpetaan,


Laboratorium Eskplorasi Program Studi Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung
Sutardi, Idi 2002. Ilmu Ukur Tanah dan Kartografi, Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Geologi, BPPESDM, Bandung.

23