Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENDAHULUAN

KETUBAN PECAH PREMATURE

1. Definisi
Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan
(Prawirohardjo, 2010 : 677)

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan
setelah ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan.
(Manuaba, 2010 : 28)

Ketuban pecah dini/spontaneous/early/premature rupture of the membrane adalah


pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primi.
(Sofian, 2011 : 177)
2. Etiologi
Penyebab dari KPD/KPP tidak atau masih belum diketahui secara jelas sehingga usaha
preventif tidak dapat dilakukan kecuali dalam usaha menekan infeksi. Faktor yang
berhubungan dengan meningkatnya insidensi KPD adalah sebagai berikut :
a. Fisiologi selapit amnion/ketuban yang normal
b. Inkompetens serviks
c. Infeksi vagina/serviks
d. Kehamilan ganda
e. Polihidramnion
f. Trauma
g. Distensi uteri
h. Stress maternal
i. Stress fetal
j. Infeksi
k. Serviks yang pendek
l. Prosedur medis
(Fadlun, 2011 : 144)
3. Tanda dan Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air
ketuban adalah amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih
merembes atau menetes. Dengan ciri pucat dan bergaris warna darah (cairan ini tidak
akan berhenti atau kering karena terus di produksi sampai akhir kelahiran. Deman, bercak
vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-
tanda infeksi yang terjadi.
(Rukiyah, 2010 : 231)

4. Patofisiologis
- Adanya hipermortilitas Rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah.
Penyakit-penyakit seperti pelonefritis, sistisis, seruisitis, dan vaginitis terdapat
bersama-sama dengan hipermortilitas Rahim ini.
- Selaput ketuban terlalu tipis (kelainan ketuban)
- Infeksi (amnionitis atau koriomnionitis)
- Faktor-faktor lain yang merupakan predisposisi adalah multipara, malposisi,
disproporsi, serviks incompeten.
(Sofian, 2011 : 178)

5. Diagnosis
Tentukan pecahnya selaput ketuban dengan adanya cairam ketuban di vagina. Jika tidak
ada dapat dicoba dengan menggerakkan sedikit bagian bawah janin atau minta pasien
untuk mengejan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus merah
menjadi biru. Tentukan usia kehamilan. Bila perlu dengan pemeriksaan USG. Tentukan
ada tidaknya infeksi. Tanda-tanda infeksi adalah bila suhu >38oC serta air ketuban keruh
dan berbau. Leukosit darah >15.00/mm2 janin yang mengalami takikardi mungkin
mengalami infeksi intrauterine. Tentukan tanda-tanda persalinan dan skoring pelvik.
Tentukan adanya kontraksi yang teratur. Periksa dalam dilakukan bila akan dilakukan
penanganan aktif (terminasi kehamilan).
(Prawirohardjo, 2010 : 680)
6. Komplikasi
Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia kehamilan dapat
terjadi infeksi maternal ataupun neonatal. Persalinan premature, hipoksia karena
kompresi tali pusat, diformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan
normal. Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi
korioamnionitis pada bayi ketuban pecah dini. Pada ibu terjadi korioamnionitis pada bayi
dapat terjadi septicemia, pneumonia, opdatilis, secara umum insiden infeksi sekunder
pada ketuban pecah dini meningkan sebanding dengan lamanya periode laten.
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi
asfikia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat
oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban janin semakin gawat.
(Prawirohardjo, 2010 : 679)

7. Penatalaksanaan
A. Penatalaksanaan Umum :
a. Konfirmasi usia kehamilan atau kalau ada dengan USG
b. Lakukan pemeriksaan inspekulo (Dengan speculum DTT) untuk menilai
cairan yang keluar (jumlah, warna, dan bau) dan membedakannya dengan
urine.
c. Jika ibu mengeluh perdarahan pada akhir kehamilan (Setelah 22 mg), jangan
melakukan pemeriksaan secara digital
d. Tentukan ada tidaknya infeksi
e. Tentukan tanda-tanda inpartu
(Saiffudin, 2012 : MK-112)

B. Penatalaksaan
Konservatif
a. Riwayat di rumah sakit dengan tirah baring
b. Berikan antibiotic (Ampisilin 4x50 mg atau entromisin bila tidak tahan
dengan ampisilin dan metronidazole 2x500 mg selama 7 hari)
c. Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih
keluar atau sampai air ketuban keluar lagi
d. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi tes
busa negative beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi dan
kesejahteraan janin. Terminasi pada usia kehamilan 37 minggu
e. Jika usia kehamilan 32-37 minggu , sudah inpartu, tidak infeksi berikan
tokolitik, deksametason dan induksi sesudah 24 jam
f. Jika umur kehamilan 32-37 minggu dan infeksi berikan antibiotic dan
lakukan induksi
g. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterine
h. Pada kehamilan 32-34 minggu berikan steroid untuk pematangan paru
janin bila ada kemungkinan periksa kadar lesitin dan spingomelin tiap
minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari.
Deksametason IM mg tiap 6 jam sebanyak 4x

Aktif
a. Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal SC. Dapat
pula diberikan misoprostol 25mg-50mg intravaginal tiap 6 jam max 4 kali
b. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotic dosis tinggi dan persalinan
diakhiri
- Bila skor pelvik <5, lakukan pematangan serviks kemudian induksi
jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan SC
- Bila skor pelvik >5, induksi persalinan, partus pervaginam
(Prawirohardjo, 2010 : 680)
DAFTAR PUSTAKA

Amru, Sofian. 2011. Synopsis Obstetri. Jakarta : EGC

Fadlun, Ahmad Feryanto. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBPSP

Rukiyah, Ai Yeyeh dkk. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi). Jakarta : TIM

Saiffudin, Abdul Bari. 2013. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : YBPSP