Anda di halaman 1dari 141

POLTEKKES KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATANPADA PASIEN DENGAN


CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI RUANG
PENYAKIT DALAM PRIA IRNA NON–BEDAH
RSUP Dr.M.DJAMIL PADANG

KARYA TULIS ILMIAH

YANI WULANDARI
NIM: 143110193

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN PADANG


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017

Poltekkes Kemenkes Padang


POLTEKKES KEMENKES PADANG

ASUHAN KEPERAWATANPADA PASIEN DENGAN


CONGESTIVE HEART FAILURE (CHF) DI RUANG
PENYAKIT DALAM PRIA IRNA NON–BEDAH
RSUP Dr.M.DJAMIL PADANG

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya
Keperawatan

YANI WULANDARI
NIM: 143110193

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN PADANG


JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017

Poltekkes Kemenkes Padang


Poltekkes Kemenkes Padang
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmat-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan
judul “Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Congestive Heart Failure (CHF)
di Ruangan Interne Pria IRNA Non-Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun
2017“.

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah
satu syarat mencapai gelar Diploma III pada Program Studi D-III Keperawatan
Padang Poltekkes Kemenkes Padang. Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan
dan bimbingan dari berbagai pihak, dari masa perkuliahan, penyusunan proposal
dan sampai pada penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini sangatlah sulit bagi peneliti
untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu, peneliti
mengucapkan terimaksih kepada:

1. Ibu Ns. Hj. Defia Roza, S. Kep, M.Biomed selaku dosen pembimbing Idan
ibu Ns. Nova Yanti, M. Kep, Sp. Kep.MB selaku dosen pembimbing II yang
telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan peneliti
dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Bapak H. Sunardi, SKM, M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan
Kementrian Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang.
3. Bapak Direktur Dr.dr. H. Yusirman Yusuf, Sp. B, Sp. BA (K) MARS dan
Staf Rumah Sakit RSUP Dr. M. Djamil Padang yang telah banyak
membantu dalam usaha memperoleh data yang peneliti perlukan.
4. Ibu Hj. Murniati Muchtar, SKM, M.Biomed selaku Ketua Jurusan
Keperawatan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang.
5. Ibu Ns. Idrawati Bahar, S.Kep, M.Kep selaku Ketua Program Studi
Keperawatan Padang Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
Padang.
6. Bapak Drs. Maswardi M.Kes selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan dukungan dan pembelajaran selama peneliti berada di
Poltekkes Kemenkes RI Padang.

Poltekkes Kemenkes Padang


7. Bapak dan ibu dosen beserta staf Program Studi Keperawatan Padang
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Padang yang telah
memberikan bekal ilmu untuk bekal peneliti.
8. Kepada “Kedua Orang Tua” tersayang yang telah memberikan dorongan,
semangat, doa restu dan kasih sayang yang tiada terhingga. Tiada kata yang
dapat Ananda utarakan selain terima kasih dan semoga Allah SWT selalu
memberikan kesehatan, rahmat dan karunia-Nya kita semua.
9. Sahabat-sahabat yang telah banyak membantu peneliti dalam
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
10. Teman-temanku yang senasib dan seperjuangan Mahasiswa Politeknik
Kesehatan Padang Program Studi D-III Keperawatan Padang Tahun 2014.
Terima kasih atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan.

Akhir kata peneliti mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang
telah berjasa dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Allah SWT
membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti. Peneliti
menyadari Karya Tulis Ilmiah ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu,
peneliti mengharapkan tanggapan, kritikan, dan saran yang membangun dari
semua pihak untuk kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini. Semoga Karya Tulis
Ilmiah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu.

Padang, Juni 2017

Peneliti

Poltekkes Kemenkes Padang


Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINIL ............................................. …… v
PERNYATAAN PERSETUJUAN ................................................................ vi
ABSTRAK ................................................................................................... vii
DAFTAR ISI…………………………………………………………............ viii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... x
DAFTAR TABEL…………………………………………………………… xi
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………… xii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 5
C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Konsep Kasus CHF ...................................................................... 7
1. Pengertian .............................................................................. 7
2. Penyebab................................................................................ 7
3. Patofisiologi ........................................................................... 9
4. WOC...................................................................................... 13
5. Respon Tubuh Terhadap Perubahan Fisiologis ....................... 14
6. Dampak CHF………………………………………………… 16
7. Penatalaksanaan ..................................................................... 17
B. Konsep Asuhan Keperawatan CHF .............................................. 18
1. Pengkajian ............................................................................. 18
2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan .................................... 24
3. Perencanaan Keperawatan ............................................... …… 24

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................. 31


A. Desain Penelitian .......................................................................... 31
B. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................... 31
C. Subjek Penelitian .......................................................................... 31
D. Alat/Instrument Pengumpulan Data ............................................... 32
E. Cara Pengumpulan Data ................................................................ 35
F. Jenis-Jenis Data ............................................................................ 36
G. Rencana Analisis........................................................................... 36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………. 37


A. Deskripsi tempat……………………………………………………… 37
B. Desripsi kasus………………………………………………………… 37
C. Pembahasan…………………………………………………………… 49

Poltekkes Kemenkes Padang


BAB V PENUTUP…………………………………………………………… 62
A. Kesimpulan……………………………………………………………. 62
B. Saran………………………………………………………………….. 63

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….....

Poltekkes Kemenkes Padang


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 WOC ......................................................................................... 13

Poltekkes Kemenkes Padang


DAFTAR TABEL

1. Table 2.1 Diagnosa Keperawatan NANDA 2015, NIC-NOC 2016…… 24


2. Tabel 4.1 Pengkajian Keperawatan……………………………………. 38
3. Tabel 4.2 Diagnosa keperawatan………………………………………. 43
4. Tabel 4.3 Rencana keperawatan………… ........................................ .. 43
5. Tabel 4.4 Implementasi keperawatan……………… ......................... ... 45
6. Tabel 4.5 Evaluasi keperawatan……………….. ............................... .. 47

Poltekkes Kemenkes Padang


DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran 1 Jadwal Kegiatan Studi Kasus


2. Lampiran 2 Surat Izin Melakukan Studi Dokumentasi
3. Lampiran 3 Informed Consent
4. Lampiran 4 Format Dokumentasi Asuhan Keperawatan Responden I
5. Lampiran 5 Format Dokumentasi Asuhan Keperawatan Responden II
6. Lampiran 6 Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah
7. Lampiran 7 Absensi Penelitian di Ruangan Penyakit Dalam Pria
8. Lampiran 8 Surat Keterangan Selesai Penelitian

Poltekkes Kemenkes Padang


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit tidak menular merupakan salah satu faktor penyebab kematian dini
pada negara berpenghasilan rendah dan menengah. Setiap tahunnya lebih dari
36 juta orang meninggal karena penyakit tidak menular (PTM) atau 63 % dari
seluruh kematian. Salah satu PTM yang yang merupakan penyebab kematian
nomor satu setiap tahunnya adalah penyakit kardiovaskuler (Pusdatin
Kemenkes RI, 2014). Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan salah
satu penyakit degeneratife yang mempunyai angka prevalensi paling tinggi di
masyarakat dan berpengaruh terhadap angka kejadian morbiditas dan
mortalitas di berbagai negara terutama di negara industri, mengakibatkan
lebih kurang 30 % kematian di Amerika Serikat (Guyton & Hall, 2007).
Menurut WHO tahun 2015 penyakit jantung masih menempati urutan teratas
sebagai penyebab utama kematian di dunia, yang mana tercatat dari
56.400.000 kematian di dunia 26.5 % nya di sebabkan oleh penyakit jantung.

Salah satu gangguan fungsi jantung di sebabkan karena gagal jantung.


Congestive Heart Failure (CHF) adalah kondisi dimana fungsi jantung sebagai
pompa untuk mengantarkan darah yang kaya oksigen ke tubuh tidak cukup
untuk memenuhi keperluan – keperluan tubuh . Congestive Heart Failure
(CHF) terjadi akibat kelainan otot jantung, sehingga jantung tidak bisa
menjalankan fungsinya sebagai alat untuk memompa darah dengan baik.
( Reeves dkk, 2001 dalam Wijaya S.Andra, 2013).

Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebab dari CHF ini. diantaranya
faktor herediter/keturunan, jenis kelamin, usia, pola makan, kebiasaan
merokok, obesitas, diabetes mellitus, kurang melakukan aktifitas fisik, serta
riwayat hipertensi. Penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden
50% diantaranya memiliki faktor keturunan CHF dari keluarganya, terdapat
50 % responden yang berusia 40-59 tahun, terdapat 97,67 % atau hampir
seluruhnya responden yang memiliki pola makan yang tidak baik, terdapat

Poltekkes Kemenkes Padang


53,3 % responden yang memiliki kebiasaan merokok, terdapat 50 %
responden yang memiliki riwayat DM, terdapat 90 % responden yang tidak
berolahraga secara teratur atau memiliki aktivitas fisik yang kurang, serta
terdapat 66,7 % responden yang memiliki riwayat hipertensi (Nurhayati &
Nuraini, 2009).

Jika dilihat dari faktor jenis kelamin, laki –laki lebih beresiko terkena penyakit
CHF ini di bandingkan perempuan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Hamzah (2016) mengatakan bahwa terdapat 60 % atau 36
pasien CHF yang sedang menjalani rawatan sedangkan pasien perempuan
sebanyak 40 % atau 27 orang. Menurut Smeltzer & Bare (2013), angka
kejadian CHF pada laki-laki lebih tinggi daripada wanita karena adanya
hormon estrogen pada wanita dapat melindungi dari penyakit jantung, serta
kebiasaan laki-laki yang sering merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol
dan beraktivitas berat.

Keluhan yang sering di rasakan pada penderita CHF yaitu berupa sesak nafas,
batuk, mudah lelah saat beraktifitas ringan, kegelisahan atau kecemasan akibat
gangguan oksigenasi, edema pada ekstremitas bawah, anoreksia disertai mual,
sering berkemih di malam hari, serta mengalami kelemahan, bahkan sampai
mengalami penurunan kesadaran (Kasron, 2012).

Angka kejadian penyakit CHF terus mengalami peningkatan, baik di negara


maju maupun negara berkembang. Menurut American Heart Association (
AHA ) tahun 2012 dilaporkan bahwa ada sekitar 5,3 juta penduduk Amerika
Serikat yang menderita gagal jantung. Sementara itu di Indonesia Prevalensi
penyakit gagal jantung berdasarkan pernah didiagnosis dokter sebesar 0,13%
atau diperkirakan sekitar 229.696 orang (Riskesdas ,2013). Angka kejadian
gagal jantung ini juga bisa dilihat dari berbagai Rumah Sakit besar di
Indonesia. Sebagai gambaran, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta
pada tahun 2006 di ruang rawat jalan dan inap didapatkan 3,23 % kasus gagal
jantung dari total 11.711 pasien. Provinsi yang memiliki prevalensi kasus

Poltekkes Kemenkes Padang


tertinggi CHF adalah provinsi D.I Yogyakarta dengan persentase 0,25 %
sementara provinsi Sumatera Barat menempati posisi ketiga dengan angka
kejadian sebesar 0,13% atau terdapat sekitar 10.283 orang yang menderita
gagal jantung kongestive. Hal diatas menunjukkan gagal jantung congestive
merupakan salah satu penyebab angka kesakitan terbanyak. (Pusdatin
Kemenkes RI, 2014).

Data pencatatan dan pelaporan Rekam Medis dari RSUP Dr. M. Djamil
Padang, terdapat 590 pasien CHF yang di rawat di ruangan penyakit dalam
pada tahun 2014 dan 409 pasien pada tahun 2015. Sedangkan data yang
didapatkan di ruangan jika dilihat dari profil RSUP Dr. M.Djamil Padang
penyakit CHF termasuk 10 penyakit terbanyak rawat inap setelah
bronchopneumonia 19.59% di urutan pertama yaitu sebanyak 14.43% serta
CHF menempati posisi ketiga dari 10 penyakit terbanyak rawat jalan tahun
2014 atau sekitar 4.657 orang.

Berdasarkan survey awal peneliti pada tanggal 15 Maret 2017 di ruang


Penyakit Dalam Pria RSUP Dr. M.Djamil Padang, peneliti menemukan 3
orang pasien CHF yang sedang menjalani perawatan diantaranya Tn. Y
berumur 56 tahun dengan hari rawatan ke 9 dan ke dua kalinya pasien dirawat
dengan diagnosa yang sama. Pasien mengalami sesak nafas dengan frekuensi
nafas 25 x/i, nafas bertambah sesak saat beraktivitas, edema pada ekstremitas
atas, asites, batuk, tampak pucat serta mengalami penurunan nafsu makan.
Diagnosa keperawatan pada Tn. Y yaitunya resiko penurunan curah jantung,
kelebihan volume cairan, ketidakefektifan pola nafas, intoleransi aktivitas
serta ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Pasien yang
kedua Tn.D berumur 46 tahun dengan hari rawatan ke 5 dan ke dua kalinya
pasien dirawat dengan diagnosa yang sama. Pasien mengalami sesak nafas
dengan frekuensi nafas 31 x/i, nafas bertambah sesak saat beraktivitas, tubuh
terasa lemah dan tampak pucat serta akral teraba dingin. Diagnosa
keperawatan pada Tn.D yaitu resiko penurunan curah jantung,
ketidakefektifan pola nafas dan intoleransi aktivitas. Pasien yang ke tiga Tn. Z

Poltekkes Kemenkes Padang


berumur 52 tahun dengan hari rawatan ke 4 dan ke tiga kalinya pasien dirawat
dengan diagnosa yang sama. Pasien mengalami sesak nafas dengan frekuensi
nafas 27 x/i, nafas bertambah sesak saat beraktivitas, tubuh terasa lemah,
pucat, dan penurunan nafsu makan. Diagnosa keperawatan pada Tn.Z yaitu
resiko penurunan curah jantung, ketidakefektifan pola nafas dan intoleransi
aktivitas.

Dilihat dari banyaknya kasus CHF yang terus meningkat maka peran perawat
sangat dibutuhkan untuk penanggulangan penyakit CHF, agar tidak
menimbulkan komplikasi yang lebih berat lagi yang dapat memperburuk
keadaan penderita. CHF harus ditangani dengan segera karena CHF dapat
mengurangi aliran darah ke ginjal yang akhirnya dapat menyebabkan gagal
ginjal, serta CHF dapat meningkatkan resiko stroke dan kematian bila tidak
ditangani dengan cepat, karena aliran darah melalui jantung lebih lambat pada
CHF dari pada di jantung yang normal, maka semakin besar kemungkinan
akan mengembangkan pembekuan darah, maka untuk mengatasi masalah
tersebut penting di lakukan asuhan keperawatan yang tepat guna mencegah
kematian serta dampak – dampak yang mungkin terjadi (Bararah & Jauhar,
2013).

Peran perawat yang pertama kali yang bisa dilakukan pada pasien CHF
menurut Muttaqin, 2012 yaitu menganjurkan posisi tirah baring serta
pembatasan aktivitas dapat mengurangi beban kerja jantung sehingga dapat
membantu jantung untuk tidak bekerja dengan berat dan suplai oksigen dapat
dihantarkan keseluruh sel, termasuk dalam sel jantung itu sendiri. Sedangkan,
menurut Brunner & Suddarth, 2013 intervensi kolaborasi pada pasien CHF
yang dilakukan oleh perawat yaitu dengan pemberian diuretik, oksigenasi,
vasodilator dan beta adrenergic antagonis (beta bloker). Diuretik merupakan
pilihan pertama untuk menurunkan kerja otot jantung. Terapi ini diberikan
untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal.

Poltekkes Kemenkes Padang


Proses keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan CHF sama seperti
asuhan keperawatan lainnya yaitu mulai dengan melakukan pengkajian,
merumuskan diagnosa, menyusun perencanaan, mengimplementasikan
rencana, serta mengevaluasi dan mendokumentasikan hasil asuhan
keperawatan. Pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan CHF adalah
dengan melakukan anamnesa yang meliputi keluhan utama pasien. Pasien
yang datang ke RS memiliki keluhan utama yang bervariasi ada yang datang
ke rumah sakit dengan keluhan sesak nafas, batuk, mudah lelah saat
beraktifitas ringan, kegelisahan atau kecemasan akibat gangguan oksigenasi,
edema pada ekstremitas bawah, anoreksia disertai mual, sering berkemih di
malam hari, serta mengalami kelemahan, bahkan sampai mengalami
penurunan kesadaran ( Wijaya & Yessi, 2014)

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti melakukan penelitian


“Asuhan Keperawatan pada Pasien CHF di Ruang Penyakit Dalam Pria IRNA
Non Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017”.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diangkat oleh peneliti adalah “Bagaimana Asuhan
Keperawatan pada Pasien CHF di Ruang Penyakit Dalam Pria IRNA Non
Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mampu mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien CHF di Ruang
Penyakit Dalam Pria IRNA Non Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang
tahun 2017.

2. Tujuan Khusus
Dari tujuan umum diatas didapatkan tujuan khususnya yaitu sebagai
berikut:

Poltekkes Kemenkes Padang


a. Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian pada pasien CHF di
Ruang Penyakit Dalam IRNA Non Bedah RSUP Dr. M. Djamil
Padang tahun 2017.
b. Mampu mendeskripsikan rumusan diagnosa keperawatan pada
pasien CHF di Ruang Penyakit Dalam IRNA Non Bedah RSUP Dr.
M. Djamil Padang tahun 2017.
c. Mampu mendeskripsikan pencanaan asuhan keperawatan pada
pasien CHF di Ruang Penyakit Dalam IRNA Non Bedah RSUP Dr.
M. Djamil Padang tahun 2017.
d. Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada pasien dengan
CHF di Ruang Penyakit Dalam IRNA Non Bedah RSUP Dr. M.
Djamil Padang tahun 2017.
e. Mampu mendeskripsikan evaluasi pada pasien CHF di Ruang
Penyakit Dalam IRNA Non Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang
tahun 2017.

D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti

Dapat menambah wawasan dan pengalaman nyata dalam memberikan


asuhan keperawatan pada pasien dengan CHF.

b. Bagi Institusi Poltekkes Kemenkes Padang


Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan oleh
mahasiswa prodi D III Keperawatan Padang untuk peneliti selanjutnya.

c. Bagi RSUP Dr. M. Djamil Padang


Diharapkan dapat memberikan sumbangan pikiran dan masukan bagi
direktur RSUP Dr. M. Djamil Padang beserta petugas pelayanan
keperawatan dalam meningkatkan kualitas penerapan asuhan
keperawatan pada pasien CHF.

Poltekkes Kemenkes Padang


BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

A. Konsep Kasus CHF


1. Pengertian
Congestive Heart Failure (CHF) adalah gangguan multisistem yang
terjadi apabila jantung tidak lagi mampu menyemprotkan darah yang
mengalir ke dalamnya melalui sistem vena. (Robbins, 2007). Menurut J.
Charles Reeves (2001) dalam Wijaya & Yessi (2013), CHF adalah
kondisi dimana fungsi jantung sebagai pemompa untuk mengantarkan
darah yang kaya oksigen ke tubuh tidak cukup untuk memenuhi
keperluan-keperluan tubuh.

Menurut Smeltzert & Bare (2013) CHF adalah ketidakmampuan jantung


untuk memompa darah dalam jumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan
oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan oleh jaringan. CHF merupakan
suatu keadaan patologis di mana kelainan fungsi jantung menyebabkan
kegagalan jantung untuk memompa darah untuk memenuhi kebutuhan
jaringan, atau hanya dapat memenuhi kebutuhan jaringan dengan
meningkatkan tekanan pengisian (Muttaqin,2012).

2. Penyebab
Pada CHF, jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah cukup
untuk menjaga lancarnya sirkulasi. Akibatnya terjadi penumpukan darah
dan tekanan ekstra dapat menyebabkan akumulasi cairan ke dalam paru-
paru. Gagal jantung terutama berkaitan dengan masalah-masalah
pemompaan otot jantung di bilik jantung, yang mungkin disebabkan oleh
penyakit-penyakit seperti infraktus otot jantung (serangan jantung),
endocarditis (infeksi pada jantung), hipertensi (tekanan darah tinggi),
atau valvular insufficiency.Jika penyakit mempengaruhi jantung sebelah
kiri, darah akan kembali ke paru-paru.

Poltekkes Kemenkes Padang


Jika penyakit mempengaruhi jantung sebelah kanan, sirkulasi sistemik
dapat kelebihan beban. Ketika gagal jantung menjadi signifikan, sistem
sirkulasi keseluruhan dapat terpengaruh.

Menurut Kasron (2012), ada beberapa penyebab dari gagal jantung


diantaranya :
a. Kelainan Otot Jantung
Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung,
disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang
mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup
ateriosklerosis koroner, hipertensi arterial, dan penyakit
degeneratif atau infalamasi.
b. Aterosklerosis Koroner
Aterosklerosis Koroner mengakibatkan disfungsi otot jantung
karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi
hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark
miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului
terjadinya gagal jantung. Peradangan dan penyakit otot jantung
degenerative, berhubungan dengan gagal jantug karena kondisi
yang secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan
kontraktilitas menurun.
c. Hipertensi Sistemik atau Pulmonal
Meningkatnya beban kerja jantung dan pada akhirnya
mengakibatkan hipertrophi serabut otot jantung. Efek tersebut
(hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme
kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung.
Tetapi untuk alasan yang tidak jelas, hipertrofi otot jantung tadi
tidak dapat berfungsi secara normal, dan akhirnya akan terjadi
CHF.

Poltekkes Kemenkes Padang


d. Peradangan dan Penyakit Miokardium Degeneratif
Sangat berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini
secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan
kontraktilitas menurun.
e. Penyakit Jantung Lain.
Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang
sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung.
Mekanisme yang biasanya terlibat mencakup gangguan aliran
darah yang masuk jantung (stenosis katup semiluner),
ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (tamponade,
pericardium, perikarditif konstriktif, atau stenosis katup AV),
peningkatan mendadak afterload akibat meningkatnya tekanan
darah sistemik (hipertensi‖malignan‖) dapat menyebabkan CHF
meskupun tidak ada hipertrofi miokardial.
f. Faktor Sistemik
Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan
beratnya CHF meningkatnya laju metabolisme, (demam,
tirotoksikosis), hipoksia dan anemia memerlukan peningkatan
curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik.
Hipoksia atau anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke
jantung. Asidosis (respiratorik atau metabolik) dan abnormalitas
elektrolit dapat menurunkan kontraktilitas jantung. Disritmia
jantung juga dapat terjadi dengan sendirinya atau secara sekunder
akibat CHF menurunkan efisiensi keseluruhan fungsi jantung.

3. Patofisiologi
Menurut Smeltzer & Bare (2013), patofisiologi CHF yaitu:
Mekanisme yang mendasari Heart Failure (HF) meliputi gangguan
kemampuan kontraktilitas jantung, yang menyebabkan curah jantung
lebih dari curah jantung normal. Konsep curah jantung yang baik
dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV di mana curah jantung (CO
: Cardiac Output) dalah fungsi frekuensi jantung (HR : Heart Rate) X

Poltekkes Kemenkes Padang


volume sekuncup (SV : Stroke Volume). Frekuensi jantung adalah fungsi
sistem saraf otonom. Bila curah jantung berkurang, sistem saraf simpatis
akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah
jantung. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan
perfusi jaringan yang memadai, maka volume sekuncup jantunglah yang
harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung.

Tetapi pada CHF dengan masalah utama kerusakan dan kekakuan serabut
otot jantung, volume sekuncup berkurang dan curah jantung normal
masih dapat dipertahankan. Volume sekuncup jumlah darah yang
dipompa pada setiap kontraksi tergantung pada tiga faktor; preload;
kontraktilitas dan afterload. Preload adalah sinonim dengan hukum
Starling pada jantung yang menyatakan bahwa jumlah darah yang
mengisi jantung berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan
oleh panjangnya regangan serabut jantung. Kontraktilitas mengacu pada
perubahan kekuatan kontraktilitas yang terjadi pada tingkat sel dan
berhubungan dengan perubahan panjang serabut jantung dan kadar
kalsium. Afterload mengacu pada besarnya tekanan ventrikel yang harus
dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang
ditimbulkan oleh tekanan arteriole. (Brunner and Suddarth, 2013)

Menurut Wijaya & Yessi (2013), patofisiologi CHF yaitu:


a. Mekanisme Dasar
Kelainan kontraktilitas pada gagal jantung akan mengganggu
kemampuan pengosongan ventrikel. Kontraktilitas ventrikel kiri yang
menurun mengurangi cardiak output dan meningkatkan volume
ventrikel.
Dengan meningkatnya EDV (volume akhir diastolic ventrikel) maka
terjadi pula peningkatan tekanan akhir diastolik kiri (LEDV). Dengan
meningkatnya LEDV , maka terjadi pula peningkatan tekanan atrium
(LAP) karena atrium dan ventrikel berhubungan langsung kedalam
anyaman vaskuler paru-paru meningkatkan tekanan kapiler dan pena

Poltekkes Kemenkes Padang


patu-paru. Jika tekanan hidrostatik dari anyaman kapiler paru-paru
melebihi tekanan osmotik kapiler, makan akan terjadi edema
interstitial. Peningkatan tekanan lebih lanjut dapat mengakibatkan
cairan merembes ke alveoli dan terjadilah edema paru.
Tekanan arteri paru-paru dapat meningkat akibat peningkatan kronis
tekanan vena paru. Hipertensi pulmonalis meningkatkan tekanan
terhadap ejeksi ventrikel kanan. Serangkaian kejadian seperti yang
terjadi pada jantung kiri, juga akan terjadi pada jantung kanan yang
akhirnya akan menyebabkan edema dan kongesti sistemik.
Perkembangan dari edema dan kongesti sistemik atau paru dapat
diperberat oleh regurgitasi fungsional dari katup-katup trikuspidalis
atau mitralis secara bergantian. Regurgitasi fungsional dapat
disebabkan oleh dilatasi anulus katup atroventrikularis, atau
perubahan orientasi otot palpilaris dan korda tendinae akibat dilatasi
ruang.
b. Respon kompensatorik
1) Meningkatnya aktivitas adrenergik simpatis
Menurunnya cardiac output akan meningkatkan aktivitas adrenergik
simpatik yang dengan merangsang pengeluaran katekolamin dan saraf-
saraf adrenergik jantung dan medula adrenal.
Denyut jantung dan kekuatan kontraktilitas akan meningkat untuk
menambah curah jantung. Selain itu juga terjadi vasokonstriksi arteri
perifer untuk menstabilkan tekanan arteri dan redistribusi volume darah
dengan mengurangi aliran darah ke organ–organ yang metabolismenya
rendah (kulit dan ginjal) untuk mempertahankan perfusi ke jantung dan
otak. Venokonstriksi akan meningkatkan aliran balik vena ke sisi kanan
jantung, untuk selanjutnya menambah kekuatan kontriksi.
2) Meningkatnya beban awal akibat aktivitas sistem renin-angiotensin
aldosteron (RAA)
Aktivitas sistem RAA menyebabkan retensi natrium dan air oleh ginjal,
meningkatkan volume ventrikel dan regangan serabut. Peningkatan
beban awal ini akan menambah kontraktilitas miokardium.

Poltekkes Kemenkes Padang


3) Atropi ventrikel
Respon kompensatorik terakhir pada heart failure adalah hidrotropi
miokardium akan bertambah tebalnya dinding .
4) Efek negatif dari respon kompensatorik
Pada awalnya respon kompensatorik sirkulasi memiliki efek yang
menguntungkan, namun pada akhirnya mekanisme kompensatorik
dapat menimbulkan gejala, meningkatkan kerja jantung, dan
memperburuk derajat gagal jantung.
Resistensi jantung yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan
kontraktilitas dini menyebabkan terbentuknya edema dan kongesti vena
paru dan sistemik. Vasokonstriksi arteri dan redistribusi aliran darah
mengganggu perfusi jaringan pada anyaman vaskuler yang terkena,
serta menimbulkan gejala dan tanda (kekurangan jumlah keluaran urine
dan kelemahan tubuh). Vasokonstriksi arteri juga meningkatkan beban
akhir dengan memperbesar resistensi terhadap ejeksi ventrikel, beban
akhir juga meningkat karena dilatasi ruang jantung.
Akibatnya, kerja jantung dan kebutuhan miokard akan oksigen (MVO2)
juga meningkat. Hipertrofi miokardium dan rangsangan simpatis lebih
lanjut akan meningkatkan kebutuhan oksigen miokardium. Jika
peningkatan ini tidak dapat dipenuhi dengan meningkatkan suplai
oksigen miokardium maka akan terjadi iskemia miokard. Akhirnya
dapat timbul beban miokard yang tinggi dan serangan gagal jantung
yang berulang.

Poltekkes Kemenkes Padang


4. WOC
hipertensi sistemik pulmonal
Aterosklerosis koroner Gambar 2.1 Insufiensi katup AV
Hipertensi malignan
stenosis katup jantung semiluner
peradangan & penyakit miokardium
tahanan vaskuler sistemik pulmonal Peningkatan
aliran darah ke otot jantung Pengosongan jantung mendadak
Aliran darah melalui jantung terganggu
terganggu peningkatan afterload abnormal
afterload
Disfungi miokard merusak serabut otot jantung
beban kerja jantung
TD Sistemik
Hipertropi serabut otot jantung meningkat
MK :Resiko
Ketidakefektifan Kontraktilitas menurun
perfusi jaringan
jantung
CHF Kiri (Gagal jantung kiri) MK : Resiko penurunan CHF Kanan (Gagal jantung kanan)
curah jantung
Tekanan vena pulmonal COP Tekanan vena kava superior tekanan vena kava inferior
Suplai darah ke
Tekanan kapiler pulmonal Suplai darah ke jaringan otak
Tekanan vena jugularis Kongestivisera & jaringan perifer
MK : Kongesti paru Penurunan nutrisi & O2 ke sel
ganggua Aliran balik vena
MK : Tekanan vena Kongesti
terganggu Kongesti
n dipsneu katabolisme yang tidak adekuat dari ketidakefektif ekstremitas vena
hepar
pertuka jaringan an perfusi abdomen
ran gas jaringan Penurunan kesadaran
Nyeri dada saat bernafas Edema
Kelemahan Tekanan
cerebral Statis vena
ekstremitas pembuluh
MK : nyeri akut abdomen
portae
MK : intoleransi aktivitas
Edema paru Efusi pleura MK : Anoreksia
asites
kelebihan
Roncki basah
volume MK :
cairan Penekanan
Iritasi mukosa paru ketidakseim
Pengembangan MK : ketidakefektifan pada
bangan
Reflek batuk paru perfusi jaringan perifer diafragma
nutrisi
kurang dari
Penumpukan sekret Sesak nafas MK :
Distress kebutuhan
Ansietas pernapasan tubuh
MK : ketidakefektifan MK :
bersihan jalan nafas Ketidakefektifan
pola nafas Kasron,2012; Smeltzer & Bare,2013; Poltekkes Kemenkes Padang
Wijaya & Yessi,2013;
5. Respon Tubuh Terhadap Perubahan Fisiologis
Menurut Kasron (2012), respon tubuh terhadap perubahan yang di alami saat
terjadinya gagal jantung terbagi atas dua kategori diantaranya :
a. Gagal jantung kiri
Kongesti jantung menonjol pada ggal jantung ventrikel kiri karean
ventrikel kiri tidak mampu memompa drah yang datang dari patu.
Manifestasi klinis yang terjadi yaitunya ;
1) Dispeu
Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan mengganggu
pertukaran gas. Dapat terjadi ortopnu yang mana beberapa pasien dapat
mengalaminya pada malam hari dinamakan Paroksimal Noktural
Dispnea (PND).
2) Batuk
Batuk yang berhubungan dengan gagal ventrikel kiri bisa kering dan
tidak produktif, tetapi yang tersering adalah batuk basah, yaitu batuk
yang menghasilkan sputum berbusa dalam jumlah banyak, yang kadang
disertai bercak darah.
3) Mudah lelah
Terjadi karena curah jantung yang kurang sehingga menghambat
jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya
pembuangan sisa hasil katabolisme. Juga terjadi karena meningkatnya
energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadi karena
distress pernafasan serta batuk.
4) Kegelisahan dan kecemasan
Terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan, stess akibat kesakitan
bernafas dan pengetahhuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik.
5) Sianosis

Poltekkes Kemenkes Padang


b. Gagal jantung kanan
1) Kongestif jaringan perifer dan viseral
2) Edema ekstremitas bawah (edema dependen), biasanya edema pitting,
penambahan berat badan.
3) Hepatomegali
nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran
vena di hepar.
4) Anorexia dan mual
Terjadi akibat pembesaran vena dan statis dalam rongga abdomen.
5) Nokturia
Nokturia atau rasa ingin BAK pada malam hari, terjadi karena perfusi
renal didukung oleh posisi penderita pada saat berbaring. Diuresis
terjadi paling sering pada malam hari karen acurah jantung akan
membaik dengan istirahat.
6) Kelemahan
Lemah yang menyertai HF sisi kanan disebabkan kerena menurunnya
curah jantung, gangguan sirkulasi, dan pembuangan produk sampah
katabolisme yang tidak adekuat dari jantung.

Menurut New York Heart Assosiation (NYHA) membuat klasifikasi


fungsional CHF dalam 4 kelas yaitu :

a. Kelas I
Akitivitas biasa tidak menimbulkan kelelahan, dyspea, palpitasi, tidak ada
kongesti pulmonal atau hipotensi perifer serta bersifat asimtomatik.
Kegiatan sehari –hari tidak terbatas.
b. Kelas II
Kegiatan sehari-hari sedikit terbatas, gejala tidak ada saat istirahat,
adanya bailar (krekels dan S3 murmur).

Poltekkes Kemenkes Padang


c. Kelas III
Kegiatan sehari- hari terbatas dan pasien merasa nyaman saat beristirahat.
d. Kelas IV
Gejala insufisiensi jantung ada saat insirahat.

6. Dampak CHF
Dampak masalah potensial yang mungkin terjadi pada CHF ini dapat berupa:
a. Syok Kardiogenik
Merupakan stadium akhir disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung
kongestif, terjadi bila ventrikel kiri mengalami kerusakan yang luas. Otot
jantung kehilangan kekuatan kontraktilitasnya, menimbulkan penurunan
curah jantung dengan perfusi jaringan yang tidak adekuat ke organ vital
(jantung, otak, ginjal).
b. Episode tromboemboli karena pembentukan bekuan vena akibat stasis
darah.
c. Efusi perkardial dan tamponade jantung
Efusi perikardium mengacu pada masuknya cairan ke dalam kantung
perikardium. Secara normal kantung perikardium berisi cairan sebanyak
kurang dari 50 ml. cairan perikardium akan terakumulasi secara lambat
tanpa menyebabkan gejala yang nyata. Namun demikian perkembangan
efusi yang cepat dapat meregangkan perikardium sampai ukuran
maksimal dan menyebabkan penurunan curah jantung serta aliran balik
vena ke jantung. Hasil akhir dari proses ini adalah tamponade jantung.
(Smeltzert & Bare, 2013)

Poltekkes Kemenkes Padang


7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan CHF menurut Kasron (2012), meliputi :
a. Non Farmakologis
1) CHF Kronik
a) Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan
menurunkan konsumsi oksigen melalui istirahat dan pembatasan
aktivitas.
b) Diet pembatasan natrium (< 4 gr/hari) untuk menurunkan edema.
c) Menghentikan obat-obatan yang dapat memperparah kondisi seperti
NSAIDs karena efek prostaglandin pada ginjal menyebabkan
retensi air dan natrium.
d) Pembatasan cairan ( kurang lebih 1200 – 1500 cc/hari )
e) Olahraga ringan secara teratur.
2) CHF Akut
a) Oksigenasi (ventilasi mekanik)
b) Pembatasan cairan (< 1500 cc/hari)
b. Farmakologis
1) First line drugs (diuretik)
Tujuan pemberian diuretik ini yaitu untuk mengurangi afterload pada
disfungsi sistolik dan mengurangi kongesti pulmonal pada disfungsi
diastolik.
Obatnya adalah : thiazide diuretics untuk CHF sedang, loop diuretic,
metolazon (kombinasi dari loop diuretic untuk neningkatkan
pengeluaran cairan), Kalium-Sparing diuretic.

2) Second Line drugs (ACE inhibitor)


Tujuan pemberian obat ini yaitu meningkatkan COP dan menurunkan
kerja jantung. Obatnya adalah :

Poltekkes Kemenkes Padang


a) Digoxin
Untuk meningkatkan kontraktilitas. Obat ini tidak digunakan
untuk kegagalan diastolik yang mana dibutuhkan pengembangan
ventrikel untuk relaksasi.
b) Hidralazin
Untuk menurunkan afterload pada disfungsi sistolik.
c) Isobarbide dinitrat
Untuk mengurangi preload dan afterload, disfungsi sistolik,
hindari vasodilator pada disfungsi sistolik.
d) Calsium channel bloker
Untuk kegagalan diastolik, meningkatkan relaksasi dan pengisian
ventrikel tetapi tidak dianjurkan untuk CHF kronik.
e) Beta blocker
Sering dikontraindikasikan karena menekan respon miokard.
Digunakan pada disfungsi diastolik untuk mengurangi HR,
mencegah iskemi miokard, menurunkan TD, hipertrofi ventrikel
kiri.

B. Konsep Asuhan Keperawatan CHF


1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Meliputi nama, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, status kawin,
agama pendidikan, pekerjaan, alamat, No MR, dan diagnosa medis.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Keluhan utama
Biasanya pasien CHF mengeluh sesak nafas dan kelemahan saat
beraktifitas, kelelahan, nyeri pada dada, dispnea pada saat beraktivitas.
(Wijaya & Yessi, 2013)

Poltekkes Kemenkes Padang


2) Keluhan saat dikaji
Pengkajian dilakukan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan
mengenai kelemahan fisik pasien secara PQRST. Biasanya pasien akan
mengeluh sesak nafas dan kelemahan saat beraktifitas, kelelahan, dada
terasa berat, dan berdebar – debar.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi riwayat penyakit yang pernah diderita klien terutama penyakit
yang mendukung munculnya penyakit saat ini. Pada pasien CHF biasanya
sebelumnya pernah menderita nyeri dada, hipertensi, iskemia
miokardium, infark miokardium, diabetes melitus, dan hiperlipidemia.
Dan juga memiliki riwayat penggunaan obat-obatan pada masa yang lalu
dan masih relevan dengan kondisi saat ini. Obat-obatan ini meliputi obat
diuretik, nitrat, penghambat beta, serta antihipertensi. Catat adanya efek
samping yang terjadi di masa lalu, alergi obat, dan reaksi alergi yang
timbul. Sering kali pasien menafsirkan suatu alergi sebagai efek samping
obat.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Perawat menanyakan tentang penyakit yang pernah dialami oleh
keluarga, anggota keluarga yang meninggal terutama pada usia produktif,
dan penyebab kematiannya. Penyakit jantung iskemik pada keturunannya.
(Muttaqin, 2012)
e. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan umum
Kesadaran pasien dengan CHF biasanya baik atau compos mentis
(GCS 14-15) dan akan berubah sesuai tingkat gangguan perfusi sistem
saraf pusat.
2) Mata
(1). Konjungtiva biasanya anemis, sklera biasanya tidak ikterik

Poltekkes Kemenkes Padang


(2). Palpebra biasanya bengkak
3) Hidung
Biasanya bernafas dengan cuping hidung serta hidung sianosis
4) Mulut
Bibir biasanya terlihat pucat.
5) Wajah
Biasanya wajah terlihat lelah dan pucat.
6) Leher
Biasanya terjadi pembengkakan pada vena jugularis (JVP)
7) Sistem Pernafasan
(1). Dispnea saat beraktivitas atau tidur sambil duduk atau dengan
beberapa bantal.
(2). Batuk dengan atau tanpa sputum
(3). Penggunaan bantuan pernafasan, misal oksigen atau medikasi
(4). Pernafasan takipnea, nafas dangkal, pernafasan laboral,
penggunaan otot aksesori
(5). Sputum mungkin bercampur darah, merah muda / berbuih
(8). Edema pulmonal
(9). Bunyi nafas : Adanya krakels banner dan mengi.
(Wijaya & Yessi, 2013)
8) Jantung
(1). Adanya jaringan parut pada dada
(2). Bunyi jantung tambahan (ditemukan jika penyebab CHF kelainan
Katup)
(3). Batas jantung mengalami pergeseran yang menunjukkan adanya
hipertrofi jantung (Kardiomegali)
(4). Adanya bunyi jantung S3 atau S4
(5). Takikardia

Poltekkes Kemenkes Padang


9) Abdomen
(1). Adanya hepatomegali
(2). Adanya splenomegali
(3). Adanya asites
10) Eliminasi
(1). Penurunan frekuensi kemih
(2). Urin berwarna gelap
(3). Nokturia (berkemih pada malam hari)
(4). Diare/ konstipasi.
11) Ekstremitas
(1). Terdapat edema dan CRT kembali > 2 detik
(2). Adanya edema
(3). Sianosis perifer
(Smeltzer & Bare, 2013)

f. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan yang dapat dilakukan pada pasien CHF menurut Kasron


(2012) diantaranya :

1) Elektrokardiografi (EKG)

Kelainan EKG yang ditemukan pada pasien CHF adalah:

(1). Sinus takikardi dan bradikardi

(3). Atrial takikardia / futer / fibrilasi

(4). Aritmia ventrikel


(5). Iskemia / infark

(6). Gelombang Q menunjukkan infark sebelumnya dan kelainan segmen

ST menunjukkan penyakit jantung iskemik

Poltekkes Kemenkes Padang


(7). Hipertrofi ventrikel kiri dan gelombang T terbalik menunjukkan

stenosis aorta dan penyakit jantung hipertensi

(8). Blok atrioventikular

(9). Mikrovoltase

(10). Left bunddle branch block (LBBB) kelainan segmen ST/T

menunjukkan disfungsi ventrikel kiri kronis

(11). Deviasi aksis ke kanan, right bundle branch block, dan hipertrofi

kanan menunjukkan disfungsi ventrikel kanan

2) Ekokardiografi
Gambaran yang paling sering ditemukan pada CHF akibat penyakit
jantung iskemik, kardiomiopati dilatasi, dan beberapa kelainan katup
jantung adalah dilatasi ventrikel kiri yang disertai hipokinesis seluruh
dinding ventrikel.
3) Rontgen Toraks
Abnormalitas foto toraks yang ditemukan pada pasien CHF:
(1). Kardiomegali
(2). Efusi pleura
(3). Hipertrofi ventrikel
(4). Edema intertisial
(5). Infiltrat paru
(6). Kongesti vena paru
(Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia, 2015)
g. Pemeriksaan Laboratrium
Tes Laboratorium Darah
1) Enzym hepar : meningkat dalam gagal jantung/ kongesti.

Poltekkes Kemenkes Padang


2) Elektrolit : kemungkinan berubah karena perpindahan cairan,
penurunan fungsi ginjal.
3) Oksimetri nadi : kemungkinan saturasi oksigen rendah.
4) AGD : Gagal jantung ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis
respiratorik ringan atau hipoksemia dengan
peningkatan COP2
5) Albumin : kemungkinan besar dapat menurun sebagai akibat
penurunan protein.
Abnormalitas pemeriksaan laboratorium yang ditemukan pada pasien CHF
diantaranya :

1) Anemia ( Hb < 13 gr/dl pada laki-laki, < 12 gr/dl pada perempuan)

2) Peningkatan kreatinin serum ( > 150 μ mol/L)

3) Hiponatremia ( < 135 mmol/L)

4) Hipernatremia ( > 150 mmol/L)

5) Hipokalemia ( < 3,5 mmol/L)

6) hiperkalemia ( > 5,5 mmol/L)

7) hiperglikemia( >200 mg/dl)

8) Hiperurisemia ( > 500 μ mmol/L)

9) BNP ( < 100 pg/ml, NT proBNP < 400 pg/ml)

10) BNP ( > 400 pg/ml, NT proBNP > 2000 pg/ml)

11) Kadar albumin tinggi ( > 45 g/L)

12) Kadar albumin rendah ( <30 g/L)

(Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia, 2015)

Poltekkes Kemenkes Padang


2. Kemungkinan Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraksi
ventrikel kiri.
b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan pengembangan paru
tidak optimal
c. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi natrium dan air.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dengan kebutuhan oksigen, kelelahan.
( NANDA Internasional, 2015)

3. Perencanaan Keperawatan
Tabel 2.1 Diagnosa Keperawatan NANDA 2015, NIC-NOC 2016
No Diagnosa NOC (Nursing Outcome NIC (Nursing Intervention
Keperawatan Clasification) Clasification)
1. Penurunan curah a. Cardiac Pump a. Cardiac Care
jantung Effectiveness Aktivitas :
berhubungan Indikator : 1) Evaluasi adanya nyeri
dengan penurunan 1) Systolic blood dada (intensitas,
kontraksi ventrikel pressure dalam lokasi, durasi,
kiri. rentang normal frekuensi)
2) Diastolic blood 2) Catat adnya disritmia
pressure dalam jantung
rentang normal 3) Catat adanya tanda
3) Tidak ada disritmia dan gejala penurunan
4) Tidak ada bunyi cardiac output.
jantung abnormal 4) Monitor status
5) Tidak terjadi angina kardiovaskuler
6) Tidak ada edema 5) Monitor status
perifer pernafasan yang
7) Tidak ada edema menandakan Heart
paru Failure
8) Tidak dispnea saat 6) Monitor abdomen
istirahat sebagai indicator
9) Tidak dispnea ketika adanya adanya
latihan penurunan fungsi

Poltekkes Kemenkes Padang


10) Tidak terjadi 7) Monitor balance
hepatomegali cairan
11) Aktivitas toleran 8) Monitor adanya
12) Tidak sianosis perubahan perubahan
b. Circulation Status tekanan darah
Indikator : 9) Monitor respon pasien
1) Systolic blood terhadap efek
pressure dalam pengobatan
rentang normal antiaritmia
2) Diastolic blood 10) Atur periode latihan
pressure dalam dan istirahat untuk
rentang normal menghindari
3) Pulse pressure kelelahan
dalam rentang 11) Monitor adanya
normal dispnea, ortopnea, dan
4) MAP dalam rentang takipnea
normal 12) Anjurkan untuk
5) AGD (PaO2 dan menurunkan stres
PaCO2) dalam
rentang normal b. Vital Sign Monitoring
6) Saturasi O2 dalam Aktivitas :
rentang normal 1) Monitor TD, nadi,
7) Tidak asites suhu dan RR
c. Vital signs 2) Catat adanya fluktuasi
Indikator : tekanan darah
1) Denyut jantung 3) Monitor vital sign
apikal dalam pasien saat berbaring,
rentang normal duduk, berdiri
2) Irama denyut 4) Auskultasi tekanan
jantung dalam darah pada kedua
rentang normal lengan dan
3) Denyut nadi radial bandingkan
dalam rentang 5) Monitor TD, Nadi,
normal RR sebelum, selama
4) Tekanan Systole dan dan setelah aktivitas
Diastole dalam 6) Monitor kualitas nadi.
rentang normal 7) Monitor adanya
pulsus paradoksus
8) Monitor jumlah dan
irama jantung
9) Monitor bunyi jantung
10) Monitor suara paru

Poltekkes Kemenkes Padang


11) Monitor pola
pernafasan abnormal
12) Monitoradanya
sianosis perifer
13) Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital sign

2. Ketidakefektifan a. Respiratory Status : a. Airway Manajemen


pola nafas Ventilation Aktivitas :
berhubungan Indikator : 1) Posisikan pasien
dengan 1) Respiratory dalam untuk
pengembangan rentang normal memaksimalkan
paru tidak optimal. 2) Tidak ada retraksi ventilasi
dinding dada 2) Lakukan fisioterapi
3) Tidak mengalami dada jika perlu
dispnea saat istirahat 3) Auskultasi suara
4) Tidak ditemukan nafas, catat adanya
otrhopnea suara nafas tambahan
5) Tidak ditemukan 4) Monitor resirasi dan
atelektasis status O2
b. Respiratory : Airway b. Oxygen Therapy
Patency Aktivitas :
Indikator : 1) Pertahankan
1) Respiratory rate kepatenan jalan nafas
dalam rentang 2) Atur peralatan
normal. oksigen
2) Pasien tidak cemas 3) Monitor aliran
3) Menunjukkan jalan oksigen
nafas yang paten 4) Pertahankan posisi
pasien
5) Observasi adanya
tanda-tanda
hipoventilasi.
6) Monitor adanya
kecemasan
c. Vital Sign Monitoring
Aktivitas :
1) Monitor TD, Nadi,
Suhu, dan RR
2) Catat adanya flutuasi
tekanan darah

Poltekkes Kemenkes Padang


3) Monitor kualitas nadi
4) Monitor suara paru
5) Monitor suara
pernafasan
6) Monitor suhhu,
warna, dan
kelembapan kulit.

3. Kelebihan volume a. Electrolit And a. Fluid Management


cairan Acid/Base Balance Aktivitas :
berhubungan Indikator : 1) Pertahankan catatan
dengan retensi 1) Erum albumin, intake output yang
natrium dan air. kreatinin, akurat
hematokrit, Blood 2) Monitor hasil Hb
Urea Nitrogen yang sesuai dengan
(BUN), dalam retensi cairan (BUN,
rentang normal Hematokrit,
2) pH urine, urine Osmolaritas urine)
sodium, urine 3) Monitor vital sign
kreatinin,urine 4) Monitor indikasi
osmolaritas, dalam retensi
rentang normal 5) Kaji luas dan lokasi
3) tidak terjadi edema
kelemahan otot 6) Monitor status nutrisi
4) tidak terjadi 7) Kolaborasi dengan
disritmia dokter jika tanda
b. Fluid Balance cairan berlebuhan
Indikator : muncul memburuk
1) Tidak terjadi asites b. Fluid Monitoring
2) Ekstremitas tidak Aktivitas :
edema 1) Tentukan riwayat
3) Tidak terjadi jumlah dan tipe intake
distensi vena cairan dan eliminasi
jugularis 2) Tentukan
c. Fluid Overload kemungkinan faktor
Severity risiko dari
Indikator : ketidakseimbangan
1) Edema tungkai tidak cairan
terjadi 3) Monitor berat badan
2) Tidak asites 4) Monitor TD, Nadi,
3) Kongesti vena tidak RR
terjadi 5) Monitor tekanan

Poltekkes Kemenkes Padang


4) Tidak terjadi darah orthostatik dan
peningkatan blood perubahan irama
pressure jantung
5) Penurunan 6) Monitor parameter
pengeluaran urine hemodinamik infasif
tidak terjadi 7) Monitor tanda dan
6) Tidak terjadi gejala edema
perubahan warna
urine
7) Penurunan serum
sodium tidak terjadi
8) Peningkatan serum
sodium tidak terjadi

4. Intoleransi a. Energi Conservation a. Energy Management


aktivitas Indikator : Aktivitas :
berhubungan 1) Menunjukkan 1) Tentukan keterbatasan
dengan keseimbangan pasien terhadap
ketidakseimbangan antara aktivitas aktivitas
antara suplai dengan istirahat 2) Tentukan penyebab
dengan kebutuhan 2) Menggunakan lain dari kelelahan
oksigen, kelelahan. teknik 3) Dorong pasien untuk
3) Mengenali mengungkapkan
keterbatasan energi perasaan tentang
4) Menyesuaikan gaya keterbatasannya
hidup sesuai tingkat 4) Observasi nutrisi
energi sebagai sumber energi
5) Mempertahankan yang adekuat
gizi yang cukup 5) Observasi respon
6) Melaporkan jantung-paru terhadap
aktivitas yang sesuai aktivitas (misalnya
dengan energi. takikardia, disritmia,
b. Activity Tolerance dispnea, pucat, dan
Indikator : frekuensi pernafasan)
1) Saturasi oksigen 6) Batasi stimulus
saat melakukan lingkungan (misalnya
aktivitas pencahayaan, dan
membaik/dalam kegaduhan)
rentang normal 7) Dorong untuk lakukan
2) nadi saat melakukan periode aktivitas saat
aktivitas dalam pasien memiliki
rentang normal banyak tenaga.

Poltekkes Kemenkes Padang


3) tidak sesak napas 8) Rencanakan periode
saat melakukan aktivitas saat pasien
aktivitas memiliki banyak
4) tekanan darah saat tenaga
melakukan aktivitas 9) Hindari aktivitas
dalam rentang selama periode
normal istirahat
5) mudah melakukan 10) Dorong pasien untuk
ADL melakukan aktivitas
c. Self Care : ADL sesuai sumebr energi
Indikator : 11) Instruksikan pasien
1) Mampu melakukan atau keluarga untuk
ADL secara mandiri mengenal tanda dan
(seperti makan, gejala kelelahan yang
memakai memerlukan
baju,toileting, pengurangan aktivitas.
mandi, berdandan, 12) Bantu pasien atau
menjaga kebersihan, keluargauntuk
oral hygiene, menentukan tujuan
berjalan, berpindah akhir yang realistis
tempat) 13) Evaluasi program
peningkatan tingkat
aktivitas
b. Actifity Therapy
Aktivitas :
1) Bantu pasien untuk
mengidentifikasi
aktivitas yang mampu
dilakukan
2) Bantu untuk memilih
aktivitas konsisten
yang sesuai dengan
kemampuan fisik,
psikologi dan social
3) Bantu untuk
mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber
yang diperlukan untuk
aktiivtas yang
diinginkan
4) Bantu pasien atau
keluarga untuk

Poltekkes Kemenkes Padang


mengidentifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
5) Bantu pasien untuk
mengembangkan
motivasi diri dan
penguatan
6) Monitor respon fisik,
emosi, soial, dan
spiritual

(NANDA,2015; NOC,2016; NIC ,2016)

Poltekkes Kemenkes Padang


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian
Desain penelitian ini adalah deskriptif, dalam bentuk studi kasus. Penelitian
diarahkan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana penerapan
asuhan keperawatan pada pasien dengan CHF di Ruangan Penyakit Dalam
Pria IRNA Non-bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017.

B. Tempat dan waktu penelitian


Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang khususnya di
ruangan Penyakit Dalam Pria Tahun 2017. Waktu penelitian studi kasus ini
dimulai dari bulan Januari sampai Mei 2017. Waktu untuk studi kasus selama
6 hari untuk partisipan 1 dan 6 hari untuk partisipan 2.

C. Subjek penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dengan penyakit CHF
di ruangan penyakit dalam pria IRNA non-bedah RSUP Dr. M. Djamil
Padang Tahun 2017. Populasi pasien CHF di RSUP Dr. M. Djamil Padang
khususnya di ruang Penyakit Dalam Pria pada saat peneliti melakukan
studi dokumentasi yaitu sebanyak 5 orang pasien.
2. Sampel
Sampel penelitian ini adalah dua pasien dengan penyakit CHF diruangan
Penyakit Dalam Pria RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017. Sampel
diambil sebanyak 2 orang secara purposive sampling.
Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :
1. Kriteria Inklusi
a. Pasien CHF beserta keluarga yang bersedia menjadi responden.
b. Pasien yang dirawat dengan keadaan kooperatif.
2. Kriteria Ekslusi
a. Pasien dengan CHF yang pindah ke ruangan di luar lokasi peneliti.

Poltekkes Kemenkes Padang


3. Cara Pengambilan Sampel
Saat peneliti melakukan studi dokumentasi pada hari pertama, terdapat 5
orang pasien CHF yang berada di ruangan penyakit dalam pria IRNA non-
bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017, maka digunakan metode
purposive sampling yang mana cara pengambilan sampel harus sesuai
dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Setelah di lakukan pemilihan
berdasarkan kriteria maka didapatkan satu partisipan yang sesuai dengan
kriteria dan pada hari ke tiga peneliti baru mendapatkan satu partisipan
lagi yang sesuai dengan kriteria.

D. Alat atau instrumen pengumpulan data


Alat atau instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah format tahapan
proses keperawatan medikal bedah mulai dari pengkajian sampai pada
evaluasi. Instrumen pengumpulan data berupa format tahapan proses
keperawatan pada pasien dengan CHF mulai dari pengkajian sampai evaluasi.
Cara pengumpulan data dimulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik, observasi,
dan studi dokumentasi.
Alat yang digunakan dalam penelitian adalah pemeriksaan fisik yang terdiri
dari APD (Alat Pelindung Diri), Stetoskop, Sphygmomanometer,
Termometer dan Penlight.
Proses keperawatan meliputi :

1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan pada suatu masalah dengan memperhatikan
tanda-tanda verbal dan nonverbal, secara umum mencakup lima hal, yaitu
pemicu terjadinya masalah, kualitas, lokasi, intensitas, waktu serangan.
Cara mudah untuk mengingat yaitu dengan PQRST.
P = Provoking (pemicu), yaitu faktor yang menimbulkan masalah dan
mempengaruhi gawat atau ringannya masalah.
Q = Quality (kualitas), tingkat beratnya suatu serangan.
R = Region (daerah/lokasi), yaitu perjalanan ke daerah lain.

Poltekkes Kemenkes Padang


S = Severity (keparahan), yaitu intensitas masalah.
T = Time (waktu), yaitu jangka waktu serangan dan frekuensi nyeri.
(Saputra, Lyndon, 2013).
Data hasil pengkajian didapatkan dari partisipan, keluarga dan
dokumentasi yang ada di ruangan.

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan dapat ditegakkan jika data-data yang telah ada
dianalisa. Kegiatan pendokumentasian diagnosa keperawatan sebagai
berikut :
a) Analisa data
Dalam analisa data mencakup data pasien, masalah dan penyebabnya
(format terlampir). Data pasien terdiri atas data subjektif yaitu data
yang didapat dari perkataan pasien atau keluarga, biasanya apa yang
dikeluhkan. Data objektif yaitu data yang diperoleh perawat
berdasarkan dari hasil pengamatan dan pemeriksaan fisik (Suara,
Mahyar, dkk, 2010).
b) Menegakkan diagnosa
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menegakkan diagnosa adalah
PES (problem+etilogi+symptom) dan menggunakan istilah diagnosa
keperawatan yang dibuat dari daftar NANDA (format terlampir)
(Suara, Mahyar, dkk, 2010).
3. Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan terdiri dalam beberapa komponen sebagai berikut :
a) Diagnosa yang diprioritaskan
b) Tujuan dan kriteria hasil
c) Intervensi
Intervensi keperawatan mengacu pada NANDA NIC-NOC (format
terlampir).
(Suara, Mahyar, dkk, 2010).

Poltekkes Kemenkes Padang


4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keparawatan terdiri dalam beberapa komponen :
a) Tanggal dan waktu implementasi keperawatan.
b) Diagnosa keperawatan.
c) Tindakan keperawatan berdasarkan intervensi keperawatan.
d) Tanda tangan perawat pelaksana.
(format terlampir)
(Suara, Mahyar, dkk, 2010).
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan terdiri dalam beberapa komponen :
a) Tanggal dan waktu dilakukan evaluasi keperawatan
b) Diagnosa keperawatan
c) Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan dalam bentuk pendekatan SOAP.
(Suara, Mahyar, dkk, 2010).
E. Cara pengumpulan data
1. Observasi
Dalam penelitian ini, peneliti mengobservasi atau melihat keadaan umum
partisipan dan gelombang EKG.
2. Pengukuran
Dalam penelitian ini, peneliti mengukur menggunakan alat ukur
pemeriksaan, seperti melakukan pengukuran tekanan darah, menghitung
frekuensi napas, dan menghitung frekuensi nadi, serta mengukur intake
output cairan pasien. Pengukuran berat badan pada partisipan tidak bisa
dilakukan peneliti karena keadaan umum partisipan yang lemah.
3. Wawancara
Dalam penelitian ini wawancara yang dilakukan dengan menggunakan
pedoman wawancara bebas terpimpin. Wawancara jenis ini merupakan
kombinasi dari wawancara tidak terpimpin dan wawancara terpimpin.
Meskipun dapat unsur kebebasan, tapi ada pengarah pembicara secara
tegas dan mengarah. Jadi wawancara ini, mempunyai ciri yang
felksibelitas (keluwesan) tapi arahnya yang jelas. Artinya, pewawancara

Poltekkes Kemenkes Padang


diberi kebebasan untuk mengolah sendiri pertanyaan sehingga
memperoleh jawaban yang diharapkan dan responden secara bebas dapat
memberikan informasi selengkap mungkin.
Wawancara yang dilakukan oleh peneliti di tujukan kepada partisipan dan
keluarga dan berupa pertanyaan terbuka agar peneliti dapat menggali
dengan baik data dari partisipan.
4. Dokumentasi
Dokumentasi yang dilakukan oleh peneliti yaitu pendokumetasi hasil
pengkajian, analisa data, penegakkan diagnosa keperawatan, rencana
keperawatan, tindakan keperawatan, dan evaluasi dari tindakan
keperawatan.

F. Jenis-jenis data
1. Data primer
Data primer dalam penelitian berupa pengkajian langsung kepada pasien
dan keluarga, meliputi : identitas pasien dan keluarga, riwayat kesehatan
pasien, riwayat kesehatan dahulu dan keluarga serta pemeriksaan fisik
terhadap pasien.
2. Data sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh langsung dari rekam medis
dan penyakit dalam pria RSUP Dr. M. Djamil Padang. Data sekunder
berupa bukti, data penunjang, catatan atau laporan historis yang telah
tersusun dalam arsip yang tidak dipublikasikan.

G. Rencana analisis
Aanalisis yang telah dilakukan pada penelitian ini adalah menganalisis semua
temuan pada tahapan proses keperawatan dengan menggunakan konsep dan
teori keperawatan pada pasien dengan CHF. Data yang telah didapat dari
hasil melakukan asuhan keperawatan mulai dari pengkajian, penegakkan
diagnosa, merencanakan tindakan, melakukan tindakan sampai mengevaluasi
hasil tindakan dinarasikan dan dibandingkan dengan teori asuhan

Poltekkes Kemenkes Padang


keperawatan CHF. Analisa yang dilakukan adalah untuk menentukan
kesesuaian antara teori yang ada dengan kondisi pasien.

Poltekkes Kemenkes Padang


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Tempat
Penelitian dilakukan di RSUP DR.M.Djamil Padang tepatnya di IRNA
Non-Bedah Penyakit Dalam yang berhadapan dengan IRNA Kebidanan
dan Anak. IRNA penyakit dalam dibagi menjadi 3 lantai yaitu HCU,
penyakit dalam pria dan penyakit dalam wanita. Penelitian dilakukan
peneliti di penyakit dalam pria, yang terdiri dari wing A dan wing B.
IRNA penyakit dalam pria dipimpin oleh seorang karu, dan dibantu oleh
katim di masing-masing wing. Terdapat sekitar 25 orang perawat yang
terdiri atas katim dan perawat pelaksana yang dibagi menjadi 3 shift, pagi,
siang, dan malam. Selain perawat ruangan beberapa mahasiswa praktik
dari berbagai instiusi pendidikan juga ikut andil dalam melakukan asuhan
keperawatan pada pasien. Sarana prasarana yang tersedia di ruang
penyakit dalam pria berupa 72 tempat tidur dan 25 ruangan di tiap-tiap
wing.
B. Deskripsi Kasus
partisipan I berumur 62 tahun datang ke RSUP Dr. M. Djamil pada tanggal
16 Mei 2017 pukul 21.30 WIB rujukan dari RSUD Lubuk Basung, dengan
keluhan sesak nafas meningkat sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk
rumah sakit, nyeri pada dada sebelah kiri, durasi 20 menit, skala nyeri 5,
tanda-tanda vital pasien yaitu, TD : 140/70 mmHg, HR : 92 x/i, RR : 28
x/i, dan suhu : 36,5 0C. Diagnosa medis pada partisipan I yaitu Congestive
Heart Failure (CHF) fc III + CKD Stage V + Bronkopneumonia.

Partisipan 2 berumur 53 tahun datang ke RSUP Dr. M. Djamil padang


pada tanggal 20 Mei 2017 pukul 23.02 WIB rujukan dari RS Siti Rahmah,
dengan keluhan sesak nafas meningkat sejak 1 hari sebelum masuk rumah
sakit, nyeri pada dada sebelah kiri, durasi 15 menit, skala nyeri 6, tanda-
tanda vital pasien yaitu, TD : 160/90 mmHg, HR : 95 x/ i, RR : 30 x/i, dan
suhu : 36, 3 0C. Diagnosa medis pada partisipan I yaitu Congestive Heart
Failure (CHF) fc IV + CKD Stage V + Bronkopneumonia .

Poltekkes Kemenkes Padang


Hasil pengkajian yang didapatkan peneliti melalui observasi, wawancara
dan studi dokumentasi pada kedua partisipan juga dicantumkan dalam
tabel sebagai berikut :
1. Pengkajian Keperawatan
Tabel 4.1
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian Partisipan 1 Partisipan 2
Keluhan saat Pada saat dilakukan Pada saat dilakukan
dikaji pengkajian pada tanggal 18 pengkajian pada tanggal 21
Mei 2017 pukul 08.49 Maret 2017 pukul 09.01
WIB, Partisipan 1 masih WIB partisipan 2 ngeluh
mengeluh sesak nafas, sesak nafas, frekuensi
frekuensi pernafasan : 25 nafas : 31x/I, nyeri pada
x/i, nyeri pada dada sudah dada sudah tidak
hilang, pasien tampak dirasakan, pasien tampak
lemah dan gelisah, pasien lemah dan gelisah, pasien
mengalami edema pada mengalami edema pada
ekstremitas bawah, tanda – ekstremitas bawah. pasien
tanda vital pasien yaitu TD juga mengatakan tidak
: 90/80 mmHg, HR : 58 x/i nafsu makan, tanda-tanda
dan suhu 36, 5 0C . Pasien vital pasien yaitu, TD :
terpasang IVFD Eas 150/100 mmHg, HR : 89
Pfrimmer 500cc/24 jam , x/I dan suhu 36, 8 0C.
terpasang oksigen melalui Pasien terpasang IVFD
binasal dengan konsentrasi NaCl 0,9 % 500cc/ 8 jam,
5 liter/i. terpasang oksigen melalui
Rebreathing Mask dengan
konsentrasi 10 liter/i.
Riwayat Pada saat dilakukan Pada saat dilakukan
Kesehatan Dahulu pengkajian tentang riwayat pengkajian tentang riwayat
kesehatan dahulu partiipan kesehatan dahulu
1 mengatakan pernah di partisipan 2 mengatakan
rawat di RSSN Bukittinggi pernah dirawat dirumah
11 tahun yang lalu karena sakit jantung Cirebon 6
penyakit stroke. Partisipan bulan yang lalu dan teratur
1 memiliki riwayat control ke poliklinik RS
hipertensi sejak 13 tahun Jantung Cirebon 1 kali
yang lalu. Partisipan 1 dalam sebulan, partisipan 2
mengatakan memiliki memiliki riwayat
kebiasaan merokok sejak hipertensi dan DM tipe II
SMU. Partisipan 1 sering sejak 2 tahun yang lalu dan
mengkonsumsi gorengan partisipan 2 mengatakan
dan makanan bersantan. tidak memiliki kebiasaan
merokok dan minum
alkohol. Partisipan 2 sering

Poltekkes Kemenkes Padang


mengkonsumsi gorengan
dan makanan bersantan.

Riwayat Partisipan 1 mengatakan Partisipan 2 mengatakan


Kesehatan tidak ada anggota keluarga ada keluarga yang
Keluarga yang menderita penyakit menderita penyakit jantung
yang sama dengan dan hipertensi yaitu ibu
partisipan 1, tidak ada partisipan 2.
anggota keluarga yang
menderita penyakit
keturunan seperti jantung,
hipertensi, DM, asma.
Pola Aktivitas Sehari-hari
Nutrisi Selama di rumah sakit Selama di rumah sakit
partisipan 1 makan dengan partisipan 2 makan dengan
diet DJ II 1800 kkal ML, diet DJ II 1700 kkal ML,
3x sehari berupa nasi 3x sehari berupa nasi
lunak, sayur dan lauk. lunak, lauk sayur.
Partisipan 1 hanya Partisipan 2 hanya
menghabiskan setengah menghabiskan 3-4 sendok
dari porsi makan. saja dari porsi yang
Partisipan 1 mengatakan disediakan rumah sakit,
tidak nafsu makan. partisipan 2 mengatakan
Selama sakit partisipan 1 tidak nafsu makan. Selama
minum 6 gelas sehari (1500 sakit partisipan 2 minum 4-
cc). 5 gelas perhari (1250 cc).
Eliminasi Saat sakit partisipan 1 Saat sakit partisipan 2
uang air kecil melalui slank buang air kecil melalui
kateter sebanyak 700 slank kateter sebanyak 600
cc/hari, warna kecoklatan. cc/hari, warna kekuningan.
Partisipan 1 buang air besar buang air besar 1x sehari
1x sehari warna warna kehitaman,
kecoklatan, konsistensi konsistensi agak keras.
agak keras.
Istirahat dan Tidur Selama di rumah sakit Selama di rumah sakit
partisipan 1 tidur siang 1-2
partisipan 2 tidur siang 1-2
jam/hari dan tidur malam jam/hari dan tidur malam
hanya 4- 5 jam/ hari. hanya 2-3 jam/ hari.
partisipan 1 mengatakan partisipan 2 mengatakan
tidur tidak nyenyak dan tidur tidak nyenyak dan
sering terbangun di malam sering terbangun di malam
hari karena sesak nafas . hari karena sesak nafas
.
Aktivitas dan Partisipan 1 sebelum sakit Partisipan 2 sebelum sakit
latihan bekerja sebagai petani di bekerja sebagai pedagang.

Poltekkes Kemenkes Padang


kampungnya. Pasien Partisipan 2 kurang
kurang berolahraga karena berolahraga karena
kelumpuhan pada kaki dan kesibukannya bekerja.
tangan sebelah kanan Saat sakit partisipan 2
partisipan 1. Saat sakit bedres total di tempat tidur
partisipan 1 bedres total di dan harus dibantu oleh
tempat tidur dan harus di keluarga dan perawat.
bantu oleh keluarga dan
perawat.
Bekerja Partisipan 1 dahulunya Partisipan 2 bekerja
bekerja sebagai petani, sebagai pedagang.
tetapi karena pasien Partisipan 2 bekerja dari
menderita stroke 11 tahun pagi dan baru pulang ke
partisipan 1 tidak bisa rumah saat sore hari.
bekerja seperti biasanya
lagi.
Pemeriksaan Fisik Saat dilakukan Saat dilakukan
pemeriksaan fisik pemeriksaan fisik
antropometri didapatkan antropometri didapatkan
tinggi badan partisipan 1 tinggi badan partisipan 2
169 cm, dan berat badan 64 173 cm, dan berat badan
kg. saat pengukuran TD 69 kg. saat pengukuran TD
didapatkan TD pasien didapatkan TD pasien
90/80 mmHg, HR : 58 x/i, 150/200 mmHg, HR : 90
RR : 25 x/i, dan suhu 36, 5 x/i, RR : 33 x/I, suhu : 36,5
0 0
C. Hasil pemeriksaan C.Hasil pemeriksaan
diperoleh keadaan umum diperoleh keadaan umum
partisipan 1 lemah dengan partisipan 2 lemah dengan
tingkat kesadaran compos tingkat kesadaran compos
mentis kooperatif, GCS mentis kooperatif, GCS
`15, eye 4, respon verbal 5, `15, eye 4, respon verbal 5,
respon motorik 6. respon motorik 6.

Pemeriksaan pada wajah di Pemeriksaan pada wajah


temukan wajah tampak ditemukan wajah tampak
pucat, konjungtiva sub pucat, konjungtiva anemis,
anemis, mulut kurang mulut kurang bersih, ada
bersih, ada plak pada gigi, plak pada gigi, mukosa
mukosa bibir kering, ada bibir kering, bibir tidak
pembesaran vena jugularis simeris, ada pembesaran
pada leher. vega jugularis.

Pada pemeriksaan paru- Pada pemeriksaan paru-


paru, inspeksi : simetris kiri paru, inspeksi : simetris
kanan, palpasi : fremitus kiri kanan, palpasi :
kiri dan kanan sama , fremitus kiri dan kanan
perkusi : terdengar sonor, sama , perkusi : terdengar

Poltekkes Kemenkes Padang


auskultasi : sonor , auskultasi :
bronkovesikuler, bronkovesikuler,
pemeriksaan jantung, pemeriksaan jantung,
inspeksi : iktus tidak inspeksi : iktus tidak
terlihat, palpasi : iktus terlihat, palpasi : pekak,
teraba di RIC V, perkusi : iktus teraba 1 jari lateral di
pekak, batas jantung 1 jari RIC V, perkusi : batas
di bawah RIC VI, jantung di RIC II dan RIC
auskultasi : regular, tidak V, auskultasi : regular,
ada bunyi tambahan. terdapat bunyi murmur.

Terpasang infus pada Terpasang infus pada


ekstremitas atas kiri, akral ekstremitas atas kanan,
dingin, kemerahan pada akral dingin, kemerahan
telapak tangan, CRT < 2 pada telapak tangan, CRT
detik, edema pada > 2 detik, edema pada
ekstremitas bawah, pitting ekstremitas bawah, pitting
edema derajat I kedalaman edema derajat III
3 mm dengan waktu kedalaman 6 mm dengan
kembali 3 detik, akral waktu kembali 7 detik,
dingin. akral dingin.

Data Psikologis Partisipan 1 tampak Partisipan 2 tampak


gelisah, pasien selalu gelisah karena sesak napas
meminta untuk cepat yang dialami, klien sering
pulang karena merasa tidak merubah posisi tubuhnya
nyaman di rumah sakit. diatas tempat tidur dan
Hubungan partisipan 1 pasien sering mengeluh
dengan keluarga baik. bahwa napasnya terasa
sesak.
Data Penunjang Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang
yang telah dilakukan oleh yang telah dilakukan oleh
pasien adalah pemeriksaan pasien adalah pemeriksaan
laboratorium dan rontgen laboratorium dan rontgen
thorax. Berdasarkan hasil thorax. Berdasarkan hasil
rontgen thorax yang rontgen thorax yang
dilakukan pada tanggal 17 dilakukan pada tanggal 23
Mei 2017 pasien Mei 2017 pasien
mengalami kardiomegali. mengalami edema paru
dengan efusi pleura
Hasil pemeriksaan kimia bilateral.
klinik pada tanggal 18 Mei
2017 menunjukkan nilai Hasil pemeriksaan kimia
Hemoglobin 11,9 g/dl (N : klinik pada tanggal 20 Mei
14-16), Leukosit 16.360 2017 menunjukkan nilai
/mm3 (N : 5.000-10.000), Hemoglobin 6,0 g/dl (N :
Trombosit 90.000/mm3 (N : 14-16), Leukosit 12.900

Poltekkes Kemenkes Padang


150.000-400.000), /mm3 (N : 5.000-10.000),
Hematokrit 36 % (N : 40- Trombosit 286.000/mm3
48), Ph 7, 43 (N : 7,35- (N : 150.000-400.000),
7,45), PCO2 30 mmHg (N: Hematokrit 19 % (N : 40-
35-45mmHg) , PO2 140 48), gula darah sewaku 116
mmHg (N : 95-10mmHg), mg/dl (N : < 200), ureum
HCO3- 19,9 mmol/L., gula darah 195 mg/dl (N : 10,0-
darah sewaktu : 156 mg/dl 50,0), kreatinin darah 3,0
(N : <200 ). mg/dl (0,6-1,1), protein
total 4,8 g/dl (N : 6,6- 8,7),
albumin 3,0 g/dl (3,6-
5,0),globulin 1, 8 g/dl (1,3-
2,7). Hasil pemeriksaan
kimia klinik pada tanggal
20 Mei 2017 menunjukkan
nilai Ph 7, 36 (N : 7,35-
7,45), PCO2 29 mmHg (N:
35-45mmHg) , PO2 188
mmHg (N : 95-10mmHg),
HCO3- 16,4 mmol/L.

Program Terapi Program terapi pengobatan Program terapi pengobatan


dan Rencana yang di dapatkan oleh Tn. yang di dapatkan oleh Tn.
Pengobatan A yaitu : pemberian O2 U yaitu : pemberian O2
binasal 4 liter/i, IVFD Eas RM 10 liter/i, IVFD NaCl
Pfrimmer 500cc/24 jam, 0,9 % 500cc/ 8 jam,
Ceftriaxone 1x 2 gr, lasix Ceftriaxon 1x 2 gr,
1 x 20 gr, Eritromicin 1 x Levoflaxin 1 x 500 mg,
500 gr, Bicnat 3 x 1 mg, drip lasix 5 ampul dalam
As. Folat 1 x 5 mg, 50 cc NaCl 0,9 %, koreksi
Candesartan 1 x 16 mg, Meylon 200 mEq dalam
Clopidogrel 1 x 75 mg. 200 cc NaCl 0,9 %, Vit K
3 x 1 tab, Inj Ca.Glukonas
1 X1 amp, 10 unit
Novorapid dalam 50 cc D
40%, Kalitake 3 x 1.

2. Diagnosa Keperawatan
Tabel 4.2
Diagnosa Keperawatan
Partisipan 1 Partisipan 2
1. Diagnosa keperawatan 1. Diagnosa keperawatan
berdasarkan hasil peneliti berdasarkan hasil observasi
yaitu: penurunan curah peneliti yaitu:
jantung berhubungan dengan penurunan curah jantung

Poltekkes Kemenkes Padang


penurunan kontraksi berhubungan dengan penurunan
ventrikel. kontraksi ventrikel.
Diagnosa keperawatan yang Diagnosa keperawatan yang kedua
kedua gangguan pertukaran adalah gangguan pertukaran gas
gas b/d edema paru. b/d edema paru.
Diagnosa keperawatan yang Diagnosa keperawatan yang ketiga
ketiga adalah kelebihan kelebihan volume cairan
volume cairan berhubungan berhubungan dengan retensi
dengan retensi natrium dan natrium dan air.
air. Diagnosa keperawatan yang yang
2. Diagnosa keperawatan yang keempat ketidakefektifan perfusi
ada di dokumentasi jaringan perifer berhubungan
keperawatan rumah sakit dengan penurunan suplai oksigen
yaitu : penurunan curah ke jaringan.
jantung, ketidakefektifan
pola nafas, ketidakefektifan 2. Diagnosa keperawatan yang ada di
perfusi renal. dokumentasi keperawatan rumah
sakit yaitu : ketidakefektifan pola
nafas, ketidakefektifan perfusi
renal, gangguan metabolisme
karbohidrat.

3. Rencana Keperawatan
Tabel 4.3
Rencana Keperawatan
Partisipan 1 Partisipan 2
Rencana asuhan keperawatan Rencana asuhan keperawatan yang
yang dilakukan pada partisipan 1 dilakukan pada partisipan 2
dengan diagnosa pertama dengan diagnosa pertama penurunan
penurunan curah jantung curah jantung berhubungan dengan
hubungan dengan penurunan penurunan kontraksi ventrikel dengan
kontraksi ventrikel dengan kriteria hasil berdasarkan NOC yaitu
kriteria hasil berdasarkan NOC : efektivitas pompa jantung, status
yaitu : efektivitas pompa sirkulasi, dan monitor vital sign
jantung, status sirkulasi, dan dengan intervensi berdasarkan NIC:
monitor vital sign dengan perawatan jantung dan monitor vital
intervensi berdasarkan NIC: sign.
perawatan jantung dan monitor
vital sign. Rencana asuhan keperawatan pada
diagnosa gangguan pertukaran gas
Rencana asuhan keperawatan berhubungan dengan edema paru
pada diagnosa gangguan dengan kriteria hasil berdasarkan
pertukaran gas berhubungan NOC yaitu : Status respirasi :
dengan edema paru dengan pertukaran gas, Ventilasi dengan

Poltekkes Kemenkes Padang


kriteria hasil berdasarkan NOC intervensi berdasarkan NIC :
yaitu : Status respirasi : manajemen jalan nafas, monitor
pertukaran gas, Ventilasi dengan respirasi dan terapi oksigen.
intervensi berdasarkan NIC :
manajemen jalan nafas, monitor Rencana asuhan keperawatan pada
respirasi dan terapi oksigen. diagnosa kelebihan volume cairan
berhubungan dengan retensi natrium
Rencana asuhan keperawatan dan air dengan kriteria hasil
pada diagnosa kelebihan volume berdasarkan NOC yaitu : Status
cairan berhubungan dengan respirasi : pertukaran gas, Ventilasi
retensi natrium dan air dengan dengan intervensi berdasarkan NIC :
kriteria hasil berdasarkan NOC manajemen jalan nafas, monitor
yaitu : elektrolit dan asam basa/ respirasi dan terapi oksigen.
keseimbangan elektolit,
keseimbangan cairan, dan
kelebihan volume cairan dengan Rencana asuhan keperawatan pada
intervensi berdasarkan NIC: diagnosa ketidakefektifan perfusi
manajemen cairan dan monitor jaringan perifer berhubungan dengan
cairan. gangguan metabolisme zat besi
dengan kriteria hasil berdasarkan
NOC yaitu: status sirkulasi, perfusi
jaringan perifer, tidak efektif dengan
intervensi berdasarkan NIC: terapi
oksigen, monitor vital sigen, dan
manajemen sensasi perifer.
Keterangan : aktifitas
keperawatan terlampir

4. Implementasi Keperawatan
Tabel 4.4
Implementasi Keperawatan
Partisipan 1 Partisipan 2
Implementasi yang dilakukan Implementasi yang dilakukan
selama 6 hari untuk masalah selama 6 hari untuk masalah
adalah penurunan curah jantung penurunan curah jantung adalah
berhubungan dengan penurunan a. Mengkaji adanya nyeri dada
kontraksi ventrikel adalah b. mencatat adanya
a. Mengkaji adanya nyeri bradikakardi, penurunan TD
dada pada pasien.
b. mencatat adanya c. memonitor status
bradikakardi, penurunan kardiovaskuler : irama
TD pada pasien. jantung, tekanan darah.
c. memonitor status d. memonitor status pernafasan
kardiovaskuler : irama pasien
jantung, tekanan darah. e. memonitor balance cairan

Poltekkes Kemenkes Padang


d. memonitor status f. mengatur periode latihan dan
pernafasan pasien istirahat untuk menghindari
e. memonitor balance cairan kelelahan
f. mengatur periode latihan g. memonitor adanya dispnea,
dan istirahat untuk kelelahan.
menghindari kelelahan h. menganjurkan untuk
g. memonitor adanya dispnea, menurunkan stres.
kelelahan. i. Memonitor suhu dan
h. menganjurkan untuk sianosis perifer
menurunkan stres.
i. Memonitor suhu dan Implementasi yang dilakukan
sianosis perifer selama 6 hari untuk masalah
j. Memberikan obat sesuai gangguan pertukaran gas
order dokter Clopidogril 1x berhubungan dengan edema paru
75 mg, candesartan 1x16 adalah :
mg. a. menguskultasi suara nafas,
catat adanya suara
Implementasi yang dilakukan tambahan seperti ronki,
selama 6 hari untuk masalah wheezing.
gangguan pertukaran gas b. Mengajarkan pasien teknik
berhubungan dengan edema paru napas dalam
adalah : c. Mengatur posisi semi
a. menguskultasi suara nafas, fowler untuk mengurangi
catat adanya suara dipsneu
tambahan seperti ronki, d. Memonitor respirasi dan
wheezing. status O2
b. Mengajarkan pasien e. Memonitor rata-rata,
teknik napas dalam kedalaman, dan usaha
c. Mengatur posisi semi respirasi
fowler untuk mengurangi f. Memonitor pola nafas :
dipsneu takipneu
d. Memonitor respirasi dan g. Mengobservasi hasil
status O2 pemeriksaan foto thoraks.
e. Memonitor rata-rata, h. Mengauskultasi suara nafas
kedalaman, dan usaha i. Mengbservasi aliran O2
respirasi j. Memberikan therapy O2
f. Memonitor pola nafas : RM 10 liter dan diganti
takipneu dengan O2 binasal 4 liter
g. Mengobservasi hasil pada hari ke 2.
pemeriksaan foto thoraks.
h. Mengauskultasi suaraImplementasi yang dilakukan
nafas selama 6 hari untuk masalah
i. Mengbservasi aliran O2 kelebihan volume cairan
j. Memberikan therapy O2 berhubungan dengan retensi natrium
binasal 4 liter. dan air dengan :
a. mempertahankan catatan
Implementasi yang dilakukan intake output yang akurat

Poltekkes Kemenkes Padang


selama 6 hari untuk masalah b. monitor hasil Hb yang sesuai
kelebihan volume cairan dengan retensi cairan (BUN,
berhubungan dengan retensi Hematokrit, Osmolaritas
natrium dan air dengan : urine)
a. mempertahankan catatan c. memonitor vital sign
intake output yang akurat d. memonitor indikasi retensi
b. memonitor hasil Hb yang e. mengkaji luas dan lokasi
sesuai dengan retensi edema
cairan (BUN, Hematokrit, f. memonitor status nutrisi,
Osmolaritas urine) melakukan kolaborasi
c. memonitor vital sign, dengan dokter dalam
memonitor indikasi retensi pemerian dri lasix 5 amp
d. mengkaji luas dan lokasi dalam 50 cc NaCl 0,9%,
edema g. mengkolaborasi dengan
e. memonitor status nutrisi, dokter jika tanda cairan
diet DJ 1800 kkal ML. berlebihan muncul
f. pemberian inj lasix 1x 20 memburuk
gram h. menentukan riwayat jumlah
g. melakukan kolaborasi dan tipe intake cairan dan
dengan dokter jika tanda eliminasi
cairan berlebihan muncul i. menentukan kemungkinan
memburuk faktor risiko dari
h. menentukan riwayat ketidakseimbangan cairan
jumlah dan tipe intake j. memonitor tekanan darah
cairan dan eliminasi orthostatik dan perubahan
i. menentukan kemungkinan irama jantung.
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan Implementasi yang dilakukan
j. memonitor tekanan darah selama 6 hari untuk masalah
orthostatik dan perubahan ketidakefektifan perfusi jaringan
irama jantung. perifer berhubungan dengan dengan
:
a. memonitor tekanan darah,
nadi, suhu dan pernapasan
b. mencatat adanya fluktuasi
tekanan darah
c. memonitor kualitas nadi.
memonitor pola pernapasan
d. berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi PRC
2 x 250 gram pada hari
pertama rawatan.

Poltekkes Kemenkes Padang


5. Evaluasi Keperawatan
Tabel 4.5
Evaluasi Keperawatan
Partisipan 1 Partisipan 2
Hasil evaluasi pada hari ke 6 Hasil evaluasi pada hari ke 6 yang
yang didapatkan pada diagnosa didapatkan pada diagnosa penurunan
penurunan curah jantung curah jantung adalah sistol dan
berhubungan dengan penurunan diastole sudah dalam rentang normal
kontraksi ventrikel adalah sistol 130/ 80 mmHg, edema perifer mulai
dan diastole sudah dalam berkurang, sudah tidak ada dispneu
rentang normal 110/ 80 mmHg, saat istirahat, MAP sudah dalam
edema perifer mulai berkurang, rentang normal 96 , denyut nadi dalam
sudah tidak ada dispneu saat rentang normal 80 x/i.
istirahat, MAP sudah dalam Hasil evaluasi pada hari ke 6 yang
rentang normal : 90, denyut nadi didapatkan pada diagnosa gangguan
dalam rentang normal 74 x/i. pertukaran gas adalah PCO2 dan PO2
Hasil evaluasi pada hari ke 6 dalam rentang normal, tidak ada
yang didapatkan pada diagnosa dispneu saat istirahat, RR sudah dalam
gangguan pertukaran gas adalah rentang normal 24 x/i.
PCO2 dan PO2 dalam rentang Hasil evaluasi pada hari ke 6 yang
normal, tidak ada dispneu saat didapatkan pada diagnosa
istirahat, RR sudah dalam keperawatan kelebihan volume cairan
rentang normal 20x/i berhubungan dengan retensi natrium
Hasil evaluasi pada hari ke 6 dan air adalah pasien mengatakan
yang didapatkan pada diagnosa bengkak pada kakinya sudah mulai
kelebihan volume cairan berkurang, urin pasien 1200 cc/hari,
berhubungan dengan retensi warna urin pasien sudah kekuningan
natrium dan air adalah pasien dan jernih. .
mengatakan bengkak pada Hasil evaluasi pada hari ke 6 yang
kakinya sudah mulai berkurang, didapatkan pada diagnosa
urin pasien 1500 cc/hari, warna keperawatan ketidakefektifan perfusi
urin pasien sudah kekuningan jaringan perifer berhubungan dengan
dan jernih. penurunan suplai oksigen ke jaringan
yang ditandai dengan anemis mulai
berkurang , akral teraba hangat dan
CRT < 2 detik.

Poltekkes Kemenkes Padang


C. Pembahasan Kasus
Pada pembahasan kasus ini peneliti akan membahas kesinambungan
antara teori dengan laporan kasus asuhan keperawatan pada Partisipan 1
dan Partisipan 2 dengan penyakit Congestive Heart Failure (CHF) yang
telah dilakukan sejak tanggal 18 Mei sampai dengan 26 Mei 2017 di
Ruang Penyakit Dalam Pria RSUP DR. M. Djamil Padang. Dimana
pembahasan ini sesuai dengan tahapan asuhan keperawatan yang dimulai
pada tahap pengkajian, merumuskan diagnosis keperawatan, menyusun
rencana keperawatan, melakukan implementasi keperawatan, hingga
proses evaluasi keperawatan.
1. Pengkajian Keperawatan
Partisipan 1 berusia 62 tahun pekerjaan sebagai petani dengan tingkat
pendidikan SMA, dan partisipan 2 berusia 53 tahun pekerjaan sehari-
hari sebagai pedagang dengan tingkat pendidikan SMA. Kedua
partisipan sama-sama berjenis kelamin laki-laki. Penyakit CHF
memiliki tingkat risiko tersendiri berdasarkan jenis kelamin dan usia.
Menurut Hamzah (2016) mengatakan bahwa terdapat 60 % atau 36
pasien CHF berjenis kelamin pria yang sedang menjalani rawatan
sedangkan pasien wanita sebanyak 40 % atau 27 orang.

Kasus pada partisipan 1 dan partisipan 2 dengan keluhan sesak nafas


(dispnea), kelemahan , mudah lelah, pucat, bradikardi/ takikardi dan
edema ekstremitas, merupakan keluhan utama pada pasien CHF yang
dirasakan sebelum dan saat dibawa kerumah sakit. Keluhan tersebut
sesuia dengan teori Kasron (2012) bahwa pada pasien CHF biasanya
didapatkan keluhan yang berbeda, mulai dari sesak nafas, kegelisahan
atau kecemasan akibat gangguan oksigenasi, edema pada ekstremitas
bawah, anoreksia dan kelemahan. Pada partisipan II sesak nafas
(dipsneu) yang dialami terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli
yang menggangggu pertukaran gas, dipsneu bahkan dapat terjadi saat

Poltekkes Kemenkes Padang


istirahat atau dicetuskan oleh gerakan yang minimal atau sedang.
Ortopneu atau kesulitan bernafas saat berbaring pada partisipan I dan
II disebabkan cairan yang tertimbun di ekstremitas yang sebelumnya
berada di bawah mulai mulai diabsorbsi dan ventrikel kiri yang sudah
terganggu tidak mampu mengosongkan peningkatan volume dengan
adekuat, akibatnya tekanan dalam sirkulasi paru meningkat dan cairan
berpindah ke alveoli (Smeltzer & Bare, 2013).

Menurut asumsi peneliti, gejala yang dirasakan oleh kedua partisipan


tersebut sesuai dengan teori. Pasien CHF dengan grade III dan IV akan
mengalami kongestive atau kegagalan pemompaan pada pada kedua
ventrikel kiri dan kanan hal ini yang menyebabkan pasien juga
mengalami peningkatan vena jugularis, kardiomegali dan edema
ekstremitas.

Pada riwayat kesehatan dahulu partisipan I pasien memiliki riwayat


hipertensi yang tidak dikontrol sejak 13 tahun yang lalu , memiliki
riwayat merokok, dan riwayat stroke sebelumnya, klien sering
menkonsumsi makanan bersantan dan gorengan. Riwayat kesehatan
dahulu partisipan II, pasien sebelumnya pernah menderita penyakit
jantung 6 bulan yang lalu, pasien menderita hipertensi dan DM tipe II
sejak 2 tahun yang lalu, pasien mengatakan tidak memiliki kebiasaan
merokok dan minum alkohol.

Menurut asumsi peneliti, faktor resiko yang menjadi pemicu penyakit


CHF pada partisipan I adalah riwayat hipertensi sebelumnya dan
kebiasaan merokok, sedangkan pada partisipan II faktor resiko yang
menjadi pemicunya yaitu riwayat jantung sebelumnya, hipertensi dan
riwayat DM tipe II. Hasil pengkajian tersebut sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Nurhayati & Nuraini (2009), dari 30 orang
responden yang mengalami CHF 53,3 % disebakan karena riwayat
merokok, 50 % disebabkan karena riwayat DM, 66, 7 % disebabkan

Poltekkes Kemenkes Padang


karena hipertensi, dan 97,67 % disebabkan karena memiliki pola
makan yang tidak baik.

Saat pengkajian pada partisipan II ditemukan pasien terpasang O2


Rebreating mask 10 liter. Menurut asumsi peneliti pasien terpasang O2
rebreating mask disebabkan gangguan pertukaran gas yang terjadi pada
sistem pernapasan pasien dibuktikan dengan nilai analisa gas darah
PCO2 yang rendah 29 mmHg.

Pada terapi pengobatan partisipan I mendapat obat terapi jantung


berupa Clopidogril 1x 75 mg dan candesartan 1x16 mg, O2 melalui
binasal 4 liter/i dan lasix 1 x 20 gr, sedangkan partisipan II
mendapatkan terapi 02 melalui Rebreathing mask 10 liter/I, IVFD
NaCl 0,9 % 500cc/ 8 jam dan drip lasix 5 ampul dalam 50 cc NaCl 0,9
%. Menurut Kasron (2012), terapi pengobatan yang tepat untuk pasien
dengan CHF ini yaitunya dengan pemberian oksigenasi, pembatasan
cairan, terapi diuretik, dan pemberian obat ACE inhibitor untuk
meningkatkan COP dan menurunkan kerja jantung.

Berdasarkan hasil pengkajian yang ditemukan peneliti dalam


melakukan pengkajian sudah sesuai dengan apa yang sudah dikaji,
sehingga tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktik.

2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data hasil pengkajian dan hasil pemeriksaan labolatorium
yang dilakukan pada dua kasus, pada partisipan I ditemukan 3 masalah
keperawatan dan pada partisipan II ditemukan 4 masalah keperawatan.
Masalah keperawatan yang sama antara partisipan I dan partisipan II
yaitu : penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan
kontraksi ventrikel, yang ditandai dengan pasien mengalami bradikardi
/ takikardi, tekanan darah menurun, akral teraba dingin, pasien tampak
lemah dan pucat, terdapat distensi vena jugularis. Hal ni sesuai dengan

Poltekkes Kemenkes Padang


batasan karakteristik diagnosa ini yaitu perubahan frekuensi/irama
jantung : bradikardia, takikardia, perubahan preload : distensi vena
jugularis, keletihan, edema, perubahan afterload : dipsnea, penurunan
nadi perifer, perubahan tekanan darah , perubahan warna kulit,
perubahan kontraktilitas : batuk, bunyi S3 dan S4, orthopnea, dipsnea ,
perilaku/emosi : gelisah, ansietas (NANDA,2015).

Diagnosa yang kedua yaitu gangguan pertukaran gas b/d edema paru
yang ditandai dengan pasien mengalami sesak nafas saat beraktivitas
maupun istirahat, hasil analisa gas darah menunjukkan penurunan
CO2, pasien gelisah. Hal ini sesuai dengan batasan karakeristiknya
yaitu dispnea, gas darah arteri abnormal, gelisah, hipoksemia,
hipoksia, iritailitas, konfusi, nafas cuping hidung, penurunan
carbondioksida, pH arteri abnormal, pola pernapasan abnormal,
sianosis, samnolen, takikardia, warna kulit abnormal. (NANDA,2015).

Diagnosa yang ketiga yaitu kelebihan volume cairan berhubungan


dengan meningkatnya produksi ADH dan retensi natrium dan air yang
ditandai dengan pasien mengalami edema pada ekstremitas bawah,
sesak nafas, dan distensi vena jugularis. Hal ini sesuai dengan batasan
karakteristiknya yaitu ada bunyi jantung S3, asupan melebihi
haluaran, dispnea, distensi vena jugularis, edema, efusi pleura,
gangguan pola napas, gangguan tekanan darah, gelisah,
ketidakseimbangan elektrolit, kongesti pulmonal, oligouria,orthonea,
penambahan berat badan dalam waktu singkat, penurunan hematokrit,
penurunan hemoglobin, perubahan berat jenis urin (NANDA, 2015)

Masalah keperawatan yang ditemukan pada partisipan II dan tidak


ditemukan pada partisipan I yaitu ketidakefektifan perfusi jaringan
perifer berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke jaringan
yang ditandai dengan pasien tampak lemah, akral teraba dingin, CRT >
3 detik, dan pasien mengalami penurunan Hemoglobin. Hal ini sesuai

Poltekkes Kemenkes Padang


dengan batasan karakteristiknya yaitu edema, penurunan nadi perifer,
perubahan tekanan darah di ekstremitas, perubahan karakteristik kulit,
waktu pengisian kapiler >3 detik, warna tidak kembali ke tungkai 1
menit setelah tungkai diturunkan.

Menurut analisa peneliti diagnosis gangguan pertukaran gas


berhubungan dengan edema paru dan ketidakefektifan perfusi jaringan
perifer berhubungan dengan berkurangnya suplai oksigen ke jaringan,
merupakan masalah lain yang muncul akibat data pendukung yang
didapatkan peneliti pada saat pengkajian.

Berdasarkan diagnosa yang ada di teori peneliti menemukan


kesenjangan, bahwa tidak semua diagnosa yang ada dalam teori
muncul dalam kasus penelitian. Menurut Wijaya & Yessi (2013)
diagnosa keperawatan yang dapat diangkat pada CHF yaitu :
Penurunan curah jantung, ketidakefektifan bersihan jalan nafas,
gangguan pertukaran gas, kelebihan volume cairan ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer, ketidakefektifitas pola nafas, intoleransi
aktivitas,nyeri akut, ketidakseimabnagan nutrisi, dan ansietas.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hafifah (2012) di ruangan


Bougenville RSUD Panagarang, diagnosa yang muncul pada pasien
dengan CHF yaitu penurunan curah jantung berhubungan dengan
penurunan kontraksi ventrikel, kelebihan volume cairan berhubungan
dengan retensi natrium dan air, pola nafas tidak efektif berhubungan
dengan ekspansi paru yang tidak optimal, serta intoleransi aktivitas
berhubungan dengan insufiensi oksigen.

Diagnosa diatas yang tidak muncul pada pasien karena tidak


ditemukan data yang memungkinkan untuk mengakkan diagnosa
tersebut. Diagnosa keperawatan merupakan respon pasien terhadap
perubahan patologis dan fisiologis, dimana perubahan itu timbul akibat

Poltekkes Kemenkes Padang


dari proses penyakit yang setiap orang akan mengalami suatu
perubahan yang berbeda sehingga kesenjangan antara teori dan hasil
peneliti dapat terjadi.

3. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosis keperawatan
yang ditemukan pada kasus. Intervensi keperawatan tersebut terdiri dari
Nursing Intervention Classification (NIC) dan Nursing Outcomes
Classifications (NOC).

Rencana asuhan keperawatan yang akan dilakukan kedua partisipan


dengan masalah keperawatan penurunan curah jantung berhubungan
dengan penurunan kontraksi ventrikel dengan kriteria hasil berdasarkan
NOC yaitu : efektivitas pompa jantung, status sirkulasi, dan monitor vital
sign dengan intervensi berdasarkan NIC: evaluasi adanya nyeri dada
(intensitas, lokasi, durasi, frekuensi), catat adanya tanda dan gejala
penurunan cardiac output, monitor status kardiovaskuler, monitor status
pernafasan yang menandakan Heart Failure, monitor balance cairan,
monitor adanya perubahan perubahan nadi dan tekanan darah, atur
periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan, monitor
adanya dispnea, ortopnea, dan takipnea, dan anjurkan untuk menurunkan
stres.

Rencana asuhan keperawatan pada diagnosa gangguan pertukaran gas


berhubungan edema paru dengan kriteria hasil berdasarkan NOC yaitu :
Status respirasi : pertukaran gas, Ventilasi dengan intervensi berdasarkan
NIC : lakukan fisioterapi dada jika perlu, auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan, anjurkan pasien bernafas pelan dan dalam, atur
posisi untuk mengurangi dipsneu, monitor respirasi dan status O2,
monitor rata-rata, kedalaman, dan usaha respirasi, monitor pola nafas :
takipneu, observasi hasil pemeriksaan foto thoraks, auskultasi suara
nafas, observasi aliran O2, berikan therapy O2 sesuai indikasi.

Poltekkes Kemenkes Padang


Rencana asuhan keperawatan pada diagnosa kelebihan volume cairan
berhubungan dengan retensi natrium dan air dengan kriteria hasil
berdasarkan NOC yaitu : elektrolit dan asam basa/ keseimbangan
elektolit, keseimbangan cairan, dan kelebihan volume cairan dengan
intervensi berdasarkan NIC: Pertahankan catatan intake output yang
akurat, monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN,
Hematokrit, Osmolaritas urine), monitor vital sign, monitor indikasi
retensi, kaji luas dan lokasi edema, monitor status nutrisi, kolaborasi
dengan dokter jika tanda cairan berlebihan muncul memburuk, tentukan
riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi, tentukan
kemungkinan faktor risiko dari ketidakseimbangan cairan dan monitor
tekanan darah orthostatik dan perubahan irama jantung.

Rencana asuhan keperawatan yang dilakukan pada masalah keperawatan


partisipan II (Tn. U) dengan diagnosa keperawatan ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer berhubungan dengan gangguan metabolisme zat
besi dengan kriteria hasil berdasarkan NOC yaitu: circulation status,
tissue perfusion: peripheral, ineffective dengan intervensi berdasarkan
NIC: monitor tekanan darah, nadi, suhdenu dan pernapasan, catat adanya
fluktuasi tekanan darah, monitor kualitas nadi. Monitor pola pernapsan,
monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panan, dingin,
tajam/tumpul.

Menurut peneliti dalam penyususnan rencana yanga akan dilakukan pada


kedua partsipan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus yang
ditemukan dalam penetapan intervensi yang akana dilakukan.
Penyusunan perencanaan yang dibutuhkan oleh pasien dalam upaya
pemulihan derajat kesehatan pasien.

Poltekkes Kemenkes Padang


4. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan tindakan keperawatan pada partisipan I dan II dilaksanakan
dalam waktu yang berbeda. Pada partisipan I asuhan atau pelaksanaan
tindakan keperawatan dilaksanakan mulai tanggal 18 Mei 2017 sampai
dengan tanggal 23 Mei 2017. Sedangkan untuk partisipan II pelaksanaan
tindakan keperawatan dimulai tanggal 21 Mei 2017 sampai dengan
tanggal 26 Mei 2017. Pelaksanaan tindakan keperawatan tidak
dikerjakan seluruhnya oleh peneliti karena peneliti tidak berdinas
selama 24 jam. Strategi yang dilaksanakan pada pelaksanaan tindakan
keperawatan adalah dengan mendelegasikan kedua responden kepada
perawat ruangan dan kepada mahasiswa yang dinas di ruangan tersebut.
Peneliti melihat semua tindakan yang dilakukan melalui buku laporan
yang berada pada ruangan.

Secara umum rencana pada masing – masing masalah keperawatan dapat


dilakukan tapi tidak optimal. Pada masalah penurunan curah jantung
berhubungan dengan penurunan kontraksi ventrikel tindakan yang dapat
dilakukan yaitu mengkaji adanya nyeri dada, mengatur periode latihan
dan istirahat untuk menghindari kelelahan, memonitor adanya dispnea,
kelelahan, menganjurkan untuk menurunkan stress, memonitor suhu dan
sianosis perifer, memberikan obat sesuai order dokter Clopidogril 1x 75
mg, candesartan 1x16 mg. Sementara itu untuk mencatat adanya
bradikakardi/takikardi dan pemantauan irama jantung atau memonitor
status kardiovaskuler sulit dilakukan karena minimnya fasilitas yang ada
di ruangan seperti keterbatasan monitor jantung paru dan keterbatasan
alat EKG. Implementasi yang dilakukan sesuai dengan rencana dan terori
yang dikemukakan oleh Kasron (2012), yaitu salah satu tindakan yang
dilakukan untuk meningkatkan COP dan menurunkan kerja jantung yaitu
dengan pemberian obat ACE inhibitor.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hafifah (2012) di ruangan


Bougenville RSUD Panagarang, implementasi yag dapat dilakukan untuk

Poltekkes Kemenkes Padang


masalah keperawatan penurunan curah jantung ini adalah mengauskultasi
nadi apikal, mengkaji frekuensi, irama jantung, memantau urine output,
memantau TD, memantau keadaan kulit, tinggikan kaki, berikan istirahat
rekumben, ciptakan lingkungan yang nyaman, memberikan oksigen
tambahan, memberikan obat oral Aptor 100 mg/ 24 jam, captropil 12,5
mg / 24 jam, CPG 100 mg /24 jam, Aprazolam 0,5 mg / 24 jam.

Implementasi yang dapat dilakukan untuk masalah gangguan pertukaran


gas berhubungan dengan edema paru yaitu menguskultasi suara nafas,
mencatat adanya suara tambahan seperti ronki, wheezing, mengajarkan
pasien teknik napas dalam, mengatur posisi semi fowler untuk
mengurangi dipsneu, memonitor respirasi dan status O2, memonitor
rata-rata, kedalaman, dan usaha respirasi, memonitor pola nafas :
takipneu, mengobservasi hasil pemeriksaan foto thoraks, mengauskultasi
suara nafas, mengobservasi aliran O2, memberikan therapy O2 binasal 4
liter pada Tn. A dan 10 liter melalui RM pada Tn. U. Dalam hal ini
semua rencana keperawatan dapat terlaksana dengan baik, pada diagnosa
gangguan pertukaran gas untuk pencapaian evaluasi yang optimal agar
dapat direncanakan tindakan selanjutnya perlu adanya pemantauan
analisa gas darah terutama nilai PCO2 untuk dapat menentukan tingkatan
kebutuhan oksigenasi pada pasien.

Implementasi yang dapat untuk masalah kelebihan volume cairan


berhubungan dengan retensi natrium dan air dengan mempertahankan
catatan intake output yang akurat, memonitor hasil Hb yang sesuai
dengan retensi cairan (BUN, Hematokrit, Osmolaritas urine), memonitor
vital sign, memonitor indikasi retensi, mengkaji luas dan lokasi edema,
pemberian inj lasix 1x 20 gram, menentukan riwayat jumlah dan tipe
intake cairan dan eliminasi. Tindakan monitoring intake dan output cairan
pada kedua partisipan ini tidak efektif dikarenakan perhitungan output
pasien tidak akurat dengan hanya melihat angka pada urin bag.

Poltekkes Kemenkes Padang


Menurut Kasron (2012), tindakan non farmakologis yang dapat dilakukan
untuk mengurangi edema pada pasien CHF yaitu dengan diet pembatasan
natrium (< 4 gr/hari), mengehentikan obat-obatan yang dapat
memperparah kondisi ginjal seperti obat jenis NSAIDs karena efek
prostaglandinnya pada ginjal dapat menyebabkan retensi natrium dan air,
serta dengan pembatasan cairan lebih kurang 1200 – 1500 cc/hari.

Implementasi yang dilakukan untuk masalah ketidakefektifan perfusi


jaringan perifer berhubungan dengan gangguan metabolisme zat besi
dengan memonitor tekanan darah, nadi, suhu dan pernapasan, mencatat
adanya fluktuasi tekanan darah, memonitor kualitas nadi. memonitor pola
pernapsan, memonitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap
panan, dingin, tajam/tumpul, berkolaborasi dengan dokter dalam
pemberian terapi PRC 2 x 250 gram.

Menurut Hendrata & Reginald (2010), penanganan anemia pada


penderita gagal jantung kongestife dapat berupa penggunaan transfusi
darah yang diberikan bila kadar Hb < 8 g%. Akan tetapi pemberian
transfusi darah hanya dianjurkan untuk mengatasi keadaan akut pada
anemia erat dan tidak ditujukan untuk penanganan jangka panjang
terhadap anemia pada gagal jantung hal ini dikarenakan transfusi juga
beresiko terhadap terjadinya berbagai efek samping seperti supresi sistem
imun dengan resiko terinfeksi, sensitisasi terhadap antigen HLA, serta
kelebihan cairan dan besi.

5. Evaluasi Keperawatan
Menurut Suara,Mahyar, dkk (2010) evaluasi keperawatan terdiri dalam
beberapa komponen yaitu, tanggal dan waktu dilakukan evaluasi
keperawatan, diagnosa keperawatan, dan evaluasi keperawatan. Evaluasi
keperawatan ini dilakukan dalam bentuk SOAP (subjektif, objektif,
assessment, dan planning). Evaluasi yang dilakukan selama 6 hari pada
kedua partisipan tidaklah sama.

Poltekkes Kemenkes Padang


Hasil evaluasi yang sudah didapatkan setelah perawatan selama enam
hari terhadap kedua partisipan yaitu Tn. A dengan masalah penurunan
curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraksi ventrikel adalah
sistol dan diastole dalam rentang normal 110/ 80 mmHg, edema perifer
mulai berkurang, sudah tidak ada dispneu saat istirahat, MAP dalam
rentang normal : 95, denyut nadi dalam rentang normal 74 x/i. hasil
evaluasi yang didapatkan pada partisipan II yaitu sistol dan diastole
dalam rentang normal 130/ 80 mmHg, edema perifer mulai berkurang,
sudah tidak ada dispneu saat istirahat, MAP sudah dalam rentang
normal , denyut nadi dalam rentang normal 80 x/i. Berdasarkan analisa
peneliti masalah penurunan curah jantung sudah mulai teratasi.

Hasil evaluasi yang didapatkan dengan masalah keperawatan gangguan


pertukaran gas berhubungan dengan edema paru pada partisipan I PCO2 :
36 mmol/L dan PO2 188 mmol/L, tidak ada dispneu saat istirahat, RR :
20x/I. Pada partisipan II didapatkan hasil PCO2 : 31 mmol/L dan PO2 :
178 mmol/L dalam rentang normal, tidak ada dispneu saat istirahat, RR :
24 x/i. Berdasarkan analisa peneliti masalah gangguan pertukaran gas
berhubungan dengan edema paru teratasi pada kasus Tn. A, sedangkan
pada Tn. U dari hasil analisa gas darah pada tanggal 22 Mei 2017
menunjukkan nilai PCO2 masih di bawah normal yaitu 31 mmol/L
(normal 35- 45 mmol/L), pasien pulang dengan hari rawatan ke 6 pada
tanggal 26 Mei 2016 tetapi pemeriksaan AGD terbaru belum dilakukan.
Peneliti menggambil kesimpulan bahwa dilihat dari data subjektif dan
objektif yang menunjukan Tn. U sudah tidak mengalami sesak nafas
maka masalah keperawatan gangguan pertukaran gas sudah teratasi.

Menurut Sibuea, Herdin dkk (2009), pasien yang sudah mengalami


edema paru akan mengalami dipsnea yang sangat berat yang dapat
menimbulkan kekurangan oksigen yang beart dan sianosis dan kemudian
akan menimbulkan mati lemas.

Poltekkes Kemenkes Padang


Hasil evaluasi didapatkan pada diagnosa keperawatan kelebihan volume
cairan berhubungan dengan retensi natrium dan air pada partisipan I
adalah pasien mengatakan bengkak pada kakinya sudah mulai berkurang,
urin pasien 1500 cc/hari, warna urin pasien sudah kekuningan dan jernih.
Hasil evaluasi pada partisipan II yaitu pasien mengatakan bengkak pada
kakinya sudah mulai berkurang, urin pasien 1200 cc/hari, warna urin
pasien sudah kekuningan dan jernih. Berdasarkan asumsi peneliti
masalah kelebihan volume cairan pada partisipan I dan II sudah teratasi.

Hasil evaluasi yang didapatkan pada diagnosa keperawatan


ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
suplai oksigen ke jaringan yang ditandai dengan pasien mengatakan
penurunan suplai oksigen ke jaringan yang ditandai dengan anemis mulai
berkurang, Hb terakhir : 7,3 gr/dl, akral teraba hangat dan CRT < 2 detik.
Berdasarkan asumsi peneliti masalah ketidakefektifan perfusi jaringan
perifer pada partisipan I mulai teratasi.

Jadi hasil evaluasi tindakan yang dilakukan selama 6 hari yaitu evaluasi
berdasarkan pada NOC. Hasil yang tercapai pada partisipan I yaitu:
Cardiac Pump Effectiveness, Circulation Status, Vital signs, Respiratory
Status : Ventilation, Respiratory :Airway Patency, Electrolit And
Acid/Base Balance, Fluid Balance, Fluid Overload Severity. Semua
masalah sudah teratasi dengan baik. Evaluasi yang berhasil tercapai
sesuai dengan kriteria hasil pada partisipan II adalah Respiratory Status :
Ventilation, Respiratory :Airway Patency, Electrolit And Acid/Base
Balance, Fluid Balance, Fluid Overload Severity, circulation status,
tissue perfusion: peripheral, ineffective.

Dalam pelaksanaan pengambilan data asuhan keperawatan peneliti tidak


menemukan hambatan dalam hal ini karena kerja sama yang baik dengan
perawat ruangan dan mahasiswa yang sedang berdinas di ruangan.

Poltekkes Kemenkes Padang


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian penerapan asuhan keperawatan pada
partisipan I dan partisipan II pada pasien CHF (Congestive Heart Failure)
di Penyakit Dalam Pria IRNA Non-bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang
peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengkajian yang didapatkan dari kedua partisipan menunjukkan
adanya tanda gejala yang sama yang dirasakan oleh kedua partisipan.
Keluhan yang dirasakan oleh partisipan 1 juga dirasakan oleh
partisipan 2. Tanda dan gejala yang muncul yang dirasakan oleh kedua
partisipan yaitu nafas sesak, nyeri dada, edema pada ekstremitas
bawah, dan kelemahan. Partisipan I terpasang oksigen nasal kanul dan
partisipan II terpasang oksigen Rebreathing Mask. Saat dilkukan
pemeriksaan didapatkan pada partisipan I tekanan darah 90/80 mmHg,
nadi 58 kali/I, pernafasan 25x/I, dan suhu 36, 5 0C. Hasil pemeriksaan
hematologi pada Tn. A yaitu Hemoglobin 11,9 g/dl , Leukosit 16.360
/mm3, Trombosit 90.000/mm3, Ph 7, 43, PCO2 30 mmHg, PO2 140
mmHg.pada partisipan II didaptkan tekanan darah 150/100 mmHg,
nadi 89 x/I, suhu 36,8 0C, dan pernafasan 31 x/i. Hasil pemeriksaan
hematologi pada Tn. A yaitu Hemoglobin 6,0 g/dl , Leukosit 12.900
/mm3, Trombosit 286.000/mm3, Ph 7,36, PCO2 29 mmHg, PO2 188
mmHg. Hal ini menunjukkan bahwa, jika seseorang pasien dengan
penyakit CHF memiliki kemungkinan akan muncul masalah dan
keluhan yang sama yang dirasakan oleh penderita.
2. Diagnosa keperawatan yang muncul pada kedua partisipan yaitu
Kelebihan volume cairan, resiko penurunan curah jantung, dan
gangguan pertukaran gas. Pada partisipan II memiliki satu diagnosa
lain yaitu ketidakefektifan perfusi jaringan perifer.
3. Hasil yang diperoleh dari intervensi yang dilakukan oleh peneliti, baik
intervensi yang dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi seperti

Poltekkes Kemenkes Padang


mengatur posisi, memonitor TTV, pemberian oksigen dan terapi obat-
obatan, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan meringankan kerja
dari jantung pasien.

4. Implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan yang


telah peneliti susun. Implementasi keperawatan yang dilakukan pada
kasus seperti pemantauan TTV, pemberian terapi oksigen dan terapi
pengobatan. Dalam proses implementasi yang dilakukan sesuai dengan
intervensi yang direncanakan.
5. Evaluasi yang dilakukan oleh peneliti pada kedua partisipan dilakukan
selama 6 hari rawatan oleh peneliti dan dibuat dalam bentuk SOAP.
Hasil evaluasi yang dilakukan oleh peneliti pada partisipan I dan II
menunjukkan bahwa masalah keperawatan yang dialami kedua
partisipan sudah teratasi dengan cukup baik.

B. Saran
1. Bagi Direktur RSUP. Dr. M. Djamil Padang
Melalui pimpinan rumah sakit diharapkan dapat memberikan motivasi
dan bimbingan kepada semua staff agar dapat memeberikan asuhan
keperawatan secara optimal kepada pasien dan lebih meningkatkan
mutu pelayanan di rumah sakit.
2. Bagi perawat ruangan
Studi kasus yang peneliti lakukan tentang asuhan keperawatan pada
pasien dengan CHF (Congestive Heart Failure) di Ruangan Penyakit
Dalam Pria IRNA Non-Bedah RSUP. Dr. M. Djamil padang dapat
menjadi acuan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan
secara profesional dan komprehensif. Peneliti juga memberikan saran
agar perawat ruangan memberikan promosi kesehatan tentang CHF
pada pasien dan keluarga agar dampak dari penyakit ini bisa dicegah
lebih lanjut.

Poltekkes Kemenkes Padang


3. Bagi Mahasiswa dan Peneliti selanjutnya
Hasil penelitian yang peneliti dapatkan diharapkan dapat menjadi
acuan dan menjadi bahan pembanding pada peneliti selanjutnya dalam
melakukan penelitian pada pasien dengan CHF (Congestive Heart
Failure).

Poltekkes Kemenkes Padang


DAFTAR PUSTAKA

Bararah, T dan Jauhar, M. 2013. Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi

Perawat Profesional. Jakarta : Prestasi Pustakaraya


Bulechek, Gloria dkk. 2016. Nursing Interventions Clasifications (NIC).
Indonesia: Mocommedia.
Guyton, Arthur and Hall. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Hamzah, Rori. 2016. Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Kualitas Hidup
pada Pasien Gagal Jantung. Di akses di http://opac.unisayogya.ac.id /2256/
1/NASKAH%20PUBLIKASI%20(RORI%20HAMZAH).pdf pada tanggal
23 Maret 2017.
Kasron. 2012. Kelainan dan Penyakit Jantung : Pencegahan serta
Pengobatannya. Yogyakarta : Nuha Medika
Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Diakses dari
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%Riskesdas%20
2013.pdf pada tanggal 10 januari 2017
Moorhead, Sue dkk. 2016. Nursing Outcomes Clasification (NOC). Indonesia:
Mocomedia.
Muttaqin, arif. 2012. Buku ajar Asuhan keperawatan klien dengan gangguan
sistem kardiovaskular dan hematologi. Jakarta: Salemba Medika
NANDA International. 2015. Diagnosis Keperawatan (Defenisi dan Klasifikasi
2015-2017). Jakarta: EGC.
Nurhayati, Eius dan Nuraini. 2009. Gambaran faktor resiko terhadap penyakit
gagal jantung di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Di akses tanggal 23
Maret 2017 di http://stikesayani.ac.id/publikasi/e-journal/filesx/2010/
201004 /201004-004. pdf
Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Para Medis. Jakarta:
Gramedia.
Profil RSUP Dr. M.Djamil Padang. (2014). 10 Penyakit Terbanyak Rawat Inap
Tahun 2014. Diakses pada tanggal 2 Januari 2017 dari http:// www.rsdjamil.
co.id/pages/10penyakit ter banyak -rawatinaptahun2014.
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. (2014). Situasi Kesehatan
Jantung 2014. Diakses pada tanggal 23 Maret 2017 di

Poltekkes Kemenkes Padang


http://www.depkes.go.id/resources/download/ pusdatin/profil-kesehatan
indonesia/profil- kesehatan-indonesia-2014.pdf
Robbins, Stanley L. 2007. Buku Ajar Patologi Jakarta: EGC.
Robinson, Joan and Lyndon. 2014. Buku Ajar Nursing Visual : Medikal Bedah.
Tanggerang Selatan : Binarupa Aksara.
Sibuea, Herdin dkk. 2009. Ilmu Penyakit Dalam Ed. 2. Jakarta : Rineka Cipta
Smelzer, Suzanne dan Bare Brenda. 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddart. Jakarta: EGC.
Supardi, Sudibyo dan Rustika. 2013. Buku Ajar Metodologi Riset Keperawatan.
Jakarta: CV Trans Into Media.
Syaifuddin, Haji. 2012. Anatomi Fisiologi Ed.2. Jakarta: EGC.
Wijaya, Andra Saferi dan Putri, Yessie Marita. 2013. Keperawatan Medikal
Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika.

Poltekkes Kemenkes Padang


Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
Lampiran 4
FORMAT DOKUMENTASI
ASUHAN KEPERAWATAN RESPONDEN I

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. PENGUMPULAN DATA
a. Identifikasi Klien:
1) Nama : Tn A
2) Tempat/ tanggal lahir : Agam / 2-8-1954
3) Jenis kelamin : Laki-laki
4) Status kawin : Kawin
5) Agama : Islam
6) Pendidikan : SMU
7) Pekerjaan : Petani
8) Alamat : Batu Kambing IV nagari Agam
9) Diagnosa medis : CHF fc III + CKD Stage V + BP
b. Identififkasi Penanggung Jawab
1) Nama : Ny. J
2) Pekerjaan : IRT
3) Alamat : Batu Kambing IV nagari Agam
4) Hubungan : Istri
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang:
a. KeluhanUtama
Pasien masuk melalui IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang pada
tanggal 16 Mei 2017 pukul 21.30 WIB, rujukan dari RSUD
Lubuk Basung. Saat dilakukan pengkajian tentang riwayat
kesehatan, keluhan utama yang dirasakan yaitu sesak nafas.
Sesak nafas di rasakan sejak 3 hari yang lalu sebelum masuk
rumah sakit, semakin sesak saat beraktivitas, nyeri pada dada
sebelah kiri, durasi 20 menit, skala nyeri 5 ,tubuh terasa lemah,
edema pada ekstremitas bawah. Hasil pemeriksaan tanda-tanda

Poltekkes Kemenkes Padang


vital yaitu TD : 140/70 mmHg, HR : 92 x/i, RR : 28 x/i, dan
suhu : 36,5 0C .
b. Keluhan saat dikaji (PQRST)
Saat dilakukan pengkajian pada pada tanggal 18 Mei 2017
pukul 08.49 WIB pasien mengeluh sesak nafas, sesak di
rasakan meningkat saat beraktifitas, tubuh terasa lemah. Hasil
pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu, TD : 90/80 mmHg, HR :
58 x/i, RR : 25 x/ i, dan suhu 36, 5 0C
2) Riwayat kesehatan dahulu
Pasien mengatakan pernah di rawat di RSSN Bukittinggi 11 tahun
yang lalu karena penyakit stroke. Pasien memiliki riwayat
hipertensi sejak 13 tahun yang lalu. Pasien mengatakan memiliki
kebiasaan merokok sejak SMU.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita
penyakit yang sama dengan pasien. tidak ada anggota keluarga
yang menderita penyakit keturunan seperti jantung, hipertensi, DM,
asma.
d. Pola Aktivitas Sehari- hari
1) Pola Nutrisi :
a. Sehat : makan 3x sehari habis, porsi sedang sedang
menu nasi, sayur, dan lauk seadanya. Klien sering
mengkonsumsi gorengan dan makanan bersantan.Sehari
pasien minum 7-8 gelas sedang ( 2000 cc).
b. Sakit : diet DJ II 1800 kkal ML, 3x sehari berupa
nasi lunak, sayur dan lauk. Pasien hanya menghabiskan
setengah dari porsi makan.Selama sakit pasien minum 6
gelas sehari (1500 cc).
2) Pola Eliminasi :
a. Sehat : buang air kecil lebih kurang 7 kali sehari,
warna putih kekuningan.Buang air besar 1x sehari
warna kuning konsistensi lembek.

Poltekkes Kemenkes Padang


b. Sakit : Saat sakit pasien uang air kecil melalui
slank kateter sebanyak 700 cc/hari, warna kecoklatan.
buang air besar 1x sehari warna kecoklatan, konsistensi
agak keras.
3) Pola Istirahat dan Tidur
a. Sehat : tidur 5-6 jam perhari. Kualitas tidur
nyenyak
b. Sakit : tidur siang 1-2 jam/hari dan tidur malam
hanya 4- 5 jam/ hari.
4) Pola Aktivitas dan Latihan
a. Sehat : pasien bekerja sebagai petani di
kampungnya. Pasien kurang berolahraga karena
kelumpuhan pada kaki dan tangan sebelah kanan
pasien.
b. Sakit : pasien bedres total di tempat tidur dan
harus di bantuoleh keluarga dan perawat.
5) Pola Bekerja
a. Sehat : bekerja sebagai petani, tetapi karena pasien
menderita stroke 11 tahun pasien tidak bisa bekerja
seperti biasanya lagi.
b. Sakit : pasien tidak bisa bekerja
e. Pemeriksaan Fisik (Secara Head to toe)
1) Keadaan umum : lemah
2) Tingkat kesadaran : Composmentis Cooperatif (GCS : 15)
3) TTV : TD : 90/80 mmHg, HR : 58 x/i,RR : 25x/I,
suhu : 36, 5 0C.
4) Kepala : bentuk kepala normal, rambut sebagian
memutih/beruban, rambut merata, kulit kepala bersih tidak ada
ketombe, tidak ada benjolan dan lesi.
5) Mata : simetris kiri dan kanan, mata bersih, palpebra tidak
edema, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil
isokor kiri dan kanan. Reflek cahaya positif, diameter simetris

Poltekkes Kemenkes Padang


kiri dan kanan dan tidak ada menggunakan alat bantu
penglihatan.
6) Hidung : simetris kiri dan kanan, tidak ada pernapasan
cuping hidung, tidak ada kotoran, tidak ada pembengkakan dan
polip.
7) Telinga : simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada serumen,
tidak ada laserasi, pendengaran masih baik.
8) Mulut : Pemeriksaan pada mulut kurang bersih, ada plak
pada gigi, mukosa bibir kering, reflek mengunyah dan menelan
baik, bibir tidak simeris.
9) Wajah : Simetris, tidak ada lesi, tampak pucat.
10) Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening,
ada pembesaran vega jugularis.
11) Thorax :
a) Inspeksi :simetris kiri kanan
b) Palpasi :fremitus kiri dan kanan sama
c) Perkusi :terdengar sonor
d) Auskultasi :bronkovesikuler
12) Jantung :
a) Inspeksi :iktus tidak terlihat
b) Palpasi :iktus teraba di RIC V
c) Perkusi :pekak, batas jantung 1 jari di bawah RIC VI
d) Auskultasi :regular, tidak ada bunyi tambahan
13) Abdomen :
a) Inspeksi :tidak asites, tidak ada lesi
b) Auskultasi :bising usus 10x/menit.
c) Palpasi :tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba
perbesaran pada limpa dan hepar.
d) Perkusi : tympani
14) Ekstremitas atas :Terpasang infus pada tangan kiri, akral
dingin, kemerahan pada telapak tangan, CRT < 3 detik

Poltekkes Kemenkes Padang


15) Ekstremitas bawah :edema pada kedua tungkaiderajat I
kedalaman 3 mm, akral dingin, CRT <3 detik
16) Genitalia : bersih, terpasang kateter.
f. Data Psikologis
1) Status Emosional : pasien gelisah
2) Kecemasan : pasien tidak merasa cemas
3) Pola Koping : baik
4) Gaya Komunikasi : baik
5) Konsep Diri diurai untuk komponen gambaran diri, harga diri,
peran, identitas, ideal diri
g. Data sosial
Pasien bekerja sebagai petani, pasien bisa bersosialisasi dengan
baik di lingkungan masyarakat.
h. Data Spiritual
Pasien melaksanakan sholat 5 waktu.
i. Data Penunjang
1) Rontgenthorax.
Berdasarkan hasil rontgen thorax yang dilakukan pada tanggal
17 Mei 2017 pasien mengalami kardiomegali.
2) Laboratorium
Hasil pemeriksaan kimia klinik pada tanggal 18 Mei 2017
menunjukkan nilai :
- Hemoglobin : 11,9 g/dl (N : 14-16)
- Leukosit : 16.360 /mm3(N : 5.000-10.000)
- Trombosit : 90.000/mm3 (N : 150.000-400.000)
- Hematokrit : 36 % (N : 40-48)
- Ph : 7, 43 (N : 7,35-7,45)
- PCO2 : 30 mmol/L(N: 35-45mmol/L)
- PO2 : 140mmol/L (N : 95-10mmil.L)
- HCO3- : 19,9 mmol/L.

Poltekkes Kemenkes Padang


j. Program dan Rencana Pengobatan
Program terapi pengobatan yang di dapatkan oleh Tn. A yaitu :
- pemberian O2 binasal 4 liter/i
- IVFD Eas Pfrimmer 500cc/24 jam
- Ceftriaxone 1x 2 gr
- Lasix 1 x 20 gr
- Eritromicin 1 x 500 gr
- Bicnat 3 x 1 mg
- As. Folat 1 x 5 mg
- Candesartan 1 x 16 mg
- Clopidogrel 1 x 75 mg.
k. ANALISA DATA

Data Etiologi Masalah


DS : pasien mengatakan tubuh penurunan kontraksi penurunan curah
terasa lemah,
ventrikel jantung
DO : pasien tampak pucat,
akral teraba dingin,
TD :90/80 mmH,
HR :58 x/i.

DO : pasien mengatakan nafas Edema paru Gangguan


terasa sesak
pertukaran gas
DS : pasien tampak sesak
nafas, pernafasan 25 x/i,
ronki (-),wheezing (-)
PCO2 : 30 mmol/L, PO2 :
140 mmol/L, Ph : 7,43
DO : pasien mengatakan retensi natrium dan air kelebihan volume
kakinya bengkak,
cairan.
DS : terdapat edema pada
ekstremitas bawah pasien,
derajat I kedalaman 3 mm,
urin pasien 700 cc/hari,
warna tampak kecoklatan

Poltekkes Kemenkes Padang


B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
No Diagnosa Ditemukan Masalah Dipecahkan
Keperawatan Tgl Paraf Tgl Paraf
1. penurunan curah 18/5/2017 23/5/2017
jantung b/d penurunan
kontraksi ventrikel
2. Gangguan pertukaran 18/5/2017 23/5/2017
gas b/d edema paru
3. kelebihan volume 18/5/2017 23/5/2017
cairan b/d retensi
natrium dan air

C. PERENCANAAN KEPERAWATAN
N Diagnosa Intervensi
o. NOC NIC
1 penurunan curah Cardiac Pump b. Cardiac Care
Aktivitas :
jantung b/d penurunan Effectiveness
13) Evaluasi adanya
kontraksi ventrikel 13) Systolic blood nyeri dada (intensitas,
pressure dalam lokasi, durasi,
rentang normal frekuensi)
14) Diastolic blood 14) Catat adnya
pressure dalam disritmia jantung
rentang normal 15) Catat adanya tanda
15) Tidak ada dan gejala penurunan
disritmia cardiac output.
16) Tidak ada bunyi 16) Monitor status
jantung kardiovaskuler
abnormal 17) Monitor status
17) Tidak terjadi pernafasan yang
angina menandakan Heart
18) Tidak ada Failure
edema perifer 18) Monitor abdomen
19) Tidak ada sebagai indikator
edema paru adanya adanya
20) Tidak dispnea penurunan fungsi
saat istirahat 19) Monitor balance
21) Tidak terjadi cairan
hepatomegali 20) Monitor adanya
22) Tidak sianosis perubahantekanan

Poltekkes Kemenkes Padang


Circulation Status, darah
21) Monitor respon
8) Systolic blood
pasien terhadap efek
pressure dalam
pengobatan
rentang normal
antiaritmia
9) Diastolic blood
22) Atur periode latihan
pressure dalam
dan istirahat untuk
rentang normal
menghindari
10) Pulse
kelelahan
pressure dalam
23) Monitor adanya
rentang normal
dispnea, ortopnea, dan
11) MAP dalam
takipnea
rentang normal
24) Anjurkan untuk
12) AGD (PaO2
menurunkan stres
dan PaCO2)
c. Vital Sign Monitoring
dalam rentang
Aktivitas :
normal
14) Monitor TD, nadi,
13) Saturasi O2
suhu dan RR
dalam rentang
15) Catat adanya
normal
fluktuasi tekanan
14) Tidak asites
darah
Vital signs
16) Monitor vital sign
5) Denyut jantung
pasien saat berbaring,
apikal dalam
duduk, berdiri
rentang normal
17) Auskultasi tekanan
6) Irama denyut
darah pada kedua
jantung dalam
lengan dan
rentang normal
bandingkan
7) Denyut nadi
18) Monitor TD, Nadi,
radial dalam
RR sebelum, selama
rentang normal
dan setelah aktivitas
8) Tekanan Systole
19) Monitor kualitas
dan Diastole
nadi.
dalam rentang
20) Monitor adanya
normal
pulsus paradoksus
21) Monitor jumlah dan
irama jantung
22) Monitor bunyi
jantung
23) Monitor suara paru
24) Monitor pola
pernafasan abnormal
25) Monitoradanya
sianosis perifer
26) Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital sign

Poltekkes Kemenkes Padang


2 Gangguan pertukaran a. Respiratory Airway Manajemen
Status : Gas Aktivitas :
gas b/d edema paru
Exchage 5) Posisikan pasien
Indikator : untuk
1) PaO2 dan PCO2 memaksimalkan
dalam rentang ventilasi
normal 6) Lakukan fisioterapi
2) Saturasi oksigen dada jika perlu
dalam rentang 7) Auskultasi suara
normal nafas, catat adanya
3) pH arteri dalam suara nafas tambahan
rentang normal 8) Monitor resirasi dan
4) kesimbangan status O2
perfusi ventilasi b. Oxygen Therapy
dalam rentang Aktivitas :
normal 7) Pertahankan
5) tidak terjadi kepatenan jalan nafas
dispnea saat 8) Atur peralatan
istirahat atau oksigen
sedang 9) Monitor aliran
melakukan oksigen
aktivitas 10) Pertahankan posisi
b. Respiratory pasien
Status : 11) Observasi adanya
Ventilation tanda-tanda
Indikator : hipoventilasi.
1) Respiratory 12) Monitor adanya
rate dalam kecemasan
rentang c. Vital Sign Monitoring
normal Aktivitas :
2) Tidak ada 7) Monitor TD, Nadi,
retraksi Suhu, dan RR
dinding dada 8) Catat adanya flutuasi
3) Tidak tekanan darah
mengalami 9) Monitor kualitas nadi
dispnea saat 10) Monitor suara paru
istirahat 11) Monitor suara
4) Tidak pernafasan
ditemukan 12) Monitor suhu,
orthopnea warna, dan
5) Tidak kelembapan kulit.
ditemukan
atelektasis

3 kelebihan volume d. Electrolit And c. Fluid Management


Acid/Base Aktivitas :
cairan b/d retensi
Balance 8) Pertahankan catatan

Poltekkes Kemenkes Padang


natrium dan air Indikator : intake output yang
5) Erum albumin, akurat
kreatinin, 9) Monitor hasil Hb
hematokrit, yang sesuai dengan
Blood Urea retensi cairan (BUN,
Nitrogen Hematokrit,
(BUN), dalam Osmolaritas urine)
rentang normal 10) Monitor vital sign
6) pH urine, urine 11) Monitor indikasi
sodium, urine retensi
creatinin,urine 12) Kaji luas dan lokasi
osmolarity, edema
dalam rentang 13) Monitor status
normal nutrisi
7) tidak terjadi 14) Kolaborasi dengan
kelemahan otot dokter jika tanda
8) tidak terjadi cairan berlebuhan
disritmia muncul memburuk
e. Fluid Balance
Indikator : a. Fluid Monitoring
4) Tidak terjadi Aktivitas :
asites 8) Tentukan riwayat
5) Ekstremitas jumlah dan tipe intake
tidak edema cairan dan eliminasi
6) Tidak terjadi 9) Tentukan
distensi vena kemungkinan faktor
jugularis risiko
f. Fluid Overload dari
Severity ketidakseimbangan
Indikator : cairan
9) Edema tungkai 10) Monitor berat badan
tidak terjadi 11) Monitor TD, Nadi,
10) Tidak asites RR
11) Kongesti 12) Monitor tekanan
vena tidak darah orthostatik dan
terjadi perubahan irama
12) Tidak terjadi jantung
peningkatan 13) Monitor parameter
blood pressure hemodinamik infasif
13) Penurunan 14) Monitor tanda dan
pengeluaran gejala edema
urine tidak
terjadi
14) Tidak terjadi
perubahan
warna urine
15) Penurunan

Poltekkes Kemenkes Padang


serum sodium
tidak terjadi
16) Peningkatan
serum sodium
tidak terjadi

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tgl Diagnosa Tindakan Keperawatan Paraf
Keperawatan
18/5/2017 penurunan curah k. Mengkaji adanya nyeri dada
jantung b/d penurunan l. mencatat adanya
kontraksi ventrikel bradikakardi, penurunan TD
pada pasien.
m. memonitor status
kardiovaskuler : irama
jantung, tekanan darah.
n. memonitor status pernafasan
pasien
o. memonitor balance cairan
p. mengatur periode latihan dan
istirahat untuk menghindari
kelelahan
q. memonitor adanya dispnea,
kelelahan.
r. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
s. Memonitor suhu dan sianosis
perifer
t. Memberikan obat sesuai
order dokter Clopidogril 1x
75 mg, candesartan 1x16 mg.

18/5/2017 Gangguan pertukaran a. mengauskultasi suara nafas,


gas b/d edema paru mencatat adanya suara
tambahan seperti ronki
b. menganjurkan pasien nafas
dalam
c. mengatur posisi semi fowler
untuk mengurangi dipsneu
d. memonitor respirasi dan
status O2
e. memonitor rata-rata,
kedalaman, dan usaha
respirasi
f. memonitor pola nafas :

Poltekkes Kemenkes Padang


takipneu
g. mengobservasi hasil
pemeriksaan foto thoraks.
h. mengauskultasi suara nafas
i. mengobservasi aliran O2
j. memberikan therapy O2
binasal 4 liter

18/5/2017 kelebihan volume k. mempertahankan catatan


cairan berhubungan intake output yang akurat
dengan retensi l. memonitor hasil Hb yang
natrium dan air sesuai dengan retensi cairan
(BUN, Hematokrit,
Osmolaritas urine)
m. memonitor vital sign,
memonitor indikasi retensi
n. mengkaji luas dan lokasi
edema
o. memonitor status nutrisi, diet
DJ 1800 kkal ML.
p. pemberian inj lasix 1x 20
gram
q. melakukan kolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
r. menentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
eliminasi
s. menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan \
t. memonitor tekanan darah
orthostatik dan perubahan
irama jantung.
19/5/2017 penurunan curah a. mengevaluasi adanya nyeri
jantung b/d penurunan dada (intensitas, lokasi,
kontraksi ventrikel durasi, frekuensi)
b. mencatat adanya tanda dan
gejala penurunan cardiac
output
c. memonitor status
kardiovaskuler
d. memonitor status pernafasan
yang menandakan Heart
Failure

Poltekkes Kemenkes Padang


e. memonitor balance cairan
f. memonitor adanya perubahan
nadi dan tekanan darah
g. mengatur periode latihan dan
istirahat untuk menghindari
kelelahan
h. memonitor adanya dispnea,
ortopnea, dan takipnea
i. menganjurkan untuk
menurunkan stres.

Gangguan pertukaran a. memposisikan pasien semi


gas b/d edema paru fowler untuk
memaksimalkan ventilasi
b. mengauskultasi suara nafas
c. mencatat adanya suara
nafas tambahan
d. memonitor respirasi dan
status O2,
e. mempertahankan kepatenan
jalan nafas
f. mengatur peralatan oksigen
dengan pemberian 02
binasal 4 liter/i
g. memonitor aliran oksigen
h. mempertahankan posisi
pasien
i. mengobservasi adanya
tanda-tanda hipoventilasi,
j. memonitor adanya
kecemasan
k. mengajarkan teknik nafas
dalam untuk
memaksimalkan ventilasi.

kelebihan volume a. mempertahankan catatan


cairan b/d retensi intake output yang akurat
natrium dan air b. memonitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi cairan
(BUN, Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign,
memonitor indikasi retensi
d. mengkaji luas dan lokasi
edema
e. memonitor status nutrisi

Poltekkes Kemenkes Padang


f. pemberian inj lasix 1x 20
gram
g. melakukan kolaborasi
dengan dokter jika tanda
cairan berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
eliminasi
i. menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan
j. memonitor tekanan darah
orthostatik dan perubahan
irama jantung.

20/5/2017 penurunan curah a. mengevaluasi adanya nyeri


jantung b/d penurunan dada (intensitas, lokasi,
kontraksi ventrikel durasi, frekuensi)
b. mencatat adanya tanda dan
gejala penurunan cardiac
output
c. memonitor status
kardiovaskuler
d. memonitor status
pernafasan yang
menandakan Heart Failure
e. memonitor balance cairan
f. memonitor adanya
perubahan nadi dan tekanan
darah
g. mengatur periode latihan
dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
h. memonitor adanya dispnea,
ortopnea, dan takipnea
i. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
Gangguan pertukaran a. memposisikan pasien semi
gas b/d edema paru fowler untuk
memaksimalkan ventilasi
b. mengauskultasi suara nafas
c. mencatat adanya suara
nafas tambahan
d. memonitor respirasi dan
status O2,
e. mempertahankan kepatenan

Poltekkes Kemenkes Padang


jalan nafas
f. mengatur peralatan oksigen
dengan pemberian 02
binasal 4 liter/i
g. memonitor aliran oksigen
h. mempertahankan posisi
pasien
i. mengobservasi adanya
tanda-tanda hipoventilasi,
j. memonitor adanya
kecemasan
k. mengajarkan teknik nafas
dalam untuk
memaksimalkan ventilasi.
kelebihan volume a. intake output yang akurat
cairan b/d retensi b. memonitor hasil Hb yang
natrium dan air sesuai dengan retensi cairan
(BUN, Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign,
memonitor indikasi retensi
d. mengkaji luas dan lokasi
edema
e. memonitor status nutrisi
f. pemberian inj lasix 1x 20
gram
g. melakukan kolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
eliminasi
i. menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan
j. memonitor tekanan darah
orthostatik dan perubahan
irama jantung.

21/5/2017 penurunan curah j. mengevaluasi adanya nyeri


jantung b/d penurunan dada (intensitas, lokasi,
kontraksi ventrikel durasi, frekuensi)
k. mencatat adanya tanda dan
gejala penurunan cardiac
output
l. memonitor status

Poltekkes Kemenkes Padang


kardiovaskuler
m. memonitor status
pernafasan yang
menandakan Heart Failure
n. memonitor balance cairan
o. memonitor adanya
perubahan nadi dan tekanan
darah
p. mengatur periode latihan
dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
q. memonitor adanya dispnea,
ortopnea, dan takipnea
r. menganjurkan untuk
menurunkan stres.

Gangguan pertukaran l. memposisikan pasien semi


gas b/d edema paru fowler untuk
memaksimalkan ventilasi
m. mengauskultasi suara nafas
n. mencatat adanya suara
nafas tambahan
o. memonitor respirasi dan
status O2,
p. mempertahankan kepatenan
jalan nafas
q. mengatur peralatan oksigen
dengan pemberian 02
binasal 4 liter/i
r. memonitor aliran oksigen
s. mempertahankan posisi
pasien
t. mengobservasi adanya
tanda-tanda hipoventilasi,
u. memonitor adanya
kecemasan
v. mengajarkan teknik nafas
dalam untuk
memaksimalkan ventilasi.

kelebihan volume k. mempertahankan catatan


cairan b/d retensi intake output yang akurat
natrium dan air l. memonitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi cairan
(BUN, Hematokrit,
Osmolaritas urine)
m. memonitor vital sign,

Poltekkes Kemenkes Padang


memonitor indikasi retensi
n. mengkaji luas dan lokasi
edema
o. memonitor status nutrisi
p. pemberian inj lasix 1x 20
gram
q. melakukan kolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
r. menentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
eliminasi
s. menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan
t. memonitor tekanan darah
orthostatik dan perubahan
irama jantung.

22/5/2017 penurunan curah a. mengevaluasi adanya nyeri


jantung b/d penurunan dada (intensitas, lokasi,
kontraksi ventrikel durasi, frekuensi)
b. mencatat adanya tanda dan
gejala penurunan cardiac
output
c. memonitor status
kardiovaskuler
d. memonitor status pernafasan
yang menandakan Heart
Failure
e. memonitor balance cairan
f. memonitor adanya perubahan
nadi dan tekanan darah
g. mengatur periode latihan dan
istirahat untuk menghindari
kelelahan
h. memonitor adanya dispnea,
ortopnea, dan takipnea
i. menganjurkan untuk
menurunkan stres.

Gangguan pertukaran a. memposisikan pasien semi


gas b/d edema paru fowler untuk
memaksimalkan ventilasi
b. mengauskultasi suara nafas
c. mencatat adanya suara

Poltekkes Kemenkes Padang


nafas tambahan
d. memonitor respirasi dan
status O2,
e. mempertahankan kepatenan
jalan nafas
f. mengatur peralatan oksigen
dengan pemberian 02
binasal 4 liter/i
g. memonitor aliran oksigen
h. mempertahankan posisi
pasien
i. mengobservasi adanya
tanda-tanda hipoventilasi,
j. memonitor adanya
kecemasan
k. mengajarkan teknik nafas
dalam untuk
memaksimalkan ventilasi.

kelebihan volume a. mempertahankan catatan


cairan b/d retensi intake output yang akurat
natrium dan air b. memonitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi cairan
(BUN, Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign,
memonitor indikasi retensi
d. mengkaji luas dan lokasi
edema
e. memonitor status nutrisi
f. pemberian inj lasix 1x 20
gram
g. melakukan kolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
eliminasi
i. menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan
j. memonitor tekanan darah
orthostatik dan perubahan
irama jantung.

Poltekkes Kemenkes Padang


23/5/2017 penurunan curah a. mengevaluasi adanya nyeri
jantung b/d penurunan dada (intensitas, lokasi,
kontraksi ventrikel durasi, frekuensi)
b. mencatat adanya tanda dan
gejala penurunan cardiac
output
c. memonitor status
kardiovaskuler
d. memonitor status pernafasan
yang menandakan Heart
Failure
e. memonitor balance cairan
f. memonitor adanya perubahan
nadi dan tekanan darah
g. mengatur periode latihan dan
istirahat untuk menghindari
kelelahan
h. memonitor adanya dispnea,
ortopnea, dan takipnea
i. menganjurkan untuk
menurunkan stres.

Gangguan pertukaran a. memposisikan pasien semi


gas b/d edema paru fowler untuk
memaksimalkan ventilasi
b. mengauskultasi suara nafas
c. mencatat adanya suara
nafas tambahan
d. memonitor respirasi dan
status O2,
e. mempertahankan kepatenan
jalan nafas
f. mengatur peralatan oksigen
dengan pemberian 02
binasal 4 liter/i
g. memonitor aliran oksigen
h. mempertahankan posisi
pasien
i. mengobservasi adanya
tanda-tanda hipoventilasi,
j. memonitor adanya
kecemasan
kelebihan volume k. mengajarkan teknik nafas
cairan b/d retensi dalam untuk
natrium dan air memaksimalkan ventilasi.

a. mempertahankan catatan

Poltekkes Kemenkes Padang


intake output yang akurat
b. memonitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi cairan
(BUN, Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign,
memonitor indikasi retensi
d. mengkaji luas dan lokasi
edema
e. memonitor status nutrisi
f. pemberian inj lasix 1x 20
gram
g. melakukan kolaborasi
dengan dokter jika tanda
cairan berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
eliminasi
i. menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan
j. memonitor tekanan darah
orthostatik dan perubahan
irama jantung.

E. EVALUASI KEPERAWATAN
Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf
Keperawatan
18/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 100/70, N:
60x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru
masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak

Poltekkes Kemenkes Padang


RR : 24 x/I, nilai PCO2 : 30
mmol/L
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan
O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 800 cc/hari, warna
kecoklatan.
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
19/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 100/70, N:
60x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru
masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak
RR : 24 x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan

Poltekkes Kemenkes Padang


O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 800 cc/hari, warna
kecoklatan.
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
20/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 100/80, N:
62x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru
masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak
RR : 26 x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan
O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 900 cc/hari, warna
kecoklatan.
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Poltekkes Kemenkes Padang


Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf
Keperawatan
21/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 100/80, N:
61x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru
masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak
RR : 23 x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan
O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 800 cc/hari, warna
kekuningan.
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
22/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 110/70, N:
65x/i

Poltekkes Kemenkes Padang


A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan sesak
gas b/d edema paru mulai berkurang
O : pasien tampak tenang, sesak
tampak mulai berkurang
RR : 22 x/i
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan bengkak
cairan b/d retensi
pada kaki mulai berkurang.
natrium dan air
O : edema pada kedua tungkai
bawah mulai berkurang , piting
edema >3 detik, urin 1000
cc/hari, warna kekuningan .
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
23/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 110/70, N:
65x/i
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan sesak
gas b/d edema paru mulai berkurang
O : pasien tampak tenang, sesak
tampak mulai berkurang

Poltekkes Kemenkes Padang


RR : 22 x/i
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan bengkak
cairan b/d retensi
pada kaki mulai berkurang.
natrium dan air
O : edema pada kedua tungkai
bawah mulai berkurang, urin
1000 cc/hari, warna kekuningan
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
24/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan sudah
jantung b/d penurunan
mulai bertenaga
kontraksi ventrikel
O : pasien sudah tampak tidak
pucat, akral teraba hangat, TD :
110/80, N: 74x/i
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan sudah
gas b/d edema paru tidak sesak napas lagi
O : pasien tampak tidak sesak
RR : 20 x/i
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
sudah tidak bengkak lagi
natrium dan air
O :edema pada kaki sudah tidak
ada, urin 1500 cc/hari, warna
kekuningan.

Poltekkes Kemenkes Padang


A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

Lampiran 5

FORMAT DOKUMENTASI

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

F. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
2. PENGUMPULAN DATA
a. Identifikasi Klien:
10) Nama : Tn U
11) Tempat/ tanggal lahir : Kambang / 4-3-1964
12) Jenis kelamin : Laki-laki
13) Status kawin : Kawin
14) Agama : Islam
15) Pendidikan : SMU
16) Pekerjaan : pedagang

Poltekkes Kemenkes Padang


17) Alamat : Dusun Tibet Indramayu,Jawa Barat.
18) Diagnosa medis : CHF fc IV + CKD Stage V + BP
b. Identififkasi Penanggung Jawab
5) Nama : Ny. W
6) Pekerjaan : IRT
7) Alamat : Dusun Tibet Indramayu,Jawa Barat.
8) Hubungan : Istri
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang:
a) KeluhanUtama
Pasien masuk melalui IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang
pada tanggal 20 Mei 2017 pukul 23.02 WIB, rujukan dari
RS Siti Rahmah. Saat dilakukan pengkajian tantang riwayat
kesehatan, keluhan utama yang dirasakan yaitu sesak nafas.
Sesak nafas dirasakan sejak 2 minggu sebelum masuk
rumah sakit, semakin sesak saat beraktivitas, kedua dada
terasa nyeri, durasi 15 menit, skala nyeri 6, tubuh terasa
lemah, serta edema pada ekstremitas bawah dan sulit
digerakkan. Hasil pemeriksaan fisik yaitu, TD : 160/90
mmHg, HR : 95 x/ i, RR : 30 x/i, dan suhu : 36, 3 0C..
b) Keluhan saat dikaji (PQRST)
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 21 Mei 2017 pukul
09.01 WIB pasien mengeluh sesak nafas, sesak di rasakan
meningkat saat beraktifitas, tubuh terasa lemah. Hasil
Pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu, TD : 150/100 mmHg,
HR : 90 x/I, RR : 31 x/I, suhu : 36,5 0C.
2) Riwayat kesehatan dahulu
pasien mengatakan pernah dirawat dirumah sakit jantung
Cirebon 6 bulan yang lalu dan pasien teratur kontrol ke
poliklinik RS Jantung Cirebon 1 kali dalam sebulan, pasien
memiliki riwayat hipertensi dan DM tipe II sejak 2 tahun yang

Poltekkes Kemenkes Padang


lalu dan pasien mengatakan tidak memiliki kebiasaan merokok
dan minum alkohol.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan ada keluarga yang menderita penyakit
jantung dan hipertensi yaitu ibu pasien.
d. Pola Aktivitas Sehari- hari
6) Pola Nutrisi :
c. Sehat : makan 3x sehari habis, porsi sedang sedang
menu nasi, sayur, dan lauk seadanya. Sehari pasien
minum 7-8 gelas
d. Sakit : diet DJ II 1700 kkal ML, 3x sehari berupa
nasi lunak, lauk sayur. Pasien hanya menghabiskan 3-4
sendok saja dari porsi yang disediakan rumah sakit.
Selama sakit pasien minum 4-5 gelas perhari (1250 cc).
7) Pola Eliminasi :
c. Sehat : buang air kecil lebih kurang 8 kali sehari,
warna putih kekuningan. buang air besar 1x sehari
warna kuning konsistensi lembek.
d. Sakit : buang air kecil melalui slank kateter
sebanyak 600 cc/hari, warna kekuningan, buang air
besar 1x sehari warna kehitaman, konsistensi agak
keras.
8) Pola Istirahat dan Tidur
c. Sehat : 6-8 jam perhari. Kualitas tidur nyenyak.
d. Sakit : tidur siang 1-2 jam/hari dan tidur malam
hanya 2-3 jam/ hari.
9) Pola Aktivitas dan Latihan
c. Sehat : Pasien sebelum sakit bekerja sebagai
pedagang. Pasien kurang berolahraga karena
kesibukannya bekerja.
d. Sakit : pasien bedres total di tempat tidur dan
harus di bantu oleh keluarga dan perawat.

Poltekkes Kemenkes Padang


10) Pola Bekerja
c. Sehat : Pasien bekerja sebagai pedagang. Pasien
bekerja dari pagi dan baru pulang ke rumah saat sore
hari.
d. Sakit : pasien tidak bisa bekerja
e. Pemeriksaan Fisik (Secara Head to toe)
17) Keadaan umum : lemah
18) Tingkat kesadaran : Composmentis Cooperatif (GCS : 15)
19) TTV : TD : 150/100 mmHg, HR : 90 x/i,RR :
31x/I, suhu : 36, 5 0C.
20) Kepala : bentuk kepala normal, rambut sebagian
memutih/beruban, rambut merata, kulit kepala bersih tidak ada
ketombe, tidak ada benjolan dan lesi.
21) Mata : simetris kiri dan kanan, mata bersih, palpebra tidak
edema, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor
kiri dan kanan. Reflek cahaya positif, diameter simetris kiri dan
kanan dan tidak ada menggunakan alat bantu penglihatan.
22) Hidung : simetris kiri dan kanan, tidak ada pernapasan
cuping hidung, tidak ada kotoran, tidak ada pembengkakan dan
polip.
23) Telinga : simetris kiri dan kanan, bersih, tidak ada serumen,
tidak ada laserasi, pendengaran masih baik.
24) Mulut : Pemeriksaan pada mulut kurang bersih, ada plak
pada gigi, mukosa bibir kering, reflek mengunyah dan menelan
baik, bibir simeris.
25) Wajah : Simetris, tidak ada lesi, tampak pucat.
26) Leher : tidak ada pembengkakan kelenjar getah bening,
ada pembesaran vega jugularis.
27) Thorax :
e) Inspeksi : simetris kiri kanan
f) Palpasi : fremitus kiri dan kanan sama
g) Perkusi : terdengar sonor

Poltekkes Kemenkes Padang


h) Auskultasi : bronkovesikuler
28) Jantung :
e) Inspeksi : iktus tidak terlihat
f) Palpasi : iktus teraba di RIC V
g) Perkusi : pekak, batas jantung di RIC II dan RIC V
h) Auskultasi : regular, terdapat bunyi murmur
29) Abdomen :
e) Inspeksi : tidak asites, tidak ada lesi
f) Auskultasi : bising usus 10x/menit.
g) Palpasi : tidak terdapat nyeri tekan, tidak teraba
perbesaran pada limpa dan hepar.
h) Perkusi : tympani
30) Ekstremitas atas : Terpasang infus pada tangan kanan, akral
dingin, kemerahan pada telapak tangan, CRT >3 detik
31) Ekstremitas bawah : edema pada kedua tungkai, pitting edema
> 3 detik, akral dingin.
32) Genitalia : terdapat perbesaran pada skrotum,
terpasang kateter.
f. Data Psikologis
6) Status Emosional : pasien gelisah
7) Kecemasan : pasien tidak merasa cemas
8) Pola Koping : baik
9) Gaya Komunikasi : baik
10) Konsep Diri diurai untuk komponen gambaran diri, harga diri,
peran, identitas, ideal diri
g. Data sosial
Pasien bekerja sebagai pedagang, pasien bisa bersosialisasi dengan
baik di lingkungan masyarakat.
h. Data Spiritual
Pasien melaksanakan sholat 5 waktu.
i. Data Penunjang
3) Rontgen thorax.

Poltekkes Kemenkes Padang


Berdasarkan hasil rontgen thorax yang dilakukan pada tanggal
23 Mei 2017 pasien mengalami edema paru dengan efusi pleura
bilateral.
4) Laboratorium
Hasil pemeriksaan kimia klinik pada tanggal 20 Mei 2017
menunjukkan nilai :
- Hemoglobin : 6,0 g/dl (N : 14-16)
- Leukosit : 12.900 /mm3 (N : 5.000-10.000)
- Trombosit : 286.000/mm3 (N : 150.000-400.000)
- Hematokrit : 19 % (N : 40-48)
- Gula darah sewaktu : 116 mg/dl (N : <200)
- Ureum : 195 mg/dl (N : 10,0-50,0)
- kreatinin darah : 3,0 mg/dl (0,6-1,1)
- protein total 4,8 g/dl (N : 6,6- 8,7)
- albumin 3,0 g/dl (3,6-5,0)
- globulin 1, 8 g/dl (1,3-2,7)

Hasil pemeriksaan kimia klinik pada tanggal 20 Mei 2017


menunjukkan nilai :

- Ph : 7,36 (N : 7,35-7,45)
- PCO2 : 29 mmHg (N: 35-45mmHg)
- PO2 : 188 mmHg (N : 95-10mmHg)
- HCO3- : 16,4 mmol/L.

j. Program dan Rencana Pengobatan


Program terapi pengobatan yang di dapatkan oleh Tn. U yaitu :
pemberian O2 RM 10 liter/i, IVFD NaCl 0,9 % 500cc/ 8 jam,
Ceftriaxon 1x 2 gr, Levoflaxin 1 x 500 mg, drip lasix 5 ampul
dalam 50 cc NaCl 0,9 %, koreksi Meylon 200 mEq dalam 200 cc
NaCl 0,9 %, Vit K 3 x 1 tab, Inj Ca.Glukonas 1 X1 amp, 10 unit
Noverapid dalam 50 cc D 40%, Kalitake 3 x 1.

Poltekkes Kemenkes Padang


3. ANALISA DATA

Data Etiologi Masalah


DO : pasien mengatakan Penurunan kontraksi Penurunan curah
tubuh terasa lemah
ventrikel jantung
DS : pasien mengalami
kenaikan tekanan darah :
150/100 mmHg,bradikardi
90 x/i
DS : pasien mengatakan nafas Edema paru Gangguan
terasa sesak saat
pertukaran gas
beraktivitas dan istirahat
DO : pasien tampak sesak
nafas, pernafasan 31 x/I
PCO2 : 29 mmol/L
DO : pasien mengatakan retensi natrium dan air kelebihan volume
kakinya bengkak,
cairan.
DS : terdapat edema pada
ekstremitas bawah pasien,
urin pasien 600 cc/hari,
warna tampak kecoklatan
DO : pasien mengatakan berkurangnya suplai Ketidakefektifan
tubuh terasa lemah
oksigen ke jaringan, perfusi jaringan
DS : pasien tampak lemah,
tampak pucat, akral teraba perifer
dingin, CRT > 3 detik

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
No Diagnosa Keperawatan Ditemukan Masalah Dipecahkan
Tgl Paraf Tgl Paraf
1 Penurunan curah jantung 21/5/2017 26/5/2017
b/d penurunan kontraksi
ventrikel
2 Gangguan pertukaran 21/5/2017 26/5/2017
gas b/d edema paru
3 kelebihan volume cairan 21/5/2017 26/5/2017
b/d retensi natrium dan

Poltekkes Kemenkes Padang


air

4 Ketidakefektifan perfusi 21/5/2017 26/5/2017


jaringan perifer b/d
penurunan suplai
oksigen ke jaringan.

H. PERENCANAAN KEPERAWATAN
N Diagnosa Intervensi
o. NOC NIC
1 Penurunan curah Cardiac Pump c. Cardiac Care
Aktivitas :
jantung b/d penurunan Effectiveness
25) Evaluasi adanya
kontraksi ventrikel 23) Systolic blood nyeri dada (intensitas,
pressure dalam lokasi, durasi,
rentang normal frekuensi)
24) Diastolic blood 26) Catat adnya
pressure dalam disritmia jantung
rentang normal 27) Catat adanya tanda
25) Tidak ada dan gejala penurunan
disritmia cardiac output.
26) Tidak ada bunyi 28) Monitor status
jantung kardiovaskuler
abnormal 29) Monitor status
27) Tidak terjadi pernafasan yang
angina menandakan Heart
28) Tidak ada Failure
edema perifer 30) Monitor abdomen
29) Tidak ada sebagai indikator
edema paru adanya adanya
30) Tidak dispnea penurunan fungsi
saat istirahat 31) Monitor balance
31) Tidak terjadi cairan
hepatomegali 32) Monitor adanya
32) Tidak sianosis perubahan tekanan
Circulation Status, darah
33) Monitor respon
15) Systolic
pasien terhadap efek
blood pressure
pengobatan anti
dalam rentang
aritmia
normal
34) Atur periode latihan
16) Diastolic
dan istirahat untuk
blood pressure
menghindari
dalam rentang
kelelahan
normal

Poltekkes Kemenkes Padang


17) Pulse 35) Monitor adanya
pressure dalam dispnea, ortopnea, dan
rentang normal takipnea
18) MAP dalam 36) Anjurkan untuk
rentang normal menurunkan stres
19) AGD (PaO2 d. Vital Sign Monitoring
dan PaCO2) Aktivitas :
dalam rentang 27) Monitor TD, nadi,
normal suhu dan RR
20) Saturasi O2 28) Catat adanya
dalam rentang fluktuasi tekanan
normal darah
21) Tidak asites 29) Monitor vital sign
Vital signs pasien saat berbaring,
9) Denyut jantung duduk, berdiri
apikal dalam 30) Auskultasi tekanan
rentang normal darah pada kedua
10) Irama lengan dan
denyut jantung bandingkan
dalam rentang 31) Monitor TD, Nadi,
normal RR sebelum, selama
11) Denyut nadi dan setelah aktivitas
radial dalam 32) Monitor kualitas
rentang normal nadi.
12) Tekanan 33) Monitor adanya
Systole dan pulsus paradoksus
Diastole dalam 34) Monitor jumlah dan
rentang normal irama jantung
35) Monitor bunyi
jantung
36) Monitor suara paru
37) Monitor pola
pernafasan abnormal
38) Monitor adanya
sianosis perifer
39) Identifikasi
penyebab dari
perubahan vital sign
2 Gangguan pertukaran b. Respiratory Airway Manajemen
Status : Gas Aktivitas :
gas b/d edema paru
Exchage 9) Posisikan pasien
Indikator : untuk
6) PaO2 dan PCO2 memaksimalkan
dalam rentang ventilasi
normal 10) Lakukan fisioterapi
7) Saturasi oksigen dada jika perlu
dalam rentang 11) Auskultasi suara

Poltekkes Kemenkes Padang


normal nafas, catat adanya
8) pH arteri dalam suara nafas tambahan
rentang normal 12) Monitor resirasi dan
9) kesimbangan status O2
perfusi ventilasi b. Oxygen Therapy
dalam rentang Aktivitas :
normal 13) Pertahankan
10) tidak terjadi kepatenan jalan nafas
dispnea saat 14) Atur peralatan
istirahat atau oksigen
sedang 15) Monitor aliran
melakukan oksigen
aktivitas 16) Pertahankan posisi
c. Respiratory pasien
Status : 17) Observasi adanya
Ventilation tanda-tanda
Indikator : hipoventilasi.
6) Respiratory 18) Monitor adanya
rate dalam kecemasan
rentang c. Vital Sign Monitoring
normal Aktivitas :
7) Tidak ada 13) Monitor TD, Nadi,
retraksi Suhu, dan RR
dinding dada 14) Catat adanya flutuasi
8) Tidak tekanan darah
mengalami 15) Monitor kualitas
dispnea saat nadi
istirahat 16) Monitor suara paru
9) Tidak 17) Monitor suara
ditemukan pernafasan
orthopnea 18) Monitor suhu,
10) Tidak warna, dan
ditemukan kelembapan kulit.
atelektasis

3 kelebihan volume g. Electrolit And d. Fluid Management


Acid/Base Aktivitas :
cairan b/d retensi
Balance 15) Pertahankan catatan
natrium dan air Indikator : intake output yang
9) Erum albumin, akurat
kreatinin, 16) Monitor hasil Hb
hematokrit, yang sesuai dengan
Blood Urea retensi cairan (BUN,
Nitrogen Hematokrit,
(BUN), dalam Osmolaritas urine)
rentang normal 17) Monitor vital sign
10) pH urine, 18) Monitor indikasi

Poltekkes Kemenkes Padang


urine sodium, retensi
urine 19) Kaji luas dan lokasi
creatinin,urine edema
osmolarity, 20) Monitor status
dalam rentang nutrisi
normal 21) Kolaborasi dengan
11) tidak terjadi dokter jika tanda
kelemahan otot cairan berlebuhan
12) tidak terjadi muncul memburuk
disritmia
h. Fluid Balance b. Fluid Monitoring
Indikator : Aktivitas :
7) Tidak terjadi 15) Tentukan riwayat
asites jumlah dan tipe intake
8) Ekstremitas cairan dan eliminasi
tidak edema 16) Tentukan
9) Tidak terjadi kemungkinan faktor
distensi vena risiko
jugularis dari
i. Fluid Overload ketidakseimbangan
Severity cairan
Indikator : 17) Monitor berat badan
17) Edema 18) Monitor TD, Nadi,
tungkai tidak RR
terjadi 19) Monitor tekanan
18) Tidak asites darah orthostatik dan
19) Kongesti perubahan irama
vena tidak jantung
terjadi 20) Monitor parameter
20) Tidak terjadi hemodinamik infasif
peningkatan 21) Monitor tanda dan
blood pressure gejala edema
21) Penurunan
pengeluaran
urine tidak
terjadi
22) Tidak terjadi
perubahan
warna urine
23) Penurunan
serum sodium
tidak terjadi
24) Peningkatan
serum sodium
tidak terjadi

Poltekkes Kemenkes Padang


4 Ketidakefektifan a. Circulation a. Oxygen Therapy
perfusi jaringan perifer Status Aktivitas :
berhubungan dengan Indikator : 1) Pertahankan
penurunan suplai 1) Systolic kepatenan jalan nafas
oksigen ke jaringan. blood 2) Atur peralatan
pressure oksigenasi
dalam rentang 3) Monitor aliran
normal oksigen
2) Diastolic 4) Pertahankan posisi
blood pasien
pressure 5) Observasi adanya
dalam rentang tanda-tanda
normal hipoventilasi
3) Pulse 6) Monitor adanya
pressure kecemasan pasien
dalam rentang terhadap oksigenasi
normal b. Vital Sign Monitoring
4) CVP dalam Aktivitas :
retang normal 1) Monitor TD, Nadi,
5) MAP dalam Suhu, dan RR
rentang 2) Catat adanya fluktuasi
normal tekanan darah
6) Saturasi O2 3) Monitor kualitas nadi
dalam rentang 4) Monitor suara paru
normal 5) Monitor pola
7) Tidak asites pernapasan yang
b. Tissue abnormal
Perfusion : 6) Monitor suhu, warna,
Peripheral dan kelembapan kulit
Indikator : c. Peripheral Sensation
1) CRT (jari Management
tangan dan Aktivitas :
kaki) dalam 1) Monitor adanya
batas normal daerah tertentu yang
2) Suhu kulit hanya peka terhadap
ekstremitas panas/dingin/tajam,tu
dalam rentang mpul
normal 2) Monitor adanya
3) Kekuatan paratese (kesemutan)
denyut nadi 3) Batasi gerakan
(karotis kanan kepala, leher, dan
dan punggung
kiri;brachial 4) Monitor adanya
kanan dan tromboplebitis dan
kiri; femur vena
kanan dan tromboembolisme.
kiri, radialis

Poltekkes Kemenkes Padang


kanan dan
kiri) dalam
rentang
normal
4) Blood
pressure dan
MAP dalam
rentang
normal

I. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tgl Diagnosa Tindakan Keperawatan Paraf
Keperawatan
21/5/2017 penurunan curah a. Mengkaji adanya nyeri dada
jantung b/d penurunan b. mencatat adanya
kontraksi ventrikel bradikakardi, penurunan TD
pada pasien.
c. memonitor status
kardiovaskuler : irama
jantung, tekanan darah.
d. memonitor status
pernafasan pasien
e. memonitor balance cairan
f. mengatur periode latihan
dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
g. memonitor adanya dispnea,
kelelahan.
h. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
i. Memonitor suhu dan
sianosis perifer
j. Memberikan obat sesuai
order dokter drip lasix 5
ampul dalam 50 cc NaCl
gangguan pertukaran k. mengauskultasi suara nafas,
gas b/d edema paru. mencatat adanya suara
tambahan seperti ronki
l. menganjurkan pasien nafas
dalam
m. mengatur posisi semi fowler
untuk mengurangi dipsneu
n. memonitor respirasi dan
status O2
o. memonitor rata-rata,

Poltekkes Kemenkes Padang


kedalaman, dan usaha
respirasi
p. memonitor pola nafas :
takipneu
q. mengobservasi hasil
pemeriksaan foto thoraks.
r. mengauskultasi suara nafas
s. mengobservasi aliran O2
t. memberikan therapy O2 RM
10 liter

kelebihan volume k. mempertahankan catatan


cairan b/d retensi intake output yang akurat
natrium dan air l. monitor hasil Hb yang sesuai
dengan retensi cairan (BUN,
Hematokrit, Osmolaritas
urine)
m. memonitor vital sign
n. memonitor indikasi retensi
o. mengkaji luas dan lokasi
edema
p. memonitor status nutrisi,
melakukan kolaborasi dengan
dokter dalam pemerian dri
lasix 5 amp dalam 50 cc
NaCl 0,9%,
q. mengkolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
r. menentukan riwayat jumlah
dan tipe intake cairan dan
eliminasi
s. menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan
t. memonitor tekanan darah
orthostatik dan perubahan
irama jantung.

Ketidakefektifan e. memonitor tekanan darah,


perfusi jaringan nadi, suhu dan pernapasan
perifer berhubungan f. mencatat adanya fluktuasi
dengan penurunan tekanan darah
suplai oksigen ke g. memonitor kualitas nadi.
jaringan memonitor pola pernapasan
h. berkolaborasi dengan dokter

Poltekkes Kemenkes Padang


dalam pemberian terapi PRC
2 x 250 gram pada hari
pertama rawatan.

Tgl Diagnosa Tindakan Keperawatan Paraf


Keperawatan
22/5/2017 penurunan curah u. Mengkaji adanya nyeri dada
jantung b/d penurunan v. mencatat adanya
kontraksi ventrikel bradikakardi, penurunan TD
pada pasien.
w. memonitor status
kardiovaskuler : irama
jantung, tekanan darah.
x. memonitor status pernafasan
pasien
y. memonitor balance cairan
z. mengatur periode latihan dan
istirahat untuk menghindari
kelelahan
aa.memonitor adanya dispnea,
kelelahan.
bb. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
cc.Memonitor suhu dan sianosis
perifer
dd. Memberikan obat
sesuai order dokter drip lasix
5 ampul dalam 50 cc NaCl
gangguan pertukaran u. mengauskultasi suara nafas,
gas b/d edema paru. mencatat adanya suara
tambahan seperti ronki
v. menganjurkan pasien nafas
dalam
w. mengatur posisi semi fowler
untuk mengurangi dipsneu
x. memonitor respirasi dan
status O2
y. memonitor rata-rata,
kedalaman, dan usaha
respirasi
z. memonitor pola nafas :
takipneu
aa.mengobservasi hasil
pemeriksaan foto thoraks.
bb. mengauskultasi suara
nafas

Poltekkes Kemenkes Padang


cc.mengobservasi aliran O2
dd. memberikan therapy
O2 binasal 4 liter

kelebihan volume u. mempertahankan catatan


cairan b/d retensi intake output yang akurat
natrium dan air v. monitor hasil Hb yang sesuai
dengan retensi cairan (BUN,
Hematokrit, Osmolaritas
urine)
w. memonitor vital sign
x. memonitor indikasi retensi
y. mengkaji luas dan lokasi
edema
z. memonitor status nutrisi,
melakukan kolaborasi dengan
dokter dalam pemerian dri
lasix 5 amp dalam 50 cc
NaCl 0,9%,
aa.mengkolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
bb. menentukan riwayat
jumlah dan tipe intake cairan
dan eliminasi
cc.menentukan kemungkinan
faktor risiko dari
ketidakseimbangan cairan
dd. memonitor tekanan
darah orthostatik dan
perubahan irama jantung.

Ketidakefektifan i. memonitor tekanan darah,


perfusi jaringan nadi, suhu dan pernapasan
perifer berhubungan j. mencatat adanya fluktuasi
dengan penurunan tekanan darah
suplai oksigen ke k. memonitor kualitas nadi.
jaringan memonitor pola pernapasan
l. berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi vit K

Tgl Diagnosa Tindakan Keperawatan Paraf


Keperawatan
23/5/2017 penurunan curah a. Mengkaji adanya nyeri dada
jantung b/d penurunan b. mencatat adanya

Poltekkes Kemenkes Padang


kontraksi ventrikel bradikakardi, penurunan TD
pada pasien.
c. memonitor status
kardiovaskuler : irama
jantung, tekanan darah.
d. memonitor status
pernafasan pasien
e. memonitor balance cairan
f. mengatur periode latihan
dan istirahat untuk
menghindari kelelahan
g. memonitor adanya dispnea,
kelelahan.
h. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
i. Memonitor suhu dan
sianosis perifer
j. Memberikan obat sesuai
order dokter drip lasix 5
ampul dalam 50 cc NaCl
gangguan pertukaran a. mengauskultasi suara nafas,
gas b/d edema paru. mencatat adanya suara
tambahan seperti ronki
b. menganjurkan pasien nafas
dalam
c. mengatur posisi semi fowler
untuk mengurangi dipsneu
d. memonitor respirasi dan
status O2
e. memonitor rata-rata,
kedalaman, dan usaha
respirasi
f. memonitor pola nafas :
takipneu
g. mengobservasi hasil
pemeriksaan foto thoraks.
h. mengauskultasi suara nafas
i. mengobservasi aliran O2
j. memberikan therapy O2
binasal 4 liter

kelebihan volume a. mempertahankan


cairan b/d retensi catatan intake output
natrium dan air yang akurat
b. monitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi
cairan (BUN,

Poltekkes Kemenkes Padang


Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign
d. memonitor indikasi
retensi
e. mengkaji luas dan
lokasi edema
f. memonitor status
nutrisi, melakukan
kolaborasi dengan
dokter dalam pemerian
dri lasix 5 amp dalam
50 cc NaCl 0,9%,
g. mengkolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat
jumlah dan tipe intake
cairan dan eliminasi
i. menentukan
kemungkinan faktor
risiko dari
ketidakseimbangan
cairan
j. memonitor tekanan
darah orthostatik dan
perubahan irama
jantung.

Ketidakefektifan m. memonitor tekanan darah,


perfusi jaringan nadi, suhu dan pernapasan
perifer berhubungan n. mencatat adanya fluktuasi
dengan penurunan tekanan darah
suplai oksigen ke o. memonitor kualitas nadi.
jaringan memonitor pola pernapasan
p. berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi vit K

Tgl Diagnosa Tindakan Keperawatan Paraf


Keperawatan
24/5/2017 penurunan curah a. Mengkaji adanya nyeri

Poltekkes Kemenkes Padang


jantung b/d penurunan dada
kontraksi ventrikel b. mencatat adanya
bradikakardi,
penurunan TD pada
pasien.
c. memonitor status
kardiovaskuler : irama
jantung, tekanan darah.
d. memonitor status
pernafasan pasien
e. memonitor balance
cairan
f. mengatur periode
latihan dan istirahat
untuk menghindari
kelelahan
g. memonitor adanya
dispnea, kelelahan.
h. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
i. Memonitor suhu dan
sianosis perifer
j. Memberikan obat
sesuai order dokter drip
lasix 5 ampul dalam 50
cc NaCl
gangguan pertukaran a. mengauskultasi suara
gas b/d edema paru. nafas, mencatat adanya
suara tambahan seperti
ronki
b. menganjurkan pasien
nafas dalam
c. mengatur posisi semi
fowler untuk
mengurangi dipsneu
d. memonitor respirasi
dan status O2
e. memonitor rata-rata,
kedalaman, dan usaha
respirasi
f. memonitor pola nafas :
takipneu
g. mengobservasi hasil
pemeriksaan foto
thoraks.
h. mengauskultasi suara
nafas

Poltekkes Kemenkes Padang


i. mengobservasi aliran
O2
j. memberikan therapy
O2 binasal 4 liter

kelebihan volume a. mempertahankan


cairan b/d retensi catatan intake output
natrium dan air yang akurat
b. monitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi
cairan (BUN,
Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign
d. memonitor indikasi
retensi
e. mengkaji luas dan
lokasi edema
f. memonitor status
nutrisi, melakukan
kolaborasi dengan
dokter dalam pemerian
dri lasix 5 amp dalam
50 cc NaCl 0,9%,
g. mengkolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat
jumlah dan tipe intake
cairan dan eliminasi
i. menentukan
kemungkinan faktor
risiko dari
ketidakseimbangan
cairan
j. memonitor tekanan
darah orthostatik dan
perubahan irama
jantung.

Ketidakefektifan q. memonitor tekanan darah,


perfusi jaringan nadi, suhu dan pernapasan
perifer berhubungan r. mencatat adanya fluktuasi
dengan penurunan tekanan darah
suplai oksigen ke s. memonitor kualitas nadi.
jaringan memonitor pola pernapasan

Poltekkes Kemenkes Padang


t. berkolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi vit K

Tgl Diagnosa Tindakan Keperawatan Paraf


Keperawatan
25/5/2017 penurunan curah a. Mengkaji adanya nyeri
jantung b/d penurunan dada
kontraksi ventrikel b. mencatat adanya
bradikakardi,
penurunan TD pada
pasien.
c. memonitor status
kardiovaskuler : irama
jantung, tekanan darah.
d. memonitor status
pernafasan pasien
e. memonitor balance
cairan
f. mengatur periode
latihan dan istirahat
untuk menghindari
kelelahan
g. memonitor adanya
dispnea, kelelahan.
h. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
i. Memonitor suhu dan
sianosis perifer
j. Memberikan obat
sesuai order dokter drip
lasix 5 ampul dalam 50
cc NaCl
gangguan pertukaran a. mengauskultasi suara
gas b/d edema paru. nafas, mencatat adanya
suara tambahan seperti
ronki
b. menganjurkan pasien
nafas dalam
c. mengatur posisi semi
fowler untuk
mengurangi dipsneu
d. memonitor respirasi
dan status O2
e. memonitor rata-rata,
kedalaman, dan usaha
respirasi

Poltekkes Kemenkes Padang


f. memonitor pola nafas :
takipneu
g. mengobservasi hasil
pemeriksaan foto
thoraks.
h. mengauskultasi suara
nafas
i. mengobservasi aliran
O2
j. memberikan therapy
O2 binasal 4 liter

kelebihan volume a. mempertahankan


cairan b/d retensi catatan intake output
natrium dan air yang akurat
b. monitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi
cairan (BUN,
Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign
d. memonitor indikasi
retensi
e. mengkaji luas dan
lokasi edema
f. memonitor status
nutrisi, melakukan
kolaborasi dengan
dokter dalam pemerian
dri lasix 5 amp dalam
50 cc NaCl 0,9%,
g. mengkolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat
jumlah dan tipe intake
cairan dan eliminasi
i. menentukan
kemungkinan faktor
risiko dari
ketidakseimbangan
cairan
j. memonitor tekanan
darah orthostatik dan
perubahan irama
jantung.

Poltekkes Kemenkes Padang


Ketidakefektifan a. memonitor tekanan
perfusi jaringan darah, nadi, suhu dan
perifer berhubungan pernapasan
dengan penurunan b. mencatat adanya
suplai oksigen ke fluktuasi tekanan darah
jaringan c. memonitor kualitas
nadi. memonitor pola
pernapasan
d. berkolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian terapi vit K

Tgl Diagnosa Tindakan Keperawatan Paraf


Keperawatan
26/5/2017 penurunan curah a. Mengkaji adanya nyeri
jantung b/d penurunan dada
kontraksi ventrikel b. mencatat adanya
bradikakardi,
penurunan TD pada
pasien.
c. memonitor status
kardiovaskuler : irama
jantung, tekanan darah.
d. memonitor status
pernafasan pasien
e. memonitor balance
cairan
f. mengatur periode
latihan dan istirahat
untuk menghindari
kelelahan
g. memonitor adanya
dispnea, kelelahan.
h. menganjurkan untuk
menurunkan stres.
i. Memonitor suhu dan
sianosis perifer
j. Memberikan obat
sesuai order dokter drip
lasix 5 ampul dalam 50
cc NaCl
gangguan pertukaran a. mengauskultasi suara
gas b/d edema paru. nafas, mencatat adanya
suara tambahan seperti
ronki

Poltekkes Kemenkes Padang


b. menganjurkan pasien
nafas dalam
c. mengatur posisi semi
fowler untuk
mengurangi dipsneu
d. memonitor respirasi
dan status O2
e. memonitor rata-rata,
kedalaman, dan usaha
respirasi
f. memonitor pola nafas :
takipneu
g. mengobservasi hasil
pemeriksaan foto
thoraks.
h. mengauskultasi suara
nafas
i. mengobservasi aliran
O2
j. memberikan therapy
O2 binasal 4 liter

kelebihan volume a. mempertahankan


cairan b/d retensi catatan intake output
natrium dan air yang akurat
b. monitor hasil Hb yang
sesuai dengan retensi
cairan (BUN,
Hematokrit,
Osmolaritas urine)
c. memonitor vital sign
d. memonitor indikasi
retensi
e. mengkaji luas dan
lokasi edema
f. memonitor status
nutrisi, melakukan
kolaborasi dengan
dokter dalam pemerian
dri lasix 5 amp dalam
50 cc NaCl 0,9%,
g. mengkolaborasi dengan
dokter jika tanda cairan
berlebihan muncul
memburuk
h. menentukan riwayat
jumlah dan tipe intake

Poltekkes Kemenkes Padang


cairan dan eliminasi
i. menentukan
kemungkinan faktor
risiko dari
ketidakseimbangan
cairan
j. memonitor tekanan
darah orthostatik dan
perubahan irama
jantung.

Ketidakefektifan a. memonitor tekanan


perfusi jaringan darah, nadi, suhu dan
perifer berhubungan pernapasan
dengan penurunan b. mencatat adanya
suplai oksigen ke fluktuasi tekanan darah
jaringan c. memonitor kualitas
nadi. memonitor pola
pernapasan
d. berkolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian terapi vit K

J. EVALUASI KEPERAWATAN
Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf
Keperawatan
21/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 140/90, N:
89x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak
RR : 30x/I PCO2 : 29 mmol/L
A : masalah blm teratasi

Poltekkes Kemenkes Padang


P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan
O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 700 cc/hari, warna
kecoklatan.
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Ketidakefektifan S : pasien mengatakan masih
perfusi jaringan
lemah
perifer b.d penurunan
suplai oksigen ke O : konjungtiva masih anemis,
jaringan
akral masih teraba dingin dan
CRT > 3 detik.

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
22/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 140/80, N:
88x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak
RR : 28x/I PCO2 : 29 mmol/L
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki

Poltekkes Kemenkes Padang


cairan b/d retensi masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan
O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 1000 cc/hari, warna
kecoklatan.
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Ketidakefektifan S : pasien mengatakan masih
perfusi jaringan
lemah
perifer b.d penurunan
suplai oksigen ke O : konjungtiva masih anemis,
jaringan
akral masih teraba dingin dan
CRT > 3 detik.

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
23/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 140/90, N:
87x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak
RR : 26 x/I PCO2 : 29 mmol/L
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan

Poltekkes Kemenkes Padang


O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 1000 cc/hari, warna
kekuningan
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Ketidakefektifan S : pasien mengatakan masih
perfusi jaringan
lemah
perifer b.d penurunan
suplai oksigen ke O : konjungtiva masih anemis,
jaringan
akral masih teraba dingin dan
CRT > 3 detik.

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
24/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
masih terasa lemah
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak pucat, akral
teraba dingin, TD : 130/80, N:
86x/i
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan nafas
gas b/d edema paru masih terasa sesak
O : pasien tampak masih sesak
RR : 27x/I PCO2 : 29 mmol/L
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
masih bengkak dan sulit
natrium dan air
digerakkan
O : edema pada kedua tungkai
bawah, urin 900 cc/hari, warna

Poltekkes Kemenkes Padang


kekuningan
A : masalah blm teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Ketidakefektifan S : pasien mengatakan masih
perfusi jaringan
lemah
perifer b.d penurunan
suplai oksigen ke O : konjungtiva masih anemis,
jaringan
akral masih teraba dingin dan
CRT > 3 detik.

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
25/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan tubuh
jantung b/d penurunan
mulai bertenaga.
kontraksi ventrikel
O : akral teraba hangat, TD :
140/80, N: 87x/i.
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan sesak
gas b/d edema paru muali berkurang
O : pasien tampak masih sesak
RR : 24x/I PCO2 : 29 mmol/L
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
bengkak pada kaki mulai
natrium dan air
berkurang.
O : edema pada kedua tungkai
bawah mulai berkurang, urin
1100 cc/hari, warna
kekuningan.
A : masalah teratasi sebagian

Poltekkes Kemenkes Padang


P : intervensi dilanjutkan
Ketidakefektifan S : pasien mengatakan tubuh
perfusi jaringan
mulai bertenaga
perifer b.d penurunan
suplai oksigen ke O : konjungtiva tidak anemis,
jaringan
akral masih teraba hangat dan
CRT < 3 detik.

Tgl Diagnosa Evaluasi Keperawatan Paraf


Keperawatan
26/5/2017 penurunan curah S : pasien mengatakan sudah
jantung b/d penurunan
mulai bertenaga
kontraksi ventrikel
O : pasien tampak mulai
bertenaga, akral teraba hangat,
TD : 130/80, N: 85x/i
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
Gangguan pertukaran S : pasien mengatakan tidak
gas b/d edema paru sesak nafas
O : pasien tampak tidak sesak
RR : 20 x/I.
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
kelebihan volume S : pasien mengatakan kaki
cairan b/d retensi
tidak bengkak
natrium dan air
O : edema pada kedua tungkai
bawah sudah berkurang, urin
1200 cc/hari, warna
kekuningan.
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
Ketidakefektifan S : pasien mengatakan sudah

Poltekkes Kemenkes Padang


perfusi jaringan bertenaga
perifer b.d penurunan
O : konjungtiva tidak anemis,
suplai oksigen ke
jaringan akral masih teraba hangat dan
CRT < 3 detik.

Poltekkes Kemenkes Padang


Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang
Poltekkes Kemenkes Padang