Anda di halaman 1dari 14

Antena

Jenis antena yang akan dipasang harus sesuai dengan sistem yang akan kita bangun, juga
disesuaikan dengan kebutuhan penyebaran
sinyalnya. Ada dua jenis antena secara umum :
1. Directional
2. Omni Directional

Antena Directional
Antena jenis ini merupakan jenis antena dengan narrow beamwidth, yaitu punya sudut
pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau
area yang luas, contohnya : antena Yagi, Panel, Sektoral dan antena Parabolik 802.11b yang
dipakai sebagai Station atau Master bisa menggunakan jenis antena ini di kedua titik, baik untuk
Point to Point atau Point to Multipoint.

Antena Omni-Directional
Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth) yaitu 3600; dengan daya
lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas Omni antena tidak
dianjurkan pemakaian-nya,
karena sifatnya yang terlalu luas se-hingga ada kemungkinan mengumpulkan sinyal lain yang
akan menyebabkan inter-ferensi.

Pola Radiasi Antena


Parameter umum :
main lobe (boresight)
half-power beamwidth (HPBW)
front-back ratio (F/B)
pattern nulls
Biasanya, diukur pada dua keadaan :
– Vector electric field yang mengacu pada E-field
– Vector magnetic field yang mengacu pada H-field

Polarisasi
Polarisasi antena relatif terhadap E-field dari antena.
Jika E-field-nya horisontal, maka antenanya Horizontally Polarized.
Jika E-field vertikal, maka antenanya Vertically Polarized.
Polarisasi apapun yang dipilih, antena pada satu jaringan RF harus memiliki polarisasi yang
sama.

Polarisasi dapat dimanfaatkan untuk :


– Meningkatkan isolasi dari sinyal yang tidak diinginkan (Cross Polarization Discrimination (x-pol)
biasanya sekitar 25 dB)
– Mengurangi interferensi
– Membantu menentukan satu daerah pelayanan tertentu.

Impedansi Antena
Impedansi yang cocok akan menghasilkan pemindahan daya yang maksimum. Antena juga
berfungsi sebagai matching load-nya transmitter
(50 Ohms)
Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) adalah satuan yang menunjukan sampai dimana
antena sesuai (match) dengan jalur transmisi yang dikirimnya.

VSWR adalah rasio dari tegangan yang keluar dari antena dengan tegangan pantulan.
Kesesuaian didapatkan jika nilai VSWR menjadi sekecil mungkin, nilai 1,5:1 pada pita frekwensi
yang dipakai merupakan batasan maksimum.

Return Loss
Return Loss berhubungan dengan VSWR, yaitu mengukur daya dari sinyal yang dipantulkan
oleh antena dengan daya yang dikirim ke antena.
Semakin besar nilainya (dalam satuan dB), semakin baik. Angka 13.9dB sama dengan VSWR
1,5:1. Return Loss 20dB adalah nilai yang cukup bagus, dan setara dengan VSWR of 1,2:1

Tabel perbandingan VSWR dengan kehilangan


daya.

http://mandorkawat2009.wordpress.com/tag/tabel-perbandingan-vswr-dengan-kehilangan-daya-
return-loss/

WNDW: Antena dan pola radiasi


Antena adalah bagian sistem komunikasi yang sangat penting. Sesuai definisinya, antena adalah alat
yang dulu digunakan untuk mengubah sinyal RF yang berjalan pada konduktor menjadi gelombang
elektromagnetik di ruang bebas. Antena mempertunjukkan sebuah karakteristik yang biasa dikenal
sebagai ketimbal-balikan, yang berarti bahwa antena akan memelihara sifat yang sama terlepas apakah
antena tersebut memancarkan atau menerima. Kebanyakan antena adalah alat yang beresonansi, yang
beroperasi secara efisien sebuah pita frekuensi yang relatif sempit. Antena harus di-tune kepada pita
frekuensi sama dari sistem radio yang tersambung ke antena itu, jika tidak maka penerimaan dan
pemancaran akan terhalangi. Ketika sebuah sinyal masuk ke antena, antena akan memancarkan radiasi
yang disebarkan di ruang dalam cara tertentu. Sebuah gambaran distribusi relatif daya yang dipancarkan
di ruang dinamakan pola radiasi.

Daftar istilah-istilah antena

Sebelum kita berbicara tentang antena tertentu, ada beberapa istilah-istilah umum yang harus
didefinisikan dan diterangkan:

 Input Impedance. Untuk pemindahan energi yang efisien, impedansi radio, antena, dan kabel
pengiriman yang menyambung mereka harus sama. Transceivers dan kabel penghubung mereka
biasanya didesain untuk impedenasi 50Ω. Jika antena mempunyai impedance berbeda dari 50Ω,
maka akan ada ketidakcocokan dan sebuah rangkaian pencocok impedansi akan diperlukan. Ketika
impedance tidak cocok, efisiensi pengiriman menurun.

 Return Loss. Return Loss adalah cara lain mengungkapkan ketidakcocokan. Return Loss adalah
rasio logaritmik yang diukur dalam dB yang membandingkan daya yang dipantulkan oleh antena
dengan daya yang dimasukan ke dalam antena dari jalur pengiriman. Hubungan antara SWR dan
Return Loss adalah sebagai berikut:

SWR
Return Loss (dalam dB) = 20log10 --------
SWR-1

Pada saat sebagian energi selalu akan dipantulkan kembali ke dalam sistem, return Loss yang tinggi
akan menghasilkan kinerja antena yang tak dapat diterima.

 Lebar Pita (Bandwidth). Lebar pita antena merujuk pada frekuensi dimana antena bisa beroperasi
secara baik. Pita lebar antena menggunakan satuan Hz dimana antena akan menunjukkan SWR
kurang dari 2:1.
Bandwidth juga bisa dideskripsikan dalam bentuk persentase frekuensi pusat pita.

F H - FL
Bandwidth = 100 x ----------
FC

di mana FH adalah frekuensi yang paling tinggi di pita, FL adalah frekuensi yang paling rendah di pita,
dan FC adalah frekuensi tengah di pita.

Dengan begitu, lebar pita adalah konstanta relatif terhadap frekuensi. Jika lebar pita diungkapkan di
satuan-satuan mutlak frekuensi, lebar pita akan berbeda bergantung pada frekuensi tengah. Macam
antena yang berbeda mempunyai keterbatasan lebar pita yang berbeda.

http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/WNDW:_Antena_dan_pola_radiasi
KARAKTERISTIK DAN PARAMETER ANTENA

PENDAHULUAN
Antena (antenna) adalah perangkat yang berfungsi untuk memindahkan energi gelombang
elektromagnetik dari media kabel ke udara atau sebaliknya dari udara ke media kabel. Karena
merupakan perangkat perantara antara media kabel dan udara, maka antena harus mempunyai sifat
yang sesuai dengan media kabel pencatunya.
Dalam perancangan suatu antena, baberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya: bentuk dan arah
radiasi yang diinginkan, polarisasi yang dimiliki, frekuensi kerja, lebar band (bandwidth), dan impedansi
input yang dimiliki.
Untuk antena yang bekerja pada band VLF, LF, HF, VHF dan UHF bawah, sering mennggunakan jenis
antena kawat (Gambar 1). Antena jenis ini, dimensi fisiknya disesuaikan dengan panjang gelombang
dimana sistem bekerja. Semakin tinggi frekuensi kerja, maka semakin pendek panjang gelombangnya,
sehingga semakin pendek panjang fisik suatu antena.
Untuk antena gelombang mikro, penggunaan antena luasan (aperture antena) seperti antena horn,
antena parabola (Gambar2), akan lebih efektif dibanding dengan antena kawat. Karena antena yang
demikian mempunyai sifat pengarahan yang baik untuk memancarkan gelombang elektromagnetik.

1. KARAKTERISTIK DAN PARAMETER ANTENA

1. Radiasi Gelombang Elektromagnetik


Struktur pemancaran gelombang elektromagnetik yang paling sederhana adalah radiasi gelombang yang
ditimbulkan oleh sebuah elemen arus kecil yang berubah-ubah secara harmonik. Elemen arus terkecil
yang dapat menimbulkan pancaran gelombang elektromagnetik itu disebut sumber elementer (Lihat
Gambar 3 ).
Jika medan yang ditimbulkan oleh setiap sumber elementer di dalam suatu konduktor antena dapat
dijumlahkan secara keseluruhan, maka sifat-sifat radiasi dari sebuah antena akan diketahui. Timbulnya
radiasi karena adanya sumber yang berupa arus bolak-balik ini diketahui secara matematis dari
penyelesaian gelombang Helmhotz. Persamaan Helmholtz merupakan persamaan hasil penurunan lebih
lanjut dari persamaan-persamaan Maxwell (lihat lampiran) dengan memasukkan kondisi Lorentz sebagai
syarat batasnya. Dari hasil penyelesaian persamaan differrensial Helmholtz dengan menggunakan dyrac
Green’s function, ditemukan bahwa potensial vektor pada suatu titik yang ditimbulkan oleh adanya arus
yang mempunyai distribusi arus J adalah :

(1)
dimana : Az = vektor potensial pada arah z
J = kerapatan arus
b = bilangan gelombang (2p/l)
R = jarak titik pengamatan P dengan suber elementer
v’ = sumber elementer.
Persamaan di atas berlaku untuk segala bentuk sumber dan semua sistem koordinat, sehingga untuk
mencari medan yang ditimbulkan oleh bermacam-macam bentuk dapat dipilih sistem koordinat yang
sesaui dengan bentuk antena. Dengan diketahui potensial vektor A dari suatu sistem, maka medan
magnet H dan medan listrik E yang dipancarkan oleh sumber itu akan dapat diketahui. Untuk medan
magnet H dapat diperoleh dari persamaan :
H = Ñ x A (2)
Sedangkan medan listrik E dapat diperoleh dari salah satu bentuk persamaan Maxwell :
Ñ x H = J + j w e E (3)
Sehingga medan listrik E untuk daerah di dalam konduktor sumber adalah :

E= (Ñ x H – J) (4)
Dan untuk daerah di luar konduktor di mana J = 0, maka medan listrik E dari persamaan .. menjadi :

E= Ñ x H (5)
Apabila elemen sumber dan medan radiasinya berada di dalam koordinat bola, maka arah propagasi
gelombangnya akan searah dengan vektor jari-jarinya. Sedangkan medan listrik dan medan magnet
hanya mempunyai komponen q atau f, yang dalam ruang bebas akan berlaku :

Hf = dan Hq = (6)

Dengan : h = ( impedansi intrinsik medium)


(Lihat Gambar 1.2 Vektor medan dan poynting vektor pada koordinat bola)
2. POLA RADIASI
Pola radiasi antena adalah pernyataan grafis yang menggambarkan sifat radiasi suatu antena pada
medan jauh sebagai fungsi arah. Pola radiasi dapat disebut sebagai pola medan (field pattern) apabila
yang digambarkan adalah kuat medan dan disebut pola daya (power pattern) apabila yang
digambarkan poynting vektor. Untuk dapat menggambarkan pola radiasi ini, terlebih dahulu harus
ditemukan potensialnya.
Dalam koordinat bola, medan listrik E dan medan magnet H telah diketahui, keduanya memiliki
komponen vetor q dan f. Sedangkan poynting vektornya dalam koordiant ini hanya mempunyai
komponen radial saja. Besarnya komponen radial dari poynting vektor ini adalah :

Pr = ½ (7)
Dengan : | E | = (resultan dari magnitude medan listrik)
Eq : komponen medan listrik q
Ef : komponen medan listrik f
h : impedansi intrinsik ruang bebas (377 W)
Untuk menyatakan pola radiasi secara grafis, pola tersebut dapat digambarkan dalam bentuk absolut
atau dalam bentuk relatif. Bentuk relatif adalah bentuk pola yang sudah dinormalisasikan, yaitu setiap
harga dari pola radiasi tersebut telah dibandingkan dengan harga maksimumnya. Sehingga pola radiasi
medan, apabila dinyatakan didalam pola yang ternormalisasi akan mempunyai bentuk :

F(q,f ) = (8)
Karena poynting vektor hanya mempunyai komponen radiasi yang sebenarnya berbanding lurus dengan
kuadrat magnitudo kuat medannya, maka untuk pola daya apabila dinyatakan dalam pola ternormalisasi,
tidak lain sama dengan kuadrat dari pola medan yang sudah dinormalisasikan itu.
P(q,f ) = | F(q,f ) |2 (9)
Seringkali juga pola radiasi suatu antena digambarkan dengan satuandecibel (dB). Intensitas medan
dalam decibel didefinisikan sebagai :
F(q,f ) dB = 20 log | F(q,f ) | (dB) (10)
Sedangkan untuk pola dayanya didalam decibel adalah :
P(q,f ) dB = 10 log P(q,f )
= 20 log | F(q,f ) | (11)
Semua pola radiasi di atas adalah pola radiasi untuk kondisi medan jauh. Dalam pengukuran pola radiasi,
faktor jarak mempengaruhi hasil pengukuran yang baik dan teliti. Semakin jauh jarak pengukuran pola
radiasi yang digunakan semakin baik hasil yang diperoleh. Untuk melakukan pengukuran pola radiasi
pada jarak yang benar-benar tak terhingga adalah suatu hal yang tak mungkin. Untuk keperluan
pengukuran ini, ada suatu daerah di mana medan yang diradiasikan oleh antena sudah dapat dianggap
sebagai tempat medan jauh apabila jarak antara sumber radiasi dengan antena yang diukur memenuhi
ketentuan berikut :

r> (12)
r >> D dan r >> l
Dimana : r : jarak pengukuran
D : dimensi antena yang terpanjang
l : panjang gelombang yang dipancarkan sumber.
2.a Side Lobe Level

Ukuran yang menyatakan besar daya yang terkonsentrasi pada side lobe dibanding dengan main
lobe disebut Side Lobe Level (SLL), yang merupakan rasio dari besar puncak dari side lobe terbesar
dengan harga maksiumum dari main lobe. Side Lobe Level (SLL) dinyatakan dalamdecibel (dB), dan
ditulis dengan rumus sebagai berikut :

SLL = 20 log dB (13)


Dengan :F(SLL) : nilai puncak dari side lobe terbesar
F(maks) : nilai maksimum dari main lobe
Untuk normalisasi, F(maks) mempunyai harga = 1 (satu).
2.b Half Power Beam Width (HPBW)
HPBW adalah sudut dari selisih titik-titik pada setengah pola daya dalammain lobe, yang dapat
dinyatakan dalam rumus sebagai berikut :
HPBW = | q HPBW left - q HPBW right | (14)
Dengan q HPBW left dan q HPBW right : titik-titik pada kiri dan kanan dari main lobe dimana pola daya
mempunyai harga ½ .
Suatu antena yang mempunyai pola radiasi broad side adalah antena dimana pancaran utama
maksimum dalam arah normal terhadap bidang dimana antena berada. Sedangkan antena end
fire adalah antena yang pancaran utama maksimum dalam arah paralel terhadap bidang utama antena.
Namun ada juga antena yang mempunyai pola radiasi di mana arah maksimum main lobe berada
diantara bentuk broad side dan end fire yang disebut dengan intermediate.(lihat pola radiasipada gambar
4).
3. Direktivitas dan Gain
Hal terpenting dari suatu antena adalah seberapa besar antena mampu mengkonsentrasikan energi pada
suatu arah yang diinginkan, dibandingkan dengan radiasi pada arah yang lain. Karakteristik tersebut
dinamakan direktivitas (directivity) dan power gain. Power gain dinyatakan relatif terhadap suatu referensi
tertentu, seperti sumber isotropis atau dipole ½ l.
Intensitas radiasi adalah daya yang diradiasikan pada suatu arah per unit sudut dan mempunyai satuan
watt per steradian. Intensitas radiasi, dapat dinyatakan sebagai berikut :
U(q,f) = ½ Re (E x H*) r2 = Pr r2 (15)
U(q,f) = Um | F(q,f) |2 (16)
Dimana : Pr = kerapatan daya
Um = intensitas maksimum
| F(q,f) |2 = magnitudo pola medan normalisasi
Intensitas radiasi dari sumber isotropis adalah tetap untuk seluruh ruangan pada suatu harga U(q,f). Dan
untuk sumber non isotropis, intensitas radiasinya tidak tetap pada seluruh ruangan tetapi suatu daya rata-
rata per steradian, dapat dinyatakan sebagai berikut :

Uave = (17)
Dengan : d W = sin q dq df
PT : kerapatan daya total
3.a Direktivitas Antena
Directive gain adalah perbandingan intensitas radiasi pada suatu arah dengan intensitas radiasi rata-rata,
yang dinyatakan sebagai berikut :

D(q,f) = (18)
Dimana : U(q,f) = intensitas radiasi, Uave = intensitas radiasi rata-rata
Jika pembilang dan penyebut dibagi dengan r2 maka akan diperoleh rasio kerapatan daya dengan
kerapatan daya rata-rata. Dengan memasukkan persamaan 16 dan 17 kedalam persamaan 18 maka
akan diperoleh persamaan sebagai berikut :

(19)

Dengan WA = (20)
Sedangkan direktivitas merupakan harga maksimum dari directive gain, yang dapat dinyatakan dengan :

D= (21)
3.b. Gain Antena
Penggunaan antena biasanya lebih memperhatikan efisien dalam memindahkan daya yang terdapat
pada terminal input menjadi daya radiasi. Untuk menyatakan ini, power gain (atau gain saja) didefinisikan
sebagai 4p kali rasio dari intensitas pada suatu arah dengan daya yang diterima antena, dinyatakan
dengan :

G(q,f) = 4p (22)
Definisi ini tidak termasuk losses yang disebabkan oleh ketidaksesuaian impedansi (impedance
missmatch ) atau polarisasi. Harga maksimum darigain adalah harga maksimum dari intensitas radiasi
atau harga maksimum dari persamaan (22), sehingga dapat dinyatakan dengan :

G = 4p (23)
Jika tidak ada arah yang ditentukan dan harga power gain tidak dinyatakan sebagai suatu fungsi dari q
dan f, diasumsikan sebagai gain maksimum.
Direktivatas dapat ditulis sebagai D = 4p , jika dibandingakan dengan persamaan (23) maka akan
terlihat bahwa perbedaan gain maksimum dengan direktivitas hanya terletak pada jumlah daya yang
digunakan. Direktivitas dapat menyatakan gain suatu antena jika seluruh daya input menjadi daya radiasi.
Dan hal ini tidak mungkin terjadi karena adanyalosses pada daya input. Bagian daya input (Pin) yang
tidak muncul sebagai daya radiasi diserap oleh antena dan struktur yang dekat dengannya. Hal tersebut
menimbulkan suatu definisi baru, yaitu yang disebut denganefisiensi radiasi, dapat dinyatakan dalam
persamaan sebagai berikut :

e= (24)
dengan harga e diantara nol dan satu ( 0 < e < 1) atau ( 0 < e < 100%).Sehingga gain maksimum suatu
antena sama dengan direktivitas dikalikan dengan efisiensi dari antena, yang dapat dinyatakan sebagai
berikut :
G = e D (25)
Namun dalam prakteknya jarang gain antena dihitung berdasarkan direktivitas (directivity) dan efisiensi
yang dimilikinya, karena diperlukan perhitungan yang tidak mudah. Salah satu metode pengukuran power
gainmaksimum terlihat seperti pada gambar 5. Sebuah antena sebagai sumber radiasi, dicatu dengan
daya tetap oleh transmitter sebesar Pin. Mula-mula antena standard dengan power gain maksimum yang
sudah diketahui (Gs) digunakan sebagai antena penerima seperti terlihat pada gambar 5a. Kedua antena
kemudian saling diarahkan sehingga diperoleh daya output Ps yang maksimum pada antena penerima.
Selanjutnya antena standard diganti dengan antena yang akan dicari power gain-nya, sebagaimana
terlihat pada gambar 5b. Dalam posisi ini antena penerima harus mempunyai polarisasi yang sama
dengan antena standard dan diarahkan sedemikian rupa agar diperoleh daya out put Pt yang maksimum.
Apabila pada antena standardsudah diketahui gain maksimumnya, maka dari pengukuran gainmaksimum
antena yang dicari dapat dihitung dengan :

Gt = Gs (26)
Atau jika dinyatakan dalam decibel adalah :
Gt (dB) = Pt (dB) - Ps (dB) + Gs (dB) (27)
4. IMPEDANSI ANTENA
Impedansi input akan dipengaruhi oleh antena-antena lain atau obyek-obyek yang dekat dengannya.
Untuk mempermudah dalam pembahasan diasumsikan antena terisolasi.
Impedansi antena terdiri dari bagain riil dan imajiner, yang dapat dinyatakan dengan :
Zin = Rin + j Xin (28)
Resistansi input (Rin) menyatakan tahanan disipasi. Daya dapat terdisipasi melalui dua cara, yaitu karena
panas pada struktur antena yang berkaitan dengan perangkat keras dan daya yang meninggalkan antena
dan tidak kembali (teradiasi). Reaktansi input (Xin) menyatakan daya yang tersimpan pada medan dekat
dari antena. Disipasi daya rata-rata pada antena dapat dinyatakan sebagai berikut :
Pin = ½ R | Iin |2 (29)
Dimana : Iin = arus pada terminal input
Faktor ½ muncul karena arus didefinisikan sebagai harga puncak. Daya dissipasi dapat diuraikan
menjadi daya rugi ohmic dan daya rugi radiasi, yang dapat ditulis dengan :
Pin = Pohmic + Pr (30)
Dimana : Pr : ½ Rin | Iin |2
Pohmic = ½ Rohmic | Iin |2
Sehingga definisi resistansi radiasi dan resistansi ohmic suatu antena pada terminal input adalah :

(31a)

(31b)
Resistansi radiasi adalah relatif terhadap arus pada setiap titik antena. Biasanya digunakan arus
maksimum, dengan kata lain arus yang digunakan pada persamaan 30 adalah arus maksimum.
Untuk memaksimumkan perpindahan daya dari antena ke penerima, maka impedansi antena
haruslah conjugate match (besarnya resistansi dan reaktansi sama tetap berlawanan tanda). Jika hal ini
tidak terpenuhi maka akan terjadi pemantulan energi yang dipancarkan atau diterima, sesaui dengan
persamaan sebagai berikut :

GL = (32)
Dengan : e-L = tegangan pantul ZL = impedansi beban
e+L = tegangan datang Zin = impedansi input
Sedangkan Voltage Standing Wave Ratio (VSWR), dinyatakan sebagai berikut :

VSWR = (33)
Dalam prakteknya VSWR harus bernilai lebih kecil dari 2 (dua).
5. POLARISASI ANTENA
Polarisasi antena didefinisikan sebagai arah vektor medan listrik yang diradiasikan oleh antena pada arah
propagasi. Jika jalur dari vektor medan listrik maju dan kembali pada suatu garis lurus dikatakan
berpolarisasilinier.
Jika vektor medan listik konstan dalam panjang tetapi berputar disekitar jalur lingkaran, dikatakan
berpolarisasi lingkaran. Jika vektornya berputar berlawanan arah jarum jam dinamakan polarisasi tangan
kanan (right hand polarize) dan yang searah jarum jam dinamakan polarisasi tangan kiri (left hand
polarize).
Gelombang yang menghasilkan polarisasi ellip adalah gelombang berjalan sepanjang sumbu z yang
perputarannya dapat ke kiri dan ke kanan, dan vektor medan listrik sesaatnya e mempunyai arah
komponen ex dan eysepanjang sumbu x dan sumbu y. Harga puncak dari komponen-komponen tersebut
adalah E1 dan E1.
Harga ralatif dari E1 dan E2, dapat dinyatakan sebagai berikut :

(34)
Sudut kemiringan ellips t adalah sudut antara sumbu x dengan sudut utama ellips. d adalah fase, dimana
komponen y mendahului komponen x. Jika komponennya sefase (d =0), maka vektor akan berpolarisasi
linier.
Orientasi dari polarisasi linier tergantung tergantung harga relatif dari E1 danE2,.
jika : E1 = 0 maka terjadi polarisasi linier vertikal
E2 = 0 maka terjadi polarisasi linier horisontal
E1= E2 maka terjadi polarisasi linier membentuk sudut 450
Untuk memaksimumkan sinyal yang diterima, maka polarisasi antena penerima harus sama dengan
polarisasi antena pemancar. Kadang terjadi antara antena penerima dan pemancar berpolarisasi
berbeda. Hal tersebut akan mengurangi intensitas sinyal yang diterima.
Sebuah antena dapat memancarkan energi dengan polarisasi yang tidak diinginkan (polarisasi silang
/cross polarized) dan berakibati mengurangigain.
6. Bandwidth Antena
Antena dituntut bekerja dengan efektif agar dapat menerima atau memancarkan gelombang pada band
frekuensi tertentu. Bekerja efektif artinya distribusi arus dan impedansi dari antena pada range frekuensi
tersebut belum banyak mengalami perubahan dan belum keluar dari batas yang diijinkan. Daerah
frekuensi kerja dimana antena dapat bekerja dengan baik dinamakan bandwidth antenna. Misal sebuah
antena bekerja pada frekuensi sebesar fC, namun ia juga masih dapat bekerja dengan baik pada
frekuensi f1 < fC sampai dengan f2 > fC, maka lebar bandwidth dari antena tersebut adalah (f1 – f2).
Apabila dinyatakan dalam prosen, maka bandwidthantena tersebut adalah :

BW = x 100 % (35)
Bandwidth yang dinyatakan dalam prosen digunakan untuk menyatakanbandwidth antena
dengan band sempit (narrow band). Untuk band yang lebar (broad band) digunakan definsi rasio antara
batas frekuensi atas dengan frekuensi bawah.

BW = (36)
Bandwidth antena dipengaruhi oleh luas penampang konduktor dan bentuk geometrinya. Misalnya pada
antena dipole akan mempunyai bandwidthyang semakin lebar apabila penampang konduktor yang
digunakannya semakin besar. Demikian pula pada antena yang mempunyai susunan fisik yang berubah
secara smoth akan menghasilkan pola radiasi dan impedansi input yang berubah secara smoth terhadap
perubahan frekuensi. Pada jenis antena gelombang berjalan (tavelling wave) ternyata ditemukan lebih
lebar range frekuensi kerjanya daripada antena resonan.

1. KESIMPULAN

1. Antena jenis antena kawat dimensi fisiknya disesuaikan dengan panjang gelombang dimana sistem
bekerja. Semakin tinggi frekuensi kerja, maka semakin pendek panjang gelombangnya, sehingga
semakin pendek panjang fisik suatu antena. Untuk antena gelombang mikro, menggunakan antena
luasan (aperture antena) karena mempunyai sifat pengarahan yang baik untuk memancarkan gelombang
elektromagnetik.
2. Dalam pengukuran pola radiasi, faktor jarak mempengaruhi ketelitian hasil pengukuran. Semakin jauh
jarak pengukuran pola radiasi yang digunakan semakin baik hasil yang diperoleh. Untuk melakukan
pengukuran pola radiasi pada jarak yang benar-benar tak terhingga adalah suatu hal yang tak mungkin.
3. Karakter yang penting dari suatu antena adalah seberapa besar antena mampu mengkonsentrasikan
energi pada suatu arah yang diinginkan, dibandingkan dengan radiasi pada arah yang lain.
4. Untuk memaksimumkan perpindahan daya dari antena ke penerima, maka impedansi antena
haruslah conjugate match (besarnya resistansi dan reaktansi sama tetap berlawanan tanda).
5. Untuk memaksimumkan sinyal yang diterima, maka polarisasi antena penerima harus sama dengan
polarisasi antena pemancar. Antena bekerja efektif artinya distribusi arus dan impedansi dari antena
pada range frekuensi tersebut belum banyak mengalami perubahan dan belum keluar dari batas yang
diijinkan.
D. DAFTAR PUSTAKA
1. Dr. Ing Mudrik Alaydrus, Antena Reflektor. <http//Mudrikalaydrus.files. wordpress.com/2008/05>.
Diakses tanggal 14 November 2008 Jam 19.11.

1. John D. Krous. 1988. Antenas. McGraw-Hill Book Company.

1. Subagjo Basuki B. 2003. Antena dan Propagasi. Polines. Semarang.

1. Uke Kurniawan Usman.Sistem LMDS Wireless Broadband


.<www.te.ugm.ac.id/~nanangsw>. Diakses tanggal 2 November 2008 Jam 19.48.

1. Umi Fadhillah. Simulasi Pola Radiasi Antena Dipole Tunggal.


<http://eprints.ums.ac.id/16/1/Emitor>. Diakses tanggal 7 November 2008 Jam 19.20.

http://erdeka-okey.blogspot.com/2009/01/karakteristik-dan-parameter-antena.html
Kinerja dan daya guna suatu antena dapat dilihat dari nilai parameter-parameter antena
tersebut. Beberapa dari parameter tersebut saling berhubungan satu sama lain. Parameter-
parameter antena yang biasanya digunakan untuk menganalisis suatu antena adalah impedansi
masukan, Voltage Wave Standing Ratio (VSWR), return loss, bandwidth, keterarahan, dan
penguatan.

Impedansi masukan
Impedansi masukan adalah perbandingan (rasio) antara tegangan dan arus. Impedansi
masukan ini bervariasi untuk nilai posisi tertentu.

di mana Zin merupakan perbandingan antara jumlah tegangan (tegangan masuk dan tegangan
refleksi (V)) terhadap jumlah arus (I) pada setiap titik z pada saluran, berbeda dengan
karakteristik impedansi saluran (Z0) yang berhubungan dengan tegangan dan arus pada setiap
gelombang.
Pada saluran transmisi, nilai z diganti dengan nilai –l ( z = -l) , sehingga persamaan di atas
menjadi :

Voltage Standing Wave Ratio (VSWR)


VSWR adalah perbandingan antara amplitudo gelombang berdiri (standing wave) maksimum
(|V|max) dengan minimum (|V|min). Pada saluran transmisi ada dua komponen gelombang
tegangan, yaitu tegangan yang dikirimkan (V0+) dan tegangan yang direfleksikan (V0-).
Perbandingan antara tegangan yang direfleksikan dengan yang dikirimkan disebut sebagai
koefisien refleksi tegangan (Γ), yaitu :

di mana ZL adalah impedansi beban (load) dan Z0 adalah impedansi saluran lossless.
Koefisien refleksi tegangan (Γ) memiliki nilai kompleks, yang merepresentasikan besarnya
magnitudo dan fasa dari refleksi. Untuk beberapa kasus yang sederhana, ketika bagian imajiner
dari Γ adalah nol, maka :
a. Γ = -1 : refleksi negatif maksimum, ketika saluran terhubung singkat
b. Γ = 0 : tidak ada refleksi, ketika saluran dalam keadaan matched sempurna.
c. Γ = +1 : refleksi positif maksimum, ketika saluran dalam rangkaian terbuka.

Rumus untuk mencari nilai VSWR adalah

Kondisi yang paling baik adalah ketika VSWR bernilai 1 (S = 1) yang berarti tidak ada refleksi
ketika saluran dalam keadaan matching sempurna. Namun kondisi ini pada prakteknya sulit
untuk didapatkan. Oleh karena itu, nilai standar VSWR yang diijinkan untuk fabrikasi antena
adalah VSWR ≤ 2.

Return Loss
Return loss adalah perbandingan antara amplitudo dari gelombang yang direfleksikan terhadap
amplitudo gelombang yang dikirimkan. Return loss dapat terjadi karena adanya diskontinuitas di
antara saluran transmisi dengan impedansi masukan beban (antena). Pada rangkaian gelombang
mikro yang memiliki diskontinuitas (mismatched), besarnya return loss bervariasi tergantung
pada frekuensi seperti yang ditunjukkan oleh

Nilai dari return loss yang baik adalah di bawah -9,54 dB, nilai ini diperoleh untuk nilai VSWR ≤
2 sehingga dapat dikatakan nilai gelombang yang direfleksikan tidak terlalu besar dibandingkan
dengan gelombang yang dikirimkan atau dengan kata lain, saluran transmisi sudah matching.
Nilai parameter ini menjadi salah satu acuan untuk melihat apakah antena sudah dapat bekerja
pada frekuensi yang diharapkan atau tidak.

Bandwidth
Bandwidth suatu antena didefenisikan sebagai rentang frekuensi di mana kinerja antena yang
berhubungan dengan beberapa karakteristik (seperti impedansi masukan, polarisasi, beamwidth,
polarisasi, gain, efisiensi, VSWR, return loss) memenuhi spesifikasi standar. Bandwitdh dapat
dicari dengan rumus berikut ini

Keterangan :
f1 = frekuensi terendah
f2 = frekuensi tertinggi
fc = frekuensi tengah
Ada beberapa jenis bandwidth di antaranya :
a. Impedance bandwidth, yaitu rentang frekuensi di mana patch antena berada pada
keadaan matchingdengan saluran pencatu. Hal ini terjadi karena impedansi dari elemen antena
bervariasi nilainya tergantung dari nilai frekuensi. Nilai matching ini dapat dilihat dari return
loss dan VSWR. Nilai return loss dan VSWR yang masih dianggap baik adalah kurang dari -9,54
dB.
b. Pattern bandwidth, yaitu rentang frekuensi di mana bandwidth, sidelobe, atau gain, yang
bervariasi menurut frekuensi memenuhi nilai tertentu. Nilai tersebut harus ditentukan pada awal
perancangan antena agar nilai bandwidth dapat dicari.
c. Polarization atau axial ratio bandwidth adalah rentang frekuensi di mana polarisasi
(linier atau melingkar) masih terjadi. Nilai axial ratio untuk polarisasi melingkar adalah kurang
dari 3 dB
http://mhs.blog.ui.ac.id/dony/2012/02/24/parameter-antena/