Anda di halaman 1dari 45

PANDUAN PRAKTEK KLINIS

BEDAH ORTHOPEDI

DAFTAR ISI

1. OPEN FRAKTUR DISTAL TIBIA


2. CLOSE FRAKTUR CLAVICULA
3. FINGER TIP INJURY
4. DISLOKASI SHOULDER JOINT ANTERIOR
5. GANGLION
6. DISLOKASI ELBOW JOINT POSTERIOR
7. DISLOKASI CAPUT FEMUR POSTERIOR
8. DISLOKASI OS PATELLA
9. KAPSULITIS ADHESIF
10. OSTEROARTRITIS GENU BILATERAL
OPEN FRAKTUR DISTAL TIBIA

1. . Pengertian ( definisi) Adalah suatu patahan pada kontinuitas tulang tibia dengan
adanya luka terbuka pada kulit dan tulang yang menonjol keluar.
2. Anamnesa Riwayat cedera diikuti dengan ketidakmampuan menggunakan
tungkai bawah yang cedera, adanya luka robek, perdarahan dan
nyeri.
3. Pemeriksaan fisik Deformitas pada tungkai bawah (+), vulnus laceratum (+), bone
expose (+), perdarahan (+).
4. Kriteria diagnose Trauma pada tungkai bawah (+), luka robek (+), tulang yang
menonjol keluar (+), perdarahan (+), nyeri (+)
Pembengkakan dan deformitas pada tungkai bawah, rasa nyeri
pada luka terbuka dan perdarahan.
5. Diagnosa OPEN FRACTURE TIBIA
6. Diagnosa banding OPEN FRACTURE TIBIA FIBULA
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Pembalutan luka dengan segera
 Pemberian profilaksis antibiotika
 Debridemen luka secara dini
 Stabilisasi fraktur
 Rekonstruksi tulang
9. Edukasi Perawatan post edukasi dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
CLOSE FRAKTUR CLAVICULA

1. Pengertian (definisi) Adalah suatu patahan pada kontinuitas tulang clavicula tanpa
adanya robekan pada kulit serta tulang tidak terekspos keluar.
2. Anamnesa Riwayat trauma terjatuh dengan posisi lengan menumpu tubuh,
diikuti dengan adanya rasa nyeri dan benjolan pada area clavicula.
3. Pemeriksaan fisik Benjolan dibawah kulit (+), lengan digendong (+), nyeri dan
kelemahan pada bahu.
4. Kriteria diagnose Trauma pada bahu (+), adanya penonjolan tulang dibawah kulit,
rasa nyeri pada bahu (+).
5. Diagnose CLOSE FRAKTUR CLAVICULA
6. Diagnosa banding -
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Menopang lengan dalam gendongan hingga nyeri mereda
 Reduksi tertutup
9. Edukasi Perawatan post operasi dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
FINGER TIP INJURY

1. Pengertian (definisi) Adalah keadaan dimana terdapat trauma pada ujung jari meliputi
permukaan, hematom, avulsi pada akar kuku, dan fraktur pada
phalank distal.
2. Anamnesa Riwayat ujung jari terjepit pada mesin atau terpotong benda tajam
3. Pemeriksaan fisik Remuk pada ujung jari (+), hematon (+), avulsi pada akar kuku
(+), perdarahan (+), bone expose (+).
4. Kriteria diagnose Riwayat trauma terjepit atau trauma tajam pada ujung jari, ujung
jari remuk dengan kuku terlepas, perdarahan dan patahan pada
phalank distal.
5. Diagnosa Finger tip injury
6. Diagnosa banding -
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Bersihkan luka dengan Nacl steril lalu tutup dengan kasa
steril untuk menghentikan perdahan dan menutup luka.
 Tinggikan tangan yang terdapat luka untuk mengurangi
pembengkakan.
 Imobilisasi jari dan pergelangan tangan dengan spalk.
 Persiapan debridemen dan rekonstruksi
9. Edukasi Perawatan post operasi dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Wihelmi, 2016
Brubacher, jenning’s, 2016
Apley, Solomon, 2002
DISLOKASI SHOULDER JOINT ANTERIOR

1. Pengertian (definisi) Adalah keadaan dimana suatu cedera menyebabkan


humerus terdorong ke depan, merobek kapsul atau
menyebabkan tepi glenoid teravulsi.
2. Anamnesa Riwayat cedera (+), nyeri hebat pada lengan yang cedera
(+), tangan yang cedera disokong oleh tangan sebelahnya
(+), rasa enggan untuk menerima pemeriksaan apa saja.
3. Pemeriksaan fisik Lengan yang cedera mengalami nyeri hebat, lengan
disokong dan sulit untuk digerakkan.
4. Kriteria diagnosa Riwayat trauma dengan tangan menumpuh tubuh, nyeri dan
sulit untuk menggerakkan lengan yang cedera.
5. Diagnosa DISLOKASI SHOULDER JOINT ANTERIOR
6. Diagnosa banding Dislokasi shoulder joint posterior
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Penderita diberi sedasi atau anastesi
 Reduksi dislokasi
9. Edukasi Perawatan post operasi dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
GANGLION
1. Pengertian (defenisi) Adalah degenerasi kistik dalam substansi kapsul atau sarung
fibrous.
2. Anamnesa Penderita sering orang dewasa muda, mempunyai benjolan di
pergelangan tangan yang tidak terasa sakit, meskipun kadang-
kadang ada sedikit nyeri dan lemah
3. Pemeriksaan fisik Benjolan berbatas jelas, kistik dan tidak lunak, benjolan
kadang-kadang dapat tembus cahaya, dan lebih tegang bila
tendon digunakan untuk bekerja, benjolan paling sering
berada di dorsum pergelangan tangan, ganglia di depannya
dapat menekan saraf atau menembus antara serat
menyebabkan mati rasa atau rasa lemah.
4. Kriteria diagnosa Penderita sering dewasa muda, mempunyai benjolan di
pergelangan tangn, tidak nyeri tetapi terkadang sedikit nyeri
dan lemah.
5. Diagnosa GANGLION
6. Diagnosa banding Soft tissue tumour
7. Pemeriksaan penunjang -
8. Terapi Kalua ada penekanan terhadap saraf, penghilangan benjolan
dibenarkan.
9. Edukasi Perawatan post operasi bila dilakukan dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
DISLOKASI ELBOW JOINT POSTERIOR

1. Pengertian (definisi) Adalah keadaan dimana kompleks radioulna bergeser ke


posterior karena adanya trauma
2. Anamnesa Riwayat jatuh pada posisi tangan yang terentang dengan
posisi siku dalam ekstensi
3. Pemeriksaan fisik Pasien menyangga lengan bawahnya dengan siku yang
sedikit berfleksi
4. Kriteria diagnosa Riwayat jatuh pada posisi tangan terentang dengan siku
ekstensi, pasien menyangga lengan bawah dengan siku
sedikit berfleksi
5. Diagnosa DISLOKASI ELBOW JOINT POSTERIOR
6. Diagnosa banding -
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Reduksi dalam anastesi umum
 Ahli bedah menarik lengan bawah sementara itu
siku sedikit difleksikan, dengan satu tangan,
pergeseran ke samping dikoreksi, kemudian siku
difleksikan lebih jauh sementara itu prosesus
olecranon didorong ke depan dengan jempol
 Lengan dipertahankan dalam collar dan manset
dengan posisi siku berfleksi di atas 90 derajat
selama 3 minggu
9. Edukasi Perawatan post operasi dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
DISLOKASI CAPUT FEMUR POSTERIOR

1. Pengertian (definisi) Adalah keadaan dimana femur terdorong ke atas dan caput
femur keluar dari mangkoknya.
2. Anamnesa Riwayat kecelakaan lalu lintas, sedang menaiki tangga atau
mengendarai mobil, lutut terbentur dashboard.
3. Pemeriksaan fisik Kaki pendek dan beradduksi, berotasi internal dan sedikit
berfleksi.
4. Kriteria diagnosa Riwayat kecelakaan lalu lintas mengendarai mobil, kaki
terlihat pendek dan beradduksi, berotasi internal dan sedikit
berfleksi, nyeri pada pinggul (+).
5. Diagnosa DISLOKASI CAPUT FEMUR POSTERIOR
6. Diagnosa banding Dislokasi caput femur anterior
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Direduksi secepat mungkin dibawah anastesi umum
 Seorang asisten menahan pelvis, ahli bedah
memfleksikan pinggul dan lutut pasien sampai 90
derajat dan menarik paha ke atas secara vertikal.
9. Edukasi Perawatan post operasi dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
DISLOKASI OS PATELLA

1. Pengertian (definisi) Adalah keadaan dimana patella terdesak ke lateral akibat


benturan langsung.
2. Anamnesa Riwayat benturan langsung pada patella, lutut biasanya
mengalami kolaps, deformitas pada lutut.
3. Pemeriksaan fisik Lutut kolaps (+), deformitas nyata (+), patella dapat diraba
pada sisi luar lutut.
4. Kriteria diagnosa Riwayat benturan langsung pada patella, patella terdesak ke
lateral.
5. Diagnosa DISLOKASI OS PATELLA
6. Diagnosa banding Dislokasi pada lutut
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Backslab gips dipasang dengan posisi lutut lurus
dipakai selama 3 minggu.
 Operasi untuk memperbaiki robekan kapsul medial
9. Edukasi Perawatan post operasi dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
KAPSULITIS ADHESIF (FROZEN SHOULDER)

1. Pengertian (definisi) Adalah keadaan dimana penderita mengalami nyeri dan


kekakuan progresif pada bahu yang biasanya berlangsung
sekitar 18 bulan. Proses sering berawat dari tendinitis kronis
tetapi perubahan-perubahan peradangan kemudian menyebar
melibatkan seluruh cuff dan kapsul yang mendasarinya.
2. Anamnesa Pasien berumur 40-60 tahun, dapat memiliki riwayat trauma,
sering kali ringan, diikuti sakit pada bahu dan lengan. Nyeri
berangsur-angsur bertambah berat dan pasien tidak dapat
tidur pada sisi yang terkena. Setelah beberapa bulan nyeri
mulai berkurang, tetapi kekakuan semakin menjadi, berlanjut
terus selama 6-12 bulan setelah nyeri menghilang.
3. Pemeriksaan fisik Sedikit pengecilan otot, nyeri (+), gerakan selalu terbatas dan
pada kasus yang berat bahu itu sangat kaku.
4. Kriteria diagnosa Pasien berumur 40-60 tahun, nyeri pada bahu (+), gerakan
pada bahu terbatas, bahu kaku (+).
5. Diagnosa KAPSULITIS ADHESIF
6. Diagnosa banding Kekakuan pasca trauma
Kekakuan akibat tidak bisa digunakan
Distrofi reflek simpatetik
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Terapi konservatif ditujukan untuk meringankan nyeri
dan mencegah kekakuan lebih jauh sambal menunggu
penyembuhan.
 Pemberian analgesic dan anti radang
 Pemanasan atau pengkompresan dengan es
 Olah raga
 Manipulasi dengan anastesi
9. Edukasi Perawatan selama di rumah dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
OSTEOARTRITIS GENU BILATERAL

1. Pengertian (definisi) Adalah penyakit sendiri degenerative yang merupakan


kondisi kronis dari persendian dan umumnya sering terjadi.
Penyakit ini muncul bila kartilago diantara persendian pecah
dan menimbulkan nyeri, kaku dan bengkak.
2. Anamnesa Pasien diatas 50 tahun, cenderung memiliki kelebihan berat
badan, nyeri pada lutut setelah digunakan, setelah beristirahat
sendi terasa kaku, dan sendi terasa nyeri bila untuk berjalan
setelah duduk untuk waktu yang lama.
3. Pemeriksaan fisik Deformitas pada kaki (+), kaki melengkung (+), otot
kuadriseps biasanya mengecil (+), pergerakan agak terbatas
dan sering disertai dengan krepitus patellofemoral.
4. Kriteria diagnosa Pasien diatas 50 tahun, cenderung memiliki kelebihan berat
badan, deformitas pada kaki, pergerakan terbatas dan sering
disertai dengan krepitus patellofemoral.
5. Diagnosa OSTEOATRITIS GENU
6. Diagnosa banding -
7. Pemeriksaan penunjang X-ray
8. Terapi  Konservatif bila gejala tidak berat, latihan kuadriseps
perlu dilakukan
 Analgesic diberikan untuk menghilangkan nyeri, dan
rasa hangat seperti panas radiasi atau diatermi
gelombang pendek memberi rasa enak.
 Penyangga elastis yang sederhana pada lutut
 Injeksi steroid intra-artikular
 Bila nyeri menetap deformitas progresif dan
ketidakstabilan pada lutut biasanya merupakan
indikasi untuk terapi operasi.
9. Edukasi Perawatan selama di rumah dan nutrisi
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam
11. Kepustakaan Apley, Solomon, 2002
Arthritis foundationc
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
REHABILITASI MEDIK

DAFTAR ISI

STROKE
CEREBRAL PALSY
LOW BACK PAIN
PENYAKIT PARU RESTRIKTIF
OSTEOATRITIS GENU
BELL’S PALSY
RHEUMATOID ATRITIS
OSTEOATRITIS CERVICAL
HERNIA NUKLEUS PULPOSUS
STROKE

pengertian (definisi) Adalah kumpulan gejala kelainan neurologis local yang timbul mendadak
akibat gangguan peredaran darah di otak yang disebabkan penyakit atau
kelainan yang juga merupakan factor risiko. Gejala tersebut dapat disertai
/ tidak gangguan kesadaran dan manifestasi klinis tergantung lokasi lesi
neuroanatomis.
Anamnesa  Kelemahan anggota gerak
 Gangguan bicara, menelan, afasia
 Gangguan kognitif, fungsi pengelihatan
 Hilangnya fungsi motoric, sensorik dan otonom
 Depresi dan nyeri gejala yang timbul setelah stroke
Pemeriksaan fisik  Pemeriksaan kesadaran dengan Glasglow Coma Scale
 Evaluasi status mental dengan Minimental State Evaluation
 Uji fungsi kognisi dengan Racho Los Amigos Cognitive Scale
 Pemeriksaan saraf kranial
 Pemeriksaan sensibilitas superfisial dan dalam, propioseptif,
diskriminasi 2 titik, monofilament tes
 Pemeriksaan lingkup gerak sendi
 Pemeriksaan kekuatan tonus dan otot
 Pemeriksaan koordinasi motoric
 Uji keseimbangan statis dan dinamis
 Uji fungsi locomotor
 Pemeriksaan reflex fisiologis / deep tendon reflex
 Pemeriksaan reflex patologis
 Uji fungsi komunikasi
 Uji fungsi menelan
 Uji fungsi berkemih
 Uji fungsi defekasi
 Uji kemampuan fungsional dan perawatan diri
 Uji pola jalan

Kriteria diagnosa  Anamnesis


 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan penunjang
Diagnosa STROKE / CEREBRAL VASCULAR DISEASE
Dagnosa banding Stroke non-hemoraghic
Stroke hemoraghic
Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium yang sesuai
Terapi Rehabilitasi
rehabilitasi stroke adalah pengelolaan medis dan rehabilitasi
komprehensif terhadap disabilitas yang diakibatkan stroke melalui
pendekatan neuro rehabilitasi. Program rehabilitasi perlu disusun sesuai
dengan tingkat keparahan akibat serangan stroke. Rehabilitasi stroke fase
akut dilaksanakan selama pasien dirawat inap. Pada kondisi medis dan
neurologis stabil (fase subakut), pasien bisa dilakukan rehabilitasi rawat
inap maupun rawat jalan / home care. Sedangkan fase kronik / fase lanjut
rehabilitasi dilakukan dengan rawat jalan. Program rehabilitasi
multidisiplin secara komprehensif dimulai dari fase akut secara inter
maupun intra disiplin dengan spesialis lain.
A. Latihan (exercise)
Program latihan fisik bertujuan untuk meningkatkan kapasitas
fungsi dengan penekanan pada peningkatan kemampuan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari (ADL). Intruksi mengenai tehnik-
tehnik kompensasi dan edukasi yang dibutuhkan pasien diajarkan
juga terhadap keluarga atau caregiver penting mempersiapkan
kembalinya pasien ke rumah. Bukti-bukti menunjukkan bahwa
terapi fisik bermanfaat terhadap reorganisasi konteks pasca stroke,
yang diiringi dengan perbaikan pada control motoric dan kapasitas
fungsinya.
B. Disfagia
Penanganan disfagia neurogenic tergantun g pada fasenya,
meliputi penggunaan selang nasogastric, modifikasi diet (mis :
cairan kental, makanan dihaluskan), dan terapi menelan (mis :
penggunaan tehnik kompensasi seperti mengangkat dagu saat
menelan.

C. Komunikasi
Gangguan komunikasi bisa berupa afasia, disatria, dll. Tindakan
rehabilitasi diberikan sesuai dengan peilaian kelainan yang
terdapat pada pasien.

D. Kognisi
Stroke sering kali mempengaruhi kemampuan kognisi pasien.
Perubahan dalam memori, perhatian, insight, dan kemampuan
menyelesaikan masalah sering ditemukan pada pasien dengan
stroke. Penentuan tingkatan dari gangguan kognisi dapat
ditentukan dengan Ranchoo Los Amigos Scale dan Mini Mental
Test. Edukasi dan latihan keluarga merupakan komponen penting
dalam rehabilitasi kognitif. Pengenalan dan penatalaksanaan
depresi pasca stroke merupakan hal yang sangat penting, karena
depresi dapat menyebabkan penurunan kognitif pasca stroke.

E. Orthosis
Dapat membantu kegiatan mobilisasi penderita. Dapat membantu
kompensasi pada gangguan dorsofleksi pergelangan kaki,
mengontrol pergerakan kaki, spastisitas dan stabilitas sendi lutut.
F. Bantuan ambulasi dan kursi roda
Adanya hemiparesis pada penderita menyebabkan banyak
penderita stroke membutuhkan alat bantu untuk ambulasi, seperti
tongkat, tongkat kaki empat, hemi-walker, atau pada beberapa
kasus dapat menggunakan walker konvensional. Pada kondisi
yang berat kursi roda dibutuhkan untuk ambulasi pasien. Pada
penderita stroke one-side arm wheelchair berguna dalam
mengontrol kedua roda hanya dari satu sisi.

G. Subluksasi bahu
Umum terjadi pada kasus hemiplegia pasca stroke. Menopang
lengan dengan menggunakan penopang lengan (arm board) dan
penggunaan sholder sling / cuff dapat mencegah dan memperbaiki
subluksasi tersebut. Pada nyeri bahu stimulasi listrik bermanfaat
untuk mengurangi nyeri.

H. Evaluasi untuk dapat bekerja kembali


Evaluasi dilakukan terhadap kemampuan fungsional yang masih
dimiliki dan tingkat kemampuannya untuk dapat melakukan
pekerjaan seperti sebelum terkena stroke dengan atau tanpa alat
bantu.

I. Alat bantu adaptif


Merupakan alat atu yang bentuk dan fungsinya disesusaikan untuk
meningkatkan kemampuan fungsi seorang penderita stroke untuk
mampu melakukan aktivitas yang diperlukan.

Edukasi Dilakukan oleh dr. Sp. KFR dan tim rehabilitasi


Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran fisik dan rehabilitasi, Oktober 2012 (hal 21-24)
CEREBRAL PALSY

Pengertian (Definisi) Kelainan gerak dan postur yang disebabkan oleh suatu penyakit atau
cedera yang bersifat non progresif pada otak yang imatur.
Anamnesa  Disfungsi motoric halus
 Gangguan gerak, transfer, ambulasi
 Gangguan AKS : makan , minum, berpakaian, toileting,
berhias
 Gangguan komunikasi
 Gangguan psikososial dan vokasional
Pemeriksaan fisik  Keterlamabatan terhadap perkembangan
 Gerak dan postur berupa spastic dan diskinetik
 Pola jalan
 Evaluasi pendengaran
 Evaluasi pengelihatan
 Pemeriksaan tonus dan spastisitas
 Reflek primitive yang menetap
 Evaluasi nervus kranialis
 Evaluasi komunikasi
Kriteria diagnosa Anamnesia
Pemeriksaan fisik
Diagnosa CEREBRAL PALSY
Diagnosa banding -
Pemeriksaan penunjang  Evaluasi kognitif
 Radiologi konvensional
 BERA
 CT-Scan
 MRI
 Laboratorium darah untuk mencari penyebab
infeksinTORCH, gangguan metabolic dan kelainan genetic.
Terapi 1. Edukasi
Edukasi keluarga dan lingkungan mengenai penanganan
dalam hal interaksi keluarga dengan penderita, serta
lingkungan yang sesuai untuk anak tersebut.
2. Terapi disfungsi motoric
 Kombinasi berbagai bentuk tehnik fasilitasi dengan
latihan aktivitas motoric fungsional sesuai tahap
perkembangan mulai dari control kepala hingga
berjalan untuk motoric kasar.
 Stimulasi gerakan dan keterampilan tangan sesuai
tahapan perkembangan yang sudah/belum dicapai.
 Metode : inhibisi, fasilitasi, stimulasi
3. Casting/splint dan ortosis/ortotik dan prostetik
 Resting atau nights plint, untuk memelihara ROM,
misalnya pada ankle (mencegah plantar fleksi) dan
pergelangan tangan atau jari untuk stabilisasi.
 AFO (ankle foot orthosis), untuk control spastik
equinus dan hiperekstensi lutut saat “stance phase”
 Hip abduction orthosis, untuk mencegah kontraktur
adductor panggul dan dipasang juga pada pasca
operasi adductor panggul.
4. Tatalaksana gangguan wicara
 Stimulasi Bahasa
 Stimulasi sesuai tingkat perkembangan
 Stimulasi perbendaharaan kata-kata
5. Manajemen feeding dan drooling serta gangguan menelan
6. Terapi psikososial dan edukasional
7. Medikamentosa dengan obat antispastisitas (baclofen dan
injeksi botox)
8. Operasi dilakukan oleh ahli bedah ortopedi pada kondisi :
Terjadi deformitas kontraktur yang mengganggu aktivitas
vokasional dan perawatan diri.
Edukasi Dilakukan oleh dr. sp, KFR dan tim rehabilitasi
Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Oktober 2012 (hal 206-208)
LOW BACK PAIN

Pengertian (definisi) Nyeri yang dirasakan di daerah punggung bagian bawah yaitu di
antara iga terbawah sampai lipatan gluteal.
Anamnesa  Lokasi
 Karakter nyeri
 Tingkat keparahan
 Waktu : onset, durasi, frekuensi
 Factor pemicu
 Pekerjaan
 Aktivitas sehari-hari
Pemeriksaan fisik Observasi
 Postur : anterior, posterior, lateral
 Deformitas tulang belakang
 Kulit : psoriasis atau penyakit vascular yang menimbulkan
nyeri
 Pola jalan
Palpasi
 Tulang
 Otot : trigger point, spasme, tonus
Tes neurologi
 MMT : miotom L1-S1
 Sensitifitas : dermatom L1-S1
 Reflex
 Keseimbangan koordinasi
Low back maneuver
 SLRT
 Kernig test
 Pelvic rock test
 Gaenslen’ sign
Patrick’s-contra patrick’s
Kriteria diagnosa Anamnesa
Pemeriksaan fisik
Diagnosa LOW BACK PAIN
Diagnosa banding -
Pemeriksaan penunjang Neurofisiologi
 EMG
 Needle EMG dan H-relfex
Radiologi
 Foto polos
 Mielografi, mielo CT, CT-Scan, MRI
Laboratorium (LED, DL, UL)
Terapi Program menejemen konservatrif :
 Edukasi pasien : konseling (fisik, okupasi, vokasional,
psikososial)
 Terapi obat : PCT, OAINS, mucle relaxant dan anti depresan
 Terapi suntikan : 1% Xylocaine, kortikosteroid  trigger
point injection
 Modalitas fisik : coldpacks (48 jam pertama), hotpacks, USG,
TENS
 Orthosis : LSO bila perlu
 Aktivitas fisik terkontrol, tirah baring lama
 Terapi latihan :
Peregangan lumbal dan panggul + ROM exercice (+heat/cold
modalities)
Penguatan ekstensor trunkus + panggul
Latihan stabilitas lumbal
 Okupasi : body mechanics dan posture trainee
 Manual medicine :manipulasi untuk mengurangi spasme
Edukasi Dilakukan dr. Sp, KFR dan tim rehabilitasi
Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Oktober 2012 (hal 67-70)
PENYAKIT PARU RESTRIKTIF

Pengertian (definisi) Penyakit yang memiliki karakteristik pada penurunan volume paru
yang disebabkan oleh adanya perubahan jaringan parenkim paru
atau adanya proses penyakit pada pleura, dinding dada atau
komponen neuromuscular.
Anamnesa  Keluhan utama
 Riwayat masalah
 Riwayat fungsi mencakup kemampuan berjalan dan naik
tangga
 Riwayat psikososial
 Obat/alergi
 Riwayat medik/operasi
 Riwayat keluarga
Pemeriksaan fisik Pemeriksaan umum
Penilaian fungsi
Penilaian musculoskeletal
 Penilaian neurologis
 Pola nafas serta penggunaan otot-otot pernafasan
tambahan
 Kemampuan ekspektorasi, batuk efektif, peak flow meter
 Skala sesak
 Kekuatan otot respirasi
Kriteria diagnosa Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Diagnosa PENYAKIT PARU RESTRIKTIF
Diagnosa banding -
Pemeriksaan penunjang Laboratorium
Foto thoraks
Spirometry
Terapi  Edukasi
 Nutrisi
Penting diperhatikan pada pasien dengan gangguan paru.
Gejala seperti kesulitan bernafas, kelelahan dsb. Dapat
berkontribusi terhadap berkurangnya asupan makanan.
Penurunan yang berkepanjangan dalam asupan makanan
dapat menyebabkan kekurangan gizi dan kehilangan BB
yang signifikan.
 Psikososial
Depresi dan ansietas adalah dua komorbiditi utama yang
berhubungan dengan penyakit paru restriksi, seiring
dengan penurunan drastis keterbatasan aktifitas
fungsional, dan panik diasosiasikan dengan serangan
dypsnoe berat. Antidepresan dan medikasi dengan anti
ansietas biasa digunakan sebagai pengobatan penunjang
saat konseling.
 Tereapi fisik dada (chest physical therapy)
Dapat didefinisikan sebagai teknik terapi yang diterapkan
pada dinding dada dari luar, dalam memfasilitasi
pembersihan secret pada saluran pernafasan,
meningkatkan fungsi pernafasan dan mengurangi
komplikasi yang terjadi, seperti terjadinya air trapping
sampai terjadi hiperinflasi yang akan menyebabkan
perburukan keadaan umum pasien.

Terapi fisik dada meliputi :


 Latihan batuk efektif dengan metode huffing-coughing
 Postural drainage
 Perkusi
 Vibrasi
 Therapeutic exercise
 Latihan otot-otot pernafasan dengan incentive spirometry,
bertujuan untuk :
 Memperbaiki otot pernafasan dengan mengukur
kemampuan inspirasi maksimal serta merangsang
fungsi paru kembali dengan meningaktkan tekanan
tarnspulmonal dan volume paru saat insiprasi
 Meningkatkan fungsi diafragma sehingga dapat
meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot
pernafasan.
 Terapi oksigen : mengurangi sesak, memperbaiki aktivitas,
meningkatkan kualitas hidup

Edukasi Dilakukan oleh dr. Sp, KFR dan tim rehabilitasi


Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan medis
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Oktober 2013 (hal 187-188)
Osteoartritis Genu
Pengertian (definisi) OA mengubah keseimbangan antara degradasi dan sintesis tulang
rawan articular dan tulang subchondral. OA lutut dapat muncul dari
factor mekanik dan idiopatik. OA dapat melibatkan salah satu atau
semua dari tiga kompartemen lutut utama : medial, patellofemoral,
lateral. Kompartemen medial paling sering terlibat dan sering
menyebabkan runtuhnya ruang medial sendi dan dengan demikian
menyebabkan deformitas genu varum (bowleg). Keterlibatan
kompartemen lateral dapat menyebabkan deformitas genu valgum
(knock knee).
Anamnesa  Nyeri sendi disekitar lutut terutama selama weight bearing,
dan berkurang dengan istirahat namun dengan perkembangan
penyakit, rasa sakit dapat bertahan bahkan pada saat istirahat.
 Nyeri tekan pada lutut
 Penurunan ROM karena kekakuan sendi dan pembengkakan
 Sensasi “locking” atau “catching” karena berbagai penyebab,
termasuk defris dari degenerasi tulang rawan atau meniscus
pada sendi, peningkatan perlekatan permukaan articular yang
relative kasar, kelemahan otot, dan bahkan peradangan
jaringan.
 Krepitasi
 Terkadang efusi
 Peradangan dalam berbagai derajat
Pemeriksaan fisik  Inspeksi
Hipertrofi tulang
Varus deformitas dari keterlibatan kompartemen medial
 Palpasi
Peningkatan temperature
Efusi sendi
Nyeri tekan sendi
 Stabilitas sendi
Ketidakstabilan mediolateral
 Neurologis
Umumnya normal, dengan pengecualian penurunan kekuatan
otot, terutama quadriceps, karena tidak digunakan atau
guarding sekunder terhadap rasa sakit.
Kriteria diagnosa Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Diagnosa OA genu
Diagnosa banding Penyebab nyeri lutut menurut kelompok umur :
 Anak dan remaja
Subluksasi patella
Penyakit Osgood-Schlatter
Patella tendinitis
Nyeri alih (e.g slipped capital femoral epiphysis)
Osteochondritis disscans
Fraktur subchondral
Kelainan genetic atau bawaan
Septic arthritis
Tumor
 Dewasa
Chondromalacia patella
Sindrom plica medial
Bursitis pes anserinus
Trauma : sprain ligament
Meniscal tear
Arthropathy inflammation : RA, sindrom Reiter
Septic arthritis
Radiculopathy midlumbar
Tumor
 Usia lanjut
OA
Crystal induced inflammatory arthopathy : gout, pseudogout
Kista poplitea
Tumor
Pemeriksaan penunjang  Radiografi polos pada posisi weight bearing anteroposterior,
lateral, dan tunnel view / skyline view.
 MRI dapat mengungkapkan perubahan yang menunjukkan
adanya OA, namum tidak diindikasikan dalam evaluasi awal
pada usia lanjut dengan nyeri lutut kronis.
 USG musculoskeletal memiliki potensi untuk mendeteksi
erosi tulang, penyakit tendon, dan enthesopathy.
 Hasil tes laboratorium umumnya normal, tetapi analisis dapat
dilakukan terutama untuk pasien usia lanjut untuk
menetapkan data dasar (misalnya, konsentrasi nitrogen urea
darah, konsentrasi kreatinin, atau tes fungsi hati sebelum
penggunaan obat anti inflamasi atau acetaminophen) atau
untuk menyingkirkan kondisi lain seperti RA.
 Analisis cairan synovial tidak boleh dilakukan kecuali diduga
adanya arthritis destruktif, kristal, atau serptik.
Terapi Fase akut
 Protection, rest, ice, compression, elevation
 Oral dan topikal OAINS
 Orthotic dan sepatu
Rehabilitasi
 Latihan penguatan statis atau dinamis dapat mempertahankan
atau meningkatkan kekuatan otot periarticular sehingga
memperbaiki atau mencegah kelainan biomekanik dan
kontribusinya terhadap disfungsi dan degenerasi sendi.
 Latihan aerobic dapat mengurangi rasa sakit dan nyeri sendi
dan meningkatkan status fungsional serta kapasitas
pernafasan, meningkatkan toleransi aktivitas, ambang rasa
sakit, dan dapat memiliki efek positif pada suasana hati dan
motivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan lainnya.
 Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) untuk
nyeri.
 Tongkat atau walker dapat mengurangi beban pinggul dan
lutut, sehingga mengurangi rasa sakit dan mencegah jatuh.
 Penggunaan knee brace pada OA genu. Unikompartemental
untuk meningkatkan fungsi dengan mengurangi gejala-gejala
pasien.
 Pengurangan BB secara non farmakologik dengan restriksi
intake kalori dan lemak serta peningkatan aktivitas fisik.
Tindakan bedah
 Athroscopic debridement
Efusi lutut
Gejala dan tanda meniscus
Synovitisosteophytic impingement
Catching atau locking disebabkan loose bodies : perbaikan
pada 50-80% pasien namun hasil berkurang seiring waktu.
 Osteotomy of proximal tibia or distal femur
Keterlibatan kompartemen medial predomain.
 Uncompartmental knee replacement
Keterlibatan sendi patellofemoral terisolasi
Hasil bervariasi
 Total knee replacement
Kelainan tricompartemental
Survivor rates 84-98% dalam 15 tahun.
Edukasi Dilakukan oleh dr. Sp, KFR dan tim rehabilitasi
Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran fisik dan rehabilitasi, Oktober 2012 (hal. 139-143)
BELL’S PALSY

Pengertian (definisi) Facial paralisis karena disfungsi dari nervus fasialis perifer yang
menyebabkan kelumpuhan otot wajah. Dapat disebabkan oleh
inflamasi yang menyebabkan edema nervus fasialis. Suatu proses non
supuratif, non neoplasmatik, non degenerative primer pada bagian
nervus fasialis di foramen stilomastoideus atau sedikitproksimal dari
foramen tersebut yang akut dan dapat sembuh sendiri dengan atau
tanpa pengobatan.
Anamnesa  Tiba-tiba
 Kelemahan otot-otot wajah
 Nyeri dibelakang telinga
 Mati rasa atau merasakan ada beban berat di daerah wajah
 Karena perifer, penderita mengalami kesulitan menutup mata
pada sisi yang terkena, memperangaruhi sekresi air liur, air
mata atau rasa pengecapan di lidah.
Pemeriksaan fisik Pemeriksaan N.VII :
 Mengerutkan dahi
 Memejamkan mata
 Mengembangkan cuping hidung
 Tersenyum
 Bersiul
 Mengencangkan kedua bibir
Kriteria diagnosa Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Diagnosa BELL’s PALSY
Diagnosa banding  Tumor serebelopontin angle yang menekan saraf fasialis
 Kerusakan saraf wajah karena infeksi virus
 Infeksi telinga tengah atau sinus mastoideus
 Patah tulang pada dasar tengkorak
Pemeriksaan penunjang  Riwayat perjalanan penyakit
 Rontgen
 CT-Scan
 MRI
 Elektrofisiologi
Terapi Terapi rehabilitasi
Terapi medika mentosa oral (golonga kortikosteroid)
Terapi non medika mentosa :
 Untuk mengurangi nyeri pemberian modalitas panas pada sisi
wajah yang terkena.
Pemanasan superficial dengan infra red, pemanasan dalam
berupa short wave diathermy atau microwave diathermy
dengan memperhatikan indikasi dan kontraindikasi.
 Latihan reduksi otot wajah
Gerakan volunteer dan massage wajah diberikan setekah fase
akut. Latihan berupa mengangkat alis 5 detik, mengerutkan
dahi, menutup mata dan mengangkat sudut mulut, tersenyum,
bersiul (dilakukan di depan kaca untuk feedback dengan
konsentrasi penuh).
Pemberian modalitas listrik untuk mencegah atrofi dan
memperkuat otot.
Tujuan pemberian stimulasi listrik yaitu menstimulasi otot
untuk mencegah atrofi sambal menunggu proses regenerasi
dan memperkuat otot yang masih lemah. Misalnya dengan
faradiasi yang tujuannya adalah stimulasi otot, reduksi otot,
melatih fungsi otot, meningkatkan sirkulasi, meregangkan
serta mencegah perlengketan.
 Diberikan 2 minggu setelah onset.
Perawatan mata
 Beri obat tetes mata (artificial tears) 3x sehari
 Memakai kacamata gelap saat bepergian siang hari
 Biasakan menutup kelopak mata secara pasif sebelum tidur

Program di rumah
 Kompres hangat daerah sisi wajah yang sakit selama 20 menit
bila sudah melewati stadium akut.
 Massage wajah yang sakit kearah atas dengan menggunakan
tangan dari sisi wajah yang sehat.
 Latihan tiup lilin, berkumur, makan dengan mengunyah pada
sisi yang sakit, minum dengan sedotan, mengunyah permen
karet.
Edukasi Dilakukan dr. Sp, KFR dan tim rehabilitasi
Prognosis Baik
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Oktober 2012 (hal. 44-46)
RHEUMATOID ARTRITIS

Pengertian (definisi) Suatu penyakit inflamasi kronik yang secara primer mengenai
persendian namun dapat juga terlihat gambaran ekstra artikuler yang
menonjol. Biasanya simetris dan mengenai persendian di bagian
perifer. Prevalensi sekitar 1% pada kulit putih dan wanita sekitar 2
sampai 2,5 kali lebih sering daripada laki-laki. Insidensinya pada usia
decade ketiga dan keempat.
Anamnesa  Keakuan pada pagi hari 30-60 menit (berjam-jam). Fatique
dan general malaise
 Nyeri dan bengkak pada sendi, berkurang fungsi sendinya.
 Mata kering
 Nodul subcutaneous yang tidak nyeri pada bagian ekstenor.
Pada rheumatoid vasculitis dapat ditemukan ruam yang dapat
menjadi ulserasi.
 Rasa tebal dan kesemutan pada persarafan yang terkena.
Dapat terjadi penjepitan/jebakan saraf akibat inflamasi sendi.
Mononeuritis multipleks akibat vasculitis (contoh footdrop
dan wristdrop).
 Insiden dan prevalensi penyakit jantung coroner meningkat
pada RA.
 Inflamasi pleura atau nodulosis
Pemeriksaan fisik Setiap sendi diperiksa untuk mengetahui adanya pembengkakan, rasa
hangat, efusi, keterbasan ROM dan deformitas. RA biasanya
mengenai lebih dari empat sendi (jari, kaki, pergelangan tangan, dan
lutut yang paling sering).
Pada tangan :
 Pembengkakakn proksimal interphalang
 Subluksasi metacarpophalangeal dengan deviasi ulnar pada
jari-jari.
 Boutonniere (fleksi PIP dan hiperekstensi DIP)
 Swan neck (hiperekstensi PIP dan fleksi DIP)
 Inflamasi pada sarung tendon synovial (tenosynovitis) pada
pemeriksaan. Didapatkan gerakan pasif lebih baik daripada
aktif.
 Krepitasi
 Nodul

Pada siku :
 Berkurangnya ekstensi akibat inflamasi dan efusi
 Efusi dapat dipalpasi pada dimple (para-olecranon groove)
 Kronik inflamasi dan erosi kartilago antara radius dan ulna
menyebabkan berkurangnya ekstensi dan fleksi.
 Rheumatoid nodul sering ditemukan pada bagian ekstensor
dari proksimal ulna.
 Pembesaran bursa olecranon yang terisi cairan atau nodul.

Pada bahu :
 Efusi pada bagian anterior dibawah acromion
 Evaluasi kekuatan otot-otot rotator cuff

Pada tulang cervical :


 Berkurangnya ROM dan nyeri
 Keterlibatan medulla spinalis dapat menyebabkan parastesia,
kelemahan atau adanya reflex patologis
 Lhermitte sign : kesemutan yang menjalar ke torakolumbar
saat dilakukan fleksi cervical.

Pada panggul :
 Evaluasi adanya synovitis dan efusi
 Penekanan pada daerah lateral panggul yang menyebabkan
nyeri bisa karena trochanteric bursitis akibat inflasmi sendi.

Pada lutut :
 Bulge sign untuk mengetahui adanya efusi yang jumlahnya
sedikit.
 Ballotable patella (patella tap) untuk mengetahui edusi yang
lebih besar.
 Kista baker’s, muncul akibat perluasan cairan synovial dari
rongga sendi menyebabkan fossa poplitea menjadi penuh
yang dapat dilihat pasien saat posisi berdiri.

Pada pergelangan tangan :


 Synovitis
 Efusi
 Berkurangnya ROM
 Hindfoot; adanya valgus deformitas, flatfoot
 Progressive disease; dislokasi dorsal metatarsophalangeal,
claw toes
Kriteria diagnosa Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Diagnosa RA
Diagnosa banding  Crystal induce arthritis
 Gout
 Pseudogout
 Spondyloarthropaties
 Psoriatic arthritis
 Ankylosing spondilytis
 Enterophatic arthritis
Pemeriksaan penunjang -
Terapi Obat : NSAIDs, COX-2, DMARDs
Program rehabilitasi :
Fase awal :
 Edukasi meminimalkan stress sendi dalam AKS
 Istirahatkan sendi dengan penggunaan bidai bila perlu dan
mengurangi inflamasi.
 Paraffin abth untuk mengurangi nyeri dan kekakuan sendi.
Fase lanjut :
 Alat bantu dalam AKS (dudukan toilet, kursi dan tempat tidur
khusus dan pegangan khusus yang dapat membantu saat rawat
diri).
 Modalitas terapi panas dingin, TENS, ionthoporesis,
hydrotherapy.
 Footwear dan insole
 Terapi latihan : lingkup gerak sendi (ROM), relaksasi, aerobic
& weight bearing (intensitas rendah)

Tindakan bedah
 Rekonstruksi atau penggantian sendi
 Tendon repair
 Synovectomy
Edukasi Dilakukan dr. Sp, KFR dan tim rehabilitasi
Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran fisik dan rehabilitasi, Oktober 2012 (hal 111-114)
OSTEOARTRITIS CERVICAL

Pengertian (definisi) Merupakan perubahan degenerative yang terjadi pada tulang


servikasi (diskus, corpus vertebra, sendi luschka dan sendi facet).
Penyakit ini memiliki insiden tahunan lebih tinggi pada pria
dibandingkan wanita and puncaknya sekitar 50-54 tahun. Mekanisme
yang mendasari penyakit ini adalah multifactor. Genetic, prose
menua, dan factor gesekan mungkin semuanya memainkan peranan
penting. Diyakini bahwa degenerasi dari diskus mengakibatkan
distribusi beban menjadi abnormal, dan selanjutnya mengarah pada
serangkaian perubahan struktur dari komponen tulang belakang.
Segmen C5-C7, biasanya menunjukkan perubahan degenerative
lebih cepat dan lebih parah dibanding dengan segmen C1-C4
Anamnesa  Nyeri leher (axial pain) dan keterbatasan gerak (terutama saat
hiperekstensi dan fleksi lateral)
 Kekakuan dan spasme otot paraspinal
 Nyeri radicular sesuai dengan radiks saraf yang terlibat dan
mengikuti distribusi dermatom.
 Nyeri menjalar ke kepalada area nuchae atau occipital
(degenerative sendi cervical atas).
 Nyeri menjalar ke region upper trapezius (degenerative sendi
cervical bawah).
 Kelemahan otot mengikuti distribusi miotom.
 Parastesia/hypestesia sesuai dengan distribusi dermatom
 Nyeri otot trapezius, paraspinal, dan interscapula juga bisa
didapatkan.
Pemeriksaan fisik  Inspeksi : keabnormalan postrur tulang cervical, lengkung
lordosis cervical berkurang, ketidaksimetrisan postur tampak
anterior dan posterior.
 Palpasi : nyeri tekan processus spinosus, spasma otot
paraspinal cervical, nyeri tekan area nuchae/mastoid juga bisa
terjadi. Didapatkan fibrosis pada otot jika telah kronis.
 Gerak : keterbatasan ROM cervical (pada satu maupun
beberapa segmen)
 Tes provokasi :
Spurling sign (kompresi axial posisi fleksi lateral : positif jika
terjadi nyeri radikuler).
Gerakan rotasi disertai ekstensi : positif jika nyeri radicular.
Gerakan peregangan berlebihan kearah fleksi : positif jika
terjadi nyeri paraspinal, maupun kesemutan.
Gerakan fleksi dan kontralateral lateral fleksi : positif jika
nyeri berkurang.
Gerakan fleksi siku dan abduksi bahu ipsilateral : positif jika
nyeri berkurang.
Kriteria diagnosa Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Diagnosa banding  Rotator cuff tendinitis
 Rotator cuff tear
 Neuropati perifer
 CTS
 Tumor vertebra, infeksi spinal
 Plexopati brachial
 Thoracic outlet syndrome
Pemerikaan penunjang  Foto polos cervical : osteofit, spondilotik, degenerasi diskus,
hipertrofi vertebra (AP/LAT), terlihat foramina intervertebral
dan neural foramina (oblique).
 MRI : kelainan pada jaringan lunak, hiperintensitas pada T2
weighted.
 USG droppler : melihat aliran A. vertebralis
 Elektrodiagnostik : menjelaskan lokasi lesi saraf
Terapi  NSAID
 Analgetik
 Tricyclic antidepressants
 Muscle relaxant
 Tambahan acetaminophen, hydroxine sebagai penghilang
nyeri.
 Injeksi steroid epidural (4-6 bulan perjalanan penyakit)
 Edukasi pasien meliputi penjelasan penyakit, resiko penyakit,
proper body mechanics, home exercise.
 Modalitas : ice, elektroterapi, heat, TENS, traksi
manual/mechanical.
 Orthosis : soft cervical collar (awal dan intermitten), bantal
cervical khusus, therapeutic exercise.
 Alat bantu kegiatan dan pekerjaan sehari-hari
 Tindakan bedah jika konservatif tidak ada perubahan yang
berarti dalam 1 tahun.
Edukasi Dilakukan oleh dr. Sp, KFR dan tim rehabilitasi
Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran fisik dan rehabilitasi, Oktober 2012 (hal. 84-86)
HERNIA NUKLEUS PULPOSUS

Pengertian (definisi)  Lumbar radiculopathy merujuk kepada suatu proses patologis


yang mengenai akar saraf.
 Lumbar radiculitis merujuk kepada suatu inflamasi dari akar
saraf.
 Lumbar radiculopathy sering disebabkan oleh herniated
lumbar disc.
 Kasus ini sering asimtomatik
Anamnesa  Nyeri yang menjalar ke ekstremitas bawah
 Kelemahan otot
 Riwayat inkotinensia
 Riwayat disfungsi erektil
Pemeriksaan fisik  Musculoskeletal dan saraf perifer
 Asimetri pinggang atau pelvic yang satu lebih tinggi dari yang
lain.
 Evaluasi gerakan pinggang dan gejala radikuler
 Manual muscle testing (MMT)
 Uji SLRT
 Pemeriksaan rektal dan perianal
 Uji sensorik inguinal
Keterbatasan fungsional :
 Tergantung dari beratnya masalah
 Beberapa keterbatasan biasanya terjadi karena nyeri
 Berdiri, berjalan mungkin terbatas, duduk mungkin tidak
 Os dengan radikulopati S1 berat akan sulit berlari karena
kelemahan otot paha.
 Os dengan radikulopati L5 mungkin tidak dapat menapakkan
kakinya dan membutuhkan brace (bantuan dorsofleksi
ankle/kaki).
Kriteria diagnosis Anamnesa
Pemeriksaan fisik
Diagnosa HERNIA NUKLEUS PULPOSUS
Diagnosa banding -
Pemeriksaan penunjang  EMG
 Nerve Conduction Studies
 Imaging lumbosacral spine
 Foto polos  bony injury / metastatic
 CT dan MRI sangat berguna untuk gambaran klinis, dicurigai
adanya tumor atau pada kasus yang memerlukan tindakan
operasi.
Terapi Rehabilitasi
 Modalitas (ultrasound diathermy dan electrical stimulation)
 Latihan fleksi dan ekstensi
Prosedur
 Injeksi steroid epidural
 Operasi (pada keadaan kegawatan dan nyeri terus-menerus
dan membatasi fungsi setelah terapi non operatif yang
adekuat).
Hasil yang diharapkan
 Deformitas terkoreksi
 Tidak terjadi penyulit
 Nyeri dapat teratasi
 Keterbatasan gerak fungsi terbatasi
 Mandiri / mandiri dengan pengawasan / sebagian dibantu /
dibantu penuh.
Edukasi Dilakukan oleh dr. Sp, KFR dan tim rehabilitasi
Prognosis -
Kepustakaan Panduan pelayanan klinis
Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, Oktober 2012 (hal.129-131)