Anda di halaman 1dari 2

Furunkel Pada Hidung Disahkan oleh

Kepala Puskesmas
No Kode : PURWOKERTO SELATAN
Terbitan :

No. Revisi :
SOP
Dr. HENDRO HARJITO
PUSKESMAS Tgl. Mulai
NIP. 196903102002122003
PURWOKERTO Berlaku :
SELATAN
Halaman :

1. Pengertian Furunkel adalah infeksi dari kelenjar sebasea atau folikel rambut yang melibatkan
jaringan subkutan. Biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Penyakit ini
memiliki insidensi yang rendah. Belum terdapat data spesifik yang menunjukkan
prevalensi furunkel. Furunkel umumnya terjadi paling banyak pada anak-anak,
remaja sampai dewasa muda.
2.Tujuan Menegakkan diagnosis furunkel pada hidung dan memberikan tata laksana yang
tepat

3. Kebijakan Penatalaksanaan Furunkel pada hidung di BP Umum dengan menggunakan SPO


ini
4. Referensi Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no514 tahun 2015 tentang
panduan klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama
5. Prosedur Anamnesis

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan adanya bisul di dalam hidung.
Gejala adanya bisul di dalam hidung kadang disertai rasa nyeri dan perasaan tidak
nyaman. Kadang dapat disertai gejala rhinitis.
Faktor Risiko
a. Sosio ekonomi rendah
b. Higiene personal yang jelek
c. Rhinitis kronis, akibat iritasi dari sekret rongga hidung.
d. Kebiasaan mengorek-ngorek bagian dalam hidung.

Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana


Pemeriksaan Fisik
Pada lubang hidung tampak furunkel. Paling sering terdapat pada lateral
vestibulum nasi yang mempunyai vibrissae (rambut hidung).
Pemeriksaan Penunjang: Tidak diperlukan
Penegakan Diagnosis (Assessment)
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Diagnosis Banding: -

Komplikasi
a. Furunkel pada hidung potensial berbahaya karena infeksi dapat menyebar
ke vena fasialis, vena oftalmika, lalu ke sinus kavernosus sehingga
menyebabkan tromboflebitis sinus kavernosus.
b. Abses.
c. Vestibulitis.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan
a. Kompres hangat dapat meredakan perasaan tidak nyaman.
b. Jangan memencet atau melakukan insisi pada furunkel.
c. Pemberian antibiotik topikal, seperti pemberian salep antibiotik bacitrasin
dan polmiksin B serta antibiotik oral karena lokasi furunkel yang
berpotensial menjadi bahaya. Antibiotik diberikan dalam 7-10 hari,
dengan pemberian Amoxicilin 500 mg, 3x/hari, Cephalexin 250 – 500
mg, 4x/hari, atau Eritromisin 250 – 500 mg, 4x/hari.
d. Insisi dilakukan jika sudah timbul abses.

Konseling dan Edukasi


Memberitahukan individu dan keluarga untuk:
a. Menghindari kebiasaan mengorek-ngorek bagian dalam hidung.
b. Tidak memencet atau melakukan insisi pada furunkel.
c. selalu menjaga kebersihan diri.
5. Unit Terkait 1. Dokter.
2. Perawat.