Anda di halaman 1dari 2

PENANGANAN GASTRITIS

No. Dokumen : 440/ /SPO/UKM/2017


No. Revisi : 00
TanggalTerbit : 07/03/2017
SPO
Halaman : 1/2
PUSKESMAS RAAS
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN SUMENEP H. Hermanto, S.Kep
NIP. 19690717 199003 1 007

1. Ruang Lingkup Protap ini mencakup diagnosis dan tata laksana gastritis
2. Tujuan Memberikan tata laksana yang tepat pada pasien gastritis.
3. Kebijakan Berlaku untuk semua pasien.
4. Referensi Sudoyo, A.W. Setiyohadi, B. Alwi, I. Simadibrata, M. Setiati, S. eds. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. 4 ed. Vol. III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam FKUI. 2006. (Sudoyo, et al., 2006)
5. Prosedur 1. Hasil Anamnesis (Subjective)
1.1 Keluhan
Pasien datang ke dokter karena rasa nyeri dan panas seperti terbakar pada perut
bagian atas. Keluhan mereda atau memburuk bila diikuti dengan makan, mual,
muntah dan kembung.

1.2 Faktor risiko


a. Pola makan yang tidak baik: waktu makan terlambat, jenis makanan
pedas, porsi makan yang besar
b. Sering minum kopi dan teh
c. Infeksi bakteri atau parasit
d. Pengunaan obat analgetik dan steroid
e. Usia lanjut
f. Alkoholisme
g. Stress
h. Penyakit lainnya, seperti: penyakit refluks empedu, penyakit autoimun,
HIV/AIDS, Chron disease
.
2. Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)
2.1 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik Patognomonis
1. Nyeri tekan epigastrium dan bising usus meningkat.
2. Bila terjadi proses inflamasi berat, dapat ditemukan pendarahan saluran
cerna berupa hematemesis dan melena.
3. Biasanya pada pasien dengan gastritis kronis, konjungtiva tampak anemis.

Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan, kecuali pada gastritis kronis dengan melakukan
pemeriksaan:
1. Darah rutin.
2. Untuk mengetahui infeksi Helicobacter pylori: pemeriksaanUreabreath
test dan feses.
3. Rontgen dengan barium enema.
4. Endoskopi

3. Penegakan Diagnostik (Assessment)

3.1 Diagnosis Klinis


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Untuk
diagnosis definitif dilakukan pemeriksaan penunjang.

3.2 Diagnosis Banding


a. Kolesistitis
b. Kolelitiasis
c. Chron disease
d. Kanker lambung
e. Gastroenteritis
f. Limfoma
g. Ulkus peptikum
h. Sarkoidosis
i. GERD

3.3 Komplikasi
a. Pendarahan saluran cerna bagian atas
b. Ulkus peptikum
c. Perforasi lambung
d. Anemia
.
4. Penatalaksanaan
Terapi diberikan per oral dengan obat, antara lain: H2 Bloker 2x/hari (Ranitidin
150 mg/kali, Famotidin 20 mg/kali, Simetidin 400-800 mg/kali), PPI 2x/hari
(Omeprazol 20 mg/kali, Lansoprazol 30 mg/kali), serta Antasida dosis 3 x 500-
1000 mg/hari.

5 Konseling dan Edukasi


Menginformasikan kepada pasien untuk menghindari pemicu terjadinya keluhan,
antara lain dengan makan tepat waktu, makan sering dengan porsi kecil dan
hindari dari makanan yang meningkatkan asam lambung atau perut kembung
seperti kopi, teh, makanan pedas dan kol.

6. Kriteria Rujukan
1. Bila 5 hari pengobatan belum ada perbaikan.
2. Terjadi komplikasi.
3. terdapat alarm symptoms
6. Distribusi
7. Dokumen Terkait 1. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas
2. Kepala Puskesmas

8. Rekaman Historis
No Halaman Yang dirubah Perubahan Diberlakukan Tgl.