Anda di halaman 1dari 4

HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR

NON KETOTIK
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit:
Halaman :

PUSKESMAS I DR. DRI KUSRINI


SUMPIUH NIP 19720112 200212 2 004

1. Pengertian No. ICPC-2 : A91 Abnormal result invetigation NOS


No. ICD-10 : R73.9 Hyperglycaemia unspecified
Tingkat Kemampuan 3B

Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik (HHNK) merupakan


komplikasi akut pada DM tipe 2 berupa peningkatan kadar gula
darah yang sangat tinggi (>600 mg/dl-1200 mg/dl) dan ditemukan
tanda-tanda dehidrasi tanpa disertai gejala asidosis. HHNK
biasanya terjadi pada orang tua dengan DM, yang mempunyai
penyakit penyerta dengan asupan makanan yang kurang. Faktor
pencetus serangan antara lain: infeksi, ketidakpatuhan dalam
pengobatan, DM tidak terdiagnosis, dan penyakit penyerta lainnya.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk
penatalaksanaan Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketotik (HHNK)
3. Kebijakan SK Nomor : ……………. Tentang
4. Referensi KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR HK.02.02/MENKES/514/2015 TENTANG PANDUAN
PRAKTIK KLINIS BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN
KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
5. Prosedur Hasil Anamnesis (Subjective)
 Keluhan
1. Lemah
2. Gangguan penglihatan
3. Mual dan muntah
4. Keluhan saraf seperti letargi, disorientasi, hemiparesis,
kejang atau koma.

Secara klinis HHNK sulit dibedakan dengan ketoasidosis diabetik


terutama bila hasil laboratorium seperti kadar gula darah, keton,
dan keseimbangan asam basa belum ada hasilnya.

Untuk menilai kondisi tersebut maka dapat digunakan acuan,


sebagai berikut:
HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR
NON KETOTIK
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit:
Halaman :

1. Sering ditemukan pada usia lanjut, yaitu usia lebih dari


60 tahun, semakin muda semakin berkurang, dan belum
pernah ditemukan pada anak.
2. Hampir separuh pasien tidak mempunyai riwayat DM
atau diabetes tanpa pengobatan insulin.
3. Mempunyai penyakit dasar lain. Ditemukan 85% pasien
HHNK mengidap penyakit ginjal atau kardiovaskular,
pernah ditemukan pada penyakit akromegali,
tirotoksikosis, dan penyakit Cushing.
4. Sering disebabkan obat-obatan antara lain Tiazid,
Furosemid, Manitol, Digitalis, Reserpin, Steroid,
Klorpromazin, Hidralazin, Dilantin, Simetidin, dan
Haloperidol (neuroleptik).
5. Mempunyai faktor pencetus, misalnya penyakit
kardiovaskular, aritmia, perdarahan, gangguan
keseimbangan cairan, pankreatitis, koma hepatik, dan
operasi.

 Dari anamnesis keluarga biasanya faktor penyebab pasien


datang ke rumah sakit adalah poliuria, polidipsia,
penurunan berat badan, dan penurunan kesadaran.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang


 Pemeriksaan Fisik
1. Pasien apatis sampai koma
2. Tanda-tanda dehidrasi berat seperti: turgor buruk,
mukosa bibir kering, mata cekung, perabaan ekstremitas
yang dingin, denyut nadi cepat dan lemah.
3. Kelainan neurologis berupa kejang umum, lokal, maupun
mioklonik, dapat juga terjadi hemiparesis yang bersifat
reversible dengan koreksi defisit cairan
4. Hipotensi postural
5. Tidak ada bau aseton yang tercium dari pernapasan
6. Tdak ada pernapasan Kussmaul.

 Pemeriksaan Penunjang
HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR
NON KETOTIK
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit:
Halaman :

Pemeriksaaan kadar gula darah

Penegakan Diagnostik (Assessment)


 Diagnosis Klinis
Secara klinis dapat didiagnosis melalui anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan kadar gula darah
sewaktu

 Diagnosis Banding
Ketoasidosis Diabetik (KAD), Ensefalopati uremikum,
Ensefalopati karena infeksi

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


 Penatalaksanaan
- Penanganan kegawatdaruratan yang diberikan untuk
mempertahankan pasien tidak mengalami dehidrasi
lebih lama. Proses rujukan harus segera dilakukan
untuk mencegah komplikasi yang lebih lanjut.

- Pertolongan pertama dilayanan tingkat pertama adalah:


1. Memastikan jalan nafas lancar dan membantu
pernafasan dengan suplementasi oksigen
2. Memasang akses infus intravena dan melakukan
hidrasi cairan NaCl 0.9 % dengan target TD sistole >
90 atau produksi urin >0.5 ml/kgbb/jam
3. Memasang kateter urin untuk pemantauan cairan
4. Dapat diberikan insulin rapid acting bolus intravena
atau subkutan sebesar 180 mikrounit/kgBB

 Komplikasi
Oklusi vakular, Infark miokard, Low-flow syndrome, DIC,
Rabdomiolisis

 Konseling dan Edukasi


Edukasi ke keluarga mengenai kegawatan hiperglikemia
dan perlu segera dirujuk
HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR
NON KETOTIK
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit:
Halaman :

 Rencana Tindak Lanjut


Pemeriksaan tanda vital dan gula darah perjam
 Kriteria Rujukan
Pasien harus dirujuk ke layanan sekunder (spesialis
penyakit dalam) setelah mendapat terapi rehidrasi cairan.

Peralatan
 Laboratorium untuk pemeriksaan glukosa darah

Prognosis
 Prognosis biasanya buruk, sebenarnya kematian pasien
bukan disebabkan oleh sindrom hiperosmolar sendiri tetapi
oleh penyakit yang mendasari atau menyertainya.
6. Diagram Alur -
7. Unit terkait Balai Pengobatan

8.Rekaman
No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal mulai
Historis
diberlakukan
Perubahan