Anda di halaman 1dari 22

MAKALA HUKUM BISNIS

KONTRAK BISNIS (PERJANJIAN)


Telah memenuhi tugas mata kuliah Hukum Bisnis dari dosen pengapu yang
terhormat Bu Faridatul Fitriyah, M.Sy

TUGAS KELOMPOK II :
1. WAHYU FEBRIANTO 13.1.02.02.0561
2. SITI ROBI’AH AGUSTIN 13.1.02.02.0459
3. ZENI DUWI RAHAYU 13.1.02.02.0556

KELAS 3L
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NUSANTARA PGRI KEDIRI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
KEDIRI 2015

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dari perjanjian tersebut timbul suatu hubungan hukum antara dua pihak pem-buatnya
yang dinamakan perikatan. Hubungan hukum yaitu hubungan yang menimbulkan akibat
hukum yang dijamin oleh hukum atau undang-undang. Apabila salah satu pihak tidak
memenuhi hak dan kewajiban secara sukarela maka salah satu pihak dapat menuntut
melalui pengadilan.

Sedangkan perikatan adalah suatu hubungan hukum antara dua orang atau dua pihak:
pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain dan pihak yang lain
berkewajiban untuk memenuhi tuntutan itu.
Dengan tersusunya makalah ini kami berusaha memberikan penjelasan tentang
pengertian perikatan dan perbedaan antara perikatan dengan perjanjian, pengertian
kontrak / perjanjian dalam kegiatan bisnis dan unsur-unsur muatan kontrak bisnis, Asas-
asas dan syarat-syarat umum dalam melakukan kontrak / perjanjian, akibat hukum suatu
kontrak , technik penyusunan / merancang kontrak bisnis dan beberapa contoh kontrak
bisnis yang terdapat dalam lampiran serta sebagai bahan kajian dan penambahan
wawasan untuk bahan perbandingan dicantumkan pengertian, asas-asas, perangkat,
macam-macam, dan berakhirnya kontrak.
BAB II
PEMBAHASAN
KONTRAK BISNIS (PERJANJIAN)

A. PENGERTIAN, SYARAT SAHNYA, ASAS – ASAS, DAN SUMBER HUKUM


KONTRAK BISNIS ( PERJANJIAN )
1. Pengertian Kontrak
Kontrak atau contracts (dalam bahasa Inggris) dan overeenkomst (dalam bahasa
Belanda) dalam pengertian luas sering juga di namakan dengan istilah perjanjian.
Kontrak adalah dimana dua orang atau lebih saling berjanji untuk melakukan atau tidak
melakukan perbuatan tertentu, biasanya secara tertulis. Para pihak yang bersepakat
mengenai hal-hal yang diperjanjikan, berkewajiban untuk mentaati dan melaksanakanya,
sehingga perjanjian tersebut menimbulkan hubungan hokum yang di sebut perikatan
(verbintenis). Dengan demikian kontrak dapat menimbulkan hak dan kewajiban bagi
para pihak yang membuat kontrak tersebut, karena itu kontrak yang mereka buat adalah
sumber hokum formal, asal kontrak tersebut adalah kontrak yang sah. Berdasarkan pasal
1233 KUH Perdata ( B.W.) perikatan bisa terjadi karena perjanjian maupun karena
undang-undang. Jadi makna perikatan lebih luas dari kata perjanjian, karena perikatan
bisa ada karena undang-undang dan perjanjian. Didalam perikatan yang lahir karena
undang-undang asas kebebasan untuk mengadakan perjanjian tidak berlaku. Suatu
perbuatan bisa menjadi perikatan karena kehendak dari undang- undang.
Untuk perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian maka pembentuk undang-
undang memberikan aturan-atuan yang umum, namun tidak demikian halnya dengan
perikatan yang lahir karena undang-undang, pembentuk undang-undang membuat aturan-
aturan yang harus dipenuhi oleh para pihak untuk memenuhi kewajibannya.
Terjadinya Perikatan Didalam pasal 1353 KUH Perdata disebutkan :
” Perikatan-perikatan yang dilahirkan oleh undang-undang sebagai akibat
perbuatan orang, dapat terjadi / terbit karena perbutan yang dibolehkan/ halal atau dari
perbuatan melawan hukum ”.
Bahwa untuk terjadinya perikatan diatas, undang-undang tidak mewajibkan dipenuhinya
syarat-syarat sebagaimana yang ditentukan untuk terjadinya perjanjian sebagaimana yang
diatur dalam pasal 1320 KUH Perdata, karena perikatan itu bersumber dari undang-
undang, sehingga terlepas dari kemauan para pihak. Apabila ada suatu perbuatan hukum,
yang memenuhi beberapa unsur tertentu , undang-undang lalu menetapkan perbuatan
hukum tersebut adalah suatu perikatan., sebagai contoh :
a. Perikatan untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak,. b.Perikatan mengurusi
kepentingan orang lain secara sukarela dengan tidak mendapat perintah dari pihak yang
berkepentingan sehingga pihak yang diwakili dapat mengerjakan sendiri urusan itu
sendiri ( Zaakwarneming / Pasal 1354 ) dan hal ini berbeda perikatan untuk memberikan
kuasa yang diatur pasal 1792 KUH Perdata, dimana penerima kuasa bisa memperoleh
honor dari urusan yang dikuasakan kepadanya.
Perikatan yang lahir karena perbuatan melawan hukum sebagaimana yang diatur dalam
pasal 1365 KUH Perdata yang berbunyi :
” Setiap perbuatan yang melawan hukum yang mengakibatkan kerugian kepada orang
lain, mewajibkan kepada pihak / orang yang melakukan kesalahan tersebut kepada pihak
lainnya itu untuk memberikan ganti rugi ”.
2. Syarat Syahnya Kontrak
Menurut pasal 1320 KUH perdata kontrak adalah sah bila memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
1. Sepakat para pihak untuk mengikatkan dirinya;
2. Cakap untuk membuat suatu perikatan;
3. suatu hal tertentu; dan 4. suatu sebab yang halal.(3)
3) Hananudin Rahman, Legal Drafting, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2000, hal 4-5.

a. syarat subjektif,
Syarat pertama dan kedua adalah mengenai subyeknya / para pihak yang
mengadakan kontrak, maka disebut syarat subyektif, karena jika syarat subyektif tidak
terpenuhi maka perjanjian itu dapat dimintakan pembatalannya.
syarat ini apabila dilangar maka kontrak dapat dibatalkan, meliputi:
1) kecakapan untuk membuat kontrak (dewasa dan tidak sakit ingatan);
2) kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya.
Dengan diperlukannya kata ” sepakat ”, maka berarti kedua pihak haruslah
mempunyai kebebasan kehendak dan tidak mendapat suatu tekanan yang mengakibatkan
adanya ” cacat ” bagi perujudan kehendak tersebut.
b. syarat objektif, syarat ini apabila dilanggar maka kontraknya batal demi hukum,
meliputi:
1) suatu hal (objek) tertentu;
2) suatu sebab yang halal (kausa).
3. Asas-Asas Dalam Hukum Kontrak
Menurut pasal 1338 ayat 1 KUH Perdata menyatakan : ” Bahwa semua perjanjian yang
dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya ”. Dari
bunyi pasal tersebut sangat jelas terkandung asas-asas kontrak sebagai berikut :
1). Konsensus / sepakat , artinya perjanjian itu telah terjadi jika telah ada konsensus /
sepakat antara pihak-pihak yang mengadakan kontrak.
2). Kebebasan berkontrak, artinya seseorang bebas untuk mengadakan perjanjian, bebas
mengenai apa yang diperjanjikan, bebas mengenai bentuk kontraknya. Asas kebebasan
berkontrak ini juga meliputi :
- Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian
- Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian;
- Kebebasan untuk menentukan atau memilih causa / isi dari perjanjian yang akan dibuatnya;
- Kebebasan untuk menentukan obyek perjanjian;
- Kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian.
3). Pacta sunt servanda, artinya kontrak itu merupakan undang-undang bagi para pihak
yang membuatnya ( mengikat dan memaksa ).
4). Asas kepercayaan, artinya kontrak harus dilandasi oleh i’tikad baik para pihak
sehingga tidak unsur manipulasi dalam melakukan kontrak.( pasal 1338 ayat 3 KUH
Perdata menyatakan : ” perjanjian harus dilaksanakan dengan i’tikad baik ”
5). Asas persamaan hak dan keseimbangan dalam kewajiban
6). Asas moral dan kepatutan
7). Asas kebiasaan dan kepastian hukum
4. Sumber Hukum Kontrak
Mengenai sumber hukum kontrak yang bersumber dari undang-undang dijelaskan:
a. Persetujuan para pihak (kontrak);
b. Undang-undang selanjutnya yang lahir dari UU ini dapat dibagi:
1) Undang-undang saja
2) UU karena suatu perbuatan, selanjutnya yang lahir dari UU karena suatu perbuatan
dapat dibagi:
a) yang dibolehkan (zaakwaarnaming);
b) yang berlawanan dengan hokum, misalnya seorang karyawan yang membocorkan
rahasia perusahaan, meskipun dalam kontrak kerja tidak disebutkan, perusahaan dapat
saja menuntut karyawan tersebut karena perbuatan itu oleh UU termasuk perbuatan yang
melawan hukum (onrechtsmatige daad),untuk hal ini dapat dilihat pasal 1365 KUH
Perdata.
B. JENIS-JENIS KONTRAK DAN BERAKHIRNYA KONTRAK
1. Macam-macam Kontrak
Berikut ini beberapa contoh kontrak khusus dan penting yang banyak terjadi dalam
praktik bisnis pada umumnya.
a. Perjanjian Kredit
1) Pengertian Kredit
Kredit atau credere (dalam bahasa Romawi) artinya percaya, kepercayaan ini merupakan
dasar dari setiap perjanjian. Adapun unsure dari kredit adalah adanya dua pihak,
kesepakatan pinjam-meminjam (lihat lagi pasal 1754 KUH Perdata tentang Perjanjian
Pinjam-Meminjam), kepercayaan, prestasi, imbalan, dan jangka waktu tertentu dengan
objeknya benda.
Sedangkan dasar dari perjanjian kredit adalah UU Perbankan No. 10 Tahun 1998 tentang
perjanjian kredit diatur dalam Pasal 1 Ayat 11, yang berbunyi:
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang bisa dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank
(kreditor) denganpihak lain (debitor) yang mewajibkan pihak peminjamuntuk melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
2) Perjanjian Kredit Uang
Para Pihak. Menurut Pasal 16 UU Perbankan No. 10 Tahun 1998, setiap pihak yang
melakukan aktivitas menghimpun dana dari masyarakat wajib memiliki izin usaha
sebagai Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat, persyaratan tersebut adalah :
- susunan organisasi dan pengurusan
- permodalan
- kepemilikan
- keahlian bidang Perbankan
- kelayakan rencana kerja dan
- hal-hal lain yang ditetapkan Bank Indonesia
Bunga. Meskipun suku bunga menurut UU tidak boleh lebih 6% (S. 1848 No. 22) tetapi
dalam praktik bisnis kesepakatan antara kreditor dan debitor biasanya boleh lebih dari
ditentukan, yang penting bunga itu ada. UU Perbankan kita memang menganut sistem
bunga mengambang yang sebetulnya cenderung mengarah ke riba yang bisa merusak dan
bisa terjadi ketidakseimbangan mengingat masyarakat kita masih memerlukan pembinaan
untuk bergerak di bidang bisnis.
Batas Maksimum Pemberian Kredit. Menurut UU Perbankan Pasal 11 Ayat 2, batas
maksimum pemberian kredit tidak boleh melebihi 30% dari modal bank yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia menetapkan ketentuan mengenai batas.
Jaminan. Di dalam dalam pemberian kredit, Bank harus memperhatikan asas-asas
perkreditan yang sehat termasuk resiko yang harus dihadapi atas pengembalian kredit.
Untuk memperoleh keyakinan sebelum memberikan kredit, Bank harus melakukan
penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha
Debitur. Agunan merupakan salah satu unsur jaminan kredit agar Bank dapat memperoleh
tambahan keyakinan atas kemampuan Debitur untuk mengembalikan utangnya.

Yang dimaksud dengan Jaminan dalam arti luas adalah jaminan yang bersifat materil
maupun yang bersifat immateril. Jaminan yang bersifat materil misalnya bangunan,
tanah, kendaraan, perhiasan, surat berharga. Sedangkan jaminan yang bersifat immateril
misalnya jaminan perorangan (borgtocht).

Dari sifat dan wujudnya benda menurut hukum dapat dibedakan atas benda bergerak
(roerende goederen) dan benda tidak bergerak (onroerende goederen).
Jangka Waktu. Dalam perjanjian kredit perlu diatur jangka waktunya mengingat kredit
adalah kontrak yang suatu waktu harus dikembalikan. Bila suda jatuh tempo debitur
masih juga tidak memenuhi kewajiban, apalagi dengan indikasi sengaja atau lalai, perlu
dicantumkan sangsi atas kelalaian itu baik berupa benda, bunga, biaya perkara, jaminan
sita barang atau sandera badan, termasuk waktu maksimal yang ditentukan sehingga
debitur tidak berlarut-larut.
b. Perjanjian Leasing (Kredit Barang)
1) Pengertian Leasing
Leasing berasal dari kata lease (dalam bahasa Inggris) adalah perjanjian yang
membayarnya dilakukan secara angsuran dan hak milik atas barang itu beralih kepada
pembeli setelah angsuranya lunas dibayar (Keputusan Menteri Perdagangan No.
34/KP/II/1980).
2) Ciri – ciri Pokok Leasing
 hak milik atas barang baruberalih setelah lunas pembayaran, berarti selama kurun waktu
kontrak berjalan hak milik masih menjadi hak lessor, hal ini berbeda dengan perjanjian
pembiayaan untuk jual beli barang;
 swaktu-waktu lessor bisa membatalkan kontrak bila lessee lalai;
 leasing bukan perjanjian kredit murni, namun cendrung perjanjian kredit dengan jaminan
terselubung;
 ada regristrasi kredit dengan tujuan untuk melahirkan sifat kebendaan dari perjanjian
jaminan.

Menurut Komar Andasasmita (1983: 38), cirri-ciri pokok leasing adalah:

 menyangkut barang atau objek khusus yang merupakan satu kesatuan tersendiri;
 memperoleh pemakaian merupakan tujuan utama;
 ada hubungan antara lamanya kontrak dengan jangka waktu pemakaian objek leasing;
 tenggang waktu kontrak berlaku tetap;
 tenggang waktu tersebut sesuai dengan maksud para pihak seluruhnya atau hamper sama
dengan lamanya pemakaian barang yang merupakan objek perjanjian dilihat dari segi
ekonomi menurut perkiraan para pihak.
c. Perjanjian Keagenan dan Dristibutor
1) Pengertian Keagenan
Agen atau agent (dalam bahasa Inggris) adalah perusahaan nasional yang menjalankan
keagenan, sedangkan keagenan adalah hubungan hukum antara pemegang merek
(principal) dan suatu perusahaan dalam penunjukan untuk melakukan
perakitan/pembuatan/manufaktur serta penjualan/distribusi barang modal atau
produkindustri tertentu.
Jasa keagenan adalah usaha jasa perantara untuk melakukan suatu transaksi bisnis
tertentu yang menghubungkan produsen di satu pihak dan konsumen di lain pihak.
Sedangkan menurut Henry R. Cheeseman (1998:505):
Agent is the party who agrees to act on behalf of another.
Principal is the party who employs another person on act on his or her behalf.
Agency is the princi pal-agent relationship; the fiduciary relationship “which results
from the manifestation of consent by one person to another that the other shall act in
his behalf and subject to his control, and consent by the other so to act.”

2) Hubungan Hukum Keagenan


Hubungan hukum antara agen dengan principal merupakan hubungan yang dibangun
melalui mekanisme layanan lepas jual, disini hak milik atas produk yang dijual oleh agen
tidak lagi berada pada principal melainkan sudah berpindah kepada agen, karena pada
prinsipnya agen telah membeli produk dari principal.
Menurut Henry R. Cheeseman (1998:505), hubungan Aagen-Principal
diilustrasikan sperti pada Gambar 1.1.
GAMBAR 1.1
Hubungan Agen dan Principal

sumber: Cheeseman, Henry, R., 1998, Business Law New Jersey: Prentice Hall International,
Inc., hlm. 505.
3) Status Hukum Keagenan
a) hukum keagenan hanya diatur oleh Keputusan Menteri saja, hal ini menyebabkan
lemahnya status dan hubungan hukum yang terjadi pada bisnis keagenan bahkan banyak
terjadi praktik-praktik penyimpangan;
b) kontrak harus di tandatangani secara langsung antara principal dan agen;
c) kontrak antara principal dan agen wajib didaftarkan ke Departemen Perindustrian dan
Perdagangan, kalau tidak berarti batal demi hukum;
d) persyaratan untuk mendapatkan Surat Tanda Pendaftaran menurut Instruksi Direktorat
Jendral Perdagangan Dalam Negeri No. 01 Tahun 1985;
 surat permohonan dari perusahaan yang berbentuk badan hukum;
 Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP);
 Akta Pendirian Perusahaan dan Perubahanya;
 Tanda Daftar Perusahaan yang masih berlaku;
 Fotokopi surat penunjukan (letter of appointment) atau kontrak (agreement) yang telah
di legalisir oleh notaris dan perwakilan RI di luar negeri di Negara domisili principal
(dokumen asli diminta diperlihatkan);
 Surat perjanjian atau penunjukan dari produsen kepada supplier, apabila penunjukan
dilakukan oleh supplier, dan harus dilampirkan pula surat persetujuan dari produsen
barang sehubungan dengan penunjukan tersebut;
 Leaflet, brosur, catalog asli dari produk atau jasa yang hendak di ageni; dan
 Surat pernyataan dari principal dan agen yang ditunjuk yang menyatakan bahwa barang
atau jasa tersebut belum ada perusahaan lain yang ditunjuj sebagai agen atau distributor.

4) Problematika Kontrak Keagenan


a) hukum keagenan di Indonesia member kebebasan antara principal dan agen untuk
menjalin hubungan hukum melalui petunjuk (sepihak dari principal) atau perjanjian
(tunduk pada ketentuan mengenai perikatan dari Hukum Perdata), tentu keduanya
memiliki implikasi hukum yang bverbeda;
b) dilihat dari wajib dafta perusahaanya, maka hubungan hukum keagenan, apakah
“perjanjian” ataukah “pendaftaran” sebagai penentu legalitas hubungan keagenan? kalau
begitu pendaftaran merupakan norma hukum yang bersifat imperative, yang tak bisa
dikesampingkan oleh para pelaku bisnis keagenan, sementara apabilah hubungan penentu
hubungan keagenan perjanjian, maka pendaftaran hanya merupakan complementary
(pelengkap) yang dapat di kesampingkan;
c) berbagi persyaratan yang diminta sehubungan permohonan pendaftaran tersebut, tidak
hanya sekedar “tanda” menyangkut status dan kedudukan keagenan melainkan lebih
menyerupai “izin”;
d) dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian No. 428/M/SK/12/1987 tentang Agenan
Tunggal Pemegang Merek, bila dicermati, untuk beberapa hal menimbulkan kontradiksi
bahkan mengesankan terjadinya campur tangan pemerintah terhadap suatu transaksi
perdata;
e) mengenai hak prioritas untuk kepemilikan saham dari principal untuk mendirikan
manufaktur dari barang yang diagenkan tersebut, bagaimana seandainya track record dan
kinerja yang buruk dari agen buruk? Rasanya mustahul principal menggandengnya.
5) Sengketa-sengketa Keagenan
a) perselisihan biasanya disebabkan terutama menyangkut tata cara pengakhiran (siapakah
yang dimaksud dengan “pihak”; versi principal, pihak adalah agen saja, sementara versi
agen, pihak adalah baik principal maupun agen);
b) standar atau ukuran untuk menilai kegiatan yang tidak memuaskan dari pihak agen;
c) penjukan agen lain ukuran sebelum ada penyelesaian tuntas;
d) lemahnya system pengawasan terhadap pelaksanaan kontrak keagenan;
e) masih ada anggapan bahwa agen hanyalah melakukan sebatas working relationship,
bukan sebagai partnership dari principal yang kemudian berujung pada “habis manis
sepah dibuang”, setelah melakukan berbagai upaya untuk membangun channel of
distribution, promosi, pemasaran, dan lain-lainya.
Biasanya, sengketa keagenan dimulai dari tindakan principal yang secara sepihak
memutuskan hubungan keagenan, melihat hal demikian, seharusnya untuk menyelesaikan
kasus secara tuntas menjadi tanggung jawab pihak principal sekaligus untuk membayar
ganti sugi kepada pihak agen.
6) Perbedaan Pokok Agen dengan Distributor
Nathan Weinstock (1987), seperti dikutip Levi Lana (dalam Jurnal Hukum Bisnis,
2001:67), membedakan secara tegas antara agen dengan distributor:
a) distributor membeli dan menjual barang untuk diri sendiri dan atas tanggung jawab
sendiri termasuk memikul semua risiko, sedangka agen melakukan tindakan hukum atas
perintah dan tanggung jawab principal dan risiko dipikul oleh principal;
b) dristributor mendapat keuntungan atas margin harga beli dengan harga jual, sementara
agen mendapatkan komisi;
c) distributor bertanggung jawab sendiri atas semua biaya yang dikeluarkan, sedangkan
agen memunta pembiayaran kembali atas biaya yang dikeluarkannya;
d) system manajemen dan akuntansi dari distributor bersifat otonom, sedangkan keagenan
berhak menagih secara langsung kepada nasabah.

d. Perjanjian Franchising dan Lisensi


1) Pengertian Franchising
Franchising merupakan salah satu bentuk lain dari praktik bisnis, yang paling umum
biasanya di bidang restoran cepat saji, hotel, copy center, kantor broker untuk real estate,
salon maupun jenis jasa konsultan lainnya. Franchising adalah pemilik dari sebuah
merek dagang, nama dagang sebuah rahasia dagang, paten, atau produk (biasanya disebut
“Franchisor”) yang memberikan lisensi ke pihak lain (biasanya disebut (franchisee) )
untuk menjual atau member pelayanan dari produk di bawah nama franchisor.
Franchisor terhadap aktivitas yang mereka lakukan. Franchisee dan franchisor
merupakan dua pihak yang terpisah satu dengan yang lainya.
Di samping beberapa jenis kontrak seperti tersebut diatas KUH Perdata juga
mengenal istilah lain dari kontrak untuk:
 Kontrak jual beli
 Kontrak sewa menyewa
 Pemberian atau hibah (shenking)
 Perseroan (maatchap)
 Kontrak pinjam meminjam
 Kontrak penanggungan utang (borgtocht)
 Kontrak kerja
 Kontrak pembiayaan
C. BERAKHIRNYA PERJANJIAN
Di dalam KUHPerdata mengatur juga tentang berakhirnya suatu perikatan. Cara
berakhirnya perikatan ini diatur dalam Pasal 1381 KUHPerdata yang meliputi:

a. berakhirnya perikatan karena undang–undang :

1. konsignasi;
2. musnahnya barang terutang;
3. kadaluarsa.

b. berakhirnya perikatan karena perjanjian dibagi menjadi tujuh yaitu:

1. pembayaran;
2. novasi (pembaruan utang);
3. kompensasi;
4. konfusio (percampuran utang);
5. pembebasan utang;
6. kebatalan atau pembatalan, dan
7. berlakunya syarat batal.

Disamping ketujuh cara tersebut, dalam praktik dikenal pula cara berakhirnya
perjanjian (kontrak), yaitu:

1. jangka waktu berakhir;


2. dilaksanakan obyek perjanjian;
3. kesepakatan kedua belah pihak;
4. pemutusan kontrak secara sepihak oleh salah satu pihak, dan
5. adanya putusan pengadilan

D. FUNGSI PERJANJIAN
Fungsi perjanjian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi yurudis dan
fungsi ekonomis. Fungsi yurudis perjanjian adalah dapat memberikan kepastian hukum
para pihak, sedangkan fungsi ekonomis adalah menggerakkan (hak milik) sumber daya
dari nilai penggunaan yang lebih rendah menjadi nilai yang lebih tinggi. Biaya dalam
Pembuatan Perjanjian Biaya penelitian, meliputi biaya penentuan hak milik yang mana
yang diinginkan dan biaya penentuan bernegosiasi, Biaya negosiasi, meliputi biaya
persiapan, biaya penulisan kontrak, dan biaya tawar-menawar dalam uraian yang rinci,
Biaya monitoring, yaitu biaya penyelidikan tentang objek, Biaya pelaksanaan, meliputi
biaya persidnagan dan arbitrase, Biaya kekliruan hukum, yang merupakan biaya sosial.
E. PRESTASI DAN WANPRESTASI DALAM HUKUM KONTRAK
1. Pengertian Prestasi
Pengertian prestasi (performance) dalam hukum kontrak dimaksudkan sebagai
suatu pelaksanaan hal-hal yang tertulis dalam suatu kontrak oleh pihak yang telah
mengikatkan diri untuk itu, pelaksanaan mana sesuai dengan “term” dan “condition”
sebagaimana disebutkan dalam kontrak yang bersangkutan.
Model-model dari prestasi (Pasal 1234 KUH Perdata), yaitu berupa :

 Memberikan sesuatu;
 Berbuat sesuatu;
 Tidak berbuat sesuatu.
—
2. Pengertian Wanprestasi
Pengertian wanprestasi (breach of contract) adalah tidak dilaksanakannya prestasi
atau kewajiban sebagaimana mestinya yang dibebankan oleh kontrak terhadap pihak-
pihak tertentu seperti yang disebutkan dalam kontrak yang bersangkutan.
Tindakan wanprestasi membawa konsekuensi terhadap timbulnya hak pihak yang dirugikan
untuk menuntut pihak yang melakukan wanprestasi untuk memberikan ganti rugi sehingga oleh
hukum diharapkan agar tidak ada satu pihak pun yang dirugikan karena wanprestasi tersebut.

Tindakan wanprestasi ini dapat terjadi karena *:

 Kesengajaan, maksudnya tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;


 Kelalaian, yang dimaksud melaksanakan apa yang dijanjikanya, tetapi tidak sebagaimana
dijanjikan;
 Tanpa kesalahan (tanpa kesengajaan atau kelalaian)
 Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat; atau
 Melakukan sesuatu yang menurut kontrak tidak boleh dilakukanya.
* Kecuali tidak dilaksanakan kontrak tersebut karena alasan-alasan force majeure, yang
umumnya memang membebaskan pihak yang tidak memenuhi prestasi (untuk sementara
atau selama-lamanya).

Namun tidak sepenuhnya.


 Melakukan sesuatu yang dilarang dalam perjanjian.

Akibat dari wanprestasi itu biasanya dapat dikenakan sanksi berupa ganti rugi,
pembatalan kontrak, peralihan risiko, maupun membayar biaya perkara. Sebagai contoh
seorang debitor (si berutang) dituduh melakukan perbuatan hukum, lalai atau sengaja
tidak melaksanakan sesuai bunyi yang telah disepakati dalam kontrak, jika terbukti, maka
debitor harus mengganti kerugian (termasuk ganti rugi + bunga + biaya perkaranya).
Meskipun demikian debitor bisa saja membela diri dengan alasan :
 Keadaan memaksa (overmacht/force majure)
 Kelalaian kredito sendiri
 Kreditor telah melepas haknya untuk menuntut ganti rugi.
Untuk hal yang demikian debitor tidak harus mengganti kerugian. Oleh karena
itu, sebaiknya dalam setiap kontrak bisnis yang kita buat dapat dicantumkan juga
mengenai risiko, wanprestasi, dan keadaan memaksa ini.
F. FORMAT PENULISAN KONTRAK BISNIS
Untuk membuat surat perjanjian (kontrak) yang baik di perlukan adanya
perencanaan dahulu. Ada beberapa tahapan dalam penyusunan surat perjanjian (kontrak)
meliputi beberapa tahap sejak persiapan sampai dengan pelaksanaan isi perjanjian atau
kontrak.

Tahapan-tahapan pembuatan surat perjanjian ini adalah sebagai berikut:


I. Pra Kontrak
1. Negosiasi
2. Memorandum of Understanding (MoU)
3. Studi kelayakan
4. Negosiasi (lanjutan)
II. Kontrak
1. Penulisan naskah awal
2. Perbaikan naskah
3. Penuklisan naskah akhir
4. Penandatanganan
III. Pasca Kontrak
1. Pelaksanaan
2. Penafsiran
3. Penyelesaian sengketa
Sebelum surat perjanjian (kontrak) disusun biasanya terlebih dahulu di lakukan
negosiasi awal. Negosisasi merupakan suatu proses upaya untuk mencapai kesepakatan
dengan pihak lain. Dalam negosiasi ini proses tawar menawar biasanya berlangsung.
Tahap berikutnya adalah pembuatan MoU, yang merupakan pencatatan atau
pendokumentasian hasil negosiasi awal dalam bentuk tertulis. MoU walaupun belum
merupakan kontrak, tetapi penting sebagai pegangan untuk digunakan dalam negosiasi
lanjutan atau sebagai dasar melakukan studi kelayakan. Setelah pihak-pihak memperoleh
MoU sebagai pegangan, baru kemudian di lanjutkan dengan studi kelayakan untuk
melihat tingkat kelayakan dari berbagai sudut pandang, misalnya ekonomi, keuangan,
teknik, pemasaran, lingkungan, sosial budaya, dan hukum. Hasil studi kelayakan ini
diperlukan dalam menilai apakah perlu atau tidaknya melanjutkan negosiasi lanjutan.
Apabila diperlukan, maka dilanjutkan dengan negosiasi dan hasilnya di tuangkan dalam
kontrak.

Dalam penulisan naskah perjanjian (kontrak) diperlukan ketelitian dalam menangkap


berbagai keinginan pihak-pihak, juga memahami aspek hukum dan bahasa kontrak.
Penulisan kontrak perlu menggunakan bahasa yang baik dan benar dengan berpegang
pada aturan tata bahasa yang berlaku, dan penggunaan bahasa ini harus tepat, singkat,
jelas, dan sistematis.
Walaupun tidak ada format baku dalam perundang-undangan, penulisan surat perjanjian
(kontrak) biasanya meliputi hal-hal berikut ini :
1. Judul
Judul harus di rumuskan secara singkat, padat, dan jelas, misalnya Perjanjian Jual Beli,
Kontrak Sewa Menyewa, Joint Agreement, dll.
2. Pembukaan
Berupa kata-kata pembuka, misalnya : “ Pada hari ini Selasa tanggal empat Januari tahun
2013, kami yang bertanda tangan di bawah ini…”
3. Pihak-pihak
Setelah pembukaan dijelaskan identitas lengkap pihak-pihak, dengan menyebutkan nama
lengkap, pekerjaan atau jabatan, tempat tinggal, dan bertindak untuk siapa. Untuk
perusahaan atau badan hukum, tempat kedudukan bisa digunakan sebagai pengganti
tempat tinggalnya. Contoh :
“ Nama :…….; Pekerjaan: ……….; Bertempat tinggal di : …….dalam hal ini bertindak
untuk diri sendiri/untuk dan atas nama………berkedudukan di ……….., selanjutnya di
sebut sebagai PIHAK PERTAMA;
“Nama :…….; Pekerjaan: ……….; Bertempat tinggal di : …….dalam hal ini bertindak
untuk diri sendiri/selaku kuasa dari dan oleh karenanya bertindak untuk atas nama………
berkedudukan di ……….., selanjutnya di sebut sebagai PIHAK KEDUA;
4. Latar Belakang Kesepakatan (Recital)
Pada bagian ini diuraikan secara ringkas latar belakang terjadinya kesepakatan (recital),
contoh :
…dengan menerangkan pihak PERTAMA telah menjual kepada pihak KEDUA dan pihak
KEDUA telah membeli dari pihak PERTAMA sebuah mobil kuno merk ….tipe….dengan
ciri- ciri : No mesin …., No rangka….., tahun pembuatan……, faktur kendaraan tertulis
atas nama ….alamat…..dengan syarat-syarat yang telah di sepakati pihak PERTAMA dan
pihak KEDUA sebagai berikut ini.
5. Isi
Pada bagian isi sebuah kontrak diuraikan secara panjang lebar isi kontrak yang di buat
dalam bentuk pasal-pasal, ayat-ayat, huruf-huruf, dan angka-angka tertentu. Isi kontrak
ini juga mengatur secara detail hak dan kewajiban pihak-pihak, dan berbagai janji atau
ketentuan yang disepakati bersama.
Jika semua hal yang diperlukan telah tertampung dalam bagian isi tersebut, kontrak di
akhiri dengan kata-kata penutup. Misalnya : “ Dibuat dan ditandatangani di ….pada hari
ini…….tanggal….. .
Kemudian di bawah kontrak di bubuhkan tanda tangan kedua belah pihak dan para saksi
(kalau ada), serta di tempeli materai. Untuk perusahaan atau badan hukum bisa memakai
cap lembaga masing-masing dalam surat perjanjian ini.
6. Penutup
Di bagian penutup sebuah kontrak berisikan pengesahan beserta tanda tangan atas nama
pihak-pihak yang bersangkutan pertama dan kedua, yang di temple materai Rp 6.000,-
sebagai penguat kontrak tersebut.

Contoh:
Demikian perjanjian kerja sama ini dibuat dan ditandatangani di Jakarta, pada hari,
tanggal, bulan dan tahun sebagaimana disebut pada awal perjanjian ini.

PIHAK KEDUA PIHAK PERTAMA

materai
Rp. 6.000,-

Frida Nurmalita Deasy Anggrainy


Direktur Direktur

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Perjanjian (Kontrak) baik di dunia bisnis maupun non bisnis ialah hal yang sangat
penting untuk diperhatikan karena menyangkut sebuah kepastian, kejujuran, konsisten
terhadap apa yang telah di sepakati dan hasil apa yang telah disepakati berhubungan
dengan rekan/pihak yang berkontrak dengan kita, baik maupun buruk hasil kontrak
terebut

DAFTAR PUSTAKA
Ade Maman Suherman, 2004. Pengantar Perbandingan Sistem Hukum, Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada.
Bintang, Sanusi dan Dahlan, 2000. Pokok-pokok Hukum dan Bisnis, Bandung: PT Citra
Aditya
Bakti.
Saliman, Abdul R. dkk, 2005. Hukum Bisnis Untuk Perusahaan, Jakarta: Kencana.
Soebekti, R., 1992. KUH perdata, Jakarta: PT Pradnya Paramita.
__________, 2001. Pokok-pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT Intermasa
UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan

RUJUKAN MEDIA ELEKTRONIK


eghasyamgrint's Blog
sciencebooth.com/2013/05/27/pengertian-prestasi-dan-wanprestasi-dalam-hukum-
kontrak/
contohsuratniaga.com/5-langkah-penyusunan-surat-perjanjian-kontrak/
www.eghasyamgrint.wordpress.com/2011/05/21/fungsi-perjanjian/

Diposkan 10th November 2015 oleh wahyu febrianto