Anda di halaman 1dari 12

No. Dok.

: IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 1 dari 12

I. REFERENSI
 PP No. 50 Tahun 2012
 OHSAS 18001 : 2007, klausul 4.4.7
 ISO 14001:2015, klausul 8.2

II. ISTILAH
Keadaan Darurat Kejadian terkait cidera, sakit penyakit, kematian, atau pencemaran
lingkungan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan yang
membutuhkan penerapan kompetensi khusus yang mendesak, serta
sumber daya, atau proses untuk mencegah atau mengurangi
konsekuensi aktual dan potensial.
Kecelakaan Suatu insiden yang menyebabkan cidera, sakit penyakit, kematian, atau
pencemaran lingkungan.
Insiden Kejadian yang terkait pekerjaan di mana terjadinya atau mungkin dapat
terjadinya suatu peristiwa cidera, sakit penyakit, kematian, atau
pencemaran lingkungan.
Unit Tanggap Tim yang sudah dilatih dan ditugaskan untuk menanggulangi keadaan
Darurat (UTD) darurat di perusahaan PT. Medan Sugar Industry yang
Huru hara Kekacauan / gangguan ketenangan publik yang dilakukan oleh tiga
orang atau lebih untuk suatu tujuan pribadi atau kelompok tertentu
dengan melakukan teror atau kerusuhan

III. TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG


Factory Manager bertanggung jawab untuk mengevaluasi efektivitas sistem kesiap-
siagaan dan tanggap darurat, agar terus dapat dilaksanakan dengan baik.

Departemen HSE bertanggung jawab untuk:


a. Mengkoordinasikan pemeriksaan kondisi fisik peralatan pemadam kebakaran
(APAR, Heat Detector & Smoke Detector) secara berkala dengan Dinas
Pemadam Kebakaran.
b. Berkoordinasi dengan pihak eksternal dalam hal pelaporan kejadian serta
penanggulangan keadaan darurat (seperti: Dinas Pemadam Kebakaran,
Kepolisian, Instansi Pemerintah Daerah setempat, dll).
c. Memeriksa secara periodik kondisi perlengkapan tanggap darurat dan
memastikan kondisinya layak pakai dan siap untuk digunakan.
d. Bersama bagian terkait, melakukan investigasi penyebab kondisi darurat serta
menentukan tindakan koreksi dan pencegahan yang diperlukan.
e. Bersama Koordinator UTD membuat laporan lengkap mengenai keadaan darurat
yang terjadi

Koordinator UTD bertanggung jawab untuk:


a. Memastikan kesiapan perlengkapan keadaan darurat dan evakuasi di semua
area : Map jalur evakuasi, rambu penunjuk arah, Alat Pemadam Kebakaran,
Instruksi Kerja Keadaan Darurat, dll.
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 2 dari 12

b. Mengkoordinasikan proses evakuasi para pekerja bila terjadi keadaan darurat


yang memiliki syarat mencukupi untuk dilakukannya evakuasi.
c. Mengevaluasi keadaan pasca evakuasi untuk memastikan efektivitas
pelaksanaan proses evakuasi yang dijalankan.
d. Menyiapkan program / rencana pelatihan tanggap darurat, mengkoordinasikan
pelatihan tentang simulasi keadaan darurat secara berkala dan mengevaluasi
hasil pelatihan.

Semua Bagian bertanggung Jawab untuk :


a. Melaporkan segala potensi dan kejadian situasi darurat ke HSE
b. Mencegah potensi bahaya kebakaran dengan tidak menempatkan bahan-bahan
yang mudah terbakar di dekat sumber panas/api atau tidak melakukan kegiatan
yang menghasilkan panas/api didekat bahan-bahan yang mudah terbakar.
c. Tidak mengganggu atau merubah setiap perlengkapan tanggap darurat (Rambu,
Penunjuk Arah, APAR, dll)
d. Mengikuti ketentuan, prosedur dan instruksi kerja (termasuk instruksi dilapangan)
yang terkait dengan keadaan darurat.

IV. INSTRUKSI KERJA


4.1 Keadaan Darurat
Keadaan darurat adalah situasi/ kondisi / kejadian yang tidak normal:
a. Terjadi tiba-tiba
b. Mengganggu kegiatan rutin
c. Perlu segera ditanggulangi
d. Dideteksi oleh sistem pengaman

Keadaan darurat dapat berkembang menjadi bencana (disaster) yang


mengakibatkan banyak korban atau kerusakan

Jenis keadaan darurat dalam IK ini adalah :


1. Technological Hazard (KegagalanTeknis)
a) Kebakaran dan Ledakan
b) Tumpahan Bahan Kimia
2. Kedaruratan Sosial
a) Ancaman Bom
b) Kerusuhan Masa
3. Natural hazard (Bencana Alamiah)
a) Gempa Bumi
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 3 dari 12

b) Banjir

4.2 Jenis Peringatan Keadaan Darurat


1. Peringatan Tahap Pertama (Alarm Zona)
a) Peringatan (alarm) tahap I merupakan tanda bekerjanya sistem proteksi
yang dapat diketahui dengan aktifnya alarm pada satu zona dan alarm serta
display pada monitor modul utama:
b) Pemberitahuan untuk siaga bagi seluruh personel (public addressing)
dengan dua tahap pengumuman:
· Tindakan pengecekan ke lokasi oleh HSE
· Pemberitahuan hasil: terjadi alarm palsu atau validitas keadaan darurat
2. Peringatan Tahap Kedua (Alarm Gedung)
a) Merupakan tanda dimulainya tindakan evakuasi, setelah memperoleh
konfirmasi atas perkembangan dari kondisi darurat yang terjadi.
b) Pemberlakuan evakuasi harus melalui sistem pemberitahuan umum.

4.3 Ketentuan umum


Selama pemberlakuan keadaan darurat, seluruh personil diharapkan :
a) Tetap tenang dan mengikuti arahan dari tim HSE atau UTD
b) Tidak melakukan komunikasi dengan pihak luar dalam bentuk apapun
termasuk komunikasi melalui social media
c) Menggunakan jalur komunikasi radio channel HSE
d) Melaporkan kepada tim UTD apabila terdapat potensi bahaya yang lain atau
ada personel yang tertinggal / terluka / hilang
e) Memberikan bantuan penanganan kondisi darurat hanya apabila diijinkan
oleh tim UTD

4.4 Pelaporan keadaan darurat


Personel yang mengetahui suatu keadaan darurat yang berpotensi untuk
menimbulkan suatu bahaya yang lebih besar wajib untuk :
a) Mengaktifkan alarm
b) Melaporkan kepada pengawas area di lapangan dan atau langsung
melaporkan ke HSE
c) Melakukan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan
keadaan darurat tersebut HANYA apabila mampu, terlatih dan nyaman
untuk melakukannya
d) Memantau keadaan hingga bantuan datang atau menuju tempat yang lebih
aman.

4.5 Response atas laporan keadaan darurat


No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 4 dari 12

Apabila terdapat laporan mengenai kondisi darurat atau mengetahui adanya alarm
yang aktif di areanya, pengawas area akan melakukan tindakan-tindakan sebagai
berikut :
a) Memberi laporan tentang keadaan darurat kepada HSE mengenai lokasi
kejadian, jenis keadaan darurat yang terjadi, rencana langkah dan tindakan
awal yang telah dilakukan, termasuk peralatan yang digunakan dan
bantuan yang diperlukan dengan segera
b) Mensterilkan daerah berbahaya dan jalan masuk menuju lokasi kejadian
c) Melakukan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan
keadaan darurat tersebut HANYA apabila mampu, terlatih dan nyaman
untuk melakukannya
d) Memantau keadaan hingga bantuan datang

HSE setelah menerima pemberitahuan tentang adanya keadaan darurat akan:


a) Memberitahukan kepada Factory Manager bahwa telah terjadi keadaan
darurat
b) Mempersiapkan Unit Tanggap Darurat dalam posisi siaga
c) Menuju lokasi kejadian untuk mengevaluasi kondisi darurat yang terjadi
d) Melakukan tindakan yang diperlukan sesuai dengan tingkat darurat yang
terjadi
e) Melaporkan kepada Factory Manager mengenai perkembangan kondisi
secara berkala

Dalam hal terjadi keadaan darurat yang kecil:


a) Berikan perintah secukupnya untuk menjamin tindakan-tindakan pemula
yang dilakukan untuk mengendalikan dan mengamankan keadaan darurat
b) Tim UTD harus standby serta siaga di tempat.
 Mencatat informasi keadaan darurat tentang hal-hal berikut:
 Jam dan tanggal kejadian,
 Jenis dan keadaan darurat,
 Lokasi kejadian,
 Kerusakan-kerusakan yang terjadi,
 Siapa yang melaporkan kejadian,
 Tindakan yang telah dilakukan,
 Bagaimana keadaan darurat tersebut ditanggulangi

Apabila tindak lanjut dari laporan adanya suatu kejadian darurat yang tidak dapat
dikendalikan pada tahapan awal, maka HSE akan memberikan rekomendasi
kepada Factory Manager untuk :
a) Mendeklarasikan kondisi darurat perusahaan
b) Mengaktifkan operasi UTD

4.6 Operasi Tanggap Darurat


Dalam hal keadaan darurat tidak dapat dikendalikan dan berkembang Iebih besar,
maka:
Factory Manager sebagai Pimpinan UTD akan mengaktifkan alarm darurat pabrik
dan mengaktifkan Unit Tanggap Darurat
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 5 dari 12

Semua personel harus menghentikan kegiatannya dan bersiaga di tempat


berkumpul area masing-masing sambil menunggu instruksi selanjutnya.
Tim Operasi UTD menuju kelokasi untuk penanggulangan keadaan darurat
Tim Support UTD melakukan: evaluasi jalur evakuasi yang aman, mempersiapkan
evakuasi dan mensiagakan tim P3K.
External Communication bersiaga untuk menghubungi pihak - pihak luar sebagai
bantuaan penanggulangan kedaruratan dan bertindak atas perintah dari Pimpinan
UTD.
Apabila kondisi darurat tidak bisa diatasi, maka Pimpinan UTD akan
memerintahkan evakuasi ; seluruh personel menuju area Muster Point dengan
tenang dan mengikuti arahan dari tim evakuasi.
Selama tahapan evakuasi, seluruh personel tetap berada di Muster Point hingga
mendapatkan arahan lanjutan dari Pimpinan UTD.

4.7 Berakhirnya Keadaan Darurat


Keadaan darurat dinyatakan berakhir setelah adanya pernyataan “ALL CLEAR -
ALL CLEAR - ALL CLEAR” dari pimpinan UTD.
Dengan pernyataan tersebut seluruh personel dapat meninggalkan area Muster
Point untuk melanjutkan aktivitas atau hal lain sesuai arahan.

4.8 Tahap Pemulihan


Apabila kondisi darurat sudah teratasi maka Koordinator UTD akan melakukan
evaluasi untuk menentukan apakah lokasi kejadian sudah aman untuk dimasuki
kembali.
Hasil evaluasi berupa rekomendasi kepada Pimpinan UTD untuk menentukan
arahan kepada seluruh personel dalam deklarasi berakhirnya keadaan darurat
(ALL CLEAR - ALL CLEAR - ALL CLEAR)
Sebagai langkah lanjut, pimpinan UTD akan membentuk tim untuk mendata semua
kerugian / korban yang ada dan mengambil langkah-langkah untuk mengaktifkan
kembali kegiatan perusahaan.

Alur Proses Petunjuk Tindakan Umum Strategi Unit Tanggap Darurat


Karyawan yang melihat adanya suatu kondisi (potensi)
darurat :

1. Aktivasi alarm , memberitahu personel yang lain atau


laporkan kepada supervisor area - supervisor Area
melaporkan kepada HSE
HSE setelah mendapatkan laporan :
2. Mengamankan diri dan area
1. Notifikasi kepada Factory Manager dan UTD
3. Melakukan tindakan pengamanan HANYA bila
TERLATIH, MAMPU , MERASA NYAMAN DAN AMAN 2. Menuju spot kejadian bersama personel yang
untuk melakukannya. kompeten

HSE bersama supervisor area : FM mengumumkan adanya suatu kejadian dan


memberikan notifikasi kepada anggota UTD.
1. Mengamankan area kejadian
Anggota UTD : Bersiaga untuk operasi tanggap
2. Melakukan assessment di area kejadian untuk darurat.
memutuskan apakah akan dilakukan tindakan awal yang
aman untuk melokalisir atau mengatasi keadaan darurat. Koord. Tim Support : Mulai pencatatan rekaman
kejadian (event log)

HSE akan memutuskan tindakan yang akan dilakukan


No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 6 dari 12

dan melaporkan kepada FM ; FM menerima informasi hasil assessment dari HSE


untuk menentukan level ke daruratan ;
1. Apabila kondisi dinyatakan aman akan dilanjutkan
dengan stabilisasi dan assessment 1. Keadaan dapat dikendalikan - maka masuk dalam
tahapan stabilisasi : akan meninjau lokasi kejadian
2. Apabila kondisi dinyatakan tidak aman atau tindakan setelah dinyatakan aman
penanganan gagal dilakukan maka HSE akan
merekomendasikan deklarasi keadaan darurat kepada FM 2. Tindakan penanganan awal gagal dilakukan ;
menotifikasi seluruh anggota UTD untuk bersiap

Karyawan dan visitor : FM sebagai pimpinan UTD mendeklarasikan


keadaan darurat dan mengaktifkan UTD -
1. Menghentikan aktivitas, melakukan penyelamatan (komunikasi radio ch.3)
(saving data, dsb) dan mempersiapkan diri (dan
visitornya) untuk evakuasi

2. Tidak melakukan komunikasi menggunakan saluran Koordinator UTD dan Tim Operasi menuju lokasi
radio kecuali yang berkaitan dengan kedaruratan kejadian

3. TIDAK PANIK , bersiap menunggu dan mengikuti Tim Evakuasi : mengumpulkan karyawan di area
arahan dari tim evakuasi masing-2 area masing-2/ lokasi aman lain sesuai arahan Pimpinan
UTD; head count

Tim Logistik dan Keamanan : mengamankan jalur


akses

Koordinator UTD dan Tim operasi melakukan assessment Koord. Tim Support:
di area kejadian untuk memutuskan apakah akan
dilakukan tindakan awal yang aman untuk melokalisir atau 1. Mempersiapkan tim P3K dan peralatan pendukung
mengatasi keadaan darurat.
2. Memeriksa dan memastikan jalur evakuasi yang
Apabila kondisi dinyatakan aman akan dilanjutkan operasi aman
tanggap darurat oleh tim operasi.
3. Mempersiapkan sarana pendukung dan logistik
selama operasi tanggap darurat berlangsung

Koordinator UTD akan melaporkan perkembangan di


lapangan sebagai pertimbangan keputusan dari pimpinan
UTD. External Comm. mempersiapkan bantuan tambahan
(damkar, polisi, SAR, dsb) dan mendatangkannya
setelah mendapatkan perintah dari pimpinan UTD.

Apabila kondisi dinyatakan tidak aman atau tindakan


penanganan gagal dilakukan maka akan Koordinator UTD
merekomendasikan langkah evakuasi kepada pimpinan
UTD.
PIMPINAN UTD MEMERINTAHKAN EVAKUASI
APABILA KEADAAN DARURAT TIDAK DAPAT
DIATASI

Tim Evakuasi : Membimbing semua orang menuju


Muster Point - Head Count - menyisir ulang area
apabila jumlah personel kurang.

Semua Personel (kecuali anggota UTD) : Tim Keamanan dan logistik : Mempersiapkan logistik
dan akses bagi kendaraan
BERJALAN menuju Muster Point atau area aman lain
yang sudah ditentukan oleh Pimpinan UTD dengan Tim P3K : bersiaga , merespon apabila diperlukan.
tenang sesuai arahan
Pimpinan dan Koordinator UTD : mengkoordinasikan
Berkumpul sesuai area / mengikuti arahan petugas tindakan lanjutan dengan pihak luar (Damkar, Polisi ,
evakuasi masing-masing bagian dsb)

Mengikuti head count - melaporkan apabila ada personel Pimpinan, Koordinator dan anggota UTD : memonitor
yang hilang / tidak terhitung dan memberikan bantuan yang diperlukan dari pihak
luar yang melaksanakan operasi penyelamatan dan
pemulihan.

Tim Evakuasi : Dilakukan hingga operasi berhasil.

Melaporkan hasil headcount kepada Koord. tim Support External communication dan tim keamanan :
Mengamankan, mengantisipas idan mengambil
Melakukan penyisiran apabila ada personel yang hilang tindakan yang diperlukan datangnya pihak-pihak lain
setelah mendapatkan persetujuan dari Pimpinan UTD yang mungkin tidak berkepentingan.

Meninggalkan area muster point setelah mendapat Setelah keadaan darurat bisa diatasi, Pimpinan UTD
arahan dari Pimpinan UTD mendeklarasikan pencabutan kondisi darurat dengan
menyatakan “ ALL CLEAR - ALL CLEAR - ALL
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 7 dari 12

CLEAR”

V. KESIAGAAN DAN PENANGGULANGAN


Berikut ini adalah uraian upaya penanggulangan untuk berbagai keadaan-keadaan
darurat.

5.1 Kebakaran dan Ledakan


Kebakaran dan ledakan biasanya terjadi tanpa adanya peringatan terlebih dahulu dan
dapat berakibat pada lingkungan kerja yang luas, sehingga menimbulkan kerusakan
fasilitas dan kerugian perusahaan.
Kebakaran terjadi karena adanya tiga elemen dari segitiga api yaitu panas/ energi,
bahan bakar dan oksigen.
Prinsip dari pemadaman kebakaran adalah menghilangkan salah satu unsur segitiga
api tersebut, yaitu menghilangkan bahan bakar, memisahkan oksigen dari api dan
mendinginkannya.
Bahaya dari suatu kebakaran atau ledakan adalah:
Kebakaran/ledakan pada suatu fasilitas, dapat mengakibatkan kerusakan pada
seluruh fasilitas, bahkan membahayakan kehidupan di sekitarnya.
Kebakaran dapat mengakibatkan kondisi yang lebih buruk apabila timbul polusi
sebagai akibat lanjutannya.

5.1.1 Klasifikasi kebakaran.


Pemadaman dilakukan harus memperhatikan klasifikasi api yang dihadapi.
 Api Kelas A
Api yang berkaitan dengan bahan keras yang mudah terbakar seperti kayu, kertas,
kain dan plastik. Dengan pendingin air, api dapat dipadamkan.
 Api Kelas B
Api yang berkaitan dengan minyak, gas dan substansi lain yang dapat mengeluarkan
uap yang mudah terbakar. Pemadaman dilakukan dengan mengisolasi sumber api
dari udara/ oksigen.Tepung kimia kering, busa dan CO2 dapat dipergunakan
 Api Kelas C
Api yang melibatkan kebakaran peralatan listrik, atau dekat dengan peralatan listrik.
Pemadaman dilakukan dengan Dry Chemical dan CO2.
 Api Kelas D
Api yang melibatkan logam-logam yang dapat terbakar

5.1.2 Penanggulangan
a) Pastikan ada orang lain yang mengetahui kejadian untuk mencari bantuan
b) Penanggulangan harus diusahakan sedini mungkin, sewaktu api belum
membesar
c) Apabila api timbul pada suatu instalasi supply bahan bakar, tutup segera
valve utama
d) Lokalisir kebakaran dengan memindahkan bahan bahan yang mudah
terbakar atau berharga pada jarak aman dari api.
e) Siapkan fire fighting system dan laksanakan penanggulangannya.
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 8 dari 12

f) Lakukan pemadaman api hanya apabila kondisi memungkinkan, baik dari


sisi ukuran api, lokasi kejadian dan ketersediaan alat bantu (pemadam)

5.2 Tumpahan Bahan Kimia


Tumpahan bahan kimia dapat menimbulkan berbagai macam bahaya sesuai jenis
bahannya serta kemungkinan kebakaran apabila dekat dengan sumber panas. Perlu
pemahaman terlebih dahulu mengenai bahan kimia yang tumpah tersebut sebelum
melakukan langkah penanggulangan mengingat beragam jenis bahan kiia mempunyai
beragam pola penanganan dan tingkat reaktivitas yang berbeda.
Sangat penting untuk memastikan bahwa MSDS selalu tersimpan di area tempat
penimpanan bahan kimia sebagai salah satu panduan yang siap digunakan dalam
menghadapi kondisi darurat ini.

5.2.1 Penanggulangan
a) Laporkan kejadian kepada HSE atau Ahli K3 Kimia
b) Berusaha untuk hentikan segera sumber tumpahan, dengan menutup valve,
mematikan pompa dsb.
c) Lokalisir areal tumpahan di atas tanah dengan membuat tanggul darurat atau
bahan-bahan lain.
d) Bila tumpahan Bahan Kimia berbahaya bagi orang disekitarnya, dan apabila
tidak bisa dikendalikan, segera lakukan evakuasi pekerja.

5.3 Ancaman Bom


Seluruh personil dan fasilitas Perusahaan sangat berpotensi akan resiko keselamatan
dan kerusakan sebagai akibat terjadinya ancaman bom pada area Perusahaan.
Kerusuhan masa dikategorikan sebagai Tingkat Bahaya, yang harus dihadapi dengan
tenang dan hati-hati.

5.3.1 Penanggulangan

A. Menerima ancaman lewat telepon:


1. Tetap bersikap tenang dalam menghadapi ancaman bom melalui telepon;
2. Usahakan sebisa mungkin memperlama pembicaraan (di telepon) ;
3. Lakukan perekaman pembicaraan jika memungkinkan;
4. Kenali suara si pelepon (pria/wanita, logat bicara dengan bahasa mana, dll)
5. Perhatikan suara di belakang si penelepon untuk mengetahui dimana dia
berada (di pinggir jalan, riuh pasar, musik, dll);
6. Usahakan mencari informasi mengenai bom (letak, bentuk, alasan melakukan
ancaman bom, waktu, dll);
7. Mencatat isi pembicaraan
8. Setelah pembicaraan selesai, menginformasikan kepada HSE atau Factory
Manager untuk penanganan lebih lanjut
9. Tetap merahasiakan pembicaraan kepada siapapun untuk mencegah
terjadinya kegaduhan dan kepanikan.
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 9 dari 12

B. Menerima ancaman lewat surat/menemukan benda menyerupai bom:


1. Tetap bersikap tenang dalam menghadapi ancaman;
2. Menginformasikan kepada HSE atau Factory Manager untuk penanganan
lebih lanjut;
3. Tetap merahasiakan pembicaraan kepada siapapun untuk mencegah
terjadinya kegaduhan dan kepanikan.

C. Penanganan lanjutan :

Sebagai langkah lanjutan HSE bersama GA dan Sekuriti akan melakukan penyisiran
dan apabila ditemukan benda yang dicurigai merupakan bom:
1. Menjauhkan personil dari area ditemukannya benda/barang yang diduga bom
2. Menjaga benda tetap berada pada posisinya, jangan dipindahkan, dibolak-
balik ataupun diguncang
3. Lokasi peletakan bom tersebut diberi tali pembatas (police line) dalam radius
100 meter agar tidak dilewati pengunjung maupun petugas;
4. Beritahukan kepada petugas keamanan yang lain tentang penemuan barang
yang mencurigakan tersebut;
5. Bila memungkinkan, melakukan pengecekan terhadap benda/barang yang
diduga bom dengan menggunakan Metal Detector untuk mengetahui apakah
terdapat unsur logam di dalamnya
6. Catat informasi berkaitan penemuan benda tersebut
7. Menginformasikan dan koordinasikan hal tersebut dengan Factory Manager
(Pimpinan UTD) dan HRGA Manager (External Communication) untuk
pelaporan kepada pihak kepolisian atau satuan gegana terdekat
8. Pimpinan UTD akan memutuskan apakah diperlukan evakuasi personel
berdasarkan hasil kajian dari koordinator UTD dan tim sekuriti
9. Setelah petugas kepolisian dan/atau satuan gegana telah tiba, Pimpinan UTD
akan menyerahkan kewenangan untuk proses penjinakan bom kepada tim
kepolisian / satuan gegana.

5.4 Kerusuhan Massa


Seluruh personil dan fasilitas pada Operasi Lapangan Perusahaan sangat berpotensi
akan resiko keselamatan dan kerusakan sebagai akibat terjadinya kerusuhan massa.
Kelompok dapat bertindak merusak yang dapat berakibat pada keamanan fisik
instalasi / fasilitas yang ada dan kemungkinan timbulnya kerusakan dan gangguan
terhadap personil maupun properti, melalui sabotase, perusakan maupun vandalisme.

5.4.1 Penanggulangan
a) Pada saat kerusuhan, pihak security segera mengamankan area perusahaan
dengan menutup gerbang lokasi untuk mengatasi kondisi yang ada dan segera
melaporkan situasi tersebut ke HRGA Manager.
b) HRGA Manager bersama HSE menganalisa kondisi yang ada, bila kondisi
keamanan meningkat kepada level berbahaya maka segera menghubungi
factory manager untuk mendeklarasikan kondisi darurat
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 10 dari 12

c) Factory Manager sebagai pimpinan UTD menginformasikan kepada seluruh


pekerja untuk tetap tenang dan waspada dan jika perlu melakukan proses
evakuasi pekerja ke lokasi yang lebih aman
d) External communication bersiaga untuk meminta bantuan dari pihak kepolisian
sesuai dengan tingkatan kebahayaan yang berkembang di lapangan dengan
persetujuan dari pimpinan UTD

5.5 Gempa Bumi


Gempa bumi terjadi tanpa adanya peringatan, dapat mempengaruhi seluruh
komunitas atau daerah yang luas sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada
fasilitas yang ada.
Bahaya suatu gempa bumi adalah runtuhnya fasilitas, kemungkinan kerusakan
fasilitas, bahaya dari proses, lepasan tekanan dari sistem boiler,tkebakaran atau
pencemaran yang timbul akibat tumpahan bahan kimia.

5.5.1. Penanggulangan
a) Saat gempa terjadi dan personel berada di dalam ruangan : berlindung di bawah
meja , tunggu hingga gempa berhenti. Setelah gempa berhenti usahakan untuk
mematikan peralatan yang menggunakan sumber listrik dan mengikuti prosedur
evakuasi.
b) Saat gempa terjadi dan personel berada di dalam ruangan : bergerak menuju
tempat terbuka yang jauh dari struktur tinggi dan bangunan.
c) Supervisor area yang berwenang mengumumkan kepada seluruh personil untuk
menghentikan kegiatan dan mengevakuasi personilnya keluar/ menjauhi fasilitas,
menuju ke ruang terbuka bebas yang aman sampai diperintahkan untuk
melakukan tindakan selanjutnya.
d) Dalam hal terjadi kebakaran, tim UTD akan memobilisasi personil dan
peralatannya guna melokalisir dan memadamkan api sedini mungkin.
e) Dalam hal terjadinya tumpahan bahan kimia, maka dilakukan tindakan
penanggulangan Tumpahan Bahan Kimia oleh tim UTD dan Ahli K3 Kimia.
f) Setelah dilakukan evakuasi, koordinator UTD bersama tim yang kompeten akan
segera mengevaluasi fasilitas/peralatan yang menjadi tanggung jawabnya dan
melaporkan kerusakannya kepada pimpinan UTD.
g) Pimpinan UTD dan manager terkait akan melakukan penilaian terhadap situasi
setelah gempa
h) Pimpinan UTD memutuskan dan menginstruksikan tindakan yang harus
dilakukan oleh seluruh personel berdasarkan hasil kajian dan penilaian kondisi
fasilitas, sistem proses dan sebagainya.

5.6 Banjir
Banjir pada umumnya terjadi saat musim hujan terutama pada siklus Banjir Besar dan
dapat mempengaruhi atau berdampak pada daerah yang luas sehingga dapat
menimbulkan kerusakan pada fasilitas yang ada.
Bahaya Banjir adalah kemungkinan orang tenggelam atau terbawa arus banjir,
kerusakan mesin / fasilitas, bahaya tersengat listrik atau pencemaran yang timbul
akibat tumpahan bahan kimia.

5.6.1 Penanggulangan
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 11 dari 12

a) Pada saat musim hijan terutama yang didindikasikan sebagai musim banjir,
frekuensi pemeriksaan terhadap sistem parit dan pintu air harus ditingkatkan,
serta harus dipantau informasi mengenai banjir dari area lain disekitar area
perusahaan.
b) Apabila kondisi ketinggian air sudah dalam level yang mengkhawatirkan dan atau
ada informasi mengenai banjir di lokasi/daerah lain yang mungkin akan sampai
ke area perusahaan, maka dilakukan tindakan berikut :
i. Pengawas Lapangan yang berwenang mengumumkan kepada seluruh
personil untuk menghentikan kegiatan yang dilakukan.
ii. Mesin dan barang-barang yang berharga di evakuasi ke tempat yang lebih
tinggi.
iii. Tim Isolasi UTD akan melakukan pengamanan berkait kelistrikan dengan
melakukan isolasi pada area-area yang berbahaya
iv. External communication bersiaga untuk meminta bantuan dari pihak
kepolisian sesuai dengan tingkatan kebahayaan yang berkembang di
lapangan dengan persetujuan dari pimpinan UTD
c) Bila diperlukan maka Tim UTD akan melakukan evakuasi karyawan ketempat
yang aman dan selanjutnya di instruksikan untuk meninggalkan area perusahaan
(atas persetujuan pimpinan UTD)
d) Tim UTD akan tetap berada di area perusahaan untuk keperluan pengamanan
area perusahaan hingga proses evakuasi selesai atau ditentukan hal lain oleh
pimpinan UTD
e) Setelah Bahaya Banjir surut, Koordinator UTD akan membuat laporan terjadinya
banjir termasuk kerusakan dan korban bila ada kepada pihak-pihak yang terkait
No. Dok. : IK/HSE/10
INSTRUKSI KERJA
Rev. : 01

Tgl. Efektif : 01 Okt 2017


OPERASI TANGGAP DARURAT
Hlm. : 12 dari 12

CATATAN REVISI
Rev Tanggal Alasan Revisi

01 01 Okt 17 Penyesuaian isi dengan penerapan persyaratan ISO 14001:2015

Dibuat Oleh, Diperiksa & Disetujui Oleh,

Jabatan HSE Section Head HSE Department Head

Tanda Tangan

Nama Robby P Damanik David Atmodjo

Tanggal 01 Oktober 2017 01 Oktober 2017

Anda mungkin juga menyukai