Anda di halaman 1dari 4

MANIFESTASI KLINIS

Muttaqin dan Sari (2011) menyebutkan manifestasi klinis apendisitis antara lain:
- Nyeri abdomen periumbilikal, mual, muntah
- Lokasi nyeri menuju fosailiaka kanan
- Pireksia ringan
- Pasien menjadi kemerahan, takikardia, lidah berselaput, halitosis
- Nyeri tekan (biasanya saat lepas) di sepanjang titik McBurney
- Nyeri tekan pelvis sisi kanan pada pemeriksaan per rectal
- Peritonitis jika apendiks mengalami perforasi
- Massa apendiks (jika pasien datang terlambat)
Apendisitis Akut
Gejala Apendisitis akut umumnya timbul kurang dari 36 jam, dimulai dengan
nyeri perut yang didahului anoreksia. Gejala utama Appendicitis acuta adalah nyeri
perut. Awalnya, nyeri dirasakan difus terpusat di epigastrium, lalu menetap, kadang
disertai kram yang hilang timbul. Durasi nyeri berkisar antara 1-12 jam, dengan rata-
rata 4-6 jam
Apendisitis akut sering muncul dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak pada apendiks yang memberikan tanda, disertai ada atau tidaknya
rangsangan peritonieum lokal. Gejala apendisitis akut ialah nyeri samar dan tumpul
yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini
sering disertai mual, muntah dan umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa
jam nyeri akan berpindah ke titik Mc.Burney. Nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih
jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
Apendisitis Kronis
Diagnosa appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat
serangan nyeri berulang di perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik
appendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Secara histologis,terdapat cirri
khas yaitu dinding appendiks menebal, sub mukosa dan muskularis propia
mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan eosinofil pada sub
mukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa tampak dilatasi
(Saksosno, 2012)
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi, penderita berjalan membungkuk
sambil memegangi perutnya yang sakit, kembung bila terjadi perforasi, dan penonjolan
perut bagian kanan bawah terlihat pada apendikuler abses (Digiulio, 2014). Pada
palpasi, abdomen biasanya tampak datar atau sedikit kembung. Palpasi dinding
abdomen dengan ringan dan hati-hati dengan sedikit tekanan, dimulai dari tempat yang
jauh dari lokasi nyeri. Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah:
- Nyeri tekan (+) Mc. Burney. Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran
kanan bawah atau titik Mc. Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
- Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum. Rebound tenderness (nyeri lepas
- tekan) adalah nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat tekanan secara
tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan perlahan dan
dalam di titik Mc. Burney.
- Defens muskuler (+) karena rangsangan m. Rektus abdominis. Defence
muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietale.
- Rovsing sign (+). Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah
apabila dilakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini
diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang dijalarkan karena iritasi peritoneal
pada sisi yang berlawanan.
- Psoas sign (+). Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas
oleh peradangan yang terjadi pada apendiks.
- Obturator sign (+). Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan
lutut difleksikan kemudian dirotasikan ke arah dalam dan luar secara pasif, hal
tersebut menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium.
- Dunphy (+) yaitu nyeri tajam pada quadran kanan bawah merupakan respon dari
perkusi yang dilakukan di kuadran lainnya, dan dijadikan praduga adanya
peradangan peritoneal (Karz, 2009)
Pada perkusi akan terdapat nyeri ketok. Auskultasi akan terdapat peristaltik
normal, peristaltik tidak ada pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata
akibat apendisitis perforata. Auskultasi tidak banyak membantu dalam menegakkan
diagnosis apendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis maka tidak terdengar
bunyi peristaltik usus. Pada pemeriksaan colok dubur (Rectal Toucher) akan
terdapat nyeri pada jam 9-12 (Muttaqin, 2011)
Pemeriksaan penunjang
1. Diagnosis berdasarkan klinis, leukosit meningkat antara 10.000-20.000/ml
dan neutrofil diatas 75% CRP (C-Reactive Protein) biasanya meningkat
sebagai respon inflamasi (muttaqin, 2011)
2. Ultrasonografi untuk adanya massa apendiks dan jika masih ada keraguan
gangguan pelvis atau yang lainnya
3. Pemeriksaan radiologi berupa foto barium usus buntu (Appendicogram) dapat
membantu melihat terjadinya sumbatan atau adanya kotoran (skibala)
didalam lumen usus buntu. Apendikogram dilakukan dengan cara pemberian
kontras BaS04 serbuk halus yang diencerkan dengan perbandingan 1:3
secara peroral dan diminum sebelum pemeriksaan kurang lebih 8-10 jam
untuk anak-anak atau 10-12 jam untuk dewasa, hasil apendikogram dibaca
oleh dokter spesialis radiologi
4. Pemeriksaan USG (Ultrasonografi) dan CT scan bisa membantu dakam
menegakkan adanya peradangan akut usus buntu atau penyakit lainnya di
daerah rongga panggul .
(Fitriana, 2013)

Dafpus
DiGiulio, Marry dkk. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Terjemah Indonesia-Prabantini, Dwi. Jakarta:
Rapha Publising
Fitriana S, Yusran H, Darwis, 2013. Faktor Risiko Kejadian Apendisitis di Rumah Sakit Umum Daerah Kab.
Pangkep. STIKESNH. Makassar : STIKES Nani Hasanuddin; 2(1), hal. 2302-1721
Muttaqin, Arif dan Sari, Kumala. 2011. Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi asuhan keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: Salemba Medika
Saksono, A.B., 2012, Karakteristik lokasi perforasi apendiks dan usia pada pasien yang didiagnosis
apendisitis akut perforasi di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, Skripsi, Fakultas Kedokteran, UPN Veteran
Jakarta

Anda mungkin juga menyukai