Anda di halaman 1dari 14

Anti plagiasi

1. sinetron rcti

TEMPO.CO, Jakarta - Rencana gugatan stasiun televisi Korea Selatan, SBS, kepada RCTI karena dianggap
menjiplak film mereka sudah didengar stasiun televisi swasta pertama di Indonesia itu. Head of Corporate
Secretary RCTI Adjie S. Soeratmadjie mengatakan sebenarnya RCTI sudah mengetahui rencana gugatan
tersebut.
"Tapi saya masih belum bisa memberikan keterangan apa-apa," kata Adjie S. ketika dihubungi, Kamis malam,
1 Mei 2014. (Baca: Rencana Gugatan SBS)
Seperti dikutip situs Soompi, pihak SBS berencana menggugat RCTI karena dianggap menjiplak drama Korea
populer mereka, Man from the Stars. Drama ini dianggap mirip dengan sinetron yang ditayangkan RCTI
dengan judul Kau yang Berasal dari Bintang.
Sinetron Kau yang Berasal dari Bintang dibintangi Nikita Willy dan Morgan, eks anggota boy band Smash.
Sinetron ini mulai mengudara pertama kali di RCTI pada 28 April lalu.
Sedangkan rama Man from the Stars menceritakan tentang alien yang datang ke bumi pada 1609 era dinasti
Joseon. Ia hidup selama 400 tahun. Tiga bulan sebelum kembali ke planet asalnya, ia jatuh cinta dengan
bintang top Korea Selatan.
Peminat drama ini meluas hingga seluruh Asia, termasuk Indonesia. Akibatnya, popularitas sang bintang, Kim
Soo-hyun, makin meningkat. Semula Soo-hyun berencana datang ke Jakarta pada 25 April lalu. Namun,
karena tragedi feri Sewol yang menewaskan ratusan pelajar, lawatannya ke sejumlah negara di Asia diundur.

2. un gorontalo

Dosen UN Gorontalo Ketahuan Plagiat

Posted on 05/06/2011 by Bravo Alfa Seorang dosen di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berinisial (AR)
diberi sanksi berupa dilarang menulis dalam bentuk apa pun, karena ketahuan melakukan plagiat atas dua
artikel yang pernah dituliskan di sebuah harian lokal.

Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Syamsu Qomar Badu menegaskan, selain dilarang menulis, AR juga
dicopot dari jabatannya sebagai ketua Ikatan Penulis Indonesia (IKAPI) Provinsi Gorontalo serta sekretaris
jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS), dan sekretaris senat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG, tempatnya
mengajar selama ini.

“Pencopotan jabatannya sebagai ketua IKAPI, karena organisasi penulis itu dibentuk di Gorontalo, atas kerja
sama dengan UNG,” Ujar Syamsu, Jumat (3/6).

Pada tanggal 5 hingga 7 Mei 2011, secara bersambung AR mempublikasikan artikel di harian Gorontalo Post,
berjudul Kepala Sekolah Bervisi Kualitas Berkelanjutan, yang ternyata diplagiat dari sebuah artikel berjudul
Profesionalisme Kepala Sekolah dan Perbaikan Pendidikan karya Dion Eprijun Ginarto.

Dion adalah Alumnus Program Studi Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dari Universitas
Jambi, yang kini dosen Akademi Bahasa Asing (ABA), Nurdin Hamzah Jambi, Tulisannya yang diplagiat AR itu
dipublikasikan di Blog pribadinya, http://dionginanto.blogspot.com.

Sedang tulisan kedua yang diplagiat, juga dipublikasikan di koran Gorontalo Pos, edisi 23-25 Mei 2011,
berjudul Pendidikan Bukan Kapitalisme yang Licik, ditulis AR sebagai refleksi hari pendidikan nasional.

Judul asli tulisan tersebut adalah Pendidikan untuk Siapa: Analisis tentang UU No.20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional karya Muhammad Rizal Siregar.
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Graha Kirana Medan, dan ketua Divisi Advokasi Solidaritas Buruh
Sumatera Utara.

Tulisan aslinya pernah dimuat di Buletin JALA (Jaringan Advokasi Nelayan Sumatera Utara) 2003 silam.

Kasus plagiat yang dilakukan AR, pertama kali diungkapkan seorang dosen yang enggan menyebutkan
namanya, dengan alasan tidak enak hati dengan rekannya itu.

“Saya mengungkapkan hal ini bukan karena iri apalagi ingin menghalangi karir seseorang, tapi karena plagiat
memang tidak bisa ditolerir, melecehkan dunia akademik,” ungkap sumber anonim itu.

Dia sendiri mengaku kaget, tidak percaya bahwa AR yang terkenal produktif menulis dan telah menghasilkan
beberapa karya buku, ternyata melakukan plagiat.

Bahkan salah ketik dalam tulisan aslinya saja turut serta dalam karya contekannya itu.

Kasus plagiat yang dilakukan dosen UNG, bukan untuk pertamakalinya terjadi, pada 2010 lalu, dua dosen juga
ketahuan melakukan plagiat atas karya penelitian untuk pengabdian masyarakat.

Sumber: http://www.mediaindonesia.com – 4 juni 2011

3. anti plagiat

Dikti Deklarasi Anti Plagiat

Posted on 05/06/2011 by Bravo Alfa

Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri/ Pemerintah dan Koordinator Kopertis seluruh Indonesia
mendeklarasikan gerakan Anti Menyontek dan Anti Plagiat.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso berharap seluruh sivitas akademika mengedepankan
kejujuran, kecerdasan, ketangguhan dan kepedulian. Budaya akademik perguruan tinggi seperti ini harus
dimaknai, dihayati dan diamalkan. Inilah peran sivitas akademika untuk mewujudkan budaya akademik.

Bangku kuliah bukan hanya bertujuan mencetak lulusan yang hanya cerdas semata. Kampus merupakan
wahana bagi mahasiswa untuk berinteraksi dan aktualisasi diri. Selain kecerdasan, diharapkan kampus
mampu mencetak generasi muda yang handal, bermoral dan berkarakter.

Perilaku mencontek dan plagiat merupakan perilaku yang tidak bermoral, sehingga tidak sesuai dengan
karakter sivitas akademika. “Tindakan ini tidak bermartabat yang harus dicegah dan ditanggulangi,” ujar
Djoko. Djoko yakin dengan karakter yang bermoral dan bertumpu pada norma-norma, maka martabat sivitas
akademika akan terjaga.

Dalam rapat koordinasi ini, Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri/ Pemerintah dan Koordinator Kopertis
seluruh Indonesia juga mendeklarasikan kebulatan tekad untuk mengawal empat pilar kebangsaan. keempat
pilar tersebut adalah Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara
Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka berikrar akan mengamalkan keempat pilar
dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia.

Sumber: http://www.dikti.go.id – 5 Mei 2011


4. pembentukan bek

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo ( Jokowi) resmi membentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEK), dimana Jokowi
memilih Triawan Munaf ayah kandung dari mantan artis cilkik Sherina Munaf sebagai kepala BEK untuk lima tahun
masa pemerintahannya.

Anggota Komisi X DPR RI, Anang Hermansyah mengapresiasi langkah Jokowi dalam memberdayakan ekonomi
kreatif di Indonesia. Menurutnya, keberadaan BEK menjadi harapan baru dalam perbaikan ketahanan seni di
Indonesia.

"Lembaga ini harus didukung oleh seluruh stakeholder, termasuk kalangan pelaku seni khususnya dalam
menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)," kata Anang dalam siaran persnya, Jakarta, Rabu (28/1).

Dia mengimbau pemerintah dapat menempatkan BEK dengan baik, terlebih rencana ataupun pengalokasian
anggaran harus tepat. Pasalnya, lembaga yang baru diresmikan ini dapat melahirkan energi baru dalam sektor
ekonomi kreatif.

lebih lanjut, Anang berharap dengan adanya ekonomi kreatif pemerintah dapat memberantas pembajakan karya
cipta maupun persoalan royalti.

"Tahun 2015 ini, ekonomi kreatif harus menjadi salah satu sektor prioritas oleh pemerintah. Keberadaan BEK harus
menjadi momentum konsolidasi lembaga-lembaga negara lintas sektoral sebagaimana amanat Instruksi Presiden
No 6 Tahun 2009 tentang Industri Kreatif," ujar dia.

Anang mengatakan misi penting daripada BEK bisa menyumbang Produk Domestik Bruto bagi Indonesia. Maka
oleh sebab itu, lanjut dia, pihak yang memiliki kewenangan di lembaga ini mampu membawa pembangunan ke
arah yang lebih baik.

"Pemangku kebijakan di BEK harus memahami secara baik arah pembangunan sebagaimana dalam UU No 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan UU No 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara," tandasnya.

5. Wikipedia

Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah, Felicia Utorodewo dkk. menggolongkan hal-hal
berikut sebagai tindakan plagiarisme.[2]:

 Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri,


 Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri
 Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri
 Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri,
 Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya
 Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya, dan
 Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya, tetapi rangkaian kalimat dan pilihan
katanya masih terlalu sama dengan sumbernya.

Yang digolongkan sebagai plagiarisme:

 menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan
menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan
lain
 mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya

Yang tidak tergolong plagiarisme:

 menggunakan informasi yang berupa fakta umum.


 menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan
sumber jelas.
 mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan
menuliskan sumbernya.

Plagiarisme dalam literatur

Plagiarisme dalam literatur terjadi ketika seseorang mengaku atau memberi kesan bahwa ia adalah penulis asli
suatu naskah yang ditulis orang lain, atau mengambil mentah-mentah dari tulisan atau karya orang lain atau karya
sendiri (swaplagiarisme) secara keseluruhan atau sebagian, tanpa memberi sumber.

Akademis

Selain masalah plagiarisme biasa, swaplagiarisme juga sering terjadi di dunia akademis. Swaplagiarisme adalah
penggunaan kembali sebagian atau seluruh karya penulis itu sendiri tanpa memberikan sumber aslinya. [3].
Menemukan swaplagiarisme sering kali sulit karena masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan fair
use[4]. Beberapa organisasi profesional seperti Association for Computing Machinery memiliki kebijakan
untuk menangani hal ini[5].

Contoh

 James A. Mackay, seorang ahli sejarah Skotlandia, dipaksa menarik kembali semua buku biografi
Alexander Graham Bell yang ditulisnya pada 1998 karena ia menyalin dari sebuah buku dari
tahun 1973. Ia juga dituduh memplagiat biografi Mary Queen of Scots, Andrew Carnegie, dan Sir
William Wallace. Pada 1999 ia harus menarik biografi John Paul Jones tulisannya dengan alasan
yang sama.[6] [7]
 Ahli sejarah Stephen Ambrose dikritik karena mengambil banyak kalimat dari karya penulis-
penulis lain. Ia pertama dituduh pada 2002 oleh dua penulis karena menyalin sebagian tulisan
mengenai pilot-pilot pesawat pembom dalam Perang Dunia II dari buku karya Thomas Childers
The Wings of Morning dalam bukunya The Wild Blue.[8] Setelah ia mengakui plagiarisme ini, New
York Times menemukan kasus-kasus plagiarisme lain.[9]
 Penulis Doris Kearns Goodwin mewawancarai penulis Lynne McTaggart dalam bukunya dari
tahun 1987, The Fitzgeralds and the Kennedys, dan ia menggunakan beberapa kalimat dari buku
McTaggart mengenai Kathleen Kennedy. Pada 2002, ketika kemiripan ini ditemukan, Goodwin
mengatakan bahwa ia mengira bahwa rujukan tidak perlu kutipan, dan bahwa ia telah
memberikan catatan kaki. Banyak orang meragukannya, dan ia dipaksa mengundurkan diri dari
Pulitzer Prize board.[10][11][12]
 Seorang ahli matematika dan komputer Dǎnuţ Marcu mengaku telah menerbitkan lebih dari 378
tulisan dalam berbagai terbitan ilmiah. Sejumlah tulisannya ditemukan sebagai tiruan dari tulisan
orang lain.[13]
 Sebuah komite penyelidikan University of Colorado menemukan bahwa seorang profesor etnis
bernama Ward Churchill bersalah melakukan sejumlah plagiarisme, penjiplakan, dan pemalsuan.
Kanselir universitas tersebut mengusulkan Churchill dipecat dari Board of Regents.[14][15][16][17]
 Mantan presiden AS Jimmy Carter dituduh oleh seorang mantan diplomat Timur Tengah Dennis
Ross telah menerbitkan peta-peta Ross dalam buku Carter Palestine: Peace, Not Apartheid tanpa
izin atau memberi sumber.[18]

Fiksi

Contoh

 Helen Keller dituduh pada 1892 menjiplak cerita pendek The Frost King dari karya Margaret T.
Canby The Frost Fairies. Ia diadili di depan Perkins Institute for the Blind, dan dibebaskan
dengan selisih satu suara. Ia menjadi paranoid akan plagiarisme sejak itu dan khawatir bahwa ia
telah membaca The Frost Fairies namun kemudian melupakannya.[19] [20]
 Alex Haley dituntut oleh Harold Courlander karena sebagian novelnya Roots dituduh meniru
novel Courlander The African.[21]
 Dan Brown, penulis The Da Vinci Code, telah dituduh dan dituntut karena melakukan plagiarisme
dua kali.[22][23][24][25][26]
 Novel pertama Kaavya Viswanathan How Opal Mehta Got Kissed, Got Wild and Got a Life,
dilaporkan mengandung jiplakan dari setidaknya 5 novel lain. Semua bukunya ditarik dari
peredaran, kontraknya dengan Little, Brown, and Co. ditarik, dan sebuah kontrak film dengan
Dreamworks SKG dibatalkan.[27][28][29]

6. software

Bahasa Indonesia

Software Anti Plagiat

April 10, 2013 indonesian nurse 1 Comment

Ada 2 software anti plagiat yang pernah saya gunakan,viper yang gratisan dan grammarly yang berbayar.
Saya coba membahas dulu tentang Viper,viper memang memberikan beberapa kemudahan bagi kita,
selain FREE, viper juga cukup bagus dalam menjangkau database yang sudah online dalam berbagai
bahasa. Yang perlu dicermati dalam menggunakan viper adalah hasil checking ditunjukkan dalam persen.
Seperti dibawah ini:

Overall plagiarism rating 6% or less :


The results are that it is highly unlikely that this document contains plagiarised material. A careful check
will only be necessary if this is a lengthy document. For example, a 6% result within a 15,000 word essay
would be of concern because it could mean that direct quotes are too lengthy or there are too many places
where a reference was not listed.

Overall plagiarism rating 6% – 12% :


The results are that there is a low risk that the document contains any plagiarised material. Most of the
matching content will probably be fragments. Review your report for any sections that may not have been
referenced properly.

Untuk rating 6% seperti dijelaskan Viper,kita juga harus tetap waspada, karena jika dibandingkan dengan
software sejenisnya yaitu grammarly, rate kurang dari 6% tetap dianggap sebagai plagiarism. Saya sendiri
menggunakan grammarly dengan versi trial (7 hari) dan hasilnya tetap dianggap plagiat. Kalau menurut
saya kelebihan Viper selain free, database yg digunakan multilanguage juga interface yang user friendly.
Sedangkan kelemahannya adalah proses checkingnya lebih lama jika dibanding dg grammarly, terkadang
juga perlu waktu lama utk connecting ke databasenya. Tapi untuk ukuran gratisan sangat worth it untuk
kita pakai. Sedangkan grammarly kelebihannya cepat, database juga lebih komplit dan dashboard sangat
simple. Selain itu sesuai dengan namanya dia bisa checking bahasa inggris kita, siap-siap saja kalimat kita
dikritisi oleh dia. Oh ya selain itu software ini bisa terintegrasi dengan office word kita, jadi sangat
memudahkan. Kelemahannya menurut saya BERBAYAR (hehehe). Bagaimana dengan ithenticate? Saya
sendiri belum pernah melihat penampakannya, mohon rekan2 yang sudah pernah menggunakannya
berbagi disini

7. contoh

a. Plagiarisme
November 7, 2013 Tinggalkan komentar

Plagiarisme atau yang biasa dikenal dengan sebutan plagiat adalah salah satu cyber crime yang saat ini
sangat marak. Apa itu plagiat? Plagiarisme atau plagiat adalah kegiatan menjiplak, mengikuti, menyalin
mentah-mentah karya ataupun hasil tangan orang lain secara illegal yang kemudian dijadikan seperti
layaknya hasil karya diri sendiri.

Pada awalnya plagiarisme hanya sebatas pada karya tulis semata. Seperti karya-karya imiah, maupun
tulisan-tulisan non fiksi. Namun, seiring berkembangnya zaman, saat ini kegiatan plagiat tidak hanya
terjadi pada bidang karya tulis saja tetapi sudah menjamur ke berbagai bidang. Mulai dari bidang musik,
budaya, seni dan berbagai bidang lainnya yang telah ditemukan kasus-kasusnya. Walaupun sebetulnya
plagiarisme ini sudah diatur dalam undag-undang dan sudah ada ketentuan-ketentuan batasannya, namun
agaknya itu semua tidak membuat para plagiator (pelaku kegiatan plagiarisme) merasa takut atau gentar,
khususnya di negara Indonesia ini.

Berbicara tentang plagiarisme tentunya berhubungan dengan hak cipta atau hak bagi si pencipta karya
untuk melindungi hasil karyanya. Sebenarnya di Indonesia sendiri telah ada undang-undang yang
mengatur tentang hak cipta, bahkan banyak asosias-asosiasi hak cipta yang berdiri di Indonesia dan MUI
sekalipun telah melaksanakan komisi untuk fatwa tentang hak cipta. Namun agaknya kasus hak cipta dan
badan perlindungannya berbanding lurus, semakin banyak badan yang melindungi maka semakin banyak
pula kasus hak cipta yang terjadi.

Mudah saja, ketika kita berselancar di dunia maya/internet tentunya kasus dari plagiat ini sendiri sangat
mudah kita temukan. Contohnya ketika kita ingin mencari informasi tentang sesuatu hal sebut saja
“sejarah internet” maka akan keluar banyak web ataupun blog yang berisi tentang sejarah internet. Namun
jika diperhatikan lebih lanjut, isi dari satu web ke web yang lain tidaklah berbeda. Bahkan dari tanda
bacanya pun sama persis. Itu adalah contoh simple mengenai plagiat.

Contohnya lainnya di bidang musik misalnya, diinternet banyak terdapat situs-situs yang menyediakan
download lagu secara gratis, siapapun dan kapanpun kita bisa mencari dan mendapat lagu apapun yang
kita inginkan tanpa harus membeli cd ataupun kaset asli dari artis ataupun musisinya. Secara hukum, hal
tersebut masuk ke dalam pembajakan dan kegiatan illegal yang tidak menghargai hak cipta dari musisi
tersebut. Tidak hanya itu, kasus plagiat juga ditemukan dari sesama musisi yang ternyata ada musisi yang
menjiplak lagu musisi lain tanpa konfirmasi sebelumnya. Dunia musik sendiri telah menyepakati bahwa
batas kesamaan not, irama, nada hanyalah sampai 8 bar. Jika ada musisi yang menyamakan irama, not,
ataupun nada melebihi 8 bar dari musisi sebelumnya maka kejadian tersebut bisa dikategorikan sebagai
tindakan plagiat. Beberapa tahun ini, kejadian semacam itupun banyak terjadi, contohnya grup band asal
Indonesia terbukti memiliki beberapa lagu yang ternyata memiliki kesamaan dengan grup band luar
negeri. Tidak hanya itu, ternyata girlband asal Indonesia juga terbukti memiliki kesamaan lagu dengan
salah satu girlband ternama asal Korea Selatan.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, khususnya teknologi internet maka siapapun dapat terakses
kemana pun dengan mudahnya dan informasi apapun dapat tersebar dengan cepat dan mau tidak mau
tentunya kegiatan plagiat ini akan semakain marak. Terlebih jika tidak ada ketegasan dari penegak hukum
dan kurangnya kesadaran dari pengguna internet akan tindakan plagiarisme ini.

b. Kasus plagiasi, Anggito diminta mundur dari Dirjen Haji


Rakhmatulloh

Kamis, 20 Februari 2014 − 16:22 WIB Anggito Abimanyu kanan, SINDOphoto.

Sindonews.com - Beberapa hari ini publik dikagetkan dengan kasus penjiplakan atau plagiasi yang
dilakukan Direktur Jenderal (Dirjen) urusan Haji Indonesia Kementerian Agama (Kemenag), Anggito
Abimanyu.

Bagaimana tidak, seorang akademisi sekaligus pakar kebijakan fiskal itu harus bertanggung jawab secara
akademis di depan publik, lantaran menulis artikel yang diketahui buah dari sumber dan tulisan orang
lain.

Komnas Haji Indonesia (KHI) meminta secara tegas, agar mantan Kepala Badan Analisis Fiskal
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu mundur dari jabatannya sebagai Dirjen Haji.

"Selain menghormati proses investigasi dan sidang kode etik UGM (Universitas Gajah Mada), kami dari
Komnas Haji Indonesia mendesak Anggito Abimanyu untuk mengundurkan diri sebagai Dirjen Haji dan
Umroh," kata Ketua KHI Mustolih Siradj, saat jumpa pers, di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (20/2/2014).

Mustolih menyatakan, sejak kasus tersebut muncul di publik, sempat pihak KHI tidak percaya. Namun,
setelah dilakukan pengecekan ke media yang bersangkutan, akhirnya ditemukan tulisan atau artikel
'Gagasan Asuransi Bencana' Anggito Abimanyu ada kemiripan dengan artikel yang pernah dimuat di
harian media Kompas sebelumnya.

Lebih jauh Mustolih melanjutkan, karena Anggito sekarang menjabat sebagai pejabat urusan haji, maka
dengan munculnya kasus plagiasi tersebut, maka pihaknya pun meminta kepada Abimanyu, untuk
bertanggung jawab secara moral dan politik untuk mundur dari jabatannya.

"Sebagai langkah gentleman, semestinya Anggito berkewajiban menyelamatkan wajah Kementerian


Agama dan menjaga perasaan jutaan jemaah haji sebagaimana dia ingin menyelematkan
almamaternya," ujarnya.

Sebelumnya, pemberitaan Anggito Abimanyu terkuak saat akun bernama 'Penulis UGM' di
Kompasiana mengungkap praktik plagiasi yang dilakukan Abimanyu.

Artikel di Kompas berjudul 'Gagasan Asuransi Bencana' yang terbit pada 10 Februari 2014 dan
ditulis Anggito Abimanyu ternyata ada kemiripan hampir 90 persen dengan artikel yang berjudul
'Menggagas Asuransi Bencana' yang pernah ditulis oleh Hotbonar Sinaga yang pernah terbit
pada 21 Juli 2006 di media yang sama. Dalam kasus itu, Anggito mengkui kesalahannya dan
telah mengundurkan diri sebagai dosen UGM.

Istana enggan komentari kasus plagiat Anggito

Rico Afrido

Selasa, 18 Februari 2014 − 04:29 WIB Anggito Abimanyu, SINDOphoto.

Sindonews.com - Kasus plagiat yang menimpa Anggito Abimanyu (AA) dalam artikelnya di kolom opini
Harian Kompas, terbit 10 Februari 2014, terus bergulir.

Menanggapi hal ini, pihak Istana Kepresidenan enggan menanggapi kasus Direktur Jenderal
Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama (Kemenag) itu.

"Maaf, saya tidak berkomentar tentang ihwal itu. Biarlah para koleganya yang berbicara," kata Staf
Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringga kepada Sindonews melalui pesan singkat,
Senin 17 Februari 2014.

Seperti diketahui, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada (UGM) Anggito
Abimanyu, menyampaikan permohonan pengunduran dirinya sebagai Dosen UGM. Permohonan tersebut
disampaikan Anggito terkait tuduhan plagiat.

Anggito dituduh menjiplak karya tulis Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasan. Tulisan atas nama Anggito
tersebut tayang dengan judul Gagasan Asuransi Bencana. Secara resmi pada wartawan, Anggito mengaku
telah melakukan kesalahan pengutipan referensi dalam sebuah folder di komputer pribadinya.

"Artikel saya kirim sendiri melalui komputer pribadi saya. Saya akui telah melakukan kesalahan, saya
khilaf. Pengunduran diri saya ini demi mempertahankan kredibilitas UGM sebagai universitas dengan
komitmen pada nilai-nilai kejujuran, integritas dan tanggung jawab akademik," ucap Anggito.

Anggito juga menyatakan penyesalan dan permintaan maafnya pada Rektor dan civitas akademika UGM,
Dekan dan para dosen FEB UGM, mahasiswa dan alumni UGM, termasuk pada Hotbonar Sinaga dan
Munawar Kasan.

"Proses selanjutnya, saya serahkan pada UGM sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Saya tidak akan
campur tangan dan akan memprioritaskan berjalannya proses ini dari semua pekerjaan saya, karena ini
menyangkut kredibilitas UGM," imbuhnya.

Contoh artikel anti plagiasi

Panduan Anti Plagiarism

 Pendahuluan
 Definisi Plagiarisme
 Ruang Lingkup Plagiarisme
 Tipe Plagiarisme
 Mengapa Plagiarisme Terjadi
 Menghindari Tindakan Plagiarisme
 Tips Menulis
 Sanksi Plagiarisme
 Daftar Pustaka

Pendahuluan
Perguruan Tinggi memiliki tanggungjawab yang besar untuk memberikan edukasi dan sosialisasi terkait dengan
pencegahan tindakan plagiarisme. Hal ini mengingat perguruan tinggi merupakan salah satu produsen ilmu
pengetahuan. Melalui tulisan ini diharapkan anggota civitas academica (mahasiswa, dosen dan staf kependidikan)
mampu menghasilkan karya tulis yang berkualitas dan terhindar dari unsur plagiarime.

Saat ini mulai muncul beberapa kasus plagiarisme yang menjadi keprihatinan kita semua. Hal ini tentu saja perlu
menjadi perhatian kita, Oleh karena itu tulisan mengenai plagiarisme menjadi salah satu hal yang penting dipahami
oleh mahasiswa dan dosen, untuk menghindarkan diri dari praktik-praktik plagiat. Menghormati, mengakui dan
memberikan penghargaan atas karya orang lain menjadi satu keharusan dalam memproduksi karya tulis. Kita
ketahui bersama bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan berdasarkan pada ilmu pengetahuan yang sudah ada
sebelumnya. Sehingga tidak perlu ragu-ragu bagi siapapun (masyarakat akademis) ketika menyusun karya
ilmiah/karya tulis, menyebutkan sumber rujukan. Hal ini harus dipahami sebagai kejujuran intelektual yang tidak
akan menurunkan bobot karya tulis kita. Sebutkanlah dengan jujur, sumber rujukan yang kita gunakan, atau
melakukan kutipan, sehingga akan terlihat jelas, bagian mana dari karya kita yang merupakan ide atau gagasan
orang lain, dan yang mana yang merupakan ide atau gagasan kita sendiri.

Definisi Plagiarisme
Tidaklah mudah untuk mengatakan apakah suatu karya “ya” atau “tidak” mengandung unsur plagiat. Sehingga
menjadi penting bagi kita untuk memahami definisi plagiarisme dari berbagai sumber.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 dikatakan:

“Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau
nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang
diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) disebutkan:

“Plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah
karangan (pendapat) sendiri”.

Menurut Oxford American Dictionary dalam Clabaugh (2001) plagiarisme adalah:

“to take and use another person’s ideas or writing or inventions as one’s own”

Menurut Reitz dalam Online Dictionary for Library and Information Science (http://www.abc-
clio.com/ODLIS/odlis_p.aspx) plagiarisme adalah : “Copying or closely imitating take work of another writer,
composer etc. without permission and with the intention of passing the result of as original work”

Definisi di atas semoga bisa kita cermati, sehingga kita memahami apa yang dimaksud dengan plagiarisme. Dengan
demikian, pemahaman ini sebagai pegangan bagi kita untuk tidak melakukan tindakan plagiat.

Ruang Lingkup Plagiarisme


Berdasarkan beberapa definisi plagiarisme di atas, berikut ini diuraikan ruang lingkup plagiarisme:
1. Mengutip kata-kata atau kalimat orang lain tanpa menggunakan tanda kutip dan tanpa menyebutkan
identitas sumbernya.
2. Menggunakan gagasan, pandangan atau teori orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
3. Menggunakan fakta (data, informasi) milik orang lain tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
4. Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri.
5. Melakukan parafrase (mengubah kalimat orang lain ke dalam susunan kalimat sendiri tanpa mengubah
idenya) tanpa menyebutkan identitas sumbernya.
6. Menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan /atau telah dipublikasikan oleh pihak lain seolah-olah
sebagai karya sendiri.

Tipe Plagiarisme
Menurut Soelistyo (2011) ada beberapa tipe plagiarisme:

1. Plagiarisme Kata demi Kata (Word for word Plagiarism). Penulis menggunakan kata-kata penulis lain
(persis) tanpa menyebutkan sumbernya.
2. Plagiarisme atas sumber (Plagiarism of Source). Penulis menggunakan gagasan orang lain tanpa
memberikan pengakuan yang cukup (tanpa menyebutkan sumbernya secara jelas).
3. Plagiarisme Kepengarangan (Plagiarism of Authorship). Penulis mengakui sebagai pengarang karya tulis
karya orang lain.
4. Self Plagiarism. Termasuk dalam tipe ini adalah penulis mempublikasikan satu artikel pada lebih dari satu
redaksi publikasi. Dan mendaur ulang karya tulis/ karya ilmiah. Yang penting dalam self plagiarism adalah
bahwa ketika mengambil karya sendiri, maka ciptaan karya baru yang dihasilkan harus memiliki perubahan
yang berarti. Artinya Karya lama merupakan bagian kecil dari karya baru yang dihasilkan. Sehingga
pembaca akan memperoleh hal baru, yang benar-benar penulis tuangkan pada karya tulis yang
menggunakan karya lama.

Mengapa Plagiarisme Terjadi


Beberapa tindakan plagiat terjadi di sekitar kita. Tentu saja hal ini cukup menjadi perhatian kita semua, sehingga
menjadi sangat penting bagi kita untuk mengantisipasi tindakan ini. Tindakan plagiat akan mencoreng dan
memburamkan dunia akademis kita dan tidak berlebihan jika plagiarisme dikatakan sebagai kejahatan intelektual.
Ada beberapa alasan pemicu atau faktor pendorong terjadinya tindakan plagiat yaitu:

1. Terbatasnya waktu untuk menyelesaikan sebuah karya ilmiah yang menjadi beban tanggungjawabnya.
Sehingga terdorong untuk copy-paste atas karya orang lain.
2. Rendahnya minat baca dan minat melakukan analisis terhadap sumber referensi yang dimiliki.
3. Kurangnya pemahaman tentang kapan dan bagaimana harus melakukan kutipan.
4. Kurangnya perhatian dari guru ataupun dosen terhadap persoalan plagiarisme.

Apapun alasan seseorang melakukan tindakan plagiat, bukanlah satu pembenaran atas tindakan tersebut.

Menghindari Tindakan Plagiarisme


Beberapa upaya telah dilakukan institusi perguruan tinggi untuk menghindarikan masyarakat akademisnya, dari
tindakan plagiarisme, sengaja maupun tidak sengaja. Berikut ini, pencegahan dan berbagai bentuk pengawasan yang
dilakukan antara lain (Permen Diknas No. 17 Tahun 2010 Pasal 7):

1. Karya mahasiswa (skripsi, tesis dan disertasi) dilampiri dengan surat pernyataan dari yang bersangkutan,
yang menyatakan bahwa karya ilmiah tersebut tidak mengandung unsur plagiat.
2. Pimpinan Perguruan Tinggi berkewajiban mengunggah semua karya ilmiah yang dihasilkan di lingkungan
perguruan tingginya, seperti portal Garuda atau portal lain yang ditetapkan oleh Direktorat Pendidikan
Tinggi.
3. Sosialisasi terkait dengan UU Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 dan Permendiknas No. 17 Tahun 2010 kepada
seluruh masyarakat akademis.
Selain bentuk pencegahan yang telah disebutkan di atas, sebagaimana ditulis dalam
http://writing.mit.edu/wcc/avoidingplagiarism, ada langkah yang harus diperhatikan untuk mencegah atau
menghindarkan kita dari plagiarisme, yaitu melakukan pengutipan dan/atau melakukan paraphrase.

1. Pengutipan
1. Menggunakan dua tanda kutip, jika mengambil langsung satu kalimat, dengan menyebutkan
sumbernya.
2. Menuliskan daftar pustaka, atas karya yang dirujuk, dengan baik dan benar. Yang dimaksud
adalah sesuai panduan yang ditetapkan masing-masing institusi dalam penulisan daftar pustaka.
2. Paraphrase
1. Melakukan parafrase dengan tetap menyebutkan sumbernya. Parafrase adalah mengungkapkan
ide/gagasan orang lain dengan menggunakan kata-kata sendiri, tanpa merubah maksud atau makna
ide/gagasan dengan tetap menyebutkan sumbernya.

Selain dua hal di atas, untuk menghindari plagiarisme, kita dapat menggunakan beberapa aplikasi pendukung
antiplagiarisme baik yang berbayar maupun gratis. Misalnya:

1. Menggunakan alat/aplikasi pendeteksi plagiarisme. Misalnya: Turnitin, Wcopyfind, dan sebagainya.


2. Penggunaan aplikasi Zotero, Endnote dan aplikasi sejenis untuk pengelolaan sitiran dan daftar pustaka. [1]

Tips menulis, agar terhindar dari plagiarisme

1. Tentukan buku yang hendak anda baca


2. Sediakan beberapa kertas kecil (seukuran saku) dan satukan dengan penjepit.
3. Tulis judul buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, tempat terbit, jumlah halaman pada kertas kecil paling
depan
4. Sembari membaca buku, salin ide utama yang anda dapatkan pada kertas-kertas kecil tersebut.
5. Setelah selesai membaca buku, anda fokus pada catatan anda
6. Ketika menulis artikel, maka jika ingin menyitir dari buku yang telah anda baca, fokuslah pada kertas
catatan.
7. Kembangkan kalimat anda sendiri dari catatan yang anda buat

Sanksi Plagiarisme
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 mengatur sanksi bagi orang yang melakukan plagiat, khususnya yang terjadi
dilingkungan akademik. Sanksi tersebut adalah sebagai berikut (Pasal 70):

Lulusan yang karya ilmiah yang digunakannya untuk mendapatkan gelar akademik, profesi, atau vokasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 Ayat (2) terbukti merupakan jiplakan dipidana dengan pidana penjara
paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Peraturan Menteri Nomor 17 Tahun 2010 telah mengatur sanksi bagi mahasiswa yang melakukan tindakan plagiat.
Jika terbukti melakukan plagiasi maka seorang mahasiswa akan memperoleh sanksi sebagai berikut:

1. Teguran
2. Peringatan tertulis
3. Penundaan pemberian sebagian hak mahasiswa
4. Pembatalan nilai
5. Pemberhentian dengan hormat dari status sebagai mahasiswa
6. Pemberhentian tidak dengan hormat dari status sebagai mahasiswa
7. Pembatalan ijazah apabila telah lulus dari proses pendidikan.
Contoh :

Anti Mencontek dan Anti Plagiat


http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2134:layanan-
informasi&catid=143:berita-harian

Written by Layanan Informasi

Thursday, 05 May 2011 16:46


Jakarta, 04 Mei 2011–Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri/ Pemerintah dan Koordinator Kopertis
seluruh Indonesia mendeklarasikan gerakan Anti Menyontek dan Anti Plagiat.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso berharap seluruh sivitas akademika
mengedepankan kejujuran, kecerdasan, ketangguhan dan kepedulian. Budaya akademik
perguruan tinggi seperti ini harus dimaknai, dihayati dan diamalkan. Inilah peran sivitas
akademika untuk mewujudkan budaya akademik.

Bangku kuliah bukan hanya bertujuan mencetak lulusan yang hanya cerdas semata. Kampus
merupakan wahana bagi mahasiswa untuk berinteraksi dan aktualisasi diri. Selain kecerdasan,
diharapkan kampus mampu mencetak generasi muda yang handal, bermoral dan berkarakter.

Perilaku mencontek dan plagiat merupakan perilaku yang tidak bermoral, sehingga tidak sesuai
dengan karakter sivitas akademika. “Tindakan ini tidak bermartabat yang harus dicegah dan
ditanggulangi,” ujar Djoko. Djoko yakin dengan karakter yang bermoral dan bertumpu pada
norma-norma, maka martabat sivitas akademika akan terjaga.

Dalam rapat koordinasi ini, Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri/ Pemerintah dan Koordinator
Kopertis seluruh Indonesia juga mendeklarasikan kebulatan tekad untuk mengawal empat pilar
kebangsaan. keempat pilar tersebut adalah Pancasila, Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Mereka
berikrar akan mengamalkan keempat pilar dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di
Indonesia.

- See more at: http://www.kopertis12.or.id/2011/05/06/anti-mencontek-dan-anti-


plagiat.html#sthash.2Bb9a8tf.dpuf

Catatan :

Apa Saja yang Termasuk Plagiat (2)

Posted on Januari 29, 201

Ada beberapa uraian tentang klasifikasi tindakan yang dapat dikategorikan sebagai Plagiat. Sebutannya
ada yang fancy, semisal Clone, Hybrid, Ctrl-C, Aggregator, dan seterusnya. Ada yang ringkas saja,
dengan mendefinisikan tindak plagiat ke dalam dua kategori; yakni deliberate plagiarism (tindak plagiat
yang disengaja/disadari sepenuhnya oleh si pelaku), dan accidental plagiarism (tindak plagiat yang tidak
disengaja). Objeknya, bisa berupa tulisan, karya, bahkan ide.

Namun inti dari semua sebutan itu sama saja, yakni tindakan mengambil atau mengakui karya orang lain
sebagai miliknya sendiri, tanpa ijin atau tanpa persetujuan/perjanjian sebelumnya.

Sejumlah tindakan yang JELAS PLAGIAT adalah Copas (Copy Paste), mengambil gambar, foto, atau
tulisan dari internet tanpa menyebutkan sumber asli; mencontek, mengganti identitas/nama pembuat
naskah yang asli dan menggantinya dengan nama sendiri.

Ada juga wilayah yang saya sebut ABU-ABU, sebab masih bisa dianggap ambigu. Contohnya: membayar
orang lain untuk menulis naskah atas namanya, dan Re-Tweet.

Re-Tweet ? Ya, betul. Itu pun termasuk dalam kategori plagiat menurut Plagiarism.Org. Namun
plagiarisme jenis ini nampaknya sulit untuk diklaim sebagai pelanggaran, kecuali kalau muncul isu atau
kasus spesifik.

Ghostwriting juga saya anggap sebagai wilayah abu-abu. Sebab, itu sudah menyangkut sebuah perjanjian
yang diketahui dua pihak. Tidak ada unsur paksaan, juga tidak ada unsur kerugian secara formal. Kalau
ada ghostwriter yang merasa dirugikan karena dibayar terlalu sedikit, sementara hasil karya dia ternyata
melejit dan jadi best-seller, maka di masa mendatang dia perlu merumuskan lagi dengan kliennya tentang
apa yang dia inginkan. Bisa dengan nego kenaikan tarif, atau beralih menjadi penulis solo. Ini murni
sebuah pandangan dalam bisnis, untuk sama-sama untung dalam sebuah transaksi atau kerjasama.

Menulis sebuah ungkapan umum, pengetahuan umum, atau COMMON KNOWLEDGE, tidak
dikategorikan sebagai tindak plagiat sekalipun orang lain sudah menuliskannya terlebih dahulu. Contoh:
kalimat “Rumput Itu Hijau”, termasuk hal umum yang setiap orang tahu. Namun kalimat “Jus Rumput
Hijau Sebagai Alternatif Obat Pelancar Pencernaan”, mungkin mengandung aspek kepemilikan yang
khusus. Bisa jadi itu berasal dari penelitian, pengalaman orang lain, judul buku milik orang lain, dan
sebagainya. Di situlah kita perlu berhati-hati untuk menulisnya, dengan cara melakukan riset baik di
internet atau di media lain.

Menulis artikel SEO untuk konten sebuah website, menurut saya bisa termasuk abu-abu, bisa pula
termasuk jelas. Umumnya artikel berjenis SEO lebih banyak mengandung pengetahuan umum. Misalnya
artikel tentang manfaat sayur bagi kesehatan. Sudah banyak orang yang tahu manfaat sayur, dan penulis
artikel SEO tinggal mengkolaborasikannya. Namun untuk artikel dengan tema yang sangat spesifik, sang
penulis perlu berhati-hati juga. Terutama karena artikel SEO tidak banyak menyediakan ruang untuk
memasukkan sumber data asli.

Sementara artikel SEO yang ditulis berdasarkan jiplakan mentah-mentah dari sumber lain, sama persis
tanpa pengolahan yang berarti, sudah jelas termasuk plagiat.

Bagaimana dengan artikel yang ditulis dengan menggunakan komputer curian? Komputer yang dibeli
dengan uang hasil korupsi? Menurut saya, harus dibedakan kasusnya. Artikel tersebut, selama tidak
mengandung unsur menjiplak, jelas sumbernya, atau orisinil karya dari si penulis, maka tidak ada
problem untuk itu. Problem yang harus diselesaikan adalah mempertanggungjawabkan tindak pencurian
komputer atau korupsinya.

Memalak orang lain dan memaksanya untuk mengerjakan sebuah tulisan atas nama kita? Itu termasuk
kategori plagiat juga, dengan tambahan tindak penganiayaan orang lain atau abuse.
Ada pula satu term yang disebut dengan istilah “FAIR USE” dalam masalah plagiarisme ini. Anda bisa
mencari referensi tentang Fair Use di internet. Term ini secara umum “memaklumi” sebagian tindak
pengutipan/plagiat ringan dalam kondisi tertentu.

Mungkin masih banyak kategori abu-abu dalam khasanah tema plagiarisme ini. Namun intinya, jika ada
sebuah naskah atau tulisan yang sama persis dengan milik orang lain, kita tidak perlu membuat bingung
diri sendiri dengan aneka macam debat. Itu sudah jelas kategorinya.