Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengentasan kemiskinan merupakan salah satu agenda pembangunan

nasional yang sedang digalakkan pemerintah Indonesia saat ini. Desa

merupakan tolak ukur dari kemiskinan tidaknya suatu negara, karena sampai

saat ini desa merupakan kantong kemiskinan yang paling besar (Eko, 2005).

Sesuai dengan konteks sosial ekonomi boleh dibilang tipologi masyarakat

pedesaan memiliki ke-seragaman dalam hal sebagian besar penghasilan

mereka rendah, tergantung dari kegiatan pertanian, sempitnya lapangan kerja,

jumlah pengangguran tinggi, serta kurangnya ketersediaan infrastruktur dan

akses informasi. Namun demikian bukan berarti perekonomian di desa tidak

memiliki potensi untuk bisa dikembangkan kearah yang lebih baik, karena itu

perlu penciptaan sistem dan iklim yang sehat dan berkesinambungan bagi

pelaku usaha di desa. Memang, kegiatan perekonomian di pedesaan

sebagaimana adanya selama ini masih didominasi oleh usaha-usaha skala

mikro dan kecil dengan pelaku utama para petani, buruh tani, pedagang

sarana produksi dan hasil pertanian, pengolah hasil pertanian, pengrajin,

buruh serta pengecer. Dalam kenyataannya, para pelaku usaha ini pada

umumnya masih dihadapkan pada masalah-masalah yang sangat mendasar

baik yang bersifat internal maupun eksternal , yang secara umum masalah-

masalah tersebut terdiri antara lain (Sri Lestari, 2007) : 1) manajemen, 2)

permodalan, 3) teknologi, 4) bahan baku, 5) informasi dan pemasaran, 6)

1
2

infrastruktur, 7) birokrasi dan pungutan, 8) kemitraan. Dari beragamnya

permasalahan yang dihadapi usaha mikro, secara klasik nampaknya

permodalan tetap menjadi salah satu kendala penting guna menjalankan

usahanya, baik kebutuhan modal kerja maupun investasi. Keterbatasan modal

dapat membatasi ruang gerak aktivitas sektor pertanian dan pedesaan (Hamid,

1986). Dalam jangka panjang, kelangkaan modal bisa menjadi entry point

terjadinya siklus rantai kemiskinan pada masyarakat pedesaan yang sulit

untuk diputus.

Di kabupaten sumbawa (transfrom 2015), terdapat 105 LKM

berbentuk badan usaha milik desa (BUMDes) dari 157 desa yang terdapat di

kabupaten sumbawa. Keberadaan BUMDes LKM umumnya di kabupaten

sumbawa telah didukung seperangkat kebijakan dari tingkat nasional maupun

lokal. Di tingkat nasional misalnya, terdapat UU Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah khususnya pasal 213. Ada pula Peraturan

Pemerintah (PP) 72 tahun 2005 tentang Desa dan Keputusan Bersama

Menkeu, Mendagri, Menkop dan Gubenur BI pada bulan September 2009

tentang Strategi Pengembanan Lembaga Keuangan Mikro. Begitu pula di

tingkat kabupaten telah disahkan regulasi tentang BUMDes LKM. Di

Kabupaten Sumbawa termuat dalam peraturan Nomor 22 Tahun 2009.

Adapun kegiatan inti dari BUMDes LKM pada umumnya adalah mengelola

dana yang didapat dari menghimpun dana masyarakat desa ,dan menyalurkan

kembali dana-dana kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman untuk

mendukung kegiatan usaha mikro di desa.


3

Badan Usaha Milik Desa lembaga keuangan mikro (BUMDes-LKM)

Badan Usaha yang dimiliki, dikelola, dikembangkan, dan juga didanai

seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desa melalui penyertaan

secara langsung yang berasal dari kekayaan desa. Karena itu diharapkan

pengembangan BUMDes-LKM merupakan bentuk penguatan terhadap

lembaga-lembaga ekonomi desa serta merupakan alat pendayagunaan

ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis potensi yang ada di desa. Dalam

upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan ekonomi masyarakat di

pedesaan pemerintah mengupayakan berbagai cara. Dengan berbagai program

yang di luncurkan dengan harapan dapat menggerakkan roda perekonomian

di pedesaan dan peran serta masyarakat yang diharapkan semakin aktif karena

semua kegiatan dilaksanakan didanai dan dirasakan langsung oleh

masyarakat.

Tujuan penilaian tingkat kesehatan bagi manajemen BUMDes LKM

adalah untuk menilai apakah pengelolaan BUMDes LKM selama ini telah

sejalan dengan asas-asas lembaga keuangan mikro yang sehat dan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku. Berkaitan dengan penilaian tingkat

kesehatan, banyak pihak yang berkepentingan terhadap kesehatan BUMDes

LKM yaitu pemilik, pengawas, pengelola, masyarakat pengguna jasa

BUMDes LKM maupun BAPPEDA Kabupaten selaku pembina dari

BUMDes LKM. Sehubungan dengan itu kepada pihak-pihak yang

berkepentingan terhadap keberlanjutan BUMDes LKM sangat disarankan

untuk memahami penilaian kesehatan BUMDes LKM.


4

Pengembangan basis ekonomi di pedesaan sudah semenjak lama

dijalankan oleh Pemerintah melalui berbagai program. Namun upaya

itubelum membuahkan hasil yang memuaskan sebagaimana diinginkan

bersama. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan kurang berhasilnya

program-program tersebut. Salah satu faktor yang paling dominan adalah

intervensi Pemerintah terlalu besar, akibatnya justru menghambat daya

kreativitas dan inovasi masyarakat desa dalam mengelola danmenjalankan

mesin ekonomi di pedesaan. Sistem dan mekanismekelembagaan ekonomi di

pedesaan tidak berjalan efektif dan berimplikasipada ketergantungan terhadap

bantuan Pemerintah sehingga mematikansemangat kemandirian. Belajar dari

pengalaman masa lalu, satu pendekatan baru yangdiharapkan mampu

menstimuli dan menggerakkan roda perekonomian dipedesaan adalah melalui

pendirian kelembagaan ekonomi yang dikelolasepenuhnya oleh masyarakat

desa. Lembaga ekonomi ini tidak lagididirikan atas dasar instruksi

Pemerintah. Tetapi harus didasarkan padakeinginan masyarakat desa yang

berangkat dari adanya potensi yang jikadikelola dengan tepat akan

menimbulkan permintaan di pasar. Agarkeberadaan lembaga ekonomi ini

tidak dikuasai oleh kelompok tertentuyang memiliki modal besar di pedesan.

Maka kepemilikan lembaga itu olehdesa dan dikontrol bersama di mana

tujuan utamanya untuk meningkatkanstandar hidup ekonomi masyarakat.

Pendirian lembaga ini antara lain dimaksudkan untuk mengurangiperan para

tengkulak yang seringkali menyebabkan meningkatnya biaya transaksi

(transaction cost) antara harga produk dari produsen kepada konsumen akhir.
5

Melalui lembaga ini diharapkan setiap produsen dipedesaan dapat menikmati

selisih harga jual produk dengan biaya produksi yang layak dan konsumen

tidak harus menanggung harga pembelian yang mahal. Membantu kebutuhan

dana masyarakat yang bersifat konsumtif dan produktif. Menjadi distributor

utama untuk memenuhi kebutuhan sembilan bahan pokok (Sembako).

Disamping itu, berfungsi menumbuh suburkan kegiatan pelaku ekonomi di

pedesaan. Bentuk kelembagaan sebagaimana disebutkan di atas dinamakan

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Badan usaha ini sesungguhnya telah

diamanatkan di dalam UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

(bahkan oleh undang-undang sebelumnya, UU 22/1999) dan Peraturan

Pemerintah (PP) no. 71 Tahun 2005 Tentang Desa. Pendirian badan usaha

tersebut harus disertai dengan upaya penguatan kapasitas dan didukung oleh

kebijakan daerah (Kabupaten/Kota) yang memfasilitasi dan melindungi usaha

ini dari ancaman persaingan para pemodal besar. Mengingat badan usaha ini

merupakan lembaga ekonomi baru yang beroperasi di pedesaan dan masih

membutuhkan landasan yang kuat untuk tumbuh dan berkembang.

Pembangun landasan bagi pendirian BUMDes adalah Pemerintah. BUMDes

dalam operasionalisasinya ditopang oleh lembaga moneter desa (unit

pembiayaan) sebagai unit yang melakukan transaksi keuangan berupa kredit

maupun simpanan. Jika kelembagaan ekonomi kuat dan ditopang kebijakan

yang memadai, maka pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan pemerataan

distribusi aset kepada rakyat secara luas akan mampu menanggulangi

berbagai permasalahan ekonomi di pedesaan.Tujuan akhirnya, BUMDes


6

sebagai instrumen merupakan modal sosial(social capital) yang diharapkan

menjadi prime over dalam menjembatani upaya penguatan ekonomi di

pedesaan. Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan langkah strategis

dantaktis guna mengintegrasikan potensi, kebutuhan pasar, dan penyusunan

desain lembaga tersebut ke dalam suatu perencanaan. Disamping itu,perlu

memperhatikan potensi lokalistik serta dukungan kebijakan (goodwill) dari

pemerintahan di atasnya (supra desa) untuk mengeliminir rendahnya surplus

kegiatan ekonomi desa disebabkan kemungkinan tidak berkembangnya sektor

ekonomi di wilayah pedesaan. Sehingga integrasisistem dan struktur

pertanian dalam arti luas, usaha perdagangan, danjasa yang terpadu akan

dapat dijadikan sebagai pedoman dalam tatakelola lembaga. Dalam UU

Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada Pasal 213 ayat (1)

disebutkan bahwa “Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa sesuai

dengan kebutuhan dan potensi desa”. SubstansiUU ini menegaskan tentang

janji pemenuhan permintaan (demand complience scenario) dalam konteks

pembangunan tingkat desa. Logika2 pendirian BUMDes didasarkan pada

kebutuhan dan potensi desa, sebagaiupaya peningkatan kesejahteraan

masyarakat. Berkenaan dengan perencanaan dan pendiriannya, BUMDes

dibangun atas prakarsa (inisiasi) masyarakat, serta mendasarkan pada prinsip-

prinsip kooperatif, partisipatif, (‘user-owned, user-benefited, and user-

controlled’), transparansi, emansipatif, akuntable, dan sustainable dengan

mekanisme member-basedan self-help. Dari semua itu yang terpenting adalah

bahwa pengelolaan BUMDes harus dilakukan secara profesional dan mandiri.


7

BUMDes merupakan pilar kegiatan ekonomi di desa yang berfungsi sebagai

lembaga sosial (social institution) dan komersial (commer cialinstitution).

BUMDes sebagai lembaga sosial berpihak kepada kepentingan masyarakat

melalui kontribusinya dalam penyediaan pelayanan sosial. Sedangkan sebagai

lembaga komersial bertujuan mencari keuntungan melalui penawaran

sumberdaya lokal (barang dan jasa) ke pasar. Dalam menjalankan usahanya

prinsip efisiensi dan efektifitas harus selalu ditekankan. BUMDes sebagai

badan hukum, dibentuk berdasarkan tata perundang-undangan yang berlaku,

dan sesuai dengan kesepakatan yang terbangun di masyarakat desa. Dengan

demikian, bentuk BUMDes dapat beragam di setiap desa di Indonesia. Ragam

bentuk ini sesuai dengan karakteristik lokal, potensi, dan sumberdaya yang

dimiliki masing-masingdesa. Pengaturan lebih lanjut tentang BUMDes diatur

melalui PeraturanDaerah (Perda). Sebagaimana dinyatakan di dalam Undang-

Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah bahwa tujuan

pendirian BUMDes antara lain dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli

Desa (PADesa). Oleh karena itu, setiap Pemerintah Desa dapat mendirikan

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun penting disadari bahwa

BUMDes didirikan atas prakarsa masyarakat didasarkan pada potensi yang

dapat dikembangkan dengan menggunakan sumberdaya lokal dan terdapat

permintaan pasar. Dengan kata lain, pendirian BUMDes bukan merupakan

paket instruksional yang datang dari Pemerintah, pemerintah provinsi, atau

pemerintah kabupaten. Jika yang berlaku demikian dikawatirkan BUMDes

akan berjalan tidak sebagaimana yang diamanatkan di dalam undang-undang.


8

Tugas dan peran Pemerintah adalah melakukan sosialisasi dan penyadaran

kepada masyarakat desa melalui pemerintah provinsi dan/atau pemerintah

kabupaten tentang arti penting BUMDes bagi peningkatan kesejahteraan

masyarakat. Melalui pemerintah desa masyarakat dimotivasi, disadarkan dan

dipersiapkan untuk membangun kehidupannya sendiri. Pemerintah

memfasilitasi dalam bentuk pendidikan, pelatihan dan pemenuhan lainnya

yang dapat memperlancar pendirian BUMDes.

1.2 Rumusan masalah

Seberapa baik kinerja keuangan badan usaha milik desa lembaga

keuangan mikro (BUMDes-LKM) karang dima labuhan badas tahun 2015-

2016.

1.3 Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan badan usaha

milik desa lembaga keuangan mikro (BUMDes-LKM) karang dima labuhan

badas tahun 2015-2016.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian sebelumnya

Dalam kaitan dengan penelitian yang akan diteliti, sudah ada beberapa

penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yang dijadikan sebagai referensi

dalam penelitian, antara lain sebagai berikut :

1. Ramadhani (2016), Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis kinerja

keuangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Di Kabupaten Rokan Hulu

dengan menggunakan beberapa rasio keuangan pilihan. Dalam menganalisis

data yang diperoleh, metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dan

analisis perbandingan. Analisis deskriptif menggunakan metode analisis rasio

keuangan yang diseleksi sedangkan analisis perbandingan digunakan untuk

membandingkan kinerja keuangan BUMDes di Kabupaten Rokan Hulu tahun

2014 sesuai dengan hasil perhitungan rasio keuangan. Berdasarkan hasil

penelitian menunjukkan bahwa rata-rata rasio lancar BUMDes di Kabupaten

Rokan Hulu sebesar 277% (sangat baik). Rata-rata Debt to Asset Ratio (DAR)

sebesar 42% (baik). Rata-rata rasio Return On Asset (ROA) sebesar 8% (baik).

Rata-rata rasio Total Asset Tun Over (TATO) sebesar 0,23 kali (tidak baik).

Kata kunci: Kinerja Keuangan, BUMDes, Rasio Keuangan.

2. I Gde Mandra (2012), Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan

kinerja keuangan BUMDes LKM di Kabupaten Lombok Utara bila diukur

dengan analisa rasio unsur yang terdapat dalam CAEL , seperti : CAR, NPL,

9
10

PPAP, ROA, BOPO, LDR. Juga, untuk mengetahui kesehatan kinerja

keuangan. Metode penelitian yang digunakan adalah metoda deskriptif. Teknik

analisis data penelitian menggunakan analisis rasio Manajemen Keuangan

Bank, dan metoda analisis metoda CAEL. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa kinerja keuangan BUMDes LKM se Kabupaten Lombok Utara, bila

diukur dengan analisis rasio keuangan seperti : CAR, Likuiditas, Profitabilitas

termasuk BOPO dapat dikatakan memiliki kinerja yang layak, walaupun dari

aspek NPL dan PPAP-WD belum menunjukkan hasil yang layak, namun tidak

terlalu serius. Kemudian berdasarkan hasil analisis CAEL, ke 7 BUMDes LKM

yang ada di Kabupaten Lombok Utara menujukan bahwa 3 BUMDes LKM

memiliki kinerja yang cukup sehat yaitu BUMDes LKM “ANYAR” ,

BUMDes LKM “MALAKA” , dan BUMDes LKM “SUKADANA” ,

sedangkan 4 BUMDes LKM lainnya memiliki kinerja sehat. Ke Empat

BUMDes LKM tersebut adalah BUMDes LKM “LOLOAN” , BUMDes LKM

“SENARU” , BUMDes LKM “GONDANG”, dan BUMDes LKM “

PEMENANG TIMUR”. Kata Kunci : Kecukupan Modal , Kualitas Aset,

Earning Ability, Liquidity.

3. KARTINI REZKY ANWAR (2011) . Analisis kinerja keuangan pada PT

Mega Indah Sari Makassar, (dibimbing oleh H. Rakhman Laba selaku

pembimbing I dan Erlina Pakki selaku pembimbing II). Tujuan dilakukannya

penelitian adalah untuk menganalisis kinerja keuangan pada PT Mega Indah

Sari Makassar melalui analisis rasio aktivitas dan rasio profitabilitas. Model

penelitian yang dilakukan adalah melalui penelitian lapangan (field research),


11

yaitu penelitian secara langsung di perusahaan dengan mengadakan wawancara

langsung dengan pimpinan dan karyawan perusahaan serta penelitian pustaka

(library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan

literatur dan tulisan – tulisan yang erat hubungannya dengan objek penulisan

yang dimaksudkan untuk memperoleh landasan teori yang akan digunakan

dalam membahas masalah yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

rasio aktivitas yang meliputi receivable turnover, inventory turnover, dan total

asset turnover mengalami peningkatan meskipun pada total asset turnover

pada tahun 2010 mengalami sedikit penurunan sebesar 0.11 menjadi 2.40 kali.

Sedangkan pada rasio profitabilitas yang meliputi gross profit margin, net

profit margin dan return on investment mengalami peningkatan dari tahun

2006 sampai pada tahun2010.

Tabel persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu penelitian ini

Nama dan tahun


No penelitian Persamaan perbedaan
1 Ramadhani (2016) Menggunakan analisis
dskriptif
2 I Gde Mandra (2012)
3 Kartini Rezki Anwar
(2011)

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Kinerja Keuangan

Pengertian kinerja menurut Indra Bastian (2006:274) adalah gambaran

pencapaian pelaksanaan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran,

tujuan, misi dan visi suatu organisasi. Konsep kinerja keuangan menurut Indriyo

Gitosudarmo dan Basri (2002:275) adalah rangkaian aktivitas keuangan pada


12

suatu periode tertentu yang dilaporkan dalam laporan keuangan diantaranya

laporan laba rugi dan neraca.

Menurut Irhan Fahmi (2011:2) kinerja keuangan adalah suatu analisis yang

dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan

dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.

Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu

perusahaan yang dianalisis dengan alatalat analisis keuangan, sehingga dapat

diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang

mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu. Hal ini sangat penting agar

sumber daya digunakan secara optimal dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Penilaian kinerja keuangan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh

pihak manajemen agar dapat memenuhi kewajibannya terhadap para penyandang

dana dan juga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

2.2.2 Analisis Rasio Keuangan

Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh

informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasilnya yang telah

dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan. Melalui laporan keuangan yang

dimaksud untuk memberikan informasi kuantitatif mengenai keadaan keuangan

perusahaan tersebut pada suatu periode baik untuk kepentingan manajer, pemilik

perusahaan, digunakan dalam berbagai bentuk analisis.

Toto Prihadi (2008:1) mendefinisikan rasio keuangan adalah rasio keuangan

adalah indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan

membagi satu angka dengan angka yang lainnya. Syafri (2006:297) menyatakan
13

rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu

laporan keuangan dengan laporan yang lainnya yang mempunyai hubungan

relevan dan signifikan misalnya antara utang dan modal, antara kas dan total

asset, antara harga pokok produksi dengan total penjualan dan sebagainya.

Menurut Muslich (2003:44) menyatakan bahwa analisis rasio keuangan

merupakan alat utama dalam analisis keuangan, karena analisis ini dapat

digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang keadaan perusahaan.

Sedangkan menurut Jumingan (2006:44) menyatakan bahwa analisis rasio

keuangan merupakan alat utama dalam menganalisis keuangan, karena analisis ini

dapat digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang keadaan keuangan

perusahaan.

2.2.3 Jenis-Jenis Rasio Keuangan

Jenis-jenis rasio keuangan antara lain :

1. Rasio Likuiditas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek. Rasio ini

ditunjukkan pada besar kecilnya aktiva lancar.

a. Current Ratio (ratio lancar), merupakan perbandingan antara aktiva lancar

dengan hutang lancar. Dimana kemampuan untuk membayar hutang yang

segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar.

b. Cash ratio (ratio of immediate solvency), merupakan kemampuan untuk

membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang tersedia

dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan.


14

c. Quick Ratio (ratio cepat), dihitung dengan mengurangkan persediaan dari

aktiva lancar, kemudian membagi sisanya dengan hutang lancar Dimana

kemampuan untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan

aktiva lancar yang lebih likuid (quick assets).

2. Rasio Profitabilitas/rentabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur

seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba baik hubungan

dengan penjualan asset maupun laba rugi modal sendiri.

3. Rasio Aktivitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana

efesiensi perusahaan sehubung dengan pengelolaan asset perusahaan untuk

memperoleh penjualan. Rasio aktivitas antara lain:

a. Inventory turn over, rasio ini menunjukkan beberapa cepat perputaran

persediaan dalam siklus produksi normal. Semkain besar rasio ini

semakin baik karena dianggap bahwa penjualaan berjalan cepat

b. Total asset turn over, rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva

diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh

kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Semakin tinggi rasio

ini semakin baik.

4. Rasio Leverage yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek

maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi)

5. Rasio solvabilitas adalah alat yang digunakan untuk mengukur sampai

seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau dengan kata lain

yang digunakan untuk mengukur tingkat solvabilitas. Untuk


15

mengukur tingkat solvabilitas suatu perusahaan dapat dilakukan dengan

menggunakan debt to asset,debt to equity ratio

Dari beberapa penjelasan jenis-jenis rasio diatas, yang menjadi indikator

dalam menganalisis kinerja keuangan badan usaha milik desa – lembaga keuangan

mikro (BUM-Des – LKM) di karang dima penulis menggunakan rasio

profitabilitas dan rasio likuiditas

2.2.4 Tujuan Penilaian Kinerja

Tujuan penilaian kinerja perusahaan menurut Munawir (2000:31) adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk

memperoleh kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau

kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangannya pada saat ditagih.

2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk

memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi baik

kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

3. Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu menunjukkan

kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

4. Untuk mengetahui tingkat stabilitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan untuk

melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan

kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga atas hutang-hutangnya

termasuk membayar kembali pokok hutangnya tepat pada waktunya serta

kemampuan membayar deviden secara teratur kepada para pemegang saham

tanpa mengalami hambatan atau krisis keuangan.


16

2.2.5 Laporan keuangan

2.2.5.1 Pengertian laporan keuangan

Untuk membahas manajemen keuangan, tidak bisa terlepas dari laporan

keuangan. Oleh karena itu diperlukan pembahasan singkat mengenai laporan

keuangan. Laporan keuangan disusun dengan maksud untuk menyediakan

informasi keuangan suatu perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan

sebagai bahan pertimbangan di dalam mengambil keputusan. Berikut ini beberapa

pendapat mengenai definisi laporan keuangan :

1. Menurut S Munawir (2004:2) Pengertian laporan keuangan adalah hasil dari

proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi

antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang

berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut.

2. Menurut Sutrisno (2008:9) laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses

akuntansi yang meliputi dua laporan utama yakni Neraca dan laporan Rugi

Laba.

3. Menurut Myer, dalam S. Munawir (2004:5) yang dimaksud dengan laporan

keuangan adalah : “Dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode

untuk suatu perusahaan. Kedua daftar tersebut adalah daftar neraca atau posisi

keuangan dan daftar pendapatan atau daftar laba rugi. Pada waktu akhir-akhir

ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambahkan

daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang tak dibagikan (laba yang

ditahan)”.
17

4. Menurut Agnes Sawir (2005:2) laporan keuangan adalah hasil akhir proses

akuntansi. Setiap transaksi yang dapat diukur dengan nilai uang, dicatat dan

diolah sedemikian rupa. Laporan akhir pun disajikan dalam nilai uang.

Berdasarkan beberapa uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

laporan keuangan adalah suatu laporan yang menggambarkan posisi keuangan

perusahaan pada suatu periode tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi

yang dilaksanakan secara konsisten serta dibuat dan disajikan dalam bentuk

neraca dan laporan laba rugi. Laporan keuangan disusun dengan maksud untuk

menyajikan laporan kemajuan perusahaan secara periodik. Manajemen perlu

mengetahui bagaimana perkembangan keadaan investasi dalam perusahaan dan

hasil-hasil yang dicapai selama jangka waktu yang diamati. Pada umumnya

laporan keuangan itu sendiri dari neraca dan perhitungan rugi laba serta laporan

perubahan modal, dimana neraca menunjukkan jumlah aktiva, hutang dan modal

dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan pada rugi laba

memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang

terjadi selama periode tertentu.

Dari beberapa pendapat ahli ekonomi di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa laporan keuangan merupakan hasil akhir proses akuntansi yang

menjelaskan atau melaporkan kegiatan perusahaan sekaligus untuk mengevaluasi

keberhasilan strategi perusahaan dalam pencapaian tujuan yang ingin dicapai.

2.2.5.2 bentuk – bentuk laporan keuangan

Dalam menganalisa dan menafsirkan laporan keuangan, seorang

penganalisis harus mempunyai pengertian mengenai bentuk-bentuk maupun


18

prinsip-prinsip penyusunan laporan keuangan serta masalah yang mungkin timbul

dalam penyusunan laporan keuangan. Laporan keuangan terdiri dari neraca, rugi

laba dan arus kas.

1. Neraca

Neraca menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu.

Neraca menunjukkan aktiva, hutang dan modal sendiri suatu perusahaan pada

hari terakhir periode akuntansi. Aktiva menunjukkan penggunaan dana, hutang

dan modal menunjukkan sumber dana yang diperoleh. Menurut Warsono

(2003:27) menyatakan bahwa neraca adalah laporan keuangan yang

menggambarkan posisi keuangan suatu organisasi pada suatu periode tertentu.

Sedangkan menurut Sutrisno (2008:9), neraca merupakan laporan yang

menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada saat tertentu.

Neraca bertujuan untuk menunjukkan posisi keuangan pada suatu

perusahaan pada tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku-buku

ditutup dan ditentukan sisanya pada akhir tahun fiskal atau tahun kalender

sehingga neraca sering disebut dengan balance sheet. Pengertian lain tentang

neraca dikemukakan oleh Abdul Halim dan Sarwoko (2008:38) merupakan

neraca yang menunjukkan aktiva, utang dan modal sendiri suatu perusahaan

pada hari terakhir periode akuntansi. Menurut Darsono (2005:18) komponen

neraca terdiri atas :

a. Aktiva, pada sisi aktiva neraca dikelompokkan sesuai urutan yang paling

lancar. Pengertian paling lancar disini adalah kemampuan aktiva tersebut


19

untuk dikompersi menjadi kas. Dengan demikian, maka penggolongan

aktiva dalam neraca adalah :

 Aktiva lancar

Dalam aktiva lancar, aktiva dikelompokkan berdasarkan urutan yang

paling lancar. Aktiva lancar disini adalah yang paling mudah dan cepat

untuk dijadikan uang atau kas.

 Aktiva tetap

Aktiva tetap adalah investasi pada tanah, bangunan, kendaraan dan

peralatan yang lain yang dilakukan oleh perusahaan. Aktiva tetap disusun

berdasarkan urutan yang paling tidak likuid (lancar).

 Aktiva lain-lain

Aktiva lain-lain adalah investasi atau kekayaan lain yang dimiliki oleh

perusahaan. Isi dari pos aktiva lain-lain adalah kekayaan atau investasi

yang tidak dikelompokkan dalam aktiva tetap dan aktiva lancar

2. Kewajiban dan ekuitas

Darsono (2005:19) berpendapat bahwa kewajiban adalah hak dari

pemberi hutang (kreditor) terhadap kekayaan perusahaan, sedangkan ekuitas

adalah hak pemilik atas kekayaan perusahaan. Pos-pos dalam sisi ini

dikelompokkan sesuai dengan besar kecilnya kemungkinan hak tersebut akan

dibayar. Semakin besar kemungkinan hak atas perusahaan dibayar, semakin

atas urutannya dalam neraca. Pembagian dalam sisi kewajiban dan ekuitas

dalam neraca adalah :

a. Kewajiban jangka pendek


20

Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban kepada kreditor yang akan

dibayarkan dalam jangka waktu satu tahun kedepan. Komponennya antara

lain adalah hutang dagang, hutang gaji, hutang pajak, hutang bank yang

jatuh tempo dalam satu tahun, dan hutang-hutang lain.

b. Kewajiban jangka panjang

Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang akan dibayarkan dalam

jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi atau satu tahun.

Komponennya adalah hutang bank, hutang obligasi, hutang wesel dan

hutang surat-surat berharga lainnya.

c. Ekuitas

Ekuitas adalah hak pemilik atas perusahaan. Hak pemilik akan dibayarkan

hanya melalui dividen kas atau dividen likuiditas akhir. Komponen dari

ekuitas meliputi modal saham baik biasa maupun preferen, cadangan, laba

ditahan, dan laba tahun berjalan.

3. Laporan Laba Rugi


Laporan laba rugi merupakan laporan yang menggambarkan

jumlah penghasilan atau pendapatan dan biaya dari suatu perusahaan pada

periode tertentu sebagaimana halnya neraca, laporan laba rugi juga disusun

tiap akhir tahun. Menurut Sutrisno (2008:10), laporan rugi laba adalah

laporan yang menunjukkan hasil kegiatan perusahaan dalam jangka waktu

tertentu dan menurut Warsono (2003:28) menyatakan bahwa laporan laba

rugi adalah laporan keuangan yang menggambarkan hasil-hasil usaha yang

dicapai selama periode tertentu. Menurut Dewi Astuti (2004:17)

mengemukakan bahwa laporan laba rugi merupakan laporan yang


21

mengikhtiarkan pendapatan dan beban perusahaan selama periode

akuntansi tertentu, yang umumnya setiap kuartal atau setiap tahun.

Sedangkan menurut Darsono (2005:20) laporan laba rugi

merupakan akumulasi aktivitas yang berkaitan dengan pendapatan dan

biaya-biaya selama periode waktu tertentu, misalnya bulanan atau tahunan.

Untuk melihat periode waktu tertentu yang dilaporkan, maka pembaca

laporan laba rugi perlu memperhatikan kepala (heading) pada laporan

tersebut.

Komponen laba rugi menurut Darsono (2005:21) adalah :

a. Pendapatan/Penjualan

b. Harga Pokok Penjualan

c. Biaya Pemasaran

d. Biaya Administrasi dan Umum

e. Pendapatan Luar Usaha

f. Biaya Luar Usaha

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa laporan

laba rugi merupakan suatu daftar perusahaan dimana didalamnya

didasarkan atas semua pendapatan dan biaya-biaya sedemikian rupa yang

terjadi pada periode tertentu yang disusun secara sistematis sehingga

dengan mudah dapat diketahui apakah suatu perusahaan itu memperoleh

laba atau rugi.

4. Laporan arus kas


22

Laporan ini menggambarkan tentang perputaran uang (kas dan bank)

selama periode tertentu, misalnya bulanan dan tahunan. Laporan arus kas

terdiri dari kas untuk kegiatan operasional dan kas untuk kegiatan

pendanaan.

2.2.5.3 Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas yang

membuat informasi dalam laporan keuangan yang berguna bagi pemakai.

Menurut standar akuntansi keuangan ada empat karakteristik kualitatif

yang dikutip oleh Munawir (2007:21), yaitu :

1. Dapat dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah

kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakainya. Pemakai

diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi

dan bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan

ketentuan yang wajar.

2. Relevan

Untuk memperoleh manfaat yang baik, informasi harus relevan untuk

memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan.

Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan

ekonomi dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa

kini atau masa depan dengan menegaskan atau mengoreksi, hasil evaluasi

dimasa lalu.

3. Keandalan
23

Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang

menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai

penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan. Agar dapat

diandalkan, informasi haruslah menggambarkan atau menyajikan dengan

jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau secara

wajar dapat diharapkan untuk disajikan.

Dapat dibandingkan Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan

keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasikan

kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus

dapat memperbandingkan posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi

keuangan secara relatif. Hasil analisis dan interprestasi akan memberikan

gambaran internal tentang kekuatan dan kelemahan perusahaan. Dengan

mengetahui hal tersebut, pemimpin perusahaan dapat menetapkan keputusan

yang tepat, efektif dan efisien dalam memanfaatkan peluang dan

menanggulangi ancaman yang dihadapi perusahaan dalam lingkungan

usahanya.

2.2.6 Badan usaha milik desa (BUMDes) – lembaga keuangan mikro

(LKM)

Peraturan pemerintah republik indonesia nomor 43 tahun 2014 tentang

peraturan pelaksanaan undang-undang nomor 6 tahun 2014 tentang desa

Pasal 1 angka 7 : Badan Usaha Milik Desa, selanjutnya disebut BUMDesa,

adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki

oleh Desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan
24

Desa yang dipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha

lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) merupakan sebuah lembaga yang

dibentuk dan dirikan oleh pemerintah desa yang kepemilikan modal dan

pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah desa dan masyarakat (Ramadana

et al 2013). BUMDes merupakan pilar perekonomian desa yang berfungsi

sebagai lembaga sosial (social institution) dan komersial (commercial

institution) yang berpihak pada kepentingan masyarakat serta mencari

keuntungan (Meirinawati dan Dewi 2013). Selain itu Ibrahim (2013)

mengungkapkan bahwa Badan Usaha Milik Desa merupakan suatu bentuk

usaha yang dilakukan oleh suatu desa untuk menghasilkan suatu produksi

yang dapat meningkatkan keuangan desa.

Menurut UU No.6/2014, BUMDes mendorong desa sebagai subjek

pembangunan secara emansipatoris untuk pemenuhan pelayanan dasar

kepada warga, termasuk menggerakan aset-aset ekonomi lokal. Posisi

BUMDes menjadi lembaga yang memunculkan sentra-sentra ekonomi di

desa dengan semangat ekonomi kolektif. Hal tersebut terlihat dari tujuan

BUMDes sebagai lembaga yang meningkatkan pengolahan potensi desa

sesuai dengan kebutuhan masyarakat. UU No 6 tahun 2014 pasal 87 ayat 3

juga menyebutkan BUMDes dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi

dan/atau pelayanan umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan. Artinya, BUMDes dapat menjalankan berbagai usaha, mulai dari


25

pelayanan jasa, keuangan mikro, perdagangan, dan pengembangan ekonomi

lainnya.

2.2.7 Peran dan Fungsi Badan Usaha Milik Desa

Menurut Ramadhana et al (2013),keberadaan BUMDes memiliki

kontribusi untuk peningkatan pendapatan desa dan memenuhi kebutuhan

pokok desa. Peran BUMDes pada jurnal yang telah dianalisis terlihat pada

sumber dana untuk peningkatan pendapatan, kebutuhan masyarakat yang

harus dirasakan oleh masyarakat keseluruhan. pembangunan desa secara

mandiri yang diartikan sebagai keberhasilan masyarakat mampu mengatur

rumah tangganya sendiri dan tidak hanya bergantung pada anggaran dana

bantuan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peran BUMDes terhadap

pembangunan perekonomian di desa sangatlah penting. Ramadhana et al

(2013) menjelaskan bahwa BUMDes memiliki peran-peran penting

diantaranya: (1) penguatan ekonomi lokal; (2) peningkatan pendapatan desa;

(3) peningkatan pendapatan masyarakat. Selain itu, Gunawan (2011) juga

menambahkan peranan BUMDes, diantaranya; (1) menekan laju urbanisasi;

(2) mendorong berkembangnya perekonomian masyarakat desa; (3) sebagai

sumber pendapatan asli desa; (4) pemberi pinjaman dengan suku bunga

yang rendah. Peranan BUMDes tidak hanya mampu meningkatkan

pendapatan asli desa maupun mengembangkan potensi perekonomian desa,

penelitian yang dilakukan Dewi dan Meirinawati (2013) menjelaskan bahwa

BUMDes juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan juga mampu


26

mengentaskan kemiskinan. Hal yang sama juga disebutkan oleh Tama dan

Yanuardi (2013) dalam penelitiannya.

Selain peran BUMDes dalam pembangunan desa, beberapa penelitian

menyebutkan tujuan dari pembentukan BUMDes. Menurut Ibrahim (2013),

tujuan pendirian BUMDes diantaranya; (1) mengelola sumberdaya desa,

penyedia jasa pembiayaan; (2) meningkatkan pertumbuhan ekonomi; (3)

mengembangkan usaha produktif di desa; (4) menciptakan lapangan

pekerjaan dan juga sebagai sumber pendapatan asli desa. Selain itu Hayyuna

et al (2014) menambahkan bahwa tujuan BUMDes yaitu memberikan

pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat dan meningkatkan pengelolaan

aset desa. Hal yang sama diungkapkan oleh Sayuti (2011), bahwa tujuan

pembentukan BUMDes untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan

juga meningkatkan pendapatan asli desa.

Adapun tujuan pendirian Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)

adalah pertama, Meningkatkan perekonomian desa. Kedua, meningkatkan

pendapatan asli desa. Ketiga, meningkatkan pengolahan potensi desa sesuai

dengan kebutuhan masyarakat. Keempat, menjadi tulang punggung

pertumbuhan dan pemerataan ekonomi pedesaan.

Ramadhana et al (2013) menyatakan bahwa pendirian dan

pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) adalah merupakan

perwujudan dari pengelolaan ekonomi produktif desa yang dilakukan secara

kooperatif, partisipatif, emansipatif, transparansi, akuntabel, dan

sustainable. Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk menjadikan


27

pengelolaan badan usaha tersebut dapat berjalan secara efektif, efisien,

profesional dan mandiri. Untuk mencapai tujuan BUMDes dilakukan

dengan cara memenuhi kebutuhan (produktif dan konsumtif) masyarakat

melalui pelayanan distribusi barang dan jasa yang dikelola masyarakat dan

Pemdes. Pemenuhan kebutuhan ini diupayakan tidak memberatkan

masyarakat, mengingat BUMDes akan menjadi usaha desa yang paling

dominan dalam menggerakkan ekonomi desa. Lembaga ini juga dituntut

mampu memberikan pelayanan kepada non anggota (di luar desa) dengan

menempatkan harga dan pelayanan yang berlaku standar pasar. Artinya

terdapat mekanisme kelembagaan/tata aturan yang disepakati bersama,

sehingga tidak menimbulkan distorsi ekonomi di pedesaan disebabkan

usaha yang dijalankan oleh BUMDes.

Ramadhana et al (2013) juga menambahkan bahwa dilihat dari

fungsinya kelembagaan BUM Desa merupakan pilar kegiatan ekonomi di

desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial (social institution) dan

komersial (commercialinstitution). BUMDes sebagai lembaga sosial

berpihak kepada kepentingan masyarakat melalui kontribusinya dalam

penyediaan pelayanan sosial. Sedangkan sebagai lembaga komersial

bertujuan mencari keuntungan melalui penawaran sumberdaya lokal (barang

dan jasa) ke pasar. Dalam menjalankan usahanya prinsip efisiensi dan

efektifitas harus selalu ditekankan. BUMDes sebagai badan hukum,

dibentuk berdasarkan tata perundang-undangan yang berlaku, dan sesuai

dengan kesepakatan yang terbangun di masyarakat desa.


28

Selanjutnya, mekanisme operasionalisasi diserahkan sepenuhnya

kepadamasyarakat desa. Untuk itu, masyarakat desa perlu dipersiapkan

terlebihdahulu agar dapat menerima gagasan baru tentang lembaga ekonomi

yangmemiliki dua fungsi yakni bersifat sosial dan komersial. Dengan

tetapberpegang teguh pada karakteristik desa dan nilai-nilai yang hidup

dandihormati. Maka persiapan yang dipandang paling tepat adalah

berpusatpada sosialisasi, pendidikan, dan pelatihan kepada pihak-pihak

yangberkepentingan terhadap peningkatan standar hidup masyarakat

desa(Pemerintah Desa, BPD, tokoh masyarakat/ketua suku, ketua-

ketuakelembagaan di pedesaan). Melalui cara demikian diharapkan

keberadaan BUMDes mampumendorong dinamisasi kehidupan ekonomi di

pedesaan. Peran pemerintahdesa adalah membangun relasi dengan

masyarakat untuk mewujudkanpemenuhan standar pelayanan minimal

(SPM), sebagai bagian dari upayapengembangan komunitas (development

based community) desa yanglebih berdaya.2. Pengertian BUMDes Badan

Usaha Milik Desa (BUMDes) adalah lembaga usaha desayang dikelola oleh

masyarakat dan pemerintahan desa dalam upayamemperkuat perekonomian

desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan danpotensi desa. BUMDes

menurut Undang-undang nomor 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan

Daerah didirikan antara lain dalam rangkapeningkatan Pendapatan Asli

Desa (PADesa). Berangkat dari carapandang ini, jika pendapatan asli desa

dapat diperoleh dari BUMDes, makakondisi itu akan mendorong setiap

Pemerintah Desa memberikan“goodwill” dalam merespon pendirian


29

BUMDes. Sebagai salah satulembaga ekonomi yang beroperasi dipedesaan,

BUMDes harus memilikiperbedaan dengan lembaga ekonomi pada

umumnya. Ini dimaksudkanagar keberadaan dan kinerja BUMDes mampu

memberikan kontribusi yangsignifikan terhadap peningkatan kesejahteraan

warga desa.

Disamping itu,supaya tidak berkembang sistem usaha kapitalistis di

pedesaan yangdapat mengakibatkan terganggunya nilai-nilai kehidupan

bermasyarakat. Terdapat 7 (tujuh) ciri utama yang membedakan BUMDes

denganlembaga ekonomi komersial pada umumnya yaitu:

1. Badan usaha ini dimiliki oleh desa dan dikelola secara bersama;

2. Modal usaha bersumber dari desa (51%) dan dari masyarakat

Disebarluaskan oleh PP RPDN (49%) melalui penyertaan modal (saham

atau andil);

3. Operasionalisasinya menggunakan falsafah bisnis yang berakar dari

budaya lokal (local wisdom);

4. Bidang usaha yang dijalankan didasarkan pada potensi dan hasil

informasi pasar;

5. Keuntungan yang diperoleh ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan

anggota (penyerta modal) dan masyarakat melalui kebijakan desa (village

policy);

6. Difasilitasi oleh Pemerintah, Pemprov, Pemkab, dan Pemdes;

7. Pelaksanaan operasionalisasi dikontrol secara bersama (Pemdes, BPD,

anggota).
30

BUMDes sebagai suatu lembaga ekonomi modal usahanya

dibangunatas inisiatif masyarakat dan menganut asas mandiri. Ini

berartipemenuhan modal usaha BUMDes harus bersumber dari masyarakat.

Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan BUMDes dapat

mengajukan pinjaman modal kepada pihak luar, seperti dari Pemerintah

Desa atau pihak lain, bahkan melalui pihak ketiga. Ini sesuai dengan

peraturan perundang-undangan (UU 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah Pasal 213 ayat 3). Penjelasan ini sangat penting untuk

mempersiapkan pendirian BUMDes, karena implikasinya akan bersentuhan

dengan pengaturannya dalam Peraturan Daerah (Perda) maupun Peraturan

Desa (Perdes).

2.2.8 Tujuan Pendirian BUMDes – LKM

Tujuan Pendirian BUMDes Empat tujuan utama pendirian BUMDes adalah:

1. Meningkatkan perekonomian desa;

2. Meningkatkan pendapatan asli desa;

3. Meningkatkan pengolahan potensi desa sesuai dengan kebutuhan

masyarakat;

4. Menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi

pedesaan.

Pendirian dan pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)adalah

merupakan perwujudan dari pengelolaan ekonomi produktif desayang

dilakukan secara kooperatif, partisipatif, emansipatif, transparansi,

akuntabel, dan sustainable.. Oleh karena itu, perlu upaya serius


31

untukmenjadikan pengelolaan badan usaha tersebut dapat berjalan

secaraefektif, efisien, profesional dan mandiri Untuk mencapai tujuan

BUMDes dilakukan dengan cara memenuhikebutuhan (produktif dan

konsumtif) masyarakat melalui pelayanan distribusi barang dan jasa yang

dikelola masyarakat dan Pemdes. Pemenuhan kebutuhan ini diupayakan

tidak memberatkan masyarakat,mengingat BUMDes akan menjadi usaha

desa yang paling dominan dalammenggerakkan ekonomi desa. Lembaga ini

juga dituntut mampumemberikan pelayanan kepada non anggota (di luar

desa) denganmenempatkan harga dan pelayanan yang berlaku standar pasar.

Artinya terdapat mekanisme kelembagaan/tata aturan yang disepakati

bersama,sehingga tidak menimbulkan distorsi ekonomi di pedesaan

disebabkanusaha yang dijalankan oleh BUMDes.

Dinyatakan di dalam undang-undang bahwa BUMDes dapat didirikan

sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa. Apa yang dimaksud dengan

”kebutuhan dan potensi desa” adalah:

1. Kebutuhan masyarakat terutama dalam pemenuhan kebutuhan pokok;

2. Tersedia sumberdaya desa yang belum dimanfaatkan secara optimal

terutama kekayaan desa dan terdapat permintaan di pasar;

3. Tersedia sumberdaya manusia yang mampu mengelola badan usaha

sebagai aset penggerak perekonomian masyarakat;

4. Adanya unit-unit usaha yang merupakan kegiatan ekonomi warga

masyarakat yang dikelola secara parsial dan kurang terakomodasi;


32

BUMDes merupakan wahana untuk menjalankan usaha di desa.

Apayang dimaksud dengan “usaha desa” adalah jenis usaha yang

meliputipelayanan ekonomi desa seperti antara lain:

1. Usaha jasa keuangan, jasa angkutan darat dan air, listrik desa, dan usaha

sejenis lainnya;

2. Penyaluran sembilan bahan pokok ekonomi desa;

3. Perdagangan hasil pertanian meliputi tanaman pangan, perkebunan,

peternakan, perikanan, dan agrobisnis;

4. Industri dan kerajinan rakyat.

Keterlibatan pemerintah desa sebagai penyerta modal

terbesarBUMDes atau sebagai pendiri bersama masyarakat diharapkan

mampumemenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM), yang diwujudkan

dalambentuk perlindungan (proteksi) atas intervensi yang merugikan dari

pihakketiga (baik dari dalam maupun luar desa). Demikian pula,

pemerintahdesa ikut berperan dalam pembentukan BUMDes sebagai badan

hukumyang berpijak pada tata aturan perundangan yang berlaku, serta

sesuaidengan kesepakatan yang terbangun di masyarakat desa.

PengaturanDisebarluaskan oleh PP RPDN lebih lanjut mengenai BUMDes

diatur melalui Peraturan Daerah (Perda)setelah memperhatikan peraturan di

atasnya. Melalui mekanisme “selfhelp” dan “member-base”, maka BUMDes

juga merupakan perwujudanpartisipasi masyarakat desa secara keseluruhan,

sehingga tidakmenciptakan model usaha yang dihegemoni oleh kelompok

tertentuditingkat desa. Artinya, tata aturan ini terwujud dalam


33

mekanismekelembagaan yang solid. Penguatan kapasitas kelembagaan akan

terarahpada adanya tata aturan yang mengikat seluruh anggota (one for all).

2.2.9 Prinsip Tata Kelola BUMDes

2.2.9.1 Prinsip Umum Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Pengelolaan BUMDes harus diljalankan dengan menggunakan prinsip

kooperatif, partisipatif, emansipatif, transparansi, akuntable, dan sustainable,

dengan mekanisme member-base dan self help yang dijalankan secara profesional,

dan mandiri. Berkenaan dengan hal itu, untuk membangun BUMDes diperlukan

informasi yang akurat dan tepat tentang karakteristik ke-lokal-an, termasuk ciri

sosial-budaya masyarakatnya dan peluang pasar dari produk (barang dan jasa)

yang dihasilkan, yaitu :

1. BUMDes sebagai badan usaha yang dibangun atas inisiatif masyarakat dan

menganut asas mandiri, harus mengutamakan perolehan modalnya berasal dari

masyarakat dan Pemdes. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan

BUMDes dapat memperoleh modal dari pihak luar, seperti dari Pemerintah

Kabupaten atau pihak lain, bahkan dapat pula melakukan pinjaman kepada

pihak ke tiga, sesuai peraturan perundang-undangan. Pengaturan lebih lanjut

mengenai BUMDes tentunya akan diatur melalui Peraturan Daerah (Perda).

2. BUMDes didirikan dengan tujuan yang jelas. Tujuan tersebut, akan direalisir

diantaranya dengan cara memberikan pelayanan kebutuhan untuk usaha

produktif terutama bagi kelompok miskin di pedesaan, mengurangi praktek

ijon (rente) dan pelepasan uang, menciptakan pemerataan kesempatan

berusaha, dan meningkatkan pendapatan masyarakat desa. Hal penting lainnya


34

adalah BUMDes harus mampu mendidik masyarakat membiasakan menabung,

dengan cara demikian akan dapat mendorong pembangunan ekonomi

masyarakat desa secara mandiri.

3. Pengelolaan BUMDes, diprediksi akan tetap melibatkan pihak ketiga yang

tidak saja berdampak pada masyarakat desa itu Disebarluaskan oleh PP RPDN

11 sendiri, tetapi juga masyarakat dalam cakupan yang lebih luas (kabupaten).

Oleh sebab itu, pendirian BUMDes yang diinisiasi oleh masyarakat harus tetap

mempertimbangkan keberadaan potensi ekonomi desa yang mendukung,

pembayaran pajak di desa, dan kepatuhan masyarakat desa terhadap

kewajibannya. Kesemua ini menuntut keterlibatan pemerintah kabupaten.

4. Diprediksi bahwa karakteristik masyarakat desa yang perlu mendapat

pelayanan utama BUMDes adalah: (a) masyarakat desa yang dalam mencukupi

kebutuhan hidupnya berupa pangan, sandang dan papan, sebagian besar

memiliki matapencaharian di sektor pertanian dan melakukan kegiatan usaha

ekonomi yang bersifat usaha informal; (b) masyarakat desa yang

penghasilannya tergolong sangat rendah, dan sulit menyisihkan sebagian

penghasilannya untuk modal pengembangan usaha selanjutnya; (c) masyarakat

desa yang dalam hal tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri,

sehingga banyak jatuh ke tangan pengusaha yang memiliki modal lebih kuat;

dan yang terpenting adalah (d) masyarakat desa yang dalam kegiatan usahanya

cenderung diperburuk oleh sistem pemasaran yang memberikan kesempatan

kepada pemilik modal untuk dapat menekan harga, sehingga mereka cenderung

memeras dan menikmati sebagian besar dari hasil kerja masyarakat desa. Atas
35

dasar prediksi tersebut, maka karakter BUMDes sesuai dengan ciri-ciri

utamanya, prinsip yang mendasari, mekanisme dan sistem pengelolaanya.

5. Secara umum pendirian BUMDes dimaksudkan untuk:

a. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (standar pelayanan minimal),

agar berkembang usaha masyarakat di desa.

b. Memberdayakan desa sebagai wilayah yang otonom berkenaan dengan

usaha-usaha produktif bagi upaya pengentasan kemiskinan, pengangguran

dan peningkatan PADesa.

c. Meningkatkan kemandirian dan kapasitas desa serta masyarakat dalam

melakukan penguatan ekonomi di desa.

2.2.9.2 Prinsip Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Prinsip-prinsip pengelolaan BUMDes penting untuk dielaborasi atau12

Disebarluaskan oleh PP RPDN diuraikan agar difahami dan dipersepsikan dengan

cara yang sama oleh pemerintah desa, anggota (penyerta modal), BPD, Pemkab,

dan masyarakat. Terdapat 6 (enam) prinsip dalam mengelola BUMDes yaitu:

1. Kooperatif, Semua komponen yang terlibat di dalam BUMDes harus mampu

melakukan kerjasama yang baik demi pengembangan dan kelangsungan hidup

usahanya.

2. Partisipatif. Semua komponen yang terlibat di dalam BUMDes harus bersedia

secara sukarela atau diminta memberikan dukungan dan kontribusi yang dapat

mendorong kemajuan usaha BUMDes.

3. Emansipatif. Semua komponen yang terlibat di dalam BUMDes harus

diperlakukan sama tanpa memandang golongan, suku, dan agama.


36

4. Transparan. Aktivitas yang berpengaruh terhadap kepentingan masyarakat

umum harus dapat diketahui oleh segenap lapisan masyarakat dengan mudah

dan terbuka.

5. Akuntabel. Seluruh kegiatan usaha harus dapat dipertanggung jawabkan secara

teknis maupun administratif.

6. Sustainabel. Kegiatan usaha harus dapat dikembangkan dan dilestarikan oleh

masyarakat dalam wadah BUMDes.

Terkait dengan implementasi Alokasi Dana Desa (ADD), maka proses

penguatan ekonomi desa melalui BUMDes diharapkan akan lebih berdaya. Hal ini

disebabkan adanya penopang yakni dana anggaran desayang semakin besar.

Sehingga memungkinkan ketersediaan permodalanyang cukup untuk pendirian

BUMDes. Jika ini berlaku sejalan, maka akanterjadi peningkatan PADesa yang

selanjutnya dapat digunakan untukkegiatan pembangunan desa. Hal utama yang

penting dalam upaya penguatan ekonomi desaadalah memperkuat kerjasama

(cooperatif), membangun kebersamaan/menjalin kerekatan disemua lapisan

masyarakat desa. Sehingga itumenjadi daya dorong (steam engine) dalam upaya

pengentasankemiskinan, pengangguran, dan membuk akses pasar.

Persiapan Pendirian BUMDes Aktivitas yang harus dilakukan dalam

persiapan pendirian BUMDes,meliputi:

1. Mendisain struktur organisasi. BUMDes merupakan sebuah organisasi, maka

diperlukan adanya struktur organisasi yang menggambarkan bidang pekerjaan

apa saja yang harus tercakup di dalam organisasi tersebut. Bentuk hubungan
37

kerja (instruksi, konsultatif, dan pertanggunganjawab) antar personil atau

pengelola BUMDes.

2. Menyusun job deskripsi (gambaran pekerjaan) Penyusunan job deskripsi bagi

setiap pengelola BUMDes diperlukan agar dapat memperjelas peran dari

masing-masing orang. Dengan demikian, tugas, tanggungjawab, dan

wewenang pemegang jabatan tidak terjadi duplikasi yang memungkinkan

setiap jabatan/pekerjaan yang terdapat di dalam BUMDes diisi oleh orang-

orang yang kompeten di bidangnya.

3. Menetapkan sistem koordinasi Koordinasi adalah aktivitas untuk menyatukan

berbagai tujuan yang bersifat parsial ke dalam satu tujuan yang umum.

Melalui penetapan sistem koordinasi yang baik memungkinkan terbentuknya

kerja sama antar unit usaha dan lintas desa berjalan efektif.

4. Menyusun bentuk aturan kerjasama dengan pihak ketiga Kerja sama dengan

pihak ketiga apakah menyangkut transaksi jual beli atau simpan pinjam

penting diatur ke dalam suatu aturan yang jelas dan saling menguntungkan.

Penyusunan bentuk kerjasama dengan pihak ketiga diatur secara bersama

dengan Dewan Komisaris.

5. Menyusun pedoman kerja organisasi BUMDes Agar semua anggota

BUMDes dan pihak-pihak yang berkepentingan memahami aturan kerja

organisasi. Maka diperlukan untuk menyusun AD/ART BUMDes yang

dijadikan rujukan pengelola dan sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola

BUMDes.
38

6. Menyusun desain sistem informasi BUMDes merupakan lembaga ekonomi

desa yang bersifat terbuka. Untuk itu, diperlukan penyusunan desain sistem

pemberian informasi kinerja BUMDes dan aktivitas lain yang memiliki

hubungan dengan kepentingan masyarakat umum. Sehingga keberadaannya

sebagai lembaga ekonomi desa memperoleh dukungan dari banyak pihak.

7. Menyusun rencana usaha (business plan) Penyusunan rencana usaha penting

untuk dibuat dalam periode 1 sampai dengan 3 tahun. Sehingga para

pengelola BUMDes memiliki pedoman yang jelas apa yang harus dikerjakan

dan dihasilkan dalam upaya mencapai tujuan yang ditetapkan dan kinerjanya

menjadi terukur. Penyusunan rencana usaha dibuat bersama dengan Dewan

Komisaris BUMDes.

8. Menyusun sistem administrasi dan pembukuan Bentuk administrasi dan

pembukuan keuangan harus dibuat dalam format yang mudah, tetapi mampu

menggambarkan aktivitas yang dijalankan BUMDes. Hakekat dari sistem

administrasi dan pembukuan adalah pendokumentasian informasi tertulis

berkenaan dengan aktivitas BUMDes yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dan secara mudah dapat ditemukan, disediakan ketika diperlukan oleh pihak-

pihak yang berkepentingan.

9. Melakukan proses rekruitmen Untuk menetapkan orang-orang yang bakal

menjadi pengelola BUMDes dapat dilakukan secara musyawarah. Namun

pemilihannya harus didasarkan pada kriteria tertentu. Kriteria itu

dimaksudkan agar pemegang jabatan di BUMDes mampu menjalankan tugas-

tugasnya dengan baik. Untuk itu, persyaratan bagi pemegang jabatan di dalam
39

BUMDes penting dibuat oleh Dewan Komisaris. Selanjutnya dibawa ke

dalam forum rembug desa untuk disosialisasikan dan ditawarkan kepada

masyarakat. Proses selanjutnya adalah melakukan seleksi terhadap pelamar

dan memilih serta menetapkan orang-orang yang paling sesuai dengan kriteria

yang dibuat.

10. Menetapkan sistem penggajian dan pengupahan Agar pengelola BUMDes

termotivasi dalam menjalankan tugas- tugasnya, maka diperlukan adanya

sistem imbalan yang dirasakan bernilai. Pemberian imbalan bagi pengelola

BUMDes dapat dilakukan dengan berbagai macam cara seperti, pemberian

gaji yang berarti pengelola BUMDes menerima sejumlah uang dalam jumlah

yang tetap setiap bulannya. Pemberian upah yang didasarkan pada kerja

borongan. Sehingga jumlah yang diterima dapat bervariasi tergantung dari

banyak sedikitnya beban pekerjaan yang harus diselesaikan melalui cara

penawaran. Pemberian insentif jika pengelola mampu mencapai target yang

ditetapkan selama periode tertentu. Besar kecilnya jumlah uang yang dapat

dibayarkan kepada pengelola BUMDes juga harus didasarkan pada tingkat

keuntungan yang kemungkinan dapat dicapai. Pemberian imbalan kepada

pengelola BUMDes harus semenjak awal disampaikan agar mereka memiliki

tanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Sebab pemberian

imbalan merupakan ikatan bagi setiap orang untuk memenuhi kinerja yang

diminta.

2.2.10 Lembaga keuangan mikro (LKM)


40

Menurut ahli lain, “LKM didefinisikan sebagai penyedia jasa keuangan

bagi pengusaha kecil dan mikro serta berfungsi sebagai alat pembangunan bagi

masyarakat pedesaan” (Soetanto Hadinoto, 2005: 72). Menurut Direktorat

Pembiayaan (Deptan), (2004) dalam Ashari (2006: 148) bahwa “LKM

dikembangkan berdasarkan semangat untuk membantu dan memfasilitasi

masyarakat miskin baik untuk kegiatan konsumtif maupun produktif keluarga

miskin tersebut”.

Walaupun terdapat banyak definisi LKM, terdapat tiga elemen penting dari

berbagai definisi tersebut, yaitu:

1. Menyediakan beragam jenis pelayanan keuangan

Keuangan mikro dalam pengalaman masyarakat tradisional Indonesia seperti

lumbung desa, lumbung pitih nagari dan sebagainya menyediakan pelayanan

keuangan yang beragam seperti tabungan, pinjaman, pembayaran, deposito

maupun asuransi.

2. Melayani rakyat miskin

Keuangan mikro hidup dan berkembang pada awalnya memang untuk

melayani rakyat yang terpinggirkan oleh sistem keuangan formal yang ada

sehingga memiliki karakteristik konstituen yang khas.

3. Menggunakan prosedur dan mekanisme yang kontekstual dan fleksibel

Hal ini merupakan konsekuensi dari kelompok masyarakat yang dilayani,

sehingga prosedur dan mekanisme yang dikembangkan untuk keuangan mikro

akan selalu kontekstual dan fleksibel.


41

Dalam Draft RUU Nomor XXX tahun 2001 Tentang Keuangan Mikro dan

Draft kedua Nomor XXX Tahun 2007 tentang Lembaga Keuangan Mikro

didefinisikan sebagai “Badan Usaha Keuangan” yang menyediakan layanan “Jasa

Keuangan Mikro”, tidak berbentuk bank, koperasi, serta bukan pegadaian tetapi

termasuk Badan Kredit Desa (BKD) dan Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LKPD)

yang tidak memenuhi persyaratan sebagai bank, selanjutnya disebut sebagai LKM

Bukan Bank Bukan Koperasi (LKB B3K) atau selanjutnya disingkat LKM.

Menurut definisi yang dipakai dalam Microcredit Summit (1997), kredit

mikro adalah program pemberian kredit berjumlah kecil ke warga paling miskin

untuk membiayai proyek yang dia ker-jakan sendiri agar menghasilkan penda-

patan, yang memungkinkan mereka peduli terhadap diri sendiri dan keluarganya,

“programmes extend small loans to very poor for sel-employment projects that

generate income, alowing them to care for themselves and their family” (Kompas,

15 Maret 2005). Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia menurut Bank

Pembangunan Asia dan Bank Dunia (Gunawan, 2007) memiliki ciri utama, yaitu:

1. Menyediakan beragam jenis pelayanan keuangan yang relevan atau sesuai

dengan kebutuhan riil masyarakat.

2. Melayani kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah.

3. Menggunakan prosedur dan mekanisme yang kontekstual dan fleksibel agar

lebih mudah dijangkau oleh masyarakat miskin yang membutuhkan.

2.2.11 Pola-pola Keuangan Mikro di Indonesia

Saving ledd microfinance, yaitu pola keuangan mikro yang berbasis anggota

(membership based). Dalam pola ini, pendanaan atau pembiayaan yang beredar
42

berasal dari pengusaha mikro. Contohnya: Kelompok Swadaya Masyarakat

(KSM), Credit Union, dan Koperasi Simpan Pinjam.

Credit Ledd Microfinance, yaitu pola keuangan mikro yang sumber

keuangannya bukan dari usaha mikro tetapi dari sumber lain. Contohnya: Badan

Kredit Desa, Lembaga Dana Kredit Pedesaan dan Grameen Bank.

Micro Banking, bank yang difungsikan untuk melayani keuangan mikro.

Contohnya: BRI Unit Desa, Bank Perkreditan Rakyat dan Danamon Simpan

Pinjam

2.2.12 Pola hubungan bank dan kelompok swadaya masyarakat

Lembaga keuangan mikro memiliki kelebihan yang paling nyata, yaitu

prose-durnya yang sederhana, tanpa agunan, hubungannya yang cair (personal

relation-ship), dan waktu pengembalian kredit yang fleksibel (negotiable

repayment). Karak-teristik itu sangat sesuai dengan ciri pelaku ekonomi di

perdesaan (khususnya di sektor pertanian) yang memiliki asset terbatas, tingkat

pendidikan rendah dan siklus pendapatan yang tidak teratur (bergantung panen).

Karakter perdesaaan seperti itulah yang ditangkap dengan baik oleh pelaku

lembaga keuangan mikro, sehingga eksistensinya mudah diterima oleh

masyarakat kecil. Tetapi kelemahan utama dari lembaga keuangan mikro, yakni

tingkat bunga kredit yang sangat tinggi, harus diperbaiki sebab keberada-annya

cenderung eksploitatif kepada masyarakat miskin. Pemerintah dapat mendesain

regulasi dengan jalan memba-tasi tingkat suku bunga, atau memperluas akses

masyarakat miskin kepada kredit formal sehingga dalam jangka panjang tingkat
43

bunga lembaga keuangan mikro akan tertekan. Model inilah yang harus diadopsi

agar kepentingan masyarakat kecil tidak dirugikan.

2.2.13 Manfaat Penilaian Kinerja

Adapun manfaat dari penilaian kinerja adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengukur prestasi yang dicapai oleh suatu organisasi dalam suatu

periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan pelaksanaan

kegiatannya

2. Selain digunakan untuk melihat kinerja organisasi secara keseluruhan, maka

pengukuran kinerja juga dapat digunakan untuk menilai kontribusi suatu

bagian dalam pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan.

3. Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa yang

akan datang.

4. Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan organisasi pada

umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khususnya.

5. Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat

meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan.

2.3 Hipotesis penelitian

Diduga bahwa kinerja keuangan badan usaha milik desa – lembaga keuangan

mikro (BUMDES-LKM) karang dima dikatakan baik

2.4 Kerangka pemikiran

1. Rasio profitabilitas KINERJA


2. Rasio aktivitas KEUANGAN
3. Rasio likuiditas BADAN USAHA
4. Rasio solvabilitas MILIK DESA
KARANG DIMA
LABUHAN BADAS
44

2.5 Keterangan

Dari rasio likuiditas,rasio profitabilitas,rasio aktivitas dan rasio solvabilitas

akan memperlihatkan kinerja badan usaha milik desa lembaga keuangan mikro

(BUMDes-LKM) apakah mampu menghasilkan laba yang maksimal tiap tahun,

dan apakah aktiva – aktiva yang dimiliki (BUMDes – LKM) mampu memberikan

kontribusi maksimal untuk menghasilkan tingkat pendapatan yang direncanakan.


45

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan

pendekatan kuantitatif, yaitu dengan mengumpulkan, mengolah,

menyederhanakan, menyajikan, dan menganalisis data laporan keuangan badan

usaha milik desa – lembaga keuangan mikro (BUMDes-LKM) karang dima

labuhan badas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai

kinerja keuangan. dengan cara membandingkan rasio-rasio keuangan.

3.2 Jenis dan sumber data

3.2.1 Jenis data

Adapun jenis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah :

1. Data Kuantitatif, yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka

yang dapat diukur besarnya secara langsung (Lungan. 2006:9). Dalam

penelitian ini yang menjadi data kuantitatif adalah laporan keuangan

badan usaha milik desa – lembaga keuangan mikro (BUMDes-LKM)

karang dima labuhan badas. Dari tahun 2014 sampai dengan 2016.

2. Data Kualitatif, yaitu data yang berupa pendapat atau tanggapan yang

tidak berbentuk angka atau tidak dapat diukur secara langsung (Lungan.

2006:9). antara lain, sejarah singkat perusahaan dan struktur organisasi

perusahaan.
46

3.2.2 sumber data

Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yaitu laporan

keuangan dari tahun 2014 - 2016 yang diperoleh dari badan usaha milik

desa – lembaga keuangan mikro (BUMDes-LKM) karang dima labuhan

badas tahun 2015 - 2016

3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja

keuangan yang di ukur melalui rasio-rasio keuangan, antara lain :

1. Rasio Profitabilitas, adalah rasio yang menunjukkan seberapa tingkat

keberhasilan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan. Untuk

mengukur tingkat profitabilitas suatu perusahaan dapat dilakukan

dengan menggunakan return on total asset (ROA), return on equity

(ROE). Untuk mengetahui tingkat profitabilitas dari BUMDes dapat

dilakukan perhitungan berdasarkan data pada laporan keuangan

perusahaan sebagai berikut :

Laba Bersih setelah Pajak


Return Of Asset (ROA) = X 100%
Total Ativa

Laba Bersih setelah Pajak


Return On Equity (ROE) = X 100%
Modal
47

2. Rasio Likuiditas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur

kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka

pendek. Rasio ini ditunjukkan pada besar kecilnya aktiva lancar.

a. Current Ratio (ratio lancar), merupakan perbandingan antara aktiva

lancar dengan hutang lancar. Dimana kemampuan untuk membayar

hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar.

Aktiva lancar
Curren rasio = x100%
Hutang lancar

b. Cash ratio (ratio of immediate solvency), merupakan kemampuan

untuk membayar utang yang segera harus dipenuhi dengan kas yang

tersedia dalam perusahaan dan efek yang dapat segera diuangkan.

kas
Cash rasio = x100%
Hutang lancar

c. Quick Ratio (ratio cepat), dihitung dengan mengurangkan

persediaan dari aktiva lancar, kemudian membagi sisanya dengan

hutang lancar Dimana kemampuan untuk membayar utang yang

segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebih likuid

(quick assets).

Aktiva lancar - persediaan


quick ratio = x100%
Hutang lancar

3. Rasio aktivitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengetahui sejauh

mana efesiensi perusahaan sehubung dengan pengelolaan asset

perusahaan untuk memperoleh penjualan. Rasio aktivitas antara lain:


48

a) Inventory turn over, rasio ini menunjukkan beberapa cepat

perputaran persediaan dalam siklus produksi normal. Semkain

besar rasio ini semakin baik karena dianggap bahwa penjualaan

berjalan cepat.

b) Total asset turn over, rasio ini menunjukkan perputaran total aktiva

diukur dari volume penjualan dengan kata lain seberapa jauh

kemampuan semua aktiva menciptakan penjualan. Semakin tinggi

rasio ini semakin baik.

3.4 Teknik pengumpulan data

Teknik Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai

berikut :

4. Metode dokumentasi, yaitu metode pengumpulan data dengan cara

mengamati dan mencatat dokumen-dokumen yang relevan dengan masalah

yang diteliti. Data yang digunakan dalam penelitan ini adalah laporan

keuangan dari badan usaha milik desa – lembaga keuangan mikro (BUMDes-

LKM) karang dima labuhan badas dari tahun 2015 – 2016.

5. Studi Pustaka (Library Research), merupakan teknik pengumpulan data

dengan cara melakukan peninjauan pustaka dari berbagai literatur karya

ilmiah, jurnal, dan buku-buku yang menyangkut teori-teori yang relevan

dengan masalah yang dibahas.


49

3.5 Teknik Analisis Data

Rasio keuangan merupakan variabel penelitian dan digunakan sebagai

data yang akan diolah dalam penelitian ini. Langkah pertama yang harus

dilakukan adalah menghitung masing-masing rasio keuangan yang telah

ditetapkan sebagai variabel penelitian berdasarkan laporan keuangan

perusahaan. Perhitungan rasio-rasio keuangan, penulis menggunakan program

Microsoft Excel 2007.

3.5.1 Analisa Rasio

1. Rasio likuiditas

a. Current rasio

Aktiva lancar
Curren rasio = x100%
Hutang lancar

b. Quick rasio

Aktiva lancar - persediaan


quick ratio = x100%
Hutang lancar

c. Cash rasio

kas
Cash rasio = x100%
Hutang lancar

2. Rasio profitabilitas / rentabilitas


50

a. Return Of Asset (ROA)

Laba Bersih setelah Pajak


Return Of Asset (ROA)= x100%
Total Ativa

b. Return On Equity (ROE)

Laba Bersih setelah Pajak


Return Of equity (ROE)= x100%
Modal

3. Rasio aktivitas

a. inventory turn over


Harga pokok penjualan
Inventory turn over =
b. Total aset turn over Rata-rata persediaan barang

Penjualan
Total aset turn over =
Total aset

4. Solvabilitas

a. Debt to asset ratio

Total hutang
Debt to asset ratio )= x100%

Total aktiva

b. Debt to equity ratio

Total hutang
Debt toequity ratio = x100%

Modal (equity)

3.6 Uji Hipotesis


51

Setelah data yang diolah telah diperoleh langkah selanjutnya adalah

melakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan SPSS versi 16.

Pengujian data terdiri dari :

3.6.1 Uji Normalitas Data

Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui sampel yang digunakan

berasal dari populasi yang sama atau data berdistribusi normal atau tidak.

Alat analisis yang digunakan untuk menguji normalitas data adalah dengan

uji Kolmogorov-Smirnov. Sampel berdistribusi normal apabila asymptotic

sig > 0,05, sebaliknya dikatakan tidak normal apabila asymptotic sig <

0,05. Pengujian ini menggunakan program SPSS versi 22. Jika hasil

pengujian menunjukkan sampel berdistribusi normal maka uji beda yang

akan digunakan dalam penelitian ini adalah uji parametrik (Paired

Samples T-test). Tetapi apabila sampel tidak berdistribusi normal maka uji

beda yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah uji non parametrik

(Wilcoxon Sign Test) (Santoso, 2016).

3.6.2 Uji Beda Dua Rata-Rata (Paired Sample T-Test)

Pengujian ini dilakukan terhadap dua sampel yang berpasangan (paired).

Sampel yang berpasangan diartikan sebagai sebuah sampel dengan subjek

yang sama namun mengalami dua perlakuan atau pengukuran yang

berbeda (Santoso, 2016). Uji statistik dengan (Paired Sample T-Test)

digunakan untuk menjelaskan ada atau tidaknya perbedaan signifikan

kinerja keuangan badan usaha milik desa lembaga keuangan mikro karang

dima dari tahun 2014 – 2016 melalui Rasio Aktivitas, Rasio Profitabilitas,
52

dan. Dasar pengambilan keputusan dari pengujian ini (Santoso, 2016)

adalah:

1. Berdasarkan t hitung dan t tabel :

a) Jika statistik hitung (angka t output) > statistik tabel (tabel t), maka

CF ditolak.

b) Jika statistik hitung (angka t output) < statistik tabel (tabel t), maka

CF diterima.

2. Berdasarkan nilai probabilitas :

a) Jika probabilitas > 0,05, maka CF diterima

b) Jika probabilitas < 0,05, maka CF ditolak

3.7 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan pada Badan usaha milik desa lembaga

keuangan mikro karang dima labuhan badas. Adapun penelitian di lokasi

tersebut karena penulis berkepentingan dengan masalah tersebut dalam rangka

penyusunan skripsi untuk meraih gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi

Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas

Samawa. Waktu penelitian di Badan usaha milik desa lembaga keuangan

mikro karang dima labuhan badas berlangsung selama kurang lebih 1 (satu)

bulan yaitu Agustus 2017.