Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS

“STROKE HEMORRAGIK”

Disusun Sebagai Tugas Mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior Neurologi

Rumah Sakit Haji Medan

Pembimbing :
dr. Luhu A. Tapiheru Sp.S

Disusun oleh :
Ninda Arlita Putri
15360447
Oghi Sulistiyono
15360449

SMF NEUROLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI

RUMAH SAKIT UMUM HAJI MEDAN

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena

dengan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini sebagai

persyaratan Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) dibagian Neurologi Rumah Sakit

Haji Medan dengan Judul “Stroke Hemorragik”.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih

kepada dr. Luhu A. Tapiheru, Sp.S selaku pembimbing selama di stase Neurologi

RSU Haji Medan dan seluruh pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan

laporan kasus ini.

Demikian tugas ini disusun, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca

khususnya bagi penulis sendiri. Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dan

keterbatasan pada laporan kasus ini. Untuk itu, penulis Saran dan kritik yang

membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan ini.

Medan, Januari 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB 1 LAPORAN KASUS .................................................................................. 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 125
2.1 Definisi Stroke .......................................................................................... 175
2.2 Epidemiologi Stroke ................................................................................... 15
2.3 Faktor Resiko Stroke .................................................................................. 16
2.4. Klasifikasi Stroke ...................................................................................... 17
2.5 Definisi Stroke Hemoragik ......................................................................... 18
2.6 Klasifikasi Stroke Hemoragik ................... Error! Bookmark not defined.9
2.7 Epidemiologi Stroke Hemoragik ................................................................ 20
2.8 Gejala Stroke Hemoragik .......................................................................... 20
2.9.Pemeriksaa Penunjang ...................................................................................... 22
2.10 Penatalaksanaan Stroke Iskemik .................................................................... 22
2.1 Penatalaksanaan Stroke Iskemik ...................................................................... 22

BAB 3 KESIMPULAN ....................................................................................... 21


DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 22

iii
BAB 1
LAPORAN KASUS

1. Identitas Pribadi
Nama : Tianna Hasibua
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 47 Tahun
SukuBangsa : Mandailing
Agama : Islam
Alamat : Dusun IX gg. Langsat Deli Serdang
Status : Menikah
Pekerjaan : Pedagang
Tanggal Masuk : 04-01-2018
Ruang : ICU

2. Anamnese
Keluhan Utama : penurunan Kesadaran
Telaah : Pasien datang ke RS Haji Medan dengan keluhan penurunan
kesadaran sejak + 3 jam sebelum masuk ke rumah sakit,
sebelumnya pasien mengeluhkan adanya kelemahan pada kedua
kaki yang dirasakan sejak +1 hari sebelum masuk ke rumah
sakit, pasien juga mengeluh sakit kepala yang sangat hebat + 2
hari belakangan ini. Pasien juga mengeluh muntah menyembur
yang dialami pasien lebih dari 10 kali, muntah berisikan apa
yang dimakan dan diminum pasien, volume muntah +1 gelas
aqua setiap muntah. Pasien juga mengeluh sesak napas sejak +
3 hari yang lalu, sesak napas bersifat hilang timbul dan
memberat saat aktifitas. Demam (-), kejang (-), bicara pelo (-),
mulut mencong (-). BAK (+) normal, riwayat BAB (+) normal.
RPT : Hipertensi tidak terkontrol 8 tahun
RPO : Tidak ada
3. Anamnese Traktus
Traktus Sirkulatorius : Hipertensi (+)
Traktus Respiratorius : Sesak nafas (+), Batuk (-)
Traktus Digestivus : Mual (-) Muntah (+) Mencret (-)
Traktus Urogenitaslis : BAK (+) normal, BAB (+) Normal
Penyakit Terdahulu & Kecelakaan : Hipertensi (+), Kolesterol (-),
Asam Urat (-), Trauma (-)
Intoksikasi & Obat-obatan : Tidak ada

4. Anamnese Keluarga
Faktor Herediter : Tidak ada
Faktor Familier : Kedua kakak pasien sakit stroke (+)
Lain-lain : Tidak ada

5. Anamnese Sosial
Kelahiran dan Pertumbuhan : Normal
Imunisasi : Tidak jelas
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pedagang
Perkawinan dan Anak : Menikah dan belum punya anak

6. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
- Tekanan Darah : 150/90 mmHg
- Nadi : 84 x/menit
- Frekuensi Nafas : 24 x/menit
- Temperatur : 36,2 C
- Kulit dan Selaput Lendir : Dalam batas normal
- Kelenjar dan Getah Bening : Tidak Teraba

2
Kepala dan Leher
- Bentuk dan Posisi : Normocephali
- Pergerakan : Sulit di nilai
- Kelainan Panca Indera : Sulit di nilai
- Rongga Mulut dan Gigi : Dalam batas normal
- Kelenjar Parotis : Tidak dilakukan pemeriksaan

Rongga Dada dan Abdomen

THORAX ABDOMEN

Inspeksi Simetris fusipormis Kanan = Kiri Simetris

Perkusi Sonor ke dua lapang paru Thympani

Palpasi Stem fremitus sulit di nilai Soepel

Auskultasi Vesikuler di kedua lapang paru Peristaltik (+) Normal

Genitalia
- Toucher : Tidak dilakukan pemeriksaan

7. Status Neurologi
SENSORIUM : Somnolen
KRANIUM
- Bentuk : Normochepali
- Fontanella : Tertutup, Keras
- Palpasi : TIdak dilakukan pemeriksaan
- Perkusi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Auskultasi : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Transiluminasi : Tidak dilakukan pemeriksaan

3
PENINGKATAN TEKANAN INTRAKRANIAL
- Muntah : Ya
- Sakit Kepala : Ya
- Kejang : Tidak ada

RANGSANGAN MENINGEAL
- Kaku Kuduk : Tidak ada
- Kernig Sign : Tidak ada
- Tanda Burdzinski I : Tidak ada
- Tanda Burdzinski II : Tidak ada

SARAF OTAK / NERVUS KRANIALIS

N. I Meatus Nasi Dextra Meatus Nasi Sinistra

Normosmia Sulit di nilai Sulit di nilai

N. II Oculi Dextra Oculi Sinistra

Visus Sulit di nilai Sulit di nilai

Lapang Pandang Sulit di nilai Sulit di nilai

Fundus Oculi Tidak dilakukan Tidak dilakukan


pemeriksaan pemeriksaan

N. III, IV, VI Oculi Dextra Oculi Sinistra

Gerak Bola Mata Doll eye phenomenon Doll eye phenomenon (+)
(+)

Nistagmus Tidak ada Tidak ada

4
Pupil

- Lebar 3 mm 3 mm

- Bentuk Bulat Bulat

- R.C Langsung Dalam batas normal Dalam batas normal

- R.C tidak langsung Dalam batas normal Dalam batas normal

N. V Kanan Kiri

Motorik
- Membuka & Menutup mulut Sulit di nilai Sulit di nilai
- Palpasi M. Maseter dan Sulit di nilai Sulit di nilai
M.Temporalis
- Kekuatan Gigitan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
pemeriksaan pemeriksaan

Sensorik
- Kulit Sulit di nilai Sulit di nilai
- Selaput Lendir Sulit di nilai Sulit di nilai

- Refleks Maseter Sulit di nilai Sulit di nilai


- Refleks Bersin Tidak ada Tidak ada

N. VII Kanan Kiri

Motorik
- Mimik Sulit di nilai Sulit di nilai
- Kerut Kening Sulit di nilai Sulit di nilai
- Menutup mata Sulit di nilai Sulit di nilai
- Memperlihatkan gigi (+) dengan rangsangan (+) dengan rangsangan
nyeri os zigomaticum nyeri os zigomaticum

5
- Tertawa Sulit di nilai Sulit di nilai

Sensorik
- Pengecapan 2/3 Depan Lidah Sulit di nilai Sulit di nilai
- Produksi Kelenjar Ludah (+) (+)
- Hiperakusis (-) (-)
- Refleks Stapedial (+) (+)

N. VIII Kanan Kiri


Auditorius
- Pendengaran Sulit di nilai Sulit di nilai
- Test Rinne Sulit di nilai Sulit di nilai
- Test Weber Sulit di nilai Sulit di nilai

Vestibularis
- Nistagmus (-) (-)
- Vertigo Sulit di nilai Sulit di nilai
- Tinitus Sulit di nilai Sulit di nilai

N. IX, X
Pallatum Mole Sulit di nilai
Uvula Medial
Disfagia Sulit di nilai
Disatria Sulit di nilai
Disfonia Sulit di nilai
Refleks Muntah (-)
Pengecapan 1/3 Belakang Lidah Sulit di nilai

N. XI
Mengangkat Bahu Sulit di nilai

6
Fungsi M. Sternocleidomastoideus Sulit di nilai

N. XII
Lidah
- Tremor Sulit di nilai
- Atrofi (-)
- Fasikulasi (-)
Ujung Lidah Sewaktu Istirahat Medial
Ujung Lidah Sewaktu Dijulurkan Sulit di nilai

SISTEM MOTORIK
Trofi Normotrofi Normotrofi
Tonus Otot Normotonus Hipotonus

Kekuatan Otot ESD SDN ESS SDN


SDN SDN
EID SDN EIS SDN
SDN SDN
Kesan : lateralisasi ke kiri

Sikap (Duduk-Berdiri-Berbaring) : Berbaring


Gerakan Spontan Abnormal
- Tremor : (-)
- Khorea : (-)
- Balismus : (-)
- Mioklonus : (-)
- Atetosis : (-)
- Distonia : (-)
- Spasme : (-)
- Tic : (-)

7
TEST SENSIBILITAS
- Eksteroseptif : Sulit di nilai
- Propioseptif : Posisi berbaring
- Fungsi Kortikal untuk Sensibilitas
- Stereognosis : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Pengenalan Dua Titik : Tidak dilakukan pemeriksaan
- Grafestesia : Tidak dilakukan pemeriksaan

REFLEKS FISIOLOGIS
- Biceps (++/+)
- Triceps (++/+)
- Patella (++/+)
- Tendon Achiless (++/+)

REFLEKS PATOLOGIS
- Babinski : (-/-)
- Oppenheim : (-/-)
- Chaddock : (-/-)
- Gordon : (-/-)
- Schaeffer : (-/-)
- Hoffman – Trommer : (-/-)
- Klonus Lutut : (-/-)
- Klonus Kaki : (-/-)

KOORDINASI
Lenggang : Sulit dinilai
Bicara : Sulit di nilai
Menulis : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Test Telunjuk-Telunjuk : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Test Telunjuk-Hidung : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Disdiadokokinesis : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

8
Test Tumit-Lutut : Tidak Dilakukan Pemeriksaan
Test Romberg : Tidak Dilakukan Pemeriksaan

VEGETATIF
Vasomotorik : (+) Normal
Sudomotorik : (-)
Pilo-Erektor : (-)
Miksi : (+) Normal
Defekasi : (+) Normal
Potensi dan Libido : Tidak dilakukan pemeriksaan

VERTEBRAE
Bentuk
- Normal : (+)
- Scoliosis : (-)
- Hiperlordosis : (-)

Pergerakan
- Leher : Sulit di nilai
- Pinggang : Sulit di nilai

TANDA RANGSANGAN RADIKULER


- Laseque : Sulit di nilai
- Cross Laseque : Sulit di nilai
- Test Lhemitte : Sulit di nilai
- Test Naffziger : Sulit di nilai

GEJALA - GEJALA EKSTRAPIRAMIDAL


- Tremor : (-)
- Rigiditas : (-)
- Bradikinesia : (-)

9
FUNGSI LUHUR
Kesadaran Kualitatif
Ingatan Baru : Sulit di nilai
Ingatan Lama : Sulit di nilai
Orientasi
- Diri : Sulit di nilai
- Tempat : Sulit di nilai
- Waktu : Sulit di nilai
- Situasi : Sulit di nilai
Intelegensia : Sulit di nilai
Daya Pertimbangan : Sulit di nilai
Reaksi Emosi : Sulit di nilai
Afasia
- Ekspresif : Sulit di nilai
- Represif : Sulit di nilai
- Apraksia : Sulit di nilai
Agnosia
- Agnosia visual : Sulit di nilai
- Agnosia Jari-jari : Sulit di nilai
- Akalkulia : Sulit di nilai
- Disorientasi kanan-kiri : Sulit di nilai

8. Pemeriksaan Penunjang
- CT Scan
 Infratentorial cerrebellum, pons, dan ventrikel 4 tidak tampak
kelainan.
 Supratentorial tampak gambaran hyperdense lesion di parieto frotal
kanan dan mendorong mid lift shift kiri.
 Cortical sulci dan ventriculer sistem baik.
Kesan : Right parieto frontal lobe huge haemorrhage + Peninggian
tekanan intracranial.

10
9. Diagnosa
Diagnosa Fungsional : Penurunan kesadaran + Hemiparese sinistra
Diagnosa Etiologi : Perdarahan otak
Diagnosa Anatomik : Intraserebral
Diagnosa Kerja : Stroke Hemorragik

10. Penatalaksanaan
Aktivitas : Tirah baring
Medikamentosa : IVFD RL 20 gtt/i
Furosemid 1 amp/ 8 jam (iv)
Ranitidin 1 amp / 12 jam (iv)
Amlodipine 1 x 10 mg
Valsartan 1x 160 mg 1x1
KSR 1 x 1

11
FOLLOW UP

04 Januari 2018 05 Januari 2018

Vital Sign Vital Sign

 Sens. : Somolen  Sens. : Somolen


 GCS : E1 V3 M6  GCS : E1 V3 M6
 T.D : 150/90 mmHg  T.D : 150/90 mmHg
 HR : 80 x/i  HR : 80 x/i
 RR : 20 x/i  RR : 20 x/i
 Temp. : 3,2 oC  Temp. : 3,2 oC

Diagnosa Diagnosa

Somolen + Hemiparese sinistra e.c Somolen + Hemiparese sinistra e.c


Stoke Hemoragic Stoke Hemoragic

Terapi Terapi

 IVFD RL 20 gtt/i  IVFD RL 20 gtt/i


 Furosemid 1 amp/ 8 jam (iv)  Furosemid 1 amp/ 8 jam (iv)
 Ranitidin 1 amp / 12 jam (iv)  Ranitidin 1 amp / 12 jam (iv)
 Amlodipine 1 x 10 mg  Amlodipine 1 x 10 mg
 Valsartan 1x 160 mg 1x1  Valsartan 1x 160 mg 1x1
 KSR 1 x 1  KSR 1 x 1

06 Januari 2018 07 Januari 2018

Vital Sign Vital Sign

 Sens. : Koma  Sens. : Koma


 GCS : E1 V1 M1  GCS : E1 V1 M1
 T.D : 150/90 mmHg  T.D : 150/90 mmHg
 HR : 80 x/i  HR : 80 x/i
 RR : 20 x/i  RR : 20 x/i
 Temp. : 3,2 oC  Temp. : 3,2 oC

12
Diagnosa Diagnosa

Koma + Hemiparese sinistra e.c Stoke Koma + Hemiparese sinistra e.c Stoke
Hemoragic Hemoragic

Terapi Terapi

 IVFD RL 20 gtt/i  IVFD RL 20 gtt/i


 Furosemid 1 amp/ 8 jam (iv)  Furosemid 1 amp/ 8 jam (iv)
 Ranitidin 1 amp / 12 jam (iv)  Ranitidin 1 amp / 12 jam (iv)
 Amlodipine 1 x 10 mg  Amlodipine 1 x 10 mg
 Valsartan 1x 160 mg 1x1  Valsartan 1x 160 mg 1x1
 KSR 1 x 1  KSR 1 x 1

08 Januari 2018 09 Januari 2018

Vital Sign Vital Sign

 Sens. : Koma  Sens. : compos metis


 GCS : E1 V1 M1  GCS : E4 V5 M6
 T.D : 150/90 mmHg  T.D : 150/90 mmHg
 HR : 80 x/i  HR : 80 x/i
 RR : 20 x/i  RR : 20 x/i
 Temp. : 3,2 oC  Temp. : 3,2 oC

Diagnosa Diagnosa

Koma + Hemiparese sinistra e.c Stoke Hemiparese sinistra e.c Stoke


Hemoragic Hemoragic

Terapi Terapi

 IVFD RL 20 gtt/i  IVFD RL 20 gtt/i


 Furosemid 1 amp/ 8 jam (iv)  Furosemid 1 amp/ 8 jam (iv)

13
 Ranitidin 1 amp / 12 jam (iv)  Ranitidin 1 amp / 12 jam (iv)
 Amlodipine 1 x 10 mg  Amlodipine 1 x 10 mg
 Valsartan 1x 160 mg 1x1  Valsartan 1x 160 mg 1x1
 KSR 1 x 1  KSR 1 x 1

14
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Stroke masih merupakan penyebab utama invaliditas kecacatan
sehingga orang yang mengalaminya memiliki ketergantungan pada orang
lain – pada kelompok usia 45 tahun ke atas dan angka kematian yang
diakibatnya cukup tinggi.
Perdarahan intra serebral terhitung sekitar 10 - 15% dari seluruh
stroke dan memiliki tingkat mortalitas lebih tinggi dari infark serebral.
Literatur lain menyatakan hanya 8 – 18% dari stroke keseluruhan yang
bersifat hemoragik. Namun, pengkajian retrospektif terbaru menemukan
bahwa 40.9% dari 757 kasus stroke adalah stroke hemoragik. Namun
pendapat menyatakan bahwa peningkatan presentase mungkin dikarenakan
karena peningkatan kualitas pemeriksaan seperti ketersediaan CT scan,
ataupun peningkatan penggunaan terapeutik agen antiplatelet dan warfarin
yang dapat menyebabkan perdarahan.
Stroke adalah penyebab kematian dan disabilitas utama. Dengan
kombinasi seluruh tipe stroke secara keseluruhan, stroke menempati urutan
ketiga penyebab utama kematian dan urutan pertama penyebab utama
disabilitas. Morbiditas yang lebih parah dan mortalitas yang lebih tinggi
terdapat pada stroke hemoragik dibandingkan stroke iskemik. Hanya 20%
pasien yang mendapatkan kembali kemandirian fungsionalnya.
Resiko terjadinya stroke meningkat seiring dengan usia dan lebih
tinggi pada pria dibandingkan dengan wanita pada usia berapapun. Faktor
resiko mayor meliputi hipertensi arterial, penyakit diabetes mellitus,
penyakit jantung, perilaku merokok, hiperlipoproteinemia, peningkatan
fibrinogen plasma, dan obesitas. Hal lain yang dapat meningkatkan resiko
terjadinya stroke adalah penyalahgunaan obat, pola hidup yang tidak baik,
dan status sosial dan ekonomi yang rendah.

15
Diagnosis dari lesi vaskular pada stroke bergantung secara esensial
pada pengenalan dari sindrom stroke, dimana tanpa adanya bukti yang
mendukungnya, diagnosis tidak akan pernah pasti. Riwayat yang tidak
adekuat adalah penyebab kesalahan diagnosis paling banyak. Bila data
tersebut tidak dapat dipenuhi, maka profil stroke masih harus ditentukan
dengan memperpanjang periode observasi selama beberapa hari atau
minggu.
Tujuan dari penatalaksanaan stroke secara umum adalah
menurunkan morbiditas dan menurunkan tingkat kematian serta
menurunnya angka kecacatan. Salah satu upaya yang berperan penting
untuk mencapai tujuan tersebut adalah pengenalan gejala-gejala stroke dan
penanganan stroke secara dini dimulai dari penanganan pra rumah sakit
yang cepat dan tepat. Dengan penanganan yang benar-benar pada jam-jam
pertama paling tidak akan mengurangi kecacatan sebesar 30% pada
penderita stroke.
Tidak bisa dihindarkan fakta bahwa kebanyakan pasien stroke
datang dan dilihat pertama kali oleh klinisi yang belum memiliki
pengalaman yang cukup di semua poin terpenting dalam penyakit
serebrovaskular. Keadaan semakin sulit dikarenakan keputusan kritis harus
segera dibuat mengenai indikasi pemberian antikoagulan, investigasi
laboratorium lebih lanjut, dan saran serta prognosa untuk diberikan kepada
keluarga.

16
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stroke

Stroke menurut definisi World Health Organization (WHO) adalah

suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal

(atau global), dengan gejala–gejala yang berlangsung selama 24 jam atau

lebih dan dapat menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang

jelas selain vaskuler.

2.1.1 Epidemiologi Stroke

Menurut WHO tahun 2012 kematian akibat stroke sebesar 51%

diseluruh dunia disebabkan oleh hipertensi. Selain itu diperkirakan sebesar

16% kematian stroke diakibatkan tingginya kadar glukosa darah dalam tubuh.

Menurut data riset kesehatan dasar 2013 prevalensi stroke di

Indonesia 12,1% dari 1000 penduduk. Angka itu naik dibandingkan

RISKESDAS 2007 yang sebesar 8,3 %. stroke telah menjadi

penyebabkemaian uama dihampir i RS di Indonesia yakni 14,5%.

Dilhat dari kerakteristiknya stroke banyak dialami orang lanjut usia,

berpendidikan rendah dan tinggal diperkotaan. Perubahan gaya hidup seperti

pola makan, terlalu banyak gula, garam dan lemak serta kurang beraktivtas

adalah faktor resiko stroke.

17
2.1.2 Faktor Resiko Stroke

Faktor - faktor resiko untuk terjadinya stroke dapat diklasifikasikan

sebagai berikut :1

1. Non modifiable risk factors :

a. Usia

b. Jenis kelamin

c. Keturunan / genetik

2. Modifiable risk factors

a. Behavioral risk factors

1. Merokok

2. Unhealthy diet : lemak, garam berlebihan, asam urat, kolesterol,

low fruit diet

3. Alkoholik

4. Obat-obatan : kokain, antikoaguilansia, antiplatelet, obat

kontrasepsi

b. Physiological risk factors

1. Penyakit hipertensi

2. Penyakit jantung

3. Diabetes mellitus

4. Infeksi/lues, arthritis, traumatic, AIDS, Lupus

5. Gangguan ginjal

6. Kegemukan (obesitas)

7. Polisitemia, viskositas darah meninggi & penyakit perdarahan

18
8. Kelainan anatomi pembuluh darah

9. Dan lain-lain

c. Major risk factors

1. Hipertensi

2. Merokok

3. Diabetes mellitus

4. Kelainan jantung

5. Kolesterol

2.1.3 Klasifikasi Stroke

Dasar klasifikasi yang berbeda – beda diperlukan, sebab setiap jenis

stroke mempunyai cara pengobatan, pencegahan dan prognosa yang

berbeda, walaupun patogenesisnya sama:3

I. Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya :

1. Stroke iskemik

a. Transient Ischemic Attack (TIA)

b. Thrombosis serebri

c. Emboli serebri

2. Stroke Hemoragik

a. Perdarahan intraserebral

b. Perdarahan subarachnoid

19
II. Berdasarkan stadium / pertimbangan waktu

1. Transient Ischemic Attack (TIA)

2. Stroke in evolution

3. Completed stroke

2.2 Stroke Hemoragik

2.2.1 Definisi Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik disebabkan oleh perdarahan ke dalam jaringan

otak (disebut hemoragia intraserebrum atau hematom intraserebrum) atau

kedalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan

lapisan jaringan yang menutupi otak (disebut hemoragia subaraknoid). Ini

adalah jenis stroke yang paling mematikan dan merupakan sebagian kecil

dari stroke total yaitu 10-15% perdarahan. Stroke hemoragik merupakan

15% sampai 20% dari semua stroke, dapat terjadi apabila lesi vascular

intraserebrum mengalami rupture sehingga terjadi perdarahan ke dalam

ruang subaraknoid atau langsung ke dalam jaringan otak. Sebagian dari lesi

vascular yang dapat menyebabkan perdarahan subaraknoid (PSA) adalah

aneurisma sakular dan malformasi arteriovena (MAV). intraserebrum dan

sekitar 5% untuk perdarahan subaraknoid.

20
2.2.2 Klasifikasi Stroke Hemoragik

a. Perdarahan Intra Serebral (PIS)

Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah perdarahan yang primer

berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak dan bukan

disebabkan oleh trauma, dimana 70% kasus PIS terjadi di kapsula

interna, 20% terjadi di fosa posterior (batang otak dan serebelum) dan

10% di hemisfer (di luar kapsula interna). PIS terutama disebabkan oleh

hipertensi (50-68%). Angka kematian untuk perdarahan intraserebrum

hipertensif sangat tinggi, mendekati 50%. Perdarahan yang terjadi

diruang supratentorium (diatas tentorium cerebeli) memiliki prognosis

yang baik apabila volume darah sedikit. Namun, perdarahan kedalam

ruang infratentorium didaerah pons atau cerebellum memiliki prognosis

yang jauh lebih buruk karena cepatnya timbul tekanan pada struktur–

struktur vital dibatang otak.

b. Perdarahan Sub Araknoid (PSA)

Perdarahan Subaraknoid (PSA) adalah keadaan akut dimana

terdapatnya/masuknya darah ke dalam ruangan subaraknoid, atau

perdarahan yang terjadi di pembuluh darah di luar otak, tetapi masih di

daerah kepala seperti di selaput otak atau bagian bawah otak.6 PSA

menduduki 7-15% dari seluruh kasus Gangguan Peredaran Darah Otak

(GPDO). PSA paling banyak disebabkan oleh pecahnya aneurisma

(50%).

21
2.2.3 Epidemiologi Stroke Hemoragik

Menurut WHO, stroke menjadi penyebab kematian dari 5,7 juta jiwa

diseluruh dunia dan diperkirakan meningkat menjadi 6,5 juta penderita pada

tahun 2015 dan 7,8 juta penderita pada tahun 2030.24 Berdasarkan penelitian

Wiwid di Rumah Sakit Stroke Nasional Bukit Tinggi Tahun 2005-2007,

menunjukkan bahwa jumlah penderita stroke hemoragik tahun 2005

sebanyak 66 0rang, tahun 2006 sebanyak 54 orang, tahun 2007 sebanyak 59

orang.

2.2.4. Gejala Stroke Hemoragik

a. Perdarahan Sub Araknoid

Perdarahan sub araknoid adalah suatu keadaan dimana terjadi

perdarahan diruang sub araknoid yang timbul secara primer, gejala

klinis :

 Onset penyakit berupa nyeri kepala seperti meledak, dramatis,

berlangsung selama 1 – 2 detik sampai 2 menit.

 Vertigo, mual, muntah, banyak keringat, menggigil, gelisah dan

kejang.

 Dapat ditemukan penurunan kesadaran dan kemudian sadar

dalam beberapa menit dan sampai beberapa jam.

 Dijumpai gejala – gejala rangsang meningen.

 Perdarahan rentina berupa perdarahan subhialid merupakan

gejala karakteristik perdarahan sub araknoid.

22
 Gangguan fungsi otonom berupa bradikardi dan takikardi,

hipotensi atau hipertensi, suhu badan meningkat atau gangguan

pernafasan.

b. Perdarahan Intra Serebral

Perdarahan intraserebral ditemukan pada 10% dari seluruh kasus

stroke, terdiri dari 80% hemisper otak dan sisanya di batang otak dan

serebelum, gejala klinis :

 Onset perdarahan bersifat mendadak terutama sewaktu

melakukan aktifitas dan dapat didahului oleh gejala prodormal

berupa peningkatan tekanan darah yaitu nyeri kepala, mual,

muntah, gangguan memori, binggung, perdarahan retina,

epistaksis.

 Penurunan kesadaran yang berat sampai koma disertai

hemiplagia atau hemiparese dan dapat disertai kejang fokal atau

umum.

 Tanda – tanda penekanan batang otak, gejala pupil unilateral,

reflek gerakan bola mata menghilang dan deserbrasi.

 Dapat dijumpai tanda – tanda tekanan tinggi intracranial (TTIK,

misalnya papiledema dan perdarahan subhialoid).

23
Tabel Perbedaan stroke hemoragik dan stroke iskemik dari gejala klinis.

GEJALA STROKE ISKEMIK STROKE HEMORAGIK

Onset Mendadak Mendadak

Saat Onset Sedang Aktif Saat istirahat

Peringatan - +

Nyeri Kepala +++ +

Kejang + -

Muntah + -

Penurunan +++ +

Kesadaran

2.7 Pemeriksaan Penunjang

Kemajuan teknologi kedokteran memberi kemudahan untuk

membedakan antara stroke hemoragik dan stroke iskemik diantaranya :

Computerized Tomograph scanning (CT Scan), Cerebral angiografi,

Elektroensefalografi (EEG), Magnetic Resonance Imaging (MRI),

Elektrokardiografi (EKG), pemeriksaan laboratorium dan lainnya.

2.6. Tindakan Medis Stroke Hemoragik

Tindakan medis pada stroke hemoragik ditujukan agar penderita tetap

hidup dengan harapan pendarahan dapat berhenti secara spontan. Sekali

terjadi pendarahan maka terapi medikanmentosa tidak dapat

24
menghentikannya. Tindakan medis yang dilakukan pada penderita stroke

hemoragik meliputi :

a. Tindakan Operatif

Pertimbangan untuk melakukan operasi biasanya bila

perdarahan berada di daerah superficial (lobar) hemisfer serebri atau

perdarahan sereberal. Penentuan waktu untuk operasi masih bersifat

kontroversial. Berdasarkan data mortalitas pasca operasi, disimpulkan

bahwa waktu untuk operasi adalah antara 7-9 pasca perdarahan.

Tindakan operasi segera setelah terjadi perdarahan merupakan

tindakan berbahaya karena terjadinya retraksi otak yang dalam

keadaan membengkak. Sementara itu tindakan operasi yang dini dapat

menimbulkan komplikasi iskemi otak.

b. Tindakan Konservatif

1. Pencegahan peningkatan tekanan intrakranial lebih lanjut.

Upaya pencegahan peningkatan tekanan intrakranial (TIK)

lebih lanjut adalah pengendalian hipertensi dan pengobatan

kejang. Hipertensi yang menetap akan meningkatkan edema

otak dan TIK. Pengendalian hipertensi harus hati-hati karena

apabila terjadi hipotensi maka otak akan terancam iskemia dan

kerusakan neuron. Obat yang di anjurkan dalam mencegah

peningkatan TIK adalah beta bloker atau obat yang mempunyai

25
aksi beta dan alfa bloking (misalnya labetolol), diberikan secara

intravena di kombinasikan dengan deuretika.

Kejang biasanya terjadi pada perdarahan obar sehingga

pemberian anti konpulsan secara rutin tidak dianjurkan. Pada

hiperglikemia tidak diajurkan untuk diberi difenilhidantoin

karena glukosa darah akan meninggi dan kejang tidak terkontrol.

Secara umum antikonfulson yang dianjurkan adalah

difenilhidantoin (bolus intravena) dan diazepam.

2. Pengendalian peningkatan tekanan intrakranial.

Secara umum terapi untuk hipertensi intrakranial meliputi

hiperventilasi, diuretika, dan kortikosteroid. Hipertventilasi

paling efektif untuk menurunkan hipertensi intrakranial secara

cepat, biasanya dalam beberapa menit untuk mencapai tingkat

hipokapnia antara 25-30 mmHg.

Urea intravena (0,30 gr/Kg BB), atau lebih umum dipakai

manitol (0,25-1,0 gr/Kg BB) dapat menurunkan TIK secara

cepat, sering diberikan bersama-sama dengan hiperventilasi

pada kasus herniasi otak yang mengancam.

26
2.9. Pencegahan Stroke

2.9.1. Pencegahan Premordial

Tujuan pencegahan premordial adalah mencegah timbulnya faktor

risiko bagi individu yang belum mempunyai faktor risiko. Pencegahan

premordial dapat dilakukan dengan cara melakukan promosi kesehatan,

seperti berkampanye tentang bahaya rokok terhadap stroke dengan membuat

selebaran atau poster yang dapat menarik perhatian masyarakat.

Selain itu, promosi kesehatan lain yang dapat dilakukan adalah program

pendidikan kesehatan masyarakat, dengan memberikan informasi tentang penyakit

stroke hemoragik melalui ceramah, media cetak, media elektronik.

2.9.2. Pencegahan Primer

Tujuan pencegahan primer adalah mengurangi timbulnya faktor risiko

stroke bagi individu yang mempunyai faktor risiko tetapi belum menderita stroke

dengan cara melaksanakan gaya hidup sehat bebas stroke, antara lain:

a. Menghindari merokok, stres mental, alkohol, kegemukan, konsumsi garam

berlebihan, obat-obatan golongan amfetamin, kokain dan sejenisnya.

b. Mengurangi kolesterol, lemak dalam makanan seperti jerohan, daging

berlemak, goreng-gorengan.

c. Mengatur pola makan yang sehat seperti kacang-kacangan, susu dan

kalsium, ikan, serat, vitamin yang diperoleh dari makanan dan bukan

suplemen (vit C, E, B6, B12 dan beta karoten), teh hijau dan teh hitam serta

buah-buahan dan sayur-sayuran.

27
d. Mengendalikan faktor risiko stroke, seperti hipertensi, diabetes mellitus,

penyakit jantung dan lain-lain.

e. Menganjurkan konsumsi gizi yang seimbang dan berolahraga secara

teratur, minimal jalan kaki selama 30 menit, cukup istirahat dan check up

kesehatan secara teratur minimal 1 kali setahun bagi yang berumur 35

tahun dan 2 kali setahun bagi yang berumur di atas 60 tahun.

2.9.3. Pencegahan Sekunder

Untuk pencegahan sekunder, bagi mereka yang pernah mendapat stroke,

dianjurkan :

a. Hipertensi : diet, obat antihipertensi yang sesuai

b. Diabetes melitus : diet, obat hipoglikemik oral/ insulin

c. Penyakit jantung aritmik nonvalvular (antikoagulan oral)

d. Dislipidemia : diet rendah lemak dan obat antidislipidemia

e. Berhenti merokok

f. Hindari alkohol, kegemukan dan kurang gerak

g. Polisitemia

h. Asetosal (asam asetil salisilat) digunakan sebagai obat antiagregasi

trombosit pilihan pertama. Tiklopidin diberikan pada penderita yang tidak

tahan asetosal.

i. Antikoagulan oral diberikan pada penderita dengan faktor risiko penyakit

jantung dan kondisi koagulopati yang lain

j. Tindakan bedah lainnya.

28
2.9 Pencegahan Tertier

Meliputi program reshabilitasi penderita stroke yang diberikan setelah

terjadi stroke. Rehabilitasi meningkatkan kembali kemampuan fisik dan mental

dengan berbagai cara. Tujuan program rehabilitasi adalah memulihkan

independensi atau mengurangi ketergantungan sebanyak mungkin. Cakupan

program rehabilitasi stroke dan jumlah spesialis yang terlibat tergantung pada

dampak stroke atas pasien dan orang yang merawat.

29
BAB III
Kesimpulan

Definisi stroke berdasarkan WHO adalah suatu tanda klinis yang


berkembang secara cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-
gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan
kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular. Stroke
hemoragik adalah stroke yang terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum
mengalami ruptur sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subaraknoid atau
langsung ke dalam jaringan otak.
Dari keseluruhan kasus stroke, mortalitas dan morbiditas pada stroke
hemoragik lebih berat dari pada stroke iskemik. Dilaporkan hanya sekitar 20%
saja pasien yang mendapatkan kembali kemandirian fungsionalnya. Selain itu, ada
sekitar 40-80% yang akhirnya meninggal pada 30 hari pertama setelah serangan
dan sekitar 50% meninggal pada 48 jam pertama.
Beberapa gejala/tanda yang mengarah kepada diagnosis stroke antara lain
hemiparesis, gangguan sensorik satu sisi tubuh, hemianopia atau buta mendadak,
diplopia. Vertigo, afasia, disfagia, disartria, ataksia, kejang atau penurunan
kesadaran yang keseluruhannya terjadi secara mendadak. Diagnosis stroke
hemoragik dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
neurologis, dan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium, CT
scan, dan MRI.
Penatalaksanaan stroke hemoragik berbeda berdasarkan manifestasi
perdarahan yang terjadi. Pada stroke hemoragik dengan perdarahan intraserebral,
penatalaksanaan yang diberikan berupa terapi hemostatik, penghentian pemberian
antikoagulan, dan penatalaksanaan bedah bila terdapat indikasi. Pada stroke
hemoragik dengan perdarahan subarakhnoid, penatalaksanaan yang diberikan
berupa penatalaksanaan dini di ruang gawat darurat, pencegahan perdarahan
ulang, pencegahan vasospasme, pengobatan antifibrinolitik, antihipertensi,
hiponatremi, kejang, hidrosefalus, dan terapi tambahan berupa terapi simtomatik
dan terapi suportif.

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Kelompok Studi Stroke Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.


Guideline Stroke 2007. Edisi Revisi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia: Jakarta, 2007.

2. Nasissi, Denise. Hemorrhagic Stroke Emedicine. Medscape, 2010.


[diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/793821-overview]

3. Rohkamm, Reinhard. Color Atlas of Neurology. Edisi 2. BAB 3.


Neurological Syndrome. George Thieme Verlag: German, 2003.

4. Tsementzis, Sotirios. A Clinician’s Pocket Guide: Differential Diagnosis


in Neurology and Neurosurgery. George Thieme Verlag: New York, 2000.

5. Sjahrir H. Stroke Iskemik. Medan Yandira Agung. 2003. 1-3.

6. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan


Kesehatan Kemenkes 2010.

7. Misbach, Jusuf, dkk. 2006. Standar Pelayanan Medis dan Standar Prosedur
Operasional Neurologi. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia
(PERDOSSI).

8. Price As, Wilson Ml. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Volume II. Ed VI. Jakarta : ECG. 2003. T.1190-1194.

9. Mardjono, Mahar. 2009. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat. Hal:323-
324.

10. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI ) Jakarta, 2011;


ISBN 978-979-244277

31