Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

ALPHA FETOPROTEIN

DISUSUN OLEH :

Nama : Ribka Kefira


Nim : 20114037
Prodi : D-IV Analis Kesehatan
Semester : 5 (Lima)

PROGRAM STUDI D-IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Easa karena atas rahmat
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah, yang berjudul “Alpha Fetoprotein”.
Dalam pembuatan makalah ini, saya mengambil referensi yang ada di Internet maupun dari
buku.
Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada ibu “Dr. Hartati Tuna” selaku dosen mata
kuliah Kimia Klinik, dosen saya yang telah memberikan dukungan baik secara moral dan
materil. Seperti pepatah ”tak ada gading yang tak retak” saya menyadari dalam penyusunan
makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu saya mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari pembaca. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.

Kediri, 01 November 2016

Penulis
DAFTAR ISI

Kata pengantar......................................................................................................... i

Daftar isi .................................................................................................................. i

BAB 1 Pendahuluan ................................................................................................ 1

A. Latar belakang ............................................................................................ 1


B. Rumusan masalah ....................................................................................... 1
C. Tujuan .......................................................................................................... 1

BAB 2 ISI

A. Definisi organ hati ....................................................................................... 2


B. Definisi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hati merupakan organ pusat metabolisme. Hal ini didukung oleh letak anatomisnya.
Hati menerima pendarahan dari sirkukasi sistemik melalui arteri hepatika dan menampung
aliran darah dari sistem porta yang mengandung zat makanan yang diabsorbsi di usus. Karena
itu fungsi organ hati penting diketahui dalam menilai kesehatan seseorang (Winkel P,
1975;Pincus MR, 2007).

Adanya gangguan fungsi hati tidak selalu jelas dapat diketahui apabila tanpa
pemeriksaan UFH. Cukup sering adanya gangguan fungsi hati baru diketahui pada waktu
dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala atau sewaktu masuk asuransi atau penerimaan
karyawan(Pratt DS, 2000).Bila klinis memang sudah dapat diduga atau jelas adanya kelainan
hati maka pemeriksaan UFH juga penting dalam menilai beratnya gangguan, membedakan
jenis dan penyebab kelainan, serta memperkirakan perjalanan penyakit atau hasil pengobatan.
Kelainan hati dapat terjadi lokal sebagai pusat gangguan suatu penyakit atau merupakan
bagian dari penyakit sistemik atau sebagai efek samping dari pengobatan (Sherlock S, 2002).
Jadi pemeriksaan UFH dilakukan untuk penapisan yaitu mendeteksi adanya kelainan atau
penyakit hati, membantu menegakkan diagnosis, memperkirakan beratnya penyakit,
membantu mencari etiologi penyakit, menilai prognosis penyakit dan disfungsi hati, dan
menilai hasil pengobatan. Pemeriksaan UFH juga membantu mengarahkan upaya diagnostik
selanjutnya. (Sherlock, 2002; Dufour DR, 2000; Dufour DR, 2007; Fauci AS, 2008)

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud dengan organ hati?
b. Apa yang dimaksud dengan enzim?
c. Apa yang dimasud dengan enzim alpha fetoprotrein?
d. Apakah tujuan pemeriksaan alpha fetoprotein ?
e. Bagaimana interpretasi dan nilai rujukan alpha fetoprotein?

1.3 Manfaat

a. Untuk mengetahui definisi organ hati


b. Untuk mengetahui definisi dari enzim
c. Untuk mengetahui definisi dari enzim alpha fetoprotein
d. Untuk mengetahui tujuan pemeriksaan alpha fetoprotein
e. Untuk mengetahui interpretasi dan nilai rujukan alpha fetoprotein

BAB II

PENDAHULUAN

2.1 Dasar Teori

Hati merupakan organ pusat metabolisme. Hal ini didukung oleh letak anatomisnya.
Hati menerima pendarahan dari sirkukasi sistemik melalui arteri hepatika dan menampung
aliran darah dari sistem porta yang mengandung zat makanan yang diabsorbsi di usus.
Karena itu fungsi organ hati penting diketahui dalam menilai kesehatan seseorang (Winkel
P, 1975;Pincus MR, 2007).

Adanya gangguan fungsi hati tidak selalu jelas dapat diketahui apabila tanpa
pemeriksaan TFH. Cukup sering adanya gangguan fungsi hati baru diketahui pada waktu
dilakukan pemeriksaan kesehatan berkala atau sewaktu masuk asuransi atau penerimaan
karyawan(Pratt DS, 2000). Bila klinis memang sudah dapat diduga atau jelas adanya
kelainan hati maka pemeriksaan UFH juga penting dalam menilai beratnya gangguan,
membedakan jenis dan penyebab kelainan, serta memperkirakan perjalanan penyakit atau
hasil pengobatan. Kelainan hati dapat terjadi lokal sebagai pusat gangguan suatu penyakit
atau merupakan bagian dari penyakit sistemik atau sebagai efek samping dari pengobatan.
(Sherlock S, 2002)
Hati adalah organ terbesar di dalam tubuh yang terletak disebelah kanan atas
rongga perut, tepat dibawah diafragma (sekat yang membatasi daerah dada dan perut).
Bentuk hati seperti prisma segitiga dengan sudut siku-sikunya membulat, beratnya sekitar
1,25-1,5 kg dengan berat jenis 1,05. Ukuran hati pada wanita lebih kecil dibandingkan pria
dan semakin kecil pada orang tua, tetapi tidak berarti fungsinya berkurang. Hati
mempunyai kapasitas cadangan yang besar dan kemampuan untuk regenerasi yang besar
pula. Jaringan hati dapat diambil sampai tiga perempat bagian dan sisanya akan tumbuh
kembali sampai ke ukuran dan bentuk yang normal. Jika hati yang rusak hanya sebagian
kecil, belum menimbulkan gangguan yang berarti (Wijayakusuma, 2008).
Kapiler empedu dan kapiler darah di dalam hati saling terpisah oleh deretan sel-sel
hati sehingga darah dan empedu tidak pernah tercampur. Namun, jika hati terkena infeksi
virus seperti hepatitis, sel-sel hati bisa pecah dan akibatnya darah dan empedu bercampur
(Wijayakusuma, 2008). Hati berfungsi sebagai faktor biokimia utama dalam tubuh, tempat
metabolisme kebanyakan zat antara. Fungsi hati normal harus dikonfirmasi sebelum
operasi terencana (Sabiston, 1992).
Pemeriksaan UFH dilakukan untuk penapisan yaitu mendeteksi adanya kelainan atau
penyakit hati, membantu menegakkan diagnosis, memperkirakan beratnya penyakit,
membantu mencari etiologi penyakit, menilai prognosis penyakit dan disfungsi hati, dan
menilai hasil pengobatan. Pemeriksaan UFH juga membantu mengarahkan upaya
diagnostik selanjutnya. (Sherlock, 2002; Dufour DR, 2000; Dufour DR, 2007; Fauci AS,
2008).Fungsi hati banyak jenisnya, mengenai metabolisme hampir semua zat makanan,
yaitu karbohidrat, protein, lipid, vitamin, mineral dan hormon. Karena itu banyak jenis
pemeriksaan yang berkaitan dengan metabolisme hati yang semuanya termasuk UFH. Di
samping itu UFH juga mencakup pemeriksaan zat-zat yang tidak terkait dengan
metabolisme hati tetapi menunjukkan adanya kelainan atau kerusakan hati. Hati juga
berperan dalam metabolisme obat-obatan (LeeWM, 2003;Dufour DR,2000).

Fungsi hati dapat dibedakan dalam fungsi sintesis [glikogenesis, albumin, α dan ß-
globulin, faktor-faktor koagulasi, fosfolipid, kolesterol, trigliserida, apolipoprotein,
lipoprotein, enzim lecithinecholesterolacyl transferase (LCAT), asam empedu], ekskresi
[kolesterol, asam empedu, garam empedu, bilirubin, obat-obatan], detoksifikasi (amoniak,
bilirubin), penyimpanan (vitamin A , D & B12, mineral Fe dan Cu), filtrasi fagositosis (zat
toksik dan bakteri oleh sel Kupffer), dan katabolisme (hormon estrogen, obat-obatan).
(Dufour DR, 2000;Pincus MR, 2007)
Berdasarkan fungsi hati maka dikenal UFH untuk masing-masing fungsi tersebut.
Untuk uji fungsi sintesis dikenal kadar albumin serum, elektroforesis protein serum, aktivitas
enzim kolinesterase (cholinesterase) dan uji masa protrombin dengan respons terhadap
vitamin K. Bila ada gangguan fungsi sintesis sel hati maka kadar albumin serum akan
menurun (hipoalbuminemia), yang lebih jelas bila lesi luas dan kronis; pada elektroforesis
dapat dilihat fraksi albumin menurun sehingga rasio A/G menjadi terbalik (dari albumin yang
lebih banyak menjadi globulin yang lebih banyak, juga dapat dilihat apakah terdapat pola
hiperglobulinemia poliklonal); aktivitas enzim kolinesterase menurun, faktor-faktor koagulasi
menurun terutama yang melalui jalur ekstrinsik sehingga masa protrombin akan memanjang,
yang tidak dapat menjadi normal walaupun diberikan vitamin K dengan suntikan. (Sherlock
S, 2002 Dufour DR, 2005)

Untuk uji fungsi ekskresi dikenal kadar bilirubin serum, dibedakan bilirubin total,
bilirubin direk (conjugated) dan bilirubin indirek (unconjugated), bilirubin urin, serta produk
turunannya seperti urobilonogen dan urobilin dalam urin, sterkobilinogen dan sterkobilin
dalam tinja, serta kadar asam empedu serum. Bila ada gangguan fungsi ekskresi maka kadar
bilirubin total serum meningkat terutama bilirubin direk, bilirubin urin mungkin positif,
sedangkan urobilinogen dan urobilin serta sterkobilinogen dan sterkobilin mungkin menurun
sampai tidak terdeteksi. Kadar asam empedu meningkat, lebih jelas pada pasca makan
(postprandial). (Sherlock S, 2002 Dufour DR, 2006).Untuk fungsi detoksifikasi ada kadar
amoniak. Bila ada gangguan fungsi maka kadar amoniak meningkat karena kegagalan
mengubahnya menjadi ureum, kadar yang tinggi mungkin menyebabkan gangguan
kesadaran, yaitu ensefalopati atau koma hepatik. (Sherlock S, 2002; Fauci AS, 2008)

Terdapat pula pengukuran aktivitas beberapa enzim. Dalam hal ini enzim-enzim
tersebut tidak diperiksa fungsinya dalam proses metabolisme di hati tetapi aktivitasnya dalam
darah (serum) dapat menunjukkan adanya kelainan hati tertentu. Meskipun bukan uji fungsi
hati yang sebenarnya pengukuran aktivitas enzim-enzim tersebut tetap diakui sebagai UFH.
Aktivitas enzim alanin transaminase (ALT) atau nama lama serum glutamate pyruvate
transferase (SGPT) dan enzim aspartate transaminase (AST) atau nama lama serum glutamate
oxaloacetate transferase (SGOT) meningkat bila ada perubahan permeabilitas atau kerusakan
dinding sel hati, sebagai penanda ganguan integritas sel hati (hepatoselular). Aktivitas enzim
fosfatase alkali (alkaline phosphatase = ALP) dan ß-glutamil transferase (GGT) meningkat
pada kolestasis. Beberapa antibodi dan protein dapat menjadi penanda faktor etiologi
penyakit hati tertentu. Contohnya otoantibodi untuk penyakit hati otoimun, misalnya
antinuclear antibody (ANA) terutama pada hepatitis otoimun kronis, anti-smooth muscle
antibodies (SMA) pada penyakit otoimun kronis, sirosis biliaris primer dan antimitochondrial
antibody(AMA) pada sirosis hati, hepatitis otoimun kronis, dan sirosis biliaris primer. (Fauci
AS, 2008)

B. Enzim
Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis (senyawa
yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia organik.
Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain yang
disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu kondisi/zat, yang
disebut promoter. Semua proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung
dengan cukup cepat dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormon
sebagai promoter.

Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan
senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi aktivasi
lebih rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia dengan energi
aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama.

C.Alpha-fetoprotein

Alfafetoprotein (AFP), suatu protein pada masa janin (fetus) yang kadarnya dalam
darah menurun segera setelah lahir tetapi mungkin meningkat kembali pada beberapa
penyakit hati seperti hepatitis akut, kronis dan juga pada masa pemulihan, terutama
meningkat sekali pada karsinoma primer hati (hepatoma).

Terkait dengan infeksi virus hepatitis maka bagian dari virus hepatitis sebagai
antigen dan antibodi yang dibentuk dapat menjadi penanda untuk etiologi. Dikenal penanda
serologik virus hepatitis A (anti-HAV (total / IgG / IgM), virus hepatitis B (HBsAg, HBeAg,
anti-HBs, anti-HBe, anti-HBc (IgM / gG), HBV-DNA) virus hepatitis C (anti-HCV (total /
IgM), HCV-RNA), virus hepatitis E (anti-VHE (IgM / IgG / total) dan masih ada yang lain.
(Sherlock S, 2002 Fauci AS, 2008)

Alpha-fetoprotein (AFP α -fetoprotein, alpha-1-fetoprotein, alpha-fetoglobulin,


atau alpha fetal protein) adalah suatu protein yang pada kondisi normal diproduksi oleh hati
(liver) dan kantung kuning telur ( yolk sac) ketika terjadi pembentukan bayi selama proses
kehamilan. Pengukuran AFP di dalam tubuh manusia umumnya dilakukan untuk membantu
mendeteksi adanya kelainan atau penyakit hati, pemantauan terapi atau pengobatan beberapa
jenis kanker, dan juga uji saring kelainan pada perkembangan bayi selama masa kehamilan.

Pengukuran kadar AFP memiliki manfaat besar sebagai indeks kekambuhan


penyakit. Pada pasien karsinoma hepatoselular yang diterapi, hilangnya AFP mengisyaratkan
eliminasi sel-sel ganas, dan peningkatan kadar mencerminkan rekurensi kanker. Setelah
intervensi terapeutik, pengukuran AFP sebaiknya diulang setiap satu bulan untuk
memberikan waktu agar AFP yang sudah ada dapat dibersihkan dari sirkulasi. Menetapnya
AFP setelah interval tersebut mengisyaratkan sintesis yang berkelanjutan oleh tumor , karena
kadar AFP serum proporsional dengan massa tumor. Penderita dengan sirosis atau hepatitis B
kronis, sebaiknya dimonitor AFP nya secara reguler karena mempunyai resiko menjadi
kanker hati . Jika penderita sudah terdiagnosa sebagai kanker hepato seluler AFP harus
diperiksa secara periodik untuk membantu mengetahui respon terapinya. Disamping berperan
sebagai suatu petanda yang bermanfaat untuk kanker hati, AFP juga berperan sebagai
petanda adanya kanker testikular, dan tumor-tumor sel germinal tertentu pada ovarium. AFP
juga meningkat pada penyakit hati jinak dan dalam persentase yang kecil dari kanker paru
dan gastrointestinal.

Jenis – jenis AFP :

a. AFP pada kehamilan

Protein ini mulai terbentuk di plasma saat janin (fetus) berusia empat minggu dan
dihasilkan paling banyak pada usia kandungan mencapai 12-16 minggu. Setelah melahirkan,
AFP umumnya tidak terdeteksi di dalam darah. Untuk membantu memperkirakan adanya
kelainan pada janin, seperti sindrom down (kelainan genetik), sindrom turner, dan spina
bifida, pemeriksaan AFP biasanya dilakukan terhadap wanita dengan usia kandungan 16-22
minggu. Jumlah AFP di dalam darah juga dapat meningkat bila pasien sedang mengandung
bayi kembar. Umumnya, pemeriksaan AFP juga harus dilengkapi dengan pemeriksaan
hormon estriol dan HCG, serta pemeriksaan USG (ultrasonografi).

a. AFP pada kanker

Pada pasien penderita kanker testis, kanker pankreas, kanker hati, kanker ovarium,
dan kanker saluran empedu, kadar AFP di dalam tubuh pasien akan meningkat. Selain kanker
atau tumor, kadar AFP yang meningkat di dalam darah juga dapat disebabkan oleh beberapa
penyakit sebagai berikut : infeksi virus hepatitis dan sirosis hati. Pemeriksaan AFP tidak
boleh dilakukan pada populasi umum, tetapi sebaiknya hanya dilakukan bila ada gejala atau
hasil pemeriksaan lain menunjang kecurigaan ke arah kanker tertentu. Sebagai penanda
tumor, AFP bukanlah protein yang spesifik terhadap keganasan penyakit tertentu dan nilanya
dapat berbeda apabila diukur dengan metode yang berbeda antarlaboratorium. Oleh karena itu
diperlukan pendampingan dokter dalam menerjemahkan hasil AFP pasien.

Pemeriksaan AFP (Alpha-fetoprotein) dilakukan dengan


menggunakanChemiluminescent Microparticle Immunoassay (CMIA) dengan menggunakan
sampel uji berupa serum atau plasma dengan antikoagulan sodium heparin, lithium heparin
atau EDTA.

Sampel uji berupa serum atau plasma tersebut dapat bertahan 7 hari pada suhu 2-
800C atau bisa lebih dari 7 hari apabila dibekukan pada suhu -200C atau lebih rendah.
Sebelum melakukan pemeriksaan tidak ada persiapan khusus untuk pasien.

 Interpretasi Hasil

Kadar normal dari AFP adalah di bawah 10 ng/ml. Kenaikan sedang sampai 500
ng/ml dapat terjadi pada penderita hepatitis kronik. Sedangkan kadar di atas 500 ng/ml hanya
terdapat pada :

1. Kanker hati
2. Kanker testis dan ovarium
3. Proses penyebaran kanker yang telah mencapai hati
 Hal-hal yang dapat mempengaruhi hasil tes :
1. Kontaminasi dari darah fetus,yang dapat terjadi saat ammiocentesis.
2. Perokok.
3. Gestational diabetes.
4. Jika pernah melakukan tes medis yang menggunakan radio aktif dalam
waktu 2 minggu sebelumnya.
 Keadaan abnormal yang sering dijumpai :
o Peningkatan kadar serum AFP maternal dijumpai pada :
1. Neural tube defects ( omphalocele )
2. Kehamilan multiple
3. Fetal distress
4. Fetal death
o Kadar AFP maternal yang rendah :
1. Trisomy 21 ( Down syndrome )
o Peningkatan kadar AFP non maternal dijumpai pada :
1. Kanker hepatoselular primer ( hepatoma )
2. Adanya metastase kanker di hati
3. Kanker sel germinal atau yolk sac dari ovarium
4. Tumor sel embrional atau sel germinal dari testis
5. Kanker lain seperti : stomach, colon, lung, breast dan lymphoma
6. Nekrosis sel hati ( sirhosis, hepatitis )
 Nilai rujukan
Kadar normal dari AFP adalah di bawah 10 ng/ml. Kenaikan sedang sampai 500
ng/ml dapat terjadi pada penderita hepatitis kronik. Sedangkan kadar di atas 500
ng/ml hanya terdapat pada :
a. Kanker hati.
b. Kanker testis dan ovarium.
c. Proses penyebaran kanker yang telah mencapai hati.
BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Hati merupakan organ pusat metabolisme. Hal ini didukung oleh letak anatomisnya.
Hati menerima pendarahan dari sirkukasi sistemik melalui arteri hepatika dan menampung
aliran darah dari sistem porta yang mengandung zat makanan yang diabsorbsi di usus. Karena
itu fungsi organ hati penting diketahui dalam menilai kesehatan seseorang dan pemeriksaan
UFH dilakukan untuk penapisan yaitu mendeteksi adanya kelainan atau penyakit hati,
membantu menegakkan diagnosis, memperkirakan beratnya penyakit, membantu mencari
etiologi penyakit, menilai prognosis penyakit dan disfungsi hati, dan menilai hasil
pengobatan. Pemeriksaan UFH juga membantu mengarahkan upaya diagnostik selanjutnya.

Secara umum enzim berfungsi sebagai katalis dan memiliki peranan penting dalam
reaksi metabolisme, yaitu sebagai biokatalisator dan modulator. Untuk dapat bekerja pada
suatu zat atau substrat harus ada hubungan atau kontak antara enzim dengan substrat
(kompleks enzim-substrat).

Alfafetoprotein (AFP), suatu protein pada masa janin (fetus) yang kadarnya dalam
darah menurun segera setelah lahir tetapi mungkin meningkat kembali pada beberapa
penyakit hati seperti hepatitis akut, kronis dan juga pada masa pemulihan, terutama
meningkat sekali pada karsinoma primer hati (hepatoma).

3.2 Saran
Sebaiknya kita harus menjaga pola hidup yang sehat .

DAFTAR PUSTAKA

Dufour DR.2002.Liver disease. Dalam: Burtis CA, Ashwood ER, Bruns DE (eds). Tietz
Textbook of Clinical Chemistry and Molecular Diagnostocs. 4th ed, St Louis: Elsevier

Saunders, 2006 p 1777-827

Fauci AS, Kasper DL Longo DS, Braunwald E, Hauser SL, JL Jameson, Loscalzo J

(eds)2008. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17th ed. e-Book New York:

McGraw-Hill Chapter 296-296.

Lee WM. 2003.Induced hepatotoxicity. N Engl J Med;349:474-85.

Pratt DS, Kaplan MM.2002.Evaluation of abnormal liver-enzyme results in asymptomatic

patients. N Engl J Med.342:1266-71.

P, Ramsoe K, Lyngbye J, Tygstrup N.2007.Diagnostic value of routine liver tests. Clin.

Chem 1975; 21/1,:71-5.

Sabiston. 1992. Buku Ajar Bedah. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Sherlock S, Dooley J.2002. Diseases of the Liver and Biliary System. 11th ed. Oxford:

Blackwell Science Ltd. 2002 p 1-35.

Wijayakusuma, Hembing. 2008. Tumpas Hepatitis dengan Ramuan Herbal. Pustaka Bunda.
Jakarta.