Anda di halaman 1dari 26

STANDAR PROFESI

PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN

Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia


Tahun 2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, atas karuniaNYA standar profesi Promotor
dan Pendidik Kesehatan ini dapat diselesaikan.

Rangkaian pertemuan sejak tahun 2008, kemudian pada Musyawarah Nasional Perkumpulan
PPKMI tanggal 22-25 November 2009, diskusi pakar Promosi Kesehatan pada akhir Desember
2009, dan upaya penyempurnaan dari Kolegium promosi Kesehatan dengan Perkumpulan
PPKMI serta upaya-upaya yang difasilitasi Pusat Standarisasi, Sertifikasi dan Pendidikan
Berkelanjutan SDMK-BPPSDMK Kementerian Kesehatan RI merupakan proses yang panjang
dalam menyusun standar profesi dan kode etik Promotor dan Pendidik Kesehatan ini. Hal ini
tiada lain sebagai upaya untuk mewujudkan profesionalisme Promotor dan Pendidik Kesehatan.

Promotor dan Pendidik Kesehatan sebagai profesi, memperoleh pengetahuan dan keterampilan
melalui suatu program pendidikan tinggi. di dalam menjalankan tugas keprofesiannya dijiwai
dan dilandasi oleh kode etik profesi yang telah ditetapkan oleh organisasi profesinya.

Standar profesi ini terdiri dari standar kompetensi dan kode etik Promotor dan Pendidik
Kesehatan, disusun dengan maksud agar menjadi acuan bagi Tenaga Promotor dan Pendidik
Kesehatan dan Pemangku Kepentingan dalam berperan aktif, terarah dan terpadu dalam
pembangunan kesehatan.

Terimakasih atas kerja keras dari semua pihak yang telah bekerjasama menyusun Standar
Profesi ini terutama peran aktif dari Kolegium Promosi Kesehatan, Pengurus Perkumpulan
PPKMI Pusat dan Cabang. Terimakasih pula atas fasilitasi dari Pusat Standarisasi, Sertifikasi
dan Pendidikan Berkelanjutan SDMK-BPPSDMK Kementerian Kesehatan RI juga kerjasama
Forum Komunikasi Organisasi Profesi Kesehatan Indonesia (FOPKI). Semoga Standar Profesi
ini bermanfaat bagi profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan serta Pemangku Kepentingan
terkait, sehingga Promotor dan Pendidik Kesehatan dapat berdedikasi dalam pembangunan
kesehatan di Indonesia dengan kualitas esensial, jujur, penuh integritas dan professional.

Jakarta, 10 Oktober 2011

Ketua Umum
Perkumpulan PPKMI

Ismoyowati, SKM, MKes

2
BERITA ACARA
Pada hari ini, Senin tanggal 10 Oktober 2011 kami yang bertanda tangan dibawah ini
menyatakan bahwa Standar Profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan telah selesai kami susun,
agar dapat di gunakan sebagai acuan oleh Promotor dan Pendidik Kesehatan serta Pemangku
Kepentingan terkait untuk berperan aktif dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Jakarta, 10 Oktober 2011

Ketua Umum Ketua


Perkumpulan Promotor dan Kolegium
Pendidik Kesehatan Masyarakat, Promosi Kesehatan,

Ismoyowati, SKM, MKes. DR.dr Ridwan Thaha,MKes

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………… i

BERITA ACARA……………………………………………………………………………… ii

DAFTAR ISI..…………………………………………………………………………………. .iii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................................2

A. LATAR BELAKANG........................................................................................................................2

B. TUJUAN...............................................................................................................................................3

C. PENGERTIAN....................................................................................................................................4

D. LANDASAN HUKUM…..……………….. ………………………………………………....9.

BAB II STANDAR KOMPETENSI.................................................................................................11

A. FALSAFAH DAN TUJUAN...........................................................................................................11

B. PERAN DAN FUNGSI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN .................................12

C. AREA KOMPETENSI.....................................................................................................................13

D. UNIT KOMPETENSI DIKAITKAN DENGAN JENJANG PENDIDIKAN..........................14

BAB III KODE ETIK PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN...................................19

A. PEMBUKAAN..................................................................................................................................19

B. KEWAJIBAN UMUM......................................................................................................................19

C. KEWAJIBAN TERHADAP MASYARAKAT...............................................................................20

D. KEWAJIBAN TERHADAP SESAMA PROFESI.........................................................................21

E. KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI LAIN................................................................................22

F. KEWAJIBAN TERHADAP PROFESINYA...................................................................................22

G. KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI.................................................................................23

H. PENUTUP..........................................................................................................................................24

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page ii


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pembangunan Kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai
investasi bagi pembangunan sumberdaya manusia yang produktif secara sosial dan
ekonomis. Untuk mencapai tujuan tersebut Pemerintah telah menetapkan visi Masyarakat
Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan.

Untuk mencapai visi tersebut sangat memerlukan upaya promosi kesehatan (promkes)
melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Berbagai kegiatan di masyarakat
kemudian dicanangkan sebagai implementasi dari kebijakan tersebut seperti Desa Siaga
Aktif yang merupakan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).

Untuk dapat melakukan upaya promosi kesehatan baik di Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, di Kementerian Kesehatan maupun
Unit-unit Kerja lainnya, dibutuhkan profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan. Diharapkan
tenaga atau sumber daya manusia promosi kesehatan ini mampu menggerakkan dan
merangsang adanya perubahan perilaku maupun perubahan lingkungan menuju perilaku
dan lingkungan yang sehat.

Dengan ketrampilan spesifik yang komprehensif, dan kualifikasi resmi dari organisasi
profesinya yaitu, Perkumpulan Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia
(Perkumpulan PPKMI), maka tenaga Promotor dan Pendidik Kesehatan ini akan dapat
menjadi agen perubah yang professional, tiada henti menajamkan dan membaharui
ketrampilannya, serta bekerja sesuai dengan etika profesinya.

Organisasi profesi dari para Promotor dan Pendidik Kesehatan di Indonesia adalah
Perkumpulan PPKMI dengan jaringan internasionalnya yaitu International Union Health
Promotion and Health Education (IUHPE). Promotor dan Pendidik Kesehatan merupakan
profesi dalam rumpun ilmu kesehatan masyarakat yang organisasinya disebut Ikatan Ahli
Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). IAKMI telah membentuk Majelis Kolegium,
pada pertemuan tanggal 9-10 Mei 2008 di Jakarta. yang terdiri dari 8 kolegium, salah
satunya adalah Kolegium Promosi Kesehatan.

Kewenangan Kolegium Promosi Kesehatan adalah:


1. Mengembangkan dan menetapkan program pendidikan dan area pengajaran atas dasar
keilmuan dan kebutuhan pemangku kepentingan yang terkait.
2. Merencanakan dan melaksanakan ujian seleksi kepada mereka yang ingin
mendapatkan sertifikasi promotor dan pendidik kesehatan.
STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page iii
3. Melakukan akreditasi terhadap institusi yang menyelenggarakan pendidikan profesi
promotor dan pendidik kesehatan.
4. Membentuk organisasi profesi; untuk kewenangan ini, telah berdiri Perkumpulan
Promotor dan Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (Perkumpulan PPKMI) sejak
tahun 1988.
5. Menetapkan sebutan profesi; untuk kewenangan ini, sebutan profesi yang digunakan
adalah Promotor dan Pendidik Kesehatan.
6. Memilih dan menetapkan institusi yang menyelenggarakan pendidikan profesi.

Promosi Kesehatan mempunyai batang tubuh ilmu sehingga dapat dikembangkan standar
kompetensi yang kemudian digunakan sebagai dasar pengembangan standar pendidikan.
Dengan demikian para Promotor dan Pendidik Kesehatan mempunyai kewenangan untuk
melakukan pelayanan promosi kesehatan.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum

Standar Profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan menjadi acuan bagi Promotor dan
Pendidik Kesehatan dan Lembaga/Institusi terkait untuk berperan aktif dalam
pembangunan kesehatan di Indonesia.

2. Tujuan Khusus

a. Standar Profesi Promotor Kesehatan menjadi acuan bagi Promotor dan Pendidik
Kesehatan dalam bekerja, menjalankan profesinya sesuai peran, fungsi dan
kompetensinya.

b. Standar Profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan menjadi acuan bagi


Lembaga/Institusi Pendidikan/Perguruan Tinggi untuk menghasilkan Promotor dan
Pendidik Kesehatan yang melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan peran, fungsi
dan kompetensinya.

c. Standar Profesi Promotor Kesehatan menjadi acuan bagi Kolegium Promosi


Kesehatan untuk melakukan ujian kompetensi kepada calon Promotor dan Pendidik
Kesehatan dan merupakan salah satu acuan dalam mengembangkan peningkatan
karir bagi Promotor dan Pendidik Kesehatan.

C. PENGERTIAN
1. Definisi

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page iv


Definisi promosi kesehatan (promkes) oleh WHO, adalah “suatu proses
memberdayaan individu dan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatannya” (the process of enabling individuals and communities to increase
control over the determinants of health and thereby improve their health).
Kemudian dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1193/Menkes/SK/X/2004
tentang Kebijakan Nasional Promkes,yang menyatakan bahwa promkes adalah
“Upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran
dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya
sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat,
sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan”.

Promotor dan Pendidik Kesehatan adalah Pekerja/Sumber Daya Manusia Promkes


termasuk didalamnya adalah Pejabat Fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat baik
yang Terampil maupun Ahli, yang menjalankan tugas-tugasnya berdasarkan
pendidikan/ketrampilan spesifik yang komprehensif dan memiliki sertifikasi resmi
dari Organisasi Profesi Perkumpulan PPKMI tiada henti menajamkan dan
membaharui ketrampilannya, dan yang bekerja sesuai dengan etika profesinya.

2. Ruang Lingkup Profesi


Ruang lingkup kegiatan profesi adalah :
a. Menciptakan lingkungan dan suasana yang kondusif untuk mendukung promosi
Kesehatan.
b. Menggalang kemitraan berdasarkan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan saling
memberi manfaat.
c. Meningkatkan ketrampilan dengan memberikan pelatihan di bidang promosi
kesehatan.
d. Mendorong dan memperkuat gerakan di masyarakat.
e. Memperjuangkan kebijakan yang mendukung kesehatan.
f. Re-orientasi pelayanan kesehatan dengan melakukan pengkajian/penelitian
perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan.

3. Penjejangan Pendidikan dan Kualifikasinya


Penjejangan yang disusun berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional dari Direktorat
Jenderal Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional dan
Kementerian Kesehatan dalam mengikuti globalisasi pendidikan. Dalam kerangka ini
maka kompetensi lulusan dapat dibandingkan dengan negara lain sehingga lulusan
dapat mengidentifikasikan perjalanan kariernya dengan jelas.

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, atau disingkat KKNI, adalah kerangka


penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan
STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page v
mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta
pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai
dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor. Dengan demikian KKNI tidak hanya
mengatur pendidikan akademik saja namun juga bidang pelatihan kerja dan
pengalaman kerja dan pembelajaran mandiri. Dengan demikian KKNI merupakan
perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan dan
pelatihan nasional yang dimiliki Indonesia

Dalam KKNI disusun sembilan jenjang kompetensi, dimana jenjang kualifikasi


merupakan tingkat capaian pembelajaran yang disepakati secara nasional, disusun
berdasarkan ukuran hasil pendidikan dan atau pelatihan yang diperoleh melalui
pendidikan formal, non formal, informal, atau pengalaman kerja.

Kerangka kualifikasi ini mengatur kompetensi dari: program akademik, program


vokasi, program profesi dan pengembangan karir berbasis pelatihan kerja dan
pengembangan karir berbasis pengalaman. Kerangka ini memberikan kesempatan
untuk lintas program, mengatur penjenjangan program akademik, program vokasi
dan program profesi beserta persyaratan lintas programnya. Dengan kesetaraan
kompetensi ini sesuai dengan KKNI maka diharapkan lulusan kesehatan masyarakat
siap untuk menyongsong terlaksananya globalisasi pendidikan.

Agar sumber daya manusia Indonesia dapat disandingkan secara Internasional, maka
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Nasional Republik Indonesia menyusun panduan kerangka kualifikasi nasional sesuai
dengan kompetensinya. Gambar di bawah ini mendeskripsikan penjenjangan generik
dari berbagai ilmu. Sesuai yang disampaikan oleh Direktorat Jendral Perguruan Tinggi.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page vi


Gambar 1.1 Jenjang Kompetensi dari Berbagai Cara

Dalam KKNI, pengembangan kemampuan dapat dilakukan melalui berbagai cara,


seperti misalnya pengembangan kemampuan berbasis pelatihan kerja dan
pengembangan kemampuan berbasis pengalaman. Secara terstruktur pengembangan
kemampuan dapat dilakukan melalui tiga jenis program pendidikan, yaitu program
akademik, program vokasi dan program profesi.

Standar Profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan ini hanya akan membahas
jenjang pendidikan dan profesi yang dihasilkan dari pendidikan saja mulai dari jenjang
DIII hingga SIII. Jika disetarakan dengan tenaga kerja, maka DIII setara dengan level
5, S1 setara dengan level 6, sedangkan untuk profesi maka akan setara dengan
tenaga level 7 dan magister terapan tenaga ahli SII jenjang 8 untuk doktoral setara
dengan level 9.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page vii


Dalam rangka menyiapkan tenaga profesional yang kompetitif untuk menghadapi
persaingan di pasar kerja global dalam bidang kesehatan serta untuk memenuhi
kebutuhan jabatan fungsional, Perkumpulan PPKMI sebagai organisasi profesi,
berkewajiban melakukan serangkaian upaya untuk memenuhi tuntutan tersebut.
Upaya yang dilakukan adalah melakukan beragam kajian dalam mengembangkan
pendidikan profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan.

Untuk Program Akademik inputnya adalah lulusan dari SMU atau SMK yang
kemudian mendaftar ke tingkat universitas di Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Lulusan ini disebut sebagai Sarjana Kesehatan Masyarakat. Promosi Kesehatan
merupakan salah satu dari peminatan atau konsentrasi yang dipilih mahasiswa FKM.
Input lain adalah dari program Vokasi kesehatan dimana transkip lulusan dikaji dan
kemudian disetarakan. Mata ajaran yang tidak diberikan di DIII nya harus diambil.
Selanjutnya, mahasiswa dapat melanjutkan ke jenjang profesi dengan melewati masa
studi satu tahun, atau dua tahun untuk mencapai gelar Master atau setingkat dengan
S2 dan melanjutkan ke S3.

Untuk Program Vokasi, inputnya adalah lulusan dari SMK atau SMU yang kemudian
mendaftarkan diri ke DIII Promosi Kesehatan. Pendidikan ini memberikan bekal
dasar promosi kesehatan sehingga peserta dapat melaksakan tugas dan fungsinya
secara maksimal. Agar lulusan DIII dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih
tinggi, maka kurikulum Pendidikan yang berada dibawah Kementerian Kesehatan
harus diselaraskan dengan kurikulum di Universitas. Standar profesi ini merupakan
pegangan agar kedua penyelenggara pendidikan ini selaras.

Untuk Program Profesi, inputnya adalah SKM dimana SKM dengan peminatan
Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku atau Promosi Kesehatan mendapatkan satu
tahun praktikum kerja lapangan sehingga mereka siap menjadi manajer program
promosi kesehatan. Input lain dapat pula berasal dari DIII promosi kesehatan, dimana
peserta telah mendapatkan dasar-dasar kesehatan dan dasar promosi kesehatan. Untuk
itu dilakukan matrikulasi atau ujian penyetaraan untuk mengukur kompetensi yang
telah mereka miliki dari pendidikan sebelumnya.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page viii


S3 DOKTOR
9
S2 AHLI AHLI

Bridging
8
program
PROFESI
7
S1
6 TEKNISI/ TEKNISI/
ANALIS ANALIS
Martikulasi DIII 5
4
3
SMU SMK OPERATOR OPERATOR
2
1

Gambar 1.2 Jenjang Kompetensi Promotor dan Pendidik Kesehatan

4. Gambaran Singkat Organisasi Profesi Perkumpulan PPKMI


Perkumpulan Promosi dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat Indonesia merupakan
organisasi profesi yang menaungi Promotor dan Pendidik Kesehatan di Indonesia Lahir 14
Februari 1988, berazaskan Pancasila dan UUD 1945 dengan pengesahan Akte Notaris Eko
Hari Poernomo, SH No. 3, 1 Agustus 2003.

Adapun Visi PPPKMI adalah Menjadi organisasi Promotor dan Pendidik Kesehatan
Profesional yang tanggap terhadap tantangan pembangunan kesehatan nasional dan global.
Dengan Misi sebagai berikut:
• Menggerakkan pembangunan Indonesia Sehat berbasis perilaku.
• Melakukan penelitian dan pengembangan program, serta tukar menukar dan
pendayagunaan informasi iptek di bidang promosi dan pendidikan kesehatan dalam
skala lokal, nasional dan global.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page ix


• Menggerakkan peningkatan Promotor dan Pendidik Kesehatan berkaitan dengan
penataan/pengaturan dan pembinaannya baik secara kuantitas maupun kualitas.
• Meningkatkan kemitraan dan kerjasama dengan berbagai pihak, baik lokal, nasional
maupun global dalam rangka mempromosikan perilaku sehat.

Tujuan dari Perkumpulan PPKMI adalah:


1. Melestarikan profesi promotor dan pendidik kesehatan masyarakat Indonesia
2. Mengembangkan, mempraktekkan, mendayagunakan ilmu dan seni promosi kesehatan
serta keterampilan profesi dalam program pembangunan Indonesia Sehat berbasis
perilaku.
3. Meningkatkan kapasitas promosi kesehatan utamanya kapasitas SDM Promkes
Profesional
4. Melakukan pembinaan kehidupan profesi, integritas moral dan etika profesi serta
melindungi dan memperjuangkan kepentingan anggota dan profesi
5. Menggalang kemitraan baik dengan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah,
antar Profesi Kesehatan, LSM,Swasta, Media massa serta mengembangkan jejaring
nasional, regional dan global.

D. LANDASAN HUKUM

1. Undang-Undang RI Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan


2. Undang-Undang RI Nomor 13 dan 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
3. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
4. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
5. PP No. 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan: Pasal 85,
86, Pasal 98 ayat 2 point a, ayat 4 dan 5
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1193/Menkes/SK/X/2004 tentamg Kebijakan
Nasional Promkes, Jakarta, 2004
7. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1114/Menkes/SK/VIII/2005 tentamg Pedoman
Pelaksanaan Promkes di Daerah, Jakarta, 2005
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1126/Menkes/SK/XII/2006 tentang Petunjuk
Teknis Promkes Rumah Sakit, Jakarta, 2006
9. Sistem Kesehatan Nasional, 2009
10. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan 2005-2025
11. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014
12. Peraturan Menteri Kesehatan R.I. Nomor 161/MENKES/PER/I/2010 tentang Registrasi
Tenaga Kesehatan, Jakarta 2010
13. Keputusan Menteri Kesehatan R.I Nomor 267/MENKES/SK/II/2010 Tentang Penetapan
Roadmap Reformasi Kesehatan Masyarakat, Jakarta, 2010
STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page x
STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page xi
BAB II
STANDAR KOMPETENSI

A. Falsafah dan Tujuan


Sejalan dengan tujuan pembangunan kesehatan yaitu menciptakan masyarakat yang
mandiri untuk hidup sehat maka Perkumpulan PPKMI selalu berpijak pada filosofi bahwa
manusia adalah mampu dan mau memelihara kesehatannya sendiri, sehingga manusia pada
dasarnya bukanlah objek namun menjadi subyek dalam setiap kegiatan. Dengan mendorong
terciptanya lingkungan yang kondusif bagi kesehatan, maka dengan sendirinya masyarakat
akan mampu memelihara kesehatannya. Untuk mencapai hal ini, dibutuhkan tenaga
profesional dalam bidang promosi dan pendidikan kesehatan.

Tenaga profesional dimaksud adalah tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi mengkaji,
meneliti, menganalisis dan menetapkan prioritas masalah kesehatan, serta merencanakan
intervensi perubahan perilaku melalui pemberdayaan masyarakat yang diperkuat dengan
advokasi dan menciptakan lingkungan yang suportif dan kondusif berlandaskan semangat
kemitraan dengan menggunakan media yang tepat guna dan tepat sasaran.

Fokus pendidikan profesi kesehatan masyarakat ini ialah pembentukan kompetensi yang
sesuai dengan kebutuhan dan selanjutnya mendapat pengakuan setelah melalui proses
standardisasi profesi. Kompetensi sendiri merupakan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
yang harus dimiliki seseorang agar sukses menangani pekerjaannya yang mengacu pada
KKNI.

Berdasarkan ideologi Negara dan budaya Bangsa Indonesia, maka implementasi sistem
pendidikan nasional dan sistem pelatihan kerja yang dilakukan di Indonesia pada setiap level
kualifikasi mencakup proses yang menumbuh kembangkan afeksi sebagai berikut1:

• Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

• Memiliki moral, etika dan kepribadian yang baik di dalam menyelesaikan tugasnya

• Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air serta mendukung
perdamaian dunia

• Mampu bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi
terhadap masyarakat dan lingkungannya

• Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, kepercayaan, dan agama serta


pendapat/temuan orisinal orang lain

1
Berdasarkan acuan standardisasi keprofesian oleh Kementerian Pendidikan Nasional
• Menjunjung tinggi penegakan hukum serta memiliki semangat untuk mendahulukan
kepentingan bangsa serta masyarakat luas.

Oleh karena itu standar kompetensi yang disusun ini sekaligus sebagai bahan dalam
merancang sistem sertifikasi untuk profesi tersebut. Sertifikat keahlian profesi promotor
dan pendidik kesehatan dalam promosi kesehatan , akan menjadi prasyarat utama bagi
setiap tenaga profesi untuk dapat menjalankan profesinya dengan baik.

B. PERAN DAN FUNGSI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN


Untuk menjawab permasalahan kesehatan yang pada umumnya bersumber pada masalah
perilaku, maka program profesi promotor dan pendidik kesehatan dirancang sebagai berikut:

1. Berperan sebagai perencana program promosi kesehatan, dengan fungsi:


a. melakukan pengkajian kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan dan karakteristik
lingkungan fisik dan sosial budaya dari individu/kelompok / masyarakat yang
mendasarinya.
b. mengidentifikasi dan menganalisis penyebab masalah kesehatan dan faktor – faktor
yang mempengaruhinya
c. memprioritaskan masalah kesehatan dan merencanakan perubahan perilaku
individual/ kelompok/ masyarakat
d. menyusun rencana kerja program promosi kesehatan yang mengarah kepada
perubahan perilaku indivudual/ kelompok/ masyarakat.

2. Berperan sebagai pelaksana dan motivator program promosi kesehatan, dengan fungsi:
a. melaksanakan upaya perubahan perilaku secara individual/ kelompok/masyarakat
dengan menggunakan berbagai teori dan teknik perubahan perilaku
b. mengorganisasikan dan mendayagunakan sumber daya masyarakat
a. memilih, menggunakan dan menciptakan media promosi kesehatan yang tepat dan
inovatif
c. membentuk kerja tim atau berkoordinasi dengan tim lain
d. memberikan pelatihan dalam upaya pengembangan kapasitas di masyarakat
e. menginformasikan dan meyakinkan masyarakat terhadap penyelesaian masalah-
masalah kesehatan masyarakat

3. Berperan sebagai evaluator program promosi kesehatan, dengan fungsi


a. mengembangkan indikator keberhasilan program promosi kesehatan
b. mengevaluasi perubahan perilaku dari intervensi yang telah
dilaksanakan.

4. Berperan sebagai nara sumber dalam promosi kesehatan, dengan fungsi


a. mengidentifkasi pengetahuan sikap dan perilaku masyarakat terkait dengan
masalah kesehatan yang ada

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 2


b. menentukan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan untuk mengatasi masalah
kesehatan yang ada
c.memberikan saran informasi dan saran berkaitan dengan bentuk intervensi promosi
kesehatan

C. AREA KOMPETENSI
1. Kemampuan untuk mengkaji kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan dan karakteristik
lingkungan budaya dari individu/kelompok/ masyarakat yang mendasarinya
(ASSESMEN)
2. Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dan ancaman lingkungan bagi
kesehatan melalui prinsip epidemiologi (INVESTIGASI)
3. Kemampuan untuk menganalisa penyebab masalah kesehatan dan faktor – faktor yang
mempengaruhinya (ANALISIS)
4. Kemampuan memprioritaskan masalah kesehatan dan merencanakan perubahan perilaku
individual/ kelompok/ masyarakat di dasari dengan teori perubahan perilaku yang efektif
(PRIORITAS MASALAH)
5. Kemampuan untuk merencanakan program perubahan perilaku
individual/kelompok/masyarakat didasari dengan teori perubahan perilaku yang efektif
(PERENCANAAN)
6. Kemampuan untuk mengorganisasikan dan mendayagunakan sumber daya masyarakat
(PEMBERDAYAAN)
7. Kemampuan memilih dan menggunakan dan menciptakan alat bantu promosi kesehatan
yang tepat dan inovatif (PENGEMBANGAN MEDIA)
8. Kemampuan untuk mengidentifikasi potensi – potensi yang ada di masyarakat
(JEJARING)
9. Kemampuan untuk membentuk kerja tim atau berkoordinasi dengan tim lain (KERJA
TIM)
10. Kemampuan melaksanakan upaya perubahan perilaku secara individual/
kelompok/masyarakat dengan menggunakan berbagai teori dan teknik perubahan perilaku
(INTERVENSI PERILAKU)
11.Kemampuan mengevaluasi perubahan perilaku dari intervensi yang telah dilaksanakan
(EVALUASI)

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 3


12.Kemampuan untuk menginformasikan dan meyakinkan masyarakat terhadap
penyelesaian masalah-masalah kesehatan masyarakat (INFORMASI MASALAH-
MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT)
13. Kemampuan untuk mengadvokasi pemangku kepentingan agar memberikan dukungan
kepada upaya kesehatan dan Re-orientasi pelayanan kesehatan (ADVOKASI)

D. UNIT KOMPETENSI DIKAITKAN DENGAN JENJANG PENDIDIKAN


Tabel di bawah ini menggambarkan kompetensi yang akan diberikan pada masing-masing
jenjang.

Tabel Unit Kompetensi Dikaitkan dengan Jenjang Pendidikan


No Unit Kompetensi Jenjang Pendidikan
D3 S1 Profesi S2 S3

1 Kemampuan untuk mengkaji kebutuhan masyarakat


terhadap kesehatan dan karakteristik lingkungan
budaya dari individu/kelompok/ masyarakat yang ** *** **** ****
mendasarinya (ASSESMEN)

 Memilih sumber informasi yang sahih tentang √ √ √ √


kebutuhan kesehatan berdasarkan karakteristik
masyarakat
 Menggunakan data kesehatan sesuai dengan √ √ √ √
perkembangan IPTEK
 Menyusun instrumen untuk mengumpulkan √ √ √ √
data √ √ √ √
 Melakukan pengumpulan data tentang masalah
kesehatan dan perilaku yang relevan √ √ √
 Menerapkan teknik survei untuk
mengumpulkan data kesehatan dan perilaku yang
relevan

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 4


No Unit Kompetensi Jenjang Pendidikan
D3 S1 Profesi S2 S3
2 Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah ** *** **** ****
kesehatan dan ancaman lingkungan bagi kesehatan
melalui prinsip epidemiologi (Investigasi)
 Identifikasi perilaku yang berisiko dan √ √ √ √
protektif terhadap masalah kesehatan
 Analisis pengaruh lingkungan sosial terhadap √ √ √ √
kesehatan
 Analisa kebijakan, pesan dan media, metode √ √ √
dan teknik yang memiliki daya ungkit tinggi
3 Kemampuan untuk menganalisa penyebab masalah ** *** **** ****
kesehatan dan faktor – faktor yang mempengaruhinya
(ANALISA)
 Penyusunan langkah-langkah perencanaan program √ √ √ √
perubahan perilaku √ √ √
 Perumusan tujuan program yang tepat dan terukur
4 Kemampuan memprioritaskan masalah kesehatan dan * ** *** **** ****
merencanakan perubahan perilaku individual/
kelompok/ masyarakat di dasari dengan teori
perubahan perilaku yang efektif (PRIORITAS
MASALAH)
 Menyusun perencanaan untuk mengetahui √ √ √ √ √
hasil yang dicapai
 Menganalisa bobot permasalahan √ √ √
 Menganalisa sesaran daya ungkit intervensi √ √ √ √
yang dipilih √ √ √
 Menganalisa kebijakan yang mendukung
5 Kemampuan untuk merencanakan program perubahan * ** *** *** ****
perilaku individual/kelompok/masyarakat didasari
dengan teori perubahan perilaku yang efektif
(PERENCANAAN)

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 5


No Unit Kompetensi Jenjang Pendidikan
D3 S1 Profesi S2 S3
 Memberdayakan organisasi dan sumber-sumber √ √ √ √ √
daya yang ada di masyarakat
 Mengembangkan langkah-langkah perencanaan √ √ √ √
program perubahan perilaku
 Memformulasikan tujuan program yang tepat dan √ √ √ √
terukur √ √ √
 Mendisain program perubahan perilaku yang sesuai
dengan tujuan program
6 Kemampuan untuk mengorganisasikan dan ** ** **** ** **
mendayagunakan sumber daya masyarakat
(PEMBERDAYAAN)
 Mengidentifikasi sumber daya di masyarakat √ √ √ √ √
 Memobilisasi sumber daya yang potensial √ √ √
 Menggunakan metode yang tepat untuk √ √ √ √
menggerakkan masyarakat
7 Kemampuan memilih dan menggunakan dan ** *** **** ** **
menciptakan alat bantu promosi kesehatan yang
tepat dan inovatif (PENGEMBANGAN MEDIA)
 Mengembangkan rancangan media √ √ √ √ √
 Pengembangan pesan √ √ √ √ √
 Uji coba dan produksi media √ √ √
 Pelaksanaan dan pemantauan √ √ √
 Kemampuan untuk menggunakan teknologi √ √ √
informasi yang tepat guna dan atau mutakhir
8 Kemampuan untuk mengidentifikasi potensi – *** **** ** **
potensi yang ada di masyarakat (JEJARING)
 Mengembangkan jejaring dengan institusi yang √ √
terkait dengan kesehatan
 Memfasilitasi kerjasama dan umpan balik √ √
diantara personal yang terkait dengan progam
kesehatan
 Memformulasikan model praktikal untuk saling √ √ √ √
bekerjasama antar anggota terkait

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 6


No Unit Kompetensi Jenjang Pendidikan

D3 S1 Profesi S2 S3

9 Kemampuan untuk bekerja sama dan membentuk ** *** **** ** **


kerja sama tim atau berkoordinasi dengan tim lain
(KERJA TIM)
 Melakukan komunikasi dan koordinasi dengan
anggota tim maupun dengan organisasi lainnya √ √ √ √ √
 Memahami kemampuan dan kekurangan dari
anggota timnya √ √ √
 Memahami dinamika dalam kelompoknya √ √ √
 Mampu memotivasi anggota tim untuk bekerja
dengan kearah tujuan yang sama √ √ √ √ √
10 Kemampuan melaksanakan upaya perubahan perilaku ** **** ** **
secara individual/ kelompok/masyarakat dengan
menggunakan berbagai teori dan teknik perubahan
perilaku (INTERVENSI)
 Melaksanakan perencanaan yang telah disusun √ √ √ √
 Menyimpulkan tujuan program untuk melaksanakan
program instruksional dalam setting spesifik √ √ √ √
 Memilih metode dan media yang tepat untuk
melaksanakan program spesifik √

11 Kemampuan mengevaluasi perubahan perilaku dari * ** *** **** ****


intervensi yang telah dilaksanakan (EVALUASI)
 Menyusun perencanaan monitor dan evaluasi program √ √ √ √ √
perubahan perilaku
 Menetapkan disain monitoring dan evaluasi √ √ √
 Menyusun instrumen monitoring dan evaluasi √ √ √ √
 Melaksanakan monitoring dan evaluasi program √ √ √ √ √
perubahan perilaku
 Menganalisa hasil dari monitoring dan evaluasi √ √ √ √
 Menyimpulkan implikasi dari dari hasil monitoring √ √ √
evaluasi untuk memperbaiki progam selanjutnya

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 7


12 Kemampuan untuk menginformasikan dan meyakinkan ** *** ****
masyarakat terhadap penyelesaian masalah-masalah
kesehatan masyarakat (INFORMASI MASALAH
KESEHATAN MASYARAKAT)

 Mengintrepertasikan konsep, tujuan dan teori √ √ √


pendidikan kesehatan
√ √
 Memprediksi dampak dari nilai sistim sosial terhadap

No Unit Kompetensi Jenjang Pendidikan

D3 S1 Profesi S2 S3

12 Kemampuan untuk menginformasikan dan meyakinkan ** *** **** ****


masyarakat terhadap penyelesaian masalah-masalah
kesehatan masyarakat (INFORMASI MASALAH
KESEHATAN MASYARAKAT)

 Mengintrepertasikan konsep, tujuan dan teori √ √ √ √


pendidikan kesehatan
√ √ √
 Memprediksi dampak dari nilai sistim sosial terhadap
promosi kesehatan √ √ √
 Memilih berbagai metode komunikasi dan teknik
dalam menginformasikan masalah kesehatan
 Mendorong terciptanya komunikasi atara petugas √ √
kesehatan dan masyarakat
 Menyampaikan hasil penelitian dalam forum ilmiah √ √
tingkat nasional
 Menyampaikan hasil penelitian dalam forum ilmiah √
tingkat internasional
13 Kemampuan untuk mengadvokasi pemangku ** *** **** ****
kepentingan agar memberikan dukungan kepada
upaya kesehatan dan
Re-orientasi pelayanan kesehatan (ADVOKASI)
 Mengidentifikasi isu strategis √ √ √ √
 Menetapkan tujuan dan sasaran advokasi √ √ √ √
 Mengembangkan strategi dan pesan advokasi √ √ √
 Memilih teknik advokasi yang sesuai √ √ √

Keterangan : * :Tahu, **: Mampu, *** : Terampil, **** : Ahli


STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 8
BAB III
KODE ETIK PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN MASYARAKAT

A. PEMBUKAAN
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumberdaya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak terlepas dari
partisipasi aktif masyarakat, baik secara individu, kelompok, maupun masyarakat.

Promosi kesehatan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat


melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat
menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat,
sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan
kesehatan. Sasaran atau klien profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan adalah individu,
kelompok, dan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, promosi kesehatan sangat erat
kaitannya dengan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan.

Dalam rangka pengabdian terhadap bangsa Indonesia, kami para Promotor dan Pendidik
Kesehatan, senantiasa bersikap proaktif dalam mengatasi masalah kesehatan. Yang selalu
berorientasi kepada masyarakat, mengutamakan pemerataan dan keadilan serta melakukan
kemitraan dengan profesi lainnya dengan prinsip kesetaraan, keterbukaan, dan saling
menguntungkan baik dalam lingkup lokal, nasional maupun internasional.

Profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan Indonesia, menjalankan tugas dan fungsinya sesuai
profesi dan keahliannya yang senantiasa berupaya meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan menjunjung tinggi
kode etik profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan. Atas rakhmat Tuhan Yang Maha Kuasa,
Kode Etik Profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan dirumuskan dalam 33 pasal dalam 7 bab
seperti paparan berikut.

B. KEWAJIBAN UMUM
1. Setiap Promotor dan Pendidik Kesehatan harus menjunjung tinggi, menghayati, dan
mengamalkan etika profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan. Dalam setiap urusan,
Promotor dan Pendidik Kesehatan harus jujur tentang kualifikasi dan keterbatasan
keahlian mereka.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 9


2. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Promotor dan Pendidik Kesehatan lebih
mementingkan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi. Tanggung jawab utama
Promotor dan Pendidik Kesehatan adalah kepada masyarakat.

3. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan hendaknya
menggunakan pendekatan kemitraan dengan mengutamakan prinsip kesetaraan,
keterbukaan, dan saling menguntungkan.

4. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan tidak
boleh membeda-bedakan masyarakat atas pertimbangan keyakinan, agama, suku,
golongan, sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya.

5. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor Pendidik Kesehatan harus sejalan
dengan profesi atau keahliannya.

C. KEWAJIBAN TERHADAP MASYARAKAT


1. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor Pendidik Kesehatan selalu
berorientasi kepada masyarakat baik sebagai individu maupun masyarakat luas sesuai
dengan potensi sosial budaya masyarakat setempat. Jika ada konflik minat di antara
individu, kelompok, agensi, atau institusi, Promotor Pendidik Kesehatan harus
mempertimbangkan semua isu dan memberikan prioritas kepada mereka yang tujuannya
lebih dekat pada prinsip-prinsip penentuan diri sendiri dan meningkatkan kebebasan
untuk memilih. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus melindungi hak individu untuk
membuat keputusan mereka sendiri berkenaan dengan kesehatan sepanjang keputusan
tersebut tidak menunjukkan ancaman bagi yang lain.

2. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor Pendidik Kesehatan berurusan


dengan masyarakat, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus terus terang, ikhlas dan
jujur. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus melibatkan klien mereka secara aktif di
dalam seluruh proses pendidikan perubahan sehingga semua aspek dipahami secara jelas
oleh klien.

3. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
menggunakan pendekatan yang menyeluruh secara multi disiplin dengan mengutamakan
upaya preventif dan promotif.

4. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
berdasarkan fakta melalui penelitian atau kajian ilmiah. Tidak mengeksploitasi
masyarakat dengan mengemukakan kenyataan-kenyataan yang tidak benar atau
membesar-besarkan potensi keuntungan pelayanan atau program dengan mana dia
berhubungan.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 10


5. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
sesuai prosedur dan langkah-langkah yang profesional.

6. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
bertanggung jawab dalam upaya melindungi, memelihara, dan meningkatkan kesehatan
masyarakat. Dalam keadaan di mana privasi seringkali terancam, Promotor dan Pendidik
Kesehatan harus melindungi kesejahteraan fisik, sosial, dan psikologis masyarakat dan
menjamin privasi dan kehormatan mereka.

7. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
melihat antisipasi kedepan, baik menyangkut masalah kesehatan maupun masalah bukan
kesehatan yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat. Promotor dan Pendidik
Kesehatan harus mencurahkan kehidupan profesional mereka untuk memperbaiki
kesejahteraan orang, memiliki tanggung jawab untuk berbicara pada isu-isu yang akan
mempunyai efek mengganggu atau merusak atas kesehatan masyarakat.

8. Promotor dan Pendidik Kesehatan menegaskan etik egaliter. Percaya bahwa kesehatan
adalah hak dasar manusia, mereka bertindak untuk memastikan bahwa baik manfaat
maupun kualitas pelayanan profesional mereka tidak disangkal ataupun dihalangi semua
orang pada siapa mereka bertanggung jawab.

D. KEWAJIBAN TERHADAP SESAMA PROFESI


1. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus mempertahankan standar tinggi perilaku
profesional seperti yang direkomendasikan oleh Kode Etik, dan harus mendorong kolega
Promotor dan Pendidik Kesehatan untuk berbuat serupa.

2. Promotor dan Pendidik Kesehatan tidak boleh mengkritik kolega dalam situasi di mana
ada kemungkinan konflik minat, kususnya di mana perolehan pribadi mereka sendiri
terlibat atau perolehan pribadi teman dekatnya. Setiap Promotor dan Pendidik Kesehatan
harus memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.

3. Setiap Promotor dan Pendidik Kesehatan tidak boleh mengambil alih tugas teman
sejawatnya tanpa persetujuan dari teman sejawat yang bersangkutan yang telah diberi
tanggung jawab sebelumnya.

4. Setiap Promotor dan Pendidik Kesehatan wajib bekerjasama dengan teman sejawatnya
dalam melakukan tugas dan fungsinya.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 11


E. KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI LAIN
1. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
bekerjasama, saling menghormat dengan profesi lain, tanpa dipengaruhi oleh
pertimbangan-pertimbangan keyakinan, agama, suku, golongan, sosial, ekonomi,politik
dan sebagainya.

2. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus bertindak melalui saluran yang tepat melawan
perilaku tidak etis oleh setiap anggota profesi lainnya.

3. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya bersama-sama profesi lain, Promotor dan
Pendidik Kesehatan hendaknya berpegang pada pendekatan kemitraan dengan
mengutamakan prinsip kesetaraan, keterbukaan, dan saling menguntungkan.

F. KEWAJIBAN TERHADAP PROFESINYA


1. Promotor dan Pendidik Kesehatan hendaknya bersikap proaktif dalam mengatasi masalah
kesehatan dan hendaknya senantiasa memelihara dan meningkatkan profesi promosi
kesehatan.

2. Untuk melindungi kepercayaan dalam profesi, Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
menghindari strategi dan metode yang secara jelas ada pelanggaran dari moral yang
diterima dan stándar legal.

3. Promotor dan Pendidik Kesehatan dalam menerapkan strategi dan metode harus tidak
memberikan beban perubahan hanya pada populasi sasaran tetapi harus melibatkan
kelompok yang tepat lainnya untuk mendapat perubahan yang efektif. Pilihan strategi
dan metode harus mencakup keterlibatan aktif orang yang akan diintervensi. Promotor
dan Pendidik Kesehatan harus menerapkan strategi dan metode yang mengarahkan
perubahan kapan saja dimungkinkan dengan pilihan, ketimbang karena paksaan. Akan
tetapi, di mana masyarakat sedang ada dalam bahaya, atau akan mendapatkan bahaya,
tindakan yang membatasi kebebasan agen yang menghasilkan bahaya dibenarkan. Di
mana tindakan sukarela tidak berhasil dalam menghasilkan dampak yang diinginkan,
strategi paksaan dan metode diperlukan tetapi harus dikerjakan dengan lebih hati-hati.

4. Hasil/dampak potensial, baik positif maupun negatif, yang dapat dihasilkan dari strategi
yang diusulkan harus dikomunikasikan kepada semua individu yang tepat yang akan
diintervensi.

5. Ketika Promotor dan Pendidik Kesehatan berperan serta dalam aksi berkaitan dengan
kontrak (sewa), promosi, atau kenaikan pangkat, mereka harus menjamin bahwa tidak
ada praktek pengecualian terhadap individu berdasarkan sex, ras atau etnik, atau atribut
non-profesional lainnya.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 12


6. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus melindungi dan meningkatkan integritas profesi
melalui diskusi yang bertanggung jawab dan kritik terhadap profesi.

7. Promotor dan Pendidik Kesehatan hendaknya selalu berkomunikasi, membagi


pengalaman dan saling membantu diantara sesama profesi promosi kesehatan.

G. KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI


1. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus memelihara kesehatannya agar dapat
melaksanakan tugas profesinya dengan baik.

2. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus menjadi panutan dalam menerapkan perilaku
hidup bersih dan sehat.

3. Promotor dan Pendidik Kesehatan hendaknya menghindari komitmen yang saling


bersaing, situasi konflik minat, persetujuan rahasia, dan dukungan terhadap produk.

4. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus bertanggung jawab untuk reputasi yang baik
disiplin mereka. Kejujuran personal dan profesional dan integritas adalah kualitas
esensial dari seorang Promotor dan Pendidik Kesehatan.

5. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus senantiasa berusaha untuk mengembangkan


dirinya dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Promotor dan Pendidik Kesehatan harus
mempertahankan kompetensi mereka pada tingkat yang paling tinggi melalui belajar dan
pelatihan yang berkelanjutan, misalnya:

a. Keanggotaan aktif dalam organisasi profesi.


b. Mengkaji ulang jurnal-jurnal profesional, teknikal, maupun biasa.
c. Peninjauan awal produk baru dan material media.
d. Penciptaan dan pendistribusian program baru dan material termasuk publikasi
makalah profesi dan biasa.
e. Keterlibatan dalam isu-isu ekonomi dan legislatif berhubungan dengan kesehatan
masyarakat

H. PENUTUP
Setiap profesi Promotor dan Pendidik Kesehatan dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari
dalam batasan kompetensi profesional mereka, harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan
memegang teguh kode etik profesi Promosi Kesehatan.

STANDAR PROFESI PROMOTOR DAN PENDIDIK KESEHATAN Page 13