Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengaruh globalisasi di segala bidang, perkembangan teknologi dan industri


telah banyak membawa perubahan pada perilaku dan gaya hidup masyarakat serta situasi
lingkungannya. Perubahan tersebut tanpa disadari telah memberi kontribusi terhadap
terjadinya transisi epidemiologi dengan semakin meningkatnya kasus-kasus penyakit tidak
menular. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007 juga menunjukkan adanya peningkatan
kasus penyakit tidak menular secara cukup bermakna, menjadikan Indonesia mempunyai
beban ganda. Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator, salah
satunya status gizi masyarakat. Masalah gizi merupakan masalah yang ada di tiap negara,
baik negara miskin, negara berkembang dan negara maju. Negara miskin dan negara
berkembang cenderung dengan masalah gizi kurang (penyakit infeksi) dan negara maju
cenderung dengan masalah gizi lebih (penyakit degeneratif). Negara berkembang seperti
Indonesia mempunyai masalah gizi ganda yakni perpaduan masalah gizi kurang dan masalah
gizi lebih.

Sebelum abad ke-20 , kegemukan jarang ditemui tetapi pada tahun 1997 WHO secara
resmi menyatakan kegemukan sebagai epidemik global. WHO menyatakan bahwa obesitas
telah menjadi masalah dunia. Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan
bahwa terjadi peningkatan prevalensi overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir, saat
ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita obesitas.Hingga
2005, WHO memperkirakan secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang
kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta (9,8 %) di antaranya dikategorikan
obesitas. Pada Tahun 2015 diprediksi kasus obesitas akan meningkat dua kali lipat dari angka
itu. Angka kegemukan juga naik dengan bertambahnya usia setidaknya hingga usia 50
sampai 60 tahun dan kegemukan berat di Amerika Serikat, Australia, dan Kanada meningkat
lebih cepat dibandingkan angka kegemukan secara keseluruhan.
Dapat disimpulkan bahwa obesitas telah menjadi masalah diberbagai negara salah
satunya di Indonesia. Hal ini menunjukkan jika masalah tersebut tidak segera diatasi, maka
beban pemerintah khususnya Departemen Kesehatan akan semakin bertambah (Kanwil
Depkes, 1998).
B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian obesitas ?


2. Apa saja tipe-tipe obesitas ?
3. Apa saja risiko yang ditimbulkan obesitas ?
4. Bagaimana cara pencegahan obesitas ?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu untuk memahami pengertian obesitas.

2. Tujuan Khusus

- Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan obesitas.

- Mahasiswa dapat resiko dan pencegahan obesitas.

D. Manfaat

1. Bagi Penyusun

Dapat Mengetahui resiko dan pencegahan obesitas bagi tubuh kita.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Dengan adanya hasil makalah ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian
untuk diteliti lebih lanjut sekaligus menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa yang
membutuhkan pengetahuan lebih lanjut mengenai metabolisme kondisi kenyang dan
lapar. Dapat menambah khasanah ilmu kesehatan dalam dunia pendidikan pada
khususnya.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Obesitas
Obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh, yang umumnya ditimbun dalam
jaringan subkutan (bawah kulit), sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan ke
dalam jaringan organnya (Misnadierly, 2007). Menurut WHO Obesitas adalah
penumpukan lemak yang berlebihan ataupun abnormal yang dapat mengganggu
kesehatan.
Obesitas merupakan keadaan yang menunjukkan ketidak seimbangan antara tinggi
dan berat badan akibat jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan
yang melampaui ukuran ideal (Sumanto, 2009).
Obesitas merupakan keadaan Indeks Massa Tubuh (IMT) anak yang berada diatas
persentil ke-95 pada grafik tumbuh kembang anak sesuai jenis kelaminnya (Farmacia,
2005).
Obesitas merupakan penyakit karena ketidakseimbangan antara konsumsi kalori dan
kebutuhan energi, yakni konsumsi kalori berlebih dibandingkan dengan kebutuhan atau
pemakaian energi (Notoamodjo, 2005).
B. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Obesitas
Faktor-faktor penyebab obesitas adalah:
a. Faktor keturunan (genetik)
Anak memiliki orang tua atau saudara yang gemuk atau obesitas
mempunyai kemungkinan sangat besar untuk menjadi obesitas juga, namun faktor
genetika saja tidak menyebabkan obesitas. Obesitas baru terjadi jika si anak
makan lebih banyak kalori yang bisa dihabiskan oleh tubuhnya.
Seperti kondisi medis lainnya, obesitas adalah perpaduan antara
genetik dan lingkungan. Gen yang ditemukan diduga dapat mempengaruhi jumlah
dan besar sel lemak, distribusi lemak dan besar penggunaan energi untuk
metabolisme saat tubuh istirahat. Polimorfisme dalam variasi gen mengontrol
nafsu makan dan metabolisme menjadi predisposisi obesitas ketika adanya
kalorui yang cukup.Prader-Willi Syndrome Selain itu, obesitas terjadi pada
penderita Sindrom Prader-Willi adalah penyakit genetic yang menimpa kira-kira
satu dari 15 ribu kelahiran. Mutasi gen terjadi pada kromosom ke 15 yang
mengatur nafsu makan. Sindrom ini dikenali sebagai gen penyebab obesitas pada
anak kecil. Symptoms yang timbul akibat sindrom ini disebabkan oleh disfungsi
hipotalamus yang salah satu fungsinya adalah mengatur rasa lapar.
b. Faktor kebiasaan makan
Anak-anak jaman sekarang lebih banyak makan makanan instan, makanan
cepat saji, minuman yang mengandung tinggi gula serta makann cemilan yang
sudah diproses yang tinggi kalori dan lemak namun rendah vitamin lainnya
dibandingkan makanan sehat dan segar seperti sayur dan buah-buahan.
c. Faktor status sosial ekonomi
Berkaitandengan gaya hidup, sikap dan perilaku. Di Indonesia, orang
cenderung salah kaprah mengasosiasikan gemuk adalah baik, anak harus gemuk.
Maka dapat dibilang sehat. Hal ini menjadikan tujuan makan bergeser dari
memenuh kebutuhan anak ke menjadi anak gemuk.
d. Faktor penurunan aktivitas sehari-hari
a. Kecanggihan teknologi seperti televisi dan komputer menyebabkan anak-anak
terpaku di depannya, sehingga kurang bermain dengan kegiatan fisik seperti
bersepeda dan sepak bola.
b. Ruang yang terbatas di sekolah dapat menyebabkan banyak sekola yang tidak
memiliki lapangan bermain yang memadai bagi murid-muridnya untuk
melakukan kegiatan fisik.
e. Kelainan neurologik
Adanya lesi pada nukleus ventromedialis hipotalamus menyebabkan nafsu
makan meningkat, meningkatnya produksi insulin, meningkatnya penyimoanan
lemak.

f. Jenis Kelamin
Jenis kelamin berpengaruh terhadap obesitas. Pria memiliki lebih banyak
otot dibandingkan dengan wanita. Otot membakar lebih banyak lemak daripada
sel-sel lain. Oleh karena wanita lebih sedikit memiliki otot, maka wanita
memperoleh kesempatan yang lebih kecil untuk membakar lemak. Hasilnya,
wanita lebih berisiko mengalami obesitas.
Beberapa teori mengenai perkembangan kegemukan ini:

a. Teori sel adipose. Jumlah sel di jaringan adipose meningkat,ukuran sel lemak
meningkat, atau kombinasi kedua hal ini.
b. Teori point set. Individu yang memounyai tingkat predertemine untuk berat badan
relatif stabil selama usia dewasa, dengan meningjatnya intake kalori maka
metabolik rate meningkat untuk membakar kelebihannya, bila intake dikurangi,
metabolisme menurun untuk menyimpan energi.
C. Dampak Obesitas
Beingmom organisai com (2008) menyatakan bahwa Obesitas akan berdampak
kepada:
a. Penyakit jantung, dan pembuluh darah, seperti pebesaran jantung atau
peningkatan tekanan darah.
b. Gangguan metabolisme glukosa. Misalnya, intoleransi glukosa.
c. Gangguan kedudukan dan pertumbuhan tulang, berupa kaki pengkor atau
tergelincirnya bagian sambungan tulang paha (terutama pada anak laki-laki) serta
pertumbuhan tulang yang harus menahan beban yang lebih berat daru yang
semestinya.
d. Asama dan gangguan oernaoasan seperti sleep apnea.
e. Ketidaknormalan pertumbuhan.
f. Gangguan kulit, khususnya daerah lipatan, akibat sering bergesekkan.
g. Gangguan mata, seperti pengelihatan ganda, telalu sensitif terhadap cahaya, dan
batas pandangnya jadi lebih sempit.
h. Gangguan fungsi hati
i. Maslaah psikososial seperti rendah diri, depresi dan menarik diri dari lingkungan
misalnya karena di olok-olok temannya.
D. Distribusi kejadian obesitas
Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih
dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun 2015,
diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 jta di
antaranya obesitas. Jumlah penderita obesitas di Indonesia terus bertambah dari tahun ke
tahun. Berdasarkan data Ssenas tahun 1989, prevalensi obestitas di Indonesia adalah 1,1,
persen dan 0,7 persen, maisng-masing untuk kota dan desa. Angka tersebut meningkat
hampir lima kali menjadi 5,3 persen Dn 4,3 perseb pada 1999. Haisl pemantauan maskag
gizi lebuh pada dewasa yang dilakukan Departemen Kesehatan tahun 1997 menunjukkan,
prevalensu obesitas pada orang dewas adalah 2,5 persen (pria) dan 5,9 persen (wanita).
Prevalens obesitas tertinggi terjadi pada kelompok wanita berumur 41-55 tahun (9,2
persen). Di Idonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi
nasional obestias umum pensusuk berusia lebih dari 15 tahun adalh 10,3% (laki-laki
13,9%, perempuan 23,8%). Sedagkan prevalensi berat badan berlebih anakanak usia 6-14
tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4%. Angka ini hampir sama dengan
estimasi WHO sebesar 10% pada anak-anak usia 5-17 tahun.
E. Klasifikais Obesitas
Metode yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas
adalah BMI (Body Mass Index) yang didapat dengan cara membagi berat badan (Kg)
dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai BMI yang didapat tidak tergantung pada
umur dan jenis kelamin.

Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI pada Penduduk Asia Dewasa

(IOTF, WHO 2000)

F. Parameter Obesitas
A. Gejala Obesitas:
1. Penimbunan lemak yang berlebihan
2. Permukaan tubuh relatif lebih sempit dibandingkan berat badan sehingga panas
tubuh tidak dapat dibuat secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih
banyak.
3. Edema daerah tungkai dan pergelangan kaki
4. Gangguan nafas pada saat tidur
5. Terhentinya pernafasan sementara waktu (tidur apneu)
6. Sering mengantuk pada siang hari
B. Parameter Antropometri Obesitas
1. Indeks
- Berat Badan Relatif :

Nilai standart :
< 90% underweight
90-110% berat badan normal
>110% overweight
> 120% obese / gemuk
- Indeks Massa Tubuh
Nilai Standart :
< 20 underweight
25.30 erat badan normal
25-30 overweight
>30 obese / gemuk
2. Lingkar Perut
- Pada laki-laki < 90 cm
- Pada perempuan < 80 cm

G. Pencegahan dan Penanggulangan Obesitas


Penatalaksanaa penanggulangan obesitas menurut Beingmom organisasi com (2008)
meliputi bagaimana mencegah dan menanggulangi obesitas.
1. Pencegahan
a. Pemberian ASI Eksklusif
Pencegahan kegemukan bisa dimulai dari emberian ASI secara eksklusif,
sebab pemberian ASI tidak akan membuat asupan susu si kecil menjadi
berlebihan.
b. Pemberian makanan yang sehat dan seimbang
Membiasakan anak mengkonsumsi makanan berserat seperti sayur dan buah-
buahan.
c. Mengubah kebiasaan makan
Batasi kebiasaan makan diluar rmah, terutama bila yang dikonsumsi makanan
jenis cepat saji. Beri pori yang kecil untuk anak saat mengkonsumsi makann
ceoat saji.
d. Melakukan kegiatan fisik
Melakukan kegiatan fisik minimal 20 sampai 30 menit sehari.
2. Penanggulangan
a. Pengaturan diet
1. Belajar mengenai kebutuha nutrisi pada anak-anak
2. Mengatur kalori yang masuk disesuaikan dengan kebutuhan anak
3. Menggali motivasi anak dan membuat kesepakatan bersama
4. Membiasakan anak mengkonsumsi makanan berserat seperti sayuran, dan
buah-buahan
5. Kurangi asupan kalori dari kanan tambahan berkalori tinggi seperti es krim,
cokelat atau minuman ringan.
b. Pengaturan kegiatan fisik
1. Mulai membatasi anak menonton TV dan bermain komputer
2. Dorong anak untuk melakukan kegiatan fisik yang membakar kalori. Seperti
sepak bola, bersepeda dan bermain basket.
3. Meminum air putih untuk menggantikan cairan yang hilang melalui keringat
c. Modifikasi kebiasaan makan
Orang tua perlu mengembangkan kebiasaan makan yang baik untuk
membantu anak-anaknya memiliki berat badan yang sehat, misalnya dengan:
1. Jangan memberi makan di luar jam makan yang seharusnya
2. Jangan memburu-buru waktu makan karena orang cenderyng makan lebih
banyak jika terburu-buru.
3. Jangan gunakan makanan sebagai hadiah atau reward
4. Jangan makan di restoran cepat saji lebih dari satu kal dalam seminggu
Orang tua: kurangnya MAN METHOD
pengetahuan

Pangasuh: kuranya
pendidikan Bayi Kurangnya
Balita Aktivitas fisik
BUMIL obesitas
Remaja
Faktor genetik Pola diet salah

Penggunaan obat Dewasa


dan kesehatan Pola makan salah
Lansia
Pola makan

Gaya hidup

Faktor Psikis

OBESITAS

Teman pergaulan

Tidak ada tempat


Perumahan padat
olahraga

Pekerjaan yang kurang Keseringan jajan


aktivitas fisik

ENVIRONTMENT MONEY
PEMBEHASAN

A. MAN

1. Bayi dan Balita


Sebagian dari kasus obesitas dapat terjadi juga pada bayi dan
balita, berikut beberapa faktor penyebab hal tersebut terjadi :
a. Kurangnya pengetahuan orang tua
Hal ini menjadi salah satu faktor obesitas pada bayi dan
balita, dimana kurangnya pengetahuan orang tua akan pengeruh
asupan yang sehat dan porsi yang cukup untuk di berikan pada
sang bayi. Jadi bila asupan yang diberikan itu berlebih atau
tidak sesuai dengan kebutuhan bayi atau balita dapat
menyebabkan terjadinya obesitas pada bayi dan balita.
b. Pengasuh yang kurangnya pendidikan
Pangasuh yang memiliki peranan penting dalam
pertumbuhan pada bayi dan balita. Karena pengasuhlah yang
berperan dalam merawat dan memberikan asupan makanan,
sehingga dengan kurangnya pendidikan pada pengasuh akan
pola pemberian dan makanan yang baik kepada bayi atau balita
dapat juga menyebabkan terjadinya obesitas pada bayi dan
balita
c. Pola makan pada BUMIL
Porsi makan yang berlebih pada ibu hamil (BUMIL) akan
berpengaruh pada pertumbuban bayi di dalam kandungan, ada
beberapa faktor yang menyebabkan porsi makan pada ibu hamil
menjadi berlebih, salah satunya adanya anggapan masyarakat
bahwa ukuran perut saat hamil yang kecil menandakan bahwa
pertumbuhan bayi kurang baik sehingga sehingga BUMIL
tersebut meningkatkan porsi makannya hingga berlebih,
padahal ukuran perut yang kecil saat hamil disebabkan tertutup
timbunan lemak. Porsi yang berlebih saat hamil dapat juga
menyebab bayi atau balita yang dilahirkannya mengalami
obesitas.
d. Fakto genetik
Ini merupakan faktor yang diturunkan, dengan adanya
riwayat keluarga obesitas, lebih beresiko terkena obesitas.

e.
BAB III
RENCANA PROGRAM
PENANGANAN DAN PENYULUHAN PADA PENDERITA OBESITAS

SASARAN / LOKASI
N RINCIAN TAR TENAGA KEBUTUHAN
KEGIATAN PESERTA PELAKSANA JADWAL
O KEGIATAN GET PELAKSANA PELAKSANAAN
KEGIATAN AN
- MENENTUKA
N TEMPAT
DAN
SASARAN RAPAT PANITIA
PROGRAM RUANG
- PANITIA SENAM, INSTRUKTUR
RAPAT
- MENENTUKA (MAHASIS SENAM DAN TENAGA
PUSKESMAS
N WA 5 FEBRUARI MEDIS
- PENDERITA KELURAHAN
RANCANGAN KEDOKTE
PERENCAN OBESITAS DUKUH
1 90% RAN)
AAN PROGRAM KUPANG, RAPAT PENENTUAN
- MASYARAKAT KECAMATAN
- INSTRUKT
- MENENTUKA UR SENAM SASARAN PROGRAM
SETEMPAT DUKUH
N ESTIMASI - TENAGA DAN RANCANGANNYA
PAKIS
WAKTU, MEDIS
BIAYA DAN
KEBERHASIL
AN DISETIAP
PROGRAM
- MENDATA
PENDERITA
OBESITAS
- MEMBERIKAN
QUISIONER
YANG
BIDAN
BERISIKAN DESA , - QUISIONER
TENTANG PERAWAT - BOLPOINT
SURVEI MASYARAKAT - PENDERITA BALAI 10 – 20
2 90% POSKESDES - DATA IBU DAN
CEPAT OBESITAS POSYANDU FEBRUARI
- MEMBERIKAN DAN BALITA WARGA
QUISIONER KADER DESA KAMPAR
TENTANG POSNYANDU
AGENDA
POSYANDU
- MENYATUKA
N HASIL DARI
QUISIONER.
MEMBERIKAN
SURAT IZIN KE
KANTOR
KELURAHAN - KANTOR
DUKUH KUPANG KECAMAT
DAN AN
KECAMATAN - KEPALA DUKUH
DUKUH PAKIS KECAMATAN PAKIS
- KEPALA 25
- KANTOR FEBRUARI SURAT PERIZINAN
KELURAHAN - PANITIA
3 PERIZINAN 90% KELURAH DAN PROPOSAL
MEMBERIKAN - KEPALA
AN KEGIATAN
SURAT IZIN KE PUSKESMAS
PUSKESMAS DUKUH
KELURAHAN KUPANG
DUKUH - PUSKESM
KUPANG, AS
KECAMATAN
DUKUH PAKIS
- PENYULUHAN
- BALAI - BALAI POSYANDU
PELAKSAN OBESITAS - PANITIA
KELURAH - SARANA DAN
AAN - PENYELENGG - PENDERITA - TENAGA
4 90% AN 5 – 5 JULI PRASARANA
KEGIATAN ARAAN OBESITAS PELAKSAN
- PUSKESM PENYULUHAN
SENAM AAN
AS

- DATA MASARAKAT
OBESITAS
- EVALUASI - PENDERITA - DATA
- BALAI KEBERHASILAN
PENYULUHAN OBESITAS
KELURAH PUSKESMAS
DAN - KEPALA - PANITIA
5 EVALUASI 90% AN 8 JULI
KEGIATAN KELURAHAN - DATA PARTISIPASI
- PUSKESM
SENAM DAN MASYARAKAT
AS
OBESITAS KECAMATAN
- BALAI KELURAHAN
- ALAT TULIS
DAFTAR PUSTAKA

1. Sahadewa, Sukma. Buku Ajar Masalah Gizi. Surabaya. Fakultas Kedokteran Universitas
Surabaya
2. Haryono, Hari Vergo. 2015. HUBUNGAN GAYA HIDUP DENGAN KEJADIAN
OBESITAS PADA ANAK USIA 3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
ASEMROWO KOTA SURABAYA. Mojokerto. Program Studi S1 Keperawatan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto
3.