Anda di halaman 1dari 10

MODUL FISIKA BUMI DAN SISTEM KOMPLEKS

SIFAT ELASTISITAS BATUAN


(SONIC VIEWER)

I. TUJUAN
a. Memahami prinsip kerja alat ukur sonic viewer
b. Memahami cara pengambilan data pada penentuan parameter elastik cara kinetik
c. Dapat menentukan parameter-parameter elastik kinetik batuan

II. ALAT DAN BAHAN


a. Sonic viewer model 5210
b. Osiloskop
c. Transducer, transmitter dan receiver
d. Penjepit batu
e. Sampel batuan
f. Kabel
g. Flashdisk berformat FAT32
h. Neraca digital

III. Pendahuluan
Teori elastisitas merupakan teori yang membahas masalah regangan (strain) yang
terjadi pada suatu bahan bila pada bahan tersebut dikenai tegangan (stress). Dalam masalah
ini bahan dikatakan mempunyai sifat elastis jika bahan tersebut meregang bila dikenai
stress dan kembali ke keadaan semula bila stress dihilangkan.
Teori elastisitas merupakan teori dasar yang banyak digunakan dalam permasalahan
makanika batuan. Batuan sebagai medium atau bahan yang bersifat elastik mempunyai
parameter-parameter elastik, seperti poisson ratio, modulus kekakuan (modulus of rigidity),
modulus Young, modulus Bulk, dan tetapan Lame, serta porositas.
Pengetahuan tentang parameter elastik suatu batuan sangat penting karena parameter-
parameter tersebut mencerminkan sifat dari batuan. Dari parameter-parameter elastik,
dapat diketahui kekuatan dan daya dukung (bearing capacity) batuan terhadap beban yang
dikenakan padanya. Informasi ini sangat diperlukan dalam pembangunan bendungan,
jembatan, reaktor, dll.
Terdapat dua cara pengukuran untuk menentukan parameter – parameter elastik ini
yaitu cara statik dan cara kinetik. Pada pengukuran statik, partikel-partikel batuan
(medium) tidak mengalami pergerakan selama pengukuran. Sedangkan cara kinetik
(dinamik) partikel-partikel batuan mengalami pergerakan selama pengukuran. Dalam
praktikum ini yang dilakukan adalah cara kinetik, yaitu dengan merambatkan gelombang
elastik pada bahan untuk mengetahui parameter elastik dinamiknya. Teori elastisitas juga
banyak digunakan dalam geofisika eksplorasi seperti eksplorasi minyak dan gas bumi,
eksplorasi mineral dan penyelidikan untuk mengetahui jenis batuan yang ada.

IV. TEORI DASAR

4.1 Pengertian Dasar


a. Stress (tegangan)
Didefinisikan sebagai gaya persatuan luas
Vektor stress yang bekerja pada bidang tegak lurus OP, dimana O menunjukkan arah
normal bidang dan P merupakan posisi bidang pada sumbu tertentu. Perumusannya adalah:
F
 o  lim
A A

Vektor stress yang bekerja pada bidang tegak lurus sumbu X:


 ox   x xˆ   xy yˆ   xz zˆ
Vektor stress yang bekerja pada bidang tegak lurus sumbu Y:
 ox   yx xˆ   y yˆ   yz zˆ
Vektor stress yang bekerja pada bidang tegak lurus sumbu Z:
 ox   zx xˆ   zy yˆ   z zˆ

Dengan:
i = stress normal yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu i
 ij = stress geser yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu i dan arahnya sejajar
sumbu j
i, j = sumbu X, Y, dan Z

Gambar 1. Vektor Stress

Dalam bentuk tensor komponen yang bekerja pada suatu titik yang terletak pada suatu
bidang adalah
 x  xy  xz 
 
T   yx  y  yz   tensor stress
 xz  zy  z 
 

Dalam keadaan setimbang berlaku  xy   yx ,  xz   zx , dan  yz   zy .

b. Strain (regangan)
Strain adalah perubahan dimensi benda akibat terkena tegangan
Z Z

di kenai
str ess
B’
B
U’
A’
u
Y Y
F
A

X X

Gambar 2. Ilustrasi Terkena Stress


Perubahan vektor U akibat benda dikenai stress adalah U x, y, z   U x, y, z  U  dU
Perubahan vektor dU merupakan deformasi yang dialami benda komponen dU dalam arah
I adalah

3    1  U i U j 
3
U i 1 U U j
dU i   X j     i     dX j
j 1 X j
  2  X 
 2  X j X i
j 1    j X i 

Dengan dan X1  x, X 2  y, X3  z dan i, j  1,2,3 .

Definisi:
▪ Komponen dilatasi deformasi (merupakan komponen strain)

1  U i U j 
l ij    
2  X j X i 

Jika i  j , maka l ij adalah strain normal, yaitu strain akibat stress normal. Jika i  j , maka
l ij adalah strain geser, yaitu strain akibat stress geser. Untuk strain geser berlaku lij  l ji .
Dalam bentuk tensor dinyatakan dalam persamaan berikut

l xx l xy l xz 
 
L  l yx l yy l yz   tensor strain
l xz l zy l zz 

▪ Komponen rotasi
1  U i U j 
Wij    
2  X j X i 

Dengan:
W21 = rotasi arah jarum jam terhadap sumbu 3 (sumbu z)
W32 = rotasi arah jarum jam terhadap sumbu 1 (sumbu x)
W13 = rotasi arah jarum jam terhadap sumbu 2 (sumbu y)

Yang memenuhi WijWji, W1i =0. Dalam bentuk tensor:


 0 Wxy Wxz 
 
w  Wyx 0 Wyz 
Wxz Wzy 0 

c. Kurva stress-strain
Jika suatu bahan elastik dikenai stress dan strain yang disebabkannya diukur maka secara
umum kurva stress-strain yang didapat berbentuk sebagai berikut:
σ
R C
P
B
S
U
D

O
εo T ε
Gambar 3. Kurva Stress-Strain

Kurva tersebut dapat dibagi menjadi empat bagian yaitu OA cekung keatas, AB mendekati
linear, BC cekung ke bawah dan mencapai maksimum di C, kemudian CD turun. Daerah
OB disebut daerah elastis artinya jika stress yang bekerja dihilangkan, bahan kembali ke
keadaan semula tanpa ada deformasi permanen. Daerah BC memberikan deformasi
permanen yang kecil sedang daerah CD memberikan daerah deformasi permanen yang
besar.

d. Hukum Hooke
Hukum ini menerangkan antara hubungan stress dan strain untuk medium elastik linear
yang homogen dan isotropik.

 ij   ij  2Glij

Dengan i=1,2, 3;
  strain normal bulk  l11  l 22  l 33 = perubahan volume persatuan volume
1 ; i  j
 ij = stress  ij  
0 ; i  j
l ij = strain
 = konstanta lame
G = modulus geser

Gambar 4. Hubungan Stress dan Strain

Stress uniaksial (tekanan satu sumbu) misalnya pada arah sumbu l maka:

 11  0;  22   33  0; l 22  l33

Sehingga dari persamaan hukum Hooke diperoleh:

 11    2G l11  2l 22

0  l11  2  G l 22
Definisi parameter-parameter elastik:

a. PoissonRatio
Rasio antara perpanjangan dengan lateral
l11

l 22

Gambar 4. Poisson Ratio

l 22 
  
l11 2(  G )

b. Modulus elastik (young)


Rasio antara stress normal dengan kontraksi lateral yang disebabkannya

Gambar 5. Modulus Young

 11 G (3  2G )
E   stress uniaksial
l11  G

c. Modulus geser
Rasio antara komponen stress geser dengan strain geser yang berhubungan

δ ij

Gambar 6. Modulus Geser

 ij 0 cairsempurna
G 
2lij 0.5 benda tegar

d. Modulus Bulk
Rasio antara tekanan aksial dengan deformasi volume yang dihasilkan
Z

δ 33

Y
σx

δ 11

Gambar 7. Modulus Bulk

P
K

 11   22   33
P
3

  l11  l 22  l33

Untuk kasus uniaksial dapat diturunkan hubungan-hubungan sebagai berikut:

E 2(1   )G E
 K 
(1   )(1  2 ) 3(1  2 ) 3(1  2 )

E 9 KG  2 (3K  2G )
G E   
2(1   ) 3K  G  1  2 2(3K  G )

4.3 Kecepatan gelombang vp dan vs

δx3

δx1

δx2

Gambar 8. Elemen Volume


Tinjau elemen volume  X 1 , X 2 ,  X 3 yang mempunyai rapat massa  komponen gaya
gravitasi tiap satuan volume masing-masing f1 , f 2 , f 3 . Maka persamaan kecepatan
gelombang  (gelombang pressure) adalah :

  2G
vp 

Dan persamaan kececpatan gelombang geser adalah :

G
vs 

Dari penurunan v p dan v s , dapat diturunkan hubungan-hubungan sebagai berikut:

G  vs2
   v 2p  2v s2 
1 1

v p v so

1 1

vu v so
2
v 
1  2 s 
v 
   p
2
 vs 
2  2 
v 
 p
E  21   G
21   
 G
31  2 

Keterangan:
  porositas batuan
v so  kecepatan gelombang p pada sampel solid sebesar 5480.6 m/s
v u  kecepatan gelombang p di udara sebesar 340 m/s
  rapat massa sampel padat =  b / 1   
 b  rapat massa sampel

5 PRINSIP KERJA ALAT

Rangkaian alat sonicviewer yang terdiri dari dua bagian yaitu pembangkit pulsa (pulse
generator) dan osiloskop, dengan susunan seperti gambar di bawah ini.

Transducer
Transmitter

Sampel Batuan

Transducer
Pembangkit Pulsa Receiver
Osiloskop

Gambar 9. Skema 1 Sonic Viewer


Untuk menghitung parameter-parameter elastik batuan diperlukan besarnya cepat rambat
gelombang tekan vp, dan cepat rambat gelombang geser vs pada sampel tersebut. Informasi
kecepatan diperoleh dari panjang sampel dan waktu tempuh gelombang dalam sampel.
Metode pengukuran gelombang dalam sampel baik (untuk gelombang P) maupun (untuk
gelombang S) dapat dilihat pada bagan berikut ini:

Penguat
Penguat Vertikal
Horizontal

Delay & Trigger

Transducer

Receiver
Pembagi
Osilator Kristal

Pembangkit
Pulsa Transmitter
Transducer

Gambar 10. Skema 2 Sonic Viewer

Sinyal listrik dihasilkan oleh osilator kristal kemudian dibagi oleh rangkaian divider ke
rangkaian delay dan trigger serta ke rangkaian pembangkit pulsa. Dari rangkaian delay dan
trigger, sinyal listrik dilalukan untuk melakukan penyapuan jejak horizontal pada layar
osiloskop. Dari sinyal listrik yang melewati pembangkit pulsa dihasilkan pulsa listrik yang
dikirim lewat transmitter dan diubah oleh transducer piezoelektrik menjadi sinyal mekanik
yang merambat sebagai gelombang elastik dalam sampel batuan, dan diterima kembali
sebagai gelombang listrik setelah melewati transducer receiver.

Power

OYO-5210

Time/Div

Volt/Div

In o Ver o Hor o Out o

Gambar 11. Gambar pada Osiloskop

Sinyal dari sampel tadi lalu dihubungkan dengan penguat vertikal pada osiloskop.
Sehingga tepat saat sinyal melewati sampel sampai sebagai gelombang mekanik yang
terlihat hanya garis horizontal pada layar osiloskop karena pada saat itu tidak ada pulsa
listrik yang diterima penguat vertikal tersebut. Dengan cara seperti itu kita dapat mengukur
waktu tempuh gelombang elastik dalam sampel.

6 PENGAMBILAN DATA

1. Rangkai alat seperti Gambar 9.


2. Pasang tranduser pada sampel yang akan diukur (untuk masing-masing gelombang
P dan gelombang S).
3. Lakukan kaliberasi alat.
4. Atur frekuensi sources gelombang yakni 62.5, 125, 250 Hz sehingga dapat hasil
respon yang optimum.
5. Catat waktu tempuh gelombang elastik untuk tiap sampel.
6. Catat untuk gelombang P dan S untuk 5 sampel batuan dengan tekanan dan tanpa
tekanan.

PERHATIAN
Kabel transducer jangan dilepas ketika sumber arus masih menyala.

Petunjuk Kalibrasi :
1. Hubungkan transmitter dan receiver tanpa sampel diantaranya.
2. Atur gelombang yang dikirimkan transmitter agar berada di tengah layar osiloksop
seperti pada gambar di bawah.
3. Aturan gelombang yang diterima receiver agar pada saat awal diterima berada pada
gelombang yang dikirimkan transmitter seperti pada gambar di bawah.

Gambar 12. Tampilan pada osiloskop setelah kalibrasi dilakukan

Keterangan :
Sinyal Biru : Sinyal gelombang yang dikirimkan transmitter
Sinyal Kuning : Sinyal gelombang yang diterima receiver

7 TUGAS PENDAHULUAN

1. Suatu gelombang elastik dilewatkan pada beberapa sampel batuan yaitu:


a. Batuan padat yang pejal.
b. Batuan padat yang berpori, dengan pori berisi udara.
c. Batuan padat yang berpori, dengan pori berisi air.
Sampel ini memiliki massa jenis batuan yang sama. Batuan jenis manakah yang
memiliki kecepatan gelombang elastik terbesar? Jelaskan.
2. Diketahui suatu sampel (core) jenis Dolomite: vp=7425 m/s; m=700g;
diameter=6.43cm; panjang=13.4cm dan Poisson ratio=0.283. Tentukanlah
konstanta lame (λ) dari sampel padat yang diukur!
3. Turunkan sifat-sifat elastis sehingga didapatkan persamaan kecepatan gelombang vp
dan vs!
4. Jelaskan metode pengukuran parameter elastik dengan cara kinetik dan cara statik
(beserta contohnya)!
5. Turunkan persamaan untuk mendapatkan persamaan Poisson Ratio = (𝜆/2(𝜆 + 𝜇))!
6. Jelaskan urgensi dari penggunaan sonic viewer ini dalam kaitannya dengan
eksplorasi lapangan migas maupun panas bumi!
7. Berapakah besar modulus geser dari air? Jelaskan menggunakan definisi dasar dari
modulus geser!
8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan porositas! Hitung besar porositas untuk kasus
Cube Packing dan Hexagonal Packing!

8 TUGAS LAPORAN

A. Analisis
1. Jelaskan cara kerja sonic viewer!
2. Hitung semua parameter elastik dan kinetik setiap sampel!
3. Bandingkan hasilnya untuk tiap frekuensi dan sampel!
4. Jelaskan asumsi ataupun aproksimasi yang digunakan pada percobaan ini!
5. Terkait besaran porositas, apakah hasil yang didapatkan cukup
merepresentasikan? Jelaskan alasannya!
6. Dalam segi teori, teori elastisitas ini masih memiliki kekurangan untuk
menyelesaikan permasalahan dari studi batuan. Jelaskan perkembangan teori
elastisitas untuk pemodelan batuan!
7. Diketahui bahwa batuan reservoir merupakan sistem kompleks (terdapat
pori yang kompleks beserta pengisinya), jelaskan model paling sederhana
untuk menghubungkan besaran kecepatan p (vp) dengan porositas!
8. Dalam proses eksplorasi geofisika, pengukuran sampel batuan
menggunakan Sonic viewer ini cukup penting. Lalu, jelaskan bagaimana
dalam pengukuran skala kecil tersebut dapat digunakan hasilnya untuk
eksplorasi lapangan yang besar!
9. Dalam segi teknis, penggunaan sonic viewer ini masih memiliki kekurangan
untuk mendapatkan besaran porositas yang lebih baik. Jelaskan
pengembangan metode yang sedang dikembangkan untuk studi sampel
batuan!

B. Open Problem
1. Jelaskan pengaruh tekanan terhadap kecepatan perambatan gelombang P
dan S pada batuan!

9 MATA KULIAH TEKAIT

1. FI2161 Fisika Bumi dan Sistem Kompleks


2. FI3101 Gelombang
3. FI3267 Fisika Batuan

10 REFERENSI

[1] Mavko, Gary, et all. 2009. The Rock Physics Handbook 2nd. Cambridge:
Cambridge University Press, 21-90
[2] Lowrie, William. 2007. Fundamentals of Geophysics 2nd. Cambridge:
Cambridge University Press, 121-135
[3] Zheng, Ziqiong. 2000. Seismic anisotropy due to stress-induced cracks. Int.
Journal of Rock Mech Min Sci 37
[4] Fauzi, Umar. 2016. Diktat Fisika Batuan. Departemen Fisika Institut Teknologi
Bandung, 41-54