Anda di halaman 1dari 6

ETIKA PROFESI DAN HUKUM KESEHATAN

MODUL 5
Pengambilan keputusan dalam menghadapi dilema etik/moral pelayanan
kebidanan

Tujuan Umum

Setelah menyelesaikan kegiatan belajar ini Anda diharapkan


Menjelaskan teori-teori yang mendasari pengambilan keputusan dalam
menghadapi dilema etik/moral pelayanan kebidanan

Tujuan Khusus

Pengambilan keputusan dalam menghadapi 1


dilema etik/moral pelayanan kebidanan
PENGANTAR

Tuntutan terhadap kualitas pelayanan kebidanan semakin meningkat seiring dengan


kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan era globalisasi. Pemahaman yang baik
mengenai etika profesi merupakan landasan yang kuat bagi profesi bidan agar mampu
menerapkan dan memberikan pelayanan kebidanan yang profesional dalam melakukan
profesi kebidanan, dan dalam berkarya di pelayanan kebidanan, baik kepada individu,
keluarga dan masyarakat. Pengkajian dan pembahasan tentang etika tidak selalu
berhubungan dengan moral dan norma. Kadang etika diidentikan dengan moral,
walaupun sebenamya terdapat perbedaan dalam aplikasinya. Moral lebih menunjuk pada
perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan Etika dipakai sebagai kajian terhadap sistem
nilai yang berlaku. Etika juga sering dinamakan filsafat moral yaitu cabang filsafat
sistematis yang membahas dan mengkaji nilai baik buruknya tindakan manusia
yang dilaksanakan dengan sadar serta menyoroti kewajiban-kewajiban yang
seharusnya dilakukan oleh manusia. Perbuatan yang dilakukan sesuai dengan norma
moral maka akan memperoleh pujian sebagai rewardnya, namun perbuatan yang
melanggar norma moral, maka si pelaku akan memperoleh celaan sebagai
punishmentnya. Oleh karena itu, para bidan maupun calon bidan, harus mampu
memahami kondisi masyarakat yang semakin kritis dalam memandang kualitas pelayanan
kebidanan, termasuk pula ketidakpuasan dalam pelayanan.

Pengambilan keputusan dalam menghadapi 2


dilema etik/moral pelayanan kebidanan
URAIAN TEORI

5.1 Pengambilan Keputusan Dalam Menghadapi Dilema Etik/Moral Pelayanan


Kebidanan
Adalah memilih alternative yang ada. Setidaknya terdapat 5 hal pokok
dalam pengambilan keputusan, yaitu :
1. Intuisiberdasarkan perasaan, lebih subjektif dan mudah terpengaruh.
2. Pengalaman mewarnai pengetahuan prakts, seringnya terpapar suatu kasus
meningkat tingkatan kemampuan mengambilan keputsan terhadap suatu
kasus tersebut.
3. Fakta, keputusan rill, valid dan baik.
4. Wewenang lebih berifat rutinitas
5. Rasional, keputusan bersifat objektif transparan, konsisten.

 Yang mempengaruhi pengambilan keputusan :


1. Posisi/kedudukan.
2. Masalah terstruktur, tidak terstuktur, rutinitas, insidentil.
3. Situasi ; factor konstan, dan factor yang tidak konstan.
4. Kondisi, factor-farktor yang menentukandaya gerak.
5. Tujuan, antara atau objektif.

 Kerangka pengambilan keputusan


System pengambilan keputusan merupakan bagian dasar dan
integral dalam praktek suatu profesi. Keberadaan yang sangat penting,
karena akan menentukan tindakan selanjutnya. Keterlibat bidan dalam
proses pengambilan keputusan sanga penting karena dpat dipengaruhi oleh
2 faktor, yaitu :
1. Pelayanan “one to one”, yakni bidan klien yang bersifat sangat pribadi
dan bidan juga bias memenuhi keutuhan.
2. Meningkatingkatan sensitivitas terhadap klien bidan berusaha keras
untuk memenuhi kebutuhan nya.

Pengambilan keputusan dalam menghadapi 3


dilema etik/moral pelayanan kebidanan
Mengapa AKI/AKB di Indonesia masih tinggi ?. ada 3 keterlibatan
pengambilan keputusan yag bias mempengaruhi AKI/AKB di Indonesia
masih tinggi, yaitu :
1. Terlambat mengenali tanda-tanda bahaya kehamilan seingga terlambat
untuk memulai pertolongan.
2. Terlambat tiba di fasilitas pelayanan kesehatan.
3. Terlambat mendapatan pelayanan setelah tiba di tempat pelayanan.

 Tingkatan Dalam Pengambilan Keputusan


Tingkatan I : Keputusan dan tindakan : Bidan merefleksikan pada
pengalaman/pengalaman pada rekan kerja.
Tingkatan II :
Peraturan :
· Yang bedasarkan kaidah kejujuran (berkata benar), privasi, kerahasiaan
dan kesetiaan dalam menepati janji.
· Bidan sangat familiar, tidak meninggalkan kode etik dan panduan-paduan
dalam praktik profesi nya.
Tingkatan III :
Terdapat 4 askep dalam prinsip etika yang digunakan dalam
perawatan praktek kebidanan :
a. Antonomy, perhatikan penguasaan diri, hak kebebasaan, dan pilihan
individu.
b. Beneticence, memperhatikan kesejahteraan klien, selain itu berbuat
baik untuk orang lain.
c. Non-maleticence, tidak elakukan tindakan yang menimbulkan
penderitaan apapun dan kerugian apapun terhadap orang lain.
d. Yustice, memperhatikan keadilaan, pemerata beban dan keuntungan.

Tingkat IV
Teori pengambilan keputusan yaitu :
1. Teori Utilitarisme :
Teori utilitarisme mengutamakan adanya konsekuensi
kepercayaan adanya kegunaan. Dipercaya bahwa semua manusia
mempunyai perasaan menyenangkan dan perasaan sakit. Ketika
keputusan dibuat seharusnya memaksimalkan kesenangan dan
meminimalkan ketidaksenangan. Prinsip umum dari utilitarisme adalah
Pengambilan keputusan dalam menghadapi 4
dilema etik/moral pelayanan kebidanan
didasarkan bahwa tindakan moral menghasilkan kebahagiaan yang
besar bila menghasilkan jumlah atau angka yang besar.
2. Teori Deontology :
Menurut Immanuel Kant: sesuatu dikatakan baik dalam arti
sesungguhnya adalah kehendak yang baik, kesehatan, kekayaan,
kepandaian adalah baik. Jika digunakan dengan baik oleh kehendak
manusia, tetapi jika digunakan dengan kehendak yang jahat akan
menjadi jelek sekali. Kehendak menjadi baik jika bertindak karena
kewajiban . Kalau seseorang bertindak karena motif tertentu atau
keinginan tertentu berarti disebut tindakan yang tidak baik. Bertindak
sesuai kewajiban disebut legalitas.
3. Teori Hedonism :
Menurut Aristippos (433-355 SM) sesuai kodratnya setiap
manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Akan
tetapi, ada batas untuk mencari kesenangan. Hal yang penting adalah
menggunakan kesenangan dengan baik dan tidak terbawa oleh
kesenangan.
4. Teori Eudemonisme :
Menurut Aristippos (433-355 SM) sesuai kodratnya setiap
manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Akan
tetapi, ada batas untuk mencari kesenangan. Hal yang penting adalah
menggunakan kesenangan dengan baik dan tidak terbawa oleh
kesenangan.
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika adalah kumpulan asas atau
nilai yang berkenaan dengan akhlak, sedangkan etiket adalah sopan santun. Moral
merupakan nilai-nilai dan norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu
kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Hukum berhubungan erat dengan
moral. Hukum membutuhkan moral, hukum tidak mempunyai arti, kalau tidak dijiwai
oleh moralitas. Etika dalam pelayanan kebidanan merupakan issue utama di berbaai
tempat, dimana sering terjadi karena kurang pemahaman para praktisi pelayanan

Pengambilan keputusan dalam menghadapi 5


dilema etik/moral pelayanan kebidanan
kebidanan terhadap etika. Pelayanan kebidanan adalah proses dari berbagai
dimensi.
Hal tersebut membutuhkan bidan yang mampu menyatu dengan ibu dan
keluarganya. Screening antenatal, pelayanan intrapartum, perawatan intensive pada
neonatal, dan pengakhiran yang profesional dan akuntabilitas serta aspek legal
dalam pelayanan kebidanan kode etik profesi bidan merupakan suatu pedoman
dalam tata cara dan keselarasan dalam pelaksanaan pelayanan profesional bidan.

Saran
Melalui makalah ini, penulis berharap agar para bidan maupun calon bidan
menjalankan profesionalitas pekerjaannya sesuai kode etik kebidanan, antara lain
menjunjung tinggi martabat dan citra profesi, menjaga dan memelihara
kesejahteraan para anggota, meningkatkan pengabdian para anggoa profesi, dan
meningkatkan mutu profesi.

DAFTAR PUSTAKA

Hadiwardoyo, Purwa, 1989. Etika Medis, Yogyakarta, Balai Pustaka


Heni, 2009. Etika Profesi Kebidanan, Yogyakarta. Fitramaya
Puji Heni, Yetty Asmar, 2005. Etika Profesi Kebidanan, Yogyakarta. Fitramaya

Pengambilan keputusan dalam menghadapi 6


dilema etik/moral pelayanan kebidanan