Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN

KATARAK

DISUSUN OLEH :
1. AYU DWI RATNA WATI
2. DEWI NUR FITRIA NINGSIH
3. ENNY SULISTIYARINI
4. NIKA UNTIAN RETMA PERDANA
5. NUNGKY SETYO ARINI
6. TRI ASTUTIK

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSUDA


SURAKARTA
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
KATARAK

I. KONSEP PEMENUHAN KEBUTUHAN


A. Definisi
Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau
bahan lensa di dalam kapsul lensa.( sidarta ilyas, 1998 ).
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa beberapa
abad yang lalu apabila pengurangan visus diperkirakan oleh suatu tabir (layar)
yang diturunkan di dalam mata, agak seperti melihat air terjun. (Perawatan
Mata. Vera H. Darling, Margaret R. Thorpe).
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang dapat
terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau
dapat juga akibat dari kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan
berjalan progesif. (Mansjoer,2000;62)

B. Etiologi
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang dapat
terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau
dapat juga akibat dari kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan
berjalan progresif. (Mansjoer, 2000)

C. Menifestasi Klinik
Menurut Mansjoer (2000), faktor resiko terjadinya katarak bermacam-
macam, yaitu sebagai berikut:
a. Usia lanjut
Katarak umumnya terjadi pada usia lanjut (Katarak senil). Dengan
bertambahnya usia lensa akan mengalami proses menua, dimana dalam
keadaan ini akan menjadi katarak.
b. Kongenital
Katarak dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus dimasa
pertumbuhan janin.
c. Genetic
Pengaruh genetic dikatakan berhubungan dengan proses degenerasi yang
timbul pada lensa
d. Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indek refleksi,
dan aplitudo akomidatif. Dengan meningkatnya kadar gula darah, maka
meningkat pula kadar glukosa dalam akuos humor. Oleh karena glukosa
dari akuos masuk ke dalam lensa yang meningkat. Sebagian glukosa
tersebut dirubah oleh enzim aldose reduktase menjadi sorbitol, yang tidak
dimetabolisme tapi tetap berada dalam lensa.
e. Merokok
Merokok dan mengunyah tembakau dapat meningkatkan stress oksidatif
dan dihubungkan dengan penurunan kadar antioksidan, askorbat dan
karetenioid.
f. Konsumsi Alcohol
Dalam penelitian alcohol beroeran dalam terjadinya katarak. Alcohol
secara langsung bekerja pada protein lensa dan secara tidak langsung
dengan cara mempengaruhi penyerapan nutrisi penting pada lensa.

D. Manifestasi Klimis
Gejala subjektif dari pasien dengan katarak antara lain:
1. Biasanya klien melaporkan penurunan ketajaman penglihatan dan silau
serta gangguan fungsional yang akibatkan oleh kehilangan penglihatan.
2. Menyilaukan dengan distori bayangan dan susah melihat di malam hari.

Gejala Objektif biasanya meliputi:


1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan
tampak dengan oftalmoskop. Ketika lensa sudah menjadi opak cahaya akan
dipendarkan dan bukannya ditransmisikan dengan tajam menjadi bayangan
terfokus pada retina. Hasilnya adalah pandangan menjadi kabur/ redup
2. Pupil yang normalnya hitam akan tampak abu-abu/ putih. Penglihatan
seakan-akan melihat asap dan pupil bertambah putih.
3. Pada akhirnya apabila katarak telah matang pupil akan tampak benar-benar
putih, sehingga reflex cahata pada mata menjadi negatif (Petter, 2006)
E. Komplikasi
Bila katarak dibiarkan makan akan terjadi komplikasi berupa glukoma
dan uneitis. Glaucoma adalah peningkatan abnormal tekanan intraokuler yang
menyebabkan atrofi saraf optic dan kebutaan bila tidak teratasi. (Doenges,
2000)

F. Patofisiologi dan Pathway


Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernis, transparan,
berbentuk seperti kancing baju da mempunyai kekuatan refleksi yang besar.
Lensa mengandung 3 komponen anatomis. Pada zona sentral terdapat nucleus,
di perifer ada korteks dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior
dan posterior. Dengan bertambahnya usia, nucleus mengalami perubahan
warna menjadi coklat kekuningan. Di sekitar opasitas terdapat densitas seperti
duri di anterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior
merupakan bentuk katarak yang paling bermakna, nampak seperti Kristal salju
pada jendela.
Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya
transparansi. Perubahan pada serabut halus multiper (zunula) yang memanjang
dari badan silser ke sekitar daerah di luar lensa, misalnya dalam protein lensa
dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan
menghambat jalannya cahaya ke retina.
Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi
disertai influx air ke dalam lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang
tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa seatu
enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah
enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi bilateral, namun memiliki kecepatan yang
berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemik, seperti
diabetes. Namun kebanyakan merupakan konsekwensi dari proses penuaaan
yang normal. Kebanyakan katarak berkembang secara kronik ketika seseorang
memasuki decade ketujuh. Katarak dapat bersifat kongenital dan harus
diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan
amblyopia dan kehilangan penglihatan permanen. Faktor yang paling sering
berperan dalam terjadinya katarak meliputi radiasi sinar ultraviolet D, obat-
obatan, alcohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin antioksidan yang
kurang dalam jangka waktu lama (Smetzer, 2002)

PATHWAY

Lensa normal jernih, transparan

Nukleus Kortek Kaopsul anterior


Posterior

Pertumbuhan usia, radiasi, dll

Pertumbuhan fisik kimia pada lensa

Kepadatan lensa hilang tranparasi

Kimia dan peotein di lensa berubah

Koagulasi Protein terputus

Kekeruhan lensa Mematahkan selaput lensa

Pembiasan cahaya terhambat mengganggu transisi sinar

Penurunan tajam penglihatan

Pre op
G. Penerimaan sensori penglihatan

Prosedur pembedahan
G. Persepsi sensori Perubahan status kesehatan

Terputusnya kontinitas jurusan

Kurang pengetahuan Cemas


G. Nyaman nyeri
Ansietas
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Kartu mata srellen/ mesin telebinokuler: mungkin tergangu dengan
kerusakan kornea, lensa, akueus/ vitreus humor, kesalahan reflaksi,
penyakit sistem syaraf, penglohatan ke retina.
2. Lapang penglihatan penuruan mungkin karena massa tumor, karotis,
glukoma
3. Pengukuran Tonografi : TIO ( 12 – 25 mmHg)
4. Pengukuran Gonioskopi : membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glukoma
5. Tes profokatif : menentukan adanya/ tipe glukosa
6. Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optic,
papilledema, perdarahan
7. Darah lengkap, LED = menunjukkan anemi sistemik/ infeksi
8. EK 6, kolesterol serum, lipid
9. Tes toleransi glukoma : control DM
10. Keratometri
11. Pemeriksaan lampu Slit
12. A scan ultrasound (schogralhy)
13. Perhitungan sel endotel penting untuk fakoemulsifikasi dan implantasi
14. USG mata sebagai persiapan untuk pembedahan katarak (Mansjoer : 2000)

H. Penatalaksanaan
Pembedahan yang dilakukan bila tajam penglihatan sudah menurun
sedemikian rupa sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila telah
menimbulkan penyulit seperti glaukoma atau uvertis (Mansjoer, 2000). Dalam
bedah katarak, lensa diangkat dari mata (ekstraksi lensa) dengan prosedur
intrakapsular atau ekstrakapsular. Ekstrasi intrakapsular yang jarang lagi
dilakukan saat ini adalah mengangkat lensa in toto yakni di dalam kapsulnya
melalui insisi lumbus superior 140 - 1600. Pada ekstrasi intrakapsular juga
dilakukan insisi lumbus superior, bagian anterior kapsul dipotong dan diangkat,
nucleus diekstraksi dan korteks lensa dibuang dari mata dengan irigasi dan
aspirasi atau tanpa aspirasi sehingga menyisakan kapsul posterior
Fakofragmentasi dan fakoemulsifikasi dengan irigasi atau aspirasi (atau
keduanya) adalah teknik ekstrakapsular yang menggunakan getaran-getaran
ultrasonic untuk mengangkat nucleus dan korteks melalui insisi lumbus yang
kecil (2-5 mm), sehingga mempermudah penyembuhan luka pasca operasi.
Teknik ini kurang bermanfaat pada katarak senilis yang padat dan keuntungan
insisi lumbus yang kecil agak berkurang jika dimasukkan lensa intraokuler.
Pada beberapa tahun silam, operasi katarak ekstrakapsuler telah menggantikan
prosedur intrakapsuler sebagai jenis bedah katarak yang paling sering. Alasan
utamanya adalah bahwa apabila kapsul posterior utuh, ahli bedah dapat
memasukkan lensa intra okuler ke dalam kamera posterior. Insiden komplikasi
pasca operasi seperti abasro retina dan edema macula lebil kecil bila kapsul
posteriornya utuh. Jika digunakan teknik insisi kecil, masa penyembuhan psca
operasi biasanya lebih pendek. Pasien bebas rawat jalan pada hari operasi itu
juga, tetapi dianjurkan untuk bergerak dengan hati-hati dan menghindari
pegangan atau mengangkat benda berat selama sakit satu bulan.
Matanya dapat dibalut selama beberapa hari, tetapi kalau matanya terasa
nyaman, balutan dapat dibuang pada hari pertama pasca operasi dan matanya
dilindungi dengan kaca mata. Perlindungan pada malam hari dengan
perlindungan logam diperlukan selama beberapa minggu. Kacamata sementara
dapat digunakan beberapa hari setelah operasi, tetapi biasanya pasien melihat
dengan cukup baik melalui lensa intraokuler sambil menantikan kacamata
permanen. (Vaughan, 2000)

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Identitas klien: nama, umut, jenis kelamin, agama, pendidikan, alamat,
pekerjaan, status perkawinan. Katarak biasanya lebih banyak pada orang
yang berusia lanjut. Pekerjaan yang sering terpapar sinar ultraviolet akan
lebih beresiko mengalami katarak.
2. Riwayat kesehatan: diagnosa medis, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit terdahulu, terdiri dari penyakit yang pernah
dialami, alergi, imunisasi, kebiasaan/ pola hidup, obat-obatan yang
digunakan, riwayat penyakit keluarga. Keluhan utama yang dirasakan yaitu
penurunan ketajaman penglihatan dan silau
3. Riwayat penyakit saat ini
4. Riwayat penyakit terdahulu
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya terdapat keluarga yang lain yang juga mengalami katarak
6. Genogram
7. Pengkajian Keperawatan
a. Persepsi kesehatan dan peneliharaan kesehatan berbeda pada setiap klien
b. Pola nutrisi/ metabolic
Tidak ada gangguan terkait pola nutrisi dan metabolis klien
c. Pola eliminusi
d. Pola aktivitas dan latihan. Perubahan aktivitas biasanya/ hobi
sehubungan dengan gangguan penglihatan
e. Pola tidur dan istirahat
f. Pola kognitif dan perceptual
Gangguan penglihatan (kabur/ tak jelas), sinar terang menyebabkan
silau dengan kehilangan bertahap, kesulitan memfokuskan kerjadengan
dekat/ merasa di ruang gelap
g. Pola persepsi diri
Klien beresiko mengalami harga diri rendah karena kondisi yang
dialaminya.
h. Pola seksualitas dan reproduksi
i. Pola peran dan hubungan
akan terganggu karena adanya gangguan pada penglihatannya
j. Pola koping
Klien dapat mengalami stress karena klien tidak dapat melihat secara
jelas seperti sebelumnya
k. Sietem nilai dan keyakinan
8. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum, tanda vital
b. Pengkajian fisik
Pada inspeksi mata akan tampak pengembunan seperti mutiara keabuan
pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop
(Smeltzer, 2000)
B. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
1. Gangguan persepsi sensori visual/ penglihatan berhubungan dengan
penurunan ketajaman penglihatan
2. Cemas berhubungan dengan pembedahan yang akan dijalani

Post Operasi
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan prosedur invasif
2. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasif

C. Intervensi
Pre Operasi
1. Gangguan persepsi sensori visual/ penglihatan berhubungan dengan
penurunan ketajaman penglihatan
NOC : a) Penggunaan alat bantu dengan benar
b) Tidak ada penggunaan karpet
c) Hindari barang-barang berserakan di lantai
NIC : a) Indentifikasi kebiasaan dan faktor-faktor yang mengakibatkan
resiko jatuh
b) Kaji riwayat jatuh pada klien dan keluarga
c) Identifikasi karakteristik lingkungan yang dapat menimbulkan
terjadinya resiko jatuh (lantai licin)
d) Sediakan alat bantu (tongkat, walker)
e) Ajarkan cara menggunakan alat bantu
f) Instruksikan pada klien untuk meminta bantuan ketika
melakukan perpindahan, jika diperlukan
g) Ajarkan pada keluarga untuk menyediakan lantai rumah yang
tidak licin
h) Ajarkan pada keluarga untuk meminimalkan resiko terjadinya
jatuh pada pasien
2. Cemas berhubungan dengan pembedahan yang akan dijalani
NOC : a) Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala
cemas
b) Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan teknik
untuk mengontrol cemas
c) Vital sigh dalam batas normal
d) Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktifitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan
NIC : a) Gunakan pendekatan yang menenangkan
b) Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pasien
c) Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
d) Temani pasienuntuk memberikan keamanan dan mengurangi
takut
e) Berikan informasi faktual mengenai keamanan dan mengurangi
takut
f) Dorongan orang tua untuk menemani anak
g) Identifikasi tingkat kecemasan
h) Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
i) Dorongan pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,
persepsi

Past Operasi
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut) berhubungan dengan prosedur invasif
NOC : a) Mampu mengontrol nyeri
b) Mampu mengenali nyeri (skala, inyensitas, frekwensi, dan tanda
nyeri
c) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
d) Tanda vital dalam rentang normal
NIC : a) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekwensi, kualitas, dan faktor presipitasi
b) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c) Kurangi faktir presipitasi nyeri
d) Pilih dan lakukan penanganan nyeri
e) Ajarkan tentang teknik non farnakologi
f) Tingkatkan istirahat
2. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
NOC : a) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
b) Mendeskripsikan proses penularan penyakit, faktir yang
mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya
c) Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
d) Menunjukkan perilaku hidup sehat
NIC : a) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
b) Pertahankan teknik isolasi
c) Batasi pengunjungi bila perlu
d) Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan
e) Gunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan
f) Pertahankan lingkingan aseptik selama pemasangan alat
g) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
h) Monitor ketrentanan terhadap infeksi
i) Berikan perawatan kulit pada area epidema
j) Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap kemerahan, panas,
drainase
k) Instrusikan pasien untuk minum antibiotic sesuai resep
l) Ajarkan cara menghindari infeksi
m) Laporkan kecurigaan infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Doenges., ME, Geissler A. C. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta:


EGC

James, Bruce, dkk, 2005. Lectures Note Oftomologi, Edisi 9, Jakarta: Erlangga

Mansjoer, Arif, 200. Kapita Selekta Kedokteran, Edidi 3, Jilid 2, Jakarta : Media
Aesculapius

Potter, Patricia A, 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, proses, dan
praktik, Alih Bahasa : Tenata Komalasari, Edisi 4, Jakarta : EGC

Sweltzer, C Suzanne, 2000. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Alih Bahasa:
Waluyo Agung dkk, Jakarta: EGC

Vaughan, Dale, 2000. Ofralmologi Umum, Alih Bahasa : Jan Tambayong dan Brahm U
Pendit, Edisi 14, Jakarta : Widya Medika
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Ny. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS KATARAK
DI RUANG UTAMA RST Dr. ASMIR SALATIGA

DISUSUN OLEH :
1. AYU DWI RATNA WATI
2. DEWI NUR FITRIA NINGSIH
3. ENNY SULISTIYARINI
4. NIKA UNTIAN RETMA PERDANA
5. NUNGKY SETYO ARINI
6. TRI ASTUTIK

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSUDA


SURAKARTA
2017
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Ny. H DENGAN DIAGNOSA MEDIS KATARAK
DI RUANG UTAMA RST Dr. ASMIR SALATIGA

Tanggal/ Jam MRS : 9 Mei 2017/ 11.00 WIB


Tanggal/ Jam Pengkajian : 9 Mei 2017/ 13.00 WIB
Metode Pengkajian : Alloanamnesa dan Autiamnesa
Diagnosa Media : Susp. Katarak ODS
No. registrasi : 091075

I. BIODATA
1. Identitas Klien
Nama Klien : Ny H
Alamat : Banjaran
Umur : 65 tahun
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Pendidikan : SD
Pekerjaan :-

2. Identitas Penanggung Jawab


Nama Klien : Tn. S
Umur : 41 tahun
Pendidikan : SMA
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan : PNS
Alamat : Banjaran
Hubungan dengan pasien : Anak

II. RIWAYAT KEPERAWATAN


1. Keluhan Utama
Pasien mengatakan pandangan mata kanan kabur
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan pandangan mata kanan sejak lama seperti
tertutup kabut. Pada tanggal 9 Mei 2017 pasien datang ke IGD mendapat terapi
cairan RL, injeksi ranitidire dan pasien mengalami rawat inap di ruang utama.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah dirawat di Rumah Sakit dengan diagnose hipertensi, penyakit lain
tidak ada.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Di dalam silsilah keluarga tidak ada penyakit keturunan maupun menular, klien
dan keluarga selalu menjaga kesehatan, tempat tinggal bersih

X X X

Keterangan
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Garis Keturunan
------- : Satu Rumah
X : Meninggal

5. Riwayat Kesehatan Lingkungan


Pasien tinggal di lingkungan yang bersih
III. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN
1. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Pasien mengatakan sehat itu penting
2. Pola Nutrisi/ Merabolik
a. Sebelum sakit
Frekwensi : 3 x sehari
Jenis : Nasi, lauk, sayur
Porsi : Porsi besar
Keluhan : Tidak ada keluhan
b. Selama Sakit
Frekwensi : 3 x sehari
Jenis : Nasi, lauk, sayur
Porsi : Sesuai porsi rumah sakit
Keluhan : Tidak ada keluhan
3. Pola Eliminasi
a. BAB
1) Sebelum Sakit
Frekwensi BAB : 1 x dalam sehari
Konsistensi : Padat
Warna : Kuning
Keluhan : Tidak ada
2) Setelah Sakit
Frekwensi BAB : 1 x dalam 2 hari
Konsistensi : Padat
Warna : Kuning
Keluhan : Tidak ada
b. BAK
1) Sebelum Sakit
Frekwensi BAK : + 6 x dalam sehari
Konsistensi : + 300 cc
Warna : Kuning
Keluhan : Tidak ada
2) Setelah Sakit
Frekwensi BAK : + 4 x dalam sehari
Konsistensi : + 250 cc
Warna : Kuning
Keluhan : Tidak ada

Analisa Keseimbangan Cairan Selama Perawatan


Intake Output Analisa
Makanan : 550 cc Feses : 200 cc Intake : 1450 cc
Minuman : 400 cc Urine : 250 cc Output : 1275 cc
Infus : 500 cc IWL : 825 cc
Total 1450 cc Total 1275 cc Balance 175

4. Pola aktifitas dan latihan (sebelym dan selama sakit)


Sebelum sakit Selama Sakit
Kemampuan perawatan diri
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4
Makan/ Minum √ √
Mandi √ √
Toileting √ √
Berpakaian √ √
Mobilitas di tempat tidur √ √
Berpindah √ √
Ambulasi/ ROM √ √

Ket:
0: Mandiri; 1: dengan alat bantu; 2: dibantu orang lain; 3 dibantu orang lain dan
apal; 4: tergantung total

5. Pola Istirahat Tidur


a. Sebelum Sakit
Pasien mengatakan dapat tidur 6 – 8 jam di malam hari, 1 – 2 jam di siang
hari.
b. Setelah Sakit
Pasien mengatakan hanya tidur 4 – 5 jam dimalam hari
6. Pola Kognitif. Perseptial
a. Sebelum Sakit
Pasien mengatakan pasien dapat berinteraksi dengan baik, komunikasi tidak
terganggu dan kelima panca indra dapat berfungsi
b. Setelah Sakit
Pasien mengatakan pasien merasa terganggu karena tidak dapat melihat
dengan jelas.
7. Pola Persepsi Konsep Diri
a. Sebelum Sakit
Pasien mengatakan merasa bahagia dan bersyukur masih diberi umur
panjang
b. Setelah Sakit
Pasien mengatakan merasa selalu merepotkan anak-anaknya.
8. Pola Hubungan Peran
a. Sebelum Sakit
Pasien mengatakan pasien dapat menjalin hubungan dengan anggota
keluarganya dan masyarakat sekitarnya
b. Setelah Sakit
Pasien mengatakan merasa terganggu karena ada gangguan pada
penglihatannya.
9. Pola Seksualitas Reprosuksi
a. Sebelum Sakit
Pasien mengatakan pasien sudah tidak melakukan hubungan intim lagi
b. Setelah Sakit
Pasien mengatakan tidak ada gangguan pada seksualitas dan reproduksinya
10. Pola Mekanisme Koping
a. Sebelum Sakit
Pasien mengatakan pasien selalu bercerita kepada siapapun jika mempunyai
sebuah masalah
b. Setelah Sakit
Pasien mengatakan jarang menceritakan masalahnya
11. Pola Nilai dan Keyakinan
a. Sebelum Sakit
Pasien mengatakan pasien selalu taat beribadah dan berserah diri pada Tuhan
b. Setelah Sakit
Pasien mengatakan pasien tetap taat beribadah meskipun dengan duduk
ataupun tidur

IV. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan/ penampilan umum
a. Kesadaran : Compos mentis
b. Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah : 170/ 100 mm Hg
2) Nadi
- Frekwensi : 90 x/ menit
- Irama : teratur
- Kekuatan : teraba kuat
3) Pernapasan
- Frekwensi : 20 x/ menit
- Irama : teratur
4) Suhu : 36,5˚C
2. Kepala
Bentuk kepala : Mesochepal
Kulit kepala : bersih
Rambut : Rambut berwarna hitam sedikit beruban
3. Muka
a. Mata
Palpebra : tidak oedem, tidak ada luka
Konjungtiva : merah muda
Sclera : tidak ada ikterik
Pupil : terlihat keabuan
Diameter ki/ka : simetris
Reflek terhadap cahaya :- / -
Penggunaan alat bantu penglihatan : tidak menggunakan alat
b. Hidung : simetris, tidak ada pupil
c. Mulut : simetris, mukosa lembab
d. Gigi : bersih, tidak menggunakan gigi palsu
e. Telinga : ada sedikit serumen, simetris
4. Leher : tidak ada pembengkakkan
5. Dada (Thorax)
a. Paru-paru
- Infeksi : simetris tidak ada jajar
- Palpasi : vokal premitus
- Perkusi : suara senor
- Auskultasi : versikuler, tidak ada suara tambahan
b. Jantung
- Infeksi : simetris, tidak ada luka
- Palpasi : ICS teraba di ICS 5
- Perkusi : suara pekak
- Auskultasi : bunyi jantung lup dup
6. Abdomen
Infeksi : tidak ada benjolan
Palpasi : bising usus + 8x/ menit
Perkusi : thympani
Auskultasi : tidak ada nyeri tekan
7. Genetika : bersih, tidak ada jejas
8. Rektum : bersih, tidak ada luka
9. Ekstremitas
a. Atas
Kekuatan otot kanan dan kiri : normal
ROM kanan dan kiri : normal
Perubahan bentuk tulang : tidak ada
Perabaan Akral : hangat
Pitting edema : dapat kembali dalam 2 detik
b. Bawah
Kekuatan otot kanan dan kiri : normal
ROM kanan dan kiri : normal
Perubahan bentuk tulang : tidak ada
Perabaan Akral : hangat
Pitting edema : dapat kembali dalam 2 detik
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
HEMATOLOGI
Hemoglobin 14,5 13.0 - 16.0 9/dl
Leukosit 9.29 5.0 - 12.0 10 ̂ 3/ ul
Trombisut 322 100 - 400 10 ̂ 3/ ul
Hematrakit 45,5 35.0 – 49.0 %
Eritrosit 5,63 4.0 – 5.20 10 ̂ 6/ ul
MCV 80,8 82.0 – 95.0 fl
MCM 25,8 27.0 – 31.0 P9
MCHE 31,9 32.0 – 36.0 9/dl
MPV 8,8 6.5 – 12.00 fl
PDW 15,9 9.0 – 17.0
RDW - SD 44,9 35 – 36 fl
EDW – SC 13,5 11.5 – 14.7 %
DIFF COUNT
Eosinofil % 0,8 1–3 %
Basifil % 0,5 0–1 %
Neotrofil % 76,4 50 – 70 %
Lymposit % 18,0 20 – 40 %
Monosit % 4,3 2–8 %
KIMIA
Ureum 27,5 15 – 45 mg/dl
Creatinin 0,68 0,6 – 1,1 mg/dl
VI. TERAPI MEDIS

Hari/ tgl Jenis Terapi Dosis Gol & Kandungan Fungsi & Farmologi
Selasa RL 20 tpm Cairan elektrolit Untuk menambah cairan
9 Mei 2017 elektrolit

Injeksi ranitidine 2x50mg Histamine Obat untuk mengurangi


jumlah asam lambung dalam
perut
Injeksi OMZ 1x40 mg Antusida
Untuk mengobati saluran
cerna

Rabu RL 20 tpm Cairan elektrolit Untuk menambah cairan


10 Mei 2017 elektrolit

Manitol 4x100cc Diuretik Obat yang meningkatkan


pembentukan urine oleh
ginjal

Injeksi OMZ 1x100 cc Antusida Untuk mengobati saluran


cerna

Kamis RL 16 tpm Cairan elektrolit Untuk menambah cairan


11 Mei 2017 elektrolit

Injeksi OMZ 1x40mg Antusida Untuk mengobati saluran


cerna

VII. ANALISA DATA


Nama : Ny. H No. RM : 091075
Umur : 65 tahun D. Medis : Katarak

No Hari/ tgl/ jam Data Fokus Masalah Etiologi Diagnosa Kepara Ttd
1 Selasa Ds : Pasien mengatakan Gangguan Menurunnya Gangguan
1/6/ 17 penglihatannya kabur persepsi ketajaman persepsi sensori
08.00 seperti berawan sensari penglihatan penglihatan
penglihatan berhubungan
Pasien mengatakan Perubahan dengan
sulit untuk pada status menurunnya
beraktifitas kesehatan ketajaman
penglihatan
Pasien mengatakan Kuang
penglihatannya tidak informasi
jelas tentang
penyakit
Do : Terlihat bagian
kornea pasien ada
selaput putih
Pasien terlihat sulit
untuk melakukan
aktifitas

2 Ds : Pasien mengatakan Ansietas Asietas


merasa cemas behubungan
tentang operasinya dengan
perubahan pada
Pasien mengatakan status kesehatan
cemas dengan
penyakit yang
dideritanya

Do : Pasien terlihat gelisah

Pasien terlihat tegang

Pasien terlihat
khawatir

3 Ds : Pasien mengatakan Kurang Kurang


tidak mengerti pengetahuan pengetahuan
kenapa sampai berhubungan
terjadi katarak dengan kurang
informasi
Pasien mengatakan tentang penyakit
takut akan
kondisinya

Pasien mengatakan
tidak tahu sama
sekali tentang
penyakitnya

Do : Pasien terlihat terus


bertanya-tanya

Pasien terlihat
bingung

VIII. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan persepsi sensori penglihatan berhubungan dengan menurunnya
ketajaman penglihatan
2. Anisietas berhubungan dengan perubahan pada status kesehatan
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang infornasi tentang penyakit
IX. INTERVENSI
Nama : Ny. H No. RM : 091075
Umur : 65 tahun D. Medis : Katarak

No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Ttd


1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji ketajaman penglihatan,
selama 3x24 jam diharapkan masalah persepsi catat apakah satu atau dua
sensori penglihatan teratasi mata terlihat
1. Mengenal gangguan sensori dan 2. Orientasikan klien terhadap
berkompensasi terhadap perubahan lingkungan
2. Mengidentifikasi/ memperbaiki potensial 3. Observasi tanda-tanda
bahaya dalam lingkungan disorientasi
4. Letakkan barang yang
dibutuhkan/ posisi bel
pemanggil dalam jangkauan

2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji tingkat kecemasan pasien


selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi dan catat adanya tanda-tanda
kecemasan pada klien dan tidak ada verbal dan non verbal
perubahan status kesehatan 2. Beri kesempatan pasien untuk
1. Pasien mengungkapkan dan mendiskusi- untuk mengungkapkan isi
kan rasa cemas/ takutnya pikiran dan perasaan takutnya
2. Pasien tampak rileks tidak tegang dan 3. Observasi tanda vital
melaporkan kecemasannya berkurang 4. Beri penjelasan pasien tentang
sampai pada tingkat dan diatasi prosedur tindakan operasi,
harapan dan akibatnya
5. Beri penjelasan dan support
pada pasien pada setiap
melakukan prosedur tindakan

3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji informasi tentang kondisi


selama 3x24 jam diharapkan klien lebih individu
mengerti akan penyakitnya dengan KH: 2. Informasikan pasien untuk
1. Klien menyatakan pemahaman mengenai menghindari tetes mata yang
kondisi/ proses penyakit dan pengobatan dijual bebas
3. Tekankan pentingnya evaluasi
perawatan rutin
X. IMPLEMENTASI/ TINDAKAN KEPERAWATAN
Nama : Ny. H No. RM : 091075
Umur : 65 tahun D. Medis : Katarak
Hari/ tgl/ jam No.dx Implementasi Respom Ttd
Selasa 1 Mengkaji ketajaman penglihatan, Ds : pasien mengatakan
9/ Mei / 2017 catat apakah satu atau dua mata matanya berkabut ketika
09.14 terlihat dibuat untuk melihat
Do : Pasien terlihat kedua
pupilnya terlihat keabuan

14.30 2 Mengobservasi tanda vital Ds: Pasien mengatakan


bersedia di cek tanda-tanda
vitalnya
Do: TTV
TD : 170/ 100 mmHg
N : 90 x/ menit
S : 36, 5˚C
R : 20 x/ menit

15.00 3 Mengkaji informasi tentang Ds : Pasien mengatakan mata


kondisi individu berkabut jika dbuat untuk
melihat benda
Do : Pasien terlihat menjawab
semua pertanyaan yang
diberikan perawat

15.15 2 Mengkaji tingkat kecemasan Ds : Pasien mengatakan takut


pasien untuk melakukan operasi
Do : Pasien terlihat gelisah,
tegang

15.30 1 Mengorientasikan klien terhadap Ds : Pasien mengatakan


lingkungan bersedia mendengarkan
Do : Pasien terlihat mendengar-
kan penjelasan perawat

15.45 1 Meletakkan barang yang Ds : Pasien mengatakan ke


dibutuhkan/ posisi bel pemanggil perawat untuk meletakkan
dalam jangkauan barang-barang yang
dibutuhkan disamping
pasien
Do : Pasien terlihat
menunjukkan tempat
untuk diletakkan barang-
barang yang dibutuhkan
pasien

16.15 2 Memberi kesempatan pasien untuk Ds : Pasien mengatakan takut


mengungkapkan isi pikiran dan untuk melakukan operasi
perasaan takutnya Do : Pasien terlihat gelisah
Hari/ tgl/ jam No.dx Implementasi Respom Ttd
08.30 2 Memberi penjelasan pasien Ds : Pasien mengatakan pasien
tentang prosedur tindakan, apa yang terjadi pada saat
harapan dan akibatnya operasi
Do : Pasien terlihat mendengar-
kan penjelasan perawat

17.30 2 Memberi penjelasan dan support Ds : Pasien bertanya apapun


pada pasien pada setiap yang dilakukan perawat
melakukan prosedur tindakan Do : Pasien terlihat mendengar-
kan penjelasan

18.00 3 Menginformasikan pasien untuk Ds : Pasien mengatakan tidak


menghindari tetes mata yang akan membeli obat yang
dijual bebas dijual bebas
Do : Pasien terlihat
mengangguk

Rabu 1 Mengkaji ketajaman penglihatan, Ds : Pasien mengatakan kedua


10/Mei/ 2017 catat apakah satu atau dua mata matanya berkabut
09.00 terlihat Do : Pasien terlihat kedua
pupilnya berkabut

09.45 2 Mengobservasi tanda vital Ds : Pasien mengatakan


bersedia dicek tanda-tanda
vitalnya
Do: TTV
TD : 202/ 109 mmHg
N : 82 x/ menit
S : 36˚C
R : 22 x/ menit

11.00 2 Mengkaji tingkat kecemasan Ds : Pasien mengatakan masih


pasien takut
Do : Pasien terlihat gelisah dan
cemas

11.35 2 Memberi kesempatan pasien untuk Ds : Pasien mengatakan agak


mengungkapkan isi pikiran dan cemas untuk melakukan
perasaan takutnya operasi
Do : Pasien terlihat gelisah

11.45 3 Mengkaji informasi tentang Ds : Pasien mengatakan sulit


kondisi individu untuk melihat benda yang
ada di hadapannya
Do : Pasien terlihat menjawab
pertanyaan yang diberikan

Kamis 1 Mengkaji ketajaman penglihatan, Ds : Pasien mengatakan kedua


11/Mei/2017 catat apakah satu atau dua mata matanya berkabut
10.00 terlihat Do : Pasien terlihat kedua
pupilnya berkabut
Hari/ tgl/ jam No.dx Implementasi Respom Ttd
10.30 1 Mengobservasi tanda vital Ds : Pasien mengatakan
bersedia dicek tanda-tanda
vitalnya
Do: TTV
TD : 180/ 79 mmHg
N : 87 x/ menit
S : 36˚C
R : 20 x/ menit

10.45 2 Mengkaji tingkat kecemasan Ds : Pasien mengatakan masih


pasien cemas
Do : Pasien terlihat cemas

11.15 2 Memberi kesempatan pasien untuk Ds : Pasien mengatakan agak


mengungkapkan isi pikiran dan cemas untuk melakukan
perasaan takutnya operasi
Do : Pasien terlihat cemas

12.00 3 mengkaji informasi tentang Ds : Pasien mengatakan sulit


kondisi individu untuk melihat benda yang
ada di hadapannya
Do : Pasien terlihat menjawab
pertanyaan yang diberikan
XI. CATATAN KEPERAWATAN
Nama : Ny. H No. RM : 091075
Umur : 65 tahun D. Medis : Katarak

No.Dx Hari/ tgl/ jam Evaluasi Ttd


1 Kamis S : Pasien mengatakan matanya kabur saat melihat digunakan
11 Mei 2017 untuk melihat objek
13.00 WIB O : Pasien terlihat kedua pupilnya berwarna keabuan
A : Masalah gangguan persepsi sensori penglihatan belum
teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
- Kaji ketajaman penglihatan
- Orientasi klien terhadap lingkungan
- Observasi tanda-tanda disorientasi

2 S : Pasien mengatakan cemas saat akan melakukan operasi


O : Pasien terlihat tegang dan cemas
A : Masalah ansietas belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan
- Kaji tingkat ketajaman pasien
- Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi
pikiran dan perasaan takutnya

3 S : Pasien bertanya semua yang dia tidak ketahui


O : Pasien terlihat banyak bertanya kepada perawat
A : Masalah kurang pengetahuan teratasi sebagian
P : Intervensi dilanjutkan
- Kaji informasi tentang kondisi pasien
- Tekankan pentingnya evaluasi perawatan rutin