Anda di halaman 1dari 16

PAPER

KEWIRANEGARAAN
WILAYAH SEBAGAI
RUANG LINGKUP

OLEH KELOMPOK :

1.NI LUH EKA SARI MURN (P07120016061)


2. AYU SRI DEWI (P07120016062)
3. KADEK RISNA SURASTINI (P07120016063)
4. NI LUH PUTU AYU PUSPITA W. (P07120016064)
5. NI KADEK DWI WULANDARI (P07120016065)

JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
2016/2017
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu,

Puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/
Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kerta wara nugraha-Nyalah penulisan
Paper Wilayah Sebagai Ruang Lingkup ini dapat diselesaikan tepat pada
waktunya.
Paper ini berisikan tentang hak dan kewajiban warga Negara asing yang
dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaaran
(KWN)
Paper ini disusun bukan semata-mata karena petunjuk untuk mendapatkan
nilai, namun di latar belakangi pula untuk memperluas wawasan khususnya
tentang warga Negara asing .Untuk itu penyusun berusaha menyusun paper ini
dengan sebaik-baiknya. Paper ini tentunya masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu diharapkan kritik dan saran yang objektif yang bersifat membangun guna
tercapainya kesempurnaan yang diinginkan.
Penulis sepenuhnya menyadari, tanpa bantuan dan kerjasama dari pihak
yang terkait, Paper Wilayah Sebagai Ruang Lingkup ini tidak akan sesuai
dengan harapan. Untuk itu pada kesempatan yang baik ini tidak lupa kami
sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak I Ketut Keneng,SH.,MH
selaku dosen mata kuliah Kewarganegaraan yang selalu meluangkan waktu
untuk memberikan bimbingan dan tuntunan dalam pembuatan paper Wilayah
Sebagai Ruang Lingkup.

Om Santih,Santih, Santih, Om

Denpasar, Oktober 2016

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-undang No.26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, yang dimaksud dengan ruang adalah: “Wadah yang meliputi ruang darat,
ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan
wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupanya.”
Ruang sebagai salah satu tempat untuk melangsungkan kehidupan manusia,
juga sebagai sumber daya alam merupakan salah satu karunia Tuhan kepada
bangsa Indonesia. Dengan demikian ruang wilayah Indonesia merupakan suatu
aset yang harus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan bangsa Indonesia secara
terkoordinasi, terpadu dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-
faktor lain seperti ekonomi, sosial, budaya, hankam, serta kelestarian lingkungan
untuk mendorong terciptanya pembangunan nasional yang serasi dan seimabng.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP WILAYAH SEBAGAI RUANG HIDUP BANGSA
Seseorang dalam kehidupannya sehari-hari membutuhkan ruang untuk
melakukan kegiatan. Seperti mialnya ruang untuk makan, ruang untuk berjalan,
ruang untuk bekerja, dan lain-lain. Sehingga secara fungsional, ruang dapat
diartikan sebagai tempat, wilayah, ataupun wadah yang dapat menampung
sesuatu atau bisa juga diartikan bahwa ruang merupak wadah seseorang atau
banyak orang untuk melakukan kegiatan.
Wilayah merupak suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi dan
mengorganisasi daerah (area) di muka Bumi untuk berbagai tujuan. Suatu
wilayah mempunyai karakteristik tertentu yang memberikan ukuran-ukuran
kesamaan dan perbedaan dengan wilayah lain. Contoh: perbedaan wilayah pesisir
dan pedalaman.
1. Wilayah Formal
Wilayah formal dicirikan oleh sesuatu yang dimiliki atau melekat pada
manusia dan alam secara umum, seperti bahasa tertentu yang digunakan
penduduk, agama, kebangsaan, budaya, dan identitas politik serta tipe
iklim tertentu, bentuk lahan, dan vegetasi. Kesatuan ideologi seperti
negara. Contoh: daerah hutan hujan tropis.
2. Wilayah Fungsional
Wilayah fungsional berada di sekeliling titik pertumbuhan dan terjalin
dengan titik pertumbuhan melalui sistem transportasi, sistem komunikasi,
atau kelompok ekonomi, seperti manufaktur serta perdagangan. Contoh:
kota metropolitan Jakarta mendukung perkembang daerah lain melalui
jalur transportassi, jalur perdagangan dan bisnis, serta siaran radio dan
televisi.
2.2 Pengertian dan Ruang Lingkup Tata Ruang
a. Tata Ruang
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan
ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan
wilayah, tepat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan kegiatan, dan
memelihara kelangsungan hidupnya.
Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan
sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki
hubungan fungsional.
b. Pola Ruang
Pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang
meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang
untuk fungsi budidaya.
c. Dasar Hukum Tata Ruang
Menurut Juniarso Ridwan, konsep dasar hukum penataan ruang,
tertuang di dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang berbunyi:
“melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia...”
Menurut M. Daud Silalahi salah satu konsep dasar pemikiran tata
ruang menurut hukum Indonesia terdapat dalam UUPA No. 5 Tahun
1960. Sesuai dengan Pasal 33 ayat 3 UUD 1945, tentang pengertian hak
menguasai dari negara terhadap konsep tata ruang, Pasal 2 UUPA
memuat wewenang untuk:
1. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan penggunaan,
persediaan, dan pemeilharaan bumi, air dan ruang angkasa
2. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang
dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air, dan ruang
angkasa.
Konsep tata ruang dalam tiga dimensi tersebut diatas terkait dengan
mekanisme kelembagaan dan untuk perencanaannya diatur dalam Pasal
14 yang mengatakan “Pemerintah dalam rangka membuat suatu rencana
umum mengenai persediaan, peruntukan, dan penggunaan bumi, air dan
ruang angkasa, dan berdasarkan rencana umum tersebut Pemda mengatur
persediaan, peruntukkan dan penggunaan bumi, air, dan ruangan angkasa.
d. Klasifikasi Penataan Ruang
“klasifikasi penataan ruang pemerintah merupakan pengemban
dan penjaga kepentingan umum masyarakat, maka melalui
pemerintahannya, masyarakat harus menuntut agar ongkos-ongkos sosial
ini diperhitungkan dengan seksama dan ditentukan pula siapa-siapa saja
yang harus membayar ongkos-ongkos sosial ini.”
e. Kebijakan Penataan Ruang terhadap Lingkungan Hidup dikaitkan dengan
Perda K3.
Dalam rangka menerapkan penataan ruang untuk padda akhirnya
mewujudkan pengembangan wilayah seperti yang diharapkan, maka
terdapat paradigma yang harus dikembangkan sebagai berikut:
Otonomi Daerah (UU No.22/1999) atau (UU/32/2004) mengatur
kewenangan Pemerintah Daerah dalam pembangunan Globalisasi.
Pembangunan wilayah tidak terlepas dari pembangunan dunia, investor
akan menanamkan modalnya di daerah yang memiliki kondisi politik
yang stabil dan didukung sumber daya yang memadai pemberdayaan
masyarakat, pendekatan pemberdayaan masyarakat merupakan tuntutan
yang harus dipenuhi Good Governance iklim dan kinerja yang baik dalam
pembangunan perlu dijalankan.
Definisi budaya lokal berdasarkan visualisasi kebudayaan ditinjau dari
sudut struktur dan tingkatannya meliputi:
1. Superculture adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh
masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional, culture lebih khusus
misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah.
Contoh: Budaya Sunda.
2. Subculture merupakan kebudayaan khusus dalam sebuah culture,
namun kebudayaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan
dalam sebuah culture, namun kebudayaan ini tidaklah bertentangan
dengan kebudayaan induknya. Contoh: budaya gotong royong.
3. Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu
merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culutre ini
bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh: budaya
individualism dilihat dari struktur dan tingkatannya budaya lokal
berada pada tingkat culture. Hal ini berdasarkan sebuah skema sosial
budaya yang ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang
bersifat majemuk dalam struktur sosial, budaya (multikultural)
maupun ekonomi.
Pandangan yang menyatakan bahwa budaya lokal adalah merupakan
bagian dari sebuah skema dari tingkatan budaya (hierarki bukan
berdasarkan baik dan buruk), dikemukakan oleh antropolog
terkemuka di Indonesia yang beretnis Sunda, Judistira K, Gaama.
Wilayah administratif tertentu, menurut Judistira bisa merupakan
wilayah budaya daerah, atau wilayah budaya daerah itu meliputi
beberapa wilayah administratif, ataupun disuatu wilayah adminstratif
akan terdiri dari bagian-bagian satu udaya daerah.

2.3 Wilayah Sebagai Ruang Hidup


Menurut Ir. Soekarno di hadapan Sidang BPUPKI (Setneg, tt: 66), orang
dan tempat tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, setelah membangsa orang
menyatakan tempat tinggalnya sebagai negara, selanjutnya pengertian negara
tidak hanya wilayah tempat tinggal, namun diartikan lebih luas. Karena orang dan
tempat tinggal tidak dapat dipisahkan, perebutan ruang menjadi hal yang
menimbulkan konflik antar antar manusia hingga kini. Untuk dapat
mempertahankan ruang hidupnya bangsa harus mempunyai kesatuan cara
pandang yang dikenal sebagai wawasan nasional. Ilmuwan politik dan militer
menyebutnya sebagai geopolitik.
Konsep wawasan nasional setiap bangsa berbeda. Hal ini berkaitan erat
dengan profil diri bangsa (sejarah, pandangan hidup, ideologi, budaya) dan
geografi. Kedua unsur pokok inilah yang harus diperhatikan dalam pembuatan
konsepsi geopolitik bangsa dan negara.
Untuk dapat melaksanakan wawasannya bangsa perlu menyusun konsep geostra-
tegi. Strategi sendiri merupakan bagian dari politik, hal ini seperti diungkapkan
dalam teori para panglima perang. Clauswitz menyatakan “Perang merupakan
kelanjutan dari politik, sedangkan strategi adalah ilmu/seni untuk memenangkan
perang. Oleh karenanya membahas geopolitik tidak lepas membahas geostrategi.
Konsep wawasan kebangsaan tentang wilayah mulai dikembangkan
sebagai ilmu pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Konsepsi ini dikenal
sebagai geopolitik, yang pada mulanya membahas geografi dari segi politik
negara (state). Selanjutnya berkembang konsep politik (dalam arti distribusi
kekuatan) pada hamparan geografi negara, sehingga tidaklah berlebihan bahwa
geopolitik sebagai ilmu “baru” dicurigai sebagai upaya pembenaran pada kosepsi
ruang (Sunardi. 2004: 157). Oleh karena itu dalam membahas masalah wawasan
nasional, disamping membahas sejarah terjadinya konsep wawasan nasional perlu
membahas pula teori geopolitik serta implementasinya pada negara kita.
Sebelum membahas masalah geopolitik (suatu negara) perlu mendalami
ciri khusus negara berdasarkan bentuk geomorfologinya, yaitu pada konstalasi
wilayah secara utuh (darat, laut dan udara) dan perilaku manusia menghadapi
tantangan berdasarkan bentuk geografinya.Negara (dalam arti wilayah) dapat
dibedakan:
1. Dikelilingi daratan (land lock country);
2. Berbatasan dengan laut, yang dapat dibedakan:
a. negara pulau (oceanic archipelago),
b. negara pantai (coastal archipelago),
c. Negara kepulauan (archipelago).
Menurut regim hukum laut lama, laut menjadi pemisah dari pulau-pulau.
Akibat ketentuan ini, negara Indonesia dan banyak negara nasional baru (pasca
Perang Dunia II) menjadi tidak utuh. Oleh karena itu sejak 1957 Pemerintah
Republik Indonesia memperju-angkan agar asas kepulauan diperbaharui dan baru
berhasil tahun 1982. Perjuangan berkat dukungan negara-negara nasional baru
yang memiliki wilayah gugusan pulau. Kini pengertian asas Negara kepulauan,
adalah (UNCLOS 1982, pasal 46):
a. “Negara Kepulauan” berarti suatu Negara yang seluruhnya terdiri dari satu
atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lain.
b. “kepulauan” berarti suatu gugusan pulau, termasuk bagian pulau, perairan
dianta-ranya dan lain-lain wujud alamiah yang hubungannya satu sama
lainnya demikian eratnya sehingga pulau-pulau, perairan dan wujud
alamiah lainnya itu merupakan suatu kesatuan geografi, ekonomi dan
politik yang hakiki, atau secara historis dianggap sebagai demikian.
Geopolitik Indonesia dinamakan Wawasan Nusantara, dengan alasan:
1. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan (Setneg RI,
tt: 66);
2. Berada diantara dua benua (Asia dan Australia) dan dua lautan (Lautan
India dan Lautan Pasifik) sehingga tepatlah bila dinamakan Nusantara
(nusa diantara air);
3. Keunikan lainnya adalah bahwa wilayah nusantara berada di Garis
Khatulistiwa dan diliwati oleh Geo Stationary Satelite Orbit (GSO).
Untuk melaksanakan konsepsi Wawasan Nusantara, disusun konsepsi
geostrategi yang diberi nama Ketahanan Nasional. Dalam konsepsi ini bangsa
Indonesia menguta-makan pembangunan kekuatan sosial sebagai prioritas utama
dan pembangunan kekuatan fisik prioritas selanjutnya (Lemhannas 1980: 227).
Kekuatan sosial yang terbina dengan baik secara persuasif akan mampu mengajak
masyarakat untuk membangun kekuatan fisik untuk kesejahteraan dan keamanan
negara dan bangsa.
2.4 Geopolitik dan Geostrategi serta Implementasi
Istilah geopolitik semula sebagai ilmu bumi politik kemudian berkembang
menjadi pengetahuan tentang sesuatu yang berhubungan geomorfologi (ciri khas
negara yang berupa: bentuk, luas, letak, iklim, dan sumber daya alam) suatu
negara untuk membangun dan membina negara. Para penyelenggara pemerintah
nasional kini menyusun pembinaan politik nasional berdasarkan kondisi dan
situasi geomorfologi dan unsur-unsur lain (penduduk, falsafat dan sejarah bangsa)
secara ilmiah berdasarkan cita-cita bangsa.
Geostrategi diartikan sebagai pelaksanaan geopolitik dalam Negara
(Poernomo, 1972), yang pada awalnya diartikan sebagai geopolitik untuk
kepentingan militer. Hal ini tentunya berkaitan dengan arti strategi itu sendiri,
yaitu ilmu atau seni tentang jenderal (the art of generalship). Strategi itu sendiri
semula banyak dikembang-kan oleh kaum militer yaitu: bagaimana memenangkan
perang. Sedangkan perang menurut Carl von Clausewitz, adalah penyelesaian
politik dengan cara lain (Paret, 1985: 393). Dari sejarah dunia kita ketahui
bersama bahwa para pemimpin negara dimasa lampau selalu berasal dari kalangan
militer. Namun kini istilah strategi lebih populer pula di kalangan ekonom,
industrialis, bahkan para ahli pendidikan. Jadi pemikiran strategi kini diartikan
bagaimana kita akan memenangkan pasar untuk keperluan produk kita dan
sekaligus untuk meyakinkan kita bahwa bahan baku dapat terjamin lebih lama
(sampai lebih dari 20 tahun) dari awal perhitungan kita, serta bagaimana kita
menggunakannya seefektif mungkin (Pearson, 1990: 22).
Lebih lanjut geostrategi didefinisikan sebagai: Kebijakan untuk
menentukan sarana-sarana, untuk mencapai tujuan politik dengan memanfaatkan
konstelasi geografi. Sebagai akibatnya geostrategi menjadi upaya menguasai
sumber daya (terutama sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui) untuk
tujuan kelangsungan hidup bangsa.
2.5 Beberapa Pandangan Para Pemikir Geopolitik
Pembahasan tentang beberapa pendapat dari para penulis geopolitik:
1. Friedrich Ratzel (1844-1904). Teori yang dikemukakan adalah teori Ruang
yang konsepsinya dipengaruhi oleh ahli biologi Charles Darwin. Ia
menyamakan negara sebagai makhluk hidup yang makin sempurna serta
membutuhkan ruang hidup yang makin meluas. Pendapat ini dipertegas Rudolf
Kjellen (1864-1922) dengan teori kekuatan, yang pada pokoknya menyatakan
bahwa negara adalah satuan politik yang menyeluruh serta sebagai satuan
biologis yang memiliki intelektualitas. Dengan kekuatannya mampu ekploitasi
negara “primitif” agar negaranya dapat swa sembada. Beberapa pemikir sering
menyebutnya sebagai Darwinisme sosial.
2. Karl Haushoffer (1869-1946). Teori Ruang dan Kekuatan, dikenal pula
sebagai Teori Pan Regional:
a. lebensraum (ruang hidup) yang cukup,
b. autarki (swasembada),
c. dunia dibagi 4 Pan Region, setiap region dipimpin satu bangsa yang
unggul,
d. Pan region terdiri dari Pan Amerika (USA), Pan Asia Timur (Jepang), Pan
Rusia India (Rusia), Pan Eropa Afrika (Jerman). Dari pembagian daerah
inilah kita dapat segera tahu percaturan politik masa lalu (yang sedikit
rasis) dan masa depan.
3. Sir Halford Mackinder (1861-1947). Teori Daerah Jantung (dikenal pula
sebagai wawasan benua). Menurutnya, jika ingin menguasai dunia, harus
kuasai Daerah Jantung, untuk itu diperlukan kekuatan darat yang
memadai. Teori ahli geografi ini mungkin terkandung agar negara lain
selalu berpaling pada pembentukan kekuatan darat. Dengan demikian
tidak mengganggu pengembangan armada laut Inggris. Tentang
pembagian daerah dapat disimpulkan:
1. dunia terdiri: 9/12 air, 2/12 pulau dunia (Eropa, Asia, Afrika), 1/12
pulau lain,
2. daerah terdiri: Daerah Jantung (heartland), terletak di pulau dunia
yaitu: Rusia, Siberia, Sebagian Mongolia, Daerah Bulan Sabit Dalam
(inner cresent) meliputi: Eropa Barat, Eropa Selatan, Timur Tengah,
Asia Selatan, Asia Timur, dan Bulan Sabit Luar (outer cresent)
meliputi: Afrika, Australia, Amerika/Benua Baru.
4. Sir Walter Raleigh (1554-1618) dan Alfred Thayer Mahan (1840-1914).
Teori Kekuatan Maritim yang dicanangkan oleh Raleigh, bertepatan
dengan kebangkitan armada Inggris dan Belanda yang ditandai: dengan
kemajuan teknologi perkapalan dan pelabuhan serta semangat
perdagangan yang tidak lagi mencari emas dan sutera di Timur semata-
mata (Simbolon, 1995: 425). Pada masa ini pula lahir tentang pemikiran
hukum laut internasional yang berlaku sampai tahun 1994 (setelah
UNCLOS 1982 disetujui melalui SU PBB). Menurut Sir W. Raleigh:
Siapa yang kuasai laut akan kuasai perdagangan dunia/kekayaan dunia dan
akhirnya menguasai dunia, oleh karena itu harus memiliki armada laut
yang kuat. Sebagai tindak lanjut maka Inggris berusaha menguasai pantai-
pantai benua, paling tidak menyewanya. Sementara itu, menurut Alfred T.
Mahan, Laut untuk kehidupan, sumber daya alam banyak terdapat di laut,
oleh karena harus dibangun armada laut yang kuat untuk menjaganya.
5. Giulio Douhet (1869-1930) dan William Mitchel (1879-1936). Awal abad
XX merupakan kebangkitan ilmu pengetahuan penerbangan. Kedua orang
ini mencita-citakan berdirinya Angkatan Udara. Dalam teorinya,
menyebutkan bahwa kekuatan udara mampu beroperasi hingga garis
belakang lawan serta kemenangan akhir ditentukan oleh kekuatan udara.
6. Nicholas J. Spykman (1893-1943). Teori Daerah Batas (Rimland theory).
Teorinya dipengaruhi oleh Mackinder dan Haushoffer, terutama dalam
membagi daerah. Dalam teorinya tersirat bahwa: (a) Dunia menurutnya
terbagi 4 daerah, yaitu: Heartland, Offshore continents belt (rimland),
Oceanic belt dan New World (benua Amerika), (b) Menggunakan
kombinasi kekuatan darat, laut, udara untuk kuasai dunia, (c) Daerah
Rimland akan lebih besar pengaruhnya dalam percaturan politik dunia dari
pada daerah jantung, (d) Wilayah Amerika yang paling ideal dan menjadi
negara terkuat.
Wawasan bangsa Indonesia tersirat melalui UUD 1945 antara lain:
a. Ruang hidup bangsa terbatas diakui internasional,
b. Setiap bangsa sama derajatnya, berkewajiban menjaga perdamaian
dunia,
c. Kekuatan bangsa untuk mempertahankan eksistensi dan
kemakmuran rakyat.

2.6 Geopolitik dalam Praktek Kenegaraan


Dari teori geopolitik timbul upaya membuat perbatasan wilayah negara yang
dikenal sebagai boundary. Pemikiran maritim dari Mahan, bahwa kekuatan negara
tidak tergantung dari luas faktor daratan dengan isinya namun tergantung pula
faktor luasnya akses ke laut berikut bentuk pantainya. Bentuk pantai yang
memudahkan pengembangan menjadi pelabuhan besar membentuk masyarakat
yang kosmopolitan. Oleh karena itu Mahan berpendapat bahwa ada 4 (empa)
faktor yang harus diperhatikan yaitu:
1. Situasi geografi, yaitu topomorfologi yang dikaitkan dengan ada tidaknya
akses ke laut dan penyebaran penduduk.
2. Kekayaan Alam dan Zona Iklim, yaitu faktor yang mengkaitkan
kemampuan industri dengan kemandirian penyediaan pangan.
3. Konfigrasi Wilayah Negara, yang sangat memengaruhi karakter rakyat dan
orientasi wawasannya.
4. Jumlah Penduduk.
2.7 Geostrategi dalam Praktek Kenegaraan
Negara maju (terutama Imperium Barat) sangat terpengaruh oleh teori
Haushoffer dan Mahan, sehingga mereka berusaha mengupayakan ruang hidup
yang “cukup”. Upaya itu dilaksanakan dengan bentuk kolonisasi atas negara yang
mereka anggap masih kurang berbudaya (budaya diartikan sebagai hasil upaya
manusia untuk meningkatkan kehidupan-nya). Dengan demikian sampai pada
awal Perang Dunia I Imperium Barat (terutama Inggris dan Perancis) menguasai
wilayah seluas 84 % daratan dunia (Huntington, 1996: 51). Sedangkan sisanya
tidak sepenuhnya merdeka seperti negara-negara Amerika Latin dan beberapa
negara Asia yang dijadikan buffer state karena adanya perebutan wilayah negara
imporium Barat. Perebutan wilayah tersebut tidak lepas dari revolusi teknologi
transportasi dan persenjataan. Imperium Barat berupaya menguasai sisa daratan
yang masih “merdeka”.
Gambaran tersebut tersirat bahwa geopolitik Imporium Barat berupaya
menguasa dunia. Geostrategi yang digelarnya adalah strategi global yang menitik
beratkan pada kemampuan teknologi bangsanya. Inggris dan Belanda melalui
teknologi maritim sehingga menitik beratkan pada doktrin kekuatan laut
sedangkan Perancis melalui doktrin kekuatan darat. Jerman yang bersatu (akhir
abad XIX) berupaya bangkit sehingga untuk melebarkan ruang hidupnya kurang
berarti dibandingkan Inggris dan Perancis. Spanyol dan Portugal yang bangkit
lebih dulu mengalami surut. Sedangkan Rusia setelah kekalahannya dengan
Jepang menitik beratkan geostrateginya pada penguasaan daratan (doktrin
Mackinder).
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
https://www.scribd.com/doc/217968196/Konsep-Wilayah-Sebagai-Ruang-Hidup

Anda mungkin juga menyukai