Anda di halaman 1dari 19

1.

Resiko Bisnis

1.1 Isu

385 Hektare Tanaman Pangan Gagal Panen


Bencana banjir yang menerjang Gunungkidul beberapa waktu lalu, tidak hanya
menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengakibatkan 50 hektare lahan
tanaman padi terancam gagal panen. Untuk mengurangi beban petani yang dirundung
kerugian, Dinas Pertanian dan Pangan mendistribusikan bantuan benih sebagai bagian
dari ganti rugi petani.
”Total lahan tanaman pangan yang terancam gagal panen mencapai 385
hektare,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan, Raharjo
Yuwono, Jumat (22/12/2017).
Kerusakan paling parah terjadi di Kecamatan Karangmojo yang luasannya
mencapai 103 hektare. Wilayah ini termasuk daerah yang sebagian sawahnya hilang
akibat tergerus banjir.
”Selain itu, kerusakan parah lahan pertanian akibat tergerus banjir juga terjadi di
Kecamatan Semanu yang mencapai 92 hektare, Rongkop 35 hektare dan untuk 13
kecamatan lain kerusakan lahan pertanian mencapai 21 hektare,” imbuhnya.
Terkait dengan dampak banjir yang merugikan petani, pihaknya saat ini juga
sudah memberikan bantuan stimulant sebagai pengganti benih padi dan jagung masing-
masing wilayah sebanyak satu ton kepada para petani. Meskipun demikian, akibat
kerusakan yang cukup luas pihaknya mengakui bahwa jumlah tersebut tidak mampu
mencakup semua lahan pertanian yang rusak terdampak banjir.
Diakui, selain sawah yang hilang, petani terdampak banjir memang masih ada
harapan untuk panen, hanya saja waktunya mundur dari kondisi normal. Respons para
petani dalam menyikapi bencana yang terjadi saat ini sudah cukup baik.
Terbukti ketika bantuan benih tiba, mereka langsung melakukan tambal sulam di
lahan yang terdampak banjir. “Kami berharap meskipun terjadi keterlambatan
penanaman, namun dengan curah hujan yang baik mereka bisa memperoleh hasil
panen,” terangnya. (Bmp)

1.2 Analisis Penyebab dan Dampak


Bencana banjir di Gunungkidul yang diakibatkan oleh intensitas hujan yang
tinggi ditambah lagi dengan saluran irigasi yang tidak memadai diperparah dengan
kurangnya resapan air. Hal tersebut berdamapak pada lahan tanaman pangan, padi dan
jagung, seluas 385 hektar terancam gagal panen karena terendam banjir

1.3 Solusi
1) Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul segera melakukan langkah cepat
agar banjir cepat surut dan tanaman pangan bisa diselamatkan.
2) Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul harus membangun saluran irigasi
yang memadai.
3) Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul memberikan bantuan kepada petani
berupa bibit baru agar kerugian tidak dibebankan seluruhnya kepada petani.
4) Masyarakat mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul agar
membangun konsep agribisnis yang modern dengan penyediaan infrastruktur
pendukung yang maksimal seperti waduk yang bisa digunakan sebagai kolam
retensi saat musim hujan dan sebagai penyimpan air saat musim kemarau
5) Pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul bekerjasama dengan masyarakat
mengenai pengelolaan banjir dengan mensosialisaikan program biopori dan
sumur resapan.
2. Risiko Fraud

2.1 Isu

Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa di Indonesia


Sepanjang tahun 2017, kasus korupsi megaproyek penerapan Kartu Tanpa
Penduduk Elektronik (KTP Elektronik) masih belum tuntas. Hingga hari ini kasus ini
masih menyisakan berbagai polemik karena di samping nilai kerugiannya yang besar,
kasus ini melibatkan banyak sekali nama pejabat pemerintahan, baik di lembaga
eksekutif maupun legislatif. Selain itu kasus ini juga telah menciptakan isu berupa
drama perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR). Hal ini menyusul dikeluarkannya hak angket DPR terhadap
KPK dan penetapan kembali Ketua DPR, Setya Novanto, sebagai tersangka kasus
korupsi KTP Elektronik untuk kedua kalinya pada Oktober 2017 lalu.
Kasus korupsi proyek penerapan KTP Elektronik merupakan salah satu contoh
kasus korupsi di sektor pengadaan barang dan jasa (PBJ) di Indonesia. Kerugian negara
akibat korupsi KTP Elektronik ini tebilang sangat besar yakni sebesar Rp. 2,3 triliun
dari total dana proyek yang dianggarkan sebesar Rp. 5,9 triliun. Artinya hampir 50%
dana proyek KTP Elektronik ini telah dikorupsi. Sebagaimana kasus korupsi PBJ yang
banyak terjadi selama ini, kasus korupsi KTP Elektronik juga melibatkan banyak pihak,
baik dari swasta yakni pemenang dan pemegang tender, maupun pemerintah yang
kemudian melakukan persekongkolan dengan pihak pemegang tender proyek tersebut.
Sebagai contoh kasus korupsi PBJ lainnya adalah kasus korupsi proyek
pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sarana Olah Raga Nasional (P3SON)
di Hambalang atau dikenal dengan Kasus Hambalang. Kasus ini mulai diselidiki oleh
KPK sejak tahun 2011. Kerugian negara akibat kasus ini adalah sebesar Rp. 706 miliar.
Selain kerugian yang cukup besar kasus ini juga telah menyeret beberapa nama politisi,
seperti Nazaruddin, Anas Urbaningrum, Andi Alfian Mallarangeng (Menteri Pemuda
dan Olah Raga pada saat itu), Angelina Sondakh (anggota DPR Fraksi Partai Demokrat
pada saat itu), dan beberapa pejabat pemerintahan lainnya, khususnya di Kementerian
Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora). Hingga saat ini proses pengusutan terhadap
kasus ini belum dihentikan oleh KPK. Pada Februari 2017, KPK menetapkan tersangka
baru dalam Kasus Hambalang yakni Andi Zulkarnain Mallarangeng alias Choel, yang
kemudian ditahan oleh KPK (Tempo.co, 19/02/17).
Hampir 80 persen kasus korupsi yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan
Korpsi (KPK) berasal dari sektor pengadaan barang dan jasa (Kompas.com, 28/9/17).
Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan, dalam Laporan Tahunan KPK 2016
menyebutkan bahwa sektor pengadaan barang dan jasa adalah titik rawan tindak pidana
korupsi, di samping sektor atau bidang perencanaan dan pengelolaan APBD (Anggaran
Pemerintah dan Belanja Daerah), serta pelayanan perizinan (Laptah KPK, 2016).

2.2 Analisis Penyebab dan dampak


Terlalu banyaknya informasi di media massa dan media elektronik, didominasi
oleh penegakan hukum yang terkadang kontroversif. Publik terhentak dengan kasus
wisma atlet, pengadaan e-KTP, kasus busway, dan seabrek lain yang dipaparkan
dengan sedemikian massif. Kasus-kasus tersebut dapat dikategorikan FRAUD dengan
kata lain kecurangan dan atau korupsi. Indonesia tidak asing lagi dengan kata korupsi,
masalah terbesar di Indonesia kini krisisnya sifat kejujuran yang didominasi oleh iman
yang kuat hal ini salah satu penyebab dari korupsi yang terjadi. Ketua DPR RI Setya
Novanto melakukan kecurangan dalam pengadaan E-KTP dan Proyek Kasus Gedung
Hambalang yang merugikan rakyat Indonesia hingga RP 4 Triliun, angka tersebut
bukanlah angka yang kecil. Pengadaan Barang/Jasa adalah sarang korupsi para
koruptor yang hanya ingin memperkaya diri sendiri, PBJ adalah salah satu lembaga
pemerintah yang sangat mudah utuk melakukan korupsi karena hampir semua proses
yang dilakukan oleh bagian PBJ dapat dikategorikan mudah dalam melakukan indikasi
kecurangan seperti yang telah di paparkan oleh (Laptah KPK, 2016) proses yang sangat
mudah dalam melakukan kecurangan sperrti berikut:
(1)Tahap perencanaan anggaran;
(2)Tahap perencanaan-persiapan PBJ Pemerintah;
(3)Tahap pelaksanaan PBJ Pemerintah;
(4)Tahap serah terima dan pembayaran; dan
(5)Tahap pengawasan dan pertanggungjawaban
Titik rawan penyimpangan di sektor PBJ selama ini telah dimulai dari tahap
perencanaan pengadaan. Pada tahap ini, cenderung terjadi penggelembungan (mark-
up) anggaran yang merugikan keuangan negara. Kerawanan penyimpangan juga terjadi
pada tahap pembentukan lelang, pra kualifikasi perusahaan, penyusunan dokumen
lelang, tahap pengumuman dokumen lelang, dan tahap penyusunan harga perkiraan
sendiri.
Pada proses perencanaan anggaran dan persiapan PBJ Pemerintah, unsur-unsur
yang berpotensi terlibat korupsi meliputi DPR/DPRD, Kepala di Kementerian/
Lembaga/ Pemerintah Daerah, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Pejabat Pembuat
Kontrak (PPK), Pimpinan Proyek/Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan (Pimpro/
Pokja ULP), Pengusaha/ Vendor. Sedangkan pada proses pelaksanaan PBJ Pemerintah
dan proses serah terima dan pembayaran unsur yang mungkin terlibat meliputi PPK,
Pimpro/Pokja ULP, Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), Panitia Penerima
Barang, Pengusaha/Vendor. Kemudian pada proses pengawasan dan
pertanggungjawaban unsur yang mungkin terlibat adalah PPK, Pimpro/Pokja ULP,
BPK/BPKP, Penegak Hukum (Aida Ratna Zulaiha, acch.kpk.go.id, 5/12/17).

2.3 Solusi
Kondisi demikian akan menyulitkan partisipasi banyak pihak, masyarakat sipil
misalnya, dalam proses pengawasan terhadap potensi penyimpangan pengadaan. Hal
ini harus dicegah semaksimal mungkin agar kerugian yang terjadi pada negara
khususnya pada masyarakat Indonesia tidak terus berlanjut, jika hal ini terus berlanjut
negara Indonesia tidak akan pernah menjadi negara maju. persoalan zaman sekarang
adalah kurangnya iman, sifat kejujuran dan keterbukaan terhadap sesama terutama
pemerintah yang jelas-jelas memiliki tugas untuk melayani dan memfasilitasi
kebutuhan rakyatnya guna menunjang akesibilitas kemudahan bagi rakyatnya. berbeda
dengan hal ini pemerintah sebaliknya difaslitasi oleh rakyat sedangkan rakyat dengan
pas-pasan difasilitasi oleh pemerintah. oleh karena itu perlu adanya kebijakan yang
tegas dari pemerintah, berikut solusi yang harus diiberikan agar pemerintah tidak salah
dalam melangkah untuk kedepannya:
1) Perlu di dorong kembali keterbukaan informasi publik di sektor pengadaan
barang dan jasa. Keterbukaan ini perlu dilakukan mulai dari proses
perencanaan, perencanaan dan persiapan PBJ Pemerintah, pelaksanaan PBJ
Pemerintah, serah terima dan pembayaran dan tahap pengawasan dan
pertanggungjawaban.
2) Upaya pemberantasan korupsi tidak hanya dilakukan secara represif yakni
ketika korupsi tersebut telah dilakukan. Akan tetapi juga dilakukan secara
preventif artinya mencegah terjadinya korupsi yang mana lebih lanjut akan
mencegah terjadinya kerugian negara.
3) Dibekali sifat jujur, ikhlas dan senantiasa terbuka unutk menciptakan suasa
yang baik bagi semua kalnagan sehingga tidak adanya kecurangan yang
mungkin akan timbul.
4) character building sangat penting untuk menanmkan sifat yang konsisten
sehingga diri merasa memiliki tanggung jawab kepada Tuha, Negara dan
Rakyat.
5) Pengawasan yang sangat ketat untuk mengurangi tindakan Fraud dengan
diawasi oleh orang-orang yang berkompeten dalam megawasi sehingga tidak
akan dan tidak ada terjadinya kecurangan yang merembet dari akar hingga
cabang.
6) Kebijakan pemerintah mengenai hukum yang membahas korupsi, setidaknya
diberikan hukuman seringan-ringannya adalah 18 tahun penjara ditambah
denda 10 Milyar dan perampasan terhadap kekayaan yang dimiliki dengan
maksimal penjara seumur hidup ditambah dengan perampasankekayaan yang
dimiliki baik kekayaan hasil dari koorupsi ataupun tidak. Tanpa pengecualian
tunjangan asuransi bagi anak nya yang masih sekolah.
3. Risiko Likuiditas

3.1 Isu

Masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)


Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) adalah skema bantuan (pinjaman)
yang diberikan Bank Indonesia kepada bank-bank yang mengalami masalah likuiditas
pada saat terjadinya krisis moneter 1998 di Indonesia. Skema ini dilakukan berdasarkan
perjanjian Indonesia dengan IMF dalam mengatasi masalah krisis. Pada bulan
Desember 1998, BI telah menyalurkan BLBI sebesar Rp 147,7 triliun kepada 48 bank.
BLBI dan Hukum yang Bungkam
Penyimpangan atau korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)
telah menunjukkan kepada kita ongkos korupsi masa lalu yang harus ditanggung
seluruh rakyat Indonesia. Rakyat jadi korban karena efek berkepanjangannya dalam
bentuk pengembalian utang. Sementara para penjahat diampuni dan tetap dapat
'bertengger' dengan leluasa di atas pundi-pundi uang yang dicuri. Harus diakui
penyimpangan dana BLBI merupakan kasus korupsi terbesar yang pernah terjadi di
negeri ini. Fakta ini bisa dilihat dari hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dari Rp 144,5 triliun dana BLBI yang dikucurkan kepada 48 bank umum nasional, Rp
138,4 triliun dinyatakan berpotensi merugikan negara.
Dana-dana tersebut kurang jelas penggunaannya. Juga terdapat penyimpangan
dalam penyaluran maupun penggunaan dana BLBI yang dilakukan pemegang saham,
baik secara langsung atau tidak langsung melalui grup bank tersebut. Sedangkan hasil
audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap 42 bank
penerima BLBI menemukan penyimpangan sebesar Rp 54,5 triliun. Sebanyak Rp 53,4
triliun merupakan penyimpangan berindikasi korupsi dan tindak pidana perbankan.
Upaya menyeret para pelaku korupsi dana BLBI sampai saat ini masih terbentur
kendala penegakan hukum. Seolah hukum bungkam dan tidak bertaring menghadapi
para 'konglomerat hitam'. Untuk penanganan kasus ini, Kejaksaan Agung tidak
menunjukkan kemajuan signifikan dari tahun ke tahun.
Penyimpangan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dapat dianggap
sebagai sebuah lembaran hitam dalam kehidupan perbankan nasional. Sementara
penanganan terhadap kasus-kasus penyimpangan BLBI tersebut dapat pula dicatat
sebagai sebuah lembaran hitam dalam sejarah kehidupan hukum Indonesia. Catatan
tersebut bukanlah sesuatu yang berlebihan bila dikaitkan dengan adanya berbagai
implikasi yuridis yang kemudian muncul sebagai akibat berbelit-belitnya proses
penanganan kasus penyalahgunaan dana BLBI. Ketidaksamaan persepsi di kalangan
hukum sendiri tentang penanganan kasus-kasus BLBI adalah gambaran tentang betapa
kehidupan hukum kita semakin menjauh dari kepastian hukum.
Ada dua aspek hukum yang cenderung mendapatkan perhatian dan mengemuka dalam
berbagai diskusi terkait dengan masalah BLBI.Pertama, apakah penyimpangan BLBI
itu merupakan sesuatu yang berada dalam tataran hukum keperdataan, atau apakah
kasusnya kemudian dapat berkembang menjadi sesuatu yang berada dalam lingkup
hukum pidana. Kedua, masalah penyelesaian terhadap kasus-kasus penyimpangan
BLBI yang telah menimbulkan berbagai kontrovesri.

3.2 Analisis Penyebab dan Dampak


BLBI telah berjalan kurang lebih selama 10 (sepuluh) tahun sejak krisis moneter
tahun 1997/1998. Langkah penegakan hukum telah dilaksanakan yang mengakibatkan
pengambil kebijakan pengucuran BLBI telah dijatuhi hukuman sedangkan 2 (dua)
direksi lainnya di SP3-kan oleh Kejagung, dan sejumlah kecil penerima BLBI
dihukum. Pemerintah telah menetapkan kebijakan hukum menggunakan penyelesaian
di luar pengadilan dengan payung hukum UU Nomor 25 tahun 2000 tentang Propenas
dan Payung Politik TAP MPR RI kemudian ditindak lanjuti dengan Inpres Nomor 8
tahun 2002 yang mengesahkan perjanjian MSAA, MRNIA, APU, dan SKL.
Konsekuensi dari Inpres tersebut adalah dihentikannya penyidikan kasus BLBI (SP3)
oleh kejaksaan agung namun tidak merujuk kepada ketentuan KUHAP atau UU
Kejaksaan. Surat Keterangan Lunas (SKL) terhadap obligor yang diharapkan
kooperatif (melunasi seluruh kewajibannya) tidak memberikan hasil maksimal untuk
kepentingan Negara. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tanggal 6 Mei 2008
yang telah membatalkan SP3 Kejaksaan Agung yang telah dikeluarkan atas nama
Kasus SYN (BDNI) tertanggal 14 Juni tahun 2004 merupakan bukti bahwa payung
hukum di atas tidak memenuhi asas kepastian hukum dan belum berpihak kepada
kepentingan masyarakat luas. Sedangkan pengembalian atas kerugian Negara tidak
mencapai 10 % dari total dana BLBI yang telah disalurkan.
Analisis Hukum Kasus BLBI
BLBI pada hakikatnya adalah sebuah fasilitas yang secara khusus diberikan
oleh Bank Indonesia kepada pihak perbankan nasional untuk menanggulangi masalah
kesulitan likuiditas yang dihadapinya. Dari pengertian ini dapat dipahami, bahwa
kebijakan itu ditempuh adalah untuk tujuan menyelamatkan dunia perbankan nasional
dari kehancuran yang dipastikan akan berimplikasi terhadap perekonomian nasional.
Akan tetapi persoalannya kemudian adalah, tujuan yang baik itu ternyata telah
disalahgunakan oleh sebagian penerima fasilitas untuk memperkaya diri. Artinya,
bantuan likuiditas itu tidak digunakan sesuai dengan maksud dikeluarkannya kebijakan
tersebut. Akibatnya terjadi kerugian negara dalam jumlah yang sangat besar.
Bantuan likuiditas dalam berbagai bentuk dan jenis yang diberikan kepada bank
penerima, pada awalnya adalah sesuatu yang berada dalam lapangan hukum
keperdataan, karena para pihak dilandasi oleh adanya hubungan hukum dalam bentuk
perjanjian atau kontrak sebagai kreditur dan debitur. Berdasarkan verifikasi terhadap
data hasil olahan pengawas bank penerima BLBI, ditemui oleh BPK dan BPKP adanya
indikasi penyalahgunaan BLBI oleh bank penerima. Menurut tujuannya, dana BLBI
itu hanyalah untuk dana pihak ketiga (masyarakat), namun pada kenyataannya juga
digunakan untuk membayar kembali transaksi bank yang tidak layak dibiayai oleh dana
BLBI.
Oleh karena adanya penyalahgunaan atau penyimpangan penggunaan dana
BBLI oleh bank penerima, yang kemudian ternyata merugikan keuangan negara, maka
persoalannya tentu tidak lagi hanya sekedar kasus yang mesti diselesaikan dengan
menggunakan ketentuan hukum keperdataan. Artinya masalah BLBI telah berkembang
menjadi perkara pidana. Penyalahgunaan dana BLBI yang menimbulkan kerugian
keuangan negara itu, telah cukup memenuhi rumusan hukum pidana berdasarkan UU
Nomor 3 tahun 1971 jo UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001, untuk
membawa kasus-kasus BLBI itu ke dalam proses peradilan untuk dimintakan
pertanggungjawaban pidana.
3.3 Solusi
Meskipun demikian, kita tentu tidak boleh men-generalisasi semua kasus BLBI
sebagai perbuatan melawan hukum dalam konteks hukum pidana. Tentu ada kasus-
kasus yang memang terjadi semata-mata karena sesuatu yang mesti diselesaikan
melalui jalur hukum keperdataan. Ada beberapa bentuk perilaku menyimpang dalam
kaitannya dengan BLBI yang dapat diklasifikasikan sebagai tindak pidana, di
antaranya:
1) Pemberian BLBI dilakukan kepada pihak yang tidak pantas menerimanya.
2) Konspirasi antara oknum Bank Indonesia dengan bank penerima BLBI.
3) Pemberian BLBI melebihi jumlah yang sepantasnya
4) penyimpangan dalam penyaluran dana BLBI
Di samping itu, studi hukum yang dilakukan Satgas BLBI telah
mengidentifikasi bentuk-bentuk penyimpangan penggunaan BLBI, antara lain:
Penggunaan dana BLBI oleh penerima secara menyimpang, seperti digunakan untuk
keperluan pembelian devisa dan memindahkan asset ke luar negeri, membawanya ke
pasar uang atau digunakan untuk operasionalisasi bank, serta untuk membayar
pinjaman kepada kelompok sendiri (group perusahaan penerima BLBI). Studi hukum
1) Membayar atau melunasi kewajiban kepada pihak terafiliasi.
2) Membayar atau melunasi dana pihak ketiga yang melanggar ketentuan.
3) Membiayai kontrak derivatif baru atau kerugiaan karena kontrak derivative
lama jatuh tempo.
4) Membiayai penempatan baru di pasar uang antar bank (PUAB), atau pelunasan
kewajiban yang timbul dari transaksi PUAB.
5) Membiayai ekspansi kredit atau merelasasikan kelonggaran tarik dari
komitmen kredit yang sudah ada.
6) Bentuk-bentuk penyimpangan lainnya seperti:
a. Pembayaran kepada pihak ketiga yang masih mempunyai kewajiban
kepada bank
b. Penarikan dana tunai dari giro bank di BI yang penggunaannya tidak jelas.
c. pelunasan kewajiban antar bank, dan sebagainya.
Penyimpangan-penyimpangan tersebut dilakukan dengan berbagai cara dan
modus operandi yang pada prinsipnya tidak sesuai dengan penggunaan dana BLBI
yang seharusnya dilakukan. Bertolak dari adanya penyimpangan dalam berbagai
bentuk dan modus operandi yang merugikan keuangan negara, maka penyelesaian
terhadap kasus-kasus BLBI mesti ditanggapi dengan menggunakan ketentuan-
ketentuan hukum pidana.
Dalam soal penanganan terhadap kasus-kasus penyalahgunaan dana BLBI,
kalangan hukum cenderung pula memperdebatkan aturan-aturan hukum pidana
yang mesti digunakan. Masalahnya terletak pada penerapan ketentuan pidana yang
ada dalam UU Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan UU Nomor 7 tahun 1992
tentang Perbankan atau ketentuan pidana dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Artinya, sejauhmana dan dalam hal-hal apa sajakah ketentuan-ketentuan
hukum pidana tentang korupsi dapat diimplementasikan terhadap pelanggaran atau
penyalahgunaan dana BLBI.
Pembuat UU Perbankan telah merumuskan berbagai kategori perbuatan
yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perbankan. Perbuatan-perbuatan
tersebut meliputi:
1) Tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan perizinan.
2) Tindak pidana perbankan di bidang rahasia bank.
3) Tindak pidana perbankan di bidang pengawasan.
4) Tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan kegiatan usaha bank (kolusi
managemen).
5) Tindak pidana perbankan yang berkaitan dengan pihak terafiliasi.
Dilihat dari rumusan delik yang ada dalam UU Perbankan, tidak ada satu
rumusanpun yang dapat digunakan untuk menjangkau pelaku penyalahgunaan dana
BLBI. Oleh karena itu kasus-kasus BLBI yang mengandung indikasi kriminal mesti
ditanggapi dengan menggunakan ketentuan UU Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi
4. Risiko Perbankan

4.1 Isu

Kejadian ini berawal dari rayuan Kepala Cabang BRI Senen kepada seorang
nasabah yang bernama A G. Dia menawarkan deposito valas dengan bunga di atas rata-
rata serta dijamin Bank Indonesia. Tertarik, AG menyetujui meskipun dia tidak bisa
membaca cermat surat aplikasi yang diajukan, karena dalam keadaan sakit stroke.
Melalui BNI, akhirnya dana masuk sebesar U$ 2 juta ke BRI Cabang Senen pada 6
Februari 2003.
Setelah itu, Kepala Cabang menandatangani surat pencairan kredit dengan
agunan kas (cash collateral) sebesar Rp. 15 miliar kepada nasabah tadi, yaitu AG.
Padahal sang nasabah tidak pernah mengajukan kredit dan tidak pernah
menandatangani dokumen-dokumen persyaratan kredit dengan jaminan dana
didepositonya. Selain itu, ia juga tidak pernah menyetujui untuk menggunakan
deposito tersebut sebagai jaminan kredit. Kredit disalurkan kepada RL, pemilik
perusahaan PT. PP.
Model seperti ini juga dilakukan terhadap dana milik Asuransi Jiwa Bersama
(AJB) Bumiputera 1912. Dana sebesar Rp 36 miliar dicairkan. Ketika deposito akan
jatuh tempo, Kepala Cabang Senen ini mendapat “bantuan” dari BPD Kalimantan
Timur sebesar Rp 100 miliar, tentu dengan iming-iming suku bunga di atas rata-rata
yang berlaku di pasar.
Setelah dana masuk, langsung ditransfer ke PT DM dengan dasar faksimili fiktif
yang dibuat seolah-olah dari BPD Kaltim ke rekening perusahaan yang sama, yaitu PT
DM, pembobol bank itu juga mencairkan dana Rp 70,5 miliar dengan jaminan deposito
Dana Pensiun Perkebunan.
Kasus serupa terjadi di BRI cabang Tanah Abang pada Agustus 2003. PT DM
bekerja sama dengan Kepala Cabang Tanah Abang untuk membobol dana Rp 10 miliar
milik Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pergerukan.
BRI cabang Surya Kencana Bogor juga terlibat dalam aksi transaksi kredit fiktif
ini. Di cabang itu PT DM juga mencairkan dana dari rekening gironya.
Dalam kasus ini pihak-pihak yang terlibat yaitu dua Kepala Cabang BRI; Senen
dan Tanah Abang komisaris dan Direktur PT DM dan pejabat setingkat Direktur di
perusahaan asuransi. Modus yang digunakan adalah pelanggaran prosedur pendanaan
dan kredit fiktif kolusi dengan pejabat bank. Dengan kerugian mencapai Rp 300 miliar.

4.2 Analisis Penyebab dan Dampak serta Solusi


Setelah saya membaca dan memahami kasus perbankan yang terjadi di bank BRI
cabang Senen, Tanah Abang dan Bogor. Menurut saya kasus di Bank BRI ini termasuk
risiko operasional, yaitu risiko yang antara lain disebabkan adanya ketidakcukupan dan
atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau
adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank. (Gita Danupranata,
Manajemen Perbankan Syariah, hlm. 222). Sungguh disayangkan orang yang
dipercaya menjabat sebagai kepala cabang Bank BRI melakukan suatu hal yang
seharusnya tidak dilakukan yaitu dengan membohongi nasabah yang menderita sakit
struk untuk mendapatkan dana segar dari nasabah tersebut. Kasus ini jelas merugikan
pihak internal bank BRI cabang Senen, Tanah Abang dan Bogor karena semua
peraturan yang sudah ditetapkan tidak dipatuhi dengan baik, serta kurangnya
pengawasan terhadap oknum-oknum yang ingin melakukan kejahatan. Kasus ini
berimbas pada nama Bank BRI cabang Senen, Tanah Abang dan Bogor akan buruk
dimata masyarakat. Pesan bagi seluruh perbankan yang ada di Indonesia, sebaiknya
pintar-pintar dalam memilih SDM agar tidak terjadi lagi kasus-kasus aneh seperti ini.
5. Risiko Politik

5.1 Isu

Biaya kunjungan Setya Novanto ke New York Rp 4,6 miliar


JAKARTA, Indonesia—Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto
menuai kecaman setelah tampil bersama kandidat presiden Amerika Serikat dari
Partai Republik, Donald Trump, di Menara Trump di Kota New York, Amerika
Serikat, Kamis, 3 September.
Lalu berapa ongkos perjalanannya? Jika dihitung berdasar Peraturan Menteri
Keuangan 53/PMK.02/2014 tentang Standar Tentang Biaya Masukan 2015,
kunjungan Setya Novanto dan 8 rekannya ke New York menghabiskan uang negara
sekitar Rp 4,6 miliar.
Berikut rincian biaya perjalanan dinas menurut Forum Indonesia untuk
Transparansi Anggaran (FITRA):
 Biaya pesawat ke New York adalah 14.428 USD atau Rp 204 jutaan untuk
sekali perjalanan
 Uang harian 527 USD atau Rp 7,4 juta per anggota DPR
 Hotel \\\\\\\\\\\\Rp 1.312,02 USD atau Rp 18,5 juta per anggota pe malam
 Total Rp 25,9 juta per hari per anggota DPR atau Rp 310 juta selama 12 hari.
 Jika ditambahkan dengan biaya pesawat, maka setiap anggota DPR
menghabiskan Rp 514 juta atau setengah miliar rupiah atau Rp 4,626 miliar
untuk 9 orang anggota DPR yang ke New York.
Biaya perjalanan tidak transparan
Namun biaya perjalanan dinas yang sesungguhnya belum pernah diungkap
oleh Setyo dan anggota DPR lainnya.
“Kami menduga anggaran yang digunakan lebih besar, bisa lebih Rp 10 miliar
dengan asumsi berbagai tunjangan,” ujar sekjen FITRA Yenny Sucipto, Sabtu, 5
September.
Biaya perjalanan yang tidak transparan ini berpotensi terjadi mark up karena
memakai sistim lumsum. Apalagi kurs Rupiah terhadap USD tak stabil.
FITRA juga menyoroti agenda DPR yang dinilai tidak bermanfaat. “Agenda
kunjungan ke Amerika tidak jelas, bahkan foto-foto dengan politikus AS (Donald
Trumph) justru membuat rakyat Indonesia malu,” katanya.
Yenny selanjutnya meminta Setya untuk membuka data akuntabilitas biaya perjalanan
dinasnya ke New York. —Rappler.com

5.2 Analisis Penyebab dan Dampak


Berdasarkan berita di atas menurut saya itu merupakan bentuk dari risiko politik.
Hal ini menjadi sebuah pertanyaan bagi masyarakat Indonesia mengapa biaya kunjngan
Setya Novanto dan 8 rekannya ke New York menghabiskan dana sekitar Rp 4,6 miliar.
Karena biaya perjalan ke New York tidak mungkin akan menghabiskan dana sebesar
itu. Maka hal tersebut menjadi asumsi bagi masyarakat bahwa adanya tindakan korupsi
karena biaya perjalanan tersebut tidak transparan. Biaya perjalan ini menurut sekjen
FITRA Yenny Sucipto menduga bahwa biaya tersebut akan lebih besar. Dampaknya
akan membuat rakyat Indonesia menjadi malu akan hal tersebut

5.3 Solusi
Solusinya agar tidak terjadi hal tersebut menurut saya apabila ada biaya yang
menggunakan uang negara seharusnya biaya tersebut transparan agar tidak menjadi
persoalan bagi rakyat Indonesia. Seharusnya biaya yang di keluarkan harus secara rinci
dan apabila akan menggunakan uang negara harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Contohnya sebelum menggunakan biaya tersebut sebaiknya membuat dahulu rencana
anggaran dana yang akan digunakan.
DAFTAR PUSTAKA

http://krjogja.com/web/news/read/53151/385_Hektare_Tanaman_Pangan_Ga
gal_Panen
http://acch.kpk.go.id/modus-korupsi-di-sektor-perbankan
http://lastiani16.blogspot.co.id/2014/06/masalah-bantuan-likuiditas-bank.html
http://www.theindonesianinstitute.com/korupsi-pengadaan-barang-dan-jasa-
di-indonesi