Anda di halaman 1dari 5

Analisis Jurnal Obesity and Poverty Paradox in Developed Countries

( Paper ini disusun untuk memenuhi Tugas Kajian Strategis Kesehatan


Masyarakat Global kelas C)

Oleh :

Sri Purwandari

NIM 142110101013

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS JEMBER

2017
1. Judul Jurnal : Obesity and Poverty Paradox in Developed Countries

2. Penulis :

a. Wioletta Zukiewicz-Sobczak
b. Paula Wroblewska
c. Jacek Zwolinski
d. Jolanta Chmiewska-Badora
e. Piotr Adamczuk
f. Ewelina Krasowska
g. Jerzy Zagorski
h. Anna Oniszczuk
i. Jacek Piatek
j. Wojciech Silny

3. No jurnal : Vol. 21, No. 3, 590-594

4. Ringkasan Isi Jurnal :


Orang dengan obesitas terus meningkat, terutama di negara maju. Jumlah
orang gemuk di Eropa telah meningkat tiga kali lipat dalam 20 tahun terakhir.
Paradoks hubungan obesitas dan kemiskinan diamati terutama di negara maju
dan berkembang. Di negara berkembang, seiring dengan perkembangan
ekonomi dan pertumbuhan pendapatan pendapatan, jumlah orang dengan
kelebihan berat badan dan obesitas meningkat. Paradoks ini memiliki
hubungan dengan ketersediaan dan biaya rendah makanan olahan tinggi yang
mengandung ‘nol kalori’ dan tidak memiliki kandungan gizi. Sampai saat ini,
paradoks ini telah dijelaskan di Amerika Serikat dan Inggris, walaupun
banyak negara Eropa juga mengalami persentase orang gemuk yang tinggi.
Diantara alasan meningkatnya obesitas pada populasi orang miskin dikaitkan
dengan kekurangan biaya untuk mengakses alat olahraga. Oleh karena itu
perlu diadakan program yang mengajarkan masyarakat hidup sehat dengan
makan makanan sehat, aktivitas fisik sehari-hari dan menghindari alkohol dan
rokok.
5. Analisis :
Hubungan Kejadian Obesitas Dengan Kemiskinan
Berdasarkan jurnal yang telah dianalisis dapat disimpulkan bahwa
faktor – faktor yang berkaitan dengan kejadian obesitas di negara miskin atau
antara lain adalah sebagai berikut :
a. Kurangnya pengetahuan mengenai makan makanan sehat dan bergizi
Rata – rata penduduk miskin memiliki pendidikan yang rendah, sehingga
pengetahuan mereka mengenai makanan sehat sangat rendah, hal ini
berakibat pada tidak terpenuhinya kebutuhan gizi tubuh. Masyarakat
miskin pada umumnya hanya memikirkan kuantitas makanan yang
dikonsumsi bukan kualitas makanan yang dikonsumsi.
b. Rendahnya pengetahuan mengenai pentingnya aktivitas fisik
Pada umumnya masyarakat miskin tidak memikirkan pentingnya olahraga,
mereka berpikir bahwa dengan rutinitas pekerjaan yang mereka kerjakan
sehari-hari itu sudah dapat disebut olahraga. Beberapa dari mereka masih
berpikir bahwa olahraga itu mahal, padahal hal tersebut salah. Olahraga
bisa dilakukan tanpa menggunakan alat apapun, olahraga bisa dengan
aktivitas fisik seperti lari-lari kecil secara rutin, senam, relaksasi dan
masih banyak lagi.
c. Rendahnya pendidikan masyarakat di negara negara miskin
Rendahnya pendidikan masyarakat miskin berpengaruh pada pengetahuan
mereka, khususnya dalam hal ini adalah pengetahuan mengenai makanan
sehat, masih banyak masyarakat miskin yang tidak tahu apa pengertian
gizi seimbang, bagaimana diet yang sehat, dan jenis makanan apa saja
yang termasuk dalam makanan sehat.
d. Keterbatasan akses makanan sehat pada negara miskin
Masyarakat miskin memiliki akses makanan sehat yang sangat minim,
bagi masyarakat miskin yang hidup di kota besar untuk memenuhi
kebutuhan sayur, buah, dan makanan yang memiliki nilai gizi baik
membutuhkan biaya yang besar, sedangkan di pedesaan sayur dan buah
bisa didapatkan dengan cara menanamnya sendiri di pekarangan rumah,
akan tetapi hal ini pun juga belum bisa menjadi jaminan terpenuhinya
kebutuhan gizi masyarakat desa, hal ini berkaitan dengan pengetahuan
masyarakat miskin di pedesaan.
e. Rendahnya konsumsi buah pada masyarakat di negara miskin
Masyarakat miskin memiliki akses yang sangat terbatas untuk membeli
buah – buahan, khususnya bagia mereka yang tinggal di perkotaan. Orang
dengan status ekonomi lebih tinggi makan makanan lebih bervariasi yang
terdiri dari sejumlah besar produk yang memiliki efek positif pada
kesehatan.
f. Konsumsi makanan tinggi kalori namun rendah nilai gizi
Kualitas makanan mempengaruhi kesehatan dan berat badan seseorang.
Makanan berkualitas tinggi ditandai dengan kepadatan nutrisi yang
diinginkan, dan bisanya harganya cukup mahal (Ikan laut, daging rendah
lemak, banyak buah dan sayur segar). Sedangkan makanan seperti pai,
sosis, minyak, serta minuma manis dan olahannya harganya lebih murah
dan rasanya pun relative enak. Akan tetapi makanan semacam ini
menyebabkan kelebihan berat badan dan obesitas.
g. Tidak tersedianya makanan sehat bagi masyarakat miskin merupakan
penyebab utama meningkatnya obesitas di antara mereka. Orang miskin
sering membeli makanan termurah yang sering diproses dan disebut
sebagai 'nol kalori'. Makanan biasa yang menggunakan makanan sehat
memberi kita tubuh yang sesuai. Tubuh membutuhkan pasokan energi
konstan yang bisa dibuang sepanjang hari. Makan tidak teratur
menyebabkan tubuh tidak dapat memprediksi apakah makanan berikutnya
akan diberikan; Oleh karena itu, ia mengumpulkan energi dalam bentuk
lemak tubuh.
h. Kebiasaan merokok di negara berkembang masih tinggi.
i. Obesitas juga sering dikaitkan dengan penyakit gastrointestinal, seperti
penyakit refluks lambung, hati berlemak , kanker kerongkongan dan
kanker usus besar. Diperkirakan bahwa 30-40% kanker ini disebabkan
oleh kelebihan berat badan dan obesitas. Berat badan yang berlebihan
pada orang dewasa dan pada anak bisa menyebabkan gangguan mental,
depresi dan gangguan makan.