Anda di halaman 1dari 8

TUGAS KELOMPOK

KONSULTASI GIZI
“Pertanyaan dan Jawaban tentang penyakit Dislipidemia”

Disusun oleh Golongan D Kelompok 1 :

1. Sarah Amalia (NIM: G42141136)


2. Nur Suci Imami Putri (NIM: G42141139)
3. Nurul Izzati (NIM: G42141152)
4. Khotimatus Sa’diyah (NIM: G42141155)
5. Wildan Fahri Zain (NIM: G42141156)
6. Sintia Ariya Bahri (NIM: G42141174)
7. Mailia Yunda Suryadi (NIM: G42141183)

PROGRAM STUDI GIZI KLINIK


JURUSAN KESEHATAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2017
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit dislipidemia?
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan
maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang paling utama adalah
kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan kadar trigliserida serta penurunan
kadar HDL (Sunita,2004).
Dislipidemia adalah keadaan terjadinya peningkatan kadar HDL kolesterol dalam
darah atau trigliserida dalam darah yang dapat disertai penurunan kadar HDL kolesterol
(Andry Hartono, 2000).

2. Apakah patofisiologi penyakit dislipidemia?


Menurut Shahab (2013), Normalnya lemak ditranspor dalam darah berikatan dengan
lipid yang berbentuk globuler. Lipid dalam plasma terdiri dari kolesterol, trigliserida,
fosfolipid, dan asam lemak bebas. Peningkatan lipid dalam darah akan mempengaruhi
kolesterol, trigliserida dan keduanya (hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia atau
kombinasinya yaitu hiperlipidemia). Hiperlipoproteinemia biasanya juga terganggu (Ikatan
protein dan lipid tersebut menghasilkan 4 kelas utama lipoprotein : kilomikron, VLDL, LDL,
dan HDL.
Pasien dengan hiperkolesterolemia (> 200 – 220 mg/dl serum) merupakan gangguan
yang bersifat familial, berhubungan dengan kelebihan berat badan dan diet. Makanan
berlemak meningkatkan sintesis kolesterol di hepar yang menyebabkan penurunan densitas
reseptor LDL di serum (> 135 mg/dl). Ikatan LDL mudah melepaskan lemak dan kemudian
membentuk plak pada dinding pembuluh darah yang selanjutnya akan menyebabkan
terjadinya arterosklerosis dan penyakit jantung koroner. 4
Adapun jalur transportasi lipid dan tempat kerja obat ada dua yakni jalur transport lipid
dan tempat kerja obat:
1. Jalur endogen
Trigliserida dan kolesterol dari hepar diangkut dengan bentuk VLDL ke jaringan kemudian
mengalami hidrolisis sehingga terbentuk lipoprotein yang lebih kecil IDL dan LDL. LDL
merupakan lipoprotein dengan kadar kolesterol terbanyak (60-70%). Peningkatan
katabolisme LDL di plasma dan hepar yang akan meningkatkan kadar kolesterol plasma.
Peningkatan kadar kolesterol tersebut akan membentuk foam cell di dalam makrofag yang
berperan pada arterosklerosis prematur.
2. Jalur eksogen
Trigliserida dan kolesterol dari usus akan dibentuk menjadi kiomikron yang kemudian
akan diangkut ke saluran limfe dan masuk ke duktus torasikus. Di dalam jaringan lemak,
trigliserida dari kilomikron akan mengalami hidrolisis oleh lipoprotein lipase yang terdapat
pada permukaan endotel sehingga akan membentuk asam lemak dan kilomikron remnan
(kilomikron yang kehilangan trigliseridanya tetapi masih memiliki ester kolesterol).
Kemudian asam lemak masuk ke dalam endotel ke dalam jaringan lemak dan sel otot yang
selanjutnya akan diubah kembali menjadi trigliserida atau dioksidasi untuk menghasilkan
energi.
Kilomikron remnan akan dibersihkan oleh hepar dengan mekanisme endositosis dan
lisosom sehingga terbentuk kolesterol bebas yang berfungsi sintesis membran plasma, mielin
dan steroid. Kolesterol dalam hepar akan membentuk kolesterol ester atau diekskresikan
dalam empedu atau diubah menjadi lipoprotein endogen yang masuk ke dalam plasma. Jika
tubuh kekurangan kolesterol, HMG-CoA reduktase akan aktif dan terjadi sintesis kolesterol
dari asetat.

3. Apa tanda atau gejala terjadinya penyakit dislipidemia?


Menurut Corwin (2000) menyatakan dislipidemia biasanya diketahui setelah seseorang
memiliki penyakit terntentu seperti penyakit arteri koroner, aterosklerosis, kekeruhan kornea,
xanthomas, arkus kornea, pusing, arteri retina terlihat putih krem, penurunan keseimbangan,
parestesia, nafas yg sulit, kebingungan, dan sakit perut, namun lebih tepat tanda dislipidemia
harus dilakukan pemeriksaan laboratorium. Untuk menilai apakah kadar kolesterol seseorang
tinggi atau rendah, semuanya harus mengacu pada pedoman umum yang telah disepakati dan
digunakan diseluruh dunia yaitu pedoman dari NCEP ATP III (National cholesterol
Education Program, Adult Panel Treatment III), yang antara lain menetapkan bahwa :
a. Total Kolesterol :
Nilai Normal < 200 mg/dl
Perbatasan tinggi 200 – 239 mg/dl
Tinggi > 240 mg/dl
b. LDL Kolesterol :
Optimal < 100 mg/dl
Mendekati optimal 100 – 129 mg/dl
Perbatasan tinggi 130 – 159 mg/dl
Tinggi 160 – 189 mg/dl
Sangat tinggi > 190 mg/dl
c. HDL Kolesterol :
Rendah < 40 mg/dl
Tinggi > 60 mg/dl
d. Trigliserida
Normal < 150 mg/dl
Perbatasan tinggi 150 -199 mg/dl
Tinggi 200 – 499 mg/dl
Sangat tinggi > 499 mg/dl

4. Apa penyebab terjadinya penyakit dislipidemia?


Menurut (Hartono, 2000) menyatakan tidak ada pembeda antara kadar lipid normal
degan lipid yang tidak normal karena pengukuran lipid sifatnya berlanjut. Ada dua penyebab
yang dapat mengakibatkan penyakit Dislipidemia, penyebabnya dibedakan menjadi dua
kategori yaitu dislipidemia primer dan sekunder yaitu :
a. Dislipidemia primer
Yaitu kelainan penyakit genetik dan bawaan yang dapat menyebabkan kelainan
kadar lipid dalam darah. Jika salah satu anggota keluarga mempunyai riwayat penyakit
dislipidemia, kemungkinan besar untuk keturunannya juga bisa terserang penyakit
dislipidemia Dislipidemia sekunder
Penyebab dari kategori sekunder yaitu pola hidup yang jalani belum benar dalam
artian tidak masuk ke dalam pola hidup sehat, jarang melakukan aktifitas fisik seperti
olahraga, kurang minum air putih, banyak mengkonsumsi junk food. Namun juga disebabkan
oleh suatu keadaan seperti hiperkolesterolemia yang diakibatkan oleh hipotiroidisme, nefrotik
syndroma, kehamilan, anoreksia nervosa, dan penyakit hati obstruktif. Hipertrigliserida
disebebkan oleh DM, konsumsi alkohol, gahal ginjal kronik, miokard infark, dan kehamilan.
Dan dislipidemia dapat disebabkan oleh hipotiroidisme, nefrotik sindroma, gagal ginjal akut,
penyakit hati, dan akromegali.

5. Apa faktor resiko terjadinya penyakit dislipidemia?


Faktor Risiko Dislipidemia

Kadar lipoprotein, terutama kolesterol LDL, meningkat sejalan dengan


bertambahnya usia. Dalam keadaan normal, pria memiliki kadar yang lebih tinggi,tetapi
setelah menopause kadarnya pada wanita mulai meningkat.
Faktor lain yang menyebabkan tingginya kadar lemak tertentu (misalnya VLDL dan
LDL) adalah:

 Riwayat keluarga dengan dislipidemia


 Obesitas
 Diet kaya lemak
 Kurang melakukan olahraga
 Penggunaan alkohol
 Merokok
 Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
 Kelenjar tiroid yang kurang aktif

Sebagian besar kasus peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol total bersifat
sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan akibat dari makan lemak. Pembuangan
lemak dari darah pada setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda. Seseorang bisa makan
sejumlah besar lemak hewani dan tidak pernah memiliki kadar kolesterol total lebih dari 200
mg/dL, sedangkan yang lainnya menjalani diet rendah lemak yang ketat dan tidak pernah
memiliki kadar kolesterol total dibawah 260 mg/dL. Perbedaan ini tampaknya bersifat
genetik dan secara luas berhubungan dengan perbedaan kecepatan masuk dan keluarnya
lipoprotein dari aliran darah.

6. Bagaimana seseorang bisa terkena penyakit dislipidemia


Seseorang bisa terserang dislipidemia apabila ada kelainan metabolisme lipid yang
ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Dislipidemia
mengacu pada kondisi di mana terjadi abnormalitas profil lipid dalam plasma. Beberapa
kelainan lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida
(TG), serta penurunan kolesterol HDL. Berbagai perubahan profil lipid tersebut saling
berkaitan. LDL sering disebut kolesterol jahat karena membawa kolesterol dari hati dan
melepaskannya ke dinding pembuluh darah, akibatnya bisa terjadi penumpukan/plak
didinding pembuluh darah yang bisa menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Sedangkan
LDL disebut kolesterol baik karena mengangkut kolesterol dari pembuluh darah kembali ke
dalam hati. Trigliserida merupakan jenis lemak lainnya yang terdapat dalam makanan.

7. Bagaimana cara penatalaksanaan diet penyakit dislipidemia?


Dalam penatalaksanaan diet bagi penderita dislipidemia pilar utamanya adalah upaya
nonfarmakologist seperti modifikasi makanan yang dikonsumsi, latihan jasmani serta
pengelolaan berat badan. Tujuan utama terapi diet disini adalah menurunkan resiko penyakit
kardiovaskuler dengan mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol serta mengatur jumlah
kalori dalam tubuh serta memperbaiki nutrisi. Pengaturan kalori tubuh didapatkan melalui
melalui kegiatan jasmani serta pembatasan asupan kalori. Beberapa pengaturan makanan
yang harus diperhatikan adalah mengkonsumsi sumber bahan makanan yang rendah
kolesterol. Kolesterol terdapat pada produk khas hewani, penderita dianjurkan untuk
mengurangi konsumsi makanan seperti otak, jeroan, kuning telur, daging merah yang
berlemak, dan lemak hewani. Penderita juga dapat meningkatkan konsumsi ikan, utamanya
ikan air tawar. Asam lemak Omega-3 yang terdapat dalam ikan yang berperan dalam
membentuk prostasiklin yang akan mencegah penyakit jantung koroner, dan meningkatkan
pelebaran pembuluh darah. Setidaknya penderita mengkonsumsi ikan 2 sampai 3 kali dalam
seminggu. Jagalah asupan karbohidrat sederhana seperti gula, madu, serta makanan manis
seperti kecap, abon, dendeng, coklat dll. Kelebihan konsumsi karbohidrat sederhana dapat
meningkatkan sintesis trigliserida dalam tubuh yang pada akhirnya menimbulkan gangguan
kesehatan. Tidak kalah penting, penderita dianjurkan meningkatkan konsumsi serat,
khususnya serat larut air, karena menghambat penyerapan kolesterol di dinding usus.
Contoh bahan makanan yang tinggi serat larut air seperti: agar-agar, rumput laut, kolang-
kaling, cincau, labu siam, terong, oyong, lobak, melon, semangka, belimbing dan jambu.
Gunakan buah sebagai camilan untuk menggantikan kue-kue manis yang tinggi karbohidrat
atau gorengan. Jika mengkonsumsi susu, gunakan susu kedelai atau susu skim sebagai
pengganti susu full cream. Susu jenis ini dapat digunakan juga sebagai alternatif sumber
kalsium dan fosfor.
Untuk teknik pemasakan, gunakan yang sedikit menggunakan minyak/lemak seperti: ditumis,
direbus, dikukus, dipanggang, dll. Tidak kalah penting untuk menjaga supaya terhindar dari
dislipidemia berkelanjutan, lakukan olahraga secara teratur, istirahat yang cukup dan nyaman
serta hindari stres fisik, psikologis maupun emosional.

8. Bagaimana cara mencegah terjadinya penyakit dislipidemia?


Pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dislipidemia adalah latihan jasmani,
penurunan berat badan bagi yang gemuk, dan menghentikan kebiasaan merokok serta
minuman alkohol (PERKI, 1995).
Pengobatan dislipidemia harus disertai dengan perubahan pola hidup seperti berhenti
merokok, meningkatkan aktivitas fisik dengan olahraga yang cukup, serta mengurangi asupan
lemak jenuh dan kolesterol untuk menurunkan kadar kolesterol. Obat dislipidemia yang telah
tersedia seperti golongan statin dan fibrat (Ganiswarna dkk., 2004).

9. Apakah dislipidemia termasuk dalam degeneratif?


Ya, dislipidemia termasuk dalam kategori penyakit degeneratif, karena :
Penyakit degeneratif adalah penyakit yang sulit untuk diperbaiki yang ditandai dengan
degenerasi organ tubuh yang dipengaruhi gaya hidup. Gaya hidup sehat menggambarkan
pola perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan
dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2010).

10. Apakah penyakit dislipidemia terjadi pada orang dewasa atau umur tertentu?
Kenapa?
Diagnosis dislipidemia didapatkan dengan pemeriksaan laboraturium profil lipid plasma.
Pemeriksaan ini dianjurkan pada setiap orang dewasa berusia lebih dari 20 tahun. Kadar lipid
plasma yang diperiksa meliputi kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan
trigliserida. Apabila ditemukan hasil yang normal, maka dianjurkan pemeriksaan ulangan
setiap lima tahun.
Semakin tua usia seseorang maka fungsi organ tubuhnya semakin menurun, begitu
juga dengan penurunan aktivitas reseptor LDL, sehingga bercak perlemakan dalam tubuh
semakin meningkat dan menyebabkan kadar kolesterol total lebih tinggi, sedangkan
kolesterol HDL relative tidak berubah. Pada usia 10 tahun bercak perlemakan sudah dapat
ditemukan di lumen pembuluh darah dan meningkat kekerapannya pada usia 30 tahun.
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita, 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.

Andry Hartono. 2000. Penyakit Bawaan Makanan. Jakarta: EGC.

Corwin, Elizabeth J., 2009, Patofisiologi : Buku Saku, Edisi 3, EGC, Jakarta, Hal:479-481

Corwin, J. 2000. Buku Saku Pathofisiologi. Jakarta : EGC

Ganiswarna, S.G dkk. 2004. Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. Jakarta : Gaya Baru.
Hartono, A. 2000. Penyakit Bawaan Makanan, Jakarta: EGC.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.


PERKI. 1995. Pedoman Deteksi, Prevensi dan Tatalaksana Dislipidemia dalam
penanggulangan Penyakit Jantung Koroner, PERKI edisi 1995. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Shahab, Alwi. 2013. Patofisiologi dan Penatalaksanaan Dislipidemia. FK Unsri. RSMH
Palembang