Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Diabetus Mellitus


Sasaran : Lansia
Tempat : Ruang Aula kampus YAPMA
Hari/Tanggal : Kamis, 26 November 2017
Waktu : 1 x 30 menit
Pelaksana : Mahasiswa Program Studi Keperawatan STIK MAKASSAR

A. TUJUAN INSTRUKSIONAL
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan Penyuluhan selama 30 menit, peserta mampu memahami
tentang penyakit diabetes mellitus.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah kegiatan penyuluhan dilakukan peserta dapat :
a. Menjelaskan pengertian diabetes mellitus
b. Menyebutkan klasifikasi diabetes mellitus
c. Menyebutkan penyebab diabetes mellitus
d. Menyebutkan gejala diabetes mellitus
e. Menjelaskan pengobatan diabetes mellitus
f. Menyebutkan komplikasi diabetes mellitus

C. MATERI
a. Pengertian diabetes mellitus
b. Klasifikasi diabetes mellitus
c. Penyebab diabetes mellitus
d. Gejala diabetes mellitus
e. Pengobatan diabetes mellitus
f. Komplikasi diabetes mellitus
D. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

E. ALAT DAN MEDIA


1. Leaflet

F. susunan acara penyuluhan


KEGIATAN
NO TAHAP
Penyuluh Peserta
1. Menyampaikan salam
pembuka 1. Menjawab
Pembukaan 2. Memperkenalkan diri Salam
1
5 menit 3. Menyampaikan tujuan 2. Mendengarkan
penyuluhan 3. Memperhatikan
4. Kontrak waktu
1. Menggali pengetahuan peserta
tentang diabetes mellitus
2. Menyampaikan materi tentang :
a. Pengertian diabetes
mellitus 1. Menjawab
b. Klasifikasi diabetes pertanyaan
Pelaksanaan mellitus 2. Memperhatikan
2
15 menit c. Penyebab diabetes
dan
mellitus
mendengarkan
d. Gejala diabetes mellitus
e. Pengobatan diabetes
mellitus
f. Komplikasi diabetes
mellitus
1. Tanya jawab tentang materi yang
telah diberikan
2. Menanyakan kepada peserta :
a) Pengertian diabetes mellitus 1. Bertanya dan
Diskusi dan
b) Klasifikasi diabetes mellitus menjawab
3 Evaluasi
c) Penyebab diabetes mellitus pertanyaan
8 menit
d) Gejala diabetes mellitus
e) Pengobatan diabetes mellitus
f) Komplikasi diabetes mellitus
3. Membagikan Leaflet
1. Menyimpulkan kegiatan
penyuluhan 1. Mendengarkan
Terminasi
4 2. Mengucapkan terima kasih atas 2. Menjawab
2 menit
peran serta peserta salam
3. Menyampaikan salam penutup

G. PENGORGANISASIAN
Pembimbing : Hardianti Sulaiman, S.kep,Ns
Moderator :-
Fasilitator :-
Penyaji : Miftahul Ulum
H. DESKRIPSI PENGORGANISASIAN
1. Moderator
a. Mengatur jalannya penyuluhan
b. Menyampaikan judul materi
c. Mengatur kontrak waktu
d. Menjelaskan tujuan umum dan tujuan khusus
e. Memperkenalkan penyaji materi, fasilitator, memberi salam pembuka
2. Penyaji
a. Menyajikan materi penyuluhan dan
b. Menjawab pertanyaan dari peserta
3. Fasilitator : Menstimulasi peserta yang tidak aktif

I. SETTING TEMPAT

Keterangan Gambar:

: Audience

: Moderator

: Penyuluh

: Fasilitator

J. EVALUASI
1. Evaluasi struktur
a. Peserta hadir di tempat penyuluhan.
b. Penyelenggaraan penyuluhan di Ruang Aula kampus YAPMA
c. Pengorganisasian penyelenggara dilakukan sebelum peserta penyuluhan
diseleksi.
d. SAP dan leaflet dibuat 3 hari sebelum penyuluhan.
2. Evaluasi proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
b. Peserta mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai.
c. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.
d. Peserta yang hadir minimal 10 orang.
3. Evaluasi Hasil
a. Peserta dapat menjelaskan pengertian diabetes mellitus
b. Peserta dapat menyebutkan klasifikasi diabetes mellitus
c. Peserta dapat menjelaskan penyebab diabetes mellitus
d. Peserta dapat menjelaskan gejala diabetes mellitus
e. Peserta dapat menjelaskan pengobatan diabetes mellitus
f. Peserta dapat menjelaskan komplikasi diabetes mellitus

MATERI PENYULUHAN
“DIABETES MELLITUS”

A. Pengertian Diabetes Mellitus


Diabetes adalah suatu penyakit kronis yang terjadi akibat kurangnya produksi
insulin oleh pankreas atau keadaan dimana tubuh tidak dapat menggunakan insulin
yang diproduksi dengan efektif. Hiperglikemia atau peninggian kadar gula darah
adalah suatu efek yang sering dijumpai pada diabetes yang tidak terkontrol dan jika
dibiarkan, dalam jangka masa panjang dapat menyebabkan kerusakan pelbagai sistem
tubuh terutama sistem persarafan dan pembuluh darah (WHO, 2006).
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes melitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, k erja insulin, atau kedua-duanya (ADA,
2010).
Diabetes melitus adalah suatu kumpulan kelainan metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang disebabkan oleh karena adanya defisiensi insulin
baik relatif maupun absolut (Colledge et al, 2006).
Berdasarkan kriteria diagnostik PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi
Indonesia) tahun 2011, seseorang dikatakan menderita diabetes jika ada gejala
diabetes melitus dengan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL atau adanya gejala
klasik diabetes melitus dengan kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL atau kadar
gula plasma 2 jam pada tes tolerans i glukosa oral (TTGO) ≥200 mg/dL (PERKENI,
2011). Dari berbagai definisi yang disebutkan, dapat disimpulkan bahwa diabetes
melitus adalah suatu penyakit metabolisme kronis yang disebabkan adanya kelainan
dari produksi, sekresi dan kerja insulin yang ditandai dengan dengan peninggian kadar
glukosa darah (hiperglikemia). Seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki
kadar glukosa darah ≥ 126 mg/dL dan ≥ 200 mg/dL pada tes glukosa darah sewaktu.
Untuk menilai prestasi diabetesi menjalankan diet, olahraga dan obat dengan
baik dapat dilihat di Rapor Diabetisi pada butir a, b, c, dan d. Ada 4 pedoman untuk
mengetahui Rapor Diabetisi, yaitu (Tjokroprawiro, 2012) :
1. Kadar Gula Darah sebelum Makan atau Puasa (GDP), target antara 70 - 130
mg/dl
2. Kadar Gula Darah 1 Jam Post Prandial (G1JPP) = 1 jam sesudah makan,
target < 180 mg/dl
3. Gula Darah Rerata dalam 1 hari (GDR), target < 170 mg/dl
4. Rapor 2 – 3 bulan terakhir (atau sering disebut ‖rapor akhir‖), yaitu A1C (dulu
namanya HbA1C) normal < 7 %.

B. Klasifikasi Diabetes Mellitus


Klasifikasi etiologi diabetes melitus menurut American Diabetes Association (2007) :
Tabel 2.1. Klasifikasi etiologi Diabetes Melitus
Tipe Diabetes Melitus Keterangan
Tipe diabetes dengan defisiensi insulin absolut akibat
kerusakan sel -sel β pankreas. Umumnya disebabkan :
Tipe 1
1) Proses autoimun
2) idiopatik
Mulai dari yang predominan resistensi insulin dengan
Tipe 2 defisiensi insulin relatif sampai yang dominan defek
sekresi insulin dengan resistensi insulin.
Tipe lain 1. Defek genetik fungsi sel beta
2. Defek genetik kerja insulin
3. Penyakit eksokrin pankreas
4. Endokrinopati
5. Karena obatan atau zat kimia
6. Infeksi
7. Imunologi
8. Sindroma genetik lain yang berhubungan dengan
diabetes melitus
Diabetes melitus Diabetes semasa kehamilan
gestational
Sumber : Harrison’s Principles of Internal Medicine, 17th edition, 2008

C. Penyebab Diabetes Mellitus


Faktor-faktor resiko berhubungan dengan terjadinya diabetes melitus dapat dibagi
menjadi dua (WHO,2006), yaitu, :
1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah (non -modifiable) :
a) Usia.
Resistensi insulin lebih cenderung terjadi seiring pertambahan usia.
b) Ras atau latar belakang etnis
Resiko diabetes melitus tipe 2 lebih besar pada hispanik, kulit hitam,
penduduk asli Hawaii. Hal ini disebabkan oleh nilai rata -rata tekanan darah
yang lebih tinggi, obesitas, dan pengaruh gaya hidup yang kurang sehat.
c) Riwayat penyakit diabetes melitus dalam keluarga.
Seseorang dengan ahli keluarga yang menderita deabet es melitus mempunyai
resiko yang lebih besar untuk menderita penyakit yang sama ini dikarenakan
gen penyebab diabetes melitus dapat diw arisi orang tua kepada anaknya
(Colledge et al, 2006)
2. Faktor resiko yang dapat diubah (modifiable) :
1) Obesitas
2) Gaya hidup
3) Hipertensi
4) Kadar glukosa darah

D. Gejala Diabetes Mellitus


Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penderita diabetes. Kecurigaan adanya diabetes
perlu difikirkan apabila terdapat keluhan klasik diabetes melitus seperti di bawah ini
(Kumar dan Clark, 2005 ) :
1. Keluhan klasik diabetes melitus be rupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
2. Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi
ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita

E. Pengobatan Diabetes Mellitus


Diabetes melitus tipe 2 fase awal dapat ditangani dengan diet dan olahraga tetapi
seiring dengan berkembangya perjalanan penyakit diabetes melitus tipe dua ini
intervensi medika mentosa menjadi perlu untuk menangani hiperglikemia.
1. Penatalaksanaan Non-farmakologi
Cara yang paling efektif untuk meningkatkan sensitivitas insulin adalah penurunan
berat badan bagi pasien diabetes melitus tipe 2 dengan berat badan berlebih dan
mempertahankan berat badan ideal (Gilby, 2007). Langkah ini dapat dicapai dengan
melakukan perubahan gaya hidup yaitu melakukan olahraga dan kontrol diet. Kedua
modalitas ini sangat efektif dalam meningkatkan kerja insulin dengan cara
memperbaiki sensitivitas insulin dan menurunkan kadar gula darah pada penderita
diabetes melitus tipe 2 (Meeking, 2011).
2. Penatalaksanaan Farmakologi
Penatalaksanaan farmakologi dalam rangka untuk menurunkan kadar gula darah
adalah perlu apabila perubahan gaya hidup dan diet gagal untuk mencapai atau
mempertahankan kontrol glikemik n ormal (Gilby, 2007). Obatan antidiabetik
dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu, oral dan suntikan.
a. Obat antidibetik oral.
Terdapat beberapa klasifikasi obatan antidiabetik oral dan yang paling sering
digunakan adalah dari golongan metformin, thiazolidinedio nes (TZD),
sulfonilurea, analog meglitidin, alpha glucosidase inhib itors, insulin dan terapi
GLP-1 (Meeking, 2011)
1) Metformin
Metformin adalah dari golongan insulin-sensitizing agents dimana ia tidak
menstimulasi perlepasan insulin dari pankreas sebaliknya hanya
meningkatkan sensitivitas hepar terhadap insulin. Metformin menurunkan
kadar glukosa darah tanpa menyebabkan hipoglikemi dengan cara
meransang pembentukan cadangan glikogen di otot rangka.
2) Thiazolidinedione (TZD)
TZD juga adalah dari golongan insulin-sensitizing agents dan berfungsi
sebagai Peroxisome Proliferator Activated Receptor -gamma (PPARγ )
agonist. TZD meningkatkan sensivitas insulin dengan cara menstimulasi
reseptor PPARγ pada jaringan lemak dimana TZD membantu dalam
meningkatkan transkripsi gene sensitif insulin seperti GLUT 4, dan
lipoprotein lipase.
3) Sulfonilurea
Obatan sulfonilurea menstimulasi sekresi insulin dari sel beta pankreas
untuk memberikan kesan hipoglikemi langsung. Obatan golongan ini
berikatan dengan reseptor sulfonilurea pada sel beta pankreas. Hal ini
menyebabkan ATP-sensitive potassium channel menutup dan
menyebabkan influks kalsium ke dalam sel dan menyebabkan pengaktifan
protein yang mengontrol granul insulin melalui aktivasi dari protein
kinase C.
4) Analog Meglitidine
Analog meglitidine menstimulasi fase pertama dari perlepasan insulin.
Sama seperti golongan sulfonilurea, golongan analog megdlitidine ini
berikatan dengan reseptor sulfonilurea pada sel beta pankreas. Obatan
golongan ini dapat diberikan secara kombinasi dengan agen hipoglikemi
yang lain kecuali sulfonilurea kerana cara keduanya akan berikatan pada
reseptor yang sama.
b. Obat antidiabetik non-oral
1) Insulin
Karena fungsi sel beta pankreas cenderung memburuk pada penyakit
diabetes melitus tipe 2, banyak pasien akhirnya akan memerlukan terapi
insulin. Terdapat tiga jenis insulin yaitu short-acting, long-acting dan
mixed insulin preparations.
2) Terapi GLP-1
GLP-1 dihasilkan dari gene proglukagon di L-cell pada usus halus dan
disekresikan sebagai respons terhadap nutrisi. GLP-1 memberikan efek
dengan cara menstimulasi perlepasan glucose-dependent insulin dari sel
islet pankreas.

Sepuluh petunjuk hidup sehat untuk pasien diabetes (Tjokroprawiro, 2012):


(1) G (Gula)
Batasi penggunaan gula dan makanan/minuman yang terlalu manis. Untuk penderita
Diabetes (Diabetisi), gula atau glukosa dilarang sama sekali. Motto untuk para
Diabetisi adalah Sugar is Disease. Para Diabetisi harus berusaha regulasi DM yang
baik dan berkesinambungan (target: A1C < 7%, kadar glukosa darah sebelum makan
< 130 mg/dl, glukosa darah 1 jam sesudah makan < 180 mg/dl).
(2) U (Urat = asam urat)
Batasi makanan yang mengandung banyak purin, karena purin dapat menimbulkan
hiperurisemia dengan efek samping antara lain: 1. mudah timbul agregasi trombosit
(penggumpalan darah) yang dapat memacu timbulnya aterosklerosis penyampitan
pembuluh darah, 2. dapat menyebabkan urolithiasis atau batu saluran kencing, 3.
dapat menyebabkan timbulnya penyakit gout atau sakit sendi. Batasi lah makan atau
konsumsi JAS-BUKKKET (Jerohan, Alkohol, Sarden, - Burung dara, Unggas,
Kacang Tanah, Kaldu, Kerang, Emping, Tape) agar kadar asam urat dalam darah
menjadi sekitar 5 sampai 7 mg/dl.
(3) L (Lemak atau Lipid)
Usahakan mencapai DESIREBLE LIPID TRIAD (kolesterol-total, trigliserida,
kolesterol-HDL) seperti di atas, atau cegahlah terjadinya dislipidemia (kadar lemak
darah yang tidak normal) dengan cara :
a) hindari makanan berlemak yang berlebihan, jangan terlalu sering makan di
restoran yang atherogenik, dan batasi makan TeK-KUK-CS2 (Telur, Keju -
Kepiting, Udang, Kerang - Cumi, Susu, Santan).
b) budayakan makan sayur dan buah-buahan setiap hari.
(4) O (Obesitas)
Cegah kegemukan atau gizi-lebih atau obesitas.
Usahakan IMT < 23, atau BBR < 110%)

(5) S (Sigaret)
Bagi para perokok, usahakan berhenti merokok. Sekarang sudah ada obat anti rokok,
namanya: tablet Champix®, yang harus diminum selama 12 minggu.
(6) H (Hipertensi)
Cegahlah konsumsi garam yang berlebihan, karena garam dapat memacu terjadinya
hipertensi (tekanan darah tinggi). Usahakan tensi tidak melebihi 130/80 mmHg.
(7) I (Inaktivitas)
Lakukan olahraga teratur setiap hari untuk menghilangkan kalori sekitar 300 kkal,
atau 2000 kkal/minggu, atau jalan kaki setiap hari kurang lebih sejauh 3 km, atau sit-
up dipinggir bed 50 – 200x/hari. Hindari inaktivitas (tidak berolahraga).
(8) S (Stres)
Usahakan tidur nyenyak minimal 6 jam sehari untuk dapat meredam stress dan
merangsang regenerasi sel-sel tubuh. Atau, usahakan ―tidur semu‖ meskipun di
dalam mobil (tiduran, tidak bergerak, pejamkan mata, usahakan melepas semua
masalah).
(9) A (Alkohol)
Berhentilah minum alkohol
(10) R (Regular Chek Up)
Lakukan chek up (kontrol) secara teratur juga untuk orang normal atau Non-DM,
terutama untuk umur diatas 40 tahun. Bagi Diabetisi atau penderita yang mengidap
penyakit kardiovaskuler lakukan check up setiap 1, 2, 3 bulan atau lebih sering lagi.

Dalam melaksanakan Diet-Diabetes sehari-hari hendaknya diikuti pedoman “3J”


(Jumlah, Jadwal, Jenis), artinya :
1. J1: Jumlah: kalori yang diberikan harus habis.
2. J2: Jadwal: Diet harus diikuti sesuai dengan intervalnya, yaitu tiga jam.
3. J3: Jenis: makanan manis harus dihindari, termasuk pantang Buah
Golongan A. Jenis inilah yang paling sering menganggu kadar gula darah
(regulasi diabetes).

F. Komplikasi Diabetes Mellitus


Atherosklerosis adalah penyempitan pembuluh darah, yang pada diabetesi sering
terjadi pada otak, mata, jantung, ginjal, dan tungkai bawah. Apabila penyempitan
pembuluh dara terjadi pada (Tjokroprawiro, 2012):
1. otak, timbullah stroke (lumuh separo)
2. mata, mudah buta karena timbulnya retinopati diabetik (penyempitan dan
kerusakan pembuluh darah di retina)
3. jantung, mudah timbul penyakit jantung koroner atau infark jantung (mati
jantung mendadak), atau payah jantung akibat dari adanya kardiomiopati
4. ginjal, mudah timbul gagal ginjal kronik (nefropati diabetik)
5. tungkai bawah, mudah terjadi selulitis (radang kulit) atau gangrene (kaki
―busuk‖).
Dibandingkan dengan penderita Non-Diabetes Mellitus (normal) ternyata Diabetisi
mempunyai kecenderungan (Tjokroprawiro, 2012):
1. dua kali (2x) lebih mudah menderita stroke
2. dua puluh lima kali (25x) lebih mudah buta
3. dua kali (2x) lebih mudah mengalami penyakit jantung koroner / infark atau
payah jantung
4. tujuh belas kali (17x) lebih mudah mengalami gagal ginjal kronik dan
5. lima kali (5x) lebih mudah menderita selulitis atau gangren.

DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association (ADA) 2010, Diabetes Basic : Diagnosis and


Classification of Diabetes Mellitus, diakses pada tanggal 14 Maret 2015 di
<http://www.diabetes.org/>

Anthony S. Fauci, 2008. Harrison’s Internal Medicine, 17th Edition, USA, McGraw –
Hill

Colledge, N.R., Walker, B.R. and Ralston, S.H. 2006. Davidson’s Principles and
Practise of Medicine. 20th Ed. Edinburgh : Churchill Livingstone

Gilby, S 2007.Endocrinology. In : Longmore, M., Wilkinson, I., Turmezei, T.et al .


Oxford Handbook of Clinical Medicine . 7th Ed. New york : Oxford University
Press Inc.
Kumar, P.P.J. and Clark, M.L. 2005. Kumar & Clark : Clinical Medicine . Edinburgh :
Saunders Ltd

Meeking, D.R. 2011.Understanding Diabetes & Endocrinology: A Problem-Oriented


Approach. London, UK : Manson Publishing Ltd.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2011, Konsensus Pengelolaan dan


Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia

Tjokroprawiro, Askandar 2012, Garis Besar Pola Makan dan Pola Hidup sebagai
Pendukung Terapi Diabetes Mellitus, Pusat Diabetes dan Nutrisi Surabaya,
RSUD Dr. Soetomo Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga: Surabaya

World Helath Organization (WHO) 2006 Definition And Diagnosis Of Diabetes


Mellitus And Intermediate Hyperglycemia, diakses pad atanggal 14 Maret 2015
di<http://www.who.int/diabetes/publications/Definition%20and%20diagnosis
%20of%20diabetes_new.pdf>