Anda di halaman 1dari 15

MODUL 2

SEDIAAN INJEKSI ACIDUM FOLICUM

1. Tujuan
a. Membuat sediaan steril injeksi acidum folicum
b. Memahami prinsip dasar pembuatan sediaan injeksi dan evaluasinya
2. Prinsip
Berdasarkan cara pembuatan sediaan steril dan beberapa evaluasi standar
steril.
3. Teori
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi adalah sediaan steril berupa
larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan
terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek
jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir (Depkes
RI.1979).
Sedangkan menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi
yang dikemas dalam wadah 100 mL atau kurang. Umumnya hanya larutan obat
dalam air yang bisa diberikan secara intravena. Suspensi tidak bisa diberikan
karena berbahaya yang dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh
darah kapiler (Depkes RI.1995).
Air yang digunakan untuk injeksi adalah Aqua pro Injectione. Air untuk
injeksi, dibuat dengan menyuling kembali air suling segar dengan alat gelas
netral atau wadah logam yang cocok dengan labu percik. Hasil sulingan
pertama dibuang dan sulingan selanjutnya ditampung dan segera digunakan
harus disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C segera ditampung. Air untuk
injeksi bebas udara dibuat dengan mendidihkan air untuk injeksi segar selama
10 menit sambil dicegah hubungan dengan udara sesempurna mungkin,
didinginkan dan segera digunakan. Jika dimaksudkan sebagai pelarut untuk
injeksi, harus disterilkan dengan cara sterilisasi A, segera setelah diwadahkan
(Anief, Moh. 2006).
Wadah obat suntik, termasuk tutupnya harus tidak berinteraksi dengan
sediaan, baik secara fisik maupun kimia sehingga akan mengubah kekuatan

1
dan efektivitasnya. Bila wadah dibuat dari gelas, maka gelas harus jernih dan
tidak berwarna atau kekuningan, untuk memungkinkan memeriksa isinya.
Jenis gelas yang sesuai dan dipilih untuk tiaap sediaan parenteral biasanya
dinyatakan dalam masing-masing monograf. Obat suntik ditempatkan di dalam
wadah dosis tunggal atau wadah dosis berganda. Menurut definisi wadah dosis
tunggal (Ansel, 1989).
3.1 Ada 2 macam wadah untuk larutan injeksi :
3.1.1 Syarat gelas
1. Harus netral artinya tidak mengeluarkan alkali hingga dapat
menaikkan pH larutan injeksi.
2. Untuk ampul harus mudah dilebur, pada waktu menutup
ampul.
3. Tidak mudah pecah, dan untuk ampul pada waktu dipotong
tidak mengeluarkan pecahan gelas yang lembut.
3.1.2 Syarat karet
1. Harus elastis, dapat menutup baik pada pencoblosan atau
larutan tak keluar dari samping jarum, dan apabila jarum
ditarik, akan menutup lagi. (Jarum yang dimaksud ialah
jarum suntik).
2. Permukaan lapisan karet harus licin dan tak berlubang
supaya dapat dicuci bersih.
3. Tutup karet harus dibuat sedemikian rupa, hingga sehabis
sterilisasi karena penurunan tekanan dalam yang dengan
demikian menjamin penutupan wadah itu dengan sempurna.
4. Bagian-bagian yang dapat larut
Pada pemanasan dari tutup karet pada 1150C selama
300 dalam aquadest maka cairan harus tak mempunyai rasa,
tak berbau, dan tak ada sisa penguapan, tak boleh ada bahan
reduksi dan logam-logam yang berasal dari proses
vulkanisasi.
Berdasarkan Rudolf Voight (hal 464) menyatakan bahwa, botol

2
injeksi vial ditutup dengan sejenis logam yang dapat dirobek atau
ditembus oleh jarum injeksi untuk menghisap cairan injeksi. Injeksi
intravena memberikan beberapa keuntungan :
1. Efek terapi lebih cepat .
2. Dapat memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan.
3. Cocok untuk keadaan darurat.
4. Untuk obat-obat yang rusak oleh cairan lambung.
3.2 Syarat-syarat injeksi vial sebagai berikut :
1. Steril, yaitu sediaan vial harus bebas dari mikroorganisme yang
bersifat pathogen yang dapat mengurangi khasiat sediaan vial.
2. Bebas bahan partikulat, yaitu bebas dari bahan asing atau bahan
yang tidak larut agar tidak terjadi penyumbatan pada pembuluh
darah saat digunakan.
3. Mengandung zat pengawet, sediaan vial memungkinkan
pengambilain secara berulang. Untuk itu, harus digunakan bahan
pengawet untuk mempertahankan khasiat zat aktif.
4. Stabil, tidak berubah khasiat obat setelah pengambilan obat secara
berulang kali dan tidak berubah bentuk atau pH dari sediaan vial.
5. Harus isotonis, sediaan vial merupakan sediaan parenteral. Untuk
itu, sediaan vial harus isotonis atau sesuai dengan pH darah agar
tidak terjadi hipertonis (penyempitan pembuluh darah) atau
hipotonis (pembesaran pembuluh darah) yang dapat menyebabkan
pecahnya pembuluh darah (Anonim. Penuntun Praktikum
Farmasetika I.2011).
3.3 Keuntungan dan Kerugian Injeksi
Pemberian melalui injeksi mempunyai beberapa keuntungan maupun
kerugian dibandingkan dengan melalui cara lain.
3.3.1 Keuntungan pemberian secara injeksi, yakni:
1. Obat-obat yang rusak atau diinaktifkan oleh sistem saluran
cerna atau tidak diabsorpsi dengan baik untuk memberikan
respon memuaskan, dapat diberikan secara parenteral.

3
2. Sering digunakan apabila dibutuhkan absorpsi yang segera,
seperti pada keadaan darurat.
3. Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai dengan segera
4. Untuk obat2 yang tidak efektif jika diberikan secara oral atau
yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan contoh :insulin
dan hormon.
5. Dapat memberikan efek local.
6. Kadar obat dalam darah yang dihasilkan jauh lebih bisa
diramalkan (kadar obat lebih besar dari pemberian oral).
7. Memungkinkan pemberian dosis yang lebih kecil.
8. Dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan
cairan dan elektrolit.
9. Pemberian secara parenteral berguna dalam pengobatan pada
pasien yang tidak mau bekerjasama, kehilangan kesadaran
atau sebaliknya tidak dapat menerima obat secara oral.
10. Pemenuhan nutrisi melalui rute parenteral bila makanan
tidak dapat diberikan melalui mulut.
3.3.2 Adapun kerugian pemberian secara injeksi, yakni:
1. Apabila obat sudah disuntikkan, maka obat tersebut tidak
dapat ditarik lagi. Ini berarti, pemusnahan untuk obat yang
mempunyai efek tidak baik atau toksik maupun kelebihan
dosis karena ketidakhati-hatian akan sukar dilakukan.
2. Tuntutan sterilitas untuk sediaan parenteral sangat ketat
3. Harga sediaannya relatif mahal.
4. Memerlukan petugas terlatih yang berwenang untuk
melakukan pengobatan.
5. Adanya resiko toksisitas jaringan dan akan terasa sakit saat
penyuntikan serta sulit untuk memulihkan keadaan bila
terjadi kesalahan.
6. Pemberian parenteral membutuhkan ketelitian untuk
pengerjaan secara aseptik, dan rasa sakit tidak dapat
dihindari (tidak nyaman).

4
3.4 Preformulasi
3.4.1 Acidum Folicum ; asam folat
Bahan berkhasiat : Acidum folicum
Pemerian :Serbuk hablur; kuning atau jingga
kekuningan; tidak berbau.
Kelarutan : Sangat sukar larut dalam air; praktis tidak
larut dalam etanol (95%) P; dalam kloroform
P; dalam eter P; mudah larut dalam asam
klorida encer P panas dan dalam asam sulfat
encer panas; larut dalam asam klorida dan
dalam asam sulfat; larutan berwarna kuning
sangat pucat; mudah larut dalam larutan
alkali hidroksida encer dan dalam larutan
alkali karbonat encer. (FI. Ed III, hal 51).
Titik leleh / lebur : -
Stabilator : Dinatrii edetas (Chelating agent).
OTT : Terhadap oksidator, reduktor, logam berat
(Martindel, hal 1647).
pH : 8 – 11 (Martindel, hal 1647).
3.4.2 Aqua Pro Injection
Nama Resmi : Aqua Pro Injection
Nama Lain : Aqua pro injeksi
Rumus Molekul : H2O
Berat Molekul : 18,02
Pemerian : Cairan tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa
Wadah : Dalam wadah tertutup kedap, disimpan
dalam wadah tertutup kapas berlemak, harus
digunakan dalam waktu 30 hari setalah
pembuatan
Kestabilan : Stabil secara kimia dalam bentuk fisika
bagian dingin cairan uap

5
Inkompatibilitas : Bereaksi dengan obat dan bahan tambahan
yang mudah terhidrolisis (terurai karena
adanya air) atau kelembaban pada suhu
tinggi, bereaksi kuat dengan logam alkali
(FI Edisi III, Hal. 97 ; Excipient, Hal. 337 – 338)
3.4.3 Natrium klorida ; NaCl
Pemerian : Kristal tidak berbau; tidak berwarna atau
serbuk Kristal putih; tiap 1gram setara
dengan 17,1 mmol NaCl.
Bobot molekul : 58,44
Kelarutan : 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian
gliserol.
Sterilisasi : Autoklap atau filtrasi (Martindel, hal 635).
Stabilitas : Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil
dapat menyebabkab pengguratan partkel dari
tipe gelas.
pH : 6,7-7,3
OTT : logam Ag, Hg, Fe
Khasiat/kegunaan : Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh
Kontraindikasi : Untuk pasien penyakit hati perifer udem
atau pulmonali udem, kelainan fungsi ginjal.
(FI IV hal. 584, Martindale 28 hal. 635, Excipient hal. 440, 672)
3.4.4 Natrium Hidroxydum ; NaOH

Pemerian : Bentuk batang; butiran; massa hablur atau


keping; kering; keras rapuh; dan
menunjukkan serbuk hablur putih; mudah
leleh; basah; sangat alkalis dan korosif.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan dalam


etanol (95%) P.

Berat molekul : 40

6
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
(FI. Eds III. Hal 412).
3.4.5 Natrium edetat
Pemerian : Serbuk Kristal putih tidak berbau dengan
sedikit rasa asam.
Kelarutan : Larut dalam air (1:11), praktis tidak larut
dalam kloroform dan eter, larut dalam etanol
(95%).
pH : 4,3 – 4,7 dalam larutan 1% air bebas CO2.
Kegunaan : Sebagai chelating agent dengan konsentrasi
0,005% - 0,1%.
Stabilitas : Sangat higroskopis dan harus dilindungi dari
kelembaban.
OTT : Dengan pengoksidasi kuat, dan ion logam
polifalen seperti tembaga, nikel, Na EDTA
merupakan asam lemah dan bereaksi dengan
logam membentuk hydrogen.
(HOPE. Hal 178).
4. Alat dan Bahan
4.1 Alat
Beaker glass, gelas ukur, batang pengaduk, spatel, kaca arloji, corong
gelas, kaki tiga, kassa asbes, bunsen, ampul, kertas saring, syringe.
4.2 Bahan
Asam Folat, Dinatrii edetas, NaCl, NaOH 2 N, aqua pro injeksi
5. Prosedur
Semua bahan ditimbang, kemudian dipanaskan aqua pro injeksi
diatas penangas air. Suspensikan asam folat dalam 4ml aqua pro injeksi
kemudian ditambahkan NaOH 2 N sebanyak 2-3 tetes sampai larut.
Selanjutnya dicek pH nya dengan pH universal sampai pH 8-11, Ditempat
terpisah larutkan Natrium Chloridum dalam sebagian aqua pro injeksi.
Dilarutkan dinatrii edetas dalam sebagian aqua pro injeksi. Dicampurkan

7
asam folat, NaCl, Dinatrii edetas, di adkan dengan aqua pro injeksi sampai
10ml, kemudian di cek pH nya pada rentang 8-11.
Larutan yang sudah homogen tersebut disaring dengan kertas saring.
Filtrat yang diperoleh langsung dimasukkan kedalam 5 ampul yang sudah
disediakan dengan volume untuk masing–masing ampul 1,1 ml. Ampul
yang sudah terisi kemudian di tutup dengan cara dilas. Sediaan dalam ampul
disterilisasi dalam autoklaf dengan suhu 121oC selama 15 menit, kemudian
dilakukan evaluasi.
6. Data Pengamatan
6.1 Perhitungan Bahan
a. Perhitungan Konsentrasi
Asam Folat
𝐵𝑀 𝑁𝑎 𝐹𝑜𝑙𝑎𝑡
C = 𝐵𝑀 𝐴𝑠𝑎𝑚 𝐹𝑜𝑙𝑎𝑡
464,4
= 441,4x 0,5

= 0,526 gram/100ml
C = 0,526
∆tb = 0,069
Dinatrii Edetas
C = 0,05%
∆tb = 0,132
b. Perhitungan Tonisitas
0,52− ∆tb .C
W = 0,576
0,52−{ (0,069 .0,526)+(0.132 . 0,05)}
= = 0,8283 (hipotonis)
0,576

0,9 – 0,8283 = 0,071 gram/100 ml


NaCl yang perlu ditambahkan agar diperoleh sediaan yang isotonis
0,9 – 0,071 = 0,8283 gram/100 ml = 8,283 mg/ml
c. Perhitungan bahan untuk ditimbang
V = (n+2) C + 2 ml (untuk 5 ampul)
= (5+2) 1,1 + 2
= 9,7 ml

8
Asam Folat 5 mg x 9,7 = 48,5 mg
NaCl 8,283 mg x 9,7 = 80,345 mg
Dinatrii Edetas 0,5 mg x 9,7 = 4,85 mg
Aqua pro injection ad 9,7 ml
6.2 Penimbangan Bahan
Asam Folat 48,5 mg
NaCl 32,786 mg
Dinatrii edetas 0,5 mg
Natrium Hydroxydum 2N q.s
Aqua pro injection ad 9,7 ml
6.3 Evaluasi
Tabel 6.1 Evaluasi

No Jenis Evaluasi Penilaian


1 Penampilan fisik wadah Baik
2 Jumlah sediaan 4
3 Kejernihan Jernih
4 Keseragaman volume Kurang seragam
5 Kebocoran ampul 1 bocor

7. Diskusi dan Pembahasan


7.1 Aspek Farmakologi
Absorpsi
Baik diserap dari saluran cerna. Asam folat disintetis hampir 100%
secara biologis setelah pemberian oral dalam puasa individu; folat dalam
makanan adalah sekitar 50% secara biologis.
Distribusi
Didistribusikan ke semua jaringan tubuh termasuk SSP; disimpan
terutama di hati.
Metabolisme
Dimetabolisme di hati.
Eliminasi

9
Hingga 90% dari dosis dalam urin; jumlah kecil di tinja (Gerald, 2011).
7.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan sediaan parental
berupa injeksi dengan zat aktif asam folat. Pada dasarnya asam folat
memiliki khasiat untuk mengobati anemia megaloblastik, profilaksis pada
status hemolitik kronik dan profilaksis defisiensi folat pada pasien cuci
darah.
Pada pembuatan sediaan injeksi asam folat, sebelumnya dilakukan
perhitungan tonisitas terlebih dahulu yang berdasarkan kepada metode
turunnya titik beku. Perhitungan tonisitas ini bertujuan agar larutan obat
atau injeksi memiliki tonisitas yang sama dengan tonisitas cairan tubuh kita
diantaranya yaitu darah. Dari hasil perhitungan tonisitas diperoleh hasil
sebesar 0,8283% dari hasil perhitungan ini diketahui bahwa tonisitas asam
folat yaitu hipotonis, sehingga harus ditambahkan NaCl, penambahan NaCl
ini bertujuan agar sediaan dapat mencapai keadaan isotonis, karena apabila
sediaan dalam keadaan hipotonis maka akan mengakibatkan sel darah
merah menjadi lisis atau pecah dan hal ini akan sangat berbahaya bagi
penggunanya.
Pertama menimbang semua bahan, kemudian aqua pro injeksi (a.p.i)
dididihkan dalam beaker glass selama 10 menit. Aqua pro injeksi
merupakan air untuk injeksi yang disterilisasi dan di kemas dengan cara
yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan
lainnya. Aqua pro injeksi harus di panaskan terlebih dahulu agar terbebas
dari CO2, karena CO2 dalam suatu sediaan dapat bereaksi dengan salah satu
zat dan dapat membentuk endapan, sedangkan salah satu syarat sediaan
injeksi adalah jernih, maka dari itu aqua pro injeksi yang digunakan
haruslah terbebas dari CO2. Selain itu juga CO2 akan bereaksi dengan air
menjadi H2CO3 yang bersifat asam sehingga akan mempengaruhi kestabilan
asam folat, karena asam folat ini stabil pada pH basa yaitu 8-11. Setelah itu
asam folat disuspensikan dalam sebagian aqua pro injeksi lalu ditambahkan
NaOH sampai asam folat melarut, penambahan NaOH ini bertujuan untuk
melarutkan asam folat karena akan terbentuk garam dari asam folat yaitu

10
natrium folat yang lebih mudah larut dalam air. Kemudian dilakukan
pengecekan pH, dan pH yang diperoleh yaitu 9, pH tersebut sudah masuk
rentang pH stabil asam folat yaitu 8-11. Lalu NaCl dilarutkan dalam
sebagian aqua pro injeksi, penambahan NaCl berfungsi sebagai larutan
pengisotonis. Isotonis adalah kondisi dimana suatu larutan konsentrasinya
sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah sehingga tidak akan
terjadi pertukaran cairan diantara keduanya, oleh karena itu dilakukan
penambahan NaCl sebanyak 0,8283% untuk mencapai nilai isotonis.
Setelah itu dinatrii edetas dilarutkan dalam sebagian aqua pro injeksi,
penambahan dinatrii edetas bertujuan sebagai agen pengkelat untuk
mengikat ion logam yang berasal dari wadah gelas, selain itu wadah gelas
dapat membebaskan logam seperti kalsium yang dapat mengkatalis proses
oksidasi apabila dalam sediaan terdapat O2 yang mengakibatkan zat aktif
menjadi tidak stabil. Oleh karena itu perlu ditambahkan dinatrii edetas pada
sediaan injeksi asam folat ini.
Kemudian semua larutan dicampur dan ditambahkan aqua pro
injeksi sampai tanda batas 10 mL, lalu larutan disaring dengan
menggunakan kertas saring. Tujuan dari penyaringan ini yaitu untuk
mencegah adanya partikulat dan untuk mencegah adanya cemaran mikroba
pada sediaan injeksi. Setelah disaring larutan injeksi tersebut dimasukkan
dalam ampul dengan menggunakan alat syringe, digunakan alat tersebut
agar mempermudah memasukkan larutan injeksi kedalam ampul. Larutan
injeksi yang dimasukkan kedalam ampul yaitu sebanyak 1,1 mL, kelebihan
volume ini ditujukkan supaya menghindari kehilangan zat yang mungkin
terjadi pada proses sterilisasi akhir.
Setelah ke lima ampul terisi selanjutnya ampul langsung ditutup
dengan cara di las. Kemudian sediaan injeksi asam folat ini disterilkan
dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121°C selama 15 menit. Proses
sterilisasi ini dilakukan untuk membunuh mikroba yang tidak tersaring dan
masih terdapat pada sediaan sehingga diperoleh sediaan yang steril. Pada
proses sterilisasi ini juga dapat terlihat apabila ada ampul yang bocor maka
isi dari ampul tersebut akan habis (menguap).

11
Sediaan injeksi yang diperoleh kemudian dievaluasi meliputi
kejernihan, penampilan fisik wadah, kebocoran ampul, jumlah sediaan, dan
keseragaman volume. Pada evaluasi kejernihan yaitu dengan melihat
apakah sediaan yang dibuat benar-benar jernih atau masih ada partikel-
partikel zat yang belum homogen, dan didapat hasil dari evaluasi kejernihan
ini yaitu semua larutan dalam ampul memiliki kejernihan yang baik. Lalu
pada penampilan fisik wadah baik, kebocoran ampul didapat 1 ampul yang
bocor, jumlah sediaan yang diterima adalah 4 sediaan, dengan keseragaman
volume yang kurang seragam.
8. Kesimpulan
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa tonisitas sediaan
adalah 0,0717 g/100mL yang berarti hipotonis dan perlu ditambahkan zat
pengisotonis yaitu NaCl sebanyak 0,8283%. Jumlah ampul yang dihasilkan
pada pembuatan injeksi asam folat ini sebanyak 4 ampul dengan warna
larutan yang jernih dan pH yang diperoleh yaitu 9.

Daftar Pustaka

12
Anief, Muhammad. 2000. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Yogyakarta
Gajah Mada University Press.

Ansel, H.C. 1989. Pengatar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi 4. Jakarta : UI Press.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI.

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI.

Dirjen POM. 2015. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI.
Gerald, K. 2011. AHFS Drug Information Essential. Bethesda: American Society
of Health System Pharmacists.
Voight, Rudolf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Gadjah
Mada Universitas Press.
Wade, Ainley and Weller, Paul J. 1994. Pharmaceutical Excipients. 6th edition. The
Pharmacuetical Press. London.

LAMPIRAN

13
1. Kemasan Primer

Folicid®
Asam folat 5 mg/mL
Larutan injeksi steril
Untuk I.M
Komposisi :
Tiap 1 mL ampul mengandung
Asam folat ……………………5mg
PT. Quarter Laboratories
Bandung - Indonesia
No. Batch : A 0214032017
No. Reg : DKL 1700500243A1
Mfg. Date : Maret 2017
HARUS DENGAN RESEP DOKTER Exp. Date : Maret 2020

s
t
2. Kemasan sekunder
e
r
i
l

Folicid
n
t
u
Folicid

Asam Folat 5 mg/mL



I
Asam Folat
. 5 mg/mL

®
M Larutan Injeksi steril
Untuk I.M
Indikasi, Dosis, Pemakaian,
Kontra indikasi, Efek samping,
Peringatan, Interaksi obat.
Lihat Brosur
4 ampul
@1mL
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

Komposisi :
Tiap 1 mL ampul mengandung
Acidum Folicum ………..…5mg

Folicid ®
Asam Folat 5 mg/mL

Asam Folat 5 mg/mL


Larutan Injeksi steril
®

Untuk I.M
Folicid

Indikasi, Dosis, Pemakaian,


Kontra indikasi, Efek samping,
Peringatan, Interaksi obat.
Lihat Brosur

4 ampul
@1mL

Diproduksi Oleh No. Batch : A 0214032017


No. Reg : DKL 1700500243A1
PT. Quarter Laboratories
Mfg. Date : Maret 2017
Bandung-Indonesia Exp. Date : Maret 2020

14
3. Brosur

Folicid ®
Asam folat 5 mg/mL

KOMPOSISI
Tiap 1mL ampul mengandung
Asam folat……………………….5mg
PENGGUNAAN
Intramuscular
ATURAN PAKAI
Dewasa dan anak-anak usia 4 tahun atau lebih:
PO; I.V; I.M; subkutan 0,4 mg/hari
Kehamilan dan menyusui 0,8 mg/hari
Anak-anak dibawah 4 tahun 0,3 mg/hari
INDIKASI
Anemia megaloblastik
KONTRA INDIKASI
Pengobatan anemia megaloblastik dan anemia pemisiosa lainnya dimana
vitamin B12 tidak cukup
INTERAKSI OBAT
Asam amino salisilat, kontrasepsi oral, sulfasalazine, fenitoin
PERINGATAN
-jangan digunakan untuk penyakit ganas kecuali anemia megaloblastik
karena defisiensi folat merupakan komplikasi komplek
-jangan diberikan secara tunggal untuk anemia pemisiosa Addison dan
penyakit defisiensi vitamin B12 lainnya karena dapat menimbulkan
degenerasi majemuk dari medulla spinalis
EFEK SAMPNG
Perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, aktivitas berlebih, anoreksia,
depresi mental, mual dan flatulensi
PENYIMPANAN
Simpan ditempat sejuk dan terlindung dari sinar matahari

No. Batch : A 0214032017


No. Reg : DKL 1700500243A1
Mfg. Date : Maret 2017
Exp. Date : Maret 2020

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

PT. Quarter Laboratories


Bandung - Indonesia

15

Anda mungkin juga menyukai