Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Spondilitis tuberkulosis merupakan salah satu kasus penyakit tertua dalam


sejarah dengan ditemukan dokumentasi kasusnya pada mummi di Mesir dan Peru'-2.
Sir Percival Pott (1799) mendeskrispsikan penyakit ini dalam monografnya yang
klasik dan sejak saat itu spondilitis tuberkulosis dikenal juga sebagai penyakit Pott
(Pott's disease). Tuberkulosis merupakan masalah besar bagi negara-negara
berkembang karena insidensnya cukup tinggi dengan morbiditas yang serius.
Indonesia adalah kontributor pasien tuberkulosis nomor 3 di dunia setelah India dan
Cina. Diperkirakan terdapat 583.000 kasus baru tuberkulosis per tahun, sebagian
besar berada dalarn usia produktif (15-54 tahun), dengan tingkat sosioekonomi dan
pendidikan yang rendah.
Spondilitis tuberkulosis merupakan fokus sekunder dari infeksi tuberkulosis
dengan penyebaran sebagian besar secara hematogen melalui pembuluh darah arteri
epifiseal atau melalui plexus vena Batson. Telah ditemukan spondilitis tuberkulosis
setelah instilasi BCG (Bacillus Calmelle Guerin) intravesical pada karsirnoma buli-
buli. Juga telah dilaporkan kasus osteomyelitis tuberkulosa sebagai komplikasi dari
vaksinasi BCG. Fokus primer infeksi cenderung berbeda pada kelompok umur yang
berbeda. Banerjee melaporkan pada 499 pasien dengan spondilitis tuberkulosis,
radiologis memperlihatkan 31% fokus primer adalah paru-paru dan dan kelompok
tersebut 78% adalah anak-anak, sedangkan 69% sisanya memperlihatkan foto rontgen
paru yang normal dan sebagian besar adalah dewasa.
Pada usia dewasa, diskus intervertebralis avaskular sehingga lebih resisten
terhadap infeksi dan kalaupun terjadi adalah sekunder dari korpus vertebra. Pada
anak-anak karena diskus intervertebralis masih bersifat vaskular, infeksi diskus dapat
terjadi primer. Penyempitan diskus intervertebralis terjadi akibat destruksi tulang pada
kedua sisi diskus sehingga diskus mengalami herniasi ke dalam korpus vertebra yang
telah rusak. Kompresi struktur neurologis terjadi akibat penekanan oleh proses
ekstrinsik maupun intrinsik. Proses ekstrinsik pada fase aktif diakibatkan oleh
akumulasi cairan akibat edema, abses kaseosa, jaringan granulasi, sequester tulang
atau diskus.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Epidemiologi
Spondilitis TB merupakan penyakit TB tulang yang paling sering terdapat.
Spondilitis tuberkulosis merupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan
sendi. Terjadi pada semua umur, tetapi terutama pada anak-anak muda sekitar
umur 4 tahun dan dewasa antara 15 – 30 tahun. Pada negara yang sedang
berkembang, sekitar 60% kasus terjadi pada usia dibawah usia 20 tahun
sedangkan pada negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua.
Meskipun perbandingan antara pria dan wanita hampir sama, namun biasanya
pria lebih sering terkena dibanding wanita yaitu 1,5 : 2,1. Di Ujung Pandang
spondilitis tuberkulosis ditemukan sebanyak 70% dari seluruh tuberkulosis tulang
dan sendi. Umumnya penyakit ini menyerang orang-orang yang berada dalam
keadaan sosial ekonomi rendah.
Lokalisasi dapat dimana-mana di tulang belakang dan dapat multipel.
Paling sering di daerah torakal dan disini lebih cepat menimbulkan komplikasi
meduller, mungkin karena pleura mediastinalis merupakan pertahanan dan
seolah-olah mendorong infeksinya ke jurusan kanalis vertebralis. Pada umumnya
frekuensi gangguan medulla ± 5 – 8%.

B. Etiologi
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari
tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90 – 95% disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5 – 10% oleh
Mycobacterium tuberculosis atipik. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai
sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut
pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang
gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama
selama beberapa tahun.

2
C. Patologi
Walaupun semua vertebra dari columna vertebralis dapat diserang namun
yang terbanyak menyerang bagian thorax. Vertebra lumbalis juga dapat terserang
dan akhirnya vertebra cervicalis pun tidak terlepas dari serangan ini. Fokus yang
pertama dapat terletak pada centrum corpus vertebrae atau pada metafisis, bisa
juga pertama kali bersifat subperiosteal. Penyakit ini juga dapat menjalar,
sehingga akhirnya corpus vertebrae tidak lagi kuat untuk menahan berat badan
dan seakan-akan hancur sehingga dengan demikian columna vertebralis
membengkok. Kalau hal ini terjadi pada bagian thorax, maka akan terdapat
pembengkokan hiperkifosis yang kita kenal sebagai gibbus. Sementara itu proses
dapat menimbulkan gejala-gejala lain, diantaranya dapat terkumpulnya nanah
yang semakin lama semakin banyak, nanah ini dapat menjalar menuju ke
beberapa tempat diantaranya dapat berupa :
1. Abses paravertebra, abses terlihat dengan bentuk spoel di kiri-kanan columna
vertebralis.
2. Abses dapat pula menembus ke belakang dan berada di bawah fasia dan kulit
di sebelah belakang dan di luar columna vertebralis merupakan suatu abses
akan tetapi tidak panas. Umumnya abses ini dinamakan abses dingin. Abses
dingin artinya abses tuberkulosis.
3. Dapat pula abscess menjalar mengelilingi tulang rusuk, sehingga merupakan
abses senkung yang terlihat di bagian dada penderita.
4. Abses juga dapat menerobos ke pleura sehingga menimbulkan empiema.
5. Pada leher dapat juga terjadi abses yang terletak dalam pharynx sehingga
merupakan abses retropharyngeal.
6. Dapat pula abses terlihat sebagai abses supraclavicular.
7. Pada abses spinal lumbaris dapat turun melalui musculus iliopsoas yang
kemudian menurun sampai terjadi abses besar yang terletak di bagian dalam
dari paha.
Semua abses tersebut di atas dapat menembus kulit dan menyebabkan
timbulnya fistel yang bertahun-tahun. Selain abses-abses tersebut di atas,
tuberkulosis pada vertebra dapat pula memberikan komplikasi, yaitu paraplegia,
umumnya disebut Pott’s Paraplegia. Komplikasi ini disebabkan karena adanya
tekanan pada Medulla Spinalis. Adapun patogenesis dari proses ini dapat
dijelaskan sebagai berikut : tekanan dapat berasal dari proses yang terletak di
3
dalam canalis spinalis. Jika di dalam canalis spinalis ada proses tuberkulosis yang
terletak pada corpus bagian belakang yang merupakan dasar dari canalis spinalis,
maka proses tadi menimbulkan pengumpulan nanah/jaringan granulasi yang
langsung menekan medulla spinalis. Dalam hal ini meskipun nanah hanya sedikit,
akan tetapi cukup untuk memberikan tekanan yang hebat pada Medulla Spinalis.
Dapat pula proses tuberkulosis menghancurkan corpus sehingga canalis
spinalis membengkok dan menekan pada tulang dindingnya. Tekanan tadi
menyebabkan paraplegia. Kemungkinan lain ialah terdapat sequestra dan pus di
sekeliling canalis spinalis tadi yang juga menekan pada medulla spinalis. Dengan
demikian banyak sebab-sebab yang dapat menekan medulla spinalis dengan keras
sehingga menimbulkan gejala paraplegia. Secara klinis paraplegia dapat dibagi
menjadi early onset, ialah jika paraplegia segera timbul sebagai kelanjutan dari
proses spondilitis tuberkulosis. Tipe kedua adalah paraplegia late onset,
paraplegia ini terjadi setelah penyakit spondilitis sifatnya tenang untuk beberapa
waktu lamanya kemudian timbul gejala-gejala paraplegia secara perlahan-lahan.
Lesi Spondilitis tuberkulosis berawal suatu tuberkel kecil yang
berkembang lambat, bersifat osteolisis lokal, awalnya pada tulang subkhondral di
bagian superior atau inferior anterior dari korpus vertebra. Proses infeksi
Myobacterium tuberculosis akan mengaktifkan chaperonin 10 yang merupakan
stimulator poten dari proses resorpsi tulang sehingga akan terjadi destruksi
korpus vertebra di anterior. Proses perkejuan yang terjadi akan menghalangi
proses pembentukan tulang reaktif dan mengakibatkan segmen tulang yang
terinfeksi relatif avaskular sehingga terbentuklah sequester tuberkulosis.
Destruksi progresif di anterior akan mengakibatkan kolapsnya korpus vertebra
yang terinfeksi dan terbentuklah kifosis (angulasi posterior) tulang belakang.
Proses terjadinya kifosis dapat terus berlangsung walaupun telah terjadi resolusi
dari proses infeksi. Kifosis yang progresif dapat mengakibatkan problem respirasi
dan paraplegi.
Infeksi akhirnya menembus korteks vertebra dan membentuk abses
paravertebral. Diseminasi lokal terjadi melalui penyebaran hematogen dan
penyebaran langsung dibawah ligamentum longitudinal anterior. Apabila telah
terbentuk abses paravertebral, lesi dapat turun mengikuti alur fascia muskulus
psoas yang dapat mencapai trigonum femoralis.

4
Pada usia dewasa, diskus intervertebralis avaskular sehingga lebih resisten
terhadap infeksi dan kalaupun terjadi adalah sekunder dari korpus vertebra.Pada
anak-anak karena diskus intervertebralis masih bersifat avaskular, infeksi diskus
dapat terjadi primer. Gejala utama adalah nyeri tulang belakang, nyeri biasanya
bersifat kronis dapat lokal maupun radikular.Pasien dengan keterlibatan vertebra
segmen servikal dan thorakal cenderung menderita defisit neurologis yang lebih
akut sedangkan keterlibatan lumbal biasanya bermanifestasi sebagai nyeri
radikular. Selain nyeri terdapat gejala sistemik berupa demam, malaise, keringat
malam, peningkatan suhu tubuh pada sore hari dan penurunan berat badan.
Tulang belakang terasa nyeri dan kaku pada pergerakan.

D. Patofisiologi
Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus
respiratorius. Pada saat terjadi infeksi primer, karena keadaan umum yang buruk
maka dapat terjadi basilemia. Penyebaran terjadi secara hematogen. Basil TB
dapat tersangkut di paru, hati limpa, ginjal dan tulang. 6 – 8 minggu kemudian,
respons imunologik timbul dan fokus tadi dapat mengalami reaksi selular yang
kemudian menjadi tidak aktif atau mungkin sembuh sempurna. Vertebra
merupakan tempat yang sering terjangkit tuberkulosis tulang. Penyakit ini paling
sering menyerang korpus vertebra. Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih
dari satu vertebra. Infeksi berawal dari bagian sentral, bagian depan, atau daerah
epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang
menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan
pada korteks epifise, discus intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan
pada bagian depan korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal
sebagai gibbus. Berbeda dengan infeksi lain yang cenderung menetap pada
vertebra yang bersangkutan, tuberkulosis akan terus menghancurkan vertebra di
dekatnya.
Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang yang
fibrosis serta basil tuberkulosis) menyebar ke depan, di bawah ligamentum
longitudinal anterior dan mendesak aliran darah vertebra di dekatnya. Eksudat ini
dapat menembus ligamentum dan berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis
ligamentum yang lemah. Pada daerah servikal, eksudat terkumpul di belakang
fasia paravertebralis dan menyebar ke lateral di belakang musculus
5
sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami protrusi ke depan dan
menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal. Abses dapat
berjalan ke mediastinum mengisi tempat trakea, esophagus, atau kavum pleura.
Abses pada vertebra torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks setempat
menempati daerah paravertebral, berbentuk massa yang menonjol dan fusiform.
Abses pada daerah ini dapat menekan medulla spinalis sehingga timbul
paraplegia. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk mengikuti
musculus psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinal pada bagian medial
paha. Eksudat juga dapat menyebar ke daerah crista iliaka dan mungkin dapat
mengikuti pembuluh darah femoralis pada trigonum scarpei atau regio glutea.
Menurut Gilroy dan Meyer (1979), abses tuberkulosis biasanya terdapat
pada daerah vertebra torakalis atas dan tengah, tetapi menurut Bedbrook (1981)
paling sering pada vertebra torakalis 12 dan bila dipisahkan antara yang
menderita paraplegia dan nonparaplegia maka paraplegia biasanya pada vertebra
torakalis 10 sedangkan yang non-paraplegia pada vertebra lumbalis. Penjelasan
mengenai hal ini sebagai berikut : arteri induk yang mempengaruhi medulla
spinalis segmen torakal paling sering terdapat pada vertebra torakal 8 – lumbal 1
sisi kiri. Trombosis arteri yang vital ini akan menyebabkan paraplegia. Faktor
lain yang perlu diperhitungkan adalah diameter relatif antara medulla spinalis
dengan kanalis vertebralisnya. Intumesensia lumbalis mulai melebar kira-kira
setinggi vertebra torakalis 10, sedang kanalis vertebralis di daerah tersebut relatif
kecil. Pada vertebra lumbalis 1, kanalis vertebralisnya jelas lebih besar oleh
karena itu lebih memberikan ruang gerak bila ada kompresi dari bagian anterior.
Hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa paraplegia lebih sering terjadi pada
lesi setinggi vertebra torakal 10.
Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit Pott terjadi melalui kombinasi
4 faktor yaitu :
1. Penekanan oleh abses dingin
2. Iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis
3. Terjadinya endarteritis tuberkulosa setinggi blokade spinalnya
4. Penyempitan kanalis spinalis akibat angulasi korpus vertebra yang rusak

6
Kumar membagi perjalanan penyakit ini dalam 5 stadium yaitu :
1. Stadium Implantasi.
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh
penderita menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang
berlangsung selama 6-8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah
paradiskus dan pada anak-anak umumnya pada daerah sentral vertebra.

2. Stadium Destruksi Awal.


Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra
serta penyempitan yang ringan pada discus. Proses ini berlangsung selama 3-6
minggu.

3. Stadium Destruksi Lanjut.


Pada stadium ini terjadi destruksi yang massif, kolaps vertebra dan
terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin),
yang terjadi 2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat
terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis. Pada saat ini
terbentuk tulang baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat
kerusakan korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.

4. Stadium Gangguan Neurologis.


Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang
terjadi, tetapi terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis.
Gangguan ini ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosis.
Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga
gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini. Bila terjadi
gangguan neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia, yaitu :
a. Derajat I : kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan
aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi
gangguan saraf sensoris.
b. Derajat II : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah tapi penderita
masih dapat melakukan pekerjaannya.
c. Derajat III : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang
membatasi gerak/aktivitas penderita serta hipoestesia/anesthesia.
7
d. Derajat IV : terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris disertai gangguan
defekasi dan miksi.
Tuberkulosis paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini
atau lambat tergantung dari keadaan penyakitnya. Pada penyakit yang masih
aktif, paraplegia terjadi oleh karena tekanan ekstradural dari abses
paravertebral atau akibat kerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh
adanya granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang sudah tidak
aktif/sembuh terjadi oleh karena tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis
atau oleh pembentukan jaringan fibrosis yang progresif dari jaringan granulasi
tuberkulosis. Tuberkulosis paraplegia terjadi secara perlahan dan dapat terjadi
destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vaskuler vertebra.

5. Stadium Deformitas Residual.


Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah timbulnya stadium
implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh karena kerusakan
vertebra yang massif di sebelah depan.

E. Manifestasi Klinis
Gambaran Spondilitis Tuberkulosis antara lain :
1. Badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun,
2. Suhu subfebril terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada
anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari.
3. Pada awal dapat dijumpai nyeri interkostal yaitu nyeri yang menjalar dari
tulang belakang ke garis tengah keatas dada melalui ruang intercosta, hal ini
karena tertekannya radiks dorsalis ditingkat torakal
4. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal.
Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus karena proses
destruksi lanjut berupa :
1. Paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radiks saraf, akibat penekanan medulla
spinalis yang menyebabkan kekakuan pada gerakan berjalan dan nyeri
2. Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai bersifat UMN dan adanya batas
defisit sensorik setinggi tempat gibus/lokalisasi nyeri interkostal

8
Pemeriksaan fisik :
1. Adanya gibus dan nyeri setempat
2. Spastisitas
3. Hiperrefleksia tendon lutut/Achilles dan refleks patologik pada kedua belah
sisi
4. Batas defisit sensorik akibat mielitis transversa dan gangguan miksi jarang
dijumpai.
Spondilitis korpus vertebra dibagi menjadi tiga bentuk :
1. Bentuk Sentral.
Detruksi awal terletak di sentral korpus vertebra, bentuk ini sering ditemukan
pada anak.
2. Bentuk Paradikus.
Terletak di bagian korpus vertebra yang bersebelahan dengan diskus
intervertebral, bentuk ini sering ditemukan pada orang dewasa.
3. Bentuk Anterior.
Dengan lokus awal di korpus vertebra bagian anterior, merupakan penjalaran
per kontinuitatum dari vertebra di atasnya.

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium:
a. Peningkatan LED dan mungkin disertai leukositosis, tetapi hal ini tidak
dapat digunakan untuk uji tapis. Al-marri melaporkan 144 anak dengan
spondilitis tuberkulosis didapatkan 33 % anak dengan laju endap darah yang
normal.
b. Uji Mantoux positif
c. Pada pewarnaan Tahan Asam dan pemeriksaan biakan kuman mungkin
ditemukan mikobakterium
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.
e. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
f. Pungsi lumbal, harus dilakukan dengan hati-hati, karena jarum dapat
menembus masuk abses dingin yang merambat ke daerah lumbal. Akan
didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah, test Queckenstedt
menunjukkan adanya blokade sehingga menimbulkan sindrom Froin yaitu

9
kadar protein likuor serebrospinalis amat tinggi hingga likuor dapat secara
spontan membeku.
g. Peningkatan CRP ( C-Reaktif Protein ) pada 66 % dari 35 pasien spondilitis
tuberkulosis yang berhubungan dengan pembentukan abses.
h. Pemeriksaan serologi didasarkan pada deteksi antibodi spesifik dalam
sirkulasi.
i. Pemeriksaan dengan ELISA (Enzyme-Linked Immunoadsorbent Assay)
dilaporkan memiliki sensitivitas 60-80 %, tetapi pemeriksaan ini
menghasilkan negatif palsu pada pasien dengan alergi. Pada populasi
dengan endemis tuberkulosis, titer antibodi cenderung tinggi sehingga sulit
mendeteksi kasus tuberkulosis aktif.
j. Identifikasi dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) masih terus
dikembangkan. Prosedur tersebut meliputi denaturasi DNA kuman
tuberkulosis melekatkan nucleotida tertentu pada fragmen DNA ,
amplifikasi menggunakan DNA polymerase sampai terbentuk rantai DNA
utuh yang dapat diidentifikasi dengan gel.

Pada pemeriksaan mikroskopik dengan pulasan Ziehl Nielsen


membutuhkan 10 basil permililiter spesimen, sedangkan kultur membutuhkan
10 basil permililiter spesimen. Kesulitan lain dalam menerapkan pemeriksaan
bakteriologik adalah lamanya waktu yang diperlukan. Hasil biakan diperoleh
setelah 4-6 minggu dan hasil resistensi baru diperoleh 2-4 minggu
sesudahnya.Saat ini mulai dipergunakan system BATEC (Becton Dickinson
Diagnostic Instrument System). Dengan sistem ini identifikasi dapat dilakukan
dalam 7-10 hari. Kendala yang sering timbul adalah kontaminasi oleh kuman
lain, masih tingginya harga alat dan juga karena sistem ini memakai zat
radioaktif maka harus dipikirkan bagaimana membuang sisa-sisa
radioaktifnya.

2. Pemeriksaan Radiologis:
a. Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru. Hal ini
sangat diperlukan untuk menyingkirkan diagnosis banding penyakit yang
lain.

10
b. Foto polos vertebra, ditemukan osteoporosis, osteolitik dan destruksi korpus
vertebra, disertai penyempitan discus intervertebralis yang berada di antara
korpus tersebut dan mungkin dapat ditemukan adanya massa abses
paravertebral. Pada foto AP, abses paravertebral di daerah servikal
berbentuk sarang burung (bird’s net), di daerah torakal berbentuk bulbus
dan pada daerah lumbal abses terlihat berbentuk fusiform. Pada stadium
lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat sehingga timbul kifosis.
Dekalsifikasi suatu korpus vertebra (pada tomogram dari korpus tersebut
mungkin terdapat suatu kaverne dalam korpus tersebut) oleh karena itu
maka mudah sekali pada tempat tersebut suatu fraktur patologis. Dengan
demikian terjadi suatu fraktur kompresi, sehingga bagian depan dari korpus
vertebra itu adalah menjadi lebih tipis daripada bagian belakangnya (korpus
vertebra jadi berbentuk baji) dan tampaklah suatu Gibbus pada tulang
belakang itu. “Dekplate” korpus vertebra itu akan tampak kabur (tidak
tajam) dan tidak teratur. Diskus intervertebralis akan tampak menyempit.
c. Abses dingin.
Foto Rontgen, abses dingin itu akan tampak sebagai suatu bayangan yang
berbentuk kumparan (“Spindle”). Spondilitis ini paling sering ditemukan
pada vertebra T8-L3 dan paling jarang pada vertebra C1-2.
d. Pemeriksaan CT scan
 CT scan dapat memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesi
ireguler, sklerosis, kolaps diskus dan gangguan sirkumferensi tulang.
 Mendeteksi lebih awal serta lebih efektif umtuk menegaskan bentuk dan
kalsifikasi dari abses jaringan lunak. Terlihat destruksi litik pada
vertebra (panah hitam) dengan abses soft-tissue (panah putih)
e. Pemeriksaan MRI
 Mengevaluasi infeksi diskus intervertebra dan osteomielitis tulang
belakang.
 Menunjukkan adanya penekanan saraf.

Dilaporkan 25 % dari pasien mereka memperlihatkan gambaran proses


infeksi pada CT-Scan dan MRI yang lebih luas dibandingkan dengan yang
terlihat dengan foto polos. CT-Scan efektif mendeteksi kalsifikasi pada abses

11
jaringan lunak. Selain itu CT-Scan dapat digunakan untuk memandu prosedur
biopsi.

G. Diagnosis dan Diagnosis Banding


1. Diagnosis
Diagnosis dari penyakit ini dapat kita ambil melalui beberapa tanda
khas dibawah ini. Penyakit ini berkembang lambat, tanda dan gejalanya dapat
berupa :
a. Nyeri punggung yang terlokalisir
b. Bengkak pada daerah paravertebral
c. Tanda dan gejala sistemik dari TB
d. Tanda defisit neurologis, terutama paraplegia

2. Diagnosis Banding
a. Osteitis Piogen : khasnya demam lebih cepat timbul
b. Poliomielitis : paresis/paralisis tungkai, skoliosis dan bukan kifosis
c. Skoliosis idiopatik : tanpa gimus dan tanda paralisis
d. Penyakit paru dengan bekas empiema : tulang belakang bebas penyakit
e. Metastasis tulang belakang : tidak mengenai diskus, adanya karsinoma
prostat
f. Kifosis senilis : kifosis tidak lokal, osteoporosis seluruh kerangka

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan spondilitis tuberkulosis ditujukan untuk eradikasi infeksi,
memberikan stabilitas pada tulang belakang dan menghentikan atau memperbaiki
kifosis. Kriteria kesembuhan sebagian besar ditekankan pada tercapainya
favourable status yang didefenisikan sebagai pasien dapat beraktifitas penuh
tanpa membutuhkan kemoterapi atau tindakan bedah lanjutan, tidak adanya
keterlibatan system saraf pusat, fokus infeksi yang tenang secara klinis maupun
secara radiologis.
Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan
sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah
paraplegia.

12
Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut :
1. Pemberian obat antituberkulosis
2. Dekompresi medulla spinalis
3. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi
4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)
Pengobatan terdiri atas :
1. Terapi Konservatif berupa:
a. Tirah baring (bed rest)
b. Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak
vertebra
c. Memperbaiki keadaan umum penderita
d. Pengobatan antituberkulosis
Standar pengobatan di Indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah :
 Kategori 1
Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA(-)/rontgen (+), diberikan dalam
2 tahap :
Tahap 1 : Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg dan
Pirazinamid 1.500 mg. Obat ini diberikan setiap hari selama 2 bulan
pertama (60 kali).
Tahap 2: Rifampisin 450 mg, INH 600 mg, diberikan 3 kali seminggu
(intermitten) selama 4 bulan (54 kali).

 Kategori 2
Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama
sebulan, termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal yang
diberikan dalam 2 tahap yaitu :
Tahap 1 diberikan Streptomisin 750 mg , INH 300 mg, Rifampisin 450
mg, Pirazinamid 1500mg dan Etambutol 750 mg. Obat ini diberikan
setiap hari. Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60 kali) dan
obat lainnya selama 3 bulan (90 kali).
Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1250
mg. Obat diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66
kali).

13
Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum
penderita bertambah baik, laju endap darah menurun dan menetap, gejala-
gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta gambaran radiologik
ditemukan adanya union pada vertebra.

2. Terapi Operatif
Bedah Kostotransversektomi yang dilakukan berupa debrideman dan
penggantian korpus vertebra yang rusak dengan tulang spongiosa/kortiko –
spongiosa.
Indikasi operasi yaitu:
 Bila dengan terapi konservatif setelah pengobatan kemoterapi 3-6 bulan
tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat. Biasanya tiga
minggu sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa
diberikan obat tuberkulostatik.
 Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka
dan sekaligus debrideman serta bone graft.
 Abses besar segmen servikal pada pasien dengan obstruksi saluran
respirasi.
 Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi ataupun
pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada
medulla spinalis.
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi
penderita tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih
memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold abses
(abses dingin), lesi tuberkulosis, paraplegia dan kifosis progresif atau hernasi
tulang atau diskus pada kanalis neuralis.

a. Abses Dingin (Cold Abscess)


Cold abcsess yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh
karena dapat terjadi resorbsi spontan dengan pemberian tuberkulostatik.
Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Ada tiga cara
menghilangkan lesi tuberkulosis, yaitu:
 Debrideman fokal

14
 Kosto-transveresektomi
 Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.

b. Paraplegia
Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu:
 Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata
 Laminektomi
 Kosto-transveresektomi
 Operasi radikal
 Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang

c. Operasi Kifosis
Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,.
Kifosis mempunyai tendensi untuk bertambah berat terutama pada anak-
anak. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau melalui operasi
radikal.

I. Prognosis
Prognosis dari penyakit ini bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan
ada tidaknya komplikasi neurologik, untuk paraplegia awal, prognosis untuk
kesembuhan sarafnya lebih baik, sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir,
prognosisnya biasanya kurang baik. Bila paraplegia disebabkan oleh mielitis
tuberkulosis prognosisnya ad functionam juga buruk.

15
BAB III
PENYAJIAN KASUS

I. ANAMNESIS
Identitas
Nama : Tn. P
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 26 th
Alamat : Jl. Gajah Mada, Gg. Radam, Desa Sukabangun, Ketapang
Agama : Islam
Status : belum menikah
Pekerjaan : tidak bekerja
Nomor RM : 476500 08
Tanggal Masuk RS : 16 Oktober 2008 pukul 14.00 WIB

Autoanamnesis dan alloanamnesis dilakukan dengan ibu pasien pada tanggal 16


Oktober 2008 pukul 23.30 WIB

Keluhan utama
Tidak bisa berjalan sejak 1 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang


Tn. P datang ke RS diantar oleh keluarga dengan keluhan tidak bisa
berjalan sejak 1 bulan yang lalu. Pasien masih bisa menggerakkan kaki, tetapi tidak
bisa untuk berdiri atau melangkah. Masih bisa duduk, tetapi harus ada pegangan.
Pasien mengeluhkan rasa sebal dari ulu hati sampai ke bawah (ujung jari kaki),
kesemutan di telapak kaki, meriang, ulu hati terasa kembung, BAK tidak puas,
belum pernah BAB sudah 1 minggu lamanya.
Sejak 1 tahun yang lalu, pasien mengeluhkan nyeri dan bengkak di bagian
punggung, ngilu di kedua tungkai terutama di pinggang dan lutut, dan beberapa
luka di bagian pinggang sebelah kanan yang tidak terasa nyeri dan tidak kunjung
sembuh. Nyeri di punggung terutama jika ada pergerakan dari tangan, misalnya
mengangkat barang. Mulai mengeluh lemah pada tungkai kanan. 6 bulan kemudian,

16
timbul lemah pada tungkai kiri. Pasien juga merasakan berat badannya semakin
turun dan sering keringat malam sejak 1 tahun yang lalu. Batuk darah disangkal.
3 hari sebelum timbul keluhan utama, pasien jatuh terpeleset di lantai
dengan posisi terduduk. Setelah jatuh, masih bisa berjalan perlahan dibantu dengan
tongkat. 3 hari kemudian, pasien sudah tidak bisa berjalan sama sekali. Pasien
dibawa ke RS Agoes Djam, Ketapang, dirawat selama 5 hari, tetapi tidak ada
perbaikan. Kemudian pasien dirujuk ke RS dr. Soedarso, Pontianak.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat batuk lama dan TBC disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit TBC di keluarga disangkal

II. PEMERIKSAAN FISIK (dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2008)


Status Generalis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : kompos mentis
Status gizi : tampak kurus
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 88x/ menit, teratur, isi cukup
Nafas : 21x/ menit, teratur, kedalaman cukup
Suhu : 36,50C
Mata : konjungtiva pucat, sklera tidak ikterik
Telinga : sekret (-)
Hidung : sekret (-), deviasi septum (-)
Tenggorokan : tonsil T1/T1, faring tidak hiperemis
Jantung : bunyi jantung I/II normal, murmur (-), gallop (-)
Paru : vesikuler, rhonki (-/-) , wheezing (-/-)
Abdomen : perut datar, lemas, tidak teraba hati maupun limpa
bising usus (↑)
Ekstremitas : akral hangat, perfusi perifer baik
Kulit : luka di bagian pinggang sebelah kanan

17
Status Neurologik
 GCS 15, E4M6V5
 Orientasi, jalan pikiran, daya ingat kejadian baru dan lama, dan kemampuan
bicara baik
 Cara berjalan tidak dapat dinilai
 Tidak ada gerakan abnormal
 Kepala : bentuk tidak ada kelainan, simetris, dan nyeri tekan (-)
 Leher : sikap statis, gerakan memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan baik
 Vertebra : terdapat deformitas, pembengkakan dan nyeri tekan (+) di daerah
thoracal
 Kaku kuduk dan tanda rangsang meningeal tidak ditemukan
 Nervus kranialis
 N.I : daya pembau baik
 N.II : daya penglihatan baik, pengenalan warna baik, medan
penglihatan baik
 N.III : ptosis (-), gerak kedua mata ke medial, atas, dan
bawah baik, pupil bulat isokor, diameter 3 mm, RCL
+/+, RCTL +/+, strabismus divergen (-), diplopia (-)
 N.IV : gerak kedua mata ke lateral bawah baik, strabismus
konvergen (-), diplopia (-)
 N.V : sensibilitas baik, motorik baik
 N.VI : gerak kedua mata ke lateral baik, strabismus
konvergen (-), diplopia (-)
 N.VII : motorik baik, tidak tampak paresis, tiks fasial (-),
salivasi dan lakrimasi baik.
 N. VIII : mendengar suara baik
 N.IX & X : arkus faring simetris, bersuara baik, tidak sengau,
menelan baik, refleks muntah (+)
 N.XI : bisa memalingkan kepala dan mengangkat bahu
 N.XII : artikulasi baik, kekuatan lidah baik, deviasi (-),
tremor (-)

18
 Motorik: Kekuatan : 5 5 5 5 5 5 5 5
3222 2223
Tonus : N N
 
Trofi : atrofi + +
+ +
 Sensorik: Eksteroseptif: - Ekstremitas atas: baik
- Ekstremitas bawah: terdapat gangguan
Hipestesi setinggi T8
 Refleks fisiologis: bisep (+/+)
trisep (+/+)
radius (+/+)
patella (++/++)
achilles (+/+)
 Refleks patologis: Hoffman-Trommer (-/-)
Babinsky (+/+)
Oppenheim (+/+)
Gordon (+/+)
Gonda (+/+)
Schaffer (+/+)
Chaddock (+/+)
 Otonom: retensio urin (+), belum defekasi sudah 1 minggu

III. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium (hasil pemeriksaan tanggal 16-10-2008)
Hb : 9,3 g/dL
Ht : 31,8 %
Leukosit : 9800/µL
Trombosit : 663.000 /µL
Ureum : 24,4 mg/dL
Kreatinin : 0,8 mg/dL
GDS : 97 mg/dL

19
IV. RESUME
Tn. P, 21 tahun, datang dengan keluhan tidak bisa berjalan sejak 1 bulan
yang lalu. Pasien mengeluhkan rasa sebal dari ulu hati sampai ujung jari kaki,
kesemutan di telapak kaki, meriang, ulu hati terasa kembung, BAK tidak puas,
belum pernah BAB sudah 1 minggu lamanya. Sejak 1 tahun yang lalu, pasien mulai
mengeluh lemah pada tungkai sebelah kanan. 6 bulan kemudian, timbul lemah pada
tungkai sebelah kiri. Nyeri dan bengkak di bagian punggung, beberapa luka di
bagian pinggang sebelah kanan yang tidak terasa nyeri dan tidak kunjung sembuh,
penurunan berat badan, dan sering keringat malam. 3 hari sebelum timbul keluhan
utama, pasien jatuh terpeleset di lantai dengan posisi terduduk. Setelah jatuh, masih
bisa berjalan perlahan. 3 hari kemudian, pasien sudah tidak bisa berjalan sama
sekali. Dirawat di RS Agoes Djam, Ketapang selama 5 hari, kemudian dirujuk ke
RS dr. Soedarso, Pontianak.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis, deformitas dan
nyeri tekan vertebra (+) di daerah torakal. Tidak ada parese N. Kranialis. Motorik
ekstremitas bawah menurun. Hipotoni di ekstremitas bawah. Atrofi di keempat
ekstremitas. Hipestesi setinggi T8. Refleks fisiologis patela meningkat. Terdapat
refleks patologis Babinsky, Oppenheim, Gordon, Gonda, Schaffer, dan Chaddock.
Gangguan saraf otonom berupa retensio urin dan belum defekasi sudah 1 minggu.
Pada pemeriksaan laboratorium (16/10/08) didapatkan hasil: penurunan Hb,
peningkatan hematokrit, dan peningkatan trombosit.

V. DIAGNOSIS
Diagnosis klinis : Paraparesis inferior spastika
Atrofi otot di keempat ekstremitas
Hipestesi setinggi T8
Retensio urin
Diagnosis topis : Medulla spinalis setinggi T8 – L1
Diagnosis etiologis : Susp. Spondilitis TB
Diagnosis banding : Poliomielitis

20
VI. TATALAKSANA
Non Medikamentosa :
- Perawatan dekubitus
- Terapi nutrisi tinggi kalori
Medikamentosa :
- IVFD RL
- Injeksi Ceftriakson 2 x 1 g
- Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp
- Injeksi B12 1 x 1 amp
Rencana Pemeriksaan Lanjutan :
- Foto Thoracolumbal
- Röntgen Thoraks PA

VII. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad functionam : dubia ad malam
Ad sanactionam : dubia ad malam

CATATAN KEMAJUAN
Jum’at, 17/10/08
S : Perut kembung, BAK tidak puas
O : Keadaan umum tampak sakit ringan
Kesadaran kompos mentis, GCS 15
TD : 120/80 mmHg, FN : 90x/menit, FP : 26x/menit, suhu afebris
Abdomen : VU teraba keras, bising usus ↑
Pupil isokor, bulat, diameter : 3 mm/3 mm, RCL/RCTL : +/+
N. cranialis tak ditemukan parese
Kekuatan otot : 5 5 5 5 5 5 5 5
3222 2223
Tonus : N N
 
Atrofi : keempat ektremitas
Refleks fisiologis : biceps +/+, triceps +/+, radius +/+, patela
+++/+++

21
Refleks patologis : Babinsky +/+
Klonus : kaki –/+
Sensorik : Ekstremitas atas N/N, ekstremitas bawah terganggu/
terganggu
Otonom : retensio urin (+)
A : Paraplegia inferior spastika e.c kompresi medula spinalis setinggi T8
– L1 susp. spondilitis TB
P : - Injeksi Ceftriakson 2 x 1 g
- Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp
- Injeksi B12 1 x 1amp
- Perawatan dekubitus
- Terapi nutrisi tinggi kalori
- Rencana pemeriksaan Foto Thoracolumbal dan Röntgen Thorax PA

Sabtu, 18/10/08
S : Badan meriang, tidak pernah BAB sejak masuk RS
O : Keadaan umum tampak sakit ringan
Kesadaran kompos mentis, GCS 15
TD : 110/60 mmHg, FN : 85x/menit, FP : 24x/menit, suhu 38,90C
Pupil isokor, bulat, diameter : 3 mm/3 mm, RCL/RCTL : +/+
N. cranialis tak ditemukan parese
Motorik : 5 5 5 5 5 5 5 5
3222 2223
Tonus : N N
 
Atrofi : keempat ektremitas
Refleks fisiologis : biceps +/+, triceps +/+, radius +/+, patela
+++/+++
Refleks patologis : Babinsky +/+, Gonda +/+, Gordon +/+,
Oppenheim +/+, Schaffer +/+
Klonus : kaki –/+
Sensorik : hipestesi setinggi T8
Otonom : retensio urin (+)

22
Foto Thoraco-Lumbal (hasil pemeriksaan tgl 18-10-2008) :
- Destruksi tulang vertebra T8
- Abses paravertebral setinggi T8
Röntgen Thoraks PA (hasil pemeriksaan tgl 18-10-2008) :
- Infiltrat di kedua lapang paru
A : Paraplegia inferior spastika e.c kompresi medula spinalis setinggi T8
– L1 susp. spondilitis TB
P : - Mulai obat anti TBC dengan OAT KDT Kategori 1, dosis : 1 x 1,
3 tablet, setiap tablet mengandung :
 Rifampicin 150 mg
 Isoniazid 75 mg
 Pirazinamid 400 mg
 Etambutol 275 mg
- Injeksi Antrain 3 x 1 amp p.r.n
- Injeksi Ranitidin 2 x 1 amp
- Injeksi B12 1 x 1amp
- Terapi nutrisi tinggi kalori
- Perawatan dekubitus
- Rencana pemeriksaan lanjutan :
 Uji BTA
 Foto lumbo-sacral
 Laboratorium: LED (Laju Endap Darah)
- Konsul ke dokter spesialis paru dan spesialis bedah ortopedi

23
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus ini diketahui seorang laki-laki, usia 26 tahun mengalami


kelemahan pada ekstremitas bawah dan tidak bisa menggerakkannya. Pada pasien ini
ditegakkan diagnosis spondilitis tuberkulosis. Ini berdasarkan dari anamnesis
ditemukannya tanda dan gejala sistemik dari TB yaitu: batuk, demam, sering keringat
malam, dan penurunan berat badan. Dari pemeriksaan fisik yang mendukung
diagnosis adalah ditemukannya tanda dan gejala defisit neurologik yaitu : paraparesis
inferior spastika, gangguan sensibilitas setinggi T8, peningkatan refleks fisiologis,
terdapat refleks patologis, dan gangguan saraf otonom berupa retensio urin. Tanda
dan gejala defisit neurologik seperti gangguan motorik, gangguan sensorik, dan
gangguan saraf otonom bisa disebabkan oleh spondilitis TB yang telah menekan
medulla spinalis. Selain itu adanya nyeri di bagian punggung yang terlokalisir di
daerah torakal dan bengkak pada daerah paravertebral. Pada spondilitis dapat disertai
skoliosis apabila mengenai beberapa vertebra.
Dari hasil pemeriksaan foto thoracolumbal ditemukan destruksi tulang
vertebra T8, abses paravertebral setinggi T8, dan kifosis. Ini mendukung diagnosis
karena pada foto polos vertebra pasien dengan spondilitis TB, ditemukan
osteoporosis, osteolitik dan destruksi korpus vertebra, disertai penyempitan discus
intervertebralis yang berada di antara korpus tersebut dan mungkin dapat ditemukan
adanya massa abses paravertebral. Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang
hebat sehingga timbul kifosis. Dari hasil röntgen Thoraks PA ditemukan infiltrat di
kedua lapang paru.
Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan Hb dan peningkatan
hematokrit, hal ini menandakan bahwa pasien menderita anemia. Didukung pula oleh
ditemukannya konjungtiva yang pucat pada pemeriksaan fisik. Untuk mengurangi
anemia yang dialami, pasien ini perlu mendapatkan nutrisi tinggi kalori.
Diagnosis banding pada pasien ini adalah poliomielitis karena pada
poliomielitis juga didapatkan tanda dan gejala defisit neurologik, seperti
paresis/paralisis tungkai. Yang membedakan adalah pada stadium lanjut. Pada
poliomielitis stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat, sehingga
menimbulkan kelainan bentuk vertebra. Kelainan bentuk vertebra yang muncul pada
poliomielitis adalah skoliosis dan bukan kifosis
24
Diperlukan pemeriksaan penunjang lanjutan yaitu : pemeriksaan laboratorium
LED (Laju Endap Darah), uji BTA, dan foto lumbo-sacral. Pemeriksaan penunjang
lanjutan ini diperlukan untuk lebih memastikan diagnosis dan menyingkirkan
diagnosis banding.
Pasien ini perlu diberikan terapi non medikamentosa berupa terapi nutrisi
tinggi kalori dan perawatan dekubitus. Terapi nutrisi tinggi kalori diberikan karena
pasien menderita anemia. Selain itu, untuk mengatasi masalah malnutrisi pada pasien
(pasien tampak kurus) dan menunjang optimalisasi kesembuhan. Perawatan dekubitus
diperlukan karena pasien ini juga mengalami dekubitus derajat III, yang apabila tidak
dirawat dengan baik dapat mengakibatkan septikemia dan hipoalbuminemia.
Terapi medikamentosa berupa : Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis
Tetap (OAT KDT) Kategori 1, B12, ranitidin, dan antrain (bila perlu). Pengobatan
tuberkulosis berdasarkan Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
Departemen Kesehatan RI 2006 dibagi menjadi 3 kategori yaitu :
- Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru TB paru BTA positif, pasien TB
paru BTA negatif foto toraks positif, dan pasien TB ekstra paru (salah satunya
adalah spondilitis TB).
- Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya: pasien kambuh, pasien gagal, dan pasien dengan pengobatan
setelah default (terputus)
Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)
- Kategori Anak: 2HRZ/4HR

Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa
obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini
disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi
2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien.
Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien.

25
Dosis untuk Paduan OAT KDT untuk Kategori 1
Berat Badan Tahap Intensif Tiap Hari Tahap Lanjutan 3 Kali
Selama 56 Hari RHZE Seminggu Selama 16 Minggu
(150/75/400275) RH (150/150)
30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT

OAT KDT yang diberikan pada pasien ini yaitu 3 tablet 4KDT karena
diperkirakan berat badan pada pasien ini berada di rentang antara 38 – 54 kg. Dosis :
1 x 1, satu kali pemberian sebanyak 3 tablet, dimana setiap tabletnya mengandung
Rifampicin 150 mg, Isoniazid 75 mg, Pirazinamid 400 mg, dan Etambutol 275 mg.
Diberikan B12 untuk memperbaiki defisit neurologis pada pasien ini. B12
berperan dalam pembentukan sarung mielin (mielinisasi). Diberikan ranitidin untuk
profilaksis stress ulkus. Ranitidin yang merupakan antihistamin antagonis reseptor H2
efektif dalam meningkatkan proses penyembuhan ulkus lambung dan ulkus
duodenum serta mencegah kekambuhan penyakit. Diberikan antrain untuk antipiretik
karena pada hari ketiga di rumah sakit, pasien menderita demam dengan suhu
subfebris yaitu 38,90C. Antrain ini diberikan bila pasien demam.
Pasien ini perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis paru dan spesialis bedah
ortopedi untuk ditatalaksana bersama, karena selain terjadi kelainan di saraf (medulla
spinalis), pasien ini juga menderita kelainan di paru dan tulang belakang.

26
BAB V
KESIMPULAN

Tn. P, 26 tahun mengalami kelemahan pada ekstremitas bawah dan tidak bisa
menggerakkannya. Didiagnosis paraparesis inferior spastika e.c kompresi medulla
spinalis setinggi T8 – L1 susp. spondilitis TB dengan diagnosis banding poliomielitis.
Selama dirawat di rumah sakit, pasien perlu mendapatkan terapi obat anti TBC
dengan OAT KDT Kategori 1, dosis : 1 x 1, 3 tablet, antrain, ranitidine, B12, terapi
nutrisi tinggi kalori, dan perawatan dekubitus. Rencana pemeriksaan lanjutan : uji
BTA, foto lumbo-sacral, laboratorium LED (Laju Endap Darah). Pasien ini perlu
dikonsultasikan ke dokter spesialis paru dan spesialis bedah ortopedi.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Admin. Spondilitis TB. Last update April 2008. Available from


http://dokterfoto.com
2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis. Edisi 2. 2006.
3. Hidalgo JA, Herchline T, Talavera F, Jhon JF, Mlonakis E, Cunha BA. Pott
Disease (Tuberculous Spondylitis). Last update August 2006. Available from
http://www.emedicine.com/med/infecMEDICAL_TOPICS.htm
4. Jong, W.D. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. EGC.
5. Katzung, B.G. Farmakologi Dasar & Klinik. Alih bahasa: Staf Dosen Farmakologi
FK UNSRI. Edisi 6. Jakarta. EGC. 1997.
6. Lindsay, K.W., Bone I., Callander, R. Neurology and Neurosurgery Ilustrated. 3rd
edition. New York. Churchill Livingstone. 1997.
7. Medlinux. Spondilitis Tuberkulosa. Last update September 2007. Available from
http://medlinux.blogspot.com/2007/09/spondylitis-tuberkulosa.html
8. Mclain RF, Isada C. Spinal Tuberculosis Deserves A Place On The Radar Screen.
Last update July 2004. Available from http://www.ccjm.org/PDFFILES/
McClain704.pdf
9. Sastrodiwirjo, S., Harahap, T.P., Kusumoputro, S. Kumpulan Kuliah Neurologi.
Bagian Neurologi FKUI. Jakarta. UI-Press.
10. Tsementzis, S.A. Differential Diagnosis in Neurology and Neurosurgery : A
Clinician’s Pocket Guide. Stuttgart. Thieme. 2000.

28