Anda di halaman 1dari 13

Identifikasi Kerusakan dan Alternatif Perbaikan

Pada Konstruksi Struktur Beton Bertulang


(Studi Kasus Gedung Bangunan Pendopo Iman Mahligai Kab. Tanah Bumbu)

Nursiah Chairunnisa, Husnul Khatimi

Abstrak

Gedung Pendopo Mahligai Iman Kabupaten Tanah Bumbu di Batulicin yang memiliki
konstruksi 2 lantai didesain dengan fungsi sebagai kantor dan aula pertemuan. Diduga telah
terjadi kegagalan struktur karena terasa gerakan pada saat penggunaan dalam kondisi beban
penuh.

Untuk itu dilakukan penyelidikan, untuk kekuatan beton dengan hammer test, deformasi
dengan theodolite dan retak dengan mikroskop digital pembesaran 200x. Setelah
penyelidikan, dilanjutkan dengan permodelan menggunakan perangkat lunak sehingga dapat
diambil kesimpulan kondisi penyebab terjadinya kegagalan.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan kolom beton memiliki kekuatan sebesar
45MPa serta balok dan plat sebesar 26MPa. Hasil analisa menunjukkan perilaku penurunan
plat terbesar adalah 76mm. Pengujian retak struktur pada balok-balok penopang kubah
menunjukkan adanya kegagalan struktur dengan beban konstruksi yang berlebih (retak
struktural >3mm dengan jumlah yang banyak). Melalui permodelan diperoleh untuk elemen
plat mengalami perilaku melendut/deformasi yang besar diprakirakan akibat kesalahan
detailing plat, gambar kerja diameter yang 100 mm namun akibat kurangnya pembesian
hanya memiliki kekuatan setara dengan diameter 60 mm. Ukuran balok lapangan juga sangat
tidak memenuhi syarat yang mana seharusnya adalah 400/300.
Dapat disimpulkan bahwa bangunan mengalami degradasi kemampuan. Rekomendasi yang
diberikan adalah dilakukan perbaikan pada konstruksi bangunan dengan berbagai metode
perbaikan (retrofitting) beton seperti penggunaan CFR (carbon fibre reionforced), Jacketing
pada kolom dan Shortcrete grouting mortar untuk retak yang terjadi. Harus ada maintenance
(perawatan) konstruksi bangunan secara periodik agar konstruksi tetap aman dan nyaman
untuk dipergunakan oleh publik.

Kata kunci : Non destructive test, Retrofitting, CFR, Jacketing.

PENDAHULUAN Gedung Pendopo Mahligai Iman


Suatu Konstruksi bangunan Kabupaten Tanah Bumbu di Batulicin
dikatakan berfungsi dengan baik jika yang memiliki konstruksi 2 lantai dan
bangunan tersebut mampu memberikan didesain fungsinya sebagai kantor dan aula
keamanan bagi setiap kegiatan yang pertemuan pada perjalanannya dirasakan
dilakukan didalamnya. Jika konstruksi adanya gerakan pada saat penggunaan
bangunan tersebut tidak bisa melakukan pertemuan dalam kondisi beban penuh.
fungsinya dengan baik maka bangunan Kondisi bangunan saat ini masih
tersebut dapat dikatakan konstruksi dipergunakan sebagaimana biasanya.
tersebut tidak memiliki kinerja sesuai Mengingat bahwa konstruksi ini
dengan rancangan yang telah dibuat. dipergunakan sebagai fasilitas umum maka

117
sangatlah penting untuk melakukan suatu 1/200 atau maksimum 1 inchi dari bentang
kajian ulang tentang kondisi struktur sepanjang 9 m.
bangunan tersebut.
3. Korosi
Ruang lingkup permasalahan yang Korosi adalah hasil dari penetrasi
akan dibahas dalam kajian ini adalah klorida yng masuk pada beton maupun
melakukan identifikasi kerusakan- pada tulangan akibat terbukanya atau retak
kerusakan yang terjadi pada Bangunan yang terjadi pada beton bertulang. Korosi
Pendopo Iman di Kabupaten Tanah Bumbu, ini dapat menentukan waktu layan dan
Batulicin dan memberikan alternatif metode waktu kerusakan sebuah struktur.
perbaikan konstruksi yang tepat untuk Tulangan yang ditempatkan terlalu dekat
gedung Bangunan Pendopo Iman di dengan permukaan beton atau yang
Kabupaten Tanah Bumbu, Batulicin terekspose karena spalling, erosi atau retak
dapat mengalami korosi. Oksidasi pada
KAJIAN TEORITIS baja karena adanya kelembaban yang
1 . Kerusakan yang terjadi pada Beton memicu terjadinya karat. Lingkungan yang
Berdasarkan berbagai kerusakan struktur agresif seperti air laut akan semakin
maka penyebab kerusakan struktur terbagi menambah memperparah kerusakan akibat
atas Overload (Kelebihan Beban), Gaya korosi. Hilangnya permukaan lekat antara
Geser yang Berlebih , Pergerakan Tanah, baja dan beton akibat korosi menyebabkan
Korosi dan kesalahan perencanaan. Ciri menurunnya kekuatan beton.
Struktur beton yang didesain dengan 4. Jenis-jenis Material Untuk
konsep underreinforced adalah terjadinya Perbaikan
retak yang terus menerus bertambah dan
memiliki pola tertentu yang dapat Saat ini tersedia sejumlah besar pilihan
dijadikan dasar untuk mengidentifikasikan material yang dapat digunakan untuk
penyebab terjadinya retak. Identifikasi melakukan perbaikan pada struktur beton,
juga dapat dilakukan dengan melihat diantaranya yang utama adalah:
prilaku struktur yang terjadi. Deformasi
pada struktur juga menjadi acuan a. Material-material yang cementitious
penyebab terjadinya kerusakan pada
struktur. Material ini berkisar dari mortar
dan grout serta beton yang
2. Deformasi konvensional sampai kepada material
Deformasi atau perubahan bentuk dengan sifat-sifat yang diperbaiki
dapat terjadi pada struktur. UBC, ACI dan sesuai dengan kebutuhan dengan
SNI telah menetapkan batasan – batasan menggunakan adrnixtures.
deformasi struktur baik pada balok Penggunaan admixtures antara lain
maupun pada kolom (story drift), Defleksi dapat menghasilkan sifat-sifat kohesif,
terjadi pada perletakan, pondasi, kolom, pencapaian kekuatan secara cepat,
slab dan dinding yang secara visual terlihat kelecakan yang lebih tinggi, daya
sebagai lengkungan, lenturan atau tahan terhadap tercucinya semen dan
perubahan bentuk. Defleksi terjadi karena pengurangan bleeding serta susut.
overload, pengaruh korosi, ketidakcukupan
pada konstruksi awal, beban gempa dan Material perbaikan yang termasuk
susut. Defleksi, dengan pembentukan dalam jenis ini antara lain adalah:
tegangan internal di dalam beton, Beton, mortar atau grout, beton
menyebabkan spalling pada permukaan terutama digunakan untuk
beton. Biasanya defleksi dihindari dengan penggantian total penampang atau
membatasi lendutan yang diijinkan sampai untuk memperbaiki rongga-rongga

118
yang dalam sampai melalui tulangan atau grout yang dibuat dengan bahan
beton.Sedangkan mortar dapat ini memiliki daya tahan terhadap
digunakan untuk perbaikan rongga- perusakan asam, sulfat, alkali, air laut
rongga sampai sekecil 4 cm. Grout dan minyak. Semen
memiliki keuntungan karena bersifat Portland tipe III yang dipakai dengan
encer dan dapat dipompa sampai accelerator akan menghasilkan bahan
kebagianyang tidak terlihat sekalipun, yang sesuai untuk pekerjaan perbaikan
namun grout memiliki kandungan air yang cepat. Selain itu semen
yang tinggi dankonsekuensinya magnesium phosphate baik untuk
mengalami penyusutan lebih besar pekerjaan penambalan.
besar dibanding mortar atau beton. Dry Pack, istilah ini biasanya
Beton, dan mortar yang digunakan untuk mortar dengan bahan
dimodifikasi dengan menambahkan dasar semen Portland dengan
latex, merupakan material perbaikan kandungan air yang cukup rendah
yang sangat berguna untuk melapisi sehingga tidak mengalami
kembali permukaan lantai bangunan slump.Sebenarnya setiap material
atau lantai jembatan yang yang dapat digunakan dengan
rusak.Material seperti ini dikenal konsistensi sedemikian rupa sehingga
dengan sebutan beton latex (latex tidak mengalami slump (no-slump
concrete) atau latex-modified concrete consistency) dapat disebut dry pack,-
dan pada akhir-akhir ini sering dikenal Beton serat, beton serat memiliki
sebagai polimer modified concrete. kekuatan tarik, kekuatan lentur, daya
(Material ini harus dibedakan dari tahan terhadapimpak dan daya tahan
polymer concrete yang mengandung terhadap abrasi yang lebih baik
polimer yang tidak ditambahkan daripada beton biasa. Serat
dalam bentuk latex.. yangdigunakan dapat berupa metal,
Beton, mortar atau grout yang plastic, gelas atau serat natural.
dimodifikasi dengan menambahkan Shotcrete, atau yang juga biasa
polimer, polimer ditambahkan disebut sprayed concrete atau sprayed
sebagai matrik memiliki beberapa mortar terdiri dari bahan-bahan
keuntungan bagi pekerjaan perbaikan, pembentuk yang sama seperti beton
keuntungan-keuntungan ini meliputi: yaitu semen, agregat dan air.
kekuatan yang tinggi pada umur dini, Perbedaan Shotcrete dengan beton
kemampuan untuk dicor pada biasa adalah bahwa Shotcrete
temperature dibawah titik beku biasanya menggunakan agregat kerikil
memiliki kekuatan lekat yang baik, yang bulat dan kandungan semennya
durabilitas yang tinggi walaupun bila lebih tinggi, selain itu water-cement
harus digunakan pada kondisi yang rasio dari Shotcrete lebih rendah-
akan merusak beton biasa. Sebagai sekitar 0,4.
polimer biasanya digunakan epoxy,
polyurethane, unsaturated polyester, b. Material yang berbahan dasar resin:
methyl methacrylate dan lain-lain. Epoxy
Beton, mortar atau grout yang harus
memiliki sifat tertentu untuk suatu tipe Material ini umumnya dibuat atas
perbaikan dapat dibuat menggunakan dasar epoxy resin (epoxy merupakan
semen khusus misalnya semen dengan senyawa organik) dan meliputi resin
kandungan alumina yang tinggi akan untuk injeksi (injection resins), mortar
me galami setting dalam 2 s.d 4 jam yang dapat dicor dan pasta yang dapat
dan dapat mencapai kuat tekan sebesar diterapkan dengan tangan. Epoxy
22 Mpa dalam 6 jam. Beton, mortar mortar terdiri dan resin, hardener dan

119
filler yang terdiri dari pasir halus, Larutan material ini disemprotkan ke
sedangkan epoxy concrete terdiri dari dinding dengan kecepatan 3m2/ltr dan
resin, hardener, pasir halus dan agregat ketika pelarutnya menguap, silicon
kasar ukuran kecil. resin tertinggal di dalam struktur pori
dinding.
c. Elastomeric Sealants e. Bentonite
Bila retak yang harus diperbaiki Bentonite merupakan bubuk batuan
bersifat aktif, artinya mengalami yang diambil dari debu vukanik yang
pergerakan-pergerakan yang berarti, mengandung mineral tanah liat dengan
pilihan untuk material yang akan persentase tinggi terutama sodium
digunakan sering jatuh pada bentonite. Material ini dapat
elastomeric sealants. Material ini harus mengabsorbsi air dalam kuantitas
melawan infiltrasi pecahan-pecahan banyak dan rnengembang sampai 30
beton dan air kedalam retakan, kali volumenya semula dan membentuk
memiliki ekstensibilitas yang tahan massa yang menyerupai jelly yang
lama dan melekat pada tepi-tepi retak. efektif berfungsi sebagai penghalang
Dua tipe elastomeric sealants yang air.
biasa dipakai adalah: hot-applied, yang
biasanya merupakan campuran material f. Bituminous Coating
yang bituminous dengan karet yang
kompatibel dan cold-applied, yang Bituminous coating yang berbahan
dapat didasarkan atas berbagai material dasar aspal atau coal tar sering
dan biasanya harus dicampur di digunakan sebagai waterproofing pada
lapangan beton atau untuk perlindungan terhadap
pelapukan. Material ini murah dan
d. Silicones sudah biasa digunakan oleh buruh,
efektif berfungsi sebagai waterproofer
Biasanya digunakan sebagai sepanjang suatu perioda tertentu apabila
material perbaikan untuk masalah uap dikerjakan dengan baik, dan
air melalui dinding.Ada dua cara ketebalannya. Metode Perbaikan dan
pembuatannya yaitu dengan melarutkan bahan yang dipergunakan dan umum
bahan silicone padat pada suatu pelarut dilakukan diIndonesia dapat
atau membuat garam alkali dari asam ditunjukkan seperti pada Tabel 1.
siliconic dan melarutkannya dalam air.
Tabel 1. Metode dan Material untuk Perbaikan Beton

Kerusakan Metode Perbaikan Material


 Retak yang hidup  Caulking Elastomeric Sealer
(Live/Active Crack)  Injeksi bertekananan Flexible epoxy filler
menggunakan flexible filler
 Jacketting (strapping) Kawat atau batang baja
 Overlaying Membran atau mortar khusus
 Perkuatan Plat baja, post tensioning,
stitching, dsb
 Retak yang dormant  Caulking Cement grout atau mortar,
fast setting mortar
 Injeksi bertekanan Rigid epoxy filler
menggunakan rigid filler
 Coating Bituminous coating, tar

120
Kerusakan Metode Perbaikan Material
 Overlaying Asphalt overlay dengan
membran
 Grinding dan overlaying Latex modified concrete,
beton sangat padat
 Dry pack Dry pack
 Shotcrete Mortar (semen), fast setting
mortar, Mortar semen, beton
epoxy atau polymer
 Jacketing (Strapping) Batang baja
 Perkuatan Post tensioning dsb
 Rekonstruksi Sesuai kebutuhan
 Voids  Dry pack Dry pack
 Honeycombs  Patching PC grout, mortar atau semen
 Resurfacing Beton epoxy atau polymer
 Shotcrete Fast setting mortar
 Replaced aggregate Agregat kasar dan grout
 Penggantian Sesuai kebutuhan
 Spalling  Patching Beton epoxy, polymer, latex,
aspal
 Shotcrete Mortar semen, fast setting
mortar
 Overlay Latex modified concrete,
beton aspal, beton
 Coating Bituminous coating
 Penggantian Sesuai kebutuhan
Sumber :Mohd Isneini (2009)

METODE PENELITIAN 2 Tahapan Permodelan

Pada penelitian ini dalam Permodelan dilakukan dengan


pelaksanaannya dilakukan dalam 2 (dua) perangkat lunak, kondisi yang terjadi pada
tahap, yaitu : bangunan akan dimodelkan dan akan
diambil kesimpulan kondisi penyebab
1. Tahapan Penyelidikan terjadinya kegagalan.

Penyelidikan yang dilakukan adalah Dalam pelaksanaan tahapan


sebagai berikut : penyelidikan maupun pada tahapan
permodelan, peraturan atau kode
a. Penyelidikan Visual dan studi pelaksanaan yang diacu adalah SNI
lapangan SPM1003 untuk pengujian angka pantul
b. Penyelidikan non destructive / tidak beton keras, SNIT03-2847-2002 tentang
merusak yang terdiri dari Penyelidikan perencanaan konstruksi beton untuk
kekuatan beton kondisi eksisting mengetahui deformasi, PPURG 1987
dengan hammer test, penyelidikan tentang pembebanan bangunan dan gedung
deformasi bangunan dengan alat ukur dan SNI 03-2854-1992 tentangkorosif
theodolite dan penyelidikan retak dalam beton
dengan digital mikroskop pembesaran
200 x.

121
HASIL DAN PEMBAHASAN Data konstruksi struktur bangunan
secara detail dapat ditunjukkan seperti
Penyelidikan Visual / Visual Test pada Tabel 2

Tabel 2. Data Konstruksi Bangunan Pendopo

Elemen Material Data Pendukung Data Material


Pondasi Pondasi Gambar Teknik -
Dangkal Beton
Kolom Lantai Dasar Beton Gambar Teknik Tidak ada data
Lantai Dasar Beton Gambar Teknik Tidak ada data
Slofe Beton Gambar Teknik Tidak ada data
Balok Lantai 1 Beton Gambar Teknik Tidak ada data
Plat Lantai 1 Beton Gambar Teknik Tidak ada data
Kolom Lantai 1 Beton Gambar Teknik Tidak ada data
Ringbalk Beton Gambar Teknik Tidak ada data
Dak Beton Tidak ada data Tidak ada data
Penulangan Baja Tidak ada data Tidak ada data
U24

Gambar struktur bangunan secara visualisasi seperti pada Gambar 1 sampai Gambar 3
berikut

Gambar 1. Struktur Bangunan Gedung pendopo Iman

122
Gambar 2. retak lentur akibat beban berlebih pada area kubah

Gambar 3. Retak settlement di lantai dasar sisi kiri sebesar 5 mm

123
Gambar 4. Retak settlement di lantai dasar sisi kiri sebesar > 5 mm

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, keseragaman data / tingkat kebenaran


hasil survey lapangan diperoleh : data sebesar 58 % serta balok dan plat
memiliki nilai kuat tekan prakiraan
 Plat lantai saat digunakan untuk sebesar 26 Mpa atau setara dengan
pertemuan terasa bergerak/ K300 dengan tingkat keseragaman data
berdeformasi sebesar 78%.
 Pengguna ruang basement saat
beban penuh diatasnya merasakan b. Pengujian elevasi dan Deformasi
adanya pergerakan di lantai beton
dan terdapat material yang Pengujian elevasi bertujuan untuk
berjatuhan dapat melihat kondisi akhir dari
kerataan permukaan dan sekaligus
 Tidak dirasakan pergerakan
dapat dijadikan rujukan kondisi akhir
bangunan ke samping
dari bangunan. Hasil analisa
Penyelidikan tidak merusak menunjukkan prilaku penurunan plat
yang sangat dominan berbeda,
a. Pengujian Hammer Test penurunan terbesar adalah sebesar 76
mm atau sebesar 7.6 cm tanpa disadari
Hasil pengujian menunjukkan bahwa karena plat lantai miring dalam ke arah
kuat tekan beton saat ini adalah untuk kiri bangunan. Gambar peta area
kolom memiliki kekuatan sebesar 45 deformasi plat seperti ditunjukan pada
Mpa atau setara dengan K-500 dengan Gambar 5

124
Gambar 5. Peta Area deformasi plat

c.
d. Pengujian Retak (25 mm) ini mengindikasikan adanya
kegagalan struktur. Pengujian retak
Pengujian visual pada bagian bawah struktur pada balok – balok penopang
lantai yaitu Balok-Balok penopang kubah menunjukkan adanya kegagalan
kubah pendopo dengan menggunakan struktur dengan beban konstruksi yang
mikroskop digital diperoleh bahwa berlebih , indikasinya adalah adanya
retak yang terjadi adalah retak lentur retak struktur > 3 mm dengan jumlah
dengan lebar retak > 3 mm dengan yang banyak
indikasi bahwa kerusakan struktur
terjadi akibat kelebihan beban layan. Tahapan Permodelan
Dari hasil pengujian tidak merusak Berdasarkan data-data yang diketahui
( nondestructive test) didapatkan dari Gambar kerja dibuatlah model acuan
bahwa hasil pengujian pada plat tiga dimensi untuk analisa ulang seperti
menunjukkan adanya deformasi pada yang ditunjukkan pada Gambar 6.
plat yang melebihi batas yang diijinkan

Gambar 6. Model Acuan


Pembebanan dipergunakan adalah pasangan bata+ kaca ) dan beban
beban mati (DL) = 5 KN (dinding hidup (LL) = 2.5 KN/m2 . Model

125
yang digunakan berdasarkan Hasil prilaku tegangan pada plat F
gambar teknik pembangunan Mak ditunjukkan seperti pada
Pendopo Tahap II Gambar 7 .

Gambar 7. Perilaku Tegangan Struktur


Hasil analisa yang diperoleh 2 12 lapangan. Oleh
berdasarkan acuan kode karenanya dapat diindikasikan
pelaksanaan yang dipergunakan bahwa Profil balok tidak
adalah sebagai berikut : memenuhi syarat SNI T03 -
1. Untuk elemen plat mengalami 2847 -2002. Penulangan balok
prilaku melendut / deformasi tidak memenuhi syarat untuk
yang besar diprakirakan akibat momen dengan beban rencana
kesalahan detailing plat yaitu dan penulangan tidak
berdasarkan gambar kerja memenuhi syarat penulangan
diameter plat yang minimum yang disyaratkan.
dipergunakan adalah 100 mm 3. Profil kolom tidak memenuhi
namun akibat detailing syarat SNI T03 -2847 -2002
pembesian / kurangnya sebagai kolom struktural, hanya
pembesian hanya memiliki memenuhi syarat untuk gaya
kekuatan setara dengan vertikal dengan beban rencana
diamtere 60 mm . dan tidak memenuhi syarat
2. Berdasarkan pada gambar kerja untuk gaya momen/ gaya
ukuran balok yang horizontal.
dipergunakan adalah 20/20 , di 4. Balok anak pada gambar kerja
lapangan ukuran balok adalah tertera untuk mengurangi
30/20. Berdasarkan SNI T03 - deformasi, namum pada
2847 -2002 acuan untuk balok pelaksanaanya tidak terdapat
lantai adalah 1/10 – 1/12 L adanya balok anak , akibatnya
sehingga tinggi balok harus plat akan menerima momen
minimal 416 mm atau dapat yang lebih besar. Penulangan
dikoreksi menjadi 400 / 300. Plat kemungkinan
Ukuran balok lapangan menjadi menggunakan penulangan
sangat tidak memenuhi syarat. biasa, Sehingga deformasi
Menggunakan data momen besar terjadi .
balok diatas dengan profil 5. Merujuk pada pondasi yang
30/20. Di lapangan berdasarkan digunakan maka akan
gambar teknik dipergunakan diperhitungkan kemampuan
penulangan 2 12 tumpuan dan perlu daya dukung tanah
126
ultimate. Kesimpulan elemen (Collapse Prevented). Kondisi ini
pondasi adalah pondasi masih menyebabkan penggunaan
memenuhi syarat dan Pilecap konstruksi harus berada dalam
tidak memenuhi syarat dan batas pengawasan dan kendali
kemungkinan retak di pile cap teknis.
bisa terjadi 2. Untuk mengurangi deformasi di
plat sangat disarankan untuk
menambahkan balok anak dengan
cara menggunakan baja WF kecil
yang disambungkan dengan angkur
Rekomendasi Perbaikan kimiawi.
3. Untuk penulangan balok yang
Merujuk pada kondisi diatas maka kurang disarankan menggunakan
direkomendasikan beberapa CFR dengan memperhitungkan
perbaikan sebagai berikut : momen yang harus didukung oleh
1. Secara keseluruhan bangunan CFR seperti yang ditunjukkan pada
konstruksi ini berada pada kondisi Gambar 8
penjagaan sebelum kerusakan

Gambar 8. Penulangan Balok dengan CFR

4. Untuk Kolom dapat dilakukan membesarkan penampangnya


jacketing kolom dengan menjadi 300 x 300 dalam netto,
memperhitungkan momen seperti pada Gambar 9
maksimal yang terjadi dan

Gambar 9. Jacketing pada kolom

127
5. Untuk kubah perlu dilakukan 3 teknik yaitu penambahan CFR,
pengurangan beban , namun jika injeksi aditive ke beton dan
dirasa kubah tersebut harus terakhir penambahan kolom
dipertahankan maka balok – bantu / peningkatan kekuatan
balok yang retak harus balok, seperti pada Gambar10
diperbaiki dengan menggunakan

Gambar 10. Shortcrete grouting mortar

Kesimpulan Daftar Pustaka :


1. Analisa Ulang yang dilakukan pada
GedungPendopo Mahligai Iman di Badan Standarisasi Nasional, 2002,
Kabupaten Tanah bumbu TataCara Perhitungan Struktur
mengindikasikan bahwa bangunan BetonUntuk Bangunan
mengalami degradasi kemampuan. Gedung, Bandung.(SNI 03-2847-
2. Degradasi kemampuan ini terjadi 2002)
karena beberapa hal antara lain adanya Mohd Isneini, 2009. Kerusakanan dan
ketidaktepatan pemilihan profil Perkuatan Struktur Beton Bertulang.
desain dan detailing penulangan, Jurnal Rekayasa
ketidaksesuaian dengan kode standar Vol 13 No 3. Desember 2009
SNI yang berlaku dan kelebihan beban PanitiaTeknikKonstruksidanBangunan,
layan. 2002 . Standar Perencanaan Ketahanan
3. Rekomendasi yang diberikan adalah Gempa
dilakukan perbaikan pada konstruksi untuk Struktur Bangunan Gedung
bangunan dengan berbagai metode (SNI 03-1726-2002), BadanStandarisasi
perbaikan (retrofitting) beton seperti Nasional, Puslitbang Pemukiman,
penggunaan CFR (carbon fibre Bandung.
reionforced), Jacketing pada kolom Paulay, T dan Park, R, Reinforced
dan Shortcrete grouting mortar untuk Concrete Structures,Wiley & Sons Ltd,
retak yang terjadi. New Zealand,1975
4. Harus ada maintenance (perawatan) Suhendro,2008, Evaluasi, monitoring dan
konstruksi bangunan secara periodik Repair Exixting structures. Program
agar konstruksi tetap aman dan Pascasarjana
nyaman untuk dipergunakan oleh Teknik Sipil Universitas Gadjah
publik Mada, Yogyakarta

128
Suhendro, 2000, Teori Model Struktur dan Wahyudi L danA.Rahim S, 1999,
Teknik Eksperimental. Beta Offset. “Struktur Beton Bertulang Standar Baru
Yogyakarta SNI T-15-1991-
Vis, W.C, 1993, Dasar-dasar 03”.Jakarta :Erlangga
Perencanaan Beton Bertulang. Jakarta

129