Anda di halaman 1dari 6

PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal.

56 - 61 ISSN : 2337-8204

Pendugaan Bidang Gelincir Tanah Longsor di Desa Aruk Kecamatan Sajingan


Besar Kabupaten Sambas dengan Menggunakan Metode Tahanan Jenis
Ezra Andwa Heradian1), Yudha Arman1)*

1)Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Tanjungpura, Pontianak

*Email : Yudhaarman@gmail.com

Abstrak

Telah dilakukan penelitian untuk pendugaan bidang gelincir tanah longsor di Desa Aruk Kecamatan
Sajingan Besar Kabupaten Sambas. Metode yang digunakan adalah metode geolistrik tahanan jenis
dengan bantuan perangkat lunak Res2Dinv 3.58 untuk pengolahan dan pemodelan. Data yang digunakan
adalah data resistivitas di 3 lintasan dengan panjang tiap lintasan masing-masing adalah 120 m. Data
yang digunakan merupakan hasil pengukuran menggunakan 48 elektroda dengan jarak antar elektroda
adalah 2,5 m. Hasil pengolahan data menunjukan bahwa, lintasan 1, lintasan 2, dan lintasan 3 berpotensi
memiliki bidang gelincir tanah longsor yang diindikasikan oleh adanya daerah pada penampang model
yang memiliki nilai resistivitas rendah. Daerah tersebut diduga merupakan tanah lempung, pasir dan batu
pasir yang bersifat relatif lunak dan diindikasikan sebagai bidang gelincir. Pada lintasan 2,bagian ini
ditemukan pada kedalaman 24,9 m , sementara pada lintasan 1 dan lintasan 3 berada di kedalaman
13,1m.

Kata Kunci: Resistivitas, Metode Geolistrik, Bidang Gelincir

1. Pendahuluan Universitas Andalas Kampus Unand, Limau


Bencana geologi merupakan bencana yang Manis, Padang) (Herlin dan Budiman, 2012) dan
terjadi akibat proses geologi secara alamiah Interpretasi Bawah Permukaan Zona Lonsor Di
yang siklus kejadiannya mulai dari ratus tahun jalan Samarinda-Balik Papan Dengan
bahkan jutaan tahun. Klasifikasi bencana geologi Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi
meliputi gempa bumi, gelombang tsunami, Schlumberger (Jowandi, dkk., 2011).
letusan gunung api, longsor serta banjir. Pada penelitian ini metode geolistrik
Bencana tanah longsor merupakan bencana digunakan untuk menentukan bidang gelincir
yang dapat disebabkan oleh proses geologi yang tanah longsor yang terjadi di Desa Aruk
terjadi dan campur tangan aktivitas manusia. Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas.
Di Indonesia sering terjadi longsor pada
jaringan jalan, jaringan pengairan dan daerah 2. Metodologi
pemukiman. Prasana tersebut cukup vital untuk 2.1 Metode Geolistrik (Resistivitas)
kebutuhan masyarakat sehingga diperlukan Metode geolistrik resistivitas merupakan
penanggulangan bencana yang tepat, cepat, dan salah satu metode geofisika yang memanfaatkan
ekonomis untuk menanggulangi kerugian- sifat resistivitas tanah untuk mempelajari
kerugian dalam pemanfaatan prasarana keadaan bawah permukaan bumi. Metode
tersebut oleh masyarakat. geolistrik resistivitas memiliki beberapa
Salah satu penyebab bencana tanah longsor kelebihan yaitu bersifat tidak merusak
yang sangat berpengaruh adalah bidang gelincir lingkungan, pengoperasian mudah dan cepat,
tanah lonsor. Informasi tentang struktur tanah biayanya murah, dan dapat mengidentifikasi
digunakan untuk mengetahui batas-batas kedalaman tanah (Panissod, dkk., 2001)
kelabilan tanah. Informasi tentang struktur ini Harga tahanan jenis suatu bahan dapat
dapat diperoleh melalui metode geolistrik. dituliskan sebagai (Telford, dkk., 1990)
Beberapa penulis sebelumnya yang telah
memanfaatkan metode ini diantaranya adalah : =ρ = (1)
Aplikasi Metode Tahanan Jenis 2D Untuk
Mengidentifikasi Potensi Daerah Longsor Di
Gunung Kupang, Banjarbaru (Wahyono, 2011). Dimana, R = Resistansi yang diukur (Ω)
Penentuan Bidang Gelincir Tanah Dengan ρ = Tahanan Jenis bahan (Ωm)
Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan Jenis Dua L = Panjang (m)
Dimensi Konfigurasi Schumberger (Studi Kasus A = Luas penampang (m2)
di Sekitar Gedung Fakultas Kedokteran K = Faktor Geometri

56
PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal. 56 - 61 ISSN : 2337-8204

2.2 Resistivitas Batuan resistivitas disetiap titik akan memiliki besar


Semua sifat fisika batuan dan mineral yang berbeda, sehingga menyebabkan bidang
memiliki nilai resistivitas materialnya sendiri. equipotensial menjadi tidak beraturan.
Pada batuan dengan komposisi yang bermacam- Hasil asli data pengukuran lapangan ini
macam akan menghasilkan range nilai disebut tahanan jenis semu (resistivitas semu)
resistivitas yang bervariasi dikarenakan oleh yang dapat ditulis (Reynolds, 1998).
jenis tanah dan batuan yang berbeda.
Konduktor didefinisikan sebagai bahan yang
= . (3)
memiliki resistivitas kurang dari 10-5Ωm,
sedangkan isolator memiliki nilai resistivitas
lebih dari 107Ωm Diantara keduanya adalah
bahan semikonduktor. Di dalam konduktor
= (4)
terdapat banyak elektron bebas dengan Dengan adalah apparent resistivity atau
mobilitas yang sangat tinggi, sedangkan pada resistivitas semu yang bergantung pada spasi
semikonduktor, jumlah elektron bebasnya lebih elektroda.
sedikit. Isolator dicirikan oleh ikatan ionik Untuk kasus tak homogen, bumi diasumsikan
sehingga elekton-elektron valensi tidak bebas berlapis-lapis dengan masing-masing lapisan
bergerak (Telford, dkk., 1990). mempunyai harga resistivitas yang berbeda.
Resistivitas semu merupakan resistivitas dari
2.3 Konfigurasi Elektroda Schlumberger suatu medium fiktif homogen yang ekivalen
Salah satu konfigurasi elektroda yang umum dengan medium berlapis yang ditinjau. Ilustrasi
digunakan pada penelitian metode tahanan jenis hal tersebut diperlihatkan pada Gambar 2.
adalah konfigurasi Schlumberger. Konfigurasi
Schlumberger memiliki keunggulan untuk
mendeteksi adanya non-homogenitas lapisan
batuan pada permukaan, yaitu dengan
perbandingan nilai resisitivitas semu ketika
terjadi perubahan jarak elektroda.
Gambar 2. Medium berlapis dengan variasi
resistivitas
(Sumber : Rahmawati, 2009)

Medium berlapis yang ditinjau terdiri dari


dua lapis yang berbeda resistivitasnya (ρ1, ρ2
dan ρ3) dianggap sebagai medium satu lapisan
homogen yang mempunyai satu harga
Gambar 1. Susunan elektroda konfigurasi
resistivitas, yaitu resistivitas semu (ρ ).
Schlumberger
(sumber: Telford, dkk., 1990)
2.5 Pengolahan Data
Faktor geometri untuk konfigurasi Data yang sudah diperoleh merupakan data
Schlumberger adalah: geolistrik resistivitas berupa kuat arus listrik
dan tegangan, yang nantinya dimasukan
kedalam persamaan resistivitas semu untuk
=π (2) memperoleh nilai resistivitas guna pendugaan
2
bidang gelincir tanah longsor sebagai salah satu
2.4 Resistivitas Semu penyebab terjadinya longsor.
Telford, dkk., (1990) menyatakan bahwa Pengolahan data menggunakan perangkat
struktur bawah permukaan merupakan suatu lunak Res2Dinv 3.58 untuk membuat hasil
sistem perlapisan dengan nilai resistivitas yang interpretasi 2D dan penampang 3D hasil
berbeda-beda. Faktor yang mempengaruhi nilai pengukuran.
resistivitas diantaranya adalah homogenitas tiap
batuan, kandungan mineral logam, kandungan 2.6 Analisis dan Interpretasi Data
air, porositas, permeabilitas, suhu dan umur Terdapat 3 lintasan dengan panjang tiap
geologi batuan. Kondisi demikian menyebabkan lintasan 120 m menggunakan 48 elektroda
nilai resistivitas yang muncul apabila dilakukan dengan jarak antar elektroda adalah 2,5 m. 3
pengukuran bukanlah nilai resistivitas lintasan dalam penelitian ini diasumsikan
sebenarnya, melainkan nilai kombinasi dari mewakili penampakan bawah permukaan tanah
resistivitas berbagai macam batuan. Nilai untuk menentukan bidang gelincir tanah
longsor dan penyebab longsor di lokasi yang

57
PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal. 56 - 61 ISSN : 2337-8204

terjadi di Desa Aruk Kecamatan Sajingan Besar Jenis tanah ketiga dengan rentangan nilai
Kabupaten Sambas. resistivitas berkisar 349 Ωm - 2198 Ωm, dapat
diestiminasikan sebagai batu pasir (sand stones),
3. Hasil dan Pembahasan dikarenakan rentangan nilai yang diperoleh
3.1 Analisis 2D berada pada rentangan batu pasir (sand stones)
Analisis 2D dengan menggunakan perangkat yang berkisar 200 m - 8000 m pada tabel nilai
lunak Res2Dinv 3.58 yang menampilkan resistivitas.
penampang permukaan bawah tanah dan nilai
resistivitas tanah. Dari nilai resistivitas tanah b. Lintasan 2
dapat diketahui jenis tanah yang berada dilokasi Hasil pengolahan data geolistrik Lintasan 2
perolehan data dengan pemodelan hasil dapat dilihat pada Gambar 3(b). Dari hasil
pengolahan data berwujud citra 2D. pengamatan diperoleh kedalaman mencapai
24,9 m dari permukaan tanah. Dengan
3.1.1 Identifikasi Batuan menghubungkan antara nilai resistivitas yang
a. Lintasan 1 didapat dari pengolahan data maka dapat
Hasil pengolahan data Lintasan 1 dapat dilakukan identifikasi dengan membandingkan
dilihat pada Gambar 3(a), dengan hasil nilai resistivitas yang didapat dan referensi
pengukuran mencapai kedalaman 24,9 m. Dari acuan tabel nilai resistivitas.
hasil pemodelan terlihat ada 3 jenis tanah Pada lintasan ini, jenis tanah pertama dengan
dengan 3 variasi nilai resistivitas yaitu nilai resistivitas sebesar 0,808 Ωm - 12,3 Ωm
resistivitas rendah, sedang, dan tinggi. Jenis diduga merupakan air tanah (ground water)
tanah pertama dengan resistivitas rendah pada yang memiliki nilai resistivitas 0,5 Ωm - 300 Ωm.
kedalaman 4,97 – 13,1 m memiliki rentangan Kisaran nilai resistivitas yang kedua dengan
nilai resistivitas berkisar 3,51 Ωm - 22,1 Ωm. nilai resisitivitas mencapai 47,8 Ωm - 186 Ωm
Jenis tanah ini diprediksi merupakan jenis tanah dapat diprediksi merupakan pasir (sand) yang
lempung (clay) dengan nilai resistivitas pada tertera pada tabel resistivitas sebesar 1 Ωm -
tabel nilai resistivitas adalah 1 Ωm – 100 Ωm. 1000 Ωm.
Jenis tanah kedua dengan rentangan nilai Perolehan nilai resistivitas yang ketiga
resistivitas berkisar 55,5 Ωm - 139 Ωm dapat menunjukan kisaran 725 Ωm - 11009 Ωm yang
diasumsikan merupakan pasir (sand), merupakan jenis batuan basalt yang memiliki
dikarenakan rentangan nilai yang diperolah interval nilai resistivitas 200 Ωm - 100.000 Ωm,
berada pada rentangan pasir (sand) yaitu batuan granit yang memiliki rentangan nilai 200
berkisar 1 Ωm - 1000 Ωm pada tabel nilai Ωm - 100.000 Ωm, ataupun juga bisa diprediksi
resistivitas. sebagai batuan kuarsa dengan rentangan nilai
resistivitas 500 Ωm - 800.000 Ωm.

(a)

(b)

Gambar 3(a). Pemodelan pada lintasan 1 (b). Pemodelan pada lintasan 2

58
PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal. 56 - 61 ISSN : 2337-8204

c. Lintasan 3 Tanah lempung yang diduga sebagai bidang


Hasil pengolahan data pada lintasan 3 dapat gelincir pada lintasan ini ditandai oleh garis
dilihat pada Gambar 4(a). Jika dibandingkan berwarna hitam dengan nilai resistivitas sebesar
dengan lintasan 1, penampang bawah 3,51 Ωm - 22,1 Ωm. Apabila air yang meresap ke
permukaan lintasan 3 memiliki material dalam tanah mencapai tanah lempung, maka air
penyusun dengan nilai resistivitas yang akan terakumulasi yang menyebabkan tanah ini
mendekati nilai resistivitas bawah permukaan menjadi licin. Tanah lempung merupakan tanah
tanah lintasan 1. Hal ini dapat terjadi liat dengan sifat kedap air dan lunak sehingga
dikarenakan posisi lintasan 3 yang hampir apabila terjadi penambahan kadar air maka
sejajar dengan lintasan 1 berada pada kawasan massa tanah yang berada diatas tanah lempung
yang sama. Oleh karena itu, jenis material akan bertambah dan dengan kondisi geografis
penyusun lintasan 3 diduga sama dengan yang curam akan memudahkan terjadinya
lintasan 1 dan dengan kedalaman yang longsor.
diperoleh sama yaitu mencapai 24,9 m.
Jenis tanah pertama memiliki nilai b. Lintasan 2
resistivitas berkisar 4,92 Ωm - 34,9 Ωm. Jenis Pengolahan data geolistrik Lintasan 2
tanah ini diprediksi merupakan tanah lempung. dilakukan dengan elektroda ke - 1 berada pada
Jenis tanah kedua memiliki rentangan nilai titik koordinat N 01°36’27.4”, E 109°32’08.8”
resistivitas sebesar 93,1 Ωm - 248 Ωm yang dan elektroda ke - 48 berada pada titik
diduga merupakan pasir (sand) dan Jenis tanah koordinat 01°36’25.2”, E 109°32’10.2”.
yang ketiga memiliki nilai resistivitas berkisar Gambar 5(a) merupakan interpretasi data
661 Ωm - 4696 Ωm dan jenis tanah ini dianalisis yang sudah diolah, dengan penambahan data
berdasarkan nilai resistivitas sebagai batu pasir topografi membuat lintasan ini hampir
(sand stones). menyerupai kondisi lintasan pada saat proses
pengambilan data di lapangan, dengan tingkat
3.1.2 Prediksi Bidang Gelincir Tanah kesalahan 19,1 % yang masih bisa diterima.
Longsor Garis berwarna hitam menunjukan air tanah
a. Lintasan 1 yang berada pada permukaan tanah hingga
Pada Lintasan 1, elektroda ke - 1 berada pada kedalaman 24,9 m dibawah permukaan tanah
koordinat N 01°36’24.7”, E 109° 32’10.2” dengan posisi yang tidak beraturan
sedangkan elektroda ke - 48 berada pada diprediksikan merupakan penyebab tanah
koordinat N 01°36’26.4’’, E 109°32’07.7”. longsor pada lintasan ini. Air tanah dengan nilai
Pada Gambar 4(b) memperlihatkan resistivitas 0,808 Ωm - 12,3 Ωm berada pada
gambaran pada lintasan 1 yang sudah posisi terperangkap, sehingga menyebabkan
dimodelkan dengan gabungan topografi yang naiknya tegangan geser tanah dan turunnya
bertujuan untuk memperlihatkan bentuk kekuatan geser tanah yang dapat menyebabkan
permukaan lintasan sebenarnya. gerakan tanah yang berakibat longsor.

(a)

(b)

Gambar 4(a). Pemodelan pada lintasan 3 (b). Pemodelan dengan topografi pada lintasan 1

59
PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal. 56 - 61 ISSN : 2337-8204

c. Lintasan 3 gelincir tanah longsor yang menyebabkan


Pada Lintasan 3, elektroda ke - 1 berada pada terjadinya tanah longsor. Bidang gelincir tanah
koordinat N 01°36’25.9”, E 109° 32’07.8” longsor dapat ditentukan dengan melihat
sedangkan elektroda ke - 48 berada pada adanya penurunan tanah yang terjadi pada
koordinat N 01°36’25.2’’, E 109°32’09.2”. lintasan yang menjadi perwakilan penampakan
Berdasarkan Gambar 5(b), memperlihatkan bawah permukaan tanah dan dapat terlihat juga
hasil pengolahan data pada lintasan 3, dari ketidaksinambungan struktur tanah yang
menunjukkan adanya bidang gelincir dengan tidak terjadi longsor dengan struktur tanah yang
kedalaman dan penyebab yang sama dengan sudah terjadi longsor.
pemodelan hasil pengolahan data pada lintasan
1. Hal ini dimungkinkan bahwa lintasan 1 dan 3.2 Analisis 3D
lintasan 3 berada pada area yang sama, dan Gambar 6 memperlihatkan penampang 3D
hampir sejajar. hasil pengukuran yang menunjukan arah dan
Pendugaan bidang gelincir pada lintasan ini posisi setiap lintasan yang menjadi acuan untuk
disebabkan oleh tanah lempung yang memiliki menentukan arah longsoran yang terjadi.
komposisi tanah liat yang mengandung air, Arah lintasan 1 berasal dari arah tenggara
ditunjukan oleh garis berwarna hitam dengan menuju kearah barat laut dengan posisi lintasan
kedalaman 13,1 m dan memiliki nilai resistivitas berada di antara lintasan 3 dan lintasan 2. Arah
sebesar 4,92 Ωm - 34,9 Ωm. Dengan diduganya lintasan 2 berasal dari arah barat laut menuju
tanah lempung sebagai bidang gelincir pada kearah tenggara dengan posisi lintasan berada
lintasan ini, membuktikan bahwa penyebab pada sebelah kanan lintasan 1 dan hampir
dominan dari peristiwa longsor di daerah ini sejajar dengan lintasan 1 sedankan arah lintasan
merupakan tanah lempung yang dipicu dengan 3 berasal dari arah timur menuju kearah barat
adanya penambahan kadar air menyebabkan dengan posisi lintasan berada pada sebelah kiri
tanah yang mengalami pelapukan diatasnya lintasan 1 dan hampir tegak lurus dengan
akan bergerak menuruni tebing. lintasan 1. Dari arah ketiga lintasan ini dapat
Dari hasil pemodelan yang sudah dianalisis diketahui bahwa arah dominan longsoran yang
dengan 3 lintasan yang berada pada lokasi terjadi berasal dari arah barat laut menuju ke
longsor di Desa Aruk Kecamatan Sajingan Besar arah tenggara.
Kabupaten Sambas, menunjukan adanya bidang

(a)

(b)

Gambar 5(a). Pemodelan dengan topografi pada lintasan 2 (b). Pemodelan dengan topografi pada lintasan 3

60
PRISMA FISIKA, Vol. III, No. 2 (2015), Hal. 56 - 61 ISSN : 2337-8204

Gambar 6. Penampang 3D hasil pengukuran

4. Kesimpulan Jowandi, Supriyanto, dan Haryono, A.,


Berdasarkan hasil analisis data geolistrik dan “Interpretasi Bawah Permukaan Zona
hasil interpretasi, maka dapat disimpulkan Longsor Di Jalan Samarinda-Balikpapan
bahwa: Dengan Menggunakan Metode Geolistrik
Jenis material di lokasi terjadinya bencana Konfigurasi Schlumberger”, Fisika
tanah longsor di Desa Aruk Kecamatan Sajingan Mulawarman, Vol. 7 No.1, Mei 2011.
Besar Kabupaten Sambas terdiri dari : lempung, Rahmawati, A., 2009, “Pendugaan Gelincir Tanah
pasir, batu pasir, basalt, granit, kuarsa, dan batu Longsor Berdasarkan Sifat Kelistrikan Bumi
gamping. Jenis tanah yang menjadi bidang Dengan Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan
gelincir tanah longsor adalah Jenis tanah yang Jenis Konfigurasi Schlumberger (Studi Kasus
memiliki nilai resistivitas paling rendah yaitu di Daerah Karangsambung dan Sekitarnya,
tanah lempung yang terdiri dari tanah liat dan Kabupaten Kebumen”, Skripsi, Jurusan Fisika
tanah yang mengandung air yang ditunjukkan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
oleh Lintasan 1 dan Lintasan 3 dengan Alam Universitas Semarang, Semarang.
kedalaman hingga 13,1 Ωm dari permukaan Reynolds, J.M., 1998, “An Introduction to Applied
tanah. Adanya air tanah dengan formasi tidak and Environmental Geophysics”. New York:
beraturan yang terjebak ke dalam tanah dengan John Willey and Sons.
kedalaman hingga 24,9 m ditunjukkan oleh Panissod C, Benderitter MD, dan Tabbagh Y.
lintasan 2 yang menyebabkan tanah lempung 2001., On the effectiveness of 2D electrical
mengandung air menjadi bidang gelincir tanah inversion results: An agricultur case study.”
longsor. Geophysical Prospecting”. 49:570-576.
Wahyono, S. C., “Metode Tahanan Jenis 2D Untuk
Pustaka Identifikasi Potensi Daerah Rawan Longsor Di
Herlin, H.S.,Budiman, A., “Penentuan Bidang Gunung Kupang Banjarbaru”, Jurnal Fisika
Gelincir Gerakan Tanah Dengan Aplikasi FLUX, Vol. 8 No. 2, Agustus 2011 Hal : 95-
Geolistrik Metode Tahanan Jenis Dua Dimensi 103.
Konfigurasi Wenner-Schlumberger (Studi Telford, W. M, Geldard, L.P, Sherrif, R.E., dan
Kasus di Sekitar Gedung Fakultas Kedokteran Keys, D. A., 1990, “Applied Geophysics”,
Universitas Andalas Limau Manis, Padang)”, Cambridge University Press, Cambridge,
Jurnal Fisika Unand, Vol. 1 No.1, Oktober London, New York, Melburne.
2012.

61