Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kolaborasi merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk
menggambarkan suatu hubungan kerjasama yang dilakukan pihak tertentu.
Sekian banyak pengertian dikemukakan dengan sudut pandang beragam namun
didasari prinsip yang sama yaitu mengenai kebersamaan, kerjasama, berbagi
tugas, kesetaraan, tanggung jawab dan tanggung gugat. Namun demikian
kolaborasi sulit didefinisikan untuk menggambarkan apa yang sebenarnya yang
menjadi esensi dari kegiatan ini. Siegler dan Whitney (1999) mengemukakan
bahwa tidak ada definisi yang mampu menjelaskan sekian ragam variasi dan
kompleknya kolaborasi dalam kontek perawatan kesehatan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan kolaborasi sebagai suatu
perbuatan atau tindakan kerjasama antara satu orang dengan orang lain atau tim.
Dalam hal ini, tim adalah suatu perkumpulan dari beberapa orang yang
membentuk suatu kelompok. Sebuah sistem kesehatan yang mendukung
kerjasama atau kolaborasi yang efektif dapat meningkatkan kualitas perawatan
pasien, meningkatkan keselamatan pasien, dan mengurangi masalah beban yang
menyebabkan masalah dikalangan profesional kesehatan (Cannadian Health
Services Research Foundation, 2006). Berdasarkan kamus Heritage Amerika
(2000), kolaborasi adalah bekerja bersama khususnya dalam usaha
penggambungkan pemikiran.
Apapun bentuk dan tempatnya, kolaborasi meliputi suatu pertukaran
pandangan atau ide yang memberikan perspektif kepada seluruh kolaborator.
Efektifitas hubungan kolaborasi profesional membutuhkan mutual respek baik
setuju atau ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi tersebut. Partnership
kolaborasi merupakan usaha yang baik sebab mereka menghasilkan outcome
yang lebih baik bagi pasien dalam mecapai upaya penyembuhan dan
memperbaiki kualitas hidup.
Kolaborasi merupakan proses komplek yang membutuhkan sharing
pengetahuan yang direncanakan dan menjadi tanggung jawab bersama untuk
merawat pasien. Hubungan perawat dengan pasien adalah suatu wahana untuk

1
mengaplikasikan proses keperawatan pada saat perawat dan pasien berinteraksi
kesediaan untuk terlibat guna mencapai tujuan asuhan keperawatan. Hubungan
perawat dan pasien adalah hubungan yang direncanakan secara sadar,bertujuan
dan kegiatannya dipusatkan untuk pencapaian tujuan klien. Dalam hubungan itu
perawat menggunakan pengetahuan komunikasi guna memfasilitasi hubungan
yang efektif. Pada dasarnya hubungan perawat dan pasien bersifat professional
yang diarahkan pada pencapaian tujuan. Hubungan perawat dengan pasien
merupakan hubungan interpersonal titik tolak saling memberi pengertian.
Kewajiban perawat memberikan asuhan keperawatan dikembangkan
hubungan saling percaya dibentuk dalam interaksi, hubungan yang dibentuk
bersifat terapeutik dan bukan hubungan sosial, dimana harus terfokus pada klien
untuk menyelesaikan masalah klien.
Berdasarkan uraian di atas, maka hal ini yang melatarbelakangi penulis untuk
membahas mengenai sistem kolaborasi pemberian asuhan keperawatan dan
pasien serta keluarga yang mendukung dalam penyelesaian masalah bagi pasien.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah
pada makalah ini adalah:
1. Bagaimana sistem kolaborasi pemberian asuhan keperawatan dan pasien
serta keluarga?
2. Bagaimana asuhan keperawatan kesehatan yang berhubungan dengan
lingkungan keluarga pasien?
3. Bagaimana pelayanan pemberi asuhan keperawatan kepada pasien serta
keluarga di rumah?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang dapat dicapai dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Mahasiswa mengetahui sistem kolaborasi pemberian asuhan keperawatan
dan pasien serta keluarga.
2. Mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan kesehatan yang berhubungan
dengan lingkungan keluarga pasien.

2
3. Mahasiswa mengetahui pelayanan pemberi asuhan keperawatan kepada
pasien serta keluarga di rumah.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang didapat dalam makalah ini sebagai berikut.
1. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui sistem kolaborasi pemberian
asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dan keluarga serta
mampu memahami penerapan asuhan keperawatan sehingga
mengoptimalkan kerja mahasiswa dalam berkolaborasi sebagai calon
perawat.
2. Dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk memperdalam pengetahuan
mengenai sistem kolaborasi pemberian asuhna keperawatan.

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Kolaborasi Pemberian Asuhan Keperawatan Dan Pasien Serta
Keluarga

Perawat sebagai pelaksana keperawatan pada zaman dahulu dikatakan


sebagai pekerjaan vokasional dimana dalam melaksanakan kegiatannya sebagai
tim kesehatan selalu bergantung pada profesi kesehatan yang lain. Sejalan dengan
berkembangnya ilmu dan runtutan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan yang
bermutu sejak tahun 1983. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dalam
lokakarya nasional mengikarkan bahwa keperawatan adalah profesional. PPNI
sebagai landasan pelayanan profesional, dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang
kesehatan, pasal 32 ayat (2) ditulis bahwa penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan dilakukan dengan pengobatan dan atau perawatan dapat dilakukan
berdasarkan ilmu kedokteran dan ilmu keperawatan atau cara lain yang dapat
dipertanggungjawabkan.

Ilmu keperawatan adalah sitesa dari ilmu keperawatan dasar, ilmu


keperawatan klinik, ilmu biomedik, ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu sosial. Ilmu
keperawtan dasar meliputi keperawatan profesional (profesional nursing), konsep
dasar keperawatan (fundamental of nursing), kebutuhan dasar manusia (basic
human need), proses keperawatan (nursing proces) dan manajemen keperawatan
(nursing management). Wawasan ilmu keperawatan mencakup ilmu yang
mempelajari bentuk dan sebab tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia serta
upaya mencapai pemenuhan kebutuhan tersebut. Kebutuhan dasar manusia
meliputi bio, psiko, sosio, kultural dan spiritual. Pelayanan keperawatan berupa
bantuan, diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan
pengetahuan, serta kurangnya kemauan menuju kemampuan melaksanakan
kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri.

Praktik keperawatan adalah tindakan mandiri perawatan profesional melalui


kerja sama bersifat kolaboratif dengan klien dan tenaga kesehatan lain dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai lingkup wewenang dan tanggung
jawabnya. Salah satu lingkup praktik keperawatan adalah asuhan keperawatan

4
keluarga karena keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai
akibat pola penyesuaian keluarga yang tidak sehat sehingga tidak terpenuhinya
kebutuhan keluarga.

Asuhan keperawatan adalah suatu proses rangkaian kegiatan pada praktik


keperawatan yang langsung diberikan pada klien pada berbagai tatanan pelayanan
kesehatan, dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dengan
mengguanakan metodelogi proses keperawatan, dilandasi etik dan etika
keperawtan, dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan. Asuhan
keperawatan keluarga merupakan suatu rangkaian kegiatan yang diberikan
melalui praktek keperawatan kepada keluarga, untuk membantu, menyelesaikan
masalah kesehatan keluarga tersebut dengan mengguanakan pendekatan proses
keperawatan.

Metodologi proses keperawatan merupakan metodologi penyelesaian masalah


kesehatan klien secara ilmiah berdasarkan pengetahuan ilmiah serta menggunakan
teknologi kesehatan dan keperawatan, meliputi tahapan :

1. Pengkajian. Merupakan suatu tahapan ketika seorang perawat


mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang
dibinanya. Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan
keperawatan. Tahap ini mencakup pengumpulan data, analisis/anterpretasi
data tentang kondisi bio, psiko, sosio, kultural dan spiritual.
2. Merumuskan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan adalah
pernyataan yang dirumuskan berdasarkan data yang terkumpul dan berupa
rumusan tentang respon klien terhadap masalah kesehatan serta faktor
penyebab yang berkontribusi terhadap timbulnya masalah yang perlu
diatasi dengan tindakan atau intervensi keperawtan. Diagnosa keperawatan
keluarga dianalisis dari hasil pengkajian terhadap adanya masalah dalam
tahap perkembangan keluarga, lingkungan keluarga, struktur keluarga,
fungsi-fungsi keluarga dan koping keluarga, baik yang bersifat aktual,
resiko maupun sejahtera dimana perawat memiliki kewenangan dan
tanggung jawab untuk melakukan tindakan keperawatan bersama-sama
dengan keluarga dan berdasarkan kemampuan dan sumber daya keluarga.

5
3. Perencanaan. Perencanaan asuhan keperawatan adalah kumpulan tindakan
yang ditentukan oleh perawat bersama-sama sasaran (keluarga) untuk
dilaksanakan, sehingga masalah kesehatan dan masalah keperawatan yang
telah diidentifikasi dapat diselesaikan.
4. Implementasi. Merupakan bagian aktif dalam asuhan keperawatan, yaitu
perawat melakukan tindakan sesuai tindakan perencanaan.
5. Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil
implementasi dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk
melihat keberhasilannya. Jika hasil evaluasi tidak berhasil, perlu disusun
rencana perawatan baru. Perlu diperhatikan juga bahwa evaluasi perlu
dilakukan beberapa kali dengan melibatkan keluarga, sehingga perlu pula
direncanakan waktu yang sesuai dengan kesediaan keluarga.
6. Dokumetasi adalah data yang lengkap, nyata, dan tercatat, bukan hanya
tingkat kesakitan pasien, tetapi juga jenis, tipe dan kualitas pelayanan
kesehatan dalam memenuhi kebutuhan pasien. Prinsip-prinsip dalam
dokumentasi harus segera mungkin, catatan harus kronologis, penulisan
singkat, harus dilakukan umum dan seragam, masukan tanggal jam serta
tanda tangan dan inisial dengan tinta. Metode yang digunakan dalam
dokumentasi: SOP (SOAPIER), PIE (Problem, Intervensi, Evaluasi).

2.1.1 Batasan Keahlian

Tingkat keperawatan keluarga yang dipraktekan oleh perawat untuk


mengkonseptualisasikan keluarga untuk bekerjasama dengannya yaitu ada tiga
tingkat komponen keperawatan (Friedman, 1986), terdiri dari:

1. Tingkat I : Keluarga sebagai konteks


Keperawatan keluarga dikonseptualisasikan sebagai bidang dimana keluarga
dipandang sebagai konteks bagi klien atau pasien (Bozzet, 1987). Keluarga
sebagai fokus sekunder dan klien sebagai fokus primer atau utama dalam
pengkajian dan intervensi. Pada tingkat ini perawat dapat mengikutsertakan
keluarga karena keluarga merupakan sebuah lingkungan sosial yang bisa
menjadi dukungan sosial bagi klien.

6
2. Tingkat II : keluarga sebagai kempulan dari anggota keluarga
Pada tingkat ini keperawatan diberikan pada semua anggota keluarga, maka
perawatan kesehatan keluarga dan keperawatan keluarga dikatakan ada
(keperawatan primer keluarga). Keluarga sebagai fokus keperawatan dan
masing-masing klien dilihat dari unit yang terpisah bukan unit yang saling
berinteraksi. Keluarga dipandang sebagai kumpulan atau jumlah individu dari
anggota keluarga.
3. Tingkat III : keluarga dan klien
Keluarga dipandang sebagai klien atau sebgai fokus utama pengkajian dan
perawatan. Disini keluarga menjadi yang utama dengan setiap anggotanya
sebagai latar belakang atau konteks. Keluarga dipandang sebagai sistem yang
berinteraksi. Fokusnya pada dinamika dan hubungan internal keluarga,
struktur dan fungsi keluarga, serta saling ketergantungan sub sistem keluarga
dengan keseluruhan dan keluarga dengan lingkungan luarnya. Hubungan
antara penyakit, individu-individu dalam keluarga, dan keluarga diaanalisis
dan dimasukkan dalam rencana perawatan. (Wright dan Leahey, 1988).
Dalam banyak literatur mungkin banyak terdapat beberapa pendapat
tentang terdiri dari apa saja keperawatan keluarga itu, namun dalam naskah ini
keperawatan keluarga terdiri dari konseptualisasi dan atau praktik.

2.1.2 Alasan Keluarga Sebagai Klien

Praktik yang dipusatkan pada keluarga telah diumumkan perawatan


kesehatan komunitas sejak bidang ini lahir. Tinkhan dan Voorthies (1984) percaya
bahwa keluarga menyediakan sumber-sumber yang penting untuk memberikan
pelayanan kesehtan yang penting bagi orang. Mereka merujuk pada keluarga
sebagai pasien dari perawat kesehatan komunitas, dengan fokus utamanya pada
kebutuhan-kebutuhan kesehtan keluarga. Berikut adalah alasan mengapa keluarga
menjadi fokus sentra dari perawatan:
1. Dalam sebuah unit keluarga, disfungsi apa saja (penyakit, cider, perpisahan)
yang mempengaruhi satu atau lebih anggota keluarga, dan dalam hal tertentu,
seringkali akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain dan unit ini secara
keseluruhan. Keluarga merupakan jaringan yang mempunyai hubungan erat

7
dan bersifat mandiri, dimana masalah-masalah seorang individu “menyusup”
dan mempengaruhi anggoat keluarga yang lain dan seluruh sistem. Jika
seorang perawat hanya menilai seorang individu, buakn keluarga, ia akan
kehilanga bagian (gestalt) yang dibutuhkan untuk memperoleh suatu
pengkajian holitik. Salah satu keyakinan atau prinsip terapi keluarga penting
adalah gejala-gejala seorang pasien yang telah diidentifikasi (anggota
keluarga dengan masalah-masalah perilaku umum penyakit psikosomatis)
adalah indeks tingkat adaptasi keluarga, atau dalam kasus ini disebutkan
maladaptasi.
2. Terdapat semacam hubungan yang kuat antara keluarga dan status kesehatan
anggotanya, bahwa peran dari keluarga sangat penting bagi setiap aspek
perawatan kesehatan anggota keluarga secara individu, mulai dari strategi-
strategi hingga fase rehabilitasi. Mengkaji atau menilai dan memberikan
perawatan kesehatan merupakan hal yang penting dalam membantu setiap
anggota keluarga untuk mencapai suatu keadaan sehat (wellnes) hingga
tingkat optimum.
3. Melalui perawatan kesehatan yang berfokus pada peningkatan, perawatan diri
(self-care), pendidikan kesehatan, dan konseling keluarga, serta upaya-upaya
dari lingkungan. Tujuan utamanya adalah untuk mengangkat derajat
kesehatan keluarga secara menyeluruh, yang mana secara tidak langsung
mengangkat derajat kesehatan dari setiap anggota keluarga.
4. Upaya menemukan kasus merupakan satu alasan bagus lainnya untuk
memberikan perawatan kesehatan. Adanya masalah pada salah satu anggota
keluarga dapat menyebabkan ditemukannya faktor-faktor resiko pada yang
lain. Ini sering menjadi masalah ketika mengunjungi keluarga yang memiliki
masalah-masalah kesehatan yang kronis atau penyakit-penyakit yang
menular. Perawat keluarga bekerja lewat keluarga agar dapat menyentuh
seluruh anggota keluarga.
5. Seseorang dapat mencapai suatu pemahaman yang telah jelas terhadap
inidividu-individu dan berfungsinya mereka bila individu-individu tersebut
dipandang dalam konteks keluarga mereka.

8
6. Mengingatkan keluarga merupakan sistem pendukung yang vital bagi
individu-individu, sumber dari kebutuhan-kebutuhan ini perlu dinilai dan
disatukan kedalam perencanaan tindakan bagi individu-individu.

2.1.3 Peran Perawat dalam Keluarga


Terdapat banyak peran perawat dalam membantu keluarga dalam
menyelesaikana masalah atau melakukan perawatan kesehatan pada keluarga,
diantaranya sebagai berikut.
1. Pendidik
Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga dengan
tujuan sebagai berikut.
a. Keluarga dapat melakukan program auhan kesehatan keluarga secara
mandiri,
b. Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga.
Pemberian pendidikan kesehatan/penyuluhan diharapkan keluarga mampu
mengatasi dan bertanggung jawab terhadap masalah kesehatannya.
2. Koordinator
Hal ini diperlukan pada perawatan berkelanjutan agar pelayanan yang
komprehensif dapat tercapai. Koordinasi juga sangat diperlukan untuk
mengatur program kegiatan atau terapi dari berbagai disiplin ilmu agar
tidak terjadi tumpang tindih dan pengulangan.
3. Pelaksana
Perawat yang bekerja dengan klien dan keluarga baik di rumah, klinik
maupun di rumah sakit bertanggung jawab dalam memberikan perawatan
langsung. Kontak pertama perawat kepada keluarga melalui anggota
keluarga yang sakit. Perawat dapat mendemostrasikan kepada keluarga
asuhan keperawatan yang diberikan dengan harapan keluarga nanti dapat
melakukan asuhan langsung kepadda anggota keluarga yang sakit.
4. Pengawas kesehatan
Pengawas kesehatan perawat harus melakukan home visit atau kunjungan
rumah yang teratur untuk mengidentifikasi atau melakukan pengkajian
tentang kesehatan keluarga. Perawat tidak hanya melakukan kunjungan
tetapi diharapkan aka tindak lnajut dari kunjungan inti.

9
5. Konsultan
Perawat sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah
kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat pada perawat maka
hubungan perawat dan keluarga harus dibina dengan baik, perawat harus
bersikap terbuka dan dapat dipercaya, msks dengan demikian, harus ada
Bina Hubungan Saling Percaya (BHSP) antara perawat dengan keluarga.
6. Kolaborasi
Perawat di komunitas juga harus bekerjasama dengan pelayanan rumah
sakit, puskesmas, dan anggota tim kesehatan yang lain untuk mencapai
tahap kesehatan keluarga yang optimal. Kolaborasi tidak hanya dilakukan
sebagai perawat di ruamh sakit tetapi juga di keluarga dan komunitas pun
dapat dilaksanakan.
7. Fasilitator, peran perawat komunitas adalah membantu keluarga dalam
menghadapi kendala untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal.
Kendala yang sering dialami keluarga adalah keraguan di dalam
menggunakan pelayanan kesehatan, masalah ekonomi dan sosial budaya.
Agar dapat melaksanakan peran fasilitator dengan baik, maka perawat
komunitas harus mengethaui sistem pelayanan kesehatan, misalnya sistem
rujukan dan dana sehat.
8. Penemu Kasus
Peran perawat komunitas yang juga sangat penting adalah
mengidentifikasi kesehatan secara dini sehingga tidak terjadi ledakan atau
kejadian luar biasa.
9. Modifikasi Lingkungan
Perawat juga harus mampu memodifikasi lingkungan, baik lingkungan
rumah, lingkungan masyarakat atau lainnya agar dapat tercipta lingkungan
yang sehat.
2.1.4 Elemen Kunci Efektifitas Kolaborasi
Kerjasama adalah menghargai pendapat orang lain dan bersedia untuk
memeriksa beberapa alternatif pendapat dan perubahan kepercayaan. Asertifitas
penting ketika individu dalam tim mendukung pendapat mereka dengan
keyakinan. Tindakan asertif menjamin bahwa pendapatnya benar-benar didengar

10
dan konsensus untuk dicapai. Tanggung jawab, mendukung suatu keputusan yang
diperoleh dari hasil konsensus dan harus terlibat dalam pelaksanaannya.
Komunikasi artinya bahwa setiap anggota bertanggung jawab untuk membagi
informasi penting mengenai perawatan pasien dan issu yang relevan untuk
membuat keputusan klinis. Otonomi mencakup kemandirian anggota tim dalam
batas kompetensinya. Kordinasi adalah efisiensi organisasi yang dibutuhkan dalam
perawatan pasien, mengurangi duplikasi dan menjamin orang yang berkualifikasi
dalam menyelesaikan permasalahan.
Kolaborasi didasarkan pada konsep tujuan umum, konstribusi praktisi
profesional, kolegalitas, komunikasi dan praktek yang difokuskan kepada pasien.
Kolegalitas menekankan pada saling menghargai, dan pendekatan profesional
untuk masalah-masalah dalam team dari pada menyalahkan seseorang atau atau
menghindari tangung jawab. Hensen menyarankan konsep dengan arti yang
sama: mutualitas dimana dia mengartikan sebagai suatu hubungan yang
memfasilitasi suatu proses dinamis antara orang-orang ditandai oleh keinginan
maju untuk mencapai tujuan dan kepuasan setiap anggota. Kepercayaan adalah
konsep umum untuk semua elemen kolaborasi. Tanpa rasa pecaya, kerjasama
tidak akan ada, asertif menjadi ancaman, menghindar dari tanggung jawab,
terganggunya komunikasi . Otonomi akan ditekan dan koordinasi tidak akan
terjadi.
Dasar-dasar kompetensi kolaborasi :
 Komunikasi
 Respek dan kepercayaan
 Memberikan dan menerima feed back
 Pengambilan keputusan
 Manajemen konflik
Komunikasi sangat dibutuhkan daam berkolaborasi karena kolaborasi
membutuhkan pemecahan masalah yang lebih kompleks, dibutuhkan komunikasi
efektif yang dapat dimengerti oleh semua anggota tim. Pada dasar kompetensi
yang lain, kualitas respek dapat dilihat lebih kearah honor dan harga diri,
sedangkan kepercayaan dapat dilihat pada mutu proses dan hasil. Respek dan
kepercayaan dapat disampaikan secara verbal maupu non verbal serta dapat dilihat

11
dan dirasakan dalam penerapannya sehari-hari.Feed back dipengaruhi oleh
persepsi seseorang, pola hubungan, harga diri, kepercayaan diri, kepercayaan,
emosi, lingkunganserta waktu, feed back juga dapat bersifat negatif maupun
positif. Dalam melakukan kolaborasi juga akan melakukan manajemen konflik,
konflik peran umumnya akan muncul dalam proses. Untuk menurunkan konflik
maka masing-masing anggota harus memahami peran dan fungsinya, melakukan
klarifikasi persepsi dan harapan, mengidentifikasi kompetensi, mengidentifikasi
tumpang tindih peran serta melakukan negosiasi peran dan tanggung jawabnya.
Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat
digunakan untuk mencapai tujuan kolaborasi team :
- Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan
menggabungkan keahlian unik profesional.
- Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
- Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
- Meningkatnya kohesifitas antar profesional
- Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
- Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan memahami
orang lain.
Terwujudnya suatu kolaborasi tergantung pada beberapa kreiteria yaitu (1)
adanya rasa saling percaya dan menghormati, (2) saling memahami dan menerima
keilmuan masing-masing, (3) memiliki citra diri positif, (4) memiliki kematangan
profesional yang setara (yang timbul dari pendidikan dan pengalaman), (5)
mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan, dan (6) keinginan untuk
bernegosiasi (Hanson & Spross, 1996). Inti dari suatu hubungan kolaborasi adalah
adanya perasaan saling tergantung (interdependensi) untuk kerja sama dan bekerja
sama. Bekerja bersama dalam suatu kegiatan dapat memfasilitasi kolaborasi yang
baik. Kerjasama mencerminkan proses koordinasi pekerjaan agar tujuan auat
target yang telah ditentukan dapat dicapai. Selain itu, menggunakan catatan klien
terintegrasi dapat merupakan suatu alat untuk berkomunikasi anatar profesi secara
formal tentang asuhan klien.

12
Kolaborasi dapat berjalan dengan baik jika :
 Semua profesi mempunyai visi dan misi yang sama
 Masing-masing profesi mengetahui batas-batas dari pekerjaannya
 Anggota profesi dapat bertukar informasi dengan baik
 Masing-masing profesi mengakui keahlian dari profesi lain yang tergabung
dalam tim.
Pemahaman mengenai prinsip kolaborasi dapat menjadi kurang berdasar jika
hanya dipandang dari hasilnya saja. Pembahasan bagaimana proses kolaborasi itu
terjadi justru menjadi point penting yang harus disikapi. Bagaimana masing-
masing profesi memandang arti kolaborasi harus dipahami oleh kedua belah pihak
sehingga dapat diperoleh persepsi yang sama.
Komunikasi dibutuhkan untuk mewujudkan kolaborasi yang efektif, hal
tersebut perlu ditunjang oleh sarana komunikasi yang dapat menyatukan data
kesehatan pasien secara komprenhensif sehingga menjadi sumber informasi bagi
semua anggota tim dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu perlu
dikembangkan catatan status kesehatan pasien yang memungkinkan komunikasi
dokter dan perawat terjadi secara efektif.
Pendidikan perawat perlu terus ditingkatkan untuk meminimalkan kesenjangan
profesional dengan dokter melalui pendidikan berkelanjutan. Peningkatan
pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan melalui pendidikan formal sampai
kejenjang spesialis atau minimal melalui pelatihan-pelatihan yang dapat
meningkatkan keahlian perawat.

2.1.5 Perawat Sebagai Kolaborator


Perawat sebagai seorang kolaborator melakukan kolaborasi dengan klien,
per group serta tenaga kesehatan lain. Kolaborasi yang dilakukan dalam praktek di
lapangan sangat penting untuk memperbaiki, agar perawat dapat berperan secara
optimal dalam hubungan kolaborasi tersebut, perawat perlu menyadari
akuntabilitasnya dalam pemberian asuhan keperawatan dan meningkatkan
otonominya dalam praktik keperawatan. Faktor pendidikan merupakan unsur
utama yang mempengaruhi kemampuan seorang profesional untuk mengerti
hakikat kolaborasi yang berkaitan dengan perannya masing-masing, kontribusi

13
spesifik setisp profesi, dan pentingnya kerja sama. Setiap anggota tim harus
menyadari sistem pemberian asuhan kesehatan yang berpusat pada kebutuhan
kesehatan klien, bukan pada kelompok pemberi asuhan kesehatan. Kesadaran ini
sangat dipengaruhi oleh pemahaman setiap anggota terhadap nilai-nilai
profesional.
Menurut Baggs dan Schmitt, 1988, ada atribut kritis dalam melakukan
kolaborasi, yaitu melakukan sharing perencanaan, pengambilan keputusan,
pemecahan masalah, membuat tujuan dan tanggung jawab, melakukan kerja sama
dan koordinasi dengan komunikasi terbuka.

2.2 Asuhan Keperawatan Kesehatan Berhubungan dengan Lingkungan


Keluarga Pasien
Manusia selalu berusaha untuk memahami kebutuhan melalui berbagai upaya
antara lain dengan selalu belajar dan mengembangkan sumber-sumber yang
diperlukan sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Dalam
kehidupan sehari-hari manusia secara terus menerus menghadapi perubahan
lingkungan dan selalu berusaha beradaptasi terhadap pengaruh lingkungan.
1. Fisik intelektual
2. Lingkungan Individu emosi
3. Sosial budaya spiritual
Pandangan tentang manusia sangat dipengaruhi oleh falsafah dan kebudayaan
bangsa. Sebagai contoh bangsa Rusia terutama penduduk asli dan tradisional tidak
menganut suatu agama (atheisme). Hal ini mempengaruhi pandangan mereka
tentang penciptaan manusia. Secara konseptual manusia adalah mahkluk tertinggi
diciptakan Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki kelebihan dibanding mahkluk
lain. Ia dapat berfikir secara abstrak dan dapat berbuat rasional sehingga dapat
membedakan hal yang baik dan batil. Manusia memiliki akal pikiran, perasaan
kesatuan jiwa dan raga mampu beradaptasi dan merupakan kesatuan sistem yang
saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi. Secara kodrat manusia
diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa terdiri dari unsur jasmani dan rohani
dengan kemampuan cipta rasa karsa sebagai individu dan makhluk sosial.
Keseimbangan aspek-aspek ini melahirkan konsep diri dan aktualisasi siri yang

14
positif. Keseimbangan inilah yang merupakan tujuan pembangunan bangsa
Indonesia manusia Indonesia seutuhnya yaitu bertakwa dan beriman kepada
Tuhan Yang Maha Esa, memiliki budi pekerti serta memiliki pengetahuan dan
keterampilan sehat jasmani dan rohani, memiliki kepribadian yang matur,
memiliki kemandirian dan tanggung jawab dalam berbagai hal kemasyarakatan.
Sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan dan praktek keperawatan,
manusia adalah klien yang dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat.
a. Individu sebagai klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari
aspek biologi psikologi sosial dan spiritual. Peran perawat pd individu
sebagai klien pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya mencakup
kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan
fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang menuju kemandirian
pasien.
b. Keluarga sebagai klien.
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara
terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain, baik secara perorangan
maupun secara bersama-sama didalam lingkungannya sendiri atau
masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi
dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada hirarki kebutuhan
dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan
nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, harga diri dan kebutuhan
aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis meliputi kebutuhan oksigen atau
bernapas, kebutuhan akan makanan dan minum, kebutuhan eliminasi urin
dan bowel, tidur dan istirahat serta kebutuhan seksualitas.
 Keluarga
Dipengaruhi oleh lingkungan fisik sosial psikologis, dimana ia
berada. Ada beberapa alasan yang menyebabkan keluarga menjadi
salah satu fokus pelayanan keperawatan. Pertama keluarga adalah unit
utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut
kehidupan masyarakat Indonesia dengan ciri khas budayanya berupa
konsep keluarga besar (extendad family) konsep ini sangat menonjol

15
sehingga keluarga sebagai lembaga perlu diperhitungkan. Kedua,
keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah,
memperbaiki atau mengatasi masalah- masalah kesehatan dalam
kelompoknya sendiri. Hampir setiap masalah kesehatan mulai dari
awal sampai pada penyelesaiannya akan dipengaruhi oleh keluarga.
Keluarga Keluarga merupakan sekelompok individu yang
berhubungan erat secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama
lain, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama didalam
lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga
dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia
dapat dilihat pada hirarki kebutuhan dasar Maslow yaitu kebutuhan
fisiologis, kebutuhan rasa aman dan nyaman, kebutuhan dicintai dan
mencintai, harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan
fisiologis meliputi kebutuhan oksigen atau bernapas, kebutuhan akan
makanan dan minum, kebutuhan eliminasi urin dan bowel, tidur dan
istirahat serta kebutuhan seksualitas. mempunyai peran utama dalam
pemeliharaan kesehatan seluruh anggota keluarga. Ketiga, masalah
kesaehatan dalam keluarga saling berkaitan. Terjadinya pada salah
satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga
tersebut. Peran dari anggota-anggota keluarga akan mengalami
perubahan, bila salah satu anggota keluarga menderita sakit. Disis lain
status kesehatan dari pasien juga sebagian akan ditentukan oleh
kondisi keluarganya. Keempat, dalam merawat pasien sebagai
individu, keluarga tetap berperan sebagai pengambil kepurusan dalam
keperawatannya.
Menurut Friedman (2002), fungsi keluarga yang terdiri dari fungsi
afekktif, fungsi sosial, fungsi ekonomi, fungsi reproduksi dan fungsi
perawatan kesehatan. Selain itu juga disebutkan struktur keluarga
yang terdiri dari komunikasi antar angggota keluarga sangatlah
penting.

16
2.3 Pelayanan Pemberi Asuhan Keperawatan kepada Pasien serta Keluarga
di Rumah.
Perawat yang bekerja di berbagai area praktek dan dengan berbagai kelompok
usia dalam melaksanakan tugasnya dapat menggunakan keluarga sebagai fokus
intervensi. Asuhan keperawatan yang diberikan berdasarkan pada masalah
kesehatan dari setiap anggota keluarga dan memperhatikan efek kedekatan antara
anggota. Di masa lalu, perawat-perawat komunitas meningkatkan kesejahteraan
keluarga melalui kunjungan ke rumah-rumah (Zerwekh, 1990). Melalui kunjungan
ke rumah, perawat memberikan kesempatan bagi keluarga untuk lebih menyadari
akan risiko masalah kesehatan, mempelajari cara-cara pencegahan dan cara
menggunakan sumber daya yang ada untuk meningkatkan kesehatan dan
pencegahan utama. Dasar hubungan perawat dan pasien merupakan mutual
humanity dan pada hakekatnya hubungan yang saling ketergantungan dalam
mewujudkan harapan pasien terhadap keputusan tindakan asuhan keperawatan.
Hubungan secara manusiawi antara pasien dan perawat sebagai pelaksana
asuhan keperawatan harus memahami bahwa penyebab bertambahnya kebutuhan
manusiawi secara universal menimbulkan kebutuhan baru serta membuat
seseorang (pasien) yang rentan untuk menyalahgunakan. Dengan demikian
bagaimanapun hakekat hubungan tersebut adalah bersifat dinamis, dimana pada
waktu tertentu hubungan tersebut dapat memperlihatkan karakteristik dari salah
satu atau semua pada jenis hubungan, dan perawat harus mengetahui bahwa
pasien yang berbeda akan memperlihatkan reaksi- reaksi yang berbeda terhadap
ancaman suatu penyakit yang telah dialami, dan dapat mengancam humanitas
pasien. Oleh sebab itu sebagai perawat professional, harus dapat mengidentifikasi
komponen- konponen yang berpengaruh terhadap seseorang dalam membuat
keputusan etik. Faktor- faktor tersebut adalah : faktor agama, sosial, pendidikan,
ekonomi, pekerjaan/ posisi pasien termasuk perawat, dokter dan hak-hak pasien,
yang dapat mengakibatkan pasien perlu mendapat bantuan perawat dalam ruang
lingkup pelayanan kesehatan. Disamping harus menentukan bagaimana keadaan
tersebut dapat mengganggu humanitas pasien sehubungan dengan integritas
pasien sebagai manusia yang holistic.

17
Perawatan di rumah merupakan aspek keperawatan komunitas yang
berkembang pesat. Pada tahun 1988-1992, jumlah perawat yang melakukan
perawatana di rumah meningkat menjadi 50%. Pada awalnya, keperawatan
komunitas dimulai dengan pelayanan yang diberikan bagi orang-orang miskin di
rumah mereka. Adapun tujuan pelayanan keperawatan di rumah memiliki lima
tujuan dasar, yaitu:
1. Meningkatkan “support system” yang adekuat dan efektif serta mendorong
digunakannya pelayanan kesehatan.
2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota
keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan.
3. Mendorong pertumbuhan dan perkembangan yang normal dari seluruh
anggota keluarga serta memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga
tentang peningkatan kesehatan dan pencegahan.
4. Menguatkan fungsi keluarga dan keadekuatan antar anggota keluarga.
5. Meningkatkan kesehatan lingkungan (Smith, 1995).

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan uraian penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
apapun bentuk dan tempatnya, kolaborasi meliputi suatu pertukaran pandangan
atau ide yang memberikan perspektif kepada seluruh kolaborator. Efektifitas
hubungan kolaborasi profesional membutuhkan mutual respek baik setuju atau
ketidaksetujuan yang dicapai dalam interaksi tersebut. Partnership kolaborasi
merupakan usaha yang baik sebab mereka menghasilkan outcome yang lebih
baik bagi pasien dalam mecapai upaya penyembuhan dan memperbaiki kualitas
hidup.

3.2 Saran
Perawat sebagai pemberi auhan keperawatan kepada pasien serta keluarga
harus lebih meningkatkan efektivitasnya dalam pemberian asuhan keperawatan
baik di rumah sakit atau pelayanan di rumah guna menciptakan hubungan
kolaborasi yang baik sehingga akan tercipta hubungan rasa percaya yang terjalin
melalui asuhan keperawatan yang baik.

19
DAFTAR PUSTAKA
Baggs, J.G. & Schmitt, M.H. (1988). Collaboration between nurses and
physicians. Journal of Nursing Scholarship, 20(3), 145-149.

Canadian Health Service Research Foundation. 2006. Teamwork in Healthcare:


promoting effective teamwork in healthcare in Canada.

Friedman, M. M. 2002. Buku Ajar Keperawatan Kelaurga Riset, Teori, dan


Praktik, Edisi Kelima, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.

Friedman, M. M. 1998. Family Nursing: Research, Theory and Practice. (4th ed.)
Coonecticut: Appleton-Century-Cropts

Kamus Heritage Amerika. 2000. Gita Media Press Jakarta

Lorraine M Wright RN PhD. 1988. Director, Family Nursing Unit, Professor,


Faculty of Nursing, University of Calgary, Calgary

Maureen Leahey RN PhD. 1988. Adjunct Associate Professor, University of


Calgary, Team Director, Mental Health Services. Director, Family Therapy
Institute, Holy Cross Hospital Calgary, Canada

Setyowati, S. 2008. Asuhan Keperawatan Keluarga. Mitra Cendikia: Yogyakarta.

Siegler, EL. (1999). Nurse-Physician Collaboration: Care of Adults and The


Elderly. (Terj. Indraty). Jakarta: EGC.

Sitorus, R. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit :


Penataan Struktur dan Proses (Sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di
Ruang Rawat. EGC: Jakarta

Smith, CM. 1995. Chapter 7. The Homet Visit: Opening Doors for Family Helath.
In Claudia M. Smith and FA. Maureen (Eds). Community Health Nursing:
Theory and Practice. Philadelphia: W.B. Saunders.

Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008, Gita Media Press Jakarta.

Zerwekh, J. 1990. Public Health Nursing Legacy: Historical Practical Wisdom.


Nursing and Health Care, 13 (2), 84-91. Baylon, S.G. dan Malagya, A.S.
(1987). Family Health Nursing: the process, Philippines UP College of
Nursing Diliman.

20

Anda mungkin juga menyukai