Anda di halaman 1dari 16

PANGKALAN UTAMA TNI AL VII KUPANG

RUMKITAL SAMUEL J. MOEDA

SURAT KETETAPAN KEPALA RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT


SAMUEL J. MOEDA KUPANG
Nomor : SK/ /I/2016

TENTANG
PEMAKAIAN ULANG (RE USE) PERALATAN DAN MATERIAL

KEPALA RUMKITAL SAMUEL J. MOEDA


Menimbang : 1. Bahwa panduan tentang pemakaian ulang proses
reuse-single use peralatan dan material dilaksanakan
untuk meminimalisasi limbah yang bertujuan untuk
mengurangi bahan (reduce) menggunakan kembali
(reuse)dan daur ulang limbah (recyle).
2. Bahwa untuk kepentingan tersebut diatas perlu
diterbitkan peraturan Direktur tentang panduan tentang
pemakaian ulang proses reuse-single use peralatan dan
material di rumah sakit Angkatan Laut Samuel J.
Moeda.

Mengingat : 1. Undang-undang No. 44 tentang rumah sakit


2. Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1691/MENKES/VIII/2004 Tentang Keselamatan Pasien
Rumah Sakit
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1204/Menkes/SK/PER/XI/2004 Tentang persyaratan
kesehatan lingkungan Rumah Sakit
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1087/Menkes/SK/VIII/2010 Tentang standar kesehatan
dan keselamatan kerja di Rumah Sakit
6. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
220/Menkes/Per/IX/1976/ Tertanggal 6 september 1976
7. Pedoman Menejerial Pencegahan dan Pengendalian
Infeksi di Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.
Departemen Kesehatan RI tahun 2007
8. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di
Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.
Departemen Kesehatan RI – Perhimpunan
Pengendalian Infeksi –JH PIEGO tahun 2007
MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR TENTANG PANDUAN


PEMAKAIAN ULANG (REUSE) PERALATAN DAN
MATERIAL
1. Panduan pemakaian ulang (reuse) tercantum dalam
lampiran peraturan ini
2. Panduan ini harus di bahas sekurang-kurangnya
setiap 3 tahun sekali dan apabila diperlukan dapat
dcdilakukan perubahan sesuai dengan
perkembangan yang ada.
3. Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan
dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat
kesalahan akan dilakukan perbaikan sebagaimana
mestinya.

Ditetapkan di Kupang
Pada tanggal
Karumkital Samuel J. Moeda Kupang

Mayor Laut (K) NRP.


dr. Slamet Rahardja, Sp.B
14581/P
PANGKALAN UTAMA TNI AL VII KUPANG Lampiran Surat Ketetapan Ka RSJM
RUMKITAL SAMUEL J. MOEDA Nomor : SK/ / 2016
Tanggal :

PEMAKAIAN ULANG (REUSE) PERALATAN DAN MATERIAL

BAB I
PENDAHULUAN

1) LATAR BELAKANG
Rumah sakit adalah suatu unit yang memiliki organisasi yang teratur, tempat
pencegahan dan penyembuhan penyakit. Peningkatan dan pemulihan
kesehatan penderita yang dilakukan secara multi disiplin oleh berbagai
kelompok professional terdidik dan terlatih yang menggunakan prasarana dan
sarana fisik, pembekalan farmasi dan alat kesehatan.
Rumah sakit memiliki karakteristik tersendiri dalam melaksanakan fungsinya.
Salah satunya rumah sakit merupakan sebuah institusi besar yang syarat
dengan peralatan berteknologi canggih yang dioperasionalkan oleh
sekumpulan orang dengan keahlian dan bakat sesuai yang diperlukan.
Menurut Menteri Kesehatan RI No. 220/Menkes/Per/IX/1976 tertanggal 6
september 1976. Yang dimaksud dengan alat kesehatan adalah barang,
instrument atau aparat yang digunakan untuk :
a. Pemeliharaan dan perawatan kesehatan dan alat kesehatan
b. Untuk membantu/mencegah kerusakan lebih lanjut
c. Untuk penyembuhan, pencegahan penyakit atau kelainan yang mengganggu
kesehatan
d. Dipakai untuk menentukan diagnosa
e. Pemulihan, perbaikan atau perubahan suatu fungsi badab/struktur badan
manusia
f. Diagnosa kehamilan atau pemeliharaan selama kehamilan dan setelah
kehamilan termasuk pemeliharaan bayi
g. Usaha mencegah kehamilan pada manusia , tidak termasuk golongan obat
h. Sebagai media invasive
i.
PENGGOLONGAN ALAT KESEHATAN ANTARA LAIN :
A. Menurut Fungsi
(1) Peralatan medis seperti :
 EGC monitor/alat-alat yang digunakan di ICU/ICCU
 Emergency set. Oksigen set dan alat dikamar operasi
 Alat-alat penunjang diagnose seperti otoskop, rinoskop,
thermometer dan tensimeter
 Utensillen seperti bak bengkok/nerbekken, urinal , bad pan dan
kateter
(2) Menurut Sifat Pemakaian
 Consumable/disposable/sekali pakai seperti spuit,kateter dan
kondom
 Peralatan tahan lama yang dipakaiterus menerus seperti instrument
operasi,bengkok dan otoskop
(3) Menurut Kegunaannya
 Sistem gastrointestinal seperti kateter canul dan NGT
 THT seperti otoskop dan rinoskop
 Sistem reproduksi seperti kateter, hegar dan speculum
vagina/instrument ginekologi
 Dentalogi/alat gigi
 Kardiovaskuler seperti ECG, layar monitor dan venulon dengan
banyak jenisnya
 Sistem ambulans/bantu gerak seperti kursi roda dan kruk
 Untuk terapi seperti lampu merah,blue life dan alat fisioterapi
 Perlindungan sisitem integument seperti wind ringi dan bantal angin
(4) Menurut Keputusan Menkes
 Preparat untuk pemeliharaan dan perawatan kesehatan
 Peptisidan dan insektisida pembasmi hama manusia dan binatang
piaraan
 Alat perawatan yang digunakan di salon kecantikan
 Wadah penampung yang terbuat dari plastik atau kaca untuk
penyimpanan obat atau penampung juga karet penutup botol
 Peralatan obstetric dan ginekologi
 Peralatan anastetika
 Peralatan dan kelengkapan kedokteran gigi
 Peralatan dan kelengkapan THT
 Peralatan kelengkapan rumah sakit umumnya
(5) Menurut sifat Bahan
 Bahan dasar logam seperti pinset,gunting dan jarum heating
 Bahan dasar karet atau plastik seperti kateter,sarung tangan dan
NGT
 Bahan dasar linen seperti sprei,sarung bantal dan selimut
 Bahan dasar kaca seperti termometerdan tabung reaksi
 Bahan dasar kertas seperti status pasien
(6) Menurut Umur Instrumen
 Consumable/disposable seperti spuit,jarum,kateter dan NGT
 Yang dapat dicuci/di sterilkanseperti gunting,pinset dan selimut
 Alat-alat penting dan mahal, umur lebih dari 5tahun seperti x-
ray,sterilisator dan alat ECG
Beberapa peralatan dapat digunakan berkali-kali, tetapi ada juga yang
harus di pakai satu kali (single use)karena bila di gunakan lebih dari satu kali
akan menimbulkan resiko infeksi. Dampak negatif dari peralatan single use
adalah menambah kuantitas (jumlah) limbah.
Rumah sakit sebagai institusi yang tugasnya memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat. Tidak terlepas dari tanggung jawab terhadap
kesehatan lingkungan di sekitarnya yaitu mengelola limbah medis dengan
benar (sesuai persyaratan). Elemen penting dalam pengelolaan limbah rumah
sakit menurut WHO yaitu minimalisasi limbah. Pemilihan, pengumpulan,
pengangkutan, penampungan,hingga tahap pemusnahan dan pembuangan
akhir. Upaya yang menjadi prioritas utama adalah dengan minimalisasi limbah
berupa reduksi limbah pada sumbernya dan upaya pemanfaatan limbah.

Minimalisasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk


mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan
(reduce), menggunakan kembali limbah (reuse), dan daur ulang limbah
(recycle).
2. TUJUAN
Agar semua karyawan dapat memahami minimalisasi limbah diantaranya
mengurangi bahan (reduce), menggunakan kembali limbah (reuse), dan daur
ulang (recycle)

3. PENGERTIAN
Minimalisasi limbah dapat dilakukan dengan mengurangi bahan (reduce),
menggunakan kembali limbah (reuse), dan daur ulang limbah (recycle).
a. Reduce
Reduksi pada sumber merupakan segala aktivitas yang dapat mengurangi
atau menghilangkan limbah sebelum terjadinya limbah atau mengurangi
limbah pada sumbernya. Konsep minimalisasi limbah berupa reduksi
limbah langsung dari sumbernya menggunakan pendekatan pencegahan
dan teknik meliputi perubahan bahan baku (pengelolaan bahan dan
modifikasi bahan), perubahan teknologi (modifikasi proses dan teknologi
bersih), praktek operasi yang baik (housekeeping, segregasi limbah,
preventive maintenance), dan perubahan produk yang tidak berbahaya.
b. Reuse
Penggunaan kembali (reuse) merupakan penggunaan barang atau limbah
untuk digunakan kembali untuk kepentingan yang sama tanpa mengalami
proses pengolahan atau perubahan bentuk. Reuse dapat mengurangi
biaya pembelian dan mengurangi limbah dari kegiatan perawatan pasien.
Berikut produk dari fasilitas kesehatan yang dapat direuse diantaranya
linen yang dapat digunakan kembali, perawatan pasien seperti pispot,
cekungan muntah, dan peralatan makan dapat digunakan kembali.
Sebaliknya jarum suntik tidak boleh di gunakan kembali karna dapat
membahayakan kesehatan. Walaupun dapat digunakan kembali. Rumah
sakit harus mengeluarkan biaya untuk membersihkan dan mensterilkan
peralatan tersebut.
Berikut beberapa contoh upaya pemanfaatan limbah berupa
penggunaan kembali (reuse) :
-Dari unit farmasi:
 Bahan-bahan kimia seperti desinfektan dimanfaatkan untuk
membersihkan lantai, bak sampah
 Bahan lain kimia seperti asam, basa, reagen kimia ditawarkan ke
pengguna potensial seperti laboratorium.
-Dari unit laboratorium:

 Alat-alat yang dapat dipakai ulang setelah dilakukan desinfeksi dan


sterilisasi seperti cawan petri (plate count agar), gelas kaca, gelas ukur,
tabung reaksi, desk glass, object glass, test tube 12x75, sample cup
conical.

c. Recycle

Daur ulang (recycle) merupakan upaya pemanfaatan limbah dengan cara


proses daur ulang melalui perubahan fisik atau kimia, baik untuk
menghasilkan produk yang sama maupun produk yang berlainan dengan
maksud kegunaan yang lebih.

Untuk setiap peralatan atau material yang bias digunakan kembali. Harus
melalui proses desinfeksi dan sterilisasi.

A. Pengertian

1. Dekontaminasi adalah upaya mengurangi dan/atau


menghilangkan kontaminasi oleh mikroorganisme pada orang,
peralatan, bahan, dan ruang melalui desinfeksi dan sterilisasi
dengan cara fisik dan kimiawi.

2. Desinfeksi adalah upaya untuk mengurangi/ menghilangkan


jumlah mikroorganisme patogen penyebab penyakit (tidak
termasuk spora) dengan cara fisik dan kimiawi.

3. Sterilisasi adalah upaya untuk menghilangkan semua


mikroorganisme dengan cara fisik dan kimiawi.

B. Persyaratan

1. Suhu pada desinfeksi secara fisik dengan air panas untuk


peralatan sanitasi 80oC dalam waktu 45-60 detik, sedangkan
untuk peralatan memasak 80oC dalam 1 menit.
2. Desinfektan harus memenuhi kriteria tidak merusak peralatan
maupun orang, desinfektan mempunyai efek sebagai deterjen
dan efektif dalam waktu yang relatif singkat, tidak terpengaruh
oleh kesadahan air atau keberadaan sabun dan protein yang
mungkin ada.

3. Penggunaan desinfektan harus mengikuti petunjuk pabrik.

4. Pada akhir proses desinfeksi terhadap ruang pelayanan medis


(ruang operasi dan ruang isolasi) tingkat kepadatan kuman pada
lantai dan dinding 0-5 CFU/cm 2, bebas mikroorganisme patogen
dan gas gangren. Untuk ruang penunjang medis (ruang rawat
inap, ruang ICU/ ICCU, kamar bayi, kamar bersalin, ruang
perawatan luka bakar, dan laundry) sebesar 5-10 CFU/cm 2.

5. Sterilisasi peralatan yang berkaitan dengan perawatan pasien


secara fisik dengan pemanasan pada suhu ± 121 oC selama 30
menit atau pada suhu 134oC selama 13 menit dan harus
mengacu pada petunjuk penggunaan alat sterilisasi yang
digunakan.

6. Sterilisasi harus menggunakan desinfektan yang ramah


lingkungan.

7. Petugas sterilisasi harus menggunakan alat pelindung diri dan


menguasai prosedur sterilisasi yang aman.

8. Hasil akhir proses sterilisasi untuk ruang operasi dan ruang


isolasi harus bebas dari mikroorganisme hidup.
BAB II

TATALAKSANA

1. Kamar/ ruang operasi yang telah dipakai harus dilakukan desinfeksi dan
sterilisasi sampai aman untuk dipakai pada operasi berikutnya.

2. Instrumen dan bahan medis yang dilakukan sterilisasi harus melalui persiapan
meliputi:

1. Persiapan sterilisasi bahan dan alat sekali pakai:

Penataan-pengemasan-pelabelan-sterilisasi.

2. Persiapan sterilisasi instrumen baru:

Penataan dilengkapi dengan sarana pengikat (bila diperlukan)-pelabelan-


sterilisasi

3. Persiapan sterilisasi instrumen dan bahan lama:

Desinfeksi-pencucian (dekontaminasi) – pengeringan (pelipatan bila perlu)


– penataan – pelabelan – sterilisasi.

3. Indikasi kuat untuk tindakan desinfeksi/ sterilisasi:

1. Semua peralatan medik atau peralatan perawatan pasien yang


dimasukkan ke dalam jaringan tubuh, sistem vaskuler atau melalui saluran
darah harus selalu dalam keadaan steril sebelum digunakan.

2. Semua peralatan yang menyentuh selaput lender seperti endoskopi, pipa


endotracheal harus disterilkan/ didesinfeksi dahulu sebelum digunakan.

3. Semua peralatan operasi setelah dibersihkan dari jaringan tubuh, darah,


atau sekresi harus selalu dalam keadaan steril sebelum dipergunakan.

4. Semua benda atau alat yang akan disterilkan/ desinfeksi harus terlebih dahulu
dibersihkan secara seksama untuk menghilangkan semua bahan organik (darah
dan jaringan tubuh) dan sisa bahan linennya.
5. Sterilisasi (132oC selama 3 menit pada gravity displacement steam sterlilizer)
tidak dianjurkan untuk implant.

6. Setiap alat yang berubah kondisi fisiknya karena dibersihkan, disterilkan atau
didesinfeksi tidak boleh dipergunakan lagi. Oleh karena itu, hindari proses ulang
yang dapat mengakibatkan keadaan toksin atau mengganggu keamanan dan
efektivitas pekerjaan.

7. Jangan menggunakan bahan seperti linen, dan lainnya yang tidak tahan terhadap
sterilisasi, karena akan mengakibatkan kerusakan seperti kemasannya rusak,
atau berlubang, bahannya mudah sobek, basah, dan sebagainya.

8. Penyimpanan peralatan yang telah disterilkan harus ditempatkan pada tempat


(lemari) khusus setelah dikemas steril pada ruangan:

1. Dengan suhu 18oC – 22oC dan kelembapan 35%-75%, ventilasi


menggunakan sistem tekanan positif dengan efisiensi particular antara
90%-95% (untuk particular 0,5 mikron)

2. Dinding dan ruangan terbuat dari bahan yang halus, kuat, dan mudah
dibersihkan.

3. Barang yang steril disimpan pada jarak 19 cm-24 cm.

4. Lantai minimum 43 cm dari langit-langit dan 5 cm dari dinding serta


diupayakan untuk menghindari terjadinya penempelan debu kemasan.

9. Pemeliharaan dan cara penggunaan peralatan sterilisasi harus memperhatikan


petunjuk dari pabriknya dan harus dikalibrasi minimal 1 kali satu tahun.

10. Peralatan operasi yang telah steril, jalur masuk ke ruangan harus terpisah
dengan peralatan yang telah terpakai.

11. Sterilisasi dan desinfeksi terhadap ruangan pelayanan medis dan peralatan
medis dilakukan sesuai permintaan dari kesatuan kerja pelayanan medis dan
penunjang medis.

Setiap rumah sakit harus melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber. Pemilahan
limbah harus dilakukan mulai dari sumber yang menghasilkan limbah. Limbah yang
akan dimanfaatkan kembali harus dipisahkan dari limbah yang tidak dimanfaatkan
kembali. Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa
memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. Wadah tersebut harus anti bocor, anti
tusuk dan tidak mudah untuk dibuka sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak
dapat membukanya. Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat
digunakan kembali.
Limbah padat medis yang akan dimanfaatkan kembali harus melalui proses
sterilisasi sesuai tabel 1.1. Untuk menguji efektifitas sterilisasi panas harus dilakukan
tes Bacillus stearothermophilus dan untuk sterilisasi kimia harus dilakukan tes
Bacillus subtillis.

Tabel 1.1. Metode Sterilisasi Untuk Limbah yang Dimanfaatkan kembali


Metode Sterilisasi Suhu Waktu Kontak
Sterilisasi dengan panas
- Sterilisasi kering dalam 160oC 120 menit
oven ”poupinel” 170oC 60 menit
- Sterilisasi basah dalam 121oC 30 menit
autoklaf
Sterilisasi dengan bahan kimia
- Ethyleneoxide (gas) 50oC – 60oC 3-6 jam
- Glautaraldehyde (cair) 30 menit

Limbah jarum hipodermik tidak dianjurkan untuk dimanfaatkan kembali. Apabila


rumah sakit tidak mempunyai jarum yang sekali pakai (disposible). Limbah jarum
hipodermik dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui proses salah satu metode
sterilisasi pada tabel 1.1.

Untuk limbah padat medis, hal yang perlu diperhatikan dalam proses pemilahan,
pewadahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang adalah sebagai berikut:

1. Dilakukan pemilahan jenis limbah padat medis mulai dari sumber yang terdiri dari
limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah
sitotoksik, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah kontainer bertekanan, dan
limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi
2. Tempat pewadahan limbah padat medis:

a. Terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan
mempunyai permukaan halus pada bagian dalamnya, misalnya
fiberglass.

b. Disetiap sumber penghasil limbah medis harus tersedia tempat


pewadahan yang terpisah dengan limbah padat non-medis

c. Kantong plastik diangkat setiap hari atau kurang sehari apabila 2/3
bagian telah terisi limbah

d. Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus


(safety box) seperti botol atau karton yang aman

e. Tempat pewadahan limbah padat medis infeksius dan sititoksik yang


tidak langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan
dengan larutan desinfektan apabila akan dipergunakan kembali,
sedangkan untuk kantong plastik yang telah dipakai dan kontak
langsung dengan limbah tersebut tidak boleh digunakan lagi

3. Bahan atau alat yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi
meliputi pisau bedah (scalpel), jarum hipodermik, syringes, botol gelas, dan
kontainer.

4. Alat-alat lain yang dapat dimanfaatkan kembali setelah melalui sterilisasi adalah
radionukleida yang telah diatur tahan lama untuk radioterapi seperti puns,
needles, atau seeds.

5. Apabila sterilisasi yang dilakukan adalah sterilisasi dengan ethylene oxide, maka
tangki reactor harus dikeringkan sebelum dilakukan injeksi ethylene oxide. Oleh
karena gas tersebut sangat berbahaya, maka sterilisasi harus dilakukan oleh
petugas yang terlatih. Sedangkan sterilisasi dengan glutaraldehyde lebih aman
dalam pengoperasiannya tetapi kurang efektif secara mikrobiologi

6. Upaya khusus harus dilakukan apabila terbukti ada kasus pencemaran


Spongiform encephalopathles.

Identifikasi Peralatan dan Bahan/material yang bisa di reuse


Tabel 1.1 Daftar Peralatan dan Bahan/Material

Daftar Peralatan dan Bahan/ Single use/ Reuse


Material

Selang naso Gastric (NGT) Single use

Kateter Single use

Jarum suntik Single use

Spuit Reuse

Linen Reuse

Pispot Reuse

Cekungan muntah Reuse

Peralatan makan Reuse

Cawan petri Reuse

Gelas kaca Reuse

Gelas ukur Reuse

Tabung reaksi Reuse

Desk gelas Reuse

Object glass Reuse

Test tube 12 x 75 Reuse

Sample cup conical Reuse

Endoskopi Reuse

Pipa endotrachel Reuse

Pisau bedah Reuse

Kontainer Reuse
Kondom Reuse

BAB III
DOKUMENTASI

Pengendalian infeksi nosokomial merupakan suatu upaya penting dalam


meningkatkan mutu pelayanan medis rumah sakit. Hal ini hanya dapat dicapai
dengan keterlibatan secara aktif semua personil rumah sakit. Mulai dari petugas
kebersihan sampai dengan dokter dan mulai dari pekerja sampai dengan jajaran
direksi. Kegiatannya dilakukan secara baik dan benar disemua sarana rumah sakit,
peralatan medis dan non-medis. Ruang perawatan dan prosedur serta lingkungan.

Kupang,
Karumkital Samuel J. Moeda

dr. Slamet Rahardja, Sp. B


Mayor Laut (K) NRP. 14581/P