Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Ilmu fisika disebut juga ilmu pengukuran (science of measurement).
Dalam hubungan ini Lord Kelvin (1824-1907), seorang sarjana fisika Inggris yang
termasyur, mengucapkan, “Saya sering berkata bila seseorang dapat memberikan
ukuran pada sesuatu yang dibicarakannya itu; tetapi bila tidak mampu
mengungkapkan dengan angka-angka, berarti pengetahuannya dangkal dan tidak
memuaskan, paling-paling baru merupakan awal suatu pengetahuan. Tingkat
pemikirannya masih jauh dari tingkat ilmu, apa pun yang menjadi pokok
pembicaraannya” ( Sears dan Zemansky, 1985).
Fisika adalah studi tentang atribut terukur dari benda. Konsep dasar fisika
didefinisikan dalam pengukuran – pengukuran dan maksud teori-teori fisis adalah
untuk mengkorelasikan hasil-hasil pengukuran (Sears dan Zemansky, 1985).
Definisi mengukur adalah membandingkan sesuatu yang diukur dengan
sesuatu yang lain yang sejenis yang ditetapkan sebagai satuan. Pengukuran
memungkinkan untuk menggunakan satu alat ukur atau lebih untk nilai dari suatu
besaran fisis. Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran adalah
memilih dan merangkai instrumen secara benar. Selanjutnya yang harus
diperhatikan adalah langkah-langkah pengukuran dan membaca nilai yang
ditunjukkan alat secar tepat. Dalam kebanyakan instrument, ketelitian dijamin
sebagai persentase tertentu dari skala penuh. Ketelitian pengukuran sangat
diperlukan dalam mendesaii sebuah alat. Kekurangtelitian seringkali membuat alat
tersebtu tidak berfungsi secara optimal atau bahkan tidak berfungsi sama sekali
(Kardiawarman, 1992).
Kaidah untuk mengukur besaran mekanika yasng tak terdefinisikan
ditentukan oleh suatu badan internasional yang bernama General Conference on
Weights and Measures. Semua negara besar mempunyai wakil dalam badan ini.
Salah satu fungsi pokoknya ialah menetapkan suatu standar untuk setiap besaran
yang tak terdefinisikan. Standar ini dapat berupa suatu barang nyata, dengan
syarat bahwa sifatnya tidak boleh berubah-ubah (Sears dan Zemansky, 1985).

1
1. 2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini adalah agar praktikan :
1. Mampu menggunakan alat ukur yang digunakan dalam praktikum fisika.
2. Mengenal besar ketelitian pengukuran dari alat-alat ukur dasar.
3. Mengenal apa yang dimaksud dengan skala nonius.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam kehidupan sehari-hari manusia banyak sekali berinteraksi dengan


alat-alat ukur. Ada berbagai macam alat ukur seperti, timbangan (pengukur
massa), penggaris/mistar (pengukur panjang), meteran(pengukur panjang) dan
lain sebagainya. Biasanya yang kita ketahui hanyalah macam ukuran/kemampuan
daya ukur dari alat-alat ukur di atas. Ada timbangan yang mampu mengukur
massa dari 1ons hingga 5 kg, ada juga timbangan yang mampu menimbang dari
massa 1mg hingga 1 kg dan sebagainya.
Secara fisis dalam fisika juga ditemukan berbagai alat-alat ukur. Alat-alat
ukur yang biasanya digunakan pada praktikum fisika ada beberapa macam
diantaranya :
1. Nonius
Skala nonius merupakan cara interpelasi pasti. Banyak alat yang mempunyai
tambahan pada skalanya, yaitu skala nonius. Biasanya, nonius mempunyai 10
bagian sama panjang pada skalanya terhadapa 9 bagian skala utama. Cara
pembacaan skala yaitu dengan menginterpelasikan (interpelating) harga skala di
sebelah kiri garis indeks dan penambahan fraksi (bagian) yang merupakan
perkiraan posisi garis indeks di antara kedua garis skala (Djonoputro, 1984).
1 9

0 5
Selanjutnya marilah kita lihat hasil pengukuran lain dengan alat Bantu
nonius tersebut seperti yang ditunjukkan pada gambar. Skala 0 pada nonius tidak
berimpit dengan salah satu angka pada sklala alat ukur, melainkan terletak antara
kedudukan 8.4 dan 8.5 . Berapakah harga X menurut hasil pembacaan ini ?
Cobalah anda perhatikan gambar 2 lebih teliti lagi. Ternyata salah satu garis skala
nonius ada yang berimpit dengan skala ukur yaitu skala ke-6 dari skala nonius.
Dalam keadaan pengukuran semacam ini menunjukkan bahwa harga X yang
diukur adalah 8.46 .

3
Secara umum hitungan terkecil dengan nonius 1/n x hitungan terkecil tanpa
nonius, n adalah jumlah bagian yang ada pada skala nonius. Nonius digunakan
untuk mengukur panjangnya suatu benda yang kita inginkan biasanya dalam skala
yang kecil (Program Studi Fisika, 2007).
2. Jangka Sorong
Jangka sorong merupakan suatu alat pengukuran yang cepat dan relatif teliti
untuk mengukur diameter dalam, luar dan dalam suatu tabung, yang memiliki
bentuk seperti gambar 2 di bawah ini.
knife-edge for slide
inside
Guide bar

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

vernier

Rahang tetap Rahang geser

Gambar 2. Jangka sorong


Jangka sorong berfungsi untuk mengukur bagian luar : panjang, lebar, dan
diameter. Bagian dalam :dalamnya lubang atau lebar lubang. Jangka sorong
mempunyai tingkat ketelitian 0,1 sampai 0,02 mm. Cara pembacaan jangka
sorong dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Setelah selesai mengukur lihatlah kedudukan strip nol pada rangka mulut
geser jangka sorong, misalnya menunjukkan strip ke-21 pada rangka tetap
berarti hasil pengukuran 21 mm.
b. Perhatikan strip nonius mana yang paling segaris/lurus. Misalnya yang paling
lurus dengan rangka adalah strip ke-3, ini berarti mempunyai harga 0,3 mm.
Jadi hasil pengukuran selengkapnya adalah 21,3 mm (Daryanto, 2000).
Agar pembacaan hasil pengukuran jangka sorong dapat tepat maka terlebih
dahulu harus menentukan tingkat ketelitian jangka sorong tersebut. Untuk
menentukan ketelitian jangka sorong tersebut dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Melihat panjangnya angka pada nonius jangka sorong, misalnya 19 mm.
b. Menghitung banyaknya strip pada nonius misalnya 20.

4
c. Menentukan jarak strip nonius yaitu 19/20 mm.
d. Menentukan selisih strip pada rangka dan strip pada nonius, besarnya selisih
kedua strip tersebut adalah 1-19/20 = 1/20 mm maka ketelian jangka sorong
tersebut adalah 1/20 mm atau dengan cara yang sama ketelitian jangka sorong
dengan tingkat ketelitian 0,01 mm, 0,1 mm, dsb dapat ditentukan (Daryono,
2000).
3. Mikrometer Sekrup
Mikrometer dapat digolongkan menjadi :
a. Mikrometer luar
b. Mikrometer dalam
c. Mikrometer kedalaman
d. Mikrometer roda gigi
Mikrometer luar digunakan untuk mengukur diameter luar, tebal, dan lebar
suatu benda kerja. Mikrometer dalam digunakan untuk mengukur diameter lubang
dan lebar celah. Mikrometer kedalaman untuk mengukur dalamnya lubang,
step/tahapan dan tingkat bagian luar dan dalamnya benda kerja. Sedang
mikrometer roda gigi berfungsi untuk mengukur tebal dan tusuk roda gigi.
Mikrometer mempunyai kapasitas : 0-25 mm; 25-50 mm; 50-75 mm; 75-100 mm;
100-125 mm; 125-150 mm. Pada batang suatu mikrometer terdapat ukuran 25 mm
(0-25 mm) dibagi menjadi 25 bagian, maka 1 bagian 1 mm. Tiap-tiap strip yang
berjarak 1 mm dibagi menjadi 2 bagian yang sama yaitu 0,5 mm. Pada sarung
mikrometer terdapat skala pembagian 50 strip sehingga satu keliling lingkaran
pada sarung dibagi menjadi 50 bagian yang sama. Jika sarung diputar satu kali
atau 50 strip, spindle bergerak maju atau mundur satu strip (0,5 mm), maka satu
strip pada sarung besarnya 0,5 : 50 = 0,01 mm. Harga ini merupakan ketelitian
untuk mikrometer (Daryanto,2000).
Mikrometer adalah alat ukur linier yang mempunyai kecermatan lebih baik
daripada mistar ingsut.
a. Mikrometer luar, untuk mengukur dimensi luar.
b. Mikrometer luar dengan landasan tetap.
c. Mikrometer bangku, untuk mengukur dimensi luar dengan kecermatan
0,002 mm, untuk mengukur diameter mayor ulir.

5
d. Mikrometer dalam silinder, untuk mengukur diameter dalam dengan kedua
ujung berfungsi sebagai sensor.
e. Mikrometer dalam, untuk mengukur diameter dalam.
f. Mikrometer dalam tiga kaki, untuk mengukur diameter dalam dengan
cermat.
g. Mikrometer dalam jenis rahang, untuk mengukur diameter dalam posisi
sulit.
h. Mikrometer piringan, untuk mengukur jarak antara beberapa gigi
(Anonim, 2007).

Benda Rahang geser selubung luar


-
-
-
-

selubung roda bergerigi

skala utama

Gambar 3. Mikrometer sekrup

4. Neraca Teknis
Neraca biasanya digunakan untuk mengukur massa sebuah benda dengan
membandingkan benda tersebut pada ukuran standar massa. Massa dibandingkan
dengan blok penyeimbang sedangkan skala utama akan memberikan ukuran yang
berbeda tiap bagian pada keadaan gravitasi yang berbeda. Balok penyeimbang
akan sangat teliti membandingkan massa di manapun juga (Robbinson dan
Hewwit, 2001).

6
Gambar 4 Neraca teknis
5. Mistar
Mistar untuk pembacaan skala linier Mistar adalah alat ukur standar yang
dapat mengukur dengan akurat. Mistar mempunyai derajat ketelitian atau skala
terkecil 0,1 cm atau 1 mm. Dalam mengukur panjang suatu benda dengan
menggunakan mistar, maka diusahakan untuk bagian yang skalanya lebih kecil.

1 2

Gambar 5. Mistar

7
BAB III
METODE PERCOBAAN

3. 1 Alat dan Bahan


1. Aluminium foil / plat tipis, digunakan sebagai objek yang membantu
percobaan.
2. Batangan besi digunakan sebagai objek yang membantu percobaan.
3. Kelereng, sebagai objek yang akan digunakan untuk diukur diameter dan
massanya.
4. Penggaris, sebagi alat yang digunakan untuk mengukur panjang benda.
5. Kawat besi, sebagai objek yang akan diukur diameter, panjang dan massa,
diameter 1,00 mm dan panjang 10 m.
6. Tabung gelas, sebagai objek yang akan diukur diameter luar, dalam, dan
kedalaman, dengan panjang 80 mm, 100 mm dan 120 mm.
7. Kubus, sebagai objek yang akan diukur massa, panjang, lebar dan tinggi.
8. Jangka sorong, digunakan untuk mengukur diameter luar, dalam dan dalan
suatu tabung.
9. Mikrometer sekrup, digunakan untuk mengukur panjang benda.
10. Neraca Teknis, digunakan untuk mengukur berat benda.

3. 2 Prosedur Percobaan
A. Mengukur Dimensi Kawat
1. Mengukur panjang, diameter dan massa kawat yang diberikan.
2. Memilih alat ukur yang sesuai.
3. Melakukan pengukuran beberapa kali untuk mendapatkan variasi
data.
4. Mengulangi langkah untuk kawat yang berbeda.
B. Mengukur Rapat Jenis Benda
1. Melakukan pengukuran.

8
a. Mengukur dimensi dan massa dari benda yang diberikan.
b. Memilih alat ukur panjang yang tepat.
c. Melakukan pengukuran beberapa kali untuk mendapatkan
variasi data.
d. Mengulangi langkah untuk benda yang berbeda.
2. Mengukur volume dari benda-benda di atas dengan menggunakan
gelas ukur.
3. Melakukan pengukuran beberapa kali untuk mendapatkan variasi
data.

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan


1. Kubus
Penguku Kubus I Kubus II Kubus III
No. 1 2 3 1 2 3 1 2 3
ran
1. Sisi 19,8 19,75 19,8 30,5 30,5 30,5 52,1 52,1 52,1

(cm)
2. Massa 10,00 10,00 10,00 10,01 10,01 10,01 60,00 60,00 60,00
76 76 76 1 1 1 2 2 2
(gr)
3. Volume 0,1 0,11 0,1 1,5 1,6 1,4 5 5,5 5,5
(mL)

2. Kelereng
Penguku Kelereng I Kelereng II
No. 1 2 3 1 2 3
ran
1. Massa 8,35.10-3 8,35.10-3 8,35.10-3 20,0081 20,0081 20,008
(gr) 1
2. Diameter 12,015 12,015 12,015 19 19 19,01
(cm)
3. Volume 0,01 0,01 0,01 0,05 0,05 0,06
(mL)

3. Kawat
Kawat
No. Pengukuran
1 2 3
1. Panjang (mm) 261 262 262
2. Diameter (mm) 0,005 0,005 0,005
3. Volume (mL) 0,015 0,015 0,014

10
4. Gelas Ukur
Gelas Ukur I Gelas Ukur II
No. Pengukuran
1 2 3 1 2 3
1. Diameter luar 41,5 41,45 41,55 87,8 88 88
(mm)
2. Diameter luar 38,6 38,6 38,6 84,4 84,6 84,65
(mm)
3. Kedalaman 50 50,2 49,8 116,6 116 116
(mm)

4.2 Perhitungan dan Analisa Data


4.2.1 Mengukur Dimensi Benda
A. Perhitungan Pengukuran Dimensi Benda Untuk Data Pengamatan
tabel 1
1. Kubus
a.Kubus I
Diketahui : s1 = 19,8 mm
s2 = 19,75 mm
s3 = 319,8 mm
Ditanya : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
ΔV = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 19 , 8 + 19 ,75 +19,8
= 59 , 35 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 59,35
3
= 19,78 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:



δx

11

n= 3 −

− ∑ ( x i −x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(19 ,8−19 ,78 )2 + (19 , 75−19 , 78)2 + (19 , 8−19 ,78 )2
3 (3−1 )
= 0,017 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x= x ±δx
= 19,78 ± 0,017

Kesaksamaan = 100 −
()
δx

x

= 100 − (190,017
, 78 )
= 100
Teori sesatan:
Volume kubus (V) = s3
= (30,5)3 = 7762,392 mm3
ΔS = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,01 = 0,005 mm

ΔV 1 =
[ ]
ΔS
S
.V

= [ ]
0,005
30 ,5
. 7762, 392

= 1, 96 mm 3
b. Kubus II
Diketahui : s1 = 30,5 mm
s2 = 30,5 mm
s3 = 30,5 mm
Ditanya : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
ΔV = ...?
Jawab:

12
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 30 , 5+ 30 , 5 + 30 ,5
= 91, 5 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 913,5 = 30 ,5 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i= 1
δx=
n ( n−1 )

=

(30 ,5−30 ,5 )2 + (30 , 5−30 , 5 )2 + (30 ,5−30 ,5 )2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x= x ±δx
= 30,5 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
()
δx

x

= 100 − (300 ,5 )
= 100
Teori sesatan:
Volume kubus (V) = s3
= (30,5)3 = 28372,625 mm3
ΔS = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,01 = 0,005 mm

13
ΔV 1 =
[ ]
ΔS
S
.V

= [ ]
0,005
19 , 8
. 28372, 625

= 4,651 mm 3
c.Kubus III
Diketahui : s1 = 52,1 mm
s2 = 52,1 mm
s3 = 52,1 mm
Ditanya : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
ΔV = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 52,1 + 52,1 + 52,1
= 156 ,3 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 1563 ,3 = 52,1 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x)2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(52, 1−52 , 1)2 + (52 ,1−52 ,1 )2 + (52, 1−52 , 1)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 52,1 ± 0

14

Kesaksamaan = 100 −
() δx

x

= 100 − (520 , 1 )
= 100
Teori sesatan:
Volume kubus (V) = s3
= (52,1)3 = 141420,761 mm3
ΔS = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,01 = 0,005 mm

ΔV 1 =
[ ]ΔS
S
.V

= [ ]
0,005
52 , 1
. 141420, 761

= 13 , 572 mm 3
Tabel hasil perhitungan dimensi kubus
(zi -    ΔVx ΔVy ΔVz
 
(xi- x )2 (yi - y (zi - z
(mm3) (mm3) (mm3)
(xi - x) (yi - y) 
No. (mm) )2
z) 2
)
(mm) (mm)
(mm) (mm)
(mm)
-4
1. 0,02 -0,03 0,02 4.10 9.10-4 4.10-4 1,96 1,95 1,96
2. 0 0 0 0 0 0 4,651 4,651 4,651
3. 0 0 0 0 0 0 13,572 13,572 13,572

2. Kelereng
a. Kelereng I
Diketahui : d1 = 12,015 mm
d2 = 12,015 mm
d3 = 12,015 mm
Ditanya : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
ΔV = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3

15
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 12 , 015+ 12 ,015 + 12 , 015
= 36 ,045 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 36 ,045
3
= 12 ,015 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i= 1
δx=
n ( n−1 )

=

(12, 015−12, 015 )2 + (12 ,015−12 , 015)2 + (12 , 015−12 , 015)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ±δx
= 12,015 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
( ) δx

x
0
= 100 − ( 12 , 015 )
= 100
Teori sesatan:
Volume kelereng (V) =
4
π . xi
3
4
. 3,14 . 12,015 = 50,303 mm3
3

ΔXi = ½ . skala terkecil


= ½ . 0,01 = 0,005 mm

16
ΔV 1 = 3 π
ΔS
S [ ]
. V1

= 3π
0,005
19 ,8 [ ]
. 50 ,303

= 0, 197 mm 3
b. Kelereng II
Diketahui : d1 = 19 mm
d2 = 19mm
d3 = 19 mm
Ditanya : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
ΔV = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 19+ 19 + 19
= 57 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 573 = 19 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i= 1
δx=
n ( n−1 )

=

(19−19 )2 + (19−19 )2 + (19−19 )2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 19 ± 0

17

Kesaksamaan = 100 −
()
δx

x
0
= 100 − ( )
19
= 100
Teori sesatan:
Volume kelereng (V) =
4
π . xi
3
4
. 3,14 . 19 = 79,547 mm 3
3
ΔXi = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,01 = 0,005 mm

ΔV 1 = 3 π
[ ]
ΔS
S
. V1

= 3π [ ]
0,005
19 ,8
. 79 ,547

= 0, 197 mm 3

3. Kawat
Diketahui : d1 = 0,015 mm T1 = 261 mm
d2 = 0,015 mm T2 = 262 mm
d3 = 0,015 mm T3 = 262 mm
Ditanyakan : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
ΔV = ...?
Jawab:
a. Untuk Diameter
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 0,015+0,015 + 0, 015
= 0,045 mm

18
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 0, 045
3
= 0, 015 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(0,015−0, 015 )2 + (0,015−0, 015 )2 + (0,015−0, 015 )2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 0,015 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
() δx

x

= 100 − ( 00,015 )
= 100
b. Untuk Panjang Kawat
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 261+ 262 + 262
= 785 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 785
3
= 261 ,667 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx

19

n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(261−261 ,667 )2 + (261−261, 667 )2 + (261−261 , 667 )2
3 (3−1 )
= 0,333 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 261,667 ± 0,333

Kesaksamaan = 100 −
( )
δx

x

= 100 − ( 0,333
261, 667 )
= 99 , 998
Teori Sesatan:
Volume kawat (V) = πr2T
= 3,14 . (0,0075)2 . 261
= 0,05 mm3
Δr1 = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,01 = 0,005 mm
ΔT1 = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,001 = 0,0005 mm

ΔV 1 = 2
[[ Δr ΔT
r
+
T
. V1
] ]
= 2
[[ 0,005
+
0, 0005
0,0075 261
. 0, 05 ] ]
= 0,067 mm3
Tabel hasil perhitungan dimensi kawat

  (T1 - T )2  ΔV
No. (T1 - T ) (mm) (d1 - d ) (mm) (d1 - d )2 (mm)
(mm) (mm3)
1. -0,667 0 0,445 0 0,067
2. 0,333 0 0,111 0 0,067

20
3. 0,333 0 0,111 0 0,067

4. Gelas Ukur
a. Diameter Dalam
a.1 Gelas Ukur 1
Diketahui : d1 = 38,6 mm
d2 = 38,6 mm
d3 = 38,6 mm
Ditanyakan : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 38 ,6+38 , 6 + 38 ,6
= 115 , 8 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 115,3 8 = 38, 6 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(38 ,6−38 , 6 )2 + (38 ,6−38 , 6 )2 + (38 ,6−38 , 6)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 38 ,6 ± 0

21

Kesaksamaan = 100 −
()δx

x

= 100 − (380 ,6 )
= 100
Tabel hasil perhitungan diameter dalam gelas ukur I
 
No. Nilai Terukur (mm) (xi - x ) (mm) (xi - x )2 (mm)
1. 38,6 0 0
2. 38,6 0 0
3. 38,6 0 0

a.2 Gelas Ukur 2


Diketahui : d1 = 84,4 mm
d2 = 84,6 mm
d3 = 84,65 mm
Ditanyakan : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 84 , 4+84 , 6 + 84 , 65
= 235 , 65 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 235,65
3
= 84 ,55 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(84 , 4−84 ,55 )2 + (84 ,6−84 ,55 )2 + (84 , 65−84 , 55)2
3 (3−1 )
= 0,108 mm

22
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 84 ,55 ± 0,108

Kesaksamaan = 100 −
() δx

x

= 100 − ( 0,108
84 , 55 )
= 99 , 998

b. Diameter Luar
b.1 Gelas Ukur I
Diketahui : d1 = 41,5 mm
d2 = 41,45 mm
d3 = 41,55 mm
Ditanyakan : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 41 ,5+41 , 45 + 41 ,55
= 124 ,5 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 1243 , 5 = 41 , 5mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x)2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(41,5−41, 5 )2 + (41, 45−41 ,5 )2 + (41, 55−41 ,5 )2
3 (3−1 )
= 0 mm

23
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 41,5 ± 0,029

Kesaksamaan = 100 −
() δx

x

= 100 − ( 0,029
41 ,5 )
= 100
Tabel hasil perhitungan diameter luar gelas ukur I
 
No. Nilai Terukur (mm) (xi - x ) (mm) (xi - x )2 (mm)
1. 41,5 0 0
2. 41,45 - 0,05 0,0025
3. 41,55 0,05 0,0025

b.1 Gelas Ukur II


Diketahui : d1 = 87,8 mm
d2 = 88 mm
d3 = 88 mm
Ditanyakan : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
ΔV = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 87 , 8+88 + 88
= 263 , 8 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 2633 , 8 = 87 , 93 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx

24

n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(87 , 8−87 , 93)2 + (88−87 , 93 )2 + (88−87 , 93)2
3 (3−1 )
= 0,067 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 87,93 ± 0,067

Kesaksamaan = 100 −
()
δx

x

= 100 − ( 0,067
87 , 93 )
= 99 , 999
Tabel hasil perhitungan diameter luar gelas ukur I
 
No. Nilai Terukur (mm) (xi - x ) (mm) (xi - x )2 (mm)
1. 87,8 - 0,13 0,0169
2. 88 0,07 0,0049
3. 88 0,07 0,0049

c. Kedalaman
c.1 Gelas Ukur I
Diketahui : h1 = 50 mm
h2 = 50,2 mm
h3 = 49,8 mm
Ditanya : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 50+50 ,2 + 49 , 8
= 150 mm

25
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 150
3
= 50 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i= 1
δx=
n ( n−1 )

=

(50−50 )2 + (50 ,2−50)2 + ( 49 , 8−50 )2
3 (3−1 )
= 0,115 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 50 ± 0,115

Kesaksamaan = 100 −
( ) δx

x
0,115
= 100 − ( 50 )
= 99 , 997

c.2 Gelas Ukur II


Diketahui : h1 = 116,6 mm
h2 = 116 mm
h3 = 116 mm
Ditanya : Nilai sebenarnya x = ...?
Kesaksamaan = ...?
Jawab:
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 116 , 6+116 + 116
= 348 , 6 mm

26
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 3483 ,6 = 116,2 mm
i= 1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i= 1
δx=
n ( n−1 )

=

(116, 6−116 , 2)2 + (116−116 ,2 )2 + (116−116, 2)2
3 (3−1 )
= 0,2 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 116 ,2 ± 0,2

Kesaksamaan = 100 −
() δx

x
0,2
= 100 − (116 ,2 )
= 99 , 998

d. Ketebalan
d.1 Gelas Ukur I
Dluar 1 − D dalam 1
Ketebalan (T 1 ) =
2
41,5 − 38,6
=
2
= 1,45 mm
d.2 Gelas Ukur II

27
Dluar 1 − D dalam 1
Ketebalan (T 1 ) =
2
116 ,6 − 87,8
=
2
= 14 ,4 mm
Tabel hasil perhitungan
Gelas Ukur I Gelas Ukur II
No. Dl Dd (mm) T (mm) Dl Dd T (mm)
(mm) (mm) (mm)
1. 41,5 38,6 1,45 87,8 84,4 1,7
2. 41,45 38,6 1,425 88 84,6 1,7
3. 41,55 38,6 1,475 88 84,65 1,675

4.2.2 Perhitungan Massa Jenis Benda


1. Kubus
a. Kubus I
Diketahui : m1 = 10,0076 gr V1 = 0,1 mL
M2 = 10,0076 gr V2 = 0,11 mL
M3 = 10,0076 gr V3 = 0,1 mL
Ditanya : ρ = ...?
Jawab:
m
ρ=
v
ρ1 = 100 , 076 gr/mL; ρ2 = 90 , 978 gr /mL ; ρ3 = 100 , 076 gr/mL
Δm = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,1 = 0,05 gr
ΔV = ½ . skala terkecil
= 1/2 . 1 = 0,5 mL

[
Δm ΔV
Δρ1 = | + | . ρ
m V ]
=| [
0,05 0,5
+ | . 100 ,076
10,0076 0,1 ]
= 500 ,88 gr/mL
Jumlah pengukuran (n) = 3

28
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 10 , 0076+10 , 0076 + 10 , 0076
= 30 , 0228 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 30, 0228
3
= 10 ,0076 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x)2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(10 ,0076−10 , 0076 )2 + (10 ,0076−10 , 0076 )2 + (10 ,0076−10 , 0076)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 10 ,0076 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
( )
δx

x
0
= 100 − ( 10 , 0076 )
= 100
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ yi = y1 + y2 + y3
i =1
= 0,1+0,11 +0,1
= 0,31 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ y i = 0,31
3
= 0,103 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx

29

n=3 −

− ∑ ( y i − y )2
i =1
δy=
n ( n−1 )

=

(0,1−0, 103)2 + (0,11−0, 103)2 + (0,1−0,103 )2
3 (3−1 )
= 0, 001 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
y=y±δy
= 0,31 ± 0,001

Kesaksamaan = 100 −
( )
δy

y

= 100 − ( 0,001
0,31 )
= 99 , 996

b. Kubus II
Diketahui : m1 = 10,011 gr V1 = 1,5 mL
m2 = 10,011 gr V2 = 1,6 mL
m3 = 10,011 gr V3 = 1,4 mL
Ditanya : ρ = ...?
Jawab:
m
ρ=
v
ρ1 = 6,674 gr/mL; ρ2 = 6, 257 gr /mL; ρ3 = 7, 151 gr/mL
Δm = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,1 = 0,05 gr
ΔV = ½ . skala terkecil
= 1/2 . 1 = 0,5 mL

30
Δm ΔV
[
Δρ1 = | + | . ρ
m V ]
=| [
0,05 0,5
+ | . 6,674
10,011 1,5 ]
= 2,258 gr/mL
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 10 , 011+10 ,011 + 10 , 011
= 30 , 033 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ x i = 30 ,033
3
= 10 ,011 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i= 1
δx=
n ( n−1 )

=

(10 ,011−10 , 011)2 + (10 ,011−10, 011)2 + (10 ,011−10 , 011)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 10 ,0076 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
( ) δx

x

= 100 − (100 , 011 )


= 100
Jumlah pengukuran (n) = 3

31
n=3
∑ yi = y1 + y2 + y3
i =1
= 1,5+1,6 + 1,4
= 4,5 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ y i = 4,53 = 1,5 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n=3 −

− ∑ ( y i − y )2
i =1
δy=
n ( n−1 )

=

(1,5−1,5 )2 + (1,6−1,5 )2 + (1,4−1,5)2
3 (3−1 )
= 0, 056 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
y=y±δy
= 1,5 ± 0,056

Kesaksamaan = 100 −
( )
δy

y
0,0056
= 100 − ( 1,5 )
= 99 , 962

c. Kubus III
Diketahui : m1 = 60,002 gr V1 = 5 mL
m2 = 60,002 gr V2 = 5,5 mL
m3 = 60,002 gr V3 = 5,5 mL
Ditanya : ρ = ...?
Jawab:
m
ρ=
v
ρ1 = 12 , 0004 gr /mL ; ρ2 = 10 , 909 gr/mL; ρ3 = 10 , 909 gr/mL

32
Δm = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,1 = 0,05 gr
ΔV = ½ . skala terkecil
= 1/2 . 1 = 0,5 mL

Δm ΔV
[
Δρ1 = | + | . ρ
m V ]
=| [
0,05
60,002 5
0,5
+ | . 12,0004 ]
= 1,21 gr /mL
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 60 ,002+60 , 002 + 60 , 002
= 180 , 006 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 180 3,006 = 60 , 002 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(60 ,002−60 , 002)2 + (60 , 002−60 , 002 )2 + (60 ,002−60 , 002)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 60,002 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
( )
δx

x

= 100 − ( 060 ,002 )


= 100

33
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ yi = y1 + y2 + y3
i =1
= 5+5,5 + 5
= 15,5 mm
− n= 3
15 , 5
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ yi =
3
=5,167 mm
i= 1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n=3 −

− ∑ ( y i − y )2
i =1
δy=
n ( n−1 )

=

(5−5, 167)2 + (5,5−5, 167)2 + (5,5−5,167 )2
3 (3−1 )
= 0, 25 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
y=y±δy
= 5,167 ± 0,25

Kesaksamaan = 100 −
( ) δy

y

= 100 − (5,0,167
167 )
= 99 , 951
Tabel hasil perhitungan massa jenis kubus
No. Kubus I Kubus II Kubus III
ρ (gr/mL) Δρ ρ (gr/mL) Δρ ρ (gr/mL) Δρ
(gr/mL) (gr/mL) (gr/mL)
1. 100,076 500,88 6,674 2,258 12,0004 1,21
2. 99,978 413,99 6,257 1,987 10,909 1,001
3. 100,076 500,88 7,151 2,589 10,909 1,001

2. Kelereng

34
a. Kelereng I
Diketahui : m1 = 8,35 x 10-3 gr V1 = 0,01 mL
m2 = 8,35 x 10-3 gr V2 = 0,01 mL
m3 = 8,35 x 10-3 gr V3 = 0,01 mL
Ditanya : ρ = ...?
Jawab:
m
ρ=
v
ρ1 = 0, 835 gr /mL ; ρ2 = 0,835 gr /mL ; ρ3 = 0,835 gr /mL
Δm = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,1 = 0,05 gr
ΔV = ½ . skala terkecil
= 1/2 . 1 = 0,5 mL

[
Δm ΔV
Δρ1 = | + | . ρ
m V ]
=|
[
0,05
8,35 x 10
+
0,5
−3 0,01 ]
| . 0,835

= 46,75 gr/mL
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 8,35 x 10−3 +8, 35 x 10−3 + 8, 35 x 10−3
= 0,02505 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 0,02505
3
= 8,35 x 10−3 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(8,35 x 10−3 − 8, 35 x 10−3 )2 + (8, 35 x 10−3 −8, 35 x 10−3 )2 + (8, 35 x 10−3−8,35 x 10−3 )2
3 (3−1 )
= 0 mm

35
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 8,35 x 10−3 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
( )
δx

x
0
= 100 −
( 8,35 x 10−3 )
= 100
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ yi = y1 + y2 + y3
i =1
= 0,01+0, 01 +0, 01
= 0,03 mm
− n= 3
0, 03
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ yi =
3
=0, 01 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n=3 −

− ∑ ( y i − y )2
i =1
δy=
n ( n−1 )

=

(0,01−0, 01)2 + (0, 01−0,01 )2 + (0, 01−0, 01)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
y=y±δy
= 0,01 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
()
δy

y

= 100 − ( 00,01 )
= 100

36
Tabel hasil perhitungan kelereng I
   
No. Xi (gr) Yi (gr) (xi - x ) y) (xi - x )2 y ρ Δρ
(yi - (yi - )2
1. 8,35.10-6 0,01 0 0 0 0 0,835 46,75
2. 8,35.10-6 0,01 0 0 0 0 0,835 46,75
3. 8,35.10-6 0,01 0 0 0 0 0,835 46,75

b. Kelereng II
Diketahui : m1 = 20,0081 gr V1 = 0,05 mL
m2 = 20,0081 gr V2 = 0,05 mL
m3 = 20,0081 gr V3 = 0,06 mL
Ditanya : ρ = ...?
Jawab:
m
ρ=
v
ρ1 = 400 ,162 gr /mL ; ρ2 = 400 , 162 gr/mL; ρ3 = 333 ,468 gr /mL
Δm = ½ . skala terkecil
= ½ . 0,1 = 0,05 gr
ΔV = ½ . skala terkecil
= 1/2 . 1 = 0,5 mL

Δm ΔV
[
Δρ1 = | + | . ρ
m V ]
=|
0,05
[ +
0,5
20,0081 0,05
| . 400,162 ]
= 4002 ,62 gr/mL
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ xi = x1 + x2 + x3
i =1
= 20, 0081+20 , 0081 + 20 , 0081
= 60 ,0243 mm
− n= 3
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ xi = 60 ,0243
3
= 20 , 0081 mm
i=1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx

37

n= 3 −

− ∑ ( x i − x )2
i=1
δx=
n ( n−1 )

=

(20 ,0081− 20 , 0081)2 + (20 , 0081−20 , 0081)2 + (20 ,0081−20 , 0081)2
3 (3−1 )
= 0 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
x=x ± δx
= 20 ,0081 ± 0

Kesaksamaan = 100 −
( )
δx

x

= 100 − ( 020 ,0081 )


= 100
Jumlah pengukuran (n) = 3
n=3
∑ yi = y1 + y2 + y3
i =1
= 0,05+0,05 +0, 06
= 0,16 mm
− n= 3
0,16
Nilai terbaiknya ( x ) = ∑ yi =
3
=0, 053 mm
i= 1

Deviasi standar rata-rata ( ) adalah:


δx


n=3 −

− ∑ ( y i − y )2
i =1
δy=
n ( n−1 )

=

(0,05−0, 053 )2 + (0, 05−0, 053 )2 + (0, 05−0, 053 )2
3 (3−1 )
−3
= 3, 342 x 10 mm
Nilai x yang sebenarnya adalah:
− −
y=y±δy
= 0, 053 ± 3,342 x 10−3

38

Kesaksamaan = 100 −
( )
δy

y
3, 342 x 10−3
= 100 − ( 0,053 )
= 99 , 936
Tabel hasil perhitungan kelereng II
   
No. Xi (gr) Yi (gr) x) y) (xi - x )2 y ρ Δρ
(xi - (yi - (yi - )2
1. 20,0081 0,05 0 -0,003 0 9.10-6 400,162 4002,62
2. 20,0081 0,05 0 -0,003 0 9.10-6 400,162 4002,62
3. 20,0081 0,06 0 0,007 0 4,9.10-6 333,468 2779,73

4.3

39
4.4 Pembahasan
Percobaan kali ini yaitu mengenai alat-alat ukur dasar. Percobaan ini
bertujuan untuk agar mampu menggunakan alat ukur dasar yang digunakan dalam
praktikum fisika, mengenal besar ketelitian pengukuran dari alat-alat ukur dasar,
dan juga mengenal apa yang dimaksud dengan skala nonius. Alat-alat ukur dasar
yang digunakan ini meliputi penggaris, mikrometer sekrup, jangka sorong, dan
juga neraca teknis.alat ukur ini memiliki fungsi yang berbeda-beda tergantung dari
kebuthannya masing-masing. Sehingga bila kita ingin menggunakan alat ukur ini
kita harus mengetahui fungsi dari alat ukur yang akan digunakan. Selain itu, kita
harus mengetahui nilai ketelitian didalam mengukur benda yang akan kita ukur.
Dalam percobaan ini tidak menutup kemungkinan terjadinya kesalahan-
kesalahan. Hal ini dapat terlihat dari data yang tersedia pada tabel diatas. Pada
tabel kita lihat bahwa terjadi perbedaan data yang diambil berulang-ulang untuk
benda yang sama.
Pada saat melakukan pengukuran hendaknya kita melakukannya dengan
cermat dan teliti didalam melihat nilai skala yang ditunjukkan oleh hasil
pengukuran. Hal ini ditujukan agar tidak terjadi kesalahan dalam membaca skala
pada alat ukur.
Untuk mengukur dimensi dari benda diperlukan alat ukur seperti mikrometer
sekrup, jangka sorong, dan mistar. Untuk mengukur volume benda diperlukan
gelas ukur yang berisi air, sehingga kita dapat mencelupkan benda ke dalam gelas
ukur tersebut, volume benda tersebut dihitung dari pertambahan air yang
didapatkan dikurangi dengan volume air pada saat keadaan awal.
Skala nonius digunakan pada alat ukur yang memiliki dimensi yang kecil.
Sedangkan untuk benda yang memiliki dimensi yang besar biasanya jarang
menggunakan skala nonius. Pada saat hendak mengukur benda haruslah kita
memperhatikan kemaksimuman nilai skala yang ada pada alat ukur, agar
mencegah terjadinya ketelitian yang kurang akurat.
Ketelitian setiap alat ukur berbeda-beda, misalkan saja pada jangka sorong
memiliki ketelitian 0,1 mm, pada mikrometer sekrup memiliki ketelitian yang
lebih kecil lagi, yaitu sebesar 0,01 mm. Dengan demikian dapat kita ketahui

40
bahwa penggunaan alat ukur memerlukan perhatian sehingga kita mendapatkan
data yang lebih akurat.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini adalah:
1. Untuk mengukur suatu benda kita harus
menggunakan alat ukur yang sesuai dengan kegunaannya.
2. Alat ukur yang digunakan untuk menghitung dimensi
benda ataupun volume benda dapat digunakan skala nonius. Sedangkan untuk
mengukur dimensi benda yang lebih besar kita tidak dapat menggunakan skala
nonius.
3. Ketelitian setiap alat ukur berbeda-beda, misalkan
saja jangka sorong yang memiliki ketelitian 0,1-0,02 mm. Demikian pula
halnya pada alat ukur yang lainnya.

5.2 Saran
1. Didalam menggunakan alat-alat ukur dasar sebaikya digunakan dengan sebaik-
baiknya.
2. Alat ukur hendaknya digunakan sesuai dengan fungsinya.

41
LAMPIRAN
TUGAS PENDAHULUAN

5 Berapakah hasil pengukuran dengan alat bantu nonius seperti ditunjukkan


oleh gambar berikut:
16 17

10
0
6 Tuliskan bagian utama yang dipakai untuk mengukur bagian dalam
rongga, bagian mana yang dipakai untuk mengukur bagian luar benda dan
bagian mana yang diipakai untuk mengukur kedalaman lubang pada benda
dengan jangka sorong!
7 Berapakah skala terkecil dari alat ukur mistar, millimeter, jangka sorong
dan mikrometer?
8 Terangkan cara pengukuran volume benda dengan gelas ukur!
JAWABAN
1. Hasil pengukuran dengan alat bantu nonius seperti yang ditunjukkan oleh
gambar adalah 16,2 + 0,09 = 16,29

42
2. Bagian utama yang digunakan untuk mengukur rongga adalah knife-edge
measuring faces, yang dipakai untuk mengukur bagian luar benda adalah fixes
jaw blade dan movable jaw blade, dan bagian yang digunakan untuk
mengukur kedalaman lubang pada benda dengan jangka sorong adalah depth
measuring.
3. Skala terkecil dari :
Mistar : 1 mm atau 0,1 cm
Milimeter : 1 mm
Jangka sorong : Ketelitian 0,1 mm atau 0,01 cm dengan skala nonius 0,9
mm dan skala utama 1 mm
Mikrometer : Ketelitian 0,01 mm atau 0,001 cm dengan skala pada
selubung 0,01 mm dan skala utama 0,1 mm
4. Cara pengukuran volume benda dengan gelas ukur adalah :
a. Mengisi gelas ukur sampai penuh.
b. Mencelupkan benda yang hendak diukur volumenya ke dalam
gelas ukur tadi.
c. Menampung tumpahan air, dan
d. Mengukur volume air yang tumpah tadi.
( Volume tumpahan air sama dengan volume benda yang akan diukur )

43
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Alat Ukur Dasar. http:www.mesin.brawijaya.ac.id/fasilitas/?


look:Metrologi.
Diakses tanggal 20 November 2007.

Daryanto. 2002. Fisika Teknik. Rindu Ciptra : Malang.

Djonoputro, R. Darmawan. 1984 . Teori Ketidakpastian Menggunakan Satuan SI.


ITB: Bandung.

Kardiawarman. 1992. Fisika Dasar I. Depdiknas : Jakarta.

Robinson dan Hewwit. 2001. Conceptual Physics. Addison Wesley.

Sears dan Zemansky. 1981. Fisika Untuk Universitas I. Binacipta : Jakarta.

44
45