Anda di halaman 1dari 14

Feb

Francis Bacon; Memperoleh Pengetahuan


dengan Metode Induksi

“...sedikit filsafat dapat membawa orang pada Ateisme, namun filsafat yang mendalam mampu
membawa orang pada Agama.”---Francis Bacon

Bila orang mulai dengan kepastian dia akan berakhir dengan keraguan. Jika orang mulai dengan
keraguan dia akan berakhir dengan kepastian---Francis Bacon

A. Riwayat Hidup dan Pandangan


Francis Bacon (1561-1626) anak dari Sir Nicholas Bacon (pengawal Ratu
Elizabeth I) adalah filosof pelopor empirisme Inggris lahir 22 Januari 1561 di York
House, London. Menganut agama Ortodoks pendukung dokrin ‘kebenaran ganda’-
--akal dan wahyu---memisahkan filsafat dari teologi, bukan dicampur
sebagaimana skolatisme. Urusan teologi hanya bisa diketahui oleh wahyu, sedang
filsafat akal semata. Kontribusi Bacon di dunia sains sebagai pelopor dan
penggerak munculnya renaisans di Eropa dijuluki bapak filosof modern.
Pemikirannya yang praktis, konkret dan utilitaris berpengaruh kuat terhadap
epistemologi ilmu dan perkembangannya. Usia 12 tahun belajar di Trinity
College Cambridge University dan mempelajari pemikiran Platon dan Aristoteles.
Setelah selesai diangkat sebagai staf kedutaan Inggris di Prancis. Pada usia 23
menjadi anggota parlemen. Pada tahun 1618, James I mengangkatnya menjadi
Lord Chancellor dan kemudian menjadi Viscount St. Albans. Setelah menderita
sakit, tanggal 9 April 1626, Bacon meninggal dunia di kota kelahirannya London.
Francis Bacon mengalami kegelisahan saat menyikapi situasi dimana dia
hidup disebabkan dikhotomik gereja antara studi agama dan studi alam. Gereja
menganggap ilmu pengetahuan jalan menuju neraka; rendahnya kualitas
intelektual, sehingga tidak semua orang layak menyentuh kitab Injil yang suci;
kebenaran ilmu penuh dengan keragu-raguan, ilmu menjadi dogmatisme; tradisi
hermetik dan skolastisisme serta hegemoni geraja menentukan kebijakan publik
religius, bahkan sains tidak luput dari ketetapan gereja. Terhadap kerisauan ini,
Bacon memberikan gagasannya dalam karya-karyanya; The Advancement of
Learning, New Atlantis, dan Great Instauration sebuah reformulasi tentang sains.
Sumbangannya terpenting dalam Great Instauration adalah Novum Organum
diterbitkan tahun 1602. “sebuah metode ilmiah untuk mengganti metode
Aristoteles. Pandangan Bacon; praktis, konkret dan utilitaris. Pengalamanlah
menurutnya yang menjadi dasar pengetahuan. Apa yang diungkap Platon menjadi
semboyan Bacon, pengetahuan adalah kekuasaan (Knowledge is Power).
Menguasai kekuatan-kekuatan alam dengan penemuan dan penciptaan ilmiah.
Bacon menginginkan ilmu pengetahuan harus diupayakan untuk memanfaatkan
alam guna kepentingan kelancaran hidup manusia, melalui penemuan sains.

B. Kelahiran Metode Induksi


Pengalaman melalui panca indera mampu menghantarkan manusia pada
pencapaian pengetahuan----dilakukan dengan melibatkan akal. Tiga susunan
memperoleh pengetahuan melalui epistomologi Bacon: indera, untuk menangkap
fenomena-fenomena realitas yang selanjutnya diobservasi secara terus menerus
kemudian data dipersepsikan oleh akal melalui sebuah kesimpulan yang terikat
pada fenomena pengamatan. Menurut Bacon, hakikat pengetahuan yang
sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima melalui persentuhan indrawi dengan
dunia fakta---persentuhan disebut pengalaman. Pengalaman dari hasil pengamatan
sifatnya partikular akan menemukan pengetahuan yang benar dan karena itu
pengalaman adalah sumber pengetahuan sejati.
Dalam pandangan Bacon, orang Yunani terpesona dengan masalah etis,
orang Romawi dengan soal hukum, dan Abad Pertengahan dengan teologi.
Mereka semua tidak memusatkan diri pada ilmu pengetahuan sehingga ilmu
diperlakukan sebagai abdi setia teologi. Perlakuan tersebut menurut Bacon adalah
keliru karena melalui ilmu manusia akan memperlihatkan kemampuan kodratinya.
Atas dasar pemikiran tersebut, Bacon menyatakan “Knowledge is Power”
(pengetahuan adalah kuasa). “Pengetahuan indrawi” tidak dapat menguasai
segalanya, namun pengetahuan inderawi bersifat fungsional, dapat dipergunakan
memajukan kehidupan manusia. “Kuasa” dipahami sebagai kuasa atas alam
(natura non nisi parendo vincitur; alam hanya dapat ditaklukkan dengan
mematuhinya). Maksudnya alam hanya bisa dikuasai kalau pikiran memahami
hukum-hukumnya, mempelajari sifat universalnya dan perkecualiannya. Dengan
menaklukkan alam, umat manusia dapat sejahtera melalui ilmu pengetahuannya.
Epistomologi merupakan satu upaya evaluatif dan kritis tentang
pengetahuan manusia. Tokoh-tokoh epistomologi empirisme klasik antara lain;
Francis Bacon, J. S. Mill, John Locke, Berkeley, dan David Hume, mendirikan
ilmu pengetahuan moderen, dengan memunculkan metode Empiris-Eksperimental.
Bacon, menggunakan Metode Induktif akibat ketidak puasannya terhadap Metode
Deduktif Aristoteles. Metodenya sangat menekankan induksi-empiristik dan
menjadikan metode ini sebagai satu-satunya metode ilmiah yang sah dalam
pengembangan ilmu. Ia menulis Novum Organum (Metode baru) sebagai
tandingan logika Aristoteles dalam karya Organom. Pemikirannya tentang ilmu
pengetahuan sangat pragmatis fungsional. Ilmu hanya bermakna jika dapat
diterapkan secara praktis. Pembahasan induktivisme Bacon dalam perkembangan
periode berikutnya banyak diikuti ilmuan barat lainnya seperti Boyle, Newton,
John Lock dan tokoh empirisme lainnya.
Metode Bacon merupakan kelanjutan metode sebelumnya setelah
dimodifikasi sehingga lebih konkrit mengasilkan penemuan sains; Pertama, dunia
Yunani; didominasi Sokrates, Platon dan Aristoteles. Sokrates (470-399 SM)
dengan metode Maieutika Dialektis Kritis Induktif mengumpulkan contoh dan
peristiwa konkret kemudian dicari umumnya. Kemudian kedatangan Platon (428-
347 SM) dimana metode Sokrates diubah menjadi teori ide, yaitu teori Dinge an
sich versi Platon. Berikutnya Aristoteles (382-322 SM), mengembangkan Platon
menjadi teori tentang ilmu yakni Logika Epistemologi dalam karyanya To
Organom, memuat teori Metode Silogisme Deduktif. Kedua, dunia Abad
Pertengahan hingga sebelum abad XIII. Terakhir, logika epistemologi hanya
berkisar pada karya Aristoteles, dan beberapa karya filosof yang lain, yang
memiliki corak yang sama, yaitu metode silogisme deduktif. Baru pada abad XIII
sampai abad XV, berkembang apa yang disebut logika modern, dengan tujuan
membuktikan kebenaran-kebenaran tertinggi. Namun pada dasarnya adalah
penyempurnaan teori silogisme Aristoteles, dan yang lain-lain terkait dengan
penyempurnaan tehnis dari filsafat Yunani.
Logika epistemologi Aristoteles lalu dikritik bahwa ilmu pengetahuan
dengan deduktif silogistis tidak menghasilkan apapun dalam penemuan ilmu
pengetahuan baru (terutama hasil karya alam) selanjutnya diperkenalkan metode
induktif yang berdasarkan pengamatan empiris, analisis data langsung dari panca
indra, penyimpulan dalam hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi
hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut. Bagi Bacon, aliran
empirisme dengan metode induksi---Ia bukan penemu murni, hanya berupaya
menyempurnakan metode itu dengan cara menggabungkan metode induksi
tradisionalis dengan eksperimentasi yang sistematis, observasi yang ekstensif demi
mendapatkan kebenaran ilmiah yang konkret, praktis, mensistematisasi prosedur
ilmiah secara logis---mampu menghasilkan mafaat dari alam untuk manusia,
dengan berbagai hasil temuan ilmiah yang berguna.

C. Metode Induksi
Dalam buku Novum Organum, logika silogisme tradisional tidak
menghasilkan penemuan empiris yang baru, ia hanya membantu mewujudkan
konsekwensi deduktif dari apa yang sebenarnya telah diketahui. Agar pengetahuan
terus berkembang dan memunculkan teori-teori hukum baru, maka metode deduksi
harus ditinggalkan, dan diganti dengan metode induksi modern. Induksi bermula
dari rasio bertitik pangkal pada pengamatan indrawi yang partikuler, lalu maju
sampai pada ungkapan-ungkapan yang paling umum guna menurunkan secara
deduktis ungkapan-ungkapan yang kurang umum. Bacon menegaskan bahwa,
tidak boleh kita seperti laba-laba yang gemar memintal jaringnya dari apa yang ada
di dalam tubunya, atau seperti semut yang semata-mata tahu mengumpulkan
makanannya saja, melainkan kita harus seperti lebah yang tahu bagaimana
mengumpulkan tetapi juga tahu bagaimana menatanya. Metode silogistis deduktif
digambarkan oleh Bacon seperti laba-laba, sedangkan metode induktif tradisionalis
seperti semut, metode induktif medernlah (yang telah disempurnakan) yang sama
dengan lebah.
Merujuk pada pernyataan David Hume bahwa argumentasi induktif
bersandar pada suatu keaneka ragaman, kebiasaan dan pengalaman, menjadi
stressing point Bacon dengan menekankan aspek eksperimen sebagai hal penting
menaklukan alam dengan rahasianya (to torture nature for her secrets). Menurut
Bacon, eksperimen sangat penting karena jika kita dengan sederhana mengamati
tentang apa-apa yang terjadi di sekitar kita, maka kita dibatasi dalam data-data
yang kita kumpulkan; ketika kita menampilkan sebuah percobaan kita
mengendalikan keadaan pengamatan sejauh mungkin dan memanipulasi keadaan
dari percobaan untuk melihat apa yang terjadi dalam lingkungan-lingkungan di
mana hal sebaliknya tidak pernah terjadi. Eksperimen memungkinkan kita untuk
menanyakan “apa yang terjadi jika …?”. Melalui percobaan kita mampu
menaklukan alam dan rahasianya---satu hal yang terpenting adalah bahwa ‘banyak
hal-hal’ yang terpelihara/ terjaga. Jadi, apa yang perlu dipelajari dari alam ialah
bagaimana menggunakannya secara penuh untuk mendominasi dengan
keseluruhan alam tersebut dan juga atas orang lain. Berdasarkan pemikiran
tersebut, Bacon merumuskan dasar-dasar berpikir induktif modern. Metode induksi
yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada pemeriksaan yang diteliti dan
telaten mengenai data-data partikular, yang pada tahap selanjutnya rasio dapat
bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura). Untuk
menghindari penggunaan metode induksi yang keliru, Bacon menyarankan agar
menghindari empat macam idola atau rintangan dalam berpikir, yaitu:

a. Idola Tribus/bangsa (The Idols of Tribe), menarik kesimpulan tanpa dasar


secukupnya, berhenti pada sebab-sebab yang diperiksa secara dangkal
(sebagaimana pada umumnya manusia awam/ tribus). Kesesatan ini bersumber
dari kodrat manusia misalkan, manusia hanya mempunyai lima indra. Segala hal
diukur menurut ukuran pribadi individual, tidak menurut ukuran semesta. Padahal
akal manusia adalah cermin yang palsu, menerima cahaya tidak teratur,
membengkokkan dan meluruskan hakekat segalanya dengan mencampurkan
hakikatnya sendiri dengan hakekat sesuatu tadi. Dengan ini manusia berpotensi
tertutupnya hakekat kebenara.
b. Idola Specus/gua (The Idols of the Cave), yaitu menarik kesimpulan berdasarkan
prasangka pribadi, prejudice, selera a priori (seperti manusia di dalam gua/ specus).
Disamping kesesatan yang umum pada manusia, ia juga dikurung oleh
keterbatasan diri sendiri, yang membiasakan dan melunturkan cahaya realitas.
Disebabkan sifat pribadinya yang khas karena membaca buku-buku dan karena
otoritas yang ia hormati dan dikagumi, atau karena kesan berbeda pada pikiran
yang sedang dikuasai sesuatu, Dengan demikian, jiwa manusia merupakan sesuatu
yang berubah-rubah, penuh gangguan, dan seakan-akan diperintah oleh
kemungkinan yang tidak pasti.
c. Idola Fora/pasar (The Idols of the Market Place), menarik kesimpulan karena
umum berpendapat demikian, atau ikut pandapat umum (opini public/ pasar/
forum).
d. Idola Theatri/panggung (The Idols of the Theatre), menarik kesimpulan
berdasarkan kepercayaan dogmatis, mitos dst. Karena manganggap dunia adalah
panggung sandiwara. Maka sikap menerima secara membuta terhadap tradisi
otoritas, mampu melumpuhkan metode induksi tidak bisa berjalan.

Metode induksi yang tepat untuk memperoleh kebenaran, berdasarkan;


pengamatan empiris, analisis data, hipotesis (kesimpulan sementara), dan verifikasi
hipotesis melalui pengamatan dan eksperimen lebih lanjut. Induksi yang bertolak
pada eksperimen yang teliti dan telaten terhadap data-data partikuler
menggerakkan rasio menuju penafsiran atas alam (interpretation natura). Metode
induksi Bacon secara sederhana diuraikan: “ingin mengetahui tentang sifat panas
yang diduga merupakan gerakan tidak teratur dan cepat dari bagian-bagian kecil
dari suatu benda”. Ia lalu membuat daftar benda-benda yang memiliki tingkatan
panas berbeda. Lewat penelitian secara seksama terhadap benda-benda tersebut, ia
berupaya menemukan karakter yang senantiasa hadir pada benda-benda panas
(karakteristik yang tidak terdapat pada benda-benda dingin) dan yang selalu ada
pada benda-benda yang memiliki tingkatan panas yang berbeda. Dengan demikian
ia berharap menemukan suatu hukum yang berlaku umum tentang apa yang
diselidikinya.”
Ilustrasi diatas, penggunaan metode induktif Bacon mengharuskan
pemisahkan hal yang hakiki dari hal yang tidak hakiki dan menemukan struktur
atau bentuk yang mendasari fenomena yang diteliti, dengan cara: (1)
membandingkan contoh-contoh hal yang diteliti, (2) menelaah variasi-variasi yang
menyertainya, dan (3) menyingkirkan contoh-contoh yang negatif. Maka pertama-
tama dilakukan pengumpulkan data-data heterogen tentang suatu hal. Kemudian
urutannya akan nampak dengan jelas. Yang paling awal adalah bahwa peristiwa
konkrit partikular yang sebenarnya terjadi (menyangkut proses atau kausal
efesien), kemudian suatu hal yang lebih umum sifatnya (menyangkut skema, atau
kausa materialnya), baru ditemukan dasar inti. Dalam dasar inti ini, pertama-tama
dikemukaan dasar inti yang masih partikular, yang keabsahannya perlu diperiksa
secara deduktif. Jika sudah cukup handal, barulah terus maju menemukan dasar inti
yang semakin umum dan luas. Bacon bukan penemu murni metode induksi,
namun ia berupaya menyempurnakan metode tersebut dengan cara
menggabungkan metode induksi tradisionalis dengan eksperimentasi yang
sistematis, observasi yang ekstensif guna mendapatkan kebenaran ilmiah yang
konkret, praktis, mensistematisasi prosedur ilmiah secara logis, dan bermafaat bagi
manusia. Proses induksi mencakup empat langkah penting.

1. Observasi dan ekperimen, mengumpulkan fakta-fakta khusus melalui pertanyaan,


semisal, apa yang telah terjadi? Apakah yang harus diterangkan? Pertanyaan
tersebut bisa terjawab dengan menggunakan dua cara, observasi (pengamatan) dan
eksperimen penelitian. Observasi ilmiyah menuntut supaya data-data dinyatakan
dengan kuantitatif, dalam bilangan-bilangan yang akurat dan pasti (sekian gram,
sekian derajat, sekian sentimeter dll). Setelah ini terlaksana baru memasuki tahap
yang selanjutnya.
2. Hipotesis, menjelaskan hal diamati (diobservasi dalam tahap satu). Sehingga
memunculkan dugaan sementara terhadap fakta; Pertama, Hipotesis Deskriptif---
rumusan kuantitatif yang saksama (eksak) atas fakta-fakta yang diobservasi dengan
ketetapan matematis dan hasilnya disebut hukum empiris. Kedua, Hipotesis
Penjelasan--- menunjukkan mengapa benda-benda itu terjadi dan mengapa harus
terjadi. Di sini peneliti dibawa pada kenyataan bahwa golongan realitas yang ini
dan yang itu adalah suatu species alami. Ketiga, Hipotesis Kerja--- suatu usaha
untuk menerka satu rumusan matematisnya atau penjelasan kausalnya. Akan tetapi
sejak awal sudah diketahui hanya ranah kemungkinan saja. Tahapan ini sangat
ditentukan kecerdasan peneliti karena tahap ini tidak terikat hukum logika
(disinilah daerah bebas kecerdasan, jenialitas, dan orijinalitas para filosof induksi
bermain). Akan tetapai walaupun logika tidak diberikan hak untuk memberikan
hukum menentukan hipotesis, namun logika mendapatkan hak untuk menyusun
hipotesis yang sah. Hipotesis haruslah (1) memiliki hukum mungkin, tidak boleh
melawan kebenaran yang dinyatakan pasti. (2) Harus mencukupi, betul-betul
menjelaskan fakta yang dipersoalkan. (3) Dapat diuji kebenarannya.
3. Verifikasi, penkajian atau pengujian akan kebenarannya. Kalau hipotesis sekedar
memberikan pertanyaan pada alam, dan verifikasi berusaha menjawabnya.
Verifikasi bertugas menguji kebenaran hipotesis. Misalkan, sesudah percobaan
menunjukkan bahwa besi tenggelam dalam air, kita kemudian membuat terkaan
bahwa hal ini suatu hukum, dan bahwa besi menurut hakekatnya tenggelam.
Bagaimana kita dapat menguji hipotesis ini? Maka kita harus membuat variasi,
terkait dengan tempat, waktu ekperimennya. Misalkan, kita coba ganti potongan
besi dengan bulat, persegi, bulat banjang, pipih cembung, pipih cekung dll.
Sedangkan airnya kita ganti dengan panas, dingin, air gula, air garam, air yang
mengalir, air yang tenang dll. Apabila dengan berbagai variasi hasilnya sama,
maka kita harus mencatat hukum besi tenggelam adalah kepastian.
4. Penerapan sesudah hukum atau ciri/ sifat dinyatakan kebenarannya, maka hukum
tersebut kita terapkan pada semua fakta khusus yang tercakum di bawahnya.
Meskipun proses ini seungguhnya juga bisa dikatakan deduktif, namun proses ini
termasuk pengetahuan tentang segala sesuatu melalui sebab-sebabnya (kausalitas).
Secara umum induksi dijelaskan sebagai proses berpikir berjalan dari yang
kurang universal menuju yang lebih universal, atau secara lebih ketat lagi dari yang
individual/ partikular menuju ke yang umum/ universal. Induksi mengantarkan
manusia pada tingkatan inderawi dan individual menuju ke tingkatan intelektual
dan universal. Dalam pendekatan Induktif Bacon, kita diminta untuk memulai
dengan bagian-bagian yang bisa diamati dan kemudian berpikir ke dalam
pernyataan-pernyataan umum ataupun hukum-hukum---bertolak belakang dengan
pendekatan scholastik Aristotelian, karena induksi tersebut menuntut verifikasi
bagian-bagian spesifik sebelum sebuah keputusan dibuat.
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa
khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau
pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam konteks ini, teori bukan syarat
mutlak tetapi kecermatan menangkap gejala dan memahami gejala merupakan
kunci sukses untuk dapat melakukan generalisasi. Kalau penalaran deduktif
adalah suatu prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang
kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan
atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Penalaran induktif merupakan
prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus dan berakhir pada suatu
kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum.

D. Penutup
Berdasarkan uraian teori metode induksi Bacon diatas, maka bisa kita tarik
kesimpulan bahwa, (1) sumber ilmu pengetahuan menurut Bacon adalah
pengalaman empiris, yang dihasilkan dari fenomena-fenomena alam, sedang (2)
instrument pengetahuan menurut Bacon harus menggunakan panca indra sebagai
sensation (observable and measurable). Maka (3) hakikat ilmu menurut Bacon
adalah mengetahui alam yang di ambil dari alam itu sendiri (a posteriori). Sedang
cara memperoleh pengetahuan menurut dengan menggunakan (4) metode induksi,
yaitu observasi-eksperimentasi atas fakta-fakta alam, didata dalam tabel positif dan
negatif, kualitatif terukur, dan kemudian memunculkan hipotesis, baru diverifikasi,
kemudian generalisasi untuk penetapan teori pengetahuan setelah tidak ditemukan
fakta negatif. Maka dengan ini, konsekwensi logisnya adalah, (5) bahwa makna
kebenaran menurut Bacon merupakan korespondensi, sedang validasi teori
pengetahuannya adalah (6) verifikasionisme (induksi positif) dan falsifikasionisme
(induksi negatif), sebagaiman yang telah dijelaskan atas.
Metode induktif Bacon memberikan sumbangan penting dalam menembus
metode berfikir deduktif yang dipergunakan secara berlebihan, hingga
menyebabkan dalam waktu yang lama ilmu pengetahuan mengalami kematian
panjang. Megumpulkan sebanyak mungkin fakta pengalaman (empirical brute
facts) untuk selanjutnya dianalisis, hingga menghasilkan sebuah temuan hukum
baru, yang nantinya digunakan menguasai kekuatan-kekuatan alam dengan
penemuan dan penciptaan ilmiah. Sudah saatnya meninggalkan metode deduktif
dan beralih ke induktif, semboyan Bacon. Metode induktif Bacon mendominasi
atau melandasi epistemologi modern, khususnya dalam metode keilmuan fisika,
saat ini sudah mengalami banyak perubahan seiring dengan kreativitas para ilmuan
yang terus memperbaharui teori induktif Bacon. Ada tiga objek mendasar yang
dikaji, yaitu, realitas empiris, indrawi, dan dapat dipikirkan dengan rasio.

Alcapone, Januari 2016


E. Daftar Pustaka
Bakker, Anton. dan Zubari, Achmad Charis., Metodologi Penelitian Filsafat,
Yogyakarta: Kanisisus, 1990.
Hadi, Hardonono., Jatidiri Manusia; Berdasar Filsafat Empirisme Whitehead,
Yogyakarta: Kanisius, 1996. John Losee, A Historical Introduction to the
Philosophy of Science, (New York: Oxford University, 2001)
Henry Van Laer, Filsafat Ilmu; Ilmu Pengetahuan Secara Umum, (Yogyakarta:
LPMI, 1995)
Ewing, Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2002).
Julian Baggini, Lima Tema Utama Filsafat; Pengetahuan, Filsafat Moral, Filsafat
Agama, Filsafat Pikiran, dan Filsafat Politik, (New York: Palgrave MacMillan,
2002)
James Ladyman, Understanding Philosophy of Science, (New York: Routledge,
2002)
Riski Amalia Putri, Problema Induksi dan Ketergantungan Observasi pada Teori ,
diakses tanggal 2 april 2012

Diposting 8th February 2016 oleh THINKER


0

Tambahkan komentar

ASRATISME

Blog ini didekasikan bagi teman-teman yang ingin mengasah nalar dan mencintai
kebenaran.

 Klasik
 Kartu Lipat
 Majalah
 Mozaik
 Bilah Sisi
 Cuplikan
 Kronologis
Mar
15

PLURALISME AGAMA DAN HERMENEUTIKA PAUL RICOEUR

Oleh: Suratno

Paul Ricoeur is a philosopher of languages who concerns with hermeneutic especially


hermeneutical elaboration of symbols and texts. For Ricoeur, hermeneutic means a theory of rule
of interpretations to either a text or a set of symbol meaning as a text, thus both of texts and
symbols become a medium of leading to reflect our interpretation. Also, interpretation means
self-reflection due to Ricoeur’s assumption that there is no direct knowledge within and on the
self (as well as text). In reflecting the truth of the self, Ricoeur rejects all forms of monopoly of
the truth because the meaning is too large to reduce to be one truth. This can be a basis of
accepting religious pluralism in which no religion can claim providing the only standard for the
truth.

Feb
18

KONSTRUKSI EKONOMI INSANI DALAM TATANAN EKONOMI GLOBAL

Pra-Wacana

Oleh : Muh.

Feb
8

Francis Bacon; Memperoleh Pengetahuan dengan Metode Induksi


“...sedikit filsafat dapat membawa orang pada Ateisme, namun filsafat yang mendalam mampu
membawa orang pada Agama.”---Francis Bacon

Bila orang mulai dengan kepastian dia akan berakhir dengan keraguan. Jika orang mulai dengan
keraguan dia akan berakhir dengan kepastian---Francis Bacon

A. Riwayat Hidup dan Pandangan

Francis Bacon (1561-1626) anak dari Sir Nicholas Bacon (pengawal Ratu Elizabeth I) adalah
filosof pelopor empirisme Inggris lahir 22 Januari 1561 di York House, London.

Jul
28

Islam Dalam Pemikiran Soekarno

BerdikariOnline.com Kamis, 15 Maret 2012 | 19:00 WIB

Oleh : Hiski Darmayana

Seperti yang kita ketahui bersama, Soekarno adalah seorang Muslim. Namun, ternyata Soekarno
bukanlah lahir dari keluarga yang kental nuansa Islamnya. Sang ayahanda, Raden Sukemi
Sosrodihardjo, lebih dikenal sebagai penganut kepercayaan teosofi Jawa atau Kejawen,
meskipun secara formal beragama Islam. Sementara ibunda Soekarno, Idayu, bukan penganut
Islam. Ibunda Bung Karno adalah seorang pemeluk agama Hindu-Bali.

Jul
24

Memahami Politik Persahabatan Jacques Derrida

POLITIK PERSAHABATAN

Konsep Derrida tentang Politik

Yon Wiryono

I. Catatan Awal

Jacques Derrida (1930-2004) terkenal dengan teori dekonstruksi yang digagasnya. Banyak pihak
memandang dekonstruksi sebagai corak berpikir yang nihilistik dan menganggapnya sebagai
bentuk intellectual gimmick belaka. Namun, dekonstruksi sama sekali bukan bagian dari
nihilisme naif yang selalu menafikan kebenaran. Dekonstruksi justru bergerak melampaui
nihilisme menuju makna dan kebenaran yang paling dalam.
Jun
6

KOMUNIKASI POLITIK ANTARA PARTAI POLITIK DENGAN KONSTIUEN


DAN SIMPATISAN

KOMUNIKASI POLITIK ANTARA PARTAI POLITIK

DENGAN KONSTIUEN DAN SIMPATISAN

Sebuah perspektif Fenomenologi dan Sosiologi Politik[1]

Oleh : Muhammad Asratillah Senge[2]

Pendahuluan ; Sekilas mengenai Komunikasi Politik yang memerdekakan.

Komunikasi politik adalah hal yang sangat vital bagi sebuah partai politik. Apa yang dimaksud
dengan komunikasi politik ?. barangkali pertanyaan yang perlu kita jawab terlebih dahulu.

Jun
1

KOSMOLOGI AWAM, ILMIAH, DAN RELIGIUS: DARI KOSMOLOGI KE


DEKOSMOLOGISASI

Karlina Supelli

Panitia meminta saya untuk membawakan tema Alam Sebagai Pertanda Tuhan dengan subtema
Argumen-argumen Kosmologis. Tema-tema seperti ini sudah dikenal lama sekali dan selalu saja
menimbulkan perdebatan. Dalam makalah ini saya tidak membahas argumen-argumen
kosmologis menurut versi asli ataupun menurut apa yang sekarang banyak disebut sebagai
Kosmologi Baru.

Feb
11

KOSMOLOGI : ANTIREALISME , Fisika dan Momen-momen Keberhinggaan-1

Karlina Supelli

There are more things in heaven and on earth, Horatio

Than are dreamt of in your philosophy (Hamlet)


Werner Heisenberg, pemenang Nobel fisika tahun 1932 bertanya dalam alinea pertama bukunya
Physics and Philospohy2, “(Tetapi) apakah aspek politis fisika modern yang sungguh-sungguh
paling penting?” Ia tentu saja sedang mengacu ke peran dahsyat bom atom terhadap pergeseran
struktur politik dan peta kekuasaan dunia setelah Amerika Serikat menghancurkan Hiroshima
dan Nagasaki pada

Aug
1

Tradisionalisme, Postradisionalisme, Modernisme, dan Postmodernisme dalam


Pengembangan Pendidikan Islam Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latarbelakang

Ketika Islam masuk ke beberapa wilayah Nusantara, telah terdapat berbagai budaya yang telah
mapan. Di jawa misalnya, proses pembentukan budaya telah berlangsung dalam kurun waktu
yang sangat panjang. Kemampuan budaya tersebut mengakibatkan Islam sebagai pendatang baru
haruslah bersentuhan dengan budaya yang telah mapan.

Aug
1

PENDEKATAN FENOMENOLOGI DALAM STUDI AGAMA ISLAM

Oleh: AHMAD MUZAKKI

A. Pendahuluan

Masalah pendekatan dalam kajian Islam telah mendorong perhatian banyak sarjana di bidang
studi Islam (Islamic Studies). Awalnya, kajian Islam hanya memperoleh tempat yang sangat
terbatas dan hanya dikaji dalam konteks history of religions,comparative study of
religios atau religions wissenschaft pada umumnya.

Dalam kaitanya dengan studi agama, makna istilah fenomenologi tidak pernah terbekukan secara
tegas.
Memuat
Tema Tampilan Dinamis. Diberdayakan oleh Blogger.