Anda di halaman 1dari 25

BAB IV

BAHAN DAN ALAT KERJA

4.1 Umum

Penyediaan alat kerja dan bahan pada suatu proyek memerlukan

manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran pekerjaan. Penggunaan alat

dan bahan yang dipilih harus sesuai dengan standar dan kondisi di lapangan.

Penempatan bahan material yang tepat dan efisien perlu diperhatikan untuk

mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Disamping itu, penempatan

material yang baik dan tertata rapi akan mendukung efektifitas kerja dan

keselamatan kerja.

Bahan/material yang digunakan harus sesuai dengan RKS (Rencana Kerja

dan Syarat- syarat Teknis) dan telah mendapat persetujuan dari konsultan

dengan menunjukkan contoh-contohnya. Pihak konsultan memeriksa

bahan/material yang datang secara langsung, apakah bahan itu sesuai dengan

contoh atau tidak. Jika disetujui, maka pekerjaan dapat dilanjutkan, namun jika

tidak, maka diganti sesuai dengan permintaan konsultan atau sesuai dengan

RKS.

Peralatan kerja yang digunakan terdiri dari alat-alat berat dan alat-alat

pelengkap lainnya, baik yang digerakkan secara manual atau mekanis.

Pemilihan jenis peralatan yang akan digunakan dalam suatu pekerjaan

merupakan faktor penting yang mempengaruhi proses penyelesaian suatu

pekerjaan secara cepat dan tepat. Pertimbangan dari segi biaya sehubungan

dengan penggunaan peralatan harus tetap ada, artinya harus ada optimasi dari

66
67

harga produksi per satuan waktu untuk setiap peralatan yang digunakan. Selama

pelaksanaan pekerjaan di proyek, pemeliharaan dan perawatan peralatan

terutama untuk alat-alat berat harus dilakukan secara rutin, sehingga kondisi

alat selalu baik dan siap pakai. Hal ini sangat penting agar dalam pelaksanaan

nanti tidak terhambat karena adanya kerusakan pada peralatan kerja.

Dalam pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi, tentunya diperlukan alat-

alat penunjang yang akan turut menentukan keberhasilan suatu proyek

konstruksi. Pengadaan peralatan konstruksi dilakukan dengan 2 cara yaitu:

a. Pengadaan yang dilakukan sendiri oleh pihak kontraktor, yaitu dengan

menggunakan peralatan yang dimilikinya sendiri berupa invetaris

perusahaan ataupun yang dibeli saat proyek berjalan.

b. Pengadaan yang dilakukan dengan melibatkan pihak luar, yakni pihak

pemilik persewaan peralatan konstruksi. Cara ini harus dilakukan jika pihak

kontraktor tidak memiliki sendiri peralatan-peralatan konstruksi tertentu

yang perlu untuk digunakan dalam pembangunan proyek, sehingga harus

menyewa dari pihak luar.

4.2 Bahan

Bahan yang dimaksudkan adalah bahan dan material yang tercantum

dalam dokumen kontrak yang sesuai dengan spesifikasi teknis dan SNI.

Spesifikasi yang dimaksud adalah spesifikasi mengenai jenis, kuantitas,

maupun komposisinya. Karena dalam suatu pekerjaan, bahan atau material

merupakan suatu unsur utama tercapainya suatu proyek. Jika bahan atau

material yang di gunakan kondisinya atau mutunya jelek/buruk maka dapat


68

dikatakan pekerjaan itu tidak akan memberikan hasil yang maksimal/sesuai

dengan yang kita kehendaki bersama.

Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemesanan

bahan/material, yaitu:

a. Identifikasi jenis dan jumlah bahan. Pemesanan suatu bahan harus didahului

dengan proses pengamatan dan pemilihan bahan sesuai dengan spesifikasi

yang telah ditentukan desain. Setelah diketahui spesifikasi bahan yang

digunakan, maka dilanjutkan dengan penentuan jumlah bahan yang

dibutuhkan untuk setiap pekerjaan konstruksi. Perhitungan jumlah

kebutuhan bahan disesuaikan dengan rencana pekerjaan yang nantinya akan

dibagi berdasarkan satuan yang tersedia di pasaran, dalam hal ini bahan

yang disediakan oleh supplier.

b. Pertimbangan akan kualitas bahan biasanya didasarkan pada nama baik

produsen dan supplier yang menyediakan bahan bermutu baik, yang telah

diketahui oleh kontraktor.

c. Faktor harga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan karena semakin

murahnya harga bahan maka biaya pengeluaran proyek dapat diperkecil.

Hal ini tentu saja akan menguntungkan kontraktor. Saat kontraktor

memutuskan untuk menggunakan bahan dengan harga termurah, aspek

kualitas bahan tidak boleh dikesampingkan.

d. Waktu pengiriman bahan sejak pemesanan juga perlu dipertimbangkan.

Walaupun lokasi supplier dekat dengan proyek, namun jika pihak supplier

tidak tanggap merespon pemesanan dan pendistribusian bahan, maka ada


69

kemungkinan schedule akan terganggu akibat keterlambatan pengadaan

bahan.

Adapun bahan – bahan yang digunakan dalam pekerjaan lanjutan

peningkatan Jalan Gurimbang – Tanjung Perangat – Sukan yaitu sebagai

berikut:

4.2.1 Timbunan Pilihan / Sirtu

Timbunan pilihan yang digunakan adalah sirtu ex. Kampung Bangun.

Gambar 4.1 Timbunan Pilihan/Sirtu

4.2.2 Semen

Semen yang digunakan adalah semen gresik, dengan berat 1 ton/karung

Gambar 4.2 Semen Gresik


70

4.2.3 Agregat Kasar (ex. Batu palu)

Agregat yang digunakan adalah batu palu yang didatangkan langsung dari

Palu menggunakan kapal ponton.

Gambar 4.3 Agregat Kasar (ex. Batu Palu)

4.2.4 Agregat Halus (Ex. Pasir Gurimbang)

Agregat halus yang digunakan diambil langsung dari daerah gurimbang

yang jika dilihat secara kasat mata karakteristiknya hampir mirip seperti

pasir mahakam.

Gambar 4.4 Agregat Halus (ex. Pasir Gurimbang)


71

4.2.5 Lapis Resap Pengikat Aspal

Lapis resap pengikat menggunakan campuran aspal dan minyak kerosene di

ketel AMP yang dipanaskan shingga menjadi aspal cair dengan penetrasi

60/70.

Gambar 4.5 Lapis Resap Pengikat

4.2.6 Laston Lapis Pondasi (AC-Base)

Laston lapis pondasi menggunakan campuran material agregat (ex. batu

palu), filler, dan aspal penetrasi 60/70.

Gambar 4.6 Laston Lapis Pondasi (AC- Base)


72

4.2.7 Bahan Anti Pengelupasan (Anti Stripping Agent)

Bahan anti pengelupasan digunakan dalam rentang 0,2% sampai 0,4%

terhadap berat aspal.

Gambar 4.7 Bahan Anti Pengelupasan

4.2.8 Baja Tulangan U24 Polos

Baja tulangan yang digunakan adalah besi tulangan polos U24 ex. SNI

Gambar 4.8 Baja Tulangan U24 Polos


73

4.2.9 Beton fc’ 20 Mpa dan fc’ 15 Mpa

Campuran Beton yang digunakan Campuran dari Material Semen PCC

(semen gresik), Agregat kasar (Ex. Batu Palu), dan Agregat halus (Ex.

Pasir Gurimbang).

Gambar 4.9 Beton fc’ 20 MPa dan fc’ 15 MPa

4.2.10 Pancang Tiang Beton 10/15

Pasangan batu menggunakan pondasi tiang pancang beton ukuran 10/15.

Gambar 4.10 Pancang Tiang Beton 10/15


74

4.3 Alat

Disamping material, diperlukan pula alat konstruksi atau alat berat yang

digunakan untuk membantu tenaga kerja lapangan. Dengan tersedianya

berbagai macam alat – alat konstruksi baik mengenai kapasitas maupun

spesialisasinya, maka efektifitas dan efesien penggunaannya terletak pada

program pengelolaan dan tingkat disiplin dalam melaksanakan program

tersebut.

Peralatan dan mesin-mesin yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan

ini harus disetujui oleh Dewan Direksi Pekerjaan dan dirawat agar selalu dalam

kondisi baik. Peralatan yang digunakan oleh sub-penyedia jasa atau pemasok

harus mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan dan Direksi Teknis sebelum

pekerjaan dimulai. Peralatan processing harus direncanakan, dipasang,

dioperasikan dan dengan kapasitas sedemikian rupa sehingga dalam

pelaksanaan pekerjaan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau tidak

terganggu.

Adapun alat-alat yang digunakan pada Pekerjaan Lanjutan Peningkatan

Jalan Gurimbang – Tanjung Perangat – Sukan yaitu:

4.3.1 Alat Ukur Tanah (Theodolie)

Pengukuran ulang atau rekayasa lapangan pasti dilakukan oleh pihak

kontraktor. Pengukuran ini dimaksudkan agar dapat memastikan kecocokan

antara volume pekerjaan yang tertera pada kontrak dengan volume yang

berada di lapangan. Pengukuran/rekayasa lapangan ini merupakan kegiatan

yang pertama kali dilakukan sebelum pekerjaan dimulai.


75

Untuk metode pengukurannya sendiri menggunakan metode poligon

terbuka dengan membaca bacaan rambu (atas, tengah, bawah) pada titik-

titik yang memiliki perbedaan elevasi.

Setelah melakukan pengukuran poligon tertutup, data-data yang

diperoleh akan diolah dengan melalui beberapa perhitungan sehingga pada

akhirnya dapat menghasilkan koordinat (X, Y) dan ketinggian (Z) sesuai

keadaan asli lapangan. Data tersebut kemudian dimasukkan kedalam

aplikasi Land Development untuk dilakukan penggambaran topografi.

Adapun rumus-rumus yang digunakan dalam perhitungan pengukuran

poligon tertutup ini adalah sebagai berikut :

a) Perhitungan Jarak Datar


Jarak Datar = (𝐵𝐴 − 𝐵𝐵) 𝑥 100 𝑥 cos(90° − 𝛼)2 , untuk sudut α < 90°

= (𝐵𝐴 − 𝐵𝐵) 𝑥 100 𝑥 cos(𝛼 − 90°)2 , untuk sudut α > 90°

b) Perhitungan Beda Tinggi


Beda tinggi
1
= 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟 × + (𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝐴𝑙𝑎𝑡 − 𝐵𝑇)
tan(𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑘𝑎𝑙)
c) Perhitungan Koreksi Beda Tinggi
∑ 𝐵𝑒𝑑𝑎 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖
Beda tinggi terkoreksi = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟 𝑥 ∑ 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟

d) Perhitungan Ketinggian (Z)


Ketinggian = 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑎𝑤𝑎𝑙 + 𝐵𝑒𝑑𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 − 𝐵𝑒𝑑𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖
e) Koreksi Sudut Horizontal
Sudut Luar = ((2 × 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑖𝑡𝑖𝑘 𝑝𝑜𝑙𝑖𝑔𝑜𝑛) + 4) × 90°
(Ʃ 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙)−𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐿𝑢𝑎𝑟 𝐾𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖
Angka Koreksi =
Ʃ 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟

Koreksi = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟 × 𝐴𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖


76

f) Perhitungan Azimut
(𝛼 + 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙 ± 𝐾𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐻) + 180° , untuk α < 180°
(𝛼 + 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙 ± 𝐾𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐻) − 180° , untuk α > 180°
(𝛼 + 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐻𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙 ± 𝐾𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑆𝑢𝑑𝑢𝑡 𝐻) − 540° , untuk α > 540°
g) Perhitungan Absis
Absis ( X ) = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟 𝑥 sin 𝛼
h) Perhitungan Absis Terkoreksi
∑ 𝐴𝑏𝑠𝑖𝑠
Absis Terkoreksi = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟 𝑥 ∑ 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟

i) Perhitungan Ordinat
Ordinat ( Y) = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟 𝑥 cos 𝛼
j) Perhitungan Ordinat Terkoreksi
∑ 𝑂𝑟𝑑𝑖𝑛𝑎𝑡
Ordinat Terkoreksi = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟 𝑥 ∑ 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐷𝑎𝑡𝑎𝑟

k) Koordinat X
Koordinat X = Koord. Awal + Absis (X) + Absis Terkoreksi
l) Koordinat Y
Koordinat Y = Koord. Awal + Ordinat (Y) + Ordinat Terkoreksi

Gambar 4.11 Theodolite


77

4.3.2 Dump Truck

Dump truck berfungsi sebagai pengangkut material dari quarry ke

tempat penghamparan material atau sebaliknya memindahkan tanah hasil

galian pekerjaan ke suatu tempat bahkan dapat langsung dijadikan sebagai

bahan timbunan (cut and fill). Material yang telah dihampar akan diratakan

oleh Motor Grader sebelum akhirnya dipadatkan oleh compactor (Vibrator

Roller). Dump truck yang digunakan pada proyek ini ada dua yakni Nissan

dengan kapasitas bak 10 ton, dan Mitsubishi dengan kapasitas bak 6 ton.

Kemampuan kapasitas produksi per jam nya untuk Nissan adalah 42,11 m3

, sedangkan untuk Mitsubishi kapasitas produksi per jam nya sebesar 12,21

m3. Angka tersebut merupakan hasil perhitungan analisa alat yang dibuat

dari pihak kontraktor.

Gambar 4.12 Dump Truck

4.3.3 Motor Grader

Motor grader adalah suatu alat khusus yang digunakan untuk

meratakan permukaan jalan sekaligus membersihkan badan jalan dari


78

tumbuh-tumbuhan yang menutupi area pekerjaan. Seluruh gerakan dan

kedudukan grade blade diatur melalui circle sebagai kedudukan blade,

digantungkan pada draw bar dan liff arm. Circle adalah tempat grader blade

berpegangan dan sekaligus sebagai pengendali dari grade blade dalam

pengaturan gerakan-gerakan. Untuk keperluan-keperluan membongkar,

membelah atau bahkan menghancurkan permukaan yang keras, motor

grader juga dilengkapi dengan alat semacam ripper pada bulldozer yang

dinamakan scrarifier yang bisa dipasang di depan blade. Motor Grader yang

digunakan pada proyek ini adalah jenis Komatsu. Kapasitas produksinya

untuk penyiapan badan jalan sebesar 360 m2/jam dan untuk meratakan tanah

pada pekerjaan tanah timbunan sebesar 2520 m3/jam.

Gambar 4.13 Motor Grader

4.3.4 Vibrator Roller

Vibrator roller adalah alat pemadat yang sama dengan tipe Tamping

Roller, Smooth Steel Roller dan Pneumatic Roller yang dilengkapi vibrator/

getaran. Roller ini akan menghasilkan efek gaya dinamis terhadap tanah.
79

Getaran tersebut mengakibatkan tanah menjadi padat dengan susunan yang

lebih kompak. Butir-butir tanah akan mengisi ke setiap rongga yang terdapat

diantara butiran tersebut. Vibrator roller yang digunakan pada proyek ini

adalah jenis Bomag dengan kapasitas produksi sebesar 620,04 m3/jam.

Gambar 4.14 Vibrator Roller

4.3.5 Excavator

Excavator adalah suatu alat berat yang diperuntukkan memindahkan

atau menggali suatu material, sehingga dapat meringankan pekerjaan yang

berat apabila dilakukan dengan tenaga manusia.

Excavator merupakan alat yang dikhususkan untuk pekerjaan galian

dan pengangkutan tanah kedalam dump truck. Adapun bagian-bagian dari

excavator adalah:

a. Bucket: digunakan untuk mengeruk tanah

b. Bucket Cylinder: Menggerakkan Bucket

c. Arm: Mengayunkan bucket naik turun

d. Arm Cylinder: Menggerakkan Arm


80

e. Boom: Tuas utama yg digunakan untuk menggerakkan Arm naik

turun

f. Boom Cylinder: Menggerakkan Boom

g. Tracker: Sebagai roda untuk excavator

h. Kabin: Tempat mengendalikan Excavator

Excavator yang digunakan pada proyek ini adalah jenis PC 200

Komatsu. Kemampuan kapasitas produksi per jam nya untuk pekerjaan

galian biasa adalah 39,14 m3, sedangkan untuk pekerjaan galian tanah

timbunan pilihan kapasitas produksi per jam nya sebesar 62,71 m3. Angka

tersebut merupakan hasil perhitungan analisa alat yang dibuat dari pihak

kontraktor.

Gambar 4.15 Excavator

4.3.6 Water Tank Truck

Water Tank Truck adalah alat pengangkut air untuk proses

pemadatan, air tersebut ada yang dimasukkan kedalam roda Compactor

pada saat pemadatan, ada juga yang langsung disiram di badan jalan yang
81

akan di padatkan. Water Tank yang digunakan pada proyek ini adalah Water

Tank dengan Kapasitas 4000 liter dengan kapasitas produksi 142,29 m3/jam.

Gambar 4.16 Water Tank Truck

4.3.7 Pneumatic Tyre Roller

Alat ini biasa juga disebut dengan Universal Compactor, roda-roda

penggilasnya terdiri dari ban karet yang dipompa (pneumatic). Susunan dari

roda muka dan roda belakang selang-seling sehingga bagian yang tidak

tergilas oleh roda bagian depan akan digilas oleh roda bagian belakang.

Penggilas dengan ban ini memiliki ciri khusus dengan adanya kneading

effect, dimana air dan udara dapat ditekan keluar (pada tepi-tepi ban) yang

segera akan menguap pada keadaan udara yang kering, kneading effect ini

sangat membantu dalam usaha pemampatan bahan-bahan yang banyak

mengandung lempung atau tanah liat.


82

Gambar 4.17 Pneumatic Tire Roller

4.3.8 Asphalt Finisher

Asphalt finisher adalah alat untuk menghamparkan campuran aspal

hot mix yang dihasilkan dari alat produksi aspal yaitu Asphalt Mixing Plant

[AMP] pada permukaan jalan yang akan dikerjakan. Terdapat dua jenis

Asphalt Finisher yaitu jenis crawler yang menggunakan track dan jenis roda

karet (Wheeled). Pada Asphalt Finisher jenis track, penghamparannya lebih

halus serta lebih datar dibandingkan Asphalt Finisher yang menggunakan

roda karet dengan ukuran yang sama.

Asphalt Finisher memiliki roda yang berupa kelabang atau

dimaksud dengan crawler track dengan hopper yang tidak beralas.

Sedangkan dibawah hopper terdapat pisau yang juga selebar hopper. Ketika

sistem penghamparan, awalannya diawali dengan memasukkan aspal ke

hopper. Lalu aspal bakal segera turun ke permukaan serta disisir oleh pisau.

Untuk memperoleh tingkat kerataan yang dikehendaki bakal ditata oleh

pisau tersebut.
83

Pada kondisi jalan yang lebar, posisi paving dan screw dapat

ditambah lebarnya (extention) sampai maksimum sesuai spek alat, demikian

pula ketebalan dari hamparan asphalt dapat di sesuaikan.

Posisi yang dikehendaki dari operasi alat ini adalah hasil paving

yang seragam, sama dari ukuran ketebalannya, sama dalam lebarnya, sama

dalam kemiringannya, serta permukaan yang rata.

Di bawah ini persyaratan yang perlu dipenuhi oleh aspal beton yang

dipakai pada konstruksi. Persyaratan tersebut antara lain:

 Memiliki kemampuan gilas serta rata untuk dilalui kendaraan

 Mempunyai sambungan memanjang serta melintang dengan

baik, hingga tak mengganggu kestabilan kendaraan yang bakal

melewatinya.

Pada proyek ini menggunakan alat Asphalt Finisher type Mitsubishi

dengan kapasitas produksi per jam nya 109,18 Ton.

Gambar 4.18 Asphalt Finisher


84

4.3.9 Asphalt Sprayer

Aspal sprayer ini digunakan untuk menyemprotkan cairan lapis

resap pengikat ke atas permukaan jalan yang akan dilapisi aspal. Kapasitas

produksi per jam nya sebesar 332 liter.

Gambar 4.19 Asphalt Sprayer

4.3.10 Concrete Mixer

Concrete mixer truck adalah merupakan kendaraan yang digunakan

untuk mengangkut adukan beton ready mix dari tempat pencampuran beton

ke lokasi proyek dimana selama dalam pengangkutan mixer terus berputar

dengan kecepatan 8-12 putaran permenit agar beton tetap homogen serta

tidak mengeras.

Dalam drum terdapat bilah-bilah baja, ketika dalam perjalanan

menuju lokasi proyek, drum ini berputar perlahan yang berlawanan dengan

arah jarum jam sehingga adukan mengarah kedalam. Perputaran didalam

bertujuan agar tidak terjadi pergeseran ataupun pemisahan agregat sehingga

adukan tetap homogen. Dengan demikian mutu beton akan selalu terjaga

sesuai dengan kebutuhan rencana.


85

Gambar 4.20 Concrete Mixer

4.3.11 Asphalt Mixing Plant

Asphalt Mixing Plant/AMP (unit produksi campuran beraspal)

adalah seperangkat peralatan mekanik dan elektronik dimana agregat

dipanaskan, dikeringkan dan dicampur dengan aspal untuk menghasilkan

campuran beraspal panas yang memenuhi persyaratan tertentu. Penggunaan

Asphalt Mixing Plant dimaksudkan untuk memproduksi material campuran

perekerasan lentur dengan jumlah yang besar dengan mutu dan

keseragaman campuran tetap terjamin (homogen). Material batu pecah dan

aspal akan dipanaskan secara terpisah sebelum dicampurkan. Suhu

pencampuran pada alat ini umumnya berkisar 160 derajat celcius.

Proses pencampuran campuran beraspal pada AMP dimulai dengan

penimbangan agregat, bahan pengisi (filler) bila diperlukan dan aspal sesuai

komposisi yang telah ditentukan berdasarkan Rencana Campuran Kerja

(RCK) dan dicampur pada pencampur (mixer/pugmill) dalam waktu

tertentu. Pengaturan besarnya bukaan pintu bin dingin dilakukan untuk

menyesuaikan gradasi agregat dengan rencana komposisi campuran,


86

sehingga aliran material ke masing-masing bin pada bin panas menjadi

lancar dan berimbang sampai dihasilkan hot mix atau aspal beton yang siap

di muat ke dalam dump truck, untuk selanjutnya dikirim ke lapangan.

Komponen-komponen Asphalt Mixing Plant terdiri dari:

1) Tempat Penyimpanan Asphalt

Tempat untuk menmpertahankan atau meningkat suhu aspal baik

dengan cara proses pembakaran langsung atau dengan proses minyak

panas. Pada proses pertama, ditempatkan pembakaran (burner) yang

akan membakar aspal dalam tangki penyimpanan. Pada proses

peningkatan suhu aspal dengan minyak panas dilakukan dalam dua

tahap. Pertama minyak dipanaskan. Kemudian minyak tersebut

didistribusikan ke dalam pipa pada tangki aspal.

2) Bin dingin (coldbin)

Bin dingin (cold bin) merupakan ini adalah bak tempat menampung

material agregat dari tiap-tiap fraksi mulai dari agregat halus sampai

agregat kasar yang diperlukan dalam memproduksi campuran aspal

panas atau hotmix pada setiap bak masing-masing. Tiap-tiap fraksi

agregat ditampung dalam masing-masing bak sendiri-sendiri. Alat ini

mempunyai beberapa tempat penyimpanan seperti storage bin.

Beberapa jenis cold bin mempunyai saringan di bagian pintu yang

berfungsi untuk menyaring agregat yang tidak sesuai ukurannya.

3) Bin panas (hot bin)

Bin panas atau hot bin adalah tempat penampungan agregat panas

yang telah lolos dari saringan panas. Agregat panas yang lolos
87

penyaringan tersebut akan mengisi tempat masing-masing sesuai

dengan fraksi atau ukuran agregatnya.

4) Corong tuang (hopper)

Corong tuang (hopper) berfungsi untuk menimbang berat agregat

panas dari hot bin (bin panas). Hopper terletak di bawah hot bin dan di

atas pugmill mixer.

5) Elevator dingin (cold elevator)

Elevator dingin (cold elevator) berfungsi untuk membawa

sejumlah agregat dingin setiap jamnya disesuaikan dengan rencana

produksi yang sudah ditetapkan.

6) Elevator panas (hot elevator)

Elevator panas (hot elevator) berfungsi sebagai pembawa agregat

panas yang keluar dari silinder pengering atau dryer menuju saringan

(ayakan) panas (hot screening) untuk dipisah sesuai ukuran agregat

masing-masing.

7) Silo

Silo adalah silinder vertikal untuk menyimpan campuran aspal dari

mixer yang tertutup rapat untuk menghindari terjadinya oksidasi yang

dapat mengakibatkan campuran menjadi keras.

8) Pemasok (feeder)

Pemasok (feeder) digunakan untuk memasok agregat dari bin

dingin (cold bin) menuju alat pengering (dryer).


88

9) Penampung bahan pengisi (filler storage)

Filler merupakan salah satu bahan aspal hotmix yang lolos saringan

no.200. Pada filler storage tersebut disimpan bahan pengisi (filler)

sebelum diolah menjadi aspal hotmix.

10) Ban Berjalan (belt conveyor)

Ban berjalan (belt conveyor) digunakan untuk memasok agregat dari

cold bin.

11) Pencampur (pugmill)

Pugmill berfungsi sebagai tempat pencampuran semua material

(agregat dan aspal) dalam keadaan panas.

12) Pengapian (burner)

Pengapian (burner) merupakan alat yang digunakan untuk

memanaskan dan mengeringkan agregat pada pengering maupun

membakar aspal dalam tangki penyimpanan.

13) Pengatur udara (air lock damper)

Alat pengatur udara berfungsi untuk mengatur udara saat dilakukan

pengapian (burner).

14) Pengatur waktu (timer)

Timer merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengatur lama

pencampuran kering dan basah campuran beraspal dalam alat

pencampur.

15) Pengering (Drum dryer)

Drum dryer berfungsi sebagai pemanas dan pengering agregat.

Suhu agregat dapat mempengaruhi suhu campuran. Drum dryer


89

bergerak berputar dan pada bagian dalamnya terdapat aliran gas yang

berfungsi untuk mengeringkan agregat. Drum diletakkan miring dengan

bagian ujung bawah terdapat pembakaran (burner) drum untuk

pengering agregat.

16) Penggetar (vibrator)

Vibrator digunakan sebagai alat penggetar yang diletakkan pada

pintu bukaan bin dingin (cold bin) dan saringan panas (hot screening).

17) Pengumpul debu (dust collector)

Pengumpul debu (dust collector) merupakan tempat pengumpulan

debu yang dihasilkan dari proses pengeringan agregat.

18) Pintu bukaan bin dingin (cold bin gate)

Pintu bukaan (cold bin gate) digunakan untuk mengeluarkan

agregat dari bin dingin (cold bin).

19) Saringan (screen)

Saringan atau ayakan digunakan untuk mengelompokkan butiran

agregat sesuai dengan kelompok ukuran (fraksi) masing-masing dengan

cara digetar atau diayak yang kemudian akan ditampung di hot bin.

20) Saringan panas (hot screen)

Saringan panas digunakan pada saat proses unit saringan agregat

panas.

21) Weight bin

Bin penimbang atau weight bin adalah bin tempat menampung

sekaligus menimbang agregat dari setiap fraksi agregat yang dibutuhkan

untuk tiap kali pencampuran atau batch sebelum dioperasikan bin


90

penimbang harus dipemeriksaan kelayakan oleh jawatan meteorologi

yang dibuktikan dengan sertifikat pemeriksaan kelayakan. Di bagian

bawah bin terdapat pintu pengeluaran yang bisa dibuka dan ditutup

secara manual atau secara otomatis.

22) Thermostat

Thermostat merupakan alat yang digunakan untuk mengatur

temperature suhu yang tidak menggunakan air raksa.

23) Timbangan

Timbangan merupakan alat untuk menimbang agregat panas, filler

dan aspal panas.

24) Unit pengontrol aspal (asphalt control unit)

Unit pengontrol aspal merupakan alat yang terletak pada tangki

timbangan aspal untuk mengontrol pemasokan aspal menuju alat

pencampur (pugmill).

Pada proyek Lanjutan Peningkatan Jalan Gurimbang-Tanjung

Perangat-Sukan ini memiliki Asphalt Mixing Plant dengan kapasitas

produksi per jam nya 49,80 ton.

Gambar 4.21 Asphalt Mixing Plant