Anda di halaman 1dari 26

Empat Kesunyataan Mulia

Disusun oleh :

Irvine Valiant Fanthony 03041281722032

TEKNIK ELEKTRO (B)


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................ i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 2

1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2

BAB II ISI ............................................................................................................... 3

2.1 Pengertian Tri Ratna ...................................................................................... 3

2.2 Isi Tri Ratna ................................................................................................... 4

2.3 Diagram Tri Ratna ......................................................................................... 5

2.4 Buddha Ratana .............................................................................................. 6

2.5 Dhamma ...................................................................................................... 10

2.6 Sangha Ratana ............................................................................................. 12

2.7 Aspek dalam kata “berlindung” .................................................................. 16

2.9 Makna Berlindung kepada Tri Ratna .......................................................... 18

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 20

3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 20

BAB IV LAMPIRAN ............................................................................................ iii

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. v

i
KATA PENGANTAR
Namo Sanghyang Adi Buddhaya,
Namo Buddhaya

Puji syukur penulis panjatkan kepada Sanghyang Adi Buddha Tuhan Yang
Maha Esa, karena berkat pancaran sinar cinta kasih dan kasih sayang-Nya penulis
dapat menyelesaikan makalah tentang ”Empat Kesunyataan Mulia” ini dengan
baik sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Pada kesempatan ini penulis menghanturkan terima kasih yang tak
terhingga kepada:
1. Romo Drs.Darwis Hidayat, M.M selaku dosen pengampu mata kuliah
Agama Buddha.
2. Pihak pengurus perpustakaan yang meminjamkan buku-buku sebagai
referensi
3. Pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian makalah ini yang tidak
dapat di sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari keterbatasan kemampuan dalam penyusunan makalah
ini, sehingga sangat membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah yang akan datang.

Palembang, 9 Februari 2018

Penyusun

ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tri Ratna secara keseluruhan adalah Tiga Permata (Tiga Mustika) yang
nilainya tidak bisa diukur; karena merupakan sesuatu yang agung, luhur, mulia,
yang perlu sekali dimengerti (dipahami) dan diyakini oleh umat Buddha.
Perlindungan kepada Tri Ratna bukanlah seperti mendapatkan perlindungan dari
perisai atau benteng yang dibangun di luar diri kita. Maksud perlindungan di sini
adalah bahwa Tri Ratna yang terdiri dari Buddha, Dhamma, dan Sangha yang
bersifat simbolis. Tindakan pertama ke arah keselamatan dan kebebasan ialah
dengan “berlindung” secara benar, yaitu suatu tindakan sadar daripada keyakinan,
pengertian dan pengabdian.
Berlindung kepada Buddha bukan berarti pasrah dan bergantung pada sosok
Buddha, tapi dengan melihat dan meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh Sang
Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja kesabaran, cinta kasih,
kebijaksanaan, dsb. Berlindung kepada Dhamma bukan hanya sekedar bawa atau
baca paritta bisa selamat, melainkan dengan menjalankan hidup sesuai dengan
Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Misalnya saja, berkumpul dengan
orang bijaksana dan menjauhi pergaulan dengan orang yang tidak bijaksana, jauhi
kejahatan (sila), tambah kebajikan (dana), dsb. Berlindung pada Sangha bukan
berarti jika kita ada masalah meminta tolong kepada bhiksu atau bhiksuni dan
memohon pada arahat, tapi dengan meneladani kehidupan para Arahanta seperti
yang dimuat dalam Sanghanussati. Arahanta adalah siswa Sang Bhagava yang telah
bertindak baik, lurus, benar dan patut.
Oleh karena itu, seseorang yang melaksanakan ketiga perlindungan di atas,
tentu saja akan mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun yang akan
datang, bahkan sangat mungkin mencapai kesucian dalam kehidupan ini pula. Jadi,
perlindungan kepada Tri Ratna bukanlah di luar diri kita, melainkan ada dalam
perbuatan kita setiap saatnya. Tidak hanya dengan membaca doa atau paritta dan
pergi ke vihara.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Pengertian dari Tri Ratna
1.2.2 Apa aja isi dari Tri Ratna ?
1.2.3 Bagaimana Diagram Tri Ratna ?
1.2.4 Apa itu Buddha Ratana ?
1.2.5 Apa itu Dhamma Ratana?
1.2.6 Apa itu Sangha Ratana ?
1.2.7 Apa Aspek dalam kata “berlindung” ?
1.2.8 Apa makna berlindung kepada Tri Ratna?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian dari Tri Ratna
1.3.2 Mengetahui isi dari Tri Ratna ?
1.3.3 Mengetahui diagram Tri Ratna ?
1.3.4 Mengetahui apa itu Buddha Ratana ?
1.3.5 Mengetahui apa itu Dhamma Ratana?
1.3.6 Mengetahui apa itu Sangha Ratana ?
1.3.7 Mengetahui aspek dalam kata “berlindung” ?
1.3.8 Mengetahui makna berlindung kepada Tri Ratna?

2
BAB II ISI
2.1 Pengertian Tri Ratna
Tiga Permata, juga disebut Tiga Treasures, Triple Siemese,
atau tiga perlindungan. Kata Tri Ratna terdiri dari kata Ti, yang
artinya tiga dan Ratana, yang artinya permata/ mustika; yang
maknanya sangat berharga. Jadi, arti Tri Ratna secara
keseluruhan adalah Tiga Permata (Tiga Mustika) yang nilainya tidak bisa
diukur, karena merupakan sesuatu yang agung, luhur, mulia, yang perlu sekali
dimengerti (dipahami) dan diyakini oleh umat Buddha.

Pali: Pali Tri Ratna, tisarana


Sanskrit: त्रिरत्न ( triratna ), रत्निय ( ratna-traya )

Sanskerta
Thai: ไตรรตั น์ (trairat), รัตนตรัย (rattanatrai)

Thailand
Lao: Lao ໄຕແກ້ ວ (tài kɛ̂ːu) / ໄຕລັດ (tài lāt)
Sinhalese: තතතතතතත (teruwan)
Sinhala
Burnese: (Burma pengucapan: [jadanà θóuɴ ba] )
Burma
Chinese:
三宝 , 三寶 (sānbǎo)
Cina
Vietnames Tam bảo
e: Vietnam
Khmer: HYPERLINK
"http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=id&prev=/search%3F
Khmer F
%
Korean:
삼보
2
(sambo)
Korea 5
9
Japanese: 2三宝 (sambō, sampō)
Jepang %
Mongolian 2ɣ urban erdeni ɣ perkotaan erdeni
5
: Mongolia E
1
%
2
5 3
9
E
%
2
Tibetan: དཀོན་མཆོག་གསུམ , དཀོན་མཆོག་གསུམ ,
Tibet
(dkon mchog gsum)
English: Three Jewels, Three Refuges, Three Treasures, Tri
Bahasa
Inggris
Marathi: त्रिशरण (trisharan)
Marathi

Arti dari Tri Ratna adalah tiga mustika sesuai dengan yang terpapar dalam
Ratanattaya 3 (3 macam mustika), yaitu:
1. Buddha Ratana: Sang Buddha adalah guru suci junjungan kita, yang
telah memberikan ajarannya kepada umat manusia dan para dewa untuk
mencapai kebebasan terakhir atau kebahagiaan sejati
2. Dhamma Ratana: Sang Dhamma adalah ajaran Sang Buddha yang
menunjukan umat manusia dan deva ke jalan yang benar, terbebas dari
kejahatan, dan membimbing kita untuk mencapai nibbanna.
3. Sangha Ratana: Sang Sangha adalah persaudaraan Bhikku Suci yang
telah mencapai kesucian sebagai pengawal dan pelindung dhamma orang
lain untuk ikut melaksanakannya sehingga mencapai nibbana.

2.2 Isi Tri Ratna


Sesuai dengan arti katanya, yaitu Tiga Mustika atau Tiga Permata, maka isi Tri
Ratna memang terdiri dari 3 permata atau tiga ratana, yaitu: Buddha Ratana;
Dhamma Ratana; dan Sangha Ratana. Rumusannya berbunyi:

Buddham saranam gacchâmi


Aku berlindung kepada Buddha
Dhammam saranam gacchâmi
Aku berlindung kepada Dhamma
Sangham saranam gacchâmi
Aku berlindung kepada Sangha

4
2.3 Diagram Tri Ratana

5
2.4 Buddha Ratana
Sang Buddha adalah guru suci junjungan kita. Yang telah memberikan
ajarannya kepada umat manusia dan para dewa. Untuk mencapai kebebasan
mutlak (Nibbana).
Kata Buddha berasal dari kata Budh yang artinya bangun atau sadar.
Buddha bukanlah nama diri seperti nama seseorang, melainkan merupakan
sebuah gelar kesucian bagi mereka yang telah mencapai kesempurnaan. Jadi
Buddha itu berarti orang yang telah sadar / bangun dari kegelapan bathin atau
orang yang telah mencapai atau mendapatkan penerangan sempurna (Bodhi),
yang menjadi guru manusia dan para dewa.
Sifat utama seorang Buddha adalah Maha Panna ( bijaksana), Maha
Parisuddhi (suci), dan Maha Karuna (pengasih dan penyayang). Buddha yang
menjadi guru kita saat ini adalah Buddha Sakyamuni,, memiliki sifat utama
dalam hal bijaksana; karena itu beliau disebut juga Sakyamuni, yang artinya
suku Sakya yang bijaksana.
Kemampuan seorang Buddha antara lain adalah memilik 6 kekuatan gaib
(Abhinna), yaitu memiliki kekuatan gaib, telinga dewa, penembus hati orang
lain, ingatan pada kelahiran-kelahiran yang masa lalu, mata dewa, dan
kemampuan untuk melenyapkan semua ikatan Abhinna pertama hingga
kelima.
Selain itu seorang Buddha memiliki kemampuan untuk menghadapi
berbagai sifat manusia dengan penuh bijaksana. Menguraikan kesalahan
mereka yang sedang berada di jalan kehidupan yang salah dan membimbing
mereka mencapai kesucian. Seorang Buddha juga memiliki kemampuan utnuk
membimbing para dewa atau Brahma untuk menghapuskan kegelapan bahtin
mereka, dalam usahannya mencapai kesucian. Selain manusia dan para Dewa,
hewan-hewan juga tunduk dan mengasihi Sang Buddha.
i. Arti Buddha (dalam Khuddaka Nikaya) adalah:
 Dia Sang Penemu (Bujjhita) Kebenaran
 Ia yang telah mencapai Pengerangan Sempurna
 Ia yang memberikan penerangan (Bodhita) dari generasi ke generasi

6
 Ia yang telah mencapai kesempurnaan melalui 'penembusan',
sempurna penglihatannya, dan mencapai kesempurnaan tanpa bantuan
siapapun.
ii. Sembilan Buddhaguna
Di dalam Anguttara Nikaya Tikanipata 20/265, disebutkan tentang sifat-
sifat mulia Sang Buddha, atau disebut Buddhaguna. Ada sembilan
Buddhaguna, yaitu:
 Araham → manusia suci yang terbebas dari kekotoran batin.
 Sammasambuddho → manusia yang mencapai penerangan sempurna
dengan usahanya sendiri.
 Vijjacaranasampanno → mempunyai pengetahuan sempurna dan
tindakannya juga sempurna.
 Sugato → yang terbahagia.
 Lokavidu → mengetahui dengan sempurna keadaan setiap alam.
 Anuttaro purisadammasarathi → pembimbing umat manusia yang tiada
bandingnya.
 Satta devamanussanam → guru para dewa dan manusia.
 Buddho → yang sadar.
 Bhagava → yang patut dimuliakan (dijunjung).

Tingkat kebuddhaan adalah tingkat pencapaian penerangan sempurna.


Menurut tingkat pencapaiannya, Buddha dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

Samma sambuddho
1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan dengan usahanya sendiri, tanpa
bantuan mahluk lain
2. Mampu mengajarkan ajaran yang ia peroleh (Dhamma) kepada mahluk
lain
3. Yang diajar tersebut bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya

7
Pacceka Buddha
1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan dengan usahanya sendiri, tanpa
bantuan mahluk lain
2. Tidak mengajarkan ajaran yang ia peroleh kepada mahluk lain secara
meluas
3. Yang diajar tersebut belum mampu mencapai tingkat-tingkat kesucian
seperti dirinya.

Savaka Buddha
1. Orang yang mencapai tingkat kebuddhaan karena mendengarkan dan
melaksanakan ajaran dari Sammasambuddha
2. Mampu mengajarkan ajaran yang ia peroleh kepada mahluk lain.
3. Yang diajar bisa mencapai tingkat-tingkat kesucian seperti dirinya.

Para Buddha pada dasarnya mempunyai tiga prinsip dasar ajaran, yaitu
seperti yang tercantum di dalam Dhammapada 183 sebagai berikut:

 Sabbapapassa akaranam → tidak melakukan segala bentuk kejahatan


 Kusalasupasampada → senantiasa mengembangkan kebajikan
 Sacittapariyodapanam → membersihkan batin atau pikiran
 Etam buddhana sasanam → inilah ajaran para Buddha

Ajaran Sang Buddha memberikan bimbingan kepada kita untuk


membebaskan batin dari kemelekatan kepada hal yang selalu berubah (anicca),
yang menimbulkan ketidakpuasan (dukkha); karena semuanya itu tidak mempunyai
inti yang kekal, tanpa kepemilikan (anatta). Usaha pembebasan ini dilakukan sesuai
dengan kemampuan dan pengertian masing-masing individu.
Jadi, ajaran Buddha bukan merupakan paksaan untuk dilaksanakan. Sang
Buddha hanya penunjuk jalan pembebasan, sedangkan untuk mencapai tujuan itu
tergantung pada upaya masing-masing. Bagi mereka yang tidak ragu-ragu lagi dan
dengan semangat yang teguh melaksanakan petunjuk-Nya itu, pasti akan lebih cepat
sampai dibandingkan dengan mereka yang masih ragu-ragu dan kurang semangat.

8
Sang Buddha sebagai penunjuk jalan tidak menjanjikan sesuatu hadiah ataupun
hukuman bagi para pengikutnya, sebab Beliau mengajarkan Dhamma atas dasar
cinta kasih, tanpa pamrih apapun bagi dirinya. Beliau berpedoman kepada 3 dasar
kebijaksanaan yang bebas dari pamrih, yaitu:

1. Beliau tidak girang atau gembira bilamana ada orang yang mau mengikuti
ajarannya.
2. Beliau tidak akan kecewa atau menyesal bilamana tidak ada orang yang mau
mengikuti ajarannya.
3. Beliau tidak merasa senang atau kecewa bilamana ada sebagian orang yang mau
mengikuti ajaran-Nya, dan ada sebagian lagi yang tidak mau mengikuti ajaran-
Nya.
Adalah bijaksana bila sebagai umat Buddha, setelah terlahir sebagai
manusia janganlah tenggelam di dalam kepuasan sang 'aku'. Di dunia ini kita telah
diberi warisan yang sangat berharga oleh para bijaksana. Sungguh bahagia bagi
manusia yang bisa menerima ajaran Buddha yang telah dibabarkan di hadapan kita.
Mengapa? Karena hadirnya seorang Buddha di alam kehidupan ini adalah sangat
jarang. Di dalam Dhammapada 182 disebutkan demikian:

o Kiccho manussapatilabho = sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai


manusia
o Kiccho maccana jivitam = sungguh sulit kehidupan manusia
o Kiccho saddhammasavanam = sungguh sulit untuk dapat mendengarkan
ajaran benar
o Kiccho Buddhanam uppado = sungguh sulit munculnya seorang Buddha

Jadi, manfaatkanlah kehidupan kita sebagai manusia sekarang ini untuk


lebih giat lagi mempelajari Dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha.
Ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan kepada manusia dan bahkan juga
kepada para dewa, adalah demi keuntungan manusia dan para dewa itu sendiri
guna mencapai Kebebasan Mutlak (Nibbana).

9
2.5 Dhamma Ratana
Dhamma adalah kebenaran mutlak, dan juga merupakan ajaran Buddha. Yang
menunjukkan umat manusia dan para dewa ke jalan yang benar, yaitu yang
terbebas dari kejahatan, dan Membimbing mereka mencapai kebebasan mutlak
(Nibbana).
i. Pengertian
Dhamma (bahasa Pali) atau Dharma (bahasa Sansekerta) bila
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah berarti ajaran, agama.
Falsafah, hukum, pandangan hidup, ilmu jiwa, peraturan-peraturan dan lain
lain. Dhamma yang diuraikan dalam ajaran Sang Buddha bukanlah ciptaan
Sang Buddha, tetapi adalah hukum kesunyataan, hukum-hukum alam yang
telah berlaku di alam semesta ini. Buddha adalah seorang yang telah
mencapai Penerangan Sempurna sehingga mampu melihat jalannya hukum-
hukum Kesunyataan ini. Kemudian mengajarkan kepada kita, agar kita
dapat menyesuaikan diri dalam memperoleh kebahagiaan dan ketenangan
hidup serta kesucian. Untuk penyesuaian ini Sang Buddha membuat Sila
untuk ditaati umat Buddha.
Jadi, Dhamma adalah ajaran yang telah sempurna dibabarkan oleh
Sang Bhagava, berada di sekeliling / sangat dekat, tidak terkekang oleh
waktu, mengundang untuk dibuktikan, sahih, dan dapat diselami para
bijaksana dalam batin masing-masing.
ii. Macam Dhamma
1. Pannati Dhamma: kenyataan yang bukan ada dengan sendirinya,
sebutan, konsep untuk dijadikan panggilan atau keberadaannya karena
dibuat / diberikan nama sesuai dengan keinginan manusia, misalnya:
kalung, kuali, dll.
2. Paramattha Dhamma: Kenyataan tertinggi, ada 4, yaitu citta
(kesadaran), cetasika (faktor batin), rupa (materi), dan Nibbana.
a. Sankhata Dhhamma, Yang mempunyai ciri-ciri "Muncul (uppado
pannayati), berubah (thitassa annathattan pannayati), lenyap (vayo
pannayati)" atau "Berawal, berubah dan berakhir".

10
b. Asankhata Dhamma, Yang mempunyai ciri-ciri "Tidak muncul (na
uppado pannayati), tidak berubah (na thitassa annathattan
pannayati), tidak lenyap (na vayo pannayati)" atau "Tidak berawal,
tidak berakhir".
iii. Tiga aspek Dhamma bila ditinjau dari mutu, adalah:
1. Kusala Dhamma = Keadaan baik.
2. Akusala Dhamma = Keadaan yang tidak baik.
3. Abyakata Dhamma = Keadaan yang netral, tidak baik dan tidak jahat.
iv. Tiga aspek Dhamma ditinjau dari pelaksanaan:
1. Pariyatti Dhamma → Mempelajari Dhamma secara teori, dalam hal ini,
yaitu mempelajari dengan tekun Kitab Suci Tipitaka (Dhamma-
Vinaya). Terdiri atas: Vinaya pitaka, Sutta Pitaka dan Abhidhamma
Pitaka.
2. Patipatti Dhamma → Melaksanakan Dhamma dan Vibnaya dalam
kehidupan sehari-hari. Terdiri atas: Sila, Samadhi, Panna.
3. Pativedha Dhamma → Penembusan Dhamma, yaitu hasil menganalisa
dan merealisasi kejadian-kejadian hidup melalui meditasi pandangan
terang (vipassana) hingga merealisasi Kebebasan Mutlak (Nibbana).
Terdiri atas: Magga, Phala, Nibbana.
v. Enam Dhammaguna
Di dalam Anguttara Nikaya Tikanipata 20/266, disebutkan tentang sifat
Dhamma, atau Dhammaguna. Ada enam Dhammaguna, yaitu:
 Svakkhato Bhagavata Dhammo Dhamma: Ajaran Sang Bhagava telah
sempurna dibabarkan.
 Sanditthiko: Berada sangat dekat (kesunyataan yang dapat dilihat dan
dilaksanakan dengan kekuatan sendiri).
 Akaliko: Tak ada jeda waktu atau tak lapuk oleh waktu
 Ehipassiko: Mengundang untuk dibuktikan
 Opanayiko: Menuntun ke dalam batin (dapat dipraktikkan)
 Paccattam veditabbo vinnuhi: Dapat diselami oleh para bijaksana dalam
batin masing-masing.

11
Dhamma akan melindungi mereka yang mempraktikkan Dhamma. Praktik
Dhamma akan membawa kebahagiaan. Barang siapa mengikuti Dhamma,
maka tidak akan jatuh ke alam penderitaan.

2.6 Sangha Ratana


Sangha mengajarkan Dhamma kepada orang lain untuk ikut melaksanakannya
sehingga bisa mencapai kebebasan mutlak (Nibbana).
i. Pengertian

Sangha adalah kumpulan siswa Sang Bhagava yang telah bertindak baik,

lurus, patut, dan benar. Mereka merupakan empat pasang siswa mulia,

terdiri dari delapan jenis siswa mulia. Mereka disebut Ariya Sangha:

mahluk-mahluk yang telah mencapai Sotapatti Maga dan Phala,

Sakadagami Magga dan Phala, Anagami Magga dan Phala dan Arahatta

Magga dan Phala sebagai pengawal dan pelindung Dhamma. Itulah Sangha

siswa Sang Bhagava. Patut menerima persembahan yang layak; tempat

bernaung yang layak; penghormatan yang layak, serta merupakan lapangan

untuk menanam jasa yang tiada taranya di dunia. Secara singkat, Sangha

adalah persaudaraan agung para Bhikkhu suci yang telah mencapai tingkat-

tingkat kesucian dengan jumlah minimal 5 (lima) orang Bhikkhu.

ii. Jenis Sangha

 Sammuti Sangha (Magga-Sangha) = persaudaraan para Bhikkhu biasa,

artinya yang belum mencapai tingkat-tingkat kesucian. Umat Buddha yang

melepaskan ikatan duniawi untuk menjalankan sila-sila tertentu, sebagai

suatu usaha untuk mempercepat tercapainnya kesucian.

 Ariya Sangha = persaudaraan para Bhikkhu suci, artinya yang telah

mencapai tingkat-tingkat kesucian.

12
iii. Tugas Sangha

Sangha bertugas untuk memelihara keutuhan Ajaran Sang Buddha, Sangha

juga bertugas untuk menyebarkan Dhamma / Ajaran Sang Buddha. Oleh

sebab itu, Sangha juga dapat disebut sebagai wakil Sang Buddha dari masa

ke masa. Setiap orang yang menjadi Bhikkhu atau Bhikkhuni dengan

sendirinya menjadi anggota Sangha.

iv. Di dalam ajaran Agama Buddha, dikenal adanya mahluk suci, yang disebut

dengan istilah Ariya Puggala. Ariya puggala ini ada 4 tingkat, yaitu:

y Sotapanna = orang suci tingkat pertama yang terlahir paling banyak tujuh
kali lagi.
y Sakadagami = orang suci tingkat kedua yang akan terlahir sekali lagi (di
alam nafsu).
y Anagami = orang suci tingkat ketiga yang tidak akan terlahir lagi (di
alam nafsu).
y Arahat = orang suci tingkat keempat yang terbebas dari kelahiran dan
kematian.
v. Untuk dapat mencapai tingkat-tingkat kesucian, maka mereka harus dapat
mematahkan 'belenggu' (disebut Samyojana) yang mengikat mahluk pada
roda kehidupan. Ada 10 jenis belenggu yang harus dipatahkan bertahap
sehubungan dengan pencapaian tingkat-tingkat kesucian, yaitu
1. Sakkayaditthi = kepercayaan tentang adanya diri / kepemilikan / atta
yang kekal dan terpisah.
2. Vicikiccha = keraguan terhadap Buddha dan ajarannya.
3. Silabbataparamasa = kepercayaan tahyul, bahwa dengan upacara
sembahyang saja, dapat membebaskan manusia dari penderitaan.
4. Kamachanda / kamaraga = hawa nafsu indera
5. Byapada / patigha = kebencian, dendam, itikad jahat.
6. Ruparaga = keinginan untuk hidup di alam yang bermateri halus.
7. Aruparaga = keinginan untuk hidup di alam tanpa materi.
8. Mana = kesombongan, kecongkakan, ketinggihatian.

13
9. Uddhacca = kegelisahan, pikiran kacau dan tidak seimbang.
10. Avijja = kegelapan / kebodohan batin.

Mereka yang telah terbebas dari 1 - 3 adalah Sotapanna.


Mereka, yang disamping telah terbebas dari 1 - 3, dan telah dapat mengatasi
/ melemahkan no. 4 dan 5, disebut Sakadagami.
Mereka yang telah sepenuhnya bebas dari no. 1 - 5, adalah Anagami.
Mereka yang telah bebas dari kesepuluh belenggu tersebut, disebut mahluk
suci tingkat keempat (Arahat), yang telah merealisasi Nibbana (Kebebasan
Mutlak).
vi. Mahluk suci juga dapat ditinjau dari segi Kekotoran batin (kilesa)-nya, yang
telah berhasil mereka basmi. Ada 10 kilesa yang harus dibasmi sehubungan
dengan pencapaian tingkat-tingkat kesucian tersebut, yaitu:
1. Lobha = ketamakan
2. Dosa = kebencian
3. Moha = kebodohan batin
4. Mana = kesombongan
5. Ditthi = kekeliruan pandangan
6. Vicikiccha = keraguan (terhadap hukum kebenaran / Dhamma)
7. Thina-Middha = kemalasan dan kelambanan batin
8. Uddhacca = kegelisahan
9. Ahirika = tidak tahu malu (dalam berbuat jahat)
10.Anottappa = tidak takut (terhadap akibat perbuatan jahat)

Sotapanna, dapat membasmi no. 5 dan 6; Sakadagami, dapat membasmi


nomor 5 dan 6 serta melemahkan kilesa yang lainnya; Anagami, dapat
membasmi nomor 5, 6 dan 2 serta melemahkan kilesa yang lainnya; Arahatta,
dapat membasmi kesepuluh kekotoran batin tersebut.

14
vii. Sifat Sangha

Di dalam Anguttara Nikaya, Tikanipata 20/267, disebutkan tentang sifat-sifat

mulia Sangha, yang disebut Sanghaguna. Ada 9 jenis Sanghaguna, yaitu:

1. Supatipanno: Bertindak / berkelakuan baik.

2. Ujupatipanno: Bertindak jujur / lurus.

3. Nayapatipanno: Bertindak benar (berjalan di 'jalan' yang benar, yang

mengarah pada perealisasian Nibbana).

4. Samicipatipanno: Bertindak patut, penuh tanggung jawab dalam

tindakannya.

5. Ahuneyyo: Patut menerima pemberian / persembahan.

6. Pahuneyyuo: Patut menerima (diberikan) tempat bernaung.

7. Dakkhineyyo: Patut menerima persembahan / dana.

8. Anjalikaraniyo: Patut menerima penghormatan (patut dihormati).

9. Anuttaram punnakhettam lokassa: Lapangan (tempat) untuk menanam

jasa yang paling luhur, yang tiada bandingnya di alam semesta.

viii. Sangha di Indonesia terdiri atas 3 kelompok, yaitu:

1. Sangha Agung Indonesia

a. Sangha Agung Sangha Theravada Indonesia

b. Sangha Agung Sangha Mahayana Indonesia

c. Sangha Agung Sangha Wanita Indonesia

d. Sangha Agung Sangha Tantrayana Indonesia

2. Sangha Theravada Indonesia

3. Sangha Mahayana Indonesia

15
Setelah Perwalian Umat Buddha (WALUBI) dibubarkan, maka ketiga Sangha

yang ada di Indonesia membentuk Konfrensi Agung Sangha Indonesia atau

yang disebut dengan KASI yang hingga kini merupakan pemberi fatwa

tertinggi umat Buddha di Indonesia.

2.7 Aspek dalam kata “berlindung”


Trisarana adalah ungkapan keyakinan (saddha) bagi umat Buddha. Saddha
yang diungkapkan dengan kata 'berlindung' itu mempunyai tiga aspek :
1) Aspek kemauan : Seorang umat Buddha berlindung kepada Tri Ratna
dengan penuh kesadaran, bukan sekedar sebagai kepercayaan teoritis, adat
kebiasaan atau tradisi belaka. Tri Ratna akan benar-benar menjadi
kenyataan bagi seseorang, apabila ia sungguh-sungguh berusaha
mencapainya. Karena adanya unsur kemauan inilah, maka saddha dalam
agama Buddha merupakan suatu tindakan yang aktif dan sadar yang
ditujukan untuk mencapai Pembebasan, dan bukan suatu sikap yang pasif,
'menunggu berkah dari atas'.
2) Aspek Pengertian : ini mencakup pengertian akan perlunya perlindungan
yang memberi harapan dan menjadi tujuan bagi semua mahluk dalam
samsara ini, dan pengertian akan adanya hakekat dari perlindungan itu
sendiri.
Adanya Tri Ratna sebagai Perlindungan telah diungkapkan sendiri oleh
Sang Buddha. Tetapi hakekat Tri Ratna sebagai Perlindungan Terakhir
hanya dapat dibuktikan oleh setiap orang dengan mencapainya dalam
batinnya sendiri. Dalam diri seseorang, Perlindungan itu akan timbul dan
tumbuh bersama dengan proses untuk mencapainya. " Dengan daya upaya,
kesungguhan hati dan pengendalian diri, hendaklah orang yang bijaksana
membuat untuk dirinya pulau yang tidak akan tenggelam oleh air bah"
(Dhammapada, V : 25).
3) Aspek Perasaan (emosionil) : yang berlandaskan aspek pengertian di atas,
dan mengandung unsur-unsur keyakinan, pengabdian dan cinta kasih.
Pengertian akan adanya Perlindungan memberikan kayakinan yang kokoh

16
dalam diri sendiri, serta menghasilkan ketenangan dan kekuatan. Pengertian
akan perlunya Perlindungan mendorong pengabdian yang mendalam
kepada-Nya; dan pengertian akan hakekat Perlindungan memenuhi batin
dengan cinta kasih kepada Yang Maha Tinggi, yang memberikan semangat,
kehangatan dan kegembiraan.

Ketiga aspek daripada 'berlindung' ini sesuai dengan aspek kemauan, aspek
rasionil dan aspek emosionil dari batin manusia. Oleh karena itu untuk
mendapatkan perkembangan batin yang harmonis, ketiga aspek ini harus
dipupuk bersama-sama.

2.8 Tri Ratna dalam kehidupan sehari-hari


Kebudayaan Buddhis telah meresap ke dalam setiap aspek kehidupan kita.
Buddhisme merupakan satu agama yang membimbing kita menuju kehidupan
yang lebih baik di alam ini dan selanjutnya. Menjadi tugas kita untuk menyisati,
mempelajari, memahami serta melaksanakan apa yang disediakan untuk kita
oleh agama ini. Kita memerlukan bimbingan agama untuk kehidupan sehari-
hari. Kemajuan batin merupakan aspek terpenting di dalam agama. Untuk
mencapai kemajuan batin, kita harus bermula dengan memupuk asas moral yang
kuat supaya kita mempunyai satu dasar yang teguh. Dengan memahami ajaran
Buddha kita akan mendapat inspirasi batin yang diperlukan. Untuk itulah kita
harus berterima-kasih dan memberi penghormatan kepada Buddha, Ajarannya
dan Sanghanya.
Pencapaian kemajuan batin dan penghormatan kepada Tri Ratna adalah
jalan terbaik yang dapat membimbing kita agar memiliki cara hidup yang benar
menuju kedamaian, kebahagian dan keselamatan mutlak, yang merupakan
keinginan setiap Buddhis. Melalui bimbingan Tri Ratna kita harus memperkaya
kehidupan kita dengan melaksanakan ajaran murni dan luhur dari pemimpin
agama kita untuk hidup secara terhormat, sopan dan berguna, berbuat kebajikan
bila mungkin dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Ketika kita sedang
dalam berduka, banyak masalah, bingung, takut, maka kita harus selalu
mengingat ajaran Sang Buddha pada saat itu, sehingga dapat muncullah

17
kebijaksanaan, keyakinan serta ketegaran dalam menghadapi berbagai macam
derita. Jadi, setiap hari kita harus selalu meningkatkan keyakinan kita kepada
Sang Triratna sehingga batin kita tidak mudah tergoyahkan, menjadi lebih
tenang, tentram, damai, dan bahagia.

2.9 Makna Berlindung kepada Tri Ratna


1. Aku Berlindung kepada Buddha
Di samping kita berlindung kepada Buddha Gotama yang merupakan
Buddha yang sekarang (Paccupanna-Buddha), kita juga berlindung kepada
Buddha-Buddha yang telah lampau (Atita-Buddha) dan Buddha-Buddha
yang akan datang (Anagata-Buddha).
Aku berlindung kepada Sang Buddha, hingga tercapainya Nibbana.
Kepada para Buddha yang lampau,
Kepada para Buddha yang akan datang,
Kepada para Buddha yang sekarang ini,
Setiap hari aku menyampaikan hormatku,
Aku tidak mencari perlindungan lain,
Sang Buddha Pelindungku yang tiada bandingannya,
Semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini,
Kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku,
Secara hidmat dengan menundukkan kepala,
Pada kaki Yang Maha Suci, aku menghormati Beliau.
2. Aku Berlindung kepada Dhamma
Di samping kita berlindung kepada Dhamma yang sekarang
(Paccuppanna-Dhamma), kita juga berlindung kepada Dhamma yang telah
lampau (Atita DhamIria) dan Dhamma yang akan datang (Anagata-
Dhamma).

18
Aku berlindung kepada Sang Dhamma, hingga tercapai Nibbana.
Kepada Dhamma yang lampau,
Kepada Dhamma yang akan datang,
Kepada Dhamma yang sekarang ini,
Setiap hari aku menyampaikan hormatku.
Aku tidak mencari perlindungan lain,
Sang Dhamma Pelindungku yang tiada bandingannya,
Semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini,
Kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku
Secara hidmat dengan menundukkan kepala,
Aku menghormati Dhamma Tiga Masa yang Agung.
3. Aku Berlindung kepada Sangha
Di samping kita berlindung kepada Sangha yang sekarang
(Paccuppanna-Sangha), kita juga berlindung kepada Sangha yang telah
lampau (Atita-Sangha) dan Sangha yang akan datang (Anagata-Sangha).
Aku berlindung kepada Sang Sangha, hingga tercapai Nibbana.
Kepada Sangha yang lampau,
Kepada Sangha yang akan datang,
Kepada Sangha yang sekarang ini,
Setiap hari aku menyampaikan hormatku.
Aku tidak mencari perlindungan lain,
Sang Sangha Pelindungku yang tiada bandingannya,
Semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini,
Kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku.
Secara hidmat dengan menundukkan kepala,
Aku menghormati Sangha Tiga Masa yang Agung.

“BERLINDUNG KEPADA SANGHA” adalah dimaksudkan kita


berlindung kepada Ariya-Sangha (Persaudaraan Bhikkhu Suci) dan kita
tidak berlindung kepada SammutiSangha (Persaudaraan Bhikkhu Biasa),
hanya menghormati para beliau karena mengemban Amanat Sang Buddha
Gotama sebagai Pelindung dan Penyebar Dhamma.

19
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Buddha, Dhamma dan Sangha dalam aspeknya sebagai Perlindungan
mempunyai sifat mengatasi keduniaan (lokuttara). Dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha merupakan manifestasi
daripada Yang Mutlak, Yang Esa, yang menjadi tujuan terakhir semua
makhluk. Buddha, Dhamma dan Sangha sebagai Tri Ratna adalah bentuk
kesucian tertinggi yang dapat ditangkap oleh pikiran manusia biasa, dan oleh
karena itu diajarkan sebagai Perlindungan yang Tertinggi oleh Sang Buddha.
Tri Ratna adalah perlindungan sejati. Jadi, untuk mendapatkan perlindungan
sejati bukan hanya bertekad dan melakukan ritual penghormatan tetapi dengan
mempraktikkan ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh Sang Buddha..

20
BAB IV LAMPIRAN
Rangkuman materi dari apa yang disampaikan oleh Khenpo Gyaltsen

Khenpo Gyaltsen menjelaskan bahwa tri ratna terdiri tiga yaitu Buddha,Dhamma,
dan Sangha. Tri ratna sendiri dijelaskan merupakan sebuah tiga perlindungan bagi
umat buddha dimanapun. Buddha merupakan mahluk yang tercerahkan, karena
buddha mampu untuk mengatasi segala rintangan yang ada dan mampung
mengatasi segala rintangan yang ia lalui. Buddha juga merupakan mahluk yang
merealisasikan sebuah kebenaran sejati. Manusia memiliki sifat – sifat yang emosi
yang membuat mereka tidak dapat menjadi Buddha yaitu Kemarahan, iri hari,
kemelekatan, ketidaktahuan dan kebanggan diri yang berlebihan. Emosi tersebut
muncur diakibatkan oleh sifat diri manusia sendiri dan objek lain. Dhamma adalah
pengubah pemikiran atau pengubah batin seseorang. Karena dhamma merupakan
ajaran kebenaran yang diajarkan oleh Buddha yang dapat kita contoh untuk
diterapkan didalam kehidupan baik kemarin,esok , masa yang akan datang atau
selama-lamanya. Sehingga dengan mempraktekan dhamma yang diajarkan oleh
sang Buddha dapat merubah sifat buruk kita menjadi yang lebih baik maupun batin
kita yang burukpun dapat menjadi lebih baik.Sangha merupakan penunjuk jalan
kebenaran tentang buddha dan juga merupakan perkumpulan bikkhu daqn bikkuni
yang meyebarkan dan mengajarkan dhamma kepada oranglain.Sangha dibagi
menjadi dua bagian yaitu Sammuti Sangha: persaudaraan para bhikkhu biasa, atau
mereka yang belum mencapai tingkat-tingkat kesucian dan Ariya Sangha:
persaudaraan para bhikkhu suci, mereka yang telah mencapai tingkat-tingkat
kesucian. Jika kita ingin mendapatkan sesuatuyang kita pelajari dari agama Buddha

iii
maka kita harus menghormati guru yang akan mengajari kita tentang dhamma.
Sehingga ada 3 lebel didunia ini yang dapat kita pelajari
 Level paling rendah ialah jika motivasi saya ingin diri kita sendiri yang
terbebaskan dari alam derita
 Level menengah ialah jika motivasi saya ingin diri kita terbebaskan dari 6
alam rendah yang meliputi hantu, kelaparan, dan setengah dewa dan
setengah setan
 Level teratas ialah jika motivasi saya ingin semua mahluk hidup
terbebaskan dari alam sengsaran.

iv
DAFTAR PUSTAKA

http://pab.kangwidi.com/2017/03/pengertian-tri-ratnatiratana.html
diakses pada tanggal 31 Januari 2018
http://tisarana.net/dasar-agama-buddha/apa-itu-tiratana/
diakses pada tanggal 31 Agustus 2018
http://buddhissmansa.blogspot.co.id/2013/01/tri-ratna.html
diakses pada tanggal 31 Januari 2018
http://tisarana.net/dasar-agama-buddha/tiratana-atau-tiga-mustika/
diakses pada tanggal 31 Januari 2018
https://weiliemabubakar.blogspot.co.id/2011/08/tri-ratna.html
diakses pada tanggal 31 Januari 2018
https://id.wikipedia.org/wiki/Tiga_Mustika
diakses pada tanggal 31 Januari 2018