Anda di halaman 1dari 7

Pertemuan kedua

GEMPA BUMI DAN TSUNAMI


1. GEMPA BUMI

Gempa bumi merupakan peristiwa alam yang ditandai dengan berguncangnya bumi secara
tiba-tiba. Gempa bumi dapat menimbulkan bencana yang cukup parah bagi wilayah-wilayah
yang mengalaminya. Gempa bumi yang besar dapat mengguncang tanah permukaan bumi
dengan hebat, bahkan retak yang timbul dipermukaan dapat membuat mobil dan motor
terperosok kedalamnya. Banyak rumah dan bangunan besar lainnya yang menjadi rusak. Gempa
bumi ini berbahaya, apalagi jika terjadi pada malam hari ketika orang-orang sedang tertidur
lelap. Tentu saja akan menyebabkan korban jiwa.
Gempa bumi terjadi begitu cepat. Getaran pertama (± 2 menit) dapat menimbulkan
kerusakan paling banyak. Gempa bumi yang besar datang tiba-tiba dapat menghancurkan apa
saja yang ada dipermukaan bumi ini. Tidak terkecuali bangunan, pepohonan, binatang dan juga
manusia.
Gempa bumi terjadi pada retakan dalam kerak bumi yang disebut patahan. Patahan
terbentuk karena batuan rapuh dan pecahan yang disebabkan oleh tekanan besar (meregang,
menekan, atau memilin) yang mendesaknya tekanan yang timbul didaerah kerak ini disebabkan
oleh gerakan perlahan-lahan lempeng-lempeng bumi. Gempa bumi terjadi ketika tekanan telah
semakin meningkat didaerah batuan sampai pada tingkat tertentu sehingga terjadi pergerakan
mendadak. Pergerakan ini dapat menciptakan patahan baru ketika batuan pecahan pada titik
terlemah atau pergerakan menyebabkan batuan menggelincir disepanjang patahan yang ada.
Ketika ini terjadi, sejumlah besar energi dilepaskan bersamaan dengan dilepasnya tekanan.
Energi yang dilepaskan menyebabkan batuan disekitarnya bergetar, sehingga terjadi gempa
bumi.
Fenomena alam gempa bumi ini dapat meluluhlantahkan daerah dengan menimbulkan
kerugian harta benda dan menelan korban yang tidak sedikit jumlahnya. Untuk mencegah
terjadinya gempa bumi sebagai fenomena alam memang mustahil, namun paling tidak kita harus
berupaya mengurangi dampak yang ditimbulkannya. Untuk mengurangi dan meredam timbulnya
korban dan kerugian harta benda akibat fenomena alam yang berasal dari proses geologi yang
menyebabkan terjadinya gempa bumi, perlu dilakukan upaya mitigasi.
Mitigasi adalah suatu tindakan yang dilakukan sebelum munculnya suatu benda (tindakan-
tindakan prabencana) yang meliputi kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangnan dampak yang
ditimbulkan.

Tipe-Tipe Gempa Bumi dan Proses Terjadinya


Gempa bumi atau seisme adalah getaran pada permukaan bumi yang disebabkan oleh tenaga
dari dalam bumi. Menurut para ahli seismologi, terjadinya gempa bumi dapat dibedakan atas 3
macam yaitu, gempa vulkanik, gempa runtuhan, dan gempa tektonik.
 Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik yaitu gempa bumi sebagai akibat letusan gunung api. Gunung api yang
akan meletus selalu diiringi dengan gempa yang menggetarkan permukaan bumi disekitarnya,
hal ini disebabkan oleh pergerakan magma yang akan keluar dari perut bumi ketika gunung
akan meletus. Ketika magma bergerak kepermukaan gunung api, ia akan bergerak dan
memecahkan bebatuan gunung api. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya getaran yang cukup
kuat dan berkepanjangan sehingga menimbulkan gempa bumi.
Gempa vulkanik yaitu gempa bumi sebagai akibat letusan gunung api. Gunung api yang
akan meletus selalu diiringi dengan gempa yang menggetarkan permukaan bumi disekitarnya,
hal ini disebabkan oleh pergerakan magma yang akan keluar dari perut bumi ketika gunung
akan meletus. Ketika magma bergerak kepermukaan gunung api, ia akan bergerak dan
memecahkan bebatuan gunung api. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya getaran yang cukup
kuat dan berkepanjangan sehingga menimbulkan gempa bumi.
Disamping akibat dari tumbukan antara magma dengan dinding-dinding gunung api,
gempa vulkanik juga dapat disebabkan oleh tekanan gas pada letusan yang sangat kuat dan
perpindahan magma didalam dapur magma. Pada umumya getaran yang kuat hanya ada
disekitar gunung api itu saja. Gempa vulkanik terjadi sebelum dan selama letusan gunung api
terjadi. Gempa vulkanik hanya sekitar 7% dari jumlah gempa yang terjadi didunia.

 Gempa Reruntuhan
Gempa runtuhan disebut juga tanah terban. Gempa ini terjadi di daerah yang terdapat
banyak rongga-rongga dibawah tanah, seperti :
a. Daerah kapur yang banyak terdapat sungai atau gua dibawah tanah tidak dapat
menahan menahan atap gua
b. Daerah pertambangan yang banyak terdapat rongga-rongga dibawah tanah untuk
mengambil bahan tambang. Gempa runtuhan atau tanah terban ini jarang terjadi.

 Gempa Tektonik
Sampai saat ini yang dianggap sebagi fenomena alam gempa bumi yangs ebenarnya
adalah gempa tektonik.
Gempa tektonik adalah gempa bumi yang terjadi karena adanya pergeseran antara
lempeng-lempeng tektonik yang berada jauh dibawah kulit permukaan bumi.
Pergeseran lempeng-lempeng tektonik itu menimbulkan energi yang luar biasa
besarnya, sehingga menimbulkan goncangan yang dapat kita rasakan dipermukaan bumi.

 Gempa Seismik
Gelombang seismik merupakan gelombang elastik yang menjalar ke seluruh bagian
dalam bumi dan melalui permukaan bumi akibat adanya lapisan batuan yang patah secara tiba -
tiba atau adanya ledakan. Gelombang utama gempabumi terdiri dari dua ti pe yaitu gelombang
badan (body wave) dan gelombang permukaan (surface wave).
 Gelombang Badan (Body wave).

Gelombang badan merupakan gelombang menjalar melalui bagian dalam bumi dan biasanya
disebut free wave karena dapat menjalar ke segala arah di dalam bumi. Gelombang badan terdiri
dari gelombang primer dan gelombang sekunder.

 Gelombang Primer

Gelombang primer Gelombang primer merupakan gelombang longitudinal atau gelombang


kompresional, gerakan partikel sejajar dengan arah perambatannya.Sedangkan gelombang
sekunder merupakan gelombang transversal atau gelombang shear, gerakan partikel terletak pada
suatu bidang yang tegak lurus dengan arah penjalarannya.

Gelombang kompresional disebut gelombang primer (P) karena kecepatannya paling tinggi
antara gelombang lain dan tiba pertama kaligelombang atau getaran yang merambat di tubuh
bumi dengan kecepatan antara 7-14 km/detik. Getaran ini berasal dari hiposentru

Gelombang Primer (P Wave) ini menjalar akibat adanya penekanan dan peregangan. Kalau
dilihat di gambar terlihat bergetar menekan dan meregang. kalau anda menghadap ke kiri maka
goyangan tersebut berarah kiri-kanan atau maju-mundur (tergantung dimana arah
menghadapnya). Gelombang primer ini memiliki kecepatan rambat sekitar 8 km/detik.
Gelombang inilah yg akan dirasakan lebih dahulu ketika gempa, karena dia akan datang lebih
dulu dibanding penjalaran gelombang yang lain.

 Gelombang Sekunder

Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran yang merambat,
seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah berkurang,yakni 4-7 km/detik.
Gelombang sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair. gelombang shear disebut
gelombang sekunder (S) karena tiba setelah gelombang P

Gelombang Sekunder (S Wave) ini menjalar seperti gelombang air yang mengalun-alun.
Menjalar naik-turun. Jadi gelombang ini melempar-lemparkan keatas kebawah ketika anda
merasakan adanya gempa. Gelombang Sekunder ini memilki kecepatan penjalaran sekitar 4
Km/detik, tentunya akan dirasakan lebih lambat dari Gelombang Primer. Namun gelombang
sekunder ini memiliki lebar goyangan (amplitudo) yg besar sehingga gelombang ini akan
memilki kekuatan yg sangat besar dalam merontokkan bangunan, juga mengakibatkan longsoran
tebing-tebing yang curam.

o Gelombang Permukaan (Surface Wave)

Gelombang permukaan merupakan gelombang elastic yang menjalar melalui permukaan bebas
yang disebut sebagai Tide Waves. Gelombang permukaan terdiri dari :

 Gelombang Love
Gelombang love merupakan gelombang yang menjalar di permukaan bumi yang karakteristiknya
memiliki pergerakan yang mirip dengan gelombang S, yaitu arah pergerakan partikel medan
yang dilewati arahnya tegak lurus terhadap arah perambatan gelombang. Yang membedakan
adalah lokasi perambatan gelombang cinta terdapat di permukaan bumi. Dan getarannya secara
lateral (mendatar)

 Gelombang Rayleigh.

Gelombang Rayleigh gelombang permukaan juga yang arah pergerakan partikelnya bergerak
berputar di permukaan.

Pembagian Gempa Berdasarkan Kedalaman Hiposentrum


Disamping skala kekuatan gempa berdasarkan intensitasnya, perlu kita ketahui kekuatan
gempa disatu daerah selain di pengaruhi oleh jaraknya dari pusat gempa diatas itu sendiri dan
kedalaman pusat gempa di dalam bumi (hiposentum). Makin dangkal hiposentrumnya, makin
kuat gempa yang dirasakan dipermukaan bumi. Oleh karena itu berdasarkan kedalam
hiposentrumnya gempa bumi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
1. Gempa dangkal, dengan kedalaman hiposentrumnya kurang dari 60 Km
2. Gempa menengah, dengan kedalaman hiposentrumnya antara 60-300 Km.
3. Gempa dalam, dengan kedalaman hiposentrumnya lebih dari 300 Km.

 Faktor-fakor yang mempengaruhi Besarnya kerusakan


dan Banyaknya Korban Akibat Gempa

Banyaknya korban jiwa yang diakibatkan gempa bumi terjadi karena pusat-pusat
kepadatan diperkotaan besar dan daerah industri. Kebanyakan terjadi akibat dari besarnya
getaran yang menyebabkan runtuh Nya bangunan dengan struktur yang lemah.
Faktor lain yang mempengaruhi kerusakan akibat gempa adalah lokasi, misalnya
longsoran, batuan/tanah yang mengembang, struktur geologi, goncangan air didanau/waduk,
patahan dan likuifaksi. Gempa yang besar ini dapat menimbulkan terjadinya longsoran, retakan,
patahan, likuifaksi, serta tsunami yang dahsyat pula dan banyak memakan korban.
Disamping faktor-faktor yang disebutkan diatas, banyaknya kerusakan dan kerugian akibat
gempa juga ditentukan oleh beberapa hal berikut ini :
1. Skala atau magnitudo gempa
2. Durasi dan kekuatan getaran
3. Jarak dan sumber gempa terhadap perkotaan.
4. Kedalaman sumber gempa.
5. Kualitas tanah dan bangunan
6. Lokasi bangunan terhadap perbukitan dan pantai
2. TSUNAMI

Tsunami merupakan salah satu jenis bencana alam yang berkaitan dengan gelombang
lautan. Gelombang lautan yang sangat besar dan menerjang daratan (baca: ekosistem darat) ini
disebut dengan tsunami. Tsunami berasal dari bahasa Jepang, Tsu yang berarti pelabuhan dan
Nami yang berarti gelombang. Secara harfiah, tsunami mempunyai arti ombak besar di
pelabuhan. Lebih ilmiah lagi, yang dimaksud tsunami adalah perpindahan badan air yang
disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal yang berlangsung dengan tiba- tiba.
mengapa nama bencana ini adalah tsunami yang diambil dari bahasa Jepang? Mungkin karena
negara Jepang merupakan negara yang sangat rawan dengan adanya gempa, sehingga terjadinya
gelombang besar yang merupakan akibat dari gempa biasa terjadi.

Gelombang tsunami merupakan jenis gelombang yang dapat bergerak ke segala arah
hingga mencapai jarak ribuan kilometer. Daya kerusakan yang diakibatkan gelombang ini akan
semakin kuat apabila berada di daratan yang dekat dengan pusat gangguan. Apabila di lautan
(baca: macam-macam laut) , tinggi gelombang tsunami ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 1
meter saja. Meski demikian, kecepatan yang dimiliki oleh gelombang ini bisa mencapai 500
hingga 1000 kilometer per jam, kecepatan ini menyamai dengan kecepatan pesawat jet. Saking
cepatnya gelombang ini, kapal yang berada di lautan sampai tidak terasa akan kehadiran
gelombang ini.

Sebaliknya, semakin mendekati ekosistem pantai, kecepatan gelombang ini semakin


menurun, hanya sekitar 35 hingga 50 kilometer per jam. Namun, tingginya gelombang akan
semakin naik, hingga mencapai 20 meter. Dengan ketinggian yang sedemikian ini, maka
gelombang tsunami dapat masuk ke daratan hingga jarak puluhan kilometer. Inilah sekilas
gambaran umum mengenai gelombang tsunami.

 Faktor- faktor Penyebab Tsunami

Tsunami merupakan sebuah bencana alam yang dahsyat. Tsunami adalah gambaran
ombak yang sangat besar yang menerjang hingga ke wilayah daratan. Tidak bisa dipungkiri
bahwa bagian daratan (baca: angin darat) yang terkena sapuan ombak akan luluh lantak karena
kekuatan yang dimiliki oleh ombak tersebut. Terjadinya tsunami ini biasanya tidak bencana alam
tunggal. Maksudnya, biasanya tsunami tidak datang sendiri dengan tiba- tiba. Namun biasanya
ada yang menghantarkan, sehingga terjadilah tsunami. Beberapa peristiwa alam menjadi
penyebab terjadinya tsunami. Hal- hal yang menghantarkan terjadi tsunami antara lain adalah
sebagai berikut:

a. Gerakan Konvergen
Gerakan konvergen adalah pergerakan lempeng yang terjadi pada dua bagian lempeng
yang bergerak saling mendekat hingga akhirnya bertumbukan. Gerakan ini menyebabkan salah
satu lempeng yang bertabrakan akan menunjam (subduction) ke bawah lempeng lainnya. Daerah
lempeng bumi yang mengalami peristiwa pergerakan konvergen disebut dengan batas
konvergen.
Umumnya daerah penunjaman lempeng akan membentuk suatu palung yang dalam dan
merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Contohnya adalah zona subduksi antara lempeng
samudera India-Australia dan lempeng benua Eurasia di Sumatera. Dalam pergerakannya,
lempeng hanya bergerak beberapa sentimeter tiap tahunnya, sehingga proses penunjaman terjadi
sangat lambat dan berlangsung ribuan bahkan jutaan tahun.
Fenomena-fenomena yang sering terjadi akibat pergerakan lempeng konvergen adalah:
1. Terbentuk palung laut pada titik tumbukan lempeng benua dan lempeng samudera, atau
lempeng samudera dan lempeng samudera;
2. Aktivitas vulkanisme berupa intrusi maupun ekstrusi gunung api;
3. Aktivitas seismik yang besar;
4. Terbentuknya batuan sedimen campuran yang dinamakan batuan melange.

Ada 3 kemungkinan terjadi pada batas lempeng yang saling bertumbukan:


1. Tumbukan Lempeng Samudera Dengan Lempeng Samudera
2. Tumbukan Lempeng Benua Dengan Lempeng Samudera
3. Tumbukan Lempeng Benua Dengan Lempeng Benua
b. Gerakan Divergen

Divergen adalah pergerakan lempeng tektonik yang saling menjauh satu sama lainnya (break
apart)atau terpecah. Ketika lempeng
tektonik terpecah, lapisan lithosfer menipis dan akan terbelah membentuk batas divergen. Bila
pergerakan ini terjadi pada lempeng samudra, akan menyebabkan pemekaran lempeng samudra
yang menghasilkan palung laut. Namun bila pergerakan terjadi pada permukaan lempeng benua,
maka akan menghasilkan lembah retakan akibat kedua lempeng saling berjauhan. Kedua bentuk
pergerakan tersebut pada akhirnya akan membuahkan benua dan samudra yang baru.

Gerakan divergen umumnya terjadi pada punggungan samudera. Dimana lempeng


saling menjauhi sumbu punggungan samudera sehingga terbentuk celah yang segera terisi oleh
lelehan batuan yang terinjeksi dari astenosfir dibawahnya. Material ini perlahan-lahan mendingin
dan membentuk lantai samudera yang baru, mendorong lantai samudera yang lama sudah
terbentuk sebelumnya mejauhi pusat pemekaran. Mekanisme ini berulang dan berlangsung terus
sejak 165 juta tahun yang lalu dan disebut pemekaran lantai samudera (sea floor spreading)
menjadi lantai samudera Altlantik. Kecepatan pemekaran ini antara 2 sampai 10 cm/tahun.

Mungkin yang paling terkenal dari batas-batas divergent adalah Mid-Atlantic Ridge,
yang terdapat sepanjang Lautan Artik hingga ujung Afrika sehingga batas divergent ini
mengelilingi setengah bagian bumi. Kecepatan penyebaran Mid Atlantic Ridge sekitas 2,5
cm/tahun, atau 25 km dalam 1 juta tahun. Kecepatan ini mungkin rendah bagi standar manusia,
tapi karena proses ini telah terjadi jutaan tahun maka lempeng telah bergerak ratusan kilometer.
Penyebaran lempeng benua selama 100 hingga 200 juta tahun telah menyebabkan Lautan
Altantik berkembang dari daerah perairan kecil diantara lempeng Europa, America dan Afrika
menjadi samudera luas seperti sekarang.