Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN GAWAT JANIN

I. Definisi Gawat Janin


 Gawat janin adalah kekhawatiran obstetri tentang keadaan janin, yang
kemudian berakhir dengan seksio sesarea atau persalinan buatan lainnya.
(Sarwono Prawirohardjo.2009;620)
 Gawat janin terjadi bila janin tidak menerima Oksigen cukup, sehingga
mengalami hipoksia. (Abdul Bari Saifuddin dkk.2002 )
 Gawat janin adalah respon kritis janin terhadap stres, sebagian besar
biasanya bersifat merugikan. (Benson,Ralph C.,2009;220)
 Gawat janin adalah keadaan / reaksi ketika janin tidak memperoleh oksigen
yang cukup. Gawat janin terjadi jika janin tidak menerima oksigen yang
cukup, sehingga mengalami hipoksia. Situasi ini dapat terjadi kronik (dalam
jangka waktu lama) atau akut. (Maternal Neonatal, 2002 :334)
 Gawat janin menunjukkan suatu keadaan bahaya yang relatif dari janin yang
secara serius dapat mengancam kesehatan janin. (Kapita Selekta
Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, 1994 :211)
 Gawat janin adalah keadaan janin tidak memperoleh oksigen yang cukup,
sehingga mengalami hipoksia dan dapat mengancam kesehatan janin. (Anik
Maryunani, 2013 : 244)

II. Klasifikasi
Gawat janin diklasifikasikan menjadi 2 yaitu gawat janin sebelum
persalinan dan gawat janin selama persalinan.
a. Gawat janin sebelum persalinan
Gawat janin sebelum persalinan, dibagi menjadi 2 yaitu :
 Gawat janin kronik
Gawat janin ini dapat timbul setelah periode yang panjang selama
periode antenatal bila status fisiologi dari ibu-janin-plasenta yang ideal
dan normal terganggu.
 Gawat janin akut
Suatu kejadian bencana yang tiba-tiba mempengaruhi oksigenasi janin.

1
b. Gawat janin selama persalinan
Sementara itu yang dimaksud gawat janin selama persalinan, yakni
sebagai berikut :
 Menunjukkan hipoksia janin tanpa oksigenasi yang adekuat, denyut
jantung janin kehilangan varibilitas dasarnya dan menunjukkan
deselerasi lanjut pda kontraksi uterus.
 Bila hipoksia menetap, glikolisis anaerob menghasilkan asam laktat
dengan pH janin yang menurun.
(Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi, 1994 :211-213)

III. Etiologi
Penyebab dari gawat janin yaitu:
a. Insufisiensi uteroplasenter akut (kurangnya aliran darah uterus-plasenta
dalam waktu singkat) :
 Aktivitas uterus yang berlebihan, hipertonik uterus, dapat dihubungkan
dengan pemberian oksitosin.
 Hipotensi ibu, anestesi epidural,kompresi vena kava, posisi terlentang.
 Solusio plasenta.
 Plasenta previa dengan pendarahan.
b. Insufisiensi uteroplasenter kronik (kurangnya aliran darah uterus-plasenta
dalam waktu lama) :
 Penyakit hipertensi
 Diabetes melitus
 Isoimunisasi Rh
c. Kompresi tali pusat
d. Anestesia blok paraservikal
e. Infeksi virus toxoplasmosis
f. Kehamilan postmatur
g. Medikasi pada ibu (antropine, sikopolamin, diazepam, fenobarbital,
magnesium, analgesik narkotik)
h. Selain itu, gawat janin dalam persalinan dapat terjadi bila :
 Persalinan berlangsung lama

2
 Induksi persalinan dengan oksitosin
 Ada perdarahan atau infeksi
 Insufisiensi plasenta, post term, dan pre eklamsia
 Denyut jantung janin lebih dari 160 kali/ menit dalam kehamilan
variabilitas dasarnya dan menunjukkan deselerasi lanjut pada kontraksi
uterus. Bila hipoksia menetap glikolisis anaerob menghasilkan asam
laktat dengan ph janin yang menurun.

IV. Faktor Predisposisi


Janin yang beresiko tinggi untuk mengalami gawat janin adalah :
1. Janin yang pertumbuhannya terhambat
2. Janin dari ibu dengan diabetes melitus
3. Janin preterm dan postterm
4. Janin dengan kelainan letak
5. Janin kelainan bawaan atau infeksi
(Sarwono Prawirohardjo)
6. Janin dari ibu dengan penyakit hipertensi
7. Janin dari ibu dengan penyakit jantung
8. Malnutrisi ibu
9. Janin dari ibu dengan anemia
10. Isoimunisasi Rh
11. Janin dari ibu dengan penyakit jantung
(Ben-zion Taber, M.D.)

V. Tanda Gejala
a. Gawat janin dapat diketahui dari tanda-tanda sebagai berikut:
 Frekuensi bunyi jantung janin kurang dari 120 x/menit atau lebih dari
160 x/menit
 Berkurangnya gerakan janin (janin normal bergerak lebih dari 10 kali
per hari)
 Adanya air ketuban bercampur mekoneum, warna kehijauan (jika bayi
lahir dengan letak kepala)

3
(Anik Maryunani, 2013 : 246)
b. Indikasi-indikasi dari kemungkinan gawat janin
 Bradikardi
Yaitu denyut jantung janin kurang dari 120 denyut per menit.
Kemungkinan penyebabnya penurunan perfusi plasenta, obat-obatan,
hipotermia.
 Takikardi
Kecepatan denyut jantung janin yang memanjang (>160) dapat
dihubungkan dengan demam pada ibu yang sekunder terhadap infeksi
intrauterine. Prematuritas atropine juga dihubungkan dengan denyut
jantung janin yang meningkat. Kemungkinan penyebabnya adalah
peningkatan suhu tubuh ibu, infeksi, obat-obatan, gangguan
kardiovaskuler.
- Dapat dihubungkan dengan demam ibu sekunder terhadap infeksi
intrauteri
- Prematuritas dan atropi juga dihubungkan dengan denyut jantung
dasar yang meningkat
 Variabilitas denyut jantung dasar yang menurun
Yang berarti depresi system saraf otonom janin oleh medikasi ibu
(atropine , skopolamin, diazepam, fenobarbital, magnesium dan
analgesic narkotik).
- Pola deselerasi
Deselerasi lanjut menunjukkan hipoksia janin yang disebabkan
oleh insufisiensi uteroplasenta.
- Deselerasi yang bervariasi tidak berhubungan dengan kontraksi
uterus adalah lebih sering dan muncul untuk menunjukkan
kompresi sementara waktu saja dari pembuluh darah umbilikus.
- Peringatan tentang peningkatan hipoksia janin adalah deselerasi
lanjut, penurunan atau tiadanya variabilitas, bradikardia yang
menetap dan pola gelombang sinus.
( Ben-zion Taber, 1994:214)

4
VI. Prognosis
a. Bagi ibu
- Partus lama
- Perdarahan
- Infeksi
b. Bagi bayi
- Asfiksia
- Kematian janin dalam kandungan (IUFD)
(Anik Maryunani, 2013 :246)

VII. Patofisiologi
1. Dahulu diperkirakan bahwa janin mempunyai tegangan oksigen yang lebih
rendah karena ia dianggap hidup di lingkungan hipoksia dan asidosis yang
kronik. Tetapi pemikiran itu tidak benar karena bila tidak adaa tekanan
(stess), janin hidup dalam lingkungan yang sesuai dan dalam kenyataannya
konsumsi oksigen per gram berat badan sama dengan orang dewasa.
Meskipun tekanan oksigen parsial (pO2) rendah, penyaluran oksigen pada
jaringan tetap memadai.
2. Afinitas terhadap oksigen, kadar hemoglabin, dan kapasitas angkut
oksigen pada janin lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa.
Demikian juga halnya dengan curah jantung dan kecepatan arus
darah lebih besar dari pada orang dewasa. Dengan demikian
penyaluran oksigen melalui plasenta kepada janin dan jaringan perifer
dapat terselenggara dengan relatif baik. Sebagai hasil
metabolisme oksigen akan terbentuk asam piruvat, sementara
CO2 dan air diekskresi melalui plasenta. Bila plasenta
mengalami penurunan fungsi akibat dari perfusi ruang intervilli yang
berkurang, maka penyaluran oksigen dan ekskresi CO2 akan terganggu
yang berakibat penurunan PH atau timbulnya asidosis. Hipoksia yang
berlangsung lama menyebabkan janin harus mengolah glukosa menjadi
energi melalui reaksi anaerobik yang tidak efisien, bahkan menimbulkan

5
asam organik menambah asidosis metabolik. Pada umumnya asidosis janin
disebabkan oleh gangguan arus darah uterus atau arus darah tali pusat.
3. Bradikardi janin tidak harus berarti merupakan indikasi kerusakan jaringan
akibat hipoksia, karena janin mempunyai kemampuan redidtribusi darah
bila terjadi hipoksia, sehingga jaringan vital (otak dan jantung) akan
menerima penyaluran darah yang lebih banyak dibandingkan jaringan
perifer. Bradikardi mungkin merupakan mekanisme perlindungan agar
jantung bekerja lebih efisien sebagai akibat hipoksia.
(Hanifa Wiknjosastro.2005;53)

VIII. Data Diagnostik Tambahan


a. Gawat janin sebelum persalinan
- Pemantauan DJJ
Menyingkirkan gawat janin sepanjang
 Denyut dasar dalam batas norml
 Variabilitas denyut ke denyut normal
 Akselerasi terjadi sesuai geraka janin
 Tidak ada deselarasi lanjut dengan adanya kontraksi uterus.
- Grafik gerakan janin
Gerakan janin yang berkurang merupakan tanda dini dari
gawat janin. Rekaman gerakan janin harian dapat membantu dalam
evaluasi kehamilan risiko tinggi.
- Ultrasonografi
Pengukuran diameter biparietal secara seri dapat
mengungkapkan bukti dini dari retardasi pertumbuhan intrauterin.
Gerakan pernapasan janin, aktivitas janin dan volume cairan
ketuban memberikan penilaian tambahan dari kesehatan janin.
Oligohidramnion memberi kesan anomali janin atau retardasi
pertumbuhan. Sonografi dapat juga mengidentifikasi kehamilan
ganda dan anomali janin.
- Kadar estriol

6
Kadar estriol dalam darah atau urin ibu memberikan suatu
pengukuran fungsi janin dan plasenta, karena pembentukan estriol
memerlukan aktivitas dari enzim-enzim dalam hati dan kelenjar
adrena janin seperti dalam plasenta. Karena kehamilan berlanjut,
kadar estriol meningkat. Kadar estriol yang normal merupakan
indikator dari unit fungsional fetoplasental normal dan
menentramkan kesehatan janin.
- HPL (Human Plancental Lactogen)
Kadar HPL dalam darah ibu : kadar 4 mcg/ml atau kurang
setelah kehamilan 30 minggu memberi kesan fungsi plasenta yang
abnormal dan janin dalam bahaya.
- Amniosentesis
Banyak yang berpendapat bahwa mekoneum dalam cairan
amnion menunjukkan stres patologi atau fisiologis terhadap janin.
Pendapat lain mengatakan mekoneum dalam cairan amnion hanya
menunjukkan stimulasi vagal temporer tanpa bahaya yang
mengancam.
(Ben- zion Taber,1994 : 211)
b. Gawat janin selama persalinan
- Pemantauan DJJ
Pencacatan denyut jantung janin yang segera dan kontinu
dalam hubungan dengan kontraksi uterus memberikan suatu
penilaian kesehatan janin yang sangat membantu selam persalinan.
- Amniosentesis
Beberapa ahli berpendapat bahwa mekoneum dalam air
ketuban adalah suatu tanda gawat janin dan kemungkinan
kegawataan. Pendapat lain mengatakan mekoneum dalam air
ketuban tanpa kejadian asfiksia janin tidak menunjukkan bahaya
janin.
(Ben- zion Taber,1994 : 214-215)

7
IX. Penatalaksanaan
a. Gawat janin sebelum persalinan
- Penatalaksanaan didasarkan evaluasi kesehatan janin intra uteri dan
maturitas janin.
- Pemantauan DJJ, jika normal pasien dapat dipulangkan dengan diminta
mencatat gerakan janin pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Jika
terdapat penurunan gerakan janin menetap dianjurkan evaluasi obstetrik
ulang.
- Jika janin imatur dan keadaan insufisiensi plasenta kurang tegas,
lakukan observasi tambahan
- Jika janin matur, kejadian insufisiensi plasenta dianjurkan untuk
kelahiran. Persalinan dapat diinduksi jika serviks dan presentasi janin
menguntungkan. Selama induksi, denyut jantung janin harus dipantau
secara teliti, serta penentuan pH kulit kepala. Dilakukan SC jika terjadi
gawat janin atau jika presentasi bokong.
(Ben- zion Taber,1994 : 211-212)
b. Gawat janin selama persalinan
- Prinsip-prinsip umum
 Bebaskan setiap kompresi tali pusat
 Perbaiki aliran darah uteroplasental
 Menilai apakah persalinan dapat berlangsung normal atau kelahiran
segera merupakan indikasi. Rencana elahiran (pervaginam atau
perabdominal) didasarkan pada faktor-faktor etiologi, kondisi janin,
riwayat obstetrik pasien dan jalannya persalinan.
- Langkah-langkah khusus
 Posisi ibu diubah dari posisi terlentang ke posisi lateral sebagai
usaha untuk membebaskan kompresi aortakaval dan memperbaiki
aliran darah balik, curah jantung, dan aliran darah uteroplasental.
Perubahan posisi juga dapat membebaskan kompresi tali pusat.
 Pemberian oksigen melalui masker muka 6 liter per menit sebagai
usaha untuk meningkatkan pergantian oksigen fetomaternal.

8
 Pemberian oksitosin dihentikan, karena kontraksi uterus akan
mengganggu curahan darah ke ruang intervili.
 Terapi untuk hipotensi dengan infus intravena dekstrosa 5 % dalam
larutan Ringer laktat. Tranfusi darah dapat diindikasikan pada syok
hemoragik.
 Pemeriksaan pervaginam menyingkirkan prolaps tali pusat dan
menentukan perjalanan persalinan.
 Pengisapan mekoneum dari jalan napas bayi baru lahir mengurangi
risiko aspirasi mekoneum. Segera setelah kepala bayi lahir, hidung
dan mulut dibersihkan dari mekoneum dengan kateter pengisap.
Segera setelah kelahiran, pita suara harus dilihat dengan
laringoskopi langsung sebagai usaha untuk menyingkirkan
mekoneum dengan pipa endotrakeal.
(Ben- zion Taber,1994 : 215-216)

9
DAFTAR PUSTAKA

Benson,Ralph C.,2009.Buku Saku Obstetri Dan Ginekologi.Jakarta:EGC


Maryunani, Anik. 2013. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : TIM

Prawirohardjo,sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawiroharjo
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Saifudin,Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo
Taber,Ben-Zion. 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi.
Jakarta: EGC
Wiknjosastro,Hanifa. 2005. Ilmu Bedah Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo

10