Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perusahaan multinasional didefinisikan sebagai perusahaan yang memiliki anak
perusahaan, cabang atau afiliasi yang berlokasi di luar negeri (Eiteman, 2007:2), yang
melibatkan aktivitas internasional, yaitu melibatkan dua atau lebih mata uang yang
berbeda. Selain perusahaan multinasional, perusahaan domestic pun dapat memiliki
aktivitas internasional, yaitu jika melakukan kegiatan usaha impor dan ekspor produk,
komponen dan jasa. Keterlibatan dengan aktivitas internasional menyebabkan
perusahaan harus menghadapi risiko mata uang asing. Foreign Exchange Exposure
adalah suatu ukuran dari risiko yang dihadapi perusahaan jika terdapat perubahan nilai
tukar (kurs) mata uang. Exposure ini terdiri dari accounting exposure (translation
exposure) dan economic exposure (transaction exposure dan operating
exposure). Economic exposure adalah fokus dari teori ekonomi dimana nilai dari
suatu perusahaan (yang ditentukan dari nilai sekarang dari arus kas di masa datang),
akan berubah akibat adanya perubahan kurs mata uang asing. Transaction
exposure adalah ukuran perubahan nilai dari kewajiban keuangan di masa lalu yang
belum jatuh tempo sampai setelah adanya perubahan kurs. Jadi transaction
exposure terjadi pada arus kas perusahaan yang diakibatkan kontrak kewajiban yang
telah dilakukan. Sedangkan operating exposure yang disebut juga competitive exposure
atau strategic exposure adalah ukuran perubahan nilai dalam arus kas operasi
perusahaan di masa yang akan datang yang diakibatkan perubahan kurs yang tidak
terduga tergantung dari efek perubahan kurs tersebut terhadap unit penjualan, harga dan
biaya di masa yang akan datang. Dalam krisis ekonomi global sekarang ini, fluktuasi kurs
antar mata uang asing menyebabkan peningkatan operating exposure. Karena operating
exposure dapat mempengaruhi pendapatan dan biaya perusahaan di masa datang,
maka suatu perusahaan membutuhkan perspektif jangka panjang, dengan anggapan
bahwa operasi perusahaan akan berkelanjutan dalam lingkup kompetisi biaya dan harga
yang dapat dipengaruhi oleh perubahan kurs antar mata uang asing.

Exposure operasi lebih kompleks dibanding exposure transaksi karena itu


pengukuran exposure ekonomi/operasi terhadap nilai perusahaan cukup signifikan.
Perusahaan yang tidak dapat mengantisipasi exposure tersebut akan mengakibatkan
turunnya daya saing dan penurunan nilai perusahaan. dalam exposure ini akan
membahas mengenai pengukuran exposure ekonomi/operasi, dampak dari exposure
ekonomi/operasi dan exposure ekonomi/operasi dalam konteks apresiasi dan depresiasi
mata uang asing serta bagaimana untuk mengantisipasi exposure tersebut
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud eksposur operasi ?
2. Apa yang dimaksud dari operating dan financial cash flow ?
3. Bagaimana cara mengukur dampak eksposur operasi ?
4. Bagaimana ilustrasi tentang eksposur operasi ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan mendeskripsikan pengertian eksposur operasi .
2. Mengetahui dan mendeskripsikan operating dan financial cash flow .
3. Mengetahui dan mengukur dampak eksposur operasi
4. Mengetauhi ilustrasi tentang eksposur operasi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Exposure Ekonomi/Operasi


Menurut Madura (2000:285) mendeskripsikan bahwa sejauh mana present value
dari arus kas masa depan sebuah perusahaan dipengaruhi oleh fluktuasi nilai
tukar disebut dengan exposure ekonomi terhadap nilai tukar. Namun, pengaruh fluktuasi
nilai tukar atas arus kas sebuah perusahaan tidak selalu disebabkan oleh transaksi
valuta.
Eksposure operasi merupakan eksposure dari sebuah asset (valas) yang terjadi

ketika perusahaan melakukan operasi kegiatan usaha, periode setelah melakukan

kontrak transaksi sampai produk dikirim ke gudang pembeli atau saat produk/jasa

diterima oleh pembeli dan sekaligus pembeli melunasi pembayarannya. Eksposur

operasi (Operating exposure) yang juga dikenal sebagai eksposur ekonomi (economic

exposure), eksposur kompetitif (competitive exposure), dan terkadang bahkan eksposur

strategis (strategic exposure) mengukur setiap perusahaan dalam nilai kini perusahaan

yang terjadi akibat perubahan arus kas operasi masa mendatang, yang disebabkan oleh

perubahan kurs nilai tukar secara tak terduga.

Mengukur eksposur operasi perusahaan memerlukan peramalan dan analisis atas

seluruh eksposur transaksi masa depan perusahaan dan eksposur masa depan atas

seluruh kompetitor dan kompetitor perusahaan di seluruh dunia. Analisis jangka yang

lebih panjang – yaitu ketika perubahan kurs nilai tukar tidak dapat diprediksi dan tidak

dapat diperkirakan – merupakan tujuan analisis eksposur operasi. Arus kas perusahaan

multinasional dapat dibagi menjadi arus kas operasi dan arus kas pendanaan. Arus kas

operasi timbul dari piutang dan utang antar perusahaan (antara perusahaan yang tidak
terkait) dan intra perusahaan (antar unit dalam perusahaan yang sama), pembayaran

sewa, biaya royalti dan lisensi, serta beragam biaya jasa manajemen. Arus kas

pendanaan merupakan pembayaran untuk pinjaman (yaitu pokok dan bunga), injeksi

modal ekuitas, dan dividen yang memiliki sifat antar maupun intra perusahaan. Pengaruh

eksposur operasi terhadap kesehatan jangka panjang suatu bisnis terbilang jauh lebih

penting, jika dibandingkan dengan perubahan yang disebabkan oleh eksposur transaksi

maupun eksposur translasi. Namun demikian, eksposur operasi tetap bersifat subjektif

karena tergatung pada estimasi perubahan arus di masa depan selama periode waktu

tertentu. Perencanaan terhadap eksposur operasi merupakan tanggung jawab

manajemen seutuhnya karena tergantung pada interaksi antara strategi keuangan,

pemasaran, pembelian, dan produksi.

Ekspektasi dalam perubahan kurs nilai tukar valuta asing tidak termasuk dalam

pengertian eksposur operasi karena baik manajemen maupun investor semestinya telah

memperhitungkan informasi ini dalam melakukan evaluasi terhadap hasil operasi dan

nilai pasar yang diharapkan. Dari sudut pandang investor, jika pasar valuta asing bersifat

efisien, maka informasi mengenai perubahan kurs valuta asing yang terduga dapat

tercermin dalam nilai pasar perusahaan. Hanya perubahan yang tidak terduga atau pasar

valuta asing yang tidak efisien yang menyebabkan nilai pasar berubah.

.
2.2 operating dan financial cash flow

1. Operating Cash Flow adalah kas yang timbul dari kegiatan operasional
perusahaan yang berkaitan dengan penerimaan, pengeluaran, pendapatan dan
biaya-biaya. Kas inilah yang menggambarkan bagaimana perusahaan
mendapatkan profit dan mengubahnya menjadi kas.
Contoh : penjualan tunai, uang muka, hutang lancar, pembelian inventori,
pembayaran biaya operasional (listrik, telepon, air), pengiriman barang, gaji
pegawai dan lain-lain. Jika OCF positif (+) artinya perusahaan sehat, jika negatif
(-) artinya perusahaan sakit atau bleeding. Cash Flow Positif Cash Flow Negatif .

2. Financing Cash Flow adalah kas yang muncul dari kegiatan hutang dari
pihak lain. Contoh : pinjaman dari bank,, pinjaman dari rentenir, pinjaman dari
koperasi, dan pembayaran pokok hutang-hutang tersebut. Financing Cash Flow
dikatakan positif jika menerima hutang dan negatif jika membayar hutang. Namun
Financing Cash Flow dikatakan baik jika menimbulkan dampak OCF yang positif,
artinya uang yang masuk dari hutang menimbulkan peningkatan pendapatan.
Sehingga perusahaan bisa membayar hutangnya. Sebaliknya, jika OCF negatif,
artinya berbahaya sebab uang yang masuk tidak menimbulkan keuntungan.
Sehingga perusahaan belum bisa membayar hutangnya.
Contoh alur pembuatan cash flow:
2.3 mengukur dampak eksposur operasi

1. Jangka Pendek
Menurut Yuliati & Prasetyo dampak exposure opersi adalah pada aliran kas yang
diharapkan dalam anggaran operasi satu tahunan. Keuntungan atau kerugian yang
dialami akan ditentukan oleh denominasi mata uang. Denominasi mata uang dalam
perjanjian tertulis umumnya tidak dapat diubah, demikian juga dengan perjanjian yang
tidak tertulis. Dalam jangka pendek perusahaan umumnya juga sulit menyesuaikan
harga jual atau harga faktor-faktor produksi. Oleh karena itu, aliran kas yang terealisasi
akan berbeda dari yang dianggarkan . tetapi, seiring berjalannya waktu, harga-harga
dan biaya-biaya akan dapat disesuaikan untuk mencerminkan kondisi persaingan baru
yang disebabkan oleh perubahan nilai tukar mata uang.

2. Jangka Menengah: Kasus Ekuilibrium


Dampak kedua adalah pada aliran kas janga menengah yang diharapkan, seperti
yang telah ditunjukkan dalam perencanaan dua sampai lima tahunan, dimana terdapat
kondisi keseimbangan diantara berbagai nilai tukar mata uang, laju inflasi dan tingkat
bunga antar Negara. Dibawah kondisi keseimbangan perushaan seharusnya dapat
menyesuaikan harga dan biaya faktor produksi untuk mempertahankan aliran kas yang
diharapkan. Dalam kondisi ini, denominasi mata uang dari aliran kas yang diharapkan
tidaklah sepenting Negara dimana aliran kas diperoleh . kebijakan moneter, fiscal dan
neraca pembayaran akan menentukan apakah kondisi keseimbangan akan tetap ada dan
apakah perusahaan mampu menyesuaikan harga dan biaya (Yuliati &Prasetyo. 2005:
172)
Kuncoro (1996) mendeskripsikan bahwa apabila ekuilibrium terjadi terus menerus,
dan perusahaan bebas menyesuaikan harga dan biaya agar dapat mempertahankan
posisi kompetitifnya, exposure ekonomi mungkin sama dengan nol. Aliran kas dan
pasar perusahaan tidak berubah karena perubahan kurs valas telah diantisipasi.
Walaupun demikian, mungkin kondisi ekuilibrium terjadi namun perusahaan tidak ngin
atau tidak dapat menyesuaikan perasinya terhadap lingkungan yang baru. Dalam kasus
seperti itu perusahaan akan mengalami exposure ekonomi karena realisasi aliran kas
akan berbeda dengan yang diharapkan,. Akibatnya, nilai pasarnya mungkin juga
berubah

3. Jangka Menengah: Kasuk Ketidakseimbangan


Dampak ke 3 adalah pada aliran kas jangka menengah, dengan asumsi terjadi
ketidakseimbangan. Dalam kasus ini perusahaan tidak dapat menyesuaikan harga dan
biayanya akibat perubahan kurs valas. Realisasinya aliran kas perusahaan akan berbeda
dengan aliran yang diharapkan. Karena tidak diantisipasi maka nilai pasar perusahaan
bisa saja berubah (Kuncoro. 1996: 286)

4. Jangka Panjang
Dampak terakhir adalah pada aliran kas jangka panjang, yaitu periode diatas 5
tahun. Aliran kas perusahaan akan dipengaruhi oleh reaksi pesaing yang ada maupun
potensial terhadap perubahan kurs dalam kondisi ketidakseimbangan. Memang harus
diakui, semua perusahaan, tidak peduli orientasi pasarnya domestic maupun
multinasional, akan terkena exposure ekonomi dalam jangka panjang apabila pasar vals
tidak berbeda dalam kondisi keseimbangan secara terus menerus (Kuncoro. 1996: 286)

2.4 ilustrasi tentang eksposur operasi


Toyota, yang merupakan produsen mobil terbesar di Jepang dan
perusahaan terbesar keempat dunia di luar Amerika Serikat, mengalami masalah
dengan apapresiasi Yen Jepang. Dari tahun 1985 sampai 1988, yen mengalami apresiasi
hampir dua kali lipat. Tahun 1985, kur yen/$ adalah Y240/$, sedangkan kas pada tahun
1988 sekitar Y130/$. Padahal pasar Amerika Serkat merupakan pasar yang cukup
signifikan untuk Toyota. Jika biaya produksi dan pengirimian minimal Y3.600.000, maka
harga jual mobil di Amerika Serikat minimal akan dipasang sekitar $15.000
(Y3.600.000(240Y/$)) pada tahun 1985, sedangkan pada tahun 1988 harga yang
dipasang harus sekitar $27.692 agar break-even harga tersebut naik hamper dua kali
lipat, padahal harga-harga di Amerika Serikat tidak menunjukkan kenaikan setajam
kenaikan tersebut. Toyota bisa menetapkan harga dalam dolar yang sama denga harga
pada tahun-tahun sebelumnya, tetapi hal tersebut akan mengakibatkan penurunan
pendapatan Toyota. Biaya produksi akan meningkat dengan menguatnya Yen, karena
baja, aluminum, minyak dan input produksi lain diimpor dari luar negeri. Toyota bisa
menaikkan harga dalam dolar untuk menjaga pendapatannya, tetapi hal tersebut akan
mengakibatkan daya saing menurun karena produsen mobil AS tidak akan menaikkan
harganya dengan sigifikan. Toyota bisa kehilangan pangsa pasar yang bisa berakibat
buruk dalam jangka panjang. Jika Toyota mengalihan perhatian ke pasar domestic, hal
tersebut juga tidak akan banyak menolong. Porsi pasar ekspor cukup signifikan.
Kemudian produsen mobil Jepang yang lain juga mempunyai masalah yang sama, yang
bisa berakibat meningkatnya persaingan di pasar domestic. Persaingan tersebut aan
semakin menekan pendapatan Toyota.
Untuk mengetahui masalah tersebut Toyota merencanakan untuk merelokasikan
pabriknya ke Amerika Serikat. Toyota merencanakn menaikkan kapasitas produksi
dengan 50% dari tahun 1993 ke tahun 1996. Dengan relokasi tersebut, ekspor mobil dari
Jepang diperkirakan akan turun sebesar 30%. Pabrik Toyota di Georgetown, Kentucky,
AS, akan dinaikkan dua kali lipat da pabrik truk pick-up akan dipindahkan dari Jepang ke
Fermont, California, AS. Jumlah kerja diperkirakan meningkat dengan 23% menjadi 6000
pekerja di pabrik Georgetown, Kentucky. Sementara pembelian input produksi oleh
pabrik AS akan meningkat 40% menjadi $ 6,45 miliar, dari $4,65 miliar pada tahun 1993.
Toyota juga menggunakan teknik pemasaran yaitu menggunakan perjanjian sewa yang
menarik. Sewa tersebut tidak selalu berubah untuk menyesuaikan terhadap apresiasi
Yen meskipun perusahan menghadapi resiko penjualan kembali mobil yang selesai
disewa. Dengan demikian, sewa tersebut masih menarik untuk konsumen AS. Meskipun
relokasi tersebut bisa mengatasi masalah apresiasi Yen, tetapi masalah kapasitas yang
berlebihan di pabrik Jepang bisa timbul dan bisa mengakibatkan kenaikan tingkat
pengangguran. Apresiasi Yen dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah pada
perekonomian Jepang.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Operating exposure, biasa disebut juga dengan economic exposure
atau strategic exposure, yakni mengukur perubahan pada present value
yang diterima oleh perusahaan akibat perubahan pada arus kas operasi
perusahaan di masa depan, yang disebabkan oleh perubahan yang tidak
terduga pada nilai tukar Exposure ini mengakibatkan penjualan turun dari
pelanggan internasional. Meskipun dampaknya tidak muncul di neraca,
namun munculnya di laporan laba/rugi, sehingga kemudian mempengaruhi
daya saing perusahaan di pasar.

Translation atau accounting exposure muncul karena laporan


keuangan dari cabang asing yang dalam mata uang asing, harus dikonversi
ke dalam reporting currency perusahaan induk untuk membuat laporan
keuangan konsolidasi. perbedaan transaction dengan operating exposure
yaitu Transaction exposure muncul dari arus kas masa depan yang
kontraknya sudah disepakati sejak sekarang, sementara itu operating
exposure arus kas-nya tidak terkait dengan kontrak. Transaction dan
operating exposure sama-sama muncul ketika adanya perubahan yang tidak
terduga dalam arus kas di masa depan.