Anda di halaman 1dari 25

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH

Yang bertanda tangan dibawah ini, Dosen Pembimbing Praktikum ILMU UKUR TANAH,
menerima dan menyetujui laporan ini disusun oleh :

Kelompok 7

1. DEWI KUMALA SARI (1406130014)


2. ANDARIAS RUMKEDY (1406130022)
3. MARSELINUS AMA (1406130028)
4. MELKIANUS PANITIU (1406130029)

Telah menyelesaikan Laporan Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Setelah diperiksa, maka tugas ini dapat
diterima dan disetujui.

Malang, Desember 2016

Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing

Dian Agung, ST.MT.

NIDN.0720 1180 07

1|Page
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Yang
telah memberikan rahmat, serta hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan
laporan praktikum ILMU UKUR TANAH INI dengan baik.

Adapun tujuan dari penyusunan laporan praktikum ini adalah untuk digunakan sebagai
pengalaman dan wawasan ilmu di program studi Teknik Sipil S-1 UNIVERSITAS
WISNUWARDHANA MALANG

Tak lepas dari berbagai hambatan, rintangan, dan kesulitan yang muncul,namun berkat
petunjuk dan bimbingan dari semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
laporan ini. Sehubungan dengan hal tersebut kami menyampaikan rasa hormat dan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dekan FTS bapak Taufikkurahman, ST., MT.


2. Kepala Program Studi Teknik Sipil Dian Agung Saputro, ST ., MT
3. Dosen Pembimbing Praktikum Ilmu Ukur Tanah bapak Dian Agung Saputro, ST., MT
4. Kedua orang tua kami yang memberikan support baik moril maupun materil
5. Rekan – rekan yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini

Dengan segala kerendahan hati, kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini
masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis menerima dan mengharapkan kritik dan saran
saran dari pembaca. Akhir kata semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca

Malang, Desember 2016

Penyusun

2|Page
BAB 1

PENGANTAR

Pemetaan topografi dilakukan untuk menentukan posisi horizontal (x,y) dan posisi
vertikal (H) dari obyek-obyek di permukaan bumi yang meliputi unsur-unsur alamiah seperti
sungai, gunung, danau, padang rumput, rawa-rawa, dan sebagainya serta unsur-unsur buatan
manusia seperti rumah, sawah, jembatan, jalur pipa, rel kereta api dan sebagainya. Adapun Ilmu
Geodesi memiliki dua maksud, yaitu :

 Maksud ilmiah : Menentukan bentuk permukaan bumi.


 Maksud praktis : Menentukan bayangan yang dinamakan peta dari sebagian
besar atau kecil bentuk permukaan bumi dengan skala tertentu
Kerangka Kontrol Peta.

Penentuan kerangka kontrol peta adalah salah satu tahapan yang harus
dilaksanakan dalam proses pembuatan peta topografi. Adapun kerangka kontrol peta
terbagi atas dua macam yaitu :

1. Kerangka kontrol horizontal.


2. Kerangka kontrol vertikal.
Kegiatan pengukuran kerangka kontrol peta ini adalah menentukan posisi titik-titik di
lapangan yang berfungsi sebagai titik ikat (titik kontrol) dari posisi titik obyek (detail)
yang lain.

1.1.Kerangka Kontrol Horizontal


Selain penentuan kerangka kontrol horizontal, pembuatan peta topografi, kerangka
kontrol horizontal juga sangat penting. Pengukuran kerangka kontrol horizontal biasanya
dilakukan dengan metode :

a. Metode Triangulasi
b. Metode Trilaterasi
c. Metode Poligon
Dalam praktikum ini akan dijelaskan mengenai pengukuran kerangka kontrol
horizontal menggunakan metode poligon.

1.2. Kerangka Kontrol vertikal.


Dalam melakukan pengukuran kerangka kontrol vertikal dapat dilakukan dengan
metode barometris, Trigonometris, dan metode waterpass.

3|Page
Pada praktikum ini akan dijelaskan mengenai penentuan kerangka kontrol vertikal
dengan menggunakan metode waterpass.
Waterpass (level/sipat datar) adalah suatu alat ukur tanah yang dipergunakan
untuk mengukur beda tinggi antara titik-titik yang berdekatan yang ditentukan dengan
garis-garis visir (sumbu teropong) horizontal yang ditujukan ke rambu-rambu ukur yang
vertikal. Sedangkan pengukuran yang menggunakan alat ini disebut waterpassing atau
levelling. Pekerjaan ini dilakukan dalam rangka penentuan beda tinggi suatu titik yang
akan ditentukan ketinggian-ketinggiannya berdasarkan suatu sistem referensi atau bidang
acuan. Sistem referensi yang dipergunakan adalah tinggi permukaan air laut rata-rata
(mean sea level) atau sistem referensi lain yang dipilih.

4|Page
Selain penentuan kerangka kontrol horizontal, pembuatan peta topografi, kerangka
kontrol horizontal juga sangat penting. Pengukuran kerangka kontrol horizontal biasanya
dilakukan dengan metode :

a. Metode Triangulasi
b. Metode Trilaterasi
c. Metode Poligon
Dalam praktikum ini akan dijelaskan mengenai pengukuran kerangka kontrol horizontal
menggunakan metode poligon.

A.1. Pengertian poligon

Poligon merupakan rangkaian titik-titik yang membentuk segi banyak, dan titik
tersebut dapat digunakan sebagai kerangka peta. Koordinat titik-titik itu dapat dihitung
dengan data masukan yang merupakan hasil dari pengukuran sudut dan jarak.

A.2 Macam-macam poligon.

Berdasarkan bentuk geometrisnya poligon dapat dibedakan menjadi poligon terbuka


dan poligon tertutup

A.2.1 Poligon terbuka

Poligon terbuka merupakan poligon dengan titik awal dan titik akhir tidak berhimpit
atau tidak pada titik yang sama.

 Poligon Terbuka Terikat Sempurna


Merupakan poligon terbuka dengan titik awal dan titik akhir berupa titik yang tetap.

U
U

S4 Sn T
S2 n BT
A D34
S1
2 S3 DnB
D12
D23
3 B
1
Poligon Terbuka Terikat Sempurna

Dimana : A, B, S, T : titik tetap


1, 2, 3,….n : titik yang akan ditentukan koordinatnya

5|Page
DA1,…,DnB : jarak sisi-sisi poligon

S1, S2,…,Sn : sudut

A1, BT : azimuth awal dan azimuth akhir

Persyaratan yang harus dipenuhi bagi poligon terbuka terikat sempurna :


1. S + F(S) = (_akhir- _awal) + (n-1) x 1800.....(1-1)
2. d Sin  + F(X) = Xakhir – Xawal……………………(1-2)
3. d cos  + F(Y) = Yakhir - Y awal……………………(1-3)
ket : S : jumlah sudut

d : jumlah jarak

 : azimuth
F(S) : kesalahan sudut

F(X) : kesalahan koordinat X

F(Y) : kesalahan koordinat Y

A.2.2 Poligon Tertutup

poligon tertutup merupakan poligon dengan titik awal dan titik akhir berada pada
titik yang sama.

2
 d23 3
d12 S2 d34
S3

1 S1
S4 4

Sn d45
S5
n dn5 6

Poligon terutup

Ket : 1,2,3,… : titik kontrol poligon

D12,d23…. : jarak pengukuran sisi poligon

S1,S2,S3,… : sudut pada titik poligon

6|Page
Persyaratan geometris yang harus dipenuhi bagi poligon tertutup :

1. S + F(S) = (n-2) x 1800…………………………(1-5)


2. d sin A+ F(X) = 0…….…..…………………..(1-6)
3. d cos A + F(Y) = 0…………...………………..(1-7)
ket : S : jumlah sudut

d sin  : jumlah X

d cos  : jumlah Y

F(S) : kesalahan sudut

F(X) : kesalahan koordinat X

F(Y) : kesalahan koordinat Y

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyelesaian poligon :

1. Jarak, sudut, azimuth rata-rata dihitung dari data ukuran :


n
Xi
x ........................................(1  8)
i 1 n

dimana : X : data ukuran rata-rata

Xi : data ukuran ke-I

n : jumlah pengukuran

2. Besar sudut tiap titik hasil setelah koreksi


S’ = S + F F(S) / n………………(1-9)

Dimana : S’ : sudut terkoreksi

S : sudut ukuran

7|Page
Kerangka dasar vertikal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau
ditentukan posisi vertikalnya berupa ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu.
Bidang ketinggian rujukan ini bisa berupa ketinggian muka air laut rata-rata (mean sea level -
MSL) atau ditentukan lokal.

Jejaring titik kerangka dasar vertikal ini disebut sebagai Titik Tinggi Geodesi (TTG). Hingga
saat ini, pengukuran beda tinggi sipat datar masih merupakan cara pengukuran beda tinggi yang
paling teliti. Sehingga ketelitian kerangka dasar vertikal (K) dinyatakan sebagai batas harga
terbesar perbedaan tinggi hasil pengukuran sipat datar . Pada Tabel 1 ditunjukkan ketentuan
ketelitian sipat datar untuk pengadaan kerangka dasar vertikal. Untuk keperluan pengikatan
ketinggian, bila pada suatu wilayah tidak ditemukan TTG, maka bisa menggunakan ketinggian
titik triangulasi sebagai ikatan yang mendekati harga ketinggian teliti terhadap MSL.

Tabel 1 Tingkat ketelitian pengukuran sipat datar.

Tingkat / Orde K

I ± 3 mm

II ± 6 mm

III ± 8 mm

Dalam melakukan pengukuran kerangka kontrol vertikal dapat dilakukan dengan metode
barometris, Trigonometris, dan metode waterpass.

Waterpass (level/sipat datar) adalah suatu alat ukur tanah yang dipergunakan untuk
mengukur beda tinggi antara titik-titik yang berdekatan yang ditentukan dengan garis-garis visir
(sumbu teropong) horizontal yang ditujukan ke rambu-rambu ukur yang vertikal. Sedangkan
pengukuran yang menggunakan alat ini disebut waterpassing atau levelling. Pekerjaan ini
dilakukan dalam rangka penentuan beda tinggi suatu titik yang akan ditentukan ketinggian-
ketinggiannya berdasarkan suatu sistem referensi atau bidang acuan. Sistem referensi yang
dipergunakan adalah tinggi permukaan air laut rata-rata (mean sea level) atau sistem referensi
lain yang dipilih.

8|Page
Yang dimaksud dengan detail atau titik detail adalah semua benda-benda di lapangan yang
merupakan kelengkapan daripada sebagian permukaan bumi. Jadi, disini tidak hanya
dimaksudkan pada benda-benda buatan seperti bangunan-bangunan, jalan-jalan dengan segala
perlengkapan dan lain sebagainya. Jadi, penggambaran kembali sebagian permukaan bumi
dengan segala perlengkapan termasuk tujuan dari pengukuran detail, yang akhirnya berwujud
suatu peta. Berhubung dengan bermacam-macam tujuan dalam pemakaian peta, maka
pengukuran detailpun menjadi selektif, artinya hanya detail-detail tertentu yang diukur guna
keperluan suatu macam peta.
Pada metode ini pengambilan titik detail dengan menaruh alat ukur di sembarang titik
dan untuk pembacaan backsight/forsight dapat di bidikkan pada titik tetap, yaitu titik tetap
tersebut merupakan hasil transfer dari titik benchmark (BM) terdekat dan dari titik tersebut alat
membidik sebanyak mungkin titik-titik/kisi-kisi yang ada.

bt
Dm
z p
h
Dd h
Ti

Keterangan gambar:

Dm = Jarak miring Ti = Tinggi Instrument


Dd = Jarak datar bt = Benang tengah
z = Sudut zenit h = Beda tinggi
h = Sudut heling

h = (Ti – bt) + Dd ctg Z


Ha+1 = Hawal + H(awal-n)
Dm = (ba – bb).k. Sin z
Dd = Dm . sin z
p = Dd . Cotg z
h = p + Ti – bt

9|Page
d
a

b c
DB-a
Sc

Sb DB-b

DB-c
Sa

P1
P3

FORSIGHT
P2

BACKSIGHT

Keterangan :

a, b, c = posisi titik detail


P1, P2, = posisi titik poligon
= posisi alat
Sa = Sudut yang dibentuk ke titik a
Sb = Sudut yang dibentuk ke titik b
Sc = Sudut yang dibentuk ke titik c
Titik P2 = sebagai back sight

10 | P a g e
Azimuth adalah suatu sudut yang dibentuk meridian yang melalui pengamat dan garis
hubung pengamat sasaran, diukur searah jarumjam positif dari arah utara meredian.Ada dua cara
yang sering digunakan untuk menentukan azimuth, yaitu :

a. Penentuan azimuth magnetis dilakukan dengan menggunakan kompas


b. Penentuan azimuth astronomis dilakukan dengan alat yang dinamakan geotheodolite.
Untuk menentukan azimuth astronomis dengan pengamatan matahari dapat dilakukan
dengan metode tinggi matahari dan metode sudut waktu.

Dibawah ini akan diuraikan penentuan azimuth garis dengan pengamatan matahari
metode tinggi matahari., dengan cara menadah bayangan matahari menggunakan kuadran
sehingga didapatkan bayangan matahari yang jelas.

Matahari

Ket : U : utara

 : azimuth
hor : horisontal

 1
mth : matahari
mth s. 2
1, 2 : no. titik
hor
1 2 kontrol
Gambar pengamatan matahari

11 | P a g e
PROSEDUR PENGUKURAN

Langkah kerja pelaksanaan pengukuran poligon adalah sebagai berikut :

1. Dirikan Theodolit disalah satu titik poligon ( titik 1 ), dan lakukan centering optis terhadap
paku payung kemudian atur theodolit sesuai prosedur.
2. Bidikkan teropong pada titik yang lain ( titik 2 ), bidik tepat pada paku payung. Jika paku
payung tidak dapat dibidik secara langsung, gunakan bantuan jalon yang didirikan diatas
patok kemudian bidik jalon tersebut.
3. Kunci penggerak limbus dan penggerak horisontal serta penggerak vertikal kemudian
tepatkan perpotongan benang silang teropong pada paku payung dengan menggunakan
penggerak halus horisontal maupun penggerak vertikal dan catat sebagai bacaan “ Biasa “.
4. Buka pengunci penggerak horisontal dan vertikal, bidik matahari dengan menggunakkan
visir. ( jangan sekali-kali membidik matahari langsung dengan menggunakan mata karena
bisa mengakibatkan kerusakan pada mata).
5. Pasang tadah kertas putih dibelakang lensa okuler untuk melihat posisi bayangan matahari
terhadap perpotongan benang silang teropong.
6. Tepatkan bayangan matahari pada kuadran I pada perpotongan benang silang teropong .
7. Jika bayangan matahari sudah berhimpit dengan perpotongan benang silang pada kuadran
I, baca detik, menit dan jam dan piringan horisontal dan vertikal dan baca sebagai bacaan
“Biasa”.
8. Buka kunci penggerak horisontal dan vertikal, putar theodolit pada kedudukan luar biasa
dan ulang langkah pengukuran no.2-7 untuk mendapatkan bacaan “ Luar Biasa “ pada
posisi bayangan matahari di kuadran I.
9. Untuk pengukuran selanjutnya bayangan matahari berada di kuadran III, Kemudian di
kuadran II dan terakhir di kuadran IV. Lakukan pengamatannya dengan mengikuti langkah
pekerjaan seperti yang dijelaskan diatas.

= sudut titik 2 ke M
AM = Azimuth matahari
1
Backsight
2 1-2 = Azimuth titik 1 ke 2

12 | P a g e
Bayangan matahari di kuadran I :

Bayangan matahari di kuadran II :

Bayangan matahari di kuadran III :

Bayangan matahari di kuadran IV :

13 | P a g e
E.1 PROSEDUR PERHITUNGAN KKV

Untuk perhitungan beda tinggi tiap-tiap titik poligon menggunakan rumus sebagai berikut
:

h12 = btB - btM

H =  B -  M

Keterangan :

h12 = beda tinggi antara dua titik ( titik 1 ke titik 2 )

btB = bacaan benang tengah rambu belakang

btM = bacaan benang rambu muka

Pada jaringan tertutup, jumlah beda tingginya harus sama dengan nol (0) atau mendekati
nol (0), karena pengukuran kembali ketitik semula.

  H = 0 ± fh

Sedangkan pada jaringan terbuka terikat pada kedua ujung jumlah beda tingginya harus
sama dengan selisih kedua ketinggian titik ikat.

  H = HB - HA

Tetapi pada bentuk jaringan terbuka lepas jumlah beda adalah rata-rata pengukuran pergi
dan pulang

Toleransi kesalahan dari pengukuran waterpass yang diperbolehkan adalah 8mm√d.


Untuk jaringan terbuka lepas toleransi dihihitung berdasarkan selisih   H pergi dan   H
pulang.

14 | P a g e
CONTOH PERHITUNGAN

E.2 PROSEDUR PERHITUNGAN KKH (POLIGON)

2.1 Perhitungan Jarak


Dalam pengukuran kerangka kontrol horisontal, jarak yang diambil dengan jarak
langsung yaitu dengan menggunakan roll meter.

Dari pengukuran jarak langsung diperoleh jarak

Bacaan Jarak
No. Jarak Rata-rata
Pergi (m) Pulang (m)
G1 – G2
G2 – G3
G3 – G4
G4 – G5
G5 – G6
G6 – G7
G7 – G8
G8 – G9

G9 – G10

G10 – TB

TB – G1

Koreksi terhadap sudut dalam horisontal :


∑β + fβ = ( n ± 2 ) x 180 o
= ( 5 - 2 ) x 180 o
Sedangkan jumlah sudut horisontal adalah 539 o
59’ 32,5” , jadi besar kesalahan sudut
horizontal :
fβ = 540 o – 539 o 59’ 32.5”
fβ = 00 o 00’ 27.5”
Maka besar koreksi untuk setiap sudutnya adalah :

15 | P a g e
Koreksi β1 : fβ1 = d/Σd x fβ = (50.500/310.944) × 27.5”= 4.5”
Dalam bentuk tabel :
Titik Sudut Dalam
Sudut Dalam Koreksi
Poligon Terkoreksi
G1-G2
G2-G3
G3-G4
G4-G5
G5-G6
G6-G7
G7-G8
G8-G9
G9-G10
G10-TB
TB-G1

2.2 Perhitungan Harga Absis (ΔX) dan Ordinat (ΔY)


Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung absis dan ordinat adalah:

ΔX = jarak × sin α
Syarat absis
Diketahui ΣΔX = 0.004
ΣΔX + fx = 0
fx = - 0.004
fx1 = d/Σd x fx
= - 0.001
ΔX1 = 50.500 x sin 14°32’56.9” + fx1
= 12.685 meter

ΔY = jarak x cosα
Syarat ordinat
Diketahui ΣΔY = 0.008
ΣΔY + fy = 0
fy = - 0.008

16 | P a g e
fy1 = d/Σd x fy
= -0.001
ΔY1 = 50.500 x cos 14°32’56.9” + fy1
= 48.880 meter

2.3 Perhitungan Koordinat Titik Poligon


Diketahui koordinat awal titik poligon ( BM ) adalah :
Xawal =
Yawal =

Maka koordinat pada titik poligon dapat diketahui dengan rumus :


X2 = X awal + ΔX
Y2 = Y awal + ΔY

Perhitungan koordinat untuk tiap poligon adalah :


X2 = 680180.963 + 12.685
= 680193. 648
Y2 = 9124444.189 + 48.880
= 9124493.068

17 | P a g e
Data koordinat yang didapat dari perhitungan :

Titik Koordinat X Koordinat Y

G1

G2

G3

G4

G5

G6

G7

G8

G9

G10

TB

2.4 Ketelitian Linier Poligon


Perhitungan ketelitian linier poligon menggunakan rumus sebagai berikut :
CD
KL 
D

Dimana CD  f X   f Y 


2 2

Sehingga CD  (0,004) 2  (0.008) 2


= 0.004064
0,004064
KL 
310.944
= 1 : 2005.634
Jadi ketelitian linier poligon adalah 1 : 2005

18 | P a g e
E.3 PROSEDUR PERHITUNGAN AZIMUTH MATAHARI

Langkah perhitungan azimuth matahari :

Dengan menggunakan data contoh hasil pengukuran sebagai berikut :

Data Sudut Vertikal (Biasa) : 64º 31‘ 30“


Data Sudut Vertikal (Luarbiasa) : 296º 20‘ 48“
Data Sudut Horizontal : 21o 32’ 30”
Data Waktu Verikal (Biasa) : Jam 07 menit 31 detik 33.41

Tinggi matahari (hu)


Biasa (hu) = 90º 00’00” - bacaan vertikal
= 90º 00’00” - 64º 31‘ 30“
= 25º 28‘ 30“
Luar biasa (hu) = bacaan vertikal –270º 00’ 00”
= 296º 20‘ 48“-270º
= 26º 20’ 48“

Koreksi refraksi (r)


= -58” . ctg hu
= -58” . ctg 28º 28‘ 30”
= -00º 02‘ 1.7“

Koreksi paralaks (p)= 8,8“ . Cos hu


= 8,8“ . Cos 28º 28‘ 30”
= 00º 00‘ 7.9“

Koreksi ½ d
Harga rata-rata = - 00º 16‘ 48“

Tinggi pusat matahari (h)


h = hu + r + p + ½ d
= 25º 28‘ 30“+ (-00º 02‘ 1.7“) + 00º 00‘ 7.9“-00º 16‘ 48“
= 25º 9’ 48.2“
Lintang pengamatan ( )
Pada peta pengamatan topografi untuk daerah yang bersangkutan, Lintang pengamatan
(  ) = -0755’3.7” LS

19 | P a g e
Deklinasi (  )

Dari tabel deklinasi matahari pada pukul 07.00 di peroleh 1533’57’’ dan perubahan yang
terjadi setiap jam adalah -00’ 43.9’’ dan pengamatan matahari dilakukan pada pukul
07:31:33.41, maka :
Selisih waktu pengamatan dengan jam 07:00 = 07jam 31 menit 33.41 detik
= 07jam 00 menit 00 detik _
= 00jam 31 menit 33.41 detik
= 00.526 jam
Sehingga perbedaan deklinasi (  ) = 0.526  -0000’43.9’’
= -00 00’ 23.09”
Sehingga deklinasi () pada jam 07:31:33 = -0000’23.09” + 1533’57”
= 15º 33’ 33.9”
Azimuth pusat matahari
Sinδ  (sin θ. sinh)
Cos A = Cosθ.Cosh
Sin - 04º 51 ' 41.7”  ( Sin  0758'00' 'Sin 25º 09' 48.2" )
= Cos  0758'00' 'Cos25º 09 48.2"
A = 68 37’ 12.2”

Koreksi ½ d . sec h
1
= Koreksi ½ d . cosh
1
= - 00º 16‘ 48“. cos 25º 09 ' 48.2“
= 00 18’ 33.7”

Koreksi ½ d sec h yang didapat sebesar 00 18’ 33.7”


AP = Azimuth titik acuan
= A -  + Koreksi ½ d . sech
= 68 37’ 12.2”+ 21º32’30”+ 00 18’ 33.7”
= 9028’15.9”

Azimuth matahari rata-rata dari 4 pengamatan dikuadran 1 dan III


= Ap / 4
= ( 9028’15.9”+9022’29.9”+9023’24.1”+9022’26.7”)/4
= 9024’9.15”

20 | P a g e
E.4 PROSEDUR PERHITUNGAN DETAIL

Hasil pengukuran titik-titik detail yang diperoleh di lapangan dibagi menjadi :

Penghitungan data hasil pengukuran :


Dm = ( ba – bb ) . 100 . Sin 
= ( 1350-0745 ) . 100 . Sin 89 32’ 36”
= 60.498 m
Dd= Dm . Sin 
= 60.498 x Sin 89 32’ 36”
= 60.494 m
h = ( Ti – bt ) + Dd . Cotg 
1
o
= ( 1190- 1047 ) + 60.494 x tg89 32'36"
= 0.147m
H = Hawal  h1
= 100.000 + 0.147 = 100.147 m

E.5 PROSEDUR PENGGAMBARAN

Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki ketinggian yang
sama. Penggambaran garis kontur ini dilakukan dengan cara interpolasi linier dengan formasi
segi tiga dan dalam pengambaran garis kontur harus memperhatikan sifat-sifatnya. Adapun sifat-
sifat garis kontur adalah sebagai berikut :
1. Awal garis kontur akan selalu bertemu kembali dengan akhir garis kontur tersebut.
2. Garis kontur tidak pernah saling berpotongan.
3. Garis kontur makin rapat menunjukkan wilayah yang makin terjal.
4. Garis kontur makin renggang menunjukkan wilayah yang semakin
datar. .
5. Sebuah garis kontur tidak pernah digambarkan pada permukaan air,
tetapi garis tersebut harus melawati dasar permukaan air tersebut.
Dalam pengambaran garis-garis kontur hal-hal yang juga harus diperhatikan adalah interval
konturnya dengan tidak mengabaikan segi artistiknya.Tentang ketinggian suatu tempat, maka
dibuat kontur indeks dengan garis yang lebih tebal dari kontur biasa
skalapeta
Rumus interval garis kontur =
2000
Dengan interval kontur 0,5 dengan rumus :

21 | P a g e
x H (tinggi)  H (kontur)
=
dAB H (tertinggi)  H (rendah)

Sifat garis kontur pada suatu medan :

1. Sungai
100 99 98

2. Bentuk kontur gunung / bukit

3. Bentuk kontur danau

22 | P a g e
4. Bentuk kontur jalan

98,5 99 99,5

105.00

104.50
104.00
103.5
103.00 0 Kontur indeks
101.5
102.50
0
102.00 Kontur indeks

Setelah tahap perhitungan selesai, tahap selanjutnya adalah tahap penggambaran.


Penggambaran detail ini dapat dilakukan dengan bantuan penggaris, jangka dan busur derajat.
Untuk penggambaran peta situasi haruslah ditentukan besaran skala yang akan dipakai.

Adapun tahap penggambaran situasi adalah sebagai berikut:

1. Tahap pertama:

 Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan


 Mempersiapkan data yang telah diolah untuk diplot atas kertas milimeter.
 Ukuran kertas gambar adalah A0 dengan ukuran 100 x 100 cm, atau A1 ukuran 80 x 60 cm
tergantung skala peta yang akan dibuat
 Jarak antara kertas gambar dengan garis batas peta adalah 2 cm dengan rapido ukuran 0,5
2. Tahap kedua:

 Plot titik-titik kerangka dasar horisontal berdasarkan koordinat hasil perhitungan poligon.
 Pengeplotan titik-titik detail dari hasil pengukuran situasi dengan busur 360 dan penggaris
skala
 Pada titik-titik detail tersebut langsung ditulis elevasinya.dimana titik detail dilapangan
ditepatkan persis posisinya dengan “koma” pada elevasi. Penulisan elevasi adalah 3 angka
dibelakang koma

23 | P a g e
3. Tahap ketiga:

 Penarikan garis kontur dengan cara interpolasi menggunakan teknik triangulasi.


 Tarik garis kontur dengan interval 1 m terlebih dahulu, kemudian baru ditarik 0,5m, 0,25m
dan seterusnya
 Pada setiap garis kontur dicantumkan ketinggiannya.

4. Tahap keempat:

Setelah tahap-tahap diatas selesai kemudian dipindahkan atau diplot diatas kertas kalkir
dengan mamakai rapido.

24 | P a g e
5.1 Kesimpulan
Pada pengukuran posisi vertikal dan horisontal dengan menggunakan Theodolit dibutuhkan
kejelian dan ketelitian tinggi, dengan menggunakan theodolit pengukuran dapat dilakukan
dengan lebih cepat darip-ada menggunakan waterpass, karena pada setiap titiknya tidak perlu
banyak data, sehingga proses yang dilakukan kebanyakan terpaku pada penggunaan rumus.
Meskipun begitu, dalam penggunaan theodolit banyak faktor yamg harus diperhatikan agar
pengukuran dapat akurat, antara lain :

1. Peletakan alat pada setiap titik dengan centering


2. Membidik target dan membaca skala dengan tingkat ketelitian seakurat mungkin
3. Membidik target pada bagian terbawah pada yalon

Dengan memperhatikan hal tersebut maka hasil pengukuran yang diperoleh akan akurat.

25 | P a g e